PENDIDIKAN IPS SD

MATERI IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI SD

  1. PENGERTIAN IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI SD

IPS ialah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alamnya, fisik maupun sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, antropologi, sosiologi, ilmu politik dan psikologi sosial. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik disiapkan dan diarahkan agar mampu menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Pelajaran IPS di SD mengajarkan  konsep- konsep ilmu sosial  untuk membentuk subyek didik  menjadi warga negara yang baik. Istilah IPS  mulai dipergunakan  secara resmi di Indonesia  sejak tahun 1975. Pelajaran IPS di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran terdiri dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan Sapriya . Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak terlihat aspek disiplin ilmu karena lebih dipentingkan adalah dimensi pedagogik dan psikologis serta karakteristik kemampuan berpikir peserta didik

Adanya mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar para siswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya, serta memiliki ketrampilan mengkaji dan memecahkan masalah- masalah sosial tersebut.

Penerapan pembelajaran IPS pada jenjang pendidikan sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada pengembangan sosial tetapi juga berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, dan kecakapan-kecakapan dasar siswa yang berpihak pada kenyataan kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari serta memenuhi kebutuhan sosial siswa di masyarakat.

Sementara itu, fungsi pengajaran IPS di SD adalah untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan sosial dan kewarganegaraan peserta didik agar dapat direfleksikan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Pengertian IPS merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada berbagai aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan sosial sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial.

 

 

 

 

  1. HAKIKAT IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI SD

Pendidikan IPS di Sekolah Dasar mempelajari kehidupan sosial berdasarkan pada kajian geografi, ekonomi, antropologi, tatanegara dan sejarah. Mata pelajaran ini mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disusun secara sistematis, komprehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat.

Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar yaitu sebagai berikut:

  • Membina pengetahuan siswa tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan akan datang
  • Menolong siswa untuk mengembangkan kemampuan umum mencari dan mengolah informasi
  • Menolong siswa untuk mengembangkan niai/sikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk ambil bagian dalam kehidupan sosial.

 

  1. TUJUAN IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI SD

Tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut :

  1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat .
  2. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
  3. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyaratkat dan berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.
  4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan terhadap pemanfaatn lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
  5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

 

 

 

Secara lebih jelas tujuan pembelajaran IPS di tingkat Sekolah Dasar berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut:

  1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
  2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
  3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
  4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk , di tingkat lokal, nasional, dan global.

 

  1. KARAKTERISTIK IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI SD

Untuk mempelajari karakteristik IPS di SD dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu :

  1. Materi IPS

Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:

  • Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
  • Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
  • Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
  • Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
  • Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.

 

  1. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS

Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia.

 

 

 

Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.

  • Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
  • Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
  • Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.

 

Ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.

  • Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
    1. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
    2. Suka memuji diri sendiri
    3. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
    4. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
    5. Suka meremehkan orang lain
  • Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
    1. Perhatiannya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
    2. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
    3. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
    4. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.

 

  1. CARA MENGEMBANGKAN MATERI IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL)

DI SD

Pengembangan materi pembelajaran yang baik selalu menggunakan ketentuan untuk melibatkan anak dalam perencanaan kegiatan pembelajaran. Keterlibatan dan partisipasi berguna untuk mengklarifikasi tujuan pembelajaran bagi anak-anak dan memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi secara psikologis kegiatan yang harus dilakukan dalam materi. Guru harus merencanakan bersama dengan anak-anak berbagai tugas belajar spesifik yang dilakukan dalam materi tertentu, seperti daftar pertanyaan tentang informasi yang diinginkan, membuat grafik mengenai apa yang harus dilakukan, mencari, dan mendaftar sumber informasi, membuat laporan kemajuan, menyatukan saran, dan merencanakan kegiatan lanjutan.

Secara umum, pengembangan materi pembelajaran terdiri dari urutan prosedur yang saling terkait. Dalam bentuk yang paling sederhana, pola ini bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi masalah dan mengumpulkan informasi terkait;
  • kegiatan pemecahan masalah, seperti membaca, wawancara, mendengarkan, melihat, mengumpulkan, menggunakan referensi, menggambar peta. Aplikasi melalui kegiatan ekspresif seperti mendiskusikan, mengilustrasikan, memamerkan, mendramatisir, membangun, menggambar, dan menulis.
  • Meringkas, generalisasi, dan mentransfer ke situasi baru sehingga identifikasi masalah-masalah baru yang bersifat lebih kompleks, selanjutnya siklus tersebut kemudian diulang.

 

Prosedur ini mencakup konsumsi dan kegiatan ekspresif. Anak-anak tidak hanya menerima pengetahuan tetapi juga harus bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Selain itu, mereka harus menggeneralisasikan dan menerapkan pengetahuan mereka untuk masalah-masalah dan situasi baru.

 

Selanjutnya, pada tahap pengembangan, setiap periode kelas harus memberikan tiga kegiatan pembelajaran: (1) kesiapan, (2) bekerja belajar, dan (3) ringkasan dan evaluasi. Berikut ini adalah beberapa contoh kegiatan belajar untuk semua tingkatan kelas :

  • Berbagi
  • Konstruksi
  • Percobaan
  • Mendengarkan
  • Diskusi
  • Menuliskan Pengalaman
  • Drama Kegiatan
  • Seni Pengalaman
  • Karyawisata
  • Pengolahan

 

 

 

 

 

Sumber:

http://www.kajianteori.com/2013/02/pengertian-ips-hakikat-pembelajaran-ips.html

http://www.kampus-info.com/2012/05/hakekat-pengajaran-ips-di-sekolah-dasar.html

http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PENDIDIKAN_IPS_DI_SD/BBM_1.pdf

http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Pengembangan%20Pendidikan%20IPS%20SD/BAC/Pengembangan_Pendidikan_IPS_SD_UNIT_1.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PENDIDIKAN_IPS_DI_SD/BBM_1.pdf

http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Kajian%20IPS%20SD/BAC/Kajian_IPS_1_0.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI KULIAH PENDIDIKAN IPS SD

  1. TRADISI DALAM PEMBELAJARAN IPS

Pendidikan IPS yang ditinjau dari aspek materi, akan cenderung mengarah pada tiga tradisi pembelajaran yaitu:

  1. Pewarisan Nilai Kewarganegaraan (Citizenship Transmission)

IPS sebagai pewarisan nilai-nilai kewarganegaraan tujuan utamanya adalah mempersiapkan anak didik menjadi warga negara yang baik. Nilai dan budaya bangsa akan dijadikan landasan untuk pengembangan bangsanya. Setiap bangsa atau negara mendidik warganya berdasarkan nilai dan budaya yang dimilikinya.

Menurut R.Barr dalam citizenship transmission tradition, nilai-nilai tertentu yang dipandang sebagai ”nilai-nilai yang baik” ditanamkan dalam upaya untuk mengajari siswa menjadi warga negara yang baik. Komponen yang teramat penting dari nilai tersebut ialah bagaimana supaya anak didik dapat menerapkan nilai-nilai tersebut secara rasional dan kritis yang didukung pertimbangan keimanan (beliefs), dan sikap (attitudes).

Jadi, Citizenship transmitter (transfer nilai kewarganegaraan) adalah pendidikan IPS yang disajikan sebagai pengetahuan untuk membangun perilaku siswa sebagai warga negara yang baik yang juga berhubungan dengan penamaan tingkah laku, pengetahuan, pandangan, dan nilai yang harus dimiliki oleh peserta didik.

 

  1. IPS Diajarkan Sebagai Pendidikan Ilmu- Ilmu Sosial

Ketika Ilmu Pengetahuan Sosial diajarkan sebagai Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, terdapat dua pemahaman yaitu :

  • IPS diajarkan sebagai Ilmu-ilmu Sosial secara terpisah (separated approach)

Tujuan utama dari IPS diajarkan sebagai ilmu-ilmu sosial adalah mendidik anak untuk memahami ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial objek kajianya adalah perilaku dalam kaitannya dengan usaha manusia memenuhi kebutuhan hidup, lingkungan, kekuasaan, dan lain-lain. Ilmu-ilmu sosial yang terdiri atas ekonomi, antropologi, geografi, sejarah, sosiologi,dll yang semuanya itu merupakan bahan yang disampaikan kepada siswa sesuai dengan ciri masing-masing , yang biasanya disampaikan dengan terpisah (separated approach).

  • IPS diajarkan sebagai ilmu –ilmu sosial secara terpadu (integrated approach)

IPS diajarkan sebagai kombinasi dari berbagai disiplin ilmu – ilmu sosial ( seperti ekonomi, geografi, sosiologi, dan lain-lain) yang mengkaji masalah-masalah di sekitar lingkungan masyarakat (environmental studies). IPS harus diajarkan dengan mengkombinasikan atau menggabungkan beberapa disiplin ilmu .

  • Reflective Inquiry

Pengertian inquiry juga mengidentifikasi masalah-masalah sosial melalui berfikir kritis,  yang dirancang untuk melibatkan para pelajar dalam proses penalaran mengenai hubungan sebab akibat dan menjadikan mereka fasih dan cermat dalam mengajukan pertanyaan, membangun konsep, dan merumuskam serta menguji hipotesis. Ketika IPS diajarkan sebagai reflective inquiry, maka penekanan yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan motivasi agar siswa dapat berpikir. Guru membantu siswa untuk menggunakan pikirannya secara logis dan mengadakan penelitian secara ilmiah untuk mendapatkan jawaban atas issu-issu, pertanyaan-pertanyaan, atau masalah-masalah yang diajukan. Guru tidak mengajar siswa untuk menghapalkan issu atau masalah tersebut, tetapi mengevaluasi bahan-bahan tersebut secara kritis.

Sehingga Reflective inquiry adalah proses pengembangan kemampuan berfikir siswa secara rasional, berlogika dengan baik, sehingga siswa memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan dengan benar yang didasarkan kecerdasan dan kemampuan siswa dalam mengklarifikasikan struktur nilai.

Kemudian, menurut Woolover dan Scott menyatakan bahwa tradisi IPS adalah

  • Social Studies As Citizenship Transmission.

Meneruskan nilai-nilai lama yang dianggap penting oleh masyarakat kepada generasi muda (siswa/peserta didik).  Nilai-nilai yang dipandang sebagai “nilai-nilai yang baik” ditanamkan dalam upaya untuk mengajari siswa menjadi warga negara yang baik. Dimana biasanya menggunakan pendekatan indoktrinasi.

 

  • Social Studies As Personal Development.

Membantu siswa untuk mengembangkan secara penuh potensi sosial, emosional, fisik dan kognitif.

 

  • Social Studies As Reflective Inquiry.

Mendorong dan melatih siswa mengembangkan dan menggunakan keterampilan berfikir reflektif.  Kemudian mendidik siswa untuk lebih belajar berfikir dan untuk mengkaji masalah-masalah sosial secara kritis. Memfokuskan pada pembuatan keputusan dan pemecahan dari masalah sosial, termasuk masalah yang kontroversial. Materi dirancang dalam bentuk problematika dan siswa dilatih untuk mampu memecahkan problematika sosial tersebut dengan menggunakan langkah-langkah berfikir reflektif.

 

 (4) Social Studies As Social Science Education.

Membuat siswa mampu memahami ilmu-ilmu sosial. Menekankan pengajaran konsep dasar,  teori dan metode dari disiplin ilmu-ilmu sosial,  meyakinkan bahwa siswa (peserta didik) akan menjadi warga negara yang baik jika mereka  dapat memahami  dan  menerapkan konsep dan metode ilmu-ilmu sosial.

 

  • Social Studies As Rational Decision Making And Social Action.

Mengajari anak didik (siswa) membuat keputusan yang rasional dan bertindak sesuai keputusannya tersebut.

 

  1. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN IPS

Pemilihan atau seleksi konsep-konsep ilmu-ilmu sosial guna pengembangan materi pembelajaran IPS sesuai dengan kebutuhan pembelajaran pada tingkat yang berbeda tidaklah mudah, namun harus didasarkan pada beberapa prinsip, seperti yang dikemukakan oleh Buchori Alma dan Harlasgunawan yang menyatakan prinsip-prinsip berikut ini.

  1. Keperluan

Konsep yang akan diajarkan harus konsep yang diperlukan oleh peserta didik dalam memahami “dunia” sekiitarnya. Oleh sebab itu, lingkungan hidup yang berbeda memerlukan konsep yang lain pula.

  1. Ketepatan

Perumusan yang akan diajarkan harus tepat sehingga tidak member peluang bagi penafsiran yang salah (salah konsep).

  1. Mudah dipelajari

Konsep yang diperoleh harus dapat disajikan dengan mudah. Fakta dan contohnya harus terdapat dilingkungan hidup peserta didik serta sudah dikenal oleh para peserta didik tersebut.

  1. Kegunaan

Konsep yag akan diajarkan hendaknya bena-benar berguna bagi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan benegara Indonesia pada umumnya serta masyarakat lingkungan dimana ia hidup bersama dalam keluarga, dan masyarakat terdekat pada khususnya.

 

 

 

 

  1. RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN IPS

Keanekaragaman kelompok masyarakat dengan karakternya yang berbeda-beda, merupakan unsur ruang lingkup IPS lainnya yang sangat menarik untuk diamati dan dipelajari. Perkembangan kehidupan sosial dengan segala aspeknya dari waktu ke waktu, mulai dari tahap yang sederhana sampai tingkat modern, merupakan sisi lain dari ruang lingkup IPS. Proses perkembangan tersebut biasa dikonsepkan sebagai proses sosial, merupakan pokok bahasan IPS yang memberikan “citra” kepada kita berkenaan dengan dinamika dan perubahan sosial manusia.

 

Materi dan ruang lingkup IPS menurut Preston dan Herman adalah sebagai berikut:

  • Kelas I SD disajikan keluarga dan lingkungannya.
  • Kelas II SD mendapat sajian tentang lingkungan pertetanggaan dan komunitasnya di wilayah yang berbeda, umumnya di negara sendiri. Akan tetapi adakalanya juga negara lain pun diungkapkan.
  • Kelas III SD dihadapkan dengan komunitas sendiri dan luar negeri, yang lebih dititikberatkan ialah tentang masalah sumber komunitas sendiri, kebutuhan pangan, sandang dan papan, bentuk-bentuk komunikasi dan transportasi serta kehidupan di kota.
  • Kelas IV SD memperoleh bahan belajar tentang beberapa lingkungan wilayah dan kebudayaan di dunia. Titik berat terutama tentang kebudayaan dan komunitas tertentu dalam kebudayaan tersebut. Terkadang yang mendapat perhatian adalah segi geografinya, dan hanya sedikit saja yang menitikberatkan pada wilayah dan kebudayaan di negara sendiri.
  • Kelas V SD membahas sejarah, geografi, sosiologi, dan antropologi negara sendiri. Dalam beberapa program diungkapkan pula tentang negara tetangga.
  • Kelas VI SD menurut Preston dan Herman dibahas tentang sejarah, geografi, dan beberapa segi dari wilayah tertentu di dunia, terutama di belahan dunia sebelah timur, misalnya sebagai sampel adalah negara-negara Amerika Latin dan Kanada. Sejumlah kecil program menyajikan secara luas studi permasalahan dan perkembangan kultural, sosial dan ekonomi.

 

Menurut materinya, Ruang Lingkup materi IPS adalah :

  1. Merupakan perpaduan atau integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
  2. Terkait dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan kebangsaan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta tuntutan dunia global.
  3. Jenis materi IPS dapat berupa fakta, konsep dan generalisasi, terkait juga dengan aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan nilai-nilai spiritual

 

Ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah.Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik SD. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006, menyatakan bahwa ruang lingkup mata pelajaran IPS sekolah dasar meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Manusia, tempat, dan lingkungan.
  2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
  3. System sosial dan budaya.
  4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

 

  1. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM IPS

Kurikulum dikembangkan  berdasarkan prinsip-prinsip berikut.

  1. Berpusat Pada Potensi, Perkembangan, Kebutuhan, Dan Kepentingan Peserta Didik Serta Lingkungannya.

Kurikulum dikembangkan  berdasarkan prinsip bahwa peserta didik  memiliki posisi sentral  untuk mengembangkan potensinya  agar menjadi manusia  yang  berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, bertanggung jawab. Untuk mendukung  pencapaian tujuan  pengembangan  kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan  dan kepentingan peserta didik.

 

  1. Beragam Dan Terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan  keragaman karakteristik peserta didik ,kondisi daerah,dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama,suku, budaya, adat istiadat, serta status social ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi  komponen muatan wajib kurikulum ,muatan local ,dan pengembangan diri  secara terpadu ,serta disusun  dalam keterkaitan  dan kesinambungan  yang bermakna dan tepat antar substansi.

 

  1. Tanggap Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Dan Seni

Kurikulum  dikembangkan atas dasar  kesadaran  bahwa ilmu pengetahuan ,tehnologi dan seni berkembang secara dinamis .Oleh karena itu ,semangat dan isi kurikulum  mendorong peserta didik  untuk mengikuti dan  memanfaatkan  secara tepat  perkembangan  ilmu pengetahuan ,tehnologi dan seni.

 

  1. Relevan Dengan Kebutuhan Kehidupan

Pengembangan  kurikulum  dilakukan dengan melibatkan  pemangku kepentinga (stake holders) untuk menjamin relevansi pendidikan  dengan kebutuhan kehidupan , termasuk dalam kehidupan kemasyarakatan,dunia usaha dan dunia kerja.Oleh karena itu ,pengembangan keterampilan  pribadi,keterampilan bepikir,keterampilan social, keterampilam  akademik, dan keterampilan vokasional.

 

  1. Menyeluruh Dan Berkesinambungan

Substansi kurikulum  mencakup keseluruhan  dimensi kompetensi ,bidang kajian keilmuan  dan mata pelajaran  yang direncanakan  dan disajikan secara berkesinambungan  antar semua jenjang pendidikan.

 

  1. Belajar Sepanjang Hayat

Kurikulum  diarahkan  kepada proses pengembangan ,pembudayaan dan pemberdayaan  pererta didik yang berlangsung sepanjang hayat .Kurikulum  mencerminkan  keterkaitan  antara unsure-unsur pendidikan  formal, ,nonformal dan informal , dengan memperhatikan  kondisi  dan tuntutan  lingkungan  yang selalu berkembang  serta arah pengembangan  manusia seutuhnnya.

 

  1. Seimbang Antara Kepentingan  Nasional  Dan Kepentingan  Daerah

Kurikulum  dikembangkan  dengan memperhatikan  kepentingan nasional dan kepentingan daerah   untuk membangun  kehidupan  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan  nasional dan kepentingan daerah  harus saling mengisi  dan memberdayakan  sejalan dengan motto Bhineka Tunggal  Ika dalam kerangka  Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

  1. DIMENSI PROGRAM PENDIDIKAN IPS SECARA KOMPHERENSIF

Pencapaian pendidikan IPS di sekolah diperlukan pemahaman dan pengembangan program pendidikan yang komprehensif. Program pendidikan IPS yang komprehensif menurut Sapriya yaitu program yang mencakup empat dimensi, yaitu :

 

  • Dimensi pengetahuan (Knowledge

Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide. Tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisiknya dan dunia sosial. Dimensi yang menyangkut pengetahuan sosial mencakup;(1) fakta;

(2) konsep;(3) generalisasi yang dipahami siswa.

 

  • Dimensi keterampilan (Skills)

            Keterampilan adalah pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. Keterampilan ini dalam IPS terwujud dalam bentuk kecakapan mengolah dan menerapkan informasi yang penting untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang mampu berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Keterampilan tersebut mencakup: Keterampilan meneliti, keterampilan berpikir, keterampilan partisipasi sosial dan keterampilan berkomunikasi.

 

  • Dimensi nilai dan sikap (Values and Attitudes);

            Dimensi nilai dan sikap merupakan seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang terungkap ketika berpikir dan bertindak. Nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dianggap penting dengan tindakan yang tepat. Sedangkan sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinan-keyakinan,interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu.

            Dimensi nilai dan sikap terdiri atas nilai substansif dan nilai prosedural. Nilai substantif adalah keyakinan yang telah dipegang oleh seseorang dan umumnya hasil belajar, bukan sekedar menanamkan atau menyampaikan informasi semata. Nilai-nilai prosedural yang perlu dilatih atau dibelajarkan antara lain nilai kemerdekaan, toleransi, kejujuran, menghormati kebenaran dan menghargai pendapat orang lain.

 

  • Dimensi tindakan (Action).

            Tindakan sosial ini merupakan dimensi IPS yang penting karena tindakan sosial dapat memungkinkan siswa menjadi peserta didik yang aktif, dengan cara berlatih secara kongkret dan praktik, belajar dari apa yang diketahui dan dipikirkan tentang isu-isu sosial untuk dipecahkan sehingga jelas apa yang dilakukan dan bagaimana caranya dengan demikian siswa akan belajar menjadi warga negara yang efektif di masyarakat.

 

BIMBINGAN KONSELING DI SD

KONSEP DASAR BIMBINGAN KONSELING SOSIAL

  1. Latar belakang diperlukannya bimbingan konseling social
    Pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak membawa perubahan-perubahan dalam tata kehidupan baik social, ekonomi dan juga politik. Ada dua sikap yang muncul akibat dari pengaruh modernisasi yaitu: optimistic atau pesimistik? Mereka yang psimistik berpandangan bahwa globalisasi dapat mengguncang dan mengganggu keseimbangan individu dalam masyarakat. Derasnya arus globalisasi itu akan meruntuhkan nilai-nilai moral dan social serta tatanan yang ada dalam masyarakat, yang dianggapnya telah mapan dari generasi-ke generasi. Hancurnya nilai-nilai moral dan social ini pada gilirannya akan menimbulkan keresahan dan juga kerusuhan di dalam masyarakat yang secara langsung berdampak negative terhadap anggota masyarakat, dalam skala yang tak terbayangkan, masa depan yang demikian ini akan penuh dengan bahaya dan kemunduran-kemunduran, bahkan kehancuran yang tak terhindarkan. Sebaliknya mereka yang berpandangan positif berpendapat justru melihat bahwa dalam era globalisasi itu terdapat banyak kesempatan dan peluang-peluang untuk mengadakan perubahan perubahan, perbaikan dan peningkatan terhadap segala sesuatu yang dirasakan selama ini kurang berkembang.

Pandangan ini berpendapat masa depan harus lebih baik, ada kemajuan. Perubahan yang diharapkan adalah adanya kesempatan sekaligus tantangan yang memberikan harapan harapan baru bagi kita semua untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik seperti yang dicitacitakan Berangkat dari dua sikap tersebut baik yang positif maupun yang negative, agar perubahan yang terjadi dapat seperti yang diharapkan dan juga tidak terlepas dari akar budaya yag ada, dan tetap bercirikan sebagai budaya dan dapat merupakan ciri khas kepribadian bangsa.Demikian juga yang pesimis, yang penuh kekhawatiran, karena beranggapan dengan pengaruh perubahanperubahan tersebut akan membawa dampak yang negative, satu hal yang harus disadari bahwa kehidupan tidaklah statis tetapi harus dinamis, oleh karena itu perubahan tetaplah kita perlukan sepanjang itu dapat meningkatkan martabat kemanusiaan dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Konseling social hadir sebagai upaya untuk menjembatani agar individu-individu yang ada dalam masyarakat dapat menghadapi berbagai perubahan sekaligus juga tantangan yang harus dihadapi dengan berpedoman pada norma-norma yang ada
untuk disesuaikan seiring dengan dinamika masyarakat sebagai tuntutan yang harus dipenuhi. Dengan kata lain bimbingan konseling social hadir berangkat dari hakekat manusia sebagai mahluk yang paling indah dan paling tinggi derajatnya sehingga mendorong manusia untuk terus maju dan berkembang tanpa henti dari zaman ke zaman, dari situlah maka dimensi-dimensi kemanusiaan perlu dikembangkan dengan pertimbangan: pertama antara individu satu dengan individu lain terdapat banyak perbedaan sebagai contoh perbedaan tersebut dapat dilihat dari fisik misalnya, hidungnya mancung, badannya jangkung, kulitnya hitam, badannya gemuk dan lain sebagainya, dari perbedaan psikhis misalnya: berfikirnya lamban, terlalu banyak pertimbangan, mudah tersinggung, sensitive dan lain-lain. Meski demikian juga ada persamaannya misalnya: mempunyai hoby yang sama misalnya suka berjalan-jalan, membaca, makan makanan yang pedas,kesamaan dalam persepsi dan lain-lain, dari sinilah bagaimana manusia menyikapi perbedaanperbedaan tersebut sebagai keragaman yang dapat mewarnai kehidupan, dimensi inilah yang seringkali disebut dimensi individualitas. Pengembangan dimensi individualitas memungkinkan seseorang dapat mengembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya secara optimal yang mengarah pada aspek-aspek kehidupan yang positif, seperti misalnya: bakat, minat, kemampuan dan berbagai kemungkinan. Pengembangan dimensi ini akan membawa seseorang individu yang mampu berdiri tegak dengan kepribadiannya sendiri dengan aku yang tangguh, positif, produktif dan dinamis. Pertimbangan kedua, setiap individu pasti memerlukan individu lain atau tidak bisa lepas dari individu lain, oleh karena itu pasti membutuhkan orang lain, si jabang bayi yang baru lahirpun tak dapat bertahan hidup tanpa bantuan seorang ibu bahkan ayahnya. Disisi lain manusia dapat hidup dan berkembangbtidak dapat lepas dari lingkungan yang mempengaruhinya, oleh karena itu peranan individu satu dengan individu yang lain sangat besar. Sebagai contoh cerita si Tarsan kota adalah manusia yang dibesarkan di hutan dengan lingkungan sekitarnya adalah hewan, yang akhirnya berkembanglah pribadi manusia si Tarsan tetapi karakternya adalah hewan, sehingga dari sinilah dapat dikatakan bahwa manusia akan menjadi manusia apabila ia hidup dan berkembang dalam lingkungannya, dimensi ini sering disebut dengan dimensi kesosialan atau sosialitas.Pengembangan dimensi individualitas seharusnya diimbangi dengan dimensi kesosialan pada diri individu yang bersangkutan. Pengembangan dimensi kesosialan akan memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, bekerja sama dan hidup bersama dengan orang lain. Kaitan antara dimensi individualitas dan dimensi sosialitas memperlihatkan bahwa manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk social.Dimensi individu dan dimensi social saling berinteraksi, dan dalam berinteraksi tersebut keduanya saling tumbuh dan berkembang, saling mengisi dan saling menemukan makna yang sesungguhnya.

Dimensi kesusilaan memberikan warna moral terhadap perkembangan dimensi pertama dan kedua, dimana etika dan berbagai ketentuan yang berlaku mengatur bagaimana kebersamaan antar individu seharusnya dilaksanakan. Hidup bersama dengan orang lain, baik dalam rangka memperkembangkan dimensi individualitas maupun kesusilaan tidak dapat dilakukan seadanya saja, tetapi perlu diselenggarakan sedemikian rupa sehingga semua orang yang berada didalamnya memperoleh manfaat yang sebasar-besarnya dari kehidupan bersama itu. Dimensi kesusilaan justru mampu menjadi pemersatu sehingga dimensi individualitas dan kesosialan dapat bertemu dalam satu kesatuan yang penuh makna.   Dapat dikatakan bahwa tanpa dimensi dimensi kesusilaan, berkembangnya dimensi individualitas dan kesosialan akan nampak tidak serasi, bahkan dapat dikatakan saling bertabrakan sehingga dapat berakibat yang satu cenderung menyalahkan yang lain. Perkembangan ketiga dimensi diatas memungkinkan manusia dapat menjalani kehidupan. Apabila ketiga dimensi itu dapat berkembang optimal tidak mustahil kehidupan manusia dapat mencapai taraf kebudayaan yang amat tinggi. Dengan ketiga dimensi itu manusia dapat hidup layak serta dapat mengembangkan tehnologi dan seni yang sehebat-hebatnya bahkan ia dapat mengarungi angkasa luar serta mampu mencapai bulan sekalipun, akan tetapi kehidupan manusia tidaklah bersifat acak atau sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan tertentu, hampir setiap kegiatan manusia baik secara individu atau perorangan maupun kelompok mengikuti aturan aturan tersebut. Aturan-aturan tersebut ada yang bersumber dari agama, social, budaya dan lain lain. Sebagai ilustrasi manusia adalah berbeda dengan binatang, karena itulah manusia mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan serta mengadakan penyesuaian penyesuaian ketika menghadapi situasi yang berubahubah, dari perubahan itulah menghasilkan pola-pola perilaku tertentu.

Demikian juga dalam pergaulan dengan orang lain yang ada di masyarakat, aturan-aturan tersebut semakin diperlukan, sehingga bersama orang lain manusia atau individu tidak boleh sembarangan, tetapi harus saling menjaga, menghormati keyakinan masing-masing, menghargai pendapat, saling memberi dan menerima sehingga akan tercipta kehidupan bersama dalam masyarakat, demikian juga dalam suatu lembaga hubungan antara atasan dan bawahan hendaklah memperhatikan hak dan kewajiban, semua ini dimaksudkan demi terciptanya situasi dan kondisi yang menyenangkan dalam masyarakat tersebut. Dimensi ini sering disebut dengan dimensi kesusilaan atau moralitas.

  1. Tujuan Bimbingan Konseling Sosial
    Sebagaimana telah diuraikan pada latar belakangdiperlukannya bimbingan konseling social adalah terciptanyatatanan kehidupan baik: individu, keluarga dan masyarakat yangmeliputi ketentraman, ketertiban dan kesusilaan.Ketentramanyang dimaksud adalah bebas dari segala ancaman, teror danlain-lain, baik lahir maupun bathin. Ketertiban adalah adanyakesesuaian berdasarkan norma-norma yang berlaku denganmengikuti petunjuk-petunjuk yang ada yang telah ditetapkanbersama. Kesusilaan adalah sesuai dengan norma-norma yangberlaku di masyarakat secara dinamis dan fleksibel. Kondisimasyarakat ini akan dapat terwujud melalui kerja sama denganberbagai pihak dan tanggung jawab bersama antara pemerintahan masyarakat termasuk LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Sebagai illustrasi, kondisi masyarakat yang diharapkan adalah masyarakat yang dapat diorganisir dengan baik, hal ini dapat dicirikan antara lain:

  1. adanya stabilitas dalam segalabidang;
  2. terciptanya interaksi personal yang intim yangditandai dengan pola hubungan individu yang harmonis yangada dalam masyarakat tersebut;
  3. terciptanya relasi socialyang yang berkesinambungan atau kontinuitas;
  4. adanyaconsensus yang bertaraf tinggi diantara anggota-anggotamasyarakat (Kartini Kartono, 2001).Stabilitas disini, tidaklah berarti stagnan tanpa mengalamiperubahan, tetapi yang dimaksudkan adalah stabilitas yangdinamis yaitu mengikuti perubahan untk menyesuaikan dengankondisi-kondisi yang ada, dan dalam prosesnya tidaklahmenimbulkan konflik atau gejolak yang berarti, sehinggaindividu-individu yang ada dalam masyarakat akan merasakankenyamanan dan ketentraman.Interaksi personal yang intim yang ditunjukkan denganpola-pola hubungan individu yang saling tolong-menolong,solidaritas yang tinggi, menjunjung kebersamaan, saling menjagadan menghormati hak azasi dan lain-lain.

Disisi lain akibat adanya kemajuan atau modernisasi mengakibatkan:

  1. lenturnyaatau bahkan hilangnya nilai-nilai intimitas tersebut, sehinggayang muncul adalah tidak adanya kesinambunan pengalamandari kelompok satu ke kelompok yang lain;
  2. perubahan yangterjadi serba cepat;
  3. kondisi yang tidak stabil;
  4. tidakadanya penyesuaian diantara individu-individu yang ada dalammasyarakat;
  5. relasi yang retak dan lain-lain, yang kemudiantercipta pola-pola hubungan yang individualistis, ekstrim untukkepentingan diri sendiri atau kelompoknya, karena yangdemikian ini maka banyak anggota masyarakat yang mengalamidepresi bahkan frustrasi dan lain sebagainya. Kondisi yangdemikian ini, maka bimbingan konseling sosial hadir sebagaiupaya untuk membantu individu individu yang ada dalammasyarakat agar mampu menghadapi realitas yang ada secaradinamis dan fleksibel.
  6. Sasaran Bimbingan Konseling Sosial
    Adapun yang menjadi sasaran dalam bimbingan konseling sosial menurut S. Kasni Hariwoerjanto (1977) secara garis besar dibagi menjadi dua:
  7. individu yang mengalamikesulitan dalam bersosialisasi, dan
  8. kelompok yangmengalami stagnasi sosial. Yang dimaksud individu yangmengalami kesulitan dalam bersosialisasi adalah: a) individunon sosial, adalah individu yang tidak mau bergaul denganlingkungannya karena ada penghalang atau sebab, penghalangini dapat berupa minder, takut dicemooh, malu dan sebagainya;b) individu a sosial, adalah individu yang tidak dapatmenyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada, atauindividu yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bukankarena tidak mampu, tetapi memang individu tersebut sengajatidak mau atau tidak suka untuk menyesuaikan denganligkungan sekitarnya. Biasanya sebab-sebab yang menjadipenghalang tidak nyata, sehingga menurut ukuran orang,individu tersebut dapat menyesuaikan; c) individu anti sosial,adalah individu yang sebenarnya mampu untuk menyesuaikandiri atau memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada dalammasyarakat, tetapi individu tersebut melawan atau bahkanmenentang dengan lingkungan sekitarnya.Kelompok yang mengalami stagnasi sosial antara lain: a)disorganisasi sosial, pada kenyataannya setiap manusiamempunyai masalah atau tantangan yang harus dihadapi denganbaik atau lapang dada sehingga tercapai kesejahteraan sosial.Disorganisasi sosial adalah suatu keadaan yang retak dibidangaqidah, nilai sehingga tidak dapat menjalankan peraturan peraturan sebagaimana layaknya, kebiasaan dalam pergaulanhidup yang semaunya dan lain-lain; b) kesukaran sosial,kesukaran sosial banyak ditimbulkan karena disorganisasi yangmembahayakan, ini lebih bersifat kondisi patologis yang dideritaakibat kondisi patologi keluarga yang tidak dapat direduksi olehsystem referensi problem solving; c) masalah sosial, adalahsuatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari
    sudut yang tidak diinginkan, kondisi tersebut dapat disebut dengan salah atau abnormal. Kondisi yang abnormal tersebut dapat disebabkan salah satunya adalah terjadinya penyimpangan dari kondisi yang seharusnya.
  9. Bimbingan Konseling Sosial Dalam Kaitannya Dengan
    Ilmu-ilmu Lain.
    Secara umum bimbingan konseling sosial adalah bagian dari bimbingan dan konseling yang diaplikasikan lebih khusus untuk masyarakat atau sosial. Sebagai bagian dari bimbingan dan konseling masuk dalam kategori ilmu-ilmu sosial, meskipun demikian bimbingan konseling sosial tidak berarti terlepas dari ilmu-ilmu yang lain misalnya: ilmu komunikasi, ilmu sosiologi,
    ilmu filsafat, ilmu antropologi dan ilmu psikologi termasuk juga ilmu ekonomi. Ilmu komunikasi diperlukan dimana seorang konselor sosial dapat menyampaikan pesan-pesan sehingga isi materi dalam konseling dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Dalam perspektif imu sosiologi, konseling sosial hendaklah mempelajari bagaimana interaksi individu dalam masyarakat. Demikian juga ilmu antropologi, keanekaragaman budaya, suku yang ada dalam masyarakat hendaklah difahami dengan baik dan sebagai wacana untuk memberikan solusi dalam terapi, termasuk memahami pentingnya budaya yang ada dalam masyarakat, dengan keragaman tersebut akan mempersatukan dari berbagai unsur termasuk ras, etnis sekaligus. Ilmu filsafat membantu konselor sosial dalam mendiagnosa permasalahan yang ada dalam masyarakat sehingga dapat mengambil solusi yang tepat serta tindak lanjut. Ilmu psikologi diperlukan sebagai alat untuk terapis dan membantu konselor sosial dalam memahami perubahan perilaku dan perkembangan kepribadian manusia. Ilmu ekonomi diperlukan untuk membantu memahami dunia kerja dan lain sebagainya. Semuanya itu akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pemahaman secara lebih utuh untuk penyelenggaraan praktek konseling sosial. Hansen dkk (1982) menyebutnya konseling sosial sebagai aplikasi dari ilmu-ilmu sosial interdisipliner, lebih lanjut Hansen
    menegaskan sebagai berikut:
    The purpose of counseling makes it clear why such
    varied diciplines have influenced the profession…… if
    counselor are to enhance the will being of the individual,
    the must understand as many as possible of the factors
    that effect people; they must adopt an interdisciplinary
    approach ( Hansen dkk, 1982).
    Dengan demikian kemampuan seorang konselor social selain harus memiliki pengetahuan khusus yang menjadi bidang keahliannya, juga harus ditopang oleh pengetahuan lain secara interdisipliner, karena dalam kenyataannya individu yang ada dalam masyarakat itu berasal dari berbagai latar belakang yang beragam, baik sosial, budaya, agama dan lain-lain, sehingga masalah yang dihadapi oleh konselor sosial juga beragam dan komplek, oleh karena itulah dengan kemampuannya yang interdisipliner sangat membantu konselor dalam menjalankan tugas-tugas konseling sosialnya.
    Rangkuman
    Sebagaimana telah diuraikan bahwa tujuan bimbingan
    konseling social adalah terciptanya tatanan kehidupan individu,
    keluarga dan masyarakat yang sejahtera baik lahir maupun bathin
    yang ditandai dengan rasa ketentraman, ketertiban dan kesusilaan.
    Pengaruh modernisasi menimbulkan disharmoni individu
    dalam keluarga yang ditandai dengan: (1) hilangnya nilai-nilai
    intimitas individu dalam keluarga; (2) perubahan yang terjadi serba
    cepat; (3) kondisi yang tidak stabil dan (4) tidak adanya penyesuaian
    diantara individu-individu yang ada dalam masyarakat.
    Masyarakat yang dicita-citakan adalah masyarakat yang
    bercirikan antara lain: (1) adanya stabilitas di segala bidang; (2)
    terciptanya interaksi personal yang intim yang ditandai dengan pola
    hubungan individu yang harmonis yang ada dalam masyarakat; (3)
    terciptanya relasi social yang berkesinambungan; (4) adanya
    konsensus yang bertaraf tinggi diantara anggota-anggota dalam
    masyarakat.
    Sasaran bimbingan konseling sosial secara garis besar
    adalah: 1) individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi, dan
    2) kelompok yang mengalami stagnasi sosial.
    Individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi antara
    lain 1) individu non sosial; b) individu a sosial dan c) individu
    anti sosial. Sedangkan kelompok yang mengalami stagnasi
    sosial antara lain: 1) disorganisasi sosial; 2) kesukaran sosial
    dan 3) masalah sosial.
    Keterkaitan bimbingan konseling sosial dengan ilmu-ilmu
    lain misalnya dengan: ilmu komuikasi; ilmu sosiologi; ilmu
    psikoogi; ilmu filsafat; ilmu antropologi dan ilmu ekonomi.

    Adapun yang menjadi sasaran dalam bimbingan konseling social
    menurut S. Kasni hariwoerjanto (1997) secara garis besar dibagi
    menjadi dua: 1).individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi,
    dan 2). kelompok yang mengalami stagnasi social. Yang dimaksud
    individu yang mengalami kesulitas dalam bersosialisasi adalah: (a)
    individu non social, adalah individu yang tidak mau bergaul dengan
    lingkungannya karena ada penghalang atau sebab, penghalang ini
    dapat berupa minder, takut dicemooh, malu dan lain sebagainya; (b)
    individu a social, adalah individu yang tidak dapat menyesuaikan
    diri dengan kondisi lingkungan yang ada, atau individu yang tidak
    dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bukan karena tidak mampu
    tetapi memang individu tersebut sengaja tidak mau atau tidak suka
    untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Biasanya sebabsebab yang menjadi penghalang tidak nyata, sehingga menurut
    ukuran orang, individu tersebut dapat menyesuaikan; (c) individu
    anti social, adalah individu yang sebenarnya mampu untuk
    menyesuaikan diri atau memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada dalam
    masyarakat, tetapi individu tersebut melawan atau menentang
    dengan lingkungan sekitarnya.
    Kelompok yang mengalami stagnasi social antara lain: (a)
    disorganisasi social, pada kenyataannya setiap manusia mempunyai
    masalah atau tantangan yang harus dihadapi dengan baik atau lapang
    dada sehingga tercapai kesejahteraan social, sebab jika tidak dapat
    maka akan terjadi disorganisasi social. Disorganisasi social adalah
    suatu keadaan yang retak dibidang aqidah, nilai, tidak dapat
    menjalankan peraturan-peraturan sebagaimana layaknya, kebiasaan
    dalam pergaulan hidup yang semaunya dan lain-lain; (b) kesukaran
    social, kesukaran social banyak ditimbulkan karena disorganisasi
    yang membahayakan, ini lebih bersifat kondisi patologis yang
    diderita akibat kondisi patologi keluara yang tidak dapat direduksi
    oleh system referensi problem solving;(c) masalah social, adalah

    suatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari sudut
    yang tidak diinginkan, kondisi tersebut dapat disebut dengan salah
    atau abnormal. Kondisi yang abnormal tersebut dapat disebabkan
    salah satunya adalah terjadinya penyimpangan dari kondisi yang
    seharusnya.
    B. Bimbingan konseling Sosial dalam kaitanya dengan ilmu lain
    Secara umum bimbingan konseling social adalah bagian dari
    bimbingan dan konseling yang diaplikasikan lebih khusus untuk
    masyarakat atau social. Sebagai bagian dari bimbingan dan
    konseling masuk dalam kategori ilmu-ilmu social, meskipun
    demikian bimbingan konseling social tidak berarti terlepas dari ilmuilmu yang lain misalnya: ilmu komunikasi, ilmu sosiologi, ilmu
    filsafat, ilmu antropologi dan ilmu psikologi termasuk juga ilmu
    ekonomi.
    Ilmu komunikasi diperlukan dimana seorang konselor social
    dapat menyampaikan pesan-pesan sehingga isi materi dalam
    konseling dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Dalam perspektif
    ilmu sosiologi, konseling social hendaklah mempelajari bagaimana
    interaksi individu dalam masyarakat. Demikian juga ilmu
    antropologi, keanekaragaman budaya, suku yang ada dalam
    masyarakat hendaklah difahami dengan baik dan sebagai wacana
    untuk memberikan solusi dalam terapi, termasuk memahami
    pentingnya budaya yang ada dalam masyarakat, dengan keragaman
    tersebut akan mempersatukan dari berbagai unsur termasuk ras, etnis
    sekali gus. Ilmu filsafat membantu konselor social dalam
    mendiagnosa permasalahan yang ada dalam masyarakat sehingga
    dapat mengambil solusi yang tepat serta tindak lanjut. Ilmu psikologi
    diperlukan sebagai alat untuk terapis dan membantu konselor social
    dalam memahami perubahan dan perkembangan kepribadian
    manusia. Ilmu ekonomi diperlukan untuk membantu memahami
    dunia kerja dan lain sebagainya. Semuanya itu akan memberikan
    kontribusi yang berarti bagi pemahaman secara lebih utuh untuk
    penyelenggaraan praktek konseling social. Hansen dkk (1982)
    menyebutnya konseling social sebagai aplikasi dari ilmu-ilmu social
    interdisipliner, lebih lanjut Hansen menegaskan sebagai berikut:
    The purpose of counseling makes it clear why such varied diciplines
    have influenced the profession….if counselor are to enhance the
    will-being of the individual, the must understand as many as possible
    of the factors that effect people; they must adopt an interdisciplinary
    approach ( Hansen dkk, 1982).
    Dengan demikian kemampuan seorang konselor social selain harus memiliki pengetahuan khusus juga harus ditopang oleh pengetahuan lain secara interdisipliner, karena dalam kenyataanya individu yang ada dalam masyarakat itu berasal dari berbagai latar belakang yang beragam, baik social, budaya, agama dan lain-lain, sehingga masalah yang dihadapi konselor social juga beragam dan komplek, oleh karena itulah dengan kemampuannya yang interdisipliner sangat membantu konselor dalam menjalankan tugastugas konseling sosialnya.

KONSEP DASAR BIMBINGAN

ASAS BIMBINGAN

Asas Kerahasiaan Asas Kesukarelaan Asas Keterbukaan

Asas Kekinian Asas Kemandirian Asas Kegiatan Asas Kedinamisan Asas Keterpaduan Asas Kenormatifan Asas Keahlian Asas Alih tangan Asas Tutwuri Handayani ASAS BIMBINGAN

Tujuan Bimbingan

  • Agar konseling/siswa dapat:
  1. Menyadari “keadaan” diri, + –
  2. Menerima diri
  3. Menyesuaikan dengan lingkungan
  4. Mengembangkan diri
  5. Mencapai kebahagiaan

FUNGSI BIMBINGAN

  1. Fungsi Pemahaman
  2. Fungsi Fasilitasi
  3. Fungsi Penyesuaian
  4. Fungsi Penyaluran
  5. Fungsi Adaptasi
  6. Fungsi Pencegahan (preventif)
  7. Fungsi Perbaikan
  8. Fungsi Penyembuhan
  9. Fungsi Pemeliharaan

10.Fungsi Pengembangan

Jenis Layanan BK

  1. Orientasi
  2. Informasi
  3. Penempatan&Penyaluran
  4. Konseling individual
  5. Konseling kelompok
  6. Bimbingan kelompok
  7. Mediasi
  8. Konsultasi

PRINSIP-PRINSIP UMUM BIMBINGAN

MEDIA TRANSPARANSI / BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR / 2004

1.Bimbingan diperuntukkan semua siswa 2.Bimbingan sbg proses individuasi 3.Bimbingan menekankan hal yang positif 4.Bimbingan merupakan usaha bersama 5.Pengambilan keputusan sebagai hal yang esensi 6.Bimbingan berlangsung dalam berbagai seting kehidupan

PRINSIP BIMBINGAN

UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 Ayat 6: “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”

PP No. 28/1989, Pasal 25:

  1. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenai lingkungan dan merencanakan masa depan 2. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. • Layanan bimbingan perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan membimbing. • Untuk pendidikan SD, memperhatikan karakteristik, kebutuhan siswa, dan penyelenggaraan sistem pendidikan di SD ditangani oleh guru kelas, maka layanan bimbingan lebih efektif dilaksanakan secara terpadu dengan pembelajaran dan ditangani oleh guru kelas. • Guru SD dikehendaki memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menyelenggarakan layanan bimbingan.

MEDIA TRANSPARANSI / BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR / 2004

Robert Myrick, (1989) :

Pendekatan perkembangan lebih tepat digunakan dalam tatanan pendidikan sekolah dasar karena pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan siswa, kebutuhan dan minat, serta membantu siswa mempelajari keterampilan hidup. Tugas perkembangan adalah perangkat perilaku yang harus dikuasai siswa dalam periode kehidupan tertentu, dimana keberhasilan menguasai perangkat perilaku pada periode kehidupan tersebut mendasari keberhasilan penguasaan perangkat perilaku dalam periode berikutnya.

Perkembangan pada usia SD terarah kepada perolehan perilaku yang berkaitan dengan sikap, kebiasaan, dan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai bagian dari lingkungan dan memiliki kecakapan tertentu yang berbeda dari orang lain.

Lingkungan  perkembangan  mengandung unsur-unsur:

 Unsur Peluang  Unsur Pendukung  Unsur Penghargaan

TEKNIK-TEKNIK MEMAHAMI PERKEMBANGAN MURID

TEKNIK MEMAHAMI MURID

TEKNIK TES

Tes Psikologi: ☻Kecerdasan, Bakat, Minat, Kepribadian ☻Tes Hasil Belajar ☻Tes Penampilan

tes

TEKNIK NON TES

☻Observasi ☻Catatan Anekdot ☻Wawancara ☻Angket ☻Autobiografi ☻Sosiometri ☻Studi Kasus

TES KECERDASAN (IQ) SEKOR KLASIFIKASI

> 140 Genius

120 – 139 Very Superior

110 – 119 Superior

90 – 109 Normal

80 – 89 Dull

70 – 79 Border Line

50 – 60 Debil 30 – 49 Embicile

< 30 Idiot

TES BAKAT

REKONIK

BAKAT MUSIK

BAKAT ARTISTIK

BAKAT KLERIKAL

BAKAT MULTIFAKTOR

♣ Berpikir Verbal

♣ Berpikir Bilangan

♣ Berpikir Abstrak

♣ Berpikir Ruang

♣ Kecepaatan dan Ketelitian

♣ Mekanik

♣ Bahasa: Pengucapan & Menyusun

TES MINAT

 TES HOLLAD

 RMIB (Rothwell Miller Interest Blank)

TES KEPRIBADIAN

 PROYEKTIF : GAMBAR, GRAFIS.  MEKANIS/ OBYEKTIF : EPPS

 

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD KELAS RENDAH

BAHAN AJAR PENDIDIKAN GURU SKOLAH DASAR

MATA KULIAH KAJIAN BAHASA INDONESIA

OLEH

ROBERT TAGANG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2017

 

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

DI SD KELAS RENDAH

 

Bahan Belajar Mandiri ini membahas kurikulum sekolah dasar mata pelajaranBahasa Indonesia yang sedang berlaku saat ini, yakni Kurikulum 2004 atau yanglazim disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP). Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuanpendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri dari: standar isi, proses,kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,pembiayaan dan penilaian pendidikan. Standar isi dan Standar Kompetensi Lulusanmerupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolahmenyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisidaerah. Dengan demikian daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untukmerancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalamanbelajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar.Kurikulum di atas menekankan pada:

  1. Ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yangbervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhiunsur edukatif.
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaanatau pencapaian suatu kompetensi.

Pembahasan berikutnya akan difokuskan pada tiga hal:

  1. 1.Struktur Kurikulum dan Standar Kompetensi mata pelajaran BahasaIndonesia.
  2. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah.
  3. Materi dan Model Pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pemahaman kurikulum sangat penting bagi Anda sebagai calon gurusekolah dasar sebab kurikulum merupakan salah satu alat yang strategisdan menentukan dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.Setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda dapat:

  1. Menjelaskan struktur kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia kelasrendah.
  2. Menerapkan model pembelajaran tematik sesuai tuntutan kurikulum.
  3. Menyusun berbagai model pembelajaran tematik.
  4. Menjelaskan keunggulan dan kelemahan model pembelajarantematik/pembelajaran terpadu.

 

KEGIATAN BELAJAR I

Sturktur Kurikulum dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Kurikulum yang dipakai saat ini, mengacu pada Undang-undang No.20 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Adapun struktur Kurikulum Sekolah Dasarkelas rendah ( kelas I-III) dan kelas tinggi (kelas IV-VI) dapat Anda lihat pada tabelberikut:

Penjelasan untuk Kelas Rendah (Kelas I dan II)

  1. Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajarpembiasaan dengan menggunakan pendekatan tematik diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah.
  2. Penjelasan teknis pendekatan tematik diatur dalam pedoman tersendiri.
  3. Alokasi waktu total yang disediakan adalah 27 jam pelajaran per minggu.Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total ataumengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa,sekolah, madrasah atau daerah.
  4. Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 35 menit.
  5. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34-40 minggu dan jam tatap muka per minggu adalah 34-40 minggu dan jam tatap muka perminggu adalah 945 menit (16 jam), jumlah jam tatap muka per tahun adalah544 jam (32.640).
  6. Alokasi waktu sebanyak 27 jam pelajaran pada dasarnya dapat diatur denganbobot berkisar: (a) 15% untuk Agama; (b) 50% untuk Membaca dan MenulisPermulaan serta Berhitung; dan (c)35% untuk Sains, Pengetahuan Sosial,Kerajinan Tangan dan Kesenian, dan Pendidikan Jasmani.
  7. Sekolah dasar dan madrasah dapat mengenalkan teknologi informasi dankomunikasi sesuai dengan kemampuannya.Secara garis besar struktur kurikulum berisi:
  8. Sejumlah mata pelajaran
  9. Kegiatan belajar pembiasaan
  10. Alokasi waktu

Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dansubstansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidikan dan per kelas selamamasa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harusdicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatanpencapaian hasil belajarnya. Tolok ukur kompetensi dinyatakan dalam indikator.Matapelajaran mengutamakan kegiatan intruksional yang berjadwal dan berstruktur.Yang dimaksud kegiatan belajar pembiasaan yaitu kegiatan yangmengutamakan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan dalamkegiatan rutin, spontan, dan pengenalan unsur-unsur penting kehidupan masyarakat.Alokasi waktu menunjukkan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka.Kegiatan pembelajaran pembiasaan diselenggarakan secara berkesinambunganmulai dari pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar, sampai denganpendidikan menengah. Pada pendidikan kanak-kanak dan raudhatul athfal sertapendidikan dasar diselenggarakan melalui kegiatan terprogram yang diberikan alokasiwaktu secara khusus. Sedangkan pada sekolah menengah atas dan yang sederajatdiselenggarakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang tidak didan berikan alokasisecara khusus.Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indoneisa disusun untukmeningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia secara nasional. Saat ini berbagaiinformasi dan kemajuan ilmu pengetahuan hadir dan tidak dapat dicegah. Bagisebagian masyarakat hal tersebut bermanfaat bagi kehidupan.Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satusarana yang dapat mengakses berbagai informasi dan kemajuan tersebut. Untuk itukemahiran berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara lisan dan tertulis harusbenar-benar dimiliki dan ditingkatkan.Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yangdiwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenalimelalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati.Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahankajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan sejaktaman kanak-kanak, kelas I SD sampai kelas XII yang menggambarkan saturangkaian kemampuan yang bertahap, berkelanjutan, dan konsisten seiring denganperkembangan psikologis peserta didik.Berikutnya di bawah ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan mata

pelajaran Bahasa Indonesia, sebelum membahas materi dan model pembelajaran

Bahasa Indonesia untuk SD kelas rendah (kelas I-II).

 

Rasional

Mata pelajaran Bahasa Indonesia diberikan di semua jenjang pendidikanformal. Dengan demikian diperlukan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang memadai dan efektif sebagai alat berkomunikasi, berinteraksi sosial, media pengembangan ilmu dan alat pemersatu bangsa. Daerah/sekolah dapat secara efektif menjabarkan standar kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuansiswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis seta menghargai karya cipta

bangsa Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia memberikan akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Dengan demikian siswa menjadi terbuka terhadap beragam informasi dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia mengupayakan siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, minat, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya bangsa sendiri. Pada sisi lain sekolah atau daerah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan

siswa dan sumber belajar yang tersedia.

 

  1. Pengertian

Bahasa merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling berbagipengalaman, saling belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan pengetahuan intelektual dan kesusassteraan merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

  1. Fungsi dan Tujuan
  2. Fungsi

Standar kompetansi ini disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan danfungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai :

  1. Sarana pembinaan kesatuan dan kesatuan bangsa
  2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya
  3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk keperluan menyangkut berbagai masalah
  5. Sarana pengembangan penalaran
  6. Sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.

 

  1. Tujuan

Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Siswa menghargai dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara.
  2. Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk makna, dan fungsi, serta menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk bermacammacam tujuan, keperluan dan keadaan.
  3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan itelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
  4. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis)
  5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia
  6. Ruang Lingkup

Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek:

  1. Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, kaset, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat,cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun dan menonton drama anak.
  2. Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri, kegiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk dan laporan serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak
  3. Membaca; seperti membaca huruf, suku katam kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengumuman, kamus, enslikopedia serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyar, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak kompetensi membaca juga diarahkan menumbuhkan budaya membaca.
  4. Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat tunggaldan kalimat majemuk serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melaluikegiatan menulis hasil sastra berupa cerita dan puisi. Kompetensi menulis juga diarahkan menumbuhkan kebiasaan menulis.
  5. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum

Standar kompetensi lintas kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup danbelajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa melalui pengalaman belajar.

Standar Kompetensi Lintas Kurikulum ini meliputi :

  1. Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan agama yang dianutnya.
  2. Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk beriteraksi dengan orang lain.
  3. Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep, teknik-teknik, pola, struktur, dan hubungan
  4. Memilih, mencari, dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber
  5. Memahami dan menghargai lingkungan fisik, makhluk hidup, dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat
  6. Berpartisipasi, berinteraksi, dan berkontribusi aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis, dan histories.
  7. Berkreasi dan menghargai karya artistic, budaya dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai leluhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.
  8. Berpikir logis, kritis dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan
  9. menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri, dan bekerja sama dengan orang lain. Di muka telah diuraikan bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Untuk itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa

terampil berkomunikasi. Fungsi utama sastra adalah sebagai penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk, berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk mengetahui pengetahuan tentang bahasa, sedangkan pengajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati dan memahami karya sastra. Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasi karya sastra.Kata menduduki posisi penting dalam sistem bahasa. Pemakaian kata merupakan hal penting dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Oleh sebab itu,

penguasaan kosa kata seseorang sangat menetukan keberhasilannya dalam berkomunikasi. Pembelajaran kosakata bertujuan untuk memperkaya perbendaharaan kata siswa. Siswa tidak harus menghafal sejumlah kata, tetapi yang terpenting dapat menggunakannya di dalam kalimat. Mengenal dan memahami makna kata merupakan tujuan utama pembelajaran kosakata.

Pengorganisasian Materi

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kerangkatentang standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang harus diketahui, dilakukan dan dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam lima komponen utama, yaitu :

  1. Standar kompetensi
  2. Kompetensi dasar
  3. Hasil belajar
  4. Indikator
  5. Materi pokok

Standar kompetensi mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Aspek-aspek tersebut dalam pembelajaran dilaksanakan secara terpadu. Kompetensi dasar kebahasaan disajikan pada lampiran dokumen ini. Kompetensi ini disajikan secara terpadu dengan kompetensi dasar yang lainnya dengan menggunakan tema yang sama. Standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan materi pokok yang dicantumkan dalam standar kompetensi ini merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah, atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Membaca:

– Membaca teks bacaan

– Mendeklamasi puisi

Tema lingkungan

Berbicara:

Mendiskusikan isi teks bacaan

Mendengarkan:

Mendengarkan pembacaan

karangan

Menulis:

– Menulis karangan

– Memeriksa pemakaian

tanda baca dalam karangan

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untukmempelajari bahasa nasional dan bahasa asing. Teknologi komunikasi dapat berupa media cetak dan elektronik. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, radio, internet, video, CD, VCD dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi dalam Bahasa Inggris sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca. Melalui televisi dan radio siswa dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan dan melalui komputer siswa dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.

Diversifikasi Kurikulum

Diversifikasi kurikulum ini ditujukan bagi siswa yang memiliki kemampuanlebih (anak berbakat) atau di bawah rata-rata (anak berkesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus). Agar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak, kebutuhan anak, emosioanal dan sosial anak; maka kurikulum perlu dimodifikasi sehingga berbeda dengan kurikulum anak normal. Modifikasi kurikulum menyangkut empat bidang, yaitu: materi (konten), proses dan metode pembelajaran, kemampuan (produk) yang diharapkan dari siswa, dan lingkungan belajar. Sebagai contoh, guru SD Kelas 4 dapat memodifikasi pembelajaran menulis (mengarang) melalui metode kelompok, diskusi, conferencing,

inkuiri, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan sebagainya.

Bacaan Sastra

Setiap siswa SD dan MI diperkenalkan jenis- jenis sastra seperti puisi anak, cerita anak, drama anak, dongeng atau cerita rakyat. Siswa berharap mampu mengapresiasi karya sastra tersebut.

Pembelajaran apresiasi sastra ini harus disesuaikan dengan kompetensikompetensi yang terdapat pada setiap aspek. Pemilihan bahan ajar untuk kompetensikompetensi

tersebut dapat dicari pada sumber-sumber yang relevan. Kegiatannya dapat diitegrasikan dalam pembelajaran menyimak, berbicara, membaca dan menulis (narasi dan deskripsi).

Latihan

Setelah Anda mempelajari bahasan di atas, cobalah berlatih menjawab

pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

  1. Mengapa struktur pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kelas Rendah

menurut Kurikulum 2004 dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

harus menggunakan pendekatan tematik ?

  1. Sebutkan tujuan umum pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar!
  2. Sebutkan ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia!
  3. Mengapa bagi anak berbakat dan bagi anak berkebutuhan khusus perlu

diferensiasi kurikulum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya

dalam aspek materi, proses, metode, kompetensi dan lingkungan belajar?

Jelaskan dan berilah contoh setiap aspek tersebut!

 

RANGKUMAN

  1. Struktur Kurikulum dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

mengacu pada Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Secara garis besar struktur kurikulum berisi: sejumlah mata

pelajaran, kegiatan belajar pembiasaan dan alokasi waktu.

  1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional

yang disusun oleh dan dilaksanakan pada masing-masing satuan pendidikan.

KTSP terdiri dari: tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan

muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

  1. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif

terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai

kemanusiaan.

  1. Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan

MI terdiri dari aspek: mendengarkan, berbicara,membaca dan menulis.

  1. Standar kompetensi lintas kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup dan

belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa melalui

pengalaman belajar.

 

 

 

 

           

KEGIATAN BELAJAR II

Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah

2.1 Teori Pembelajaran di Kelas Rendah

Karakteristik anak usia SD yang antaranya lain telah mampu melakukankoordinasi otot-ototnya sehingga mereka selalu aktif bergerak melakukan aktivitas baik permainan maupun gerakan-gerakan jasmaniah lainnya, seperti melompat, lari, memegang pensil, dan sebagainya. Di samping itu kognitif mereka telah berkembang walaupun masih terbatas pada operasi-operasi konkrit, dan dalam hal sosial serta emosional mereka masih mendambakan berlangsungnya pengalaman di lingkungan keluargannya dapat dialami pula di sekolah, serta pengamatan mereka yang masih bersifat global (Briggs dan Potter 1990), menurutnya perlu diterapkannya model pembelajaran yang relevan dengan karakteristik tersebut. Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid kelas rendah(kelas I-II SD) itu adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992) atau model-model interaksi dan transaksi (Brady, 1985) daripada model-model pembelajaran yang didasarkan pada“behavioral” atau expository”. Dari model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran sebagai berikut:

  1. Libatkan Murid supaya Aktif Belajar.

Libatkan murid dalam merumuskan tujuan, merencanakan kegiatan danmerefleksi terhadap efektivitas belajar mereka.keterampilan ini merupakan dasar yang penting bagi “belajar seumur hidup”. Murid terlibat dalam memecahkan masalah, membuat keputusan,menganalisis, mengevaluasi dan mengambil tindakan. Jenis belajar seperti ini dapat

diakomodasikan dalam model-model pembelajaran transaksi, interaksi dan perkembangan kognitif.

  1. Dasar pada Perbedaan Individual

Pengalaman dan minat murid berbeda-beda. Karena itu pembelajaran akanlebih berhasil jika berlangsung dalam konteks yang berkaitan dengan pengalaman murid dan relevansinya dengan kehidupan mereka saat ini dan akan datang, termasuk perbedaan jenis kelamin. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi oleh model perkembangan kognitif, model transaksi, dan model personal.

  1. Kaitkan Antara Teori dan Praktik

Belajar akan sangat bermakna jika teori berkaitan dengan praktik dan tujuan sosial. Hubungan pengalaman murid di sekolah dengan kehidupan mereka diluar sekolah. Pembelajaran jenis ini dapat diakomodasi dalam model transaksional dan model kognitif.

 

  1. Kembangkan Komunikasi dan Kerjasama dalam Belajar

Murid hendaknya mempunyai kesempatan mengekspresikan danmendiskusikan ide-ide mereka, mengenal dan memecahkan masalah melalui kerjasama dalam tim, mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam kegiatan kooperatif, dan berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama. Pembelajaran ini dapat diakomodasikan dalam model sosial, interaksi dan transaksi.

  1. Beranikan Anak dalam Pengambilan Resiko dan Belajar dari Kesalahan

Murid belajar secara individual atau dalam kelompok mempunyai kesempatanmenerapkan ide-ide dan keterampilan-keterampilan sendiri, mencoba menyelesaikan masalah dan belajar dari kesalahan dan juga dari keberhasilan. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi dalam model behavior dan model eksposisitorik.

  1. Belajar sambil Berbuat dan Bermain

Murid kelas rendah senang bermain. Briggs dan Potter (1990) menyatakanbahwa mereka sukar membedakan antara bermain dan bekerja. Mula-mula anak senang bermain sendiri, tetapi makin bertambah umur mereka mulai senang bermain secara berpasangan dan berkelompok. Melalui kegiatan bermain dengan alat-alat permainan dan bermain peran, murid dapat mempelajari konsep, mengembangkan kepercayaan diri, mengembangkan berpikir, memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan sosial, belajar tentang nilai-nilai sosial, mengembangkan empati terhadapa orang lain dan sebagainya. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi melalui model-model pemrosesan informasi.

  1. Sesuaikan Pembelajaran dengan Taraf Perkembangan Kognitif yang Masih

pada Taraf Operasi Konkrit.

Pembelajaran adalah upaya mengkreasi lingkungan dimana struktur kognitifmurid dapat muncul dan berubah. Tujuannya adalah menyediakan pengalaman belajar yang memberi kesempatan murid praktik dengan operasi-operasi khusus itu. Dalam memperoleh pengalaman belajar itu murid harus aktif, menemukan sendiri, dan pengalaman-pengalaman itu sendiri harus induktif. Dalam mempelajari operasi-operasi baru murid harus diberi kesempatan yang luas untuk memanipulasi lingkungan. Bagi murid materi yang kita gunakan hendaknya konkrit, ketimbang lambang/simbol. Misalnya kubus atau tutup botol yang diberi tulisan akanlebih berfungsi. Jadi lingkungan harus kaya dalam kacamata pengalaman sensoris murid. Dilihat dari materi yang dipelajari dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengetahuan tentang fisik, sosial, dan logik. Pengetahuan sosial diperoleh melalui balikan dari orang lain dalam suasana interaksi bebas di lingkungan. Dalam memperoleh pengetahuan fisik dan logik, guru hendaknya menyiapkan “setting” yangmemungkinkan murid membangun pengetahuan bagi dirinya sendiri melaui pertanyaan menuntun atau memancing yang dapat merangsang pemikiran dan eksplorasi lebih jauh. Dengan demikian model pembelajaran ini dapat diakomodasi melalui model pengembangan intelek.

III. Model Pembelajaran di Kelas Rendah

Pada bagian terdahulu telah diidentifikasikan berbagai model pembelajaranyang dapat mengakomodasi berbagai prinsip atau teori pembelajaran di kelas rendah. Pertemuan kelompok, bermain peran, penyesuaian pada perbedaan individu, pemrosesan informasi, pengembangan intelek, model ekspositorik, transaksi dan kognitif. Berikut akan dikemukakan deskripsi umum dari model-model pembelajaran itu (Joyce dan Weil, 1992), tetapi pelaksanaan model-model belajar itu untuk kelas rendah masih harus disesuaikan atau disederhanakan lagi.

 

  1. Pertemuan kelompok (Patner-patner dalam belajar)
  2. Langkah-langkah pembelajaran
  3. Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak direncanakan) yang diidentifikasi oleh guru sebagai objek studi.
  4. Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu.
  5. Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya
  6. Mempelajari secara independen dan kelompok
  7. Menganalisis kemajuan dan proses
  8. Mengulang lagi kegiatan 1-5 jika hasil analisis belum memadai.
  9. Sistem sosial yang diperlukan

Sistem sosialnya adalah demokratis, aktivitas kelompok muncul dengan petunjuk minimal dari guru. Murid dan guru mempunyai status yang sama kecuali peranan masing-masing.

  1. Prinsip-prinsip reaksi

Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid merumuskan rencanan, tindakan dan mengatur kelompok serta mengarahkan kegiatan sesuai dengan yang dituntut oleh metode enquiry. Guru berfungsi sebagai konselor akademik.

  1. Sistem pendukung

Perlengkapan sekolah (perpustakaan, media dan alat-alat) harus memenuhi keperluan pembelajaran ini. Di samping itu hendaknya juga dimungkinkan untuk dapat menggunakan sumber-sumber di luar sekolah.

 

 

 

  1. Role Playing (Bermain Peran)
  2. Langkah-langkah
  3. Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dan membuat masalahjadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing
  4. Memilih partisipan

Menganalisis peran-peran dan memilih pemain peran

  1. Menetapkan tahapan

Menetapkan alur laku (action)

Menyatakan kembali peran-peran

Memasuki situasi masalah

  1. Menyiapkan pengamat

Menetapkan apa yang harus diamati

Memberi tugas pengamatan pada murid

  1. Pelaksanaan

Melaksanakan Role Playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaan dan menghentikannya

  1. Diskusi dan evaluasi

Menelaah kembali pelaksanaan role playing

Mendiskusikan fokus utama role playing

Menyiapkan pelaksanaan ulang role playing

  1. Pelaksanaan ulang

Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang sebagai ibu.

  1. Diskusi dan evaluasi (lihat langkah keenam)
  2. Berbagi pengalaman dan generalisasi

Menghubungkan masalah yang diperankan itu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku.

  1. Sistem Sosial yang Diperlukan

Model ini terstruktur secara moderat. Guru mengemukakan langkah-langkah dan mengarahkan murid dalam melaksanakan setiap langkah. Isi diskusi/tema dan pelaksanaan umumnya ditentukan oleh murid.

 

 

 

  1. Prinsip-prinsip reaksi

Terimalah semua respon murid tanpa mengevaluasi. Bantu murid menggali berbagai sisi situasi masalah dibandingkan dengan pandangan-pandangan lain.Tingkatkan kesadaran siswa tentang pandangan dan perasaan sendiri melalui merefleksi, parafrase, dan menyimpulkan respon-respon mereka. Tekankan bahwa ada berbagai cara memainkan peran dan juga ada banyak cara untuk memecahkan masalah.

  1. Sistem pendukung

Role playing hanya memerlukan sedikit saja material pendukung kecuali situasi awal. Misal: tempat yang agak luas, benda-benda dari lingkungan sekitar atau dari alam.

 

Peranan Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah

Guru merupakan kunci sentral untuk keberhasilan suatu pengajaran. Terlebihlagi apabila lingkungan tempat pembelajaran kurang menguntungkan, peran guru sangat berarti bagi siswa karena penentu keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, orang tua dan sekolah. Kedudukan guru sebagai komponen pengajaran di samping siswa, kurikulum, metode, alat pelajaran, dan alat evaluasi merupakan penentu keberhasilan. Dengan demikian guru berperan sebagai pembimbing, model, inovator, administrator dan evaluator, terlebih lagi dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

 

2.2.1. Guru Bahasa Indonesia sebagai Pembimbing

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membimbing kelas I dan II antara lain

sebagai berikut:

  1. Tingkat Kesiapan anak

Kesiapan anak yang berasal dari TK tentunya akan lebih matang bila dibandingkan dengan yang bukan dari TK. Biasanya anak dari TK lebih memiliki dasar kedisiplinan dan dasar pembiasaan diri yang lebih, meskipun tidak mutlak. Hal ini dapat diperkuat GBPP dan Kurikulum Pendidikan TK yang bertujuan untuk membantu kesiapan dalam menghadapi pendidikan selanjutnya. Seharusnya bagi siswa yang memiliki kesiapan plus mendapat tambahan pengayaan, sedang bagi yang kurang diadakan pembimbingan tambahan.

  1. Tingkat Pengembangan Anak

Anak usia dini kecenderungan ingin tahu sangat besar dengan apa yang ia lihat, serta pada diri anak kelas I dan II memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya. Oleh karena itu dorongan dan bimbingan guru sangat diperlukan untuk memupuk dan membangkitkan bakat, minatdan kemapuan anak tersebut. Guru harus berperan aktif serta dapat memanfaatkan saat-saat yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan anak didiknya.

  1. Bahasa Ibu

Bahasa ibu anak kelas I,II dan III, seharusnya menjadi sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bahan pelajaran, metode, dan teknik pembelajaran bahasa Indonesai sebagai bahasa kedua.

2.2.2. Guru sebagai Model

Guru sebagai cermin bagi anak didik, terutama baik bagi anak usia dini, yang biasanya dorongan ingin meniru sangat menonjol. Semua tingkah laku guru akan berpengaruh bagi anak didik, begitu juga tutur kata guru, secara sadar atau tidak akan merupakan model bagi anak didik. Oleh karena itu, guru kelas I dan II hendaknya santun dalam berbicara, baik tutur katanya, serta menggunakan bahasa yang baik dan benar.

2.2.3. Guru sebagai Administrator

Guru sebagai pengelola segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pengajaran, termasuk pengadministrasiannya, misal: mencatat jumlah siswa, pekerjaan orang tua, bagaimana prestasi anak tersebut, kelemahan dan kekurangan masing-masing siswa , termasuk perkembangan bahasanya.

2.2.4. Guru Bahasa sebagai Inovator

Guru bahasa tentunya menyadari, bahwa bahasa yang digunakan dan diajarkan bersifat hidup. Dengan demikian bahasa senantiasa mengalami perkembangan, misalnya adanya unsur serapan asing maupun daerah yang merupakan wujud berkembangnya bahasa tersebut. Di satu sisi perkembangan tersebut berakibat positifterhadap perbendaharaan kata, di sisi lain menuntut kita lebih kreatif mendorong aktivitas anak didik untuk terampil menyaring dan memanfaatkan perkembangan tersebut secara tepat.

Untuk mewujudkan pemikiran di atas, guru harus bersifat terbuka menerima bahkan mengharap saran-saran, aktif dalam kegiatan yang bersifat sebagai ajang bertukar pikiran kebahasaan dan tertanam rasa bangga dan hormat terhadap perkembangan dan kedudukan Bahasa Indonesia serta mengimplementasikan secara sungguh-sungguh dalam pembelajaran. Guru harus menyadari peran bahasa Indonesia sebagai sarana mempelajari mata pelajaran lain dan sebagai salah satu keterampilan hidup bagi para siswa.

2.2.5. Guru sebagai Evaluator

Evaluator berarti orang yang mengadakan kegiatan penilaian, sedangkan evaluasi merupakan proses pelaksanaan penilaian tersebut. Aktivitas evaluasi oleh guru pada umumnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Evaluasi awal
  2. Evaluasi Tengah
  3. Evaluasi akhir

Pertama, evaluasi awal, yang sering kita sebut analisis kondisi awal, atau evaluasi perencanaan.

Kedua, evalusi tengah atau evaluasi proses. Kegiatan mengadakan penilaian ini dilakukan guru pada saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Apakah teknik, metode, sarana dan prasarana kegiatan siswa telah searah dengan tujuan pembelajaran.

Ketiga, adalah evaluasi akhir atau disebut evaluasi hasil, merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan alat evaluasi berupa tes, dengan tujuan untuk melihat tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap materi yang telah disajikan. Ketiga kegiatan evalusi tersebut berlangsung melingkar, secara terus menerus, artinya hasil evalusi yang lalu akan menjadi pedoman pembelajaran yang akan datang, begitu seterusnya.

2.3. Pendekatan Mengajar

Beberapa pendekatan yang masih dominan digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain: pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, pendekatan integratif dan tematik.

2.3.1. Pendekatan Komunikatif

Yang dimaksudkan dengan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi. Dalam pendekatan ini yang diutamakan adalah tersampaikannya semua pesan komunikasi. Dalam pembelajaran keterampilan wicara, keterampilan menulis, materi pembelajaran kebahasaan disusun dan dipilih untuk menunjang tercapainya komunikasi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dengan mudah dipahami bagi komunikan dan komunikator. Prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut :

  1. Pragmatik, struktur dan kosakata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri, karena kosa kata, pragmatik dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut.
  2. Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang disampaikan secara tersirat.
  3. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar dan memperluas wawasan juga mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misalnya membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama.
  4. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswamenguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan informasi secara lisan maupun tulis.

2.3.2. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif

Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan bahwa CBSA indentik dengan belajar kelompok adalah tidak benar.

2.3.3. Pendekatan Integratif dan Tematik

Yang dimaksud dengan pendekatan integratif adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara integrative, misalnya dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Selain integratif dalam kebahasanan juga integratif lintas materi dengan diikat oleh sebuah tema. Berdasarkan struktur Kurikulum 2004 dan uraian di atas, pembelajaran di SD kelas rendah harus menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini dianggap cocok diterapkan di SD sebab pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

Karakteristik Pengajaran Tematik

  • Memberikan pengalaman langsung tentang objek-objek yang riil bagi anak
  • Menciptakan kegiatan sehingga anak-anak menggunakan semua pemikirannya
  • Membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada hal-hal yang telah mereka ketahui dan telan dapat mereka lakukan sebelumnya.
  • Memberikan kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang ditujukan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan anak (kognitif,sosial, emosi, fisik, dan sebagainya).
  • Mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan siswa untuk bergerak dan melakukan aktivitas fisik, interaksi sosial. Melatih kemandirian, serta mengembangkan harga diri yang positif (positive self esteem)
  • Memberikan kesempatan untuk menggunakan bermain sebagai alat untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam suatu pengertian.
  • Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, pengalaman di dalam keluarga yang dibawa anak ke dalam kelasnya.
  • Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.

 

 

Prinsip-prinsip Pengajaran Tema

  • Tema harus terkait langsung dengan pengalaman kehidupan nyata anak-anakdan harus dikembangkan atas dasar pengetahuan yang telah mereka miliki.
  • Setiap tema harus menyajikan konsep untuk diselidiki dan ditemukan oleh anak-anak. Penekanannya, guru harus membantu anak membangun konsep yang berhubungan dengan tema.
  • Setiap tema harus didukung oleh bahan yang cocok untuk diteliti oleh anak.
  • Setiap tema merupakan pengikat dari isi/bahan dan proses belajar.
  • Informasi yang berkaitan dengan tema harus disampaikan kepada anak melalui kegiatan pengalaman langsung.
  • Kegiatan yang berkaitan dengan tema harus menyajikan berbagai materi kurikulum dan cara-cara yang dapat melibatkan anak-anak.
  • Isi atau materi yang sama harus diberikan lebih dari satu kali (berulang-ulang) dan dikembangkan ke dalam jenis-jenis kegiatan yang berbeda-beda.
  • Tema harus memungkinkan untuk memadukan beberapa bidang pengembangan yang ada dalam program.
  • Setiap tema harus dapat diperluas atau dapat direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan anak-anak.

 

Keuntungan Pengajaran Tema

  • Meningkatkan perkembangan konsep anak
  • Mengintegrasikan isi dan proses belajar.
  • Anak-anak memiliki kesempatan untuk menemukan informasi-informasi penting melalui berbagai cara.
  • Memungkinkan anak untuk memahami lebih dari bidang-bidang studi yang dipelajarinya.
  • Adanya keterlibatan kolektif mempelajari topik-topik khusus dapat meningkatkan keeratan kelompok.
  • Mendorong para praktisi untuk menentukan fokus materi yang ada di sekitar anak .
  • Memungkinkan guru untuk menyajikan topik yang cukup luas dan mendalam serta memberikan kesempatan kepada semua anak dalam mempelajari materi
  • Dapat diimplementasikan pada berbagai tingkatan kelas dan kelompok usia yang berbeda

 

 

 

Contoh Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar

Kelas Rendah berdasarkan Pendekatan Tematik

Sebelum penyajian model, perlu dipahami langkah-langkah perencanaanpembelajaran. Tentu saja langkah-langkah ini tidak harus Anda ikuti secara kaku.

  1. Menentukan tema, subtema, dan materi yang dikembangkan:
  2. Memilih tema dari kurikulum
  3. Menentukan subtema dati tema yang dipilih
  4. Menuliskan materi yang akan dikembangkan
  5. Menentukan fokus pembelajaran
  6. Menentukan keterampilan yang ditekankan dan diberi jatah waktu terbanyak
  7. Menentukan materi keterampilan dan konsep dalam bidang studi atau dari bidang studi lain yang dipadukan
  8. Menentukan dampak pengiring yang diharapkan

III. Menentukan kompetensi dasar, indikator, dan hasil belajar.

  1. Menyediakan bahan ajar dan alat peraga/media yang diperlukan

Yang dimaksud dengan bahan ajar ialah apa yang akan diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan, seperti huruf yang akan diperkenalkan, pola kalimat yang dilatihkan, kosakata yang dikembangkan, kemampuan kognitif/afektif yang dikembangkan. Media adalah benda yang dikembangkan untuk mempermudah tercapainya tujuan, seperti gambar, kartu huruf/ suku kata/ kata/ kalimat, bunga, daun dsb.

  1. Menentukan Strategi Pembelajaran

Berdasarkan indikator, kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran disusun dengan memperhatikan kondisi seperti umur siswa, keadaan kelas/sekolah, serta cuaca. Dalam hal ini, perlu ditentukan alokasi waktu untuk setiap kegiatan. Kegiatan yang berkaitan dengan fokus pembelajaran mendapat jatah waktu paling banyak. kalanya dalam satu pertemuan ditetapkan dua fokus, misalnya mendengarkan (menyimak) dan berbicara, atau membaca dan menulis permulaan.

  1. Menyusun Alat Evaluasi

Untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran tercapai, perlu disusun alat evaluasi (formatif). Yang dievaluasi terutama yang merupakan fokus pembelajaran. Berikut ini akan diberikan dua contoh model pembelajaran. Perlu diketahui bahwa model-model itu dikembangkan secara terpadu dengan tingkat keterpaduanyang tidak sama. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa model-model yang disajikan hanyalah sekedar contoh yang dapat diubah dan dikembangkan sesuai dengankreativitas guru/calon guru.

  1. Model Pembelajaran Terpadu Bidang Studi Bahasa Indonesia

Kelas 1, Semester II

  1. Tema : Kegiatan sehari-hari

Subtema : Belajar di rumah

Materi Pokok : Membaca, teks nonsastra

  1. Fokus Pembelajaran : Membaca ( + 50%)

Aspek dipadukan : menulis ( + 30%) berbicara dan menyimak ( + 20%)

kemampuan kognitif yang dikembangkan: berpikir divergen.

Nilai moral: religius.

III. Kompetensi Dasar : Membaca Bersuara

  1. Indikator
  • Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar
  • Membaca dengan memperlihatkan tempat jeda (untuk berhenti, menarik nafas): jeda panjang atau pendek
  • Membaca dengan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteksnya
  • Mengidentifikasi kata-kata kunci dari bacaan agak panjang
  1. PBM
  2. Membaca bacaan (lebih kurang 10 kalimat) dengan lafal dan intonasi yang wajar
  3. Menuliskan kata-kata yang didiktekan guru
  4. Menulis kalimat sederhana dimulai dengan huruf capital
  5. Menjawab pertanyaan tentang isi bacaan
  6. Menyebutkan sifat, watak, atau kebiasaan yang baik
  7. Mengucapkan doa sebelum/sesuadah makan menurut agama masing-masing dengan lafal dan intonasi yang baik dan wajar.
  8. Materi Pokok : Teks nonsastra

Bahan ajar yang digunakan ialah teks bacaan buatan guru, sesuai dengan tema dan materi pokok. Siswa diharapkan telah menguasai semua huruf kecuali x dan z. Alat Bantu lainnya : gambar anak berseragam SD sedang makan pagi. Jam dinding menunjukkan pukul 05.50, suku kata bagian dari kata-kata sifat dalam bacaan.

Alat Bantu lainnya: gambar Wawan sedang menggambar. Ayah memperhatikan. Adiknya melihat gambar, ibu menceritakan gambar itu. Jam dinding menunjukkan pukul 05.05, seperangkat kartu suku kata.

VII. Strategi Pembelajaran

  1. Guru menempelkan gambar dengan judul Wawan, teks bacaan ditutupi.
  2. Kegiatan prabaca, anak-anak diajak menerka isi bacaan.
  3. Kegiatan membaca

– Membaca sepuluh kalimat pertama

– Mencocokan terkaan isi bacaan dengan isi bacaan yang sebenarnya

– Melanjutkan kegiatan membaca

– Mencocokan terkaan isi bacaan dengan isi bacaan yang sebenarnya

  1. Kegiatan pascabaca

– Mendorong siswa untuk berpikir divergen dalam menanggapi bacaan.

– Mendorong siswa untuk mengenali karakter (sifat-sifat)tokoh.

– Menyalin bacaan dengan huruf tegak bersambung

– Mengembangkan kosa kata dengan membuat suku kata menjadi kata.

– Mengerjakan latihan menggunakan kata sifat.

Catatan:

Pembelajaran di atas dilaksanakan secara terpadu. Fokusnya ialah membaca. Kegiatan

tersebut dimulai dengan orientasi menyimak pertanyaan guru dan berbicara untuk

memberikan jawaban. Di dalam pembelajaran membaca itu, siswa juga harus menulis.

Selain itu, beberapa pertanyaan yang diajukan memacu siswa “berpikir”divergen:

tidak hanya satu jawaban yang benar.

  1. Model Pembelajaran Terpadu (Integratif)

Tema : KEJADIAN SEHARI-HARI

Kelas : 1 (satu)

Semester : II (dua)

Bahasa Indonesia

Aspek berbicara :

Kompetensi Dasar : Mendeklamasi puisi anak atau syair lagu

Hasil Belajar : Mendeklamasi puisi anak atau syair lagu dengan penghayatan dan ekspresi yang sesuai Indikator : – Membaca Puisi atau sayir lagu dengan benar

– Mendeklamasikan sesuai dengan isi dan mengekpresikan dalam gerak dan mimic yang sesuai

Materi Pokok : Puisi anak atau lagu anak.

Aspek Membaca :

Kopmpetensi Dasar : Membaca bersuara (lancar)

Hasil Belajar : -Membaca bersuara (lancar) kalimat sederhana terdiri atas 3-5

Kata.

Indikator : – Membaca lancar teks pendek dengan hafal dan intonasi

yang Benar

– Membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti menarik nafas) jeda panjang atau pendek

– Membaca dan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteks

– Mengidentifikasi kata-kata kunci dari bacaan agak panjang.

Materi Pokok : Teks sastra dan nonsastra

Aspek Menulis :

Kompetensi Dasar : Menulis dengan huruf sambung

Hasil Belajar : Menulis rapi kalimat dengan huruf sambung

Indikator : Menulis kalimat dengan huruf sambung yang rapi dan

dapat dibaca orang lain

Materi Pokok : Kalimat dengan huruf sambung yang tertulis rapi dan

jelas di papan tulis dan buku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiasih dan Zuchdi, Darmiyati. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di

Kelas Rendah. Jakarta. Dekdikbud.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Sekolah Dasar. Jakarta

Depdiknas.

————–. 2004. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar. Jakarta. Depdiknas

Hernawan, Asep Herry. 2002. Kurikulum Pembelajaran. Bandung. Jurusan Kurikulim

dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universita

Pendidikan Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2000. Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung. Program

Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia .

Harjasujana, Ahmad Slamet. 2001. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk PGSD.

Bandung. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesi.

Purwanto, Ngalim dan Alim, Djeniah. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa

Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta. Rosda Jayaputra.

Sapani, Suardi. 1994. Contoh Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jakarta. Depdikbud.

Salleh, Norilla MD dan Othman Ikhsan. 2005. Kurikulum dan Pengajaran Sekolah

Rendah. Perak. Quantum Book.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum; Teori dan

Praktek.Bandung. Remaja Rosdakarya.

Syafiíe, Sudarmi. 1994. Seri Panduan Guru; Implementasi Kurikulum Pendidikan

Dasar 1994 Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 Sekolah Dasar. Solo.

Tiga Serangakai.

Tarigan, Djago. 1995. Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan

SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung. Jurusan Pendidikan

Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung.

5

MODEL MODEL PEMBELAJARAN SD

Macam-Macam model pembelajaran PAIKEM dijabarkan

sebagai berikut:

  1. Koperatif (CL, Cooperative Learning)

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahanstrategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

  1. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif- nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Ada tujuh indikator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba,mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism(membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsepaturan,analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindaklanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).

  1. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika). Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukaninformal dalam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

  1. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

 

 

  1. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

  1. Problem Solving

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

  1. Problem Posing

Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

  1. Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntukt untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanujtnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpaduan, keterbukaan, dan ragam berpikir. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

  1. Probing-prompting

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.

  1. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)

Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.

  1. Reciprocal Learning

Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bahwa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis. Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.

  1. SAVI

Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

  1. TGT (Teams Games Tournament)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:

  1. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan
  2. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
  3. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisa nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
  4. Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
  5. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
  6. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)

Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

  1. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)

Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.

  1. TAI (Team Assisted Individualy)

Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

  1. STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.

  1. NHT (Numbered Head Together)

NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi ahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.

  1. Jigsaw

Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks seperrti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

  1. TPS (Think Pairs Share)

Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

  1. GI (Group Investigation)

Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahan data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkembangan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

 

 

 

  1. MEA (Means-Ends Analysis)

Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadi koneksivitas, pilih strategi solusi

  1. CPS (Creative Problem Solving)

Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.

  1. TTW (Think Talk Write)

Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.

  1. TS-TS (Two Stay – Two Stray)

Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.

  1. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)

Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

 

  1. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)

Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

  1. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)

SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.

  1. MID (Meaningful Instructionnal Design)

Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresiapresiasi konsep

  1. KUASAI

Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahuimemahami- menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

  1. CRI (Certainly of Response Index)

CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.

  1. DLPS (Double Loop Problem Solving)

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan apa yang menyebabkan munculnya masalah tersebut. Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.

  1. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)

DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.

  1. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)

Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

  1. IOC (Inside Outside Circle)

IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya

  1. Tari Bambu

Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.

  1. Artikulasi

Artikulasi adalah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.

  1. Debate

Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

  1. Role Playing

Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon,presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.

  1. Talking Stick

Sintak pembelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.

  1. Snowball Throwing

Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi

  1. Student Facilitator and Explaining

Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.

  1. Course Review Horay

Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

 

 

 

  1. Demonstration

Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

  1. Explicit Instruction

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

  1. Scramble

Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

  1. Pair Checks

Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

  1. Make-A Match

Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

 

 

 

  1. Mind Mapping

Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

  1. Examples Non Examples

Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.

  1. Picture and Picture

Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

  1. Cooperative Script

Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

  1. LAPS-Heuristik

Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.

  1. Improve

Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikanperbnaikan- pengayaan-interaksi.

  1. Generatif

Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasimotivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restruturisasi sajian konsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan refleksi

  1. Circuit Learning

Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi

  1. Complete Sentence

Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: siapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.

  1. Concept Sentence

Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci, presentasi.

  1. Time Token

Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.

 

 

  1. Take and Give

Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa – bahan belajar – dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi

  1. Superitem

Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.

  1. Hibrid

Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusiworkshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.

  1. Treffinger

Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-piki kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.

  1. Kumon

Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyamanmenyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.

  1. Quantum

Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicarabermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. Rumus quantum fisika adalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m = massa yaitu potensi diri (akalrasa- fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal.

 

BAHAN AJAR MANAJEMEN PENDIDIKAN (2017)

 

MANAJEMEN PENDIDIKAN

  1. Pengertian Administrasi, Manajemen, dan Manajemen Pendidikan
    1. Pengertian Administrasi

Secara etimologi, administrasi berasal dari kata ad + ministrare. Ad berarti intensif, sedangkah ministrare adalah melayani, membantu, dan memenuhi, sehingga administrasi dapat diartikan dengan melayani secara intensif.

 

Secara sempit, Administrasi adalah pekerjaan yang berhubungan dengan ketatausahaan. Sedangkan menurut beberapa ahli Administrasi dapat diartikan sebagai berikut :

  1. Ilmu/seni mengelola sumberdaya 7M + 1I (man, money, material, machine, methods, marketing, minutes + information (Usman, 2009).
  2. Segenap proses penyelenggaraan dlm setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu (The Liang Gie).
  3. Pengertian Manajemen

Secara etimologi, manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan sehingga manajemen berarti menangani.

Menurut Sumantri (1990 : 44) manajemen sebagai proses penggerakan kerjasama dengan orang lain dan segala fasilitas yang diperlukan. Manajemen juga diartikan sebagai Seni melaksanakan pekerjaan melalui orang lain (Parker  dalam stoner & freeman, 2000). Selain itu juga disebutkan bahwa manajemen adalah Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian (P4) sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Usman, 2009).

  1. Manajemen dan Administrasi sebagai Istilah yang Ekuivalen

Frederick Winslow Taylor (1856 – 1915) merupakan tokoh dari Amerika Serikat yang mempelopori manajemen sebagai suatu disiplin ilmu. Adapun Henry Fayol merupakan tokoh manajemen yang berasal dari Perancis lebih sering menggunakan kata administrasi daripada manajemen dan menganggap keduanya memiliki makna yang sama. Menurut Panglaykim dan Tanzil (1986 : 34), jika manajemen menetapkan kebijaksanan yang harus dituruti, maka administrasi menyelenggarakannya.

Tidak semua orang menganggap istilah manajemen dan administrasi memiliki makna yang sama. Umumnya, pada lembaga pemerintahan istilah yang dipergunakan adalah administrasi, sedangkan pada lembaga komersil istilah manajemen lebih banyak digunakan. Namun hal tersebut tentu saja tidak selamanya berlaku, istilah manajemen mempunyai makna yang lebih marketable dan bergengsi dan mereka menggunakan istilah “Bos” pada pemimpinnya. Sedangkan istilah administrasi khususnya dalam dunia pendidikan hanya diartikan sebagai pekerjaan tulis – menulis, kearsipan / pembukuan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ketatausahaan dan menggunakan istilah pemimpin bukan bos.

Perbedaan Bos dan Pemimpin

BOS PEMIMPIN
Memerintah Melatih
Ingin berkuasa Niat Baik
Menciptakan Rasa Takut Menciptakan Kebanggaan
Berkata “saya” Berkata “kita”
Suka Menyalahkan Memecahkan Masalah
Tahu caranya Tunjukkan caranya
Menggunakan orang Melayani Orang
Menasihati dengan sedikit kasar Menasihati dengan ramah

 

  1. Defenisi Pendidikan

Defenisi pendidikan sejauh ini belum ada keseragaman formulasi yang dapai dipakai sebagai  pegangan karena masing-masing ahli mengemukakan defenisi yang agak berbeda satu dengan yang lainnya, tergantung dari konsepsi pendekatannya masing-masing.  Namun ditinjau dari sudut hukum, defenisi pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 1 ayat (1) yaitu : ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

  1. Defenisi Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan dapat didefenisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya  pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Manajemen pendidikan dapat pula didefenisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya  pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Adapun sumber daya  pendidikan adalah sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi 12 hal sebagai mana yang disebut di atas. Manajemen pendidikan dapat pula diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian,  pengarahan, dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif, efisien mandiri, dan akuntabel. Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4) , Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi  proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan

Soebagio Atmodiwirio. (2000:23), Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari  bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama Engkoswara (2001:2), Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan  pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan

Istilah yang akrab dengan pengelolaan pendidikan sebelumnya adalah Administrasi Pendidikan, namun saat ini istilah tersebut seolah menyempit, hal ini seakan–akan merupakan kegiatan ketatausahaan sekolah semata. Untuk merevitalisasi makna yang terkandung pada Administrasi Pendidikan, trend terakhir di Indonesia kini lebih banyak menggunakan istilah Manajemen Pendidikan.

Batasan manajemen pendidikan dapat diambil berdasarkan 3 pendekatan. Pendekatan pertama menganggap manajemen pendidikan sebagai cabang ilmu manajemen, sehingga batasannnya adalah seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Adapun secara proses, manajemen pendidikan didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Bila dikaji dengan pendekatan struktur atau tugasnya, maka manajemen pendidikan diartikan sebagai manajemen peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik, dan kependidikan, keuangan, fasilitas, hubungan lembaga dengan masyarakat, pengorganisasian, ketatalaksanaan, dan supervise pendidikan (Husaini Usma, 2004 : 12).

 

  1. Fungsi Manajemen Pendidikan

Ada banyak pendapat mengenai fungsi – fungsi manajemen, diantaranya Terry yang menyatakan fungsi manajemen sbb :

  1. Planning (perencanaan), yakni menentukan garis – garis besar untuk dapat memulai usaha yang terdiri atas apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, kapan, dan lain sebagainya
  2. Organizing (menyusun), yakni rangkaian kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan sebagaimana telah ditetapkan dalam perencanaan. Hal – hal yang dilakukan antara lain pembagian tugas, pendelegasian kekuasaan dan wewenang dan lain – lain
  3. Actuating (menggerakkan untuk bekerja/pelaksanaan), untuk melaksanakan kegiatan atau aktivitas pencapaian tujuan, diperlukan tindakan – tindakan seperti kepemimpinan, perintah, instruksi, komunikasi, dan lain – lain.
  4. Controlling (pengawasan), yakni kegiatan dalam rangka memeriksa hal – hal apa yang telah dilakukan memastikan apakah pekerjaan telah berjalan sebagaimana mestinya, serta mengetahui hambatan – hambatan yang menghalangi tercapcainya tujuan.

 

Fayol merumuskan fungsi manajemen sebagai to plan, to organize, to command, to coordinate, dan to control. Adapula pendapat dari Gullick yang merumuskan fungsi manajemen secara lebih detil lagi, yakni dengan planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting (Hartati Sukirman, 1999 : 5). Namun demikian, pada prinsipnya fungsi – fungsi yang dipaparkan para pakar tersebut memiliki benang merah yang sama. Hanya saja, masing- masing dari mereka memiliki pengembangan yang sedikit berbeda yang tujuannya mempermudah pengimplementasian ilmu manajemen di dunia nyata.

 

  1. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi :

  1. Manajemen Peserta Didik

Peserta didik selaku input dalam lembaga pendidikan merupakna pusat dari seluruh kegiatan dalam manajemen pendidikan. Oleh karenanya peserta didik hendaknya menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan di bidang pendidikan. Kegiatan yang termasuk dalam bidang ini adalah pencatatan peserta didik mulai dari saat penerimaan sampai dengan keluarnya dari sekolah.

  1. Manajemen Tenaga Kependidikan

Dalam prosesnya lembaga penyelenggara dan pengelola pendidikan pastilah harus dikelola oleh tenaga – tenaga, sehingga mereka pun sangat perlu dikelola. Manejemen tenaga kependidikan adalah segenap proses penataan pegawai yang meliputi semua proses atau cara memperoleh pegawai, penempatan dan penugasan, pemeliharaan dan pembinaan, evaluasi, sampai pada pemutusan hubungan kerja.

  1. Manajemen Kurikulum

Apa yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada peserta didiknya disajikan dalam bentuk kurikulum. Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi pbm.

  1. Manajemen Fasilitas Pendidikan

Agar pbm berjalan dan tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien, maka diperlukan sarana atau fasiiltas guna memperlancar proses pendidikan itu sendiri. Manajemen fasilitas pendidikan adalah segenap proses penataan yang bersangkut paut denagn pengadaan, pendagunaan, dan pengelolaan sarana pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien

  1. Manajemen Pembiayaan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan tentunya memerlukan dana, untuk itu pengelolaan pendanaan atau pembiayaan pendidikan agar efektif dan efisien sangatlah penting guna menunjang ketercapaian tujuan pendidikan. Manajemen pembiayaan pendidikan merupakan kegiatan pengelolaan yang meliputi penataan sumber, penggunaan, dan pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan pada umumnya

  1. Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

Masyarakat merupakan laboratorium pendidikan yang tidak ternilai harganya. Masyarakat juga merupakan stakeholder pendidikan, dimana keberlangsungan proses pendidikan juga bergantung pada masyarakat. Untuk itu, lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Manajemen hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat merupakan kegiatan penataan yang berkaitan dengan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat untuk menunjang pbm di sekolah

  1. Manajemen Organisasi Lembaga Pendidikan

Dalam setiap organisasi pastilah terdapat struktur tugas dan berbagai macam konsekuensi akibat adanya pembidangan tugas tersebut. Hal inilah yang menjadi garapan manajemen organisasi lembaga pendidikan, yaitu segenap kegiatan mengorganisasikan lembaga pendidikan yang termasuk diantaranya adalah pengelolaan fungsi kepemimpinan

  1. Manajemen Ketatalaksanaan dan Sistem Informasi Lembaga Pendidikan

Kegiatan pencatatan berakibat pada perlunya penataan data atau informasi, agar pada saaat informasi tersebut diperlukan dapat diperoleh dengan mudah, cepat, dan tepat. Manajemen ketatalaksanaan dan Sistem informasi Lembaga Pendidikan berupaya untuk mencapai hal tersebut, dengan kegiatan yang meliputi pencatatan, pengolahan, penggandaan, pengiriman, dan penyimpanan semua bahan atau informasi yang temasuk dalam data lembaga pendidikan

  1. Supervisi Pendidikan

Kehadiran supervisi pendidikan diharapkan membantu tercapainya tujuan pendidikan secara efisien, khususnya melalui pembinaan profesionalitas guru. Namun trend pendidikan terakhir tidak selalu mengartikan supervisi pendidikan memiliki sasaran satu–satunya berupa guru, melainkan juga melibatkan tenaga – tenaga kependidikan lainnya. Batasan supervisi pendidikan yang selama ini akrab adalah suatu usaha untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar dan pada kenyataannya kelancaran pbm tidak semata bergantung pada guru melainkan pula tenaga kependidikan lainnya.

 

  1. Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan
  2. Terwujudnya PBM yang PAKEMB (bermakna)
  3. Peserta didik yang aktif mengembangkan dirinya
  4. Memiliki kompetensi manajerial
  5. Tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien
  6. Teratasinya masalah mutu pendidikan
  7. Perencanaan pendidikan merata, bermutu, relevan, dan akuntabel
  8. Meningkatnya citra positif pendidikan

 


 

PERENCANAAN PENDIDIKAN

 

  1. Pengertian Perencanaan Pendidikan

Pengertian Perencanaan Pendidikan menurut Suryosubroto adalah Mengarahkan proses kegiatan pada tujuan yg hendak dicapai. Sedangkan secara umum Perencanaan Pendidikan dapat diartikan sebagai pedoman proses kegiatan pendididkan agar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Prof. Dr. Yusuf Enoch, Perencanaan Pendidikan, adalah suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.

Menurut Beeby, C.E, Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa depan ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.

Menurut Guruge (1972), Perencanaan Pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.

Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975), Perencanaan Pendidikan adala investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.

Menurut Coombs (1982), Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.

Menurut Y. Dror (1975), Perencanaan Pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara optimal untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain

 

  1. Tujuan Perencanaan Pendidikan
  2. Standar Pengawasan : Mengetahui kapan akan memulai pelaksanaan dan selesai serta mengetahui siapa saja yang terlibat.
  3. Memadukan beberapa subkegiatan. Mendeteksi hambatan. Mengarahkan pencapaian tujuan
  4. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan
  5. Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya
  6. Mendapatkan kegiatan yang sistematis, termasuk biaya dan kualtias pekerjaan
  7. Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu
  8. Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan
  9. Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan
  10. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui
  11. Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

 

  1. Manfaat Perencanaan Pendidikan
    1. Standar Pelaksanaan & Pengawasan
    2. Pemilihan berbagai alternatif terbaik
    3. Penyusunan skala prioritas
    4. Hemat pemanfaatan resources
    5. Penyesuaian terhadap lingkungan
    6. Memudahkan koordinasi dengan pihak terkait
    7. Meminimalisir pekerjaan yang tidak pasti

 

  1. Ruang Lingkup Perencanaan Pendidikan
  2. Perencanaan dari demensi waktu

Dari demensi waktu perencanaan mencakup; (a) Perencanaan jangka panjang (long term planning) berjangka 10 tahun keatas, bersifat prospektif, idealis dan belum ditampilkan sasaran-sarana yang bersifat kualitatif. (b) Perencanaan jangka menengah (medium term planning) berjangka 3 sampai 8 tahun, merupakan penjabaran dan uraian rencana jangka panjang. Sudah ditampilkan sasaran-sasaran yang diproyksikan secara kuantitatif, meski masih bersifat umum. (c) Perencanaan jangka pendek (sort term planning) berjangka 1 tahunan disebut juga perencanaan jangka pendek tahunan (annual plan) atau perencanaan operasional tahuanan (annual opperasional planning)

  1. Perencaan dari demensi spasial

Perencanaan ini terkait dengan ruang dan batas wilayah yang dikenal dengan perencanaan nasional (berskala nasional), regional (berskala daerah atau wilayah), perencanaan tata ruang dan tata tanah (pemanfaatan fungsi kawasan tertentu).

  1. Perencanaan dari demensi tingkatan teknis perencanaan

Dalam demensi ini kita mengenal istilah (a) perencanaan makro (b) perencaan mikro (c) perencanaan sektoral (d) perencaan kawasan dan (e) perencaan proyek. Perencaan makro meliputi peningkatan pendapatan nasional, tingkat konsumsi, investasi pemerintah dan masyarakat, ekspor impor, pajak, perbankan dsb. Perencanaan mikro disusun dan disesuaikan dengan kondisi daerah. Perencanaan kawasan memperhatikan keadaan lingkungan kawasan tertentu sebagai pusat kegiatan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif. Perencanaan proyek adalah perencanaan operasional kebijakan yang dapat menjawab siapa melakukan apa, dimana, bagaimana dan mengapa.

  1. Perencanaan demensi jenis

Menurut Anen (2000) sebagaimana dikutip Syaiful sagala meliputi ; (a) Perencanaan dari atas ke bawah (top down planning), (b) perencanaan dari bawah ke atas (botton up planning), (c) perencanaan menyerong kesamping (diagonal planning), dibuat oleh pejabat bersama dengan pejabat bawah diluar struktur (d) perencanaan mendatar (horizontal planning), yaitu perencanaan lintas sektoral oleh pejabat selevel (e) perencanaan menggelinding (rolling planning) berkelanjutan mulai rencana jangka pendek,menengah dan panjang.(f) perencanaan gabungan atas ke bawah dan bawah ke atas (top down and button up planning), untuk mengakomodasi kepentingan pusat dengan wilayah/daerah.

Dalam kegitan pendidikan lingkup perencanaan meliputi semua komponen administrasi sekolah dalam hal kurikulum, supervisi, kemuridan, keuangan, sarana dan prasarana, personal, layanan khusus, hubungan masyarakat, media belajar, ketata usahaan sekolah dsb. Atau berupa penentuan sasaran, alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, kesepakatan (commitment) yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang

  1. Macam Perencanaan Pendekatan Pendidikan
  2. Efektifitas Biaya (Cost Effectiveness appr)  : dana diambil dari pos-pos dana masing-masing dan perhitungan pengambilan dana disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak terjadi pemborosan biaya.
  3. Optimalisasi Pemanfaatannya (Cost & Benefit Approach) : dana yang didapatkan dioptimalkan pemanfaatannya untuk kemajuan pendidikan.
  4. Pemberdayaan Tenaga Kerja (Manpower Approach)
  5. Keperluan Masyarakat (Social Demand Approach)

 

  1. Model Perencanaan Pendidikan
  2. Komprehensif : Menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara

menyeluruh

  1. Keefektifan Biaya      : Menganalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas
  2. PPBS                          : Planning, Programming, Budgeting system  Banyak digunakan di

pendidikan tinggi negeri

  1. Target Setting   : Untuk memproyeksi tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu

 

 

 

 

 


 

PENGORGANISASIAN

 

  1. Pengertian Organisasi

Pengertian Organisasi menurut Weber dalam Stoner & Freeman (1955) adalah Struktur birokrasi sedangkan menurut Usman, 2009 Organisasi adalah  Proses kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Usman, 2009).

  1. Tujuan dan Manfaat Organisasi
  2. Mengatasi keterbatasan kemampuan dari perseorangan dan Resources.
  3. Mencapai tujuan secara efektif dan efisien, wadah SDM dan Teknologi, hal ini dilakukan secara terorganisir.
  4. Mengembangkan potensi dan pembagian pekerjaan : hal ini dapat dilakukan dengan mencari dan menggali potensi pada organisasi.
  5. Mengelola lingkungan dan mencari keuntungan bersama : pencarian keuntungan pada organisasi dapat dicari dengan memperoleh sponsor untuk membantu mendanai kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi.
  6. Wadah menggunakan kewenangan dan mendapatkan penghargaan : dalam kegiatan berorganisasi individu dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya dan menggunakan wewenangnya serta dapat memperoleh sertifikat dari setiap kegiatan.
  7. Wadah pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin banyak.
  8. Wadah menambah pergaulan dan memanfaatkan waktu luang : individu yang berlatih berorganisasi dapat lebih mampu beradaptasi dengan baik terhadap partner kerjanya serta waktu luang tidak terbuang percuma karena dapat dimanfaatkan dengan kegiatan yang positif di organisasi.
  9. Tipe Organisasi (Lipham, et al l [1974:100])
Organisasi Organis Organisasi Mekanistis
Kompleksitas Tinggi Kompleksitas Rendah
Sentralisasi Rendah Sentralisasi Tinggi
Formalitas Rendah Formalitas Tinggi
Produksi Rendah Produksi Tinggi
Adaptasi Tinggi Adaptasi Rendah
Terbuka Tertutup
Efisiensi Rendah Efisiensi Tinggi
Fokus Strategi Fokus Strategi
Inovasi, dll Efisiensi, dll

 

  1. Pengembangan Organisasi
  2. Humanistik : memaksimalkan setiap potensi yang ada pada diri individu atau SDM.
  3. Orientasi Sistem : setiap anggota organisasi harus mampu mengenal dan memahami tempat serta asal usul dan manfaat yang ia dapatkan dalam organisasi yang ia ikuti.
  4. Agen Perubahan : cenderung dimiliki oleh orang yang mempunyai gagasan baru untuk mengembangkan dan memajukan organisasi.
  5. Problem Solving : mengatasi masalah/ pemecahan masalah.

Tahap :

  1. Perumusan pemecahan masalah
  2. Perolehan data
  3. Analisis
    1. Pembelajaran Experiensial : pelatihan-pelatihan yang mendukung ke arah organisasi yang berupa pelatihan pengalaman.
    2. Balikan : Sesuatu yang didapatkan oleh individu dalam organisasi yang berupa manfaat dari pelatihan setiap kegiatan yang dilakukan. Dalam organisasi terdapat evaluasi yaitu dengan mengevaluasi apa yang telah kita keluarkan untuk kebaikan organisasi.
    3. Orientasi Kontingensi : kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu memberikan perhatian yang luas dan situasional terhadap organisasi yang dipimpinnya.
    4. Bina Tim : Mampu membentuk sebuah team work yang efektif dan solid serta kerjasama sosial yang kuat.

 


 

  1. Tahapan Pengembangan Organisasi
  1. Kreativitas dan Inovasi          : mengembangkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi organisasi dan mampu menciptakan penemuan baru yang juga berguna demi kebaikan organisasi.
  2. Kepemimpinan Baru              : pembuatan kebijakan baru
  3. Pendelegasian                                    : membagi tugas dan wewenang setiap anggota
  4. Koordinasi, Kolaborasi          : setiap ada kegiatan semuanya telah dikoordinasi dengan baik dan semua anggota mampu bekerja sama dengan anggota lainnya.
  5. Organitational Development  : organisasi berkembang
    1. Struktur di Sekolah
  6. Elemen penting struktur adalah puncak struktur, jajaran tengah, jajaran operasional, staf pendukung, dan struktur teknologi
  7. Struktur sekolah sangat beragam, sederhana, birokrasi mesin, birokrasi profesional, kebanyakan adalah gabungan.
  8. Organisasi mengakomodasi konflik ini dengan membentuk struktur yang longgar, mengembangkan struktur kewenangan ganda, atau terlibat dalam sosialisasi.

 

 

MANAJEMEN KURIKULUM

 

  1. Konsep Dasar Kurikulum
  2. Lunenberg dan Ornstein (2000:433) mengemukakan bahwa kurikulum dapat didefinisikan dalam berbagai pengertian: sebagai rencana, dalam kaitan dengan pengalaman, sebagai suatu bidang studi, dan dalam kaitan dengan mata pelajaran dan tingkatan kelas.
  3. Pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga disebutkan pengertian kurikulum yaitu “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
  4. Lunenberg & Orstein (2000) mengatakan manajemen kurikulum yaitu proses perencanaan kurikulum (planning the curriculum), pelaksanaan kurikulum (implementation  the curriculum), dan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum (evaluating the curriculum).
  5. Komponen Kurikulum
  6. Tujuan            : tujuan dalam komponen kurikulum disusun untuk membuat keteraturan dalam pembuatan jadwal.
  7. Isi/ Materi       : mata kuliah atau mata pelajaran yang diajarkan.
  8. Proses             : pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
  9. Media             : media digunakan untuk memperlancar proses belajar mengajar.
  10. Evaluasi          : evaluasi diadakan untuk mengevaluasi kurikulum apakah sudah tepat atau belum pelaksanaannya.
  11. Manajemen Kurikulum
  12. Perencanaan kurikulum harus memperhatikan karakteristik kurikulum yang baik, baik dari segi isi, pengorganisasian maupun peluang-peluang untuk menciptakan pembelajaran yang baik akan mudah diwujudkan oleh pelaksana kurikulum
  13. Pelaksanaan kurikulum merupakan tahap pelaksanaan pembelajaran
  14. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk melihat atau menaksir keefektifitasan kurikulum yang digunakan oleh guru yang mengaplikasikan kurikulum tersebut
  15. Pengembangan Kurikulum
    1. IPTEKS
    2. Perubahan Sosial dan Kebutuhan Staholders
    3. Pemenuhan Kebutuhan Siswa
    4. Kemajuan Pendidikan
    5. Perubahan Sistem Pendidikan
  16. Pengembangan Kurikulum (T Khun)
    1. Adanya praktik pengajaran dan materi pelajaran konvensional yang diterima secara umum.
    2. Adanya perubahan masyarakat secara terus-menerus.
    3. Adanya berbagai indikator sosial yang menandai perubahan (misal: adanya kemajuan IPTEKS, berkembangnya struktur sosial-budaya, dll).
    4. Krisis dan/atau kritik di dalam pendidikan.
    5. Pendidikan sebagai sistem terbuka haruslah dapat menyesuaikan dengan perubahan masyarakat, serta perkembangan zaman dan IPTEKS, sehingga muncullah berbagai kritik di dalam pendidikan agar dapat memenuhi berbagai tuntutan dan perubahan tersebut.
    6. Adanya praktek alternatif diusulkan.
    7. Berbagai konsep pendidikan alternatif diusulkan.
    8. Perselisihan dan konflik (anti-thesis).
    9. Adanya praktik pengajaran dan materi pelajaran lama, dan munculnya berbagai konsep baru yang lain menimbulkan perselisihan dan konflik. Hal tersebut terjadi untuk mencari konsep dan praktek baru yang diharapkan karena adanya pembaruan, pemenuhan kebutuhan dan tuntukan akan perubahan yang terjadi.
    10. Percobaan dan inovasi.
    11. Adanya konsep baru tersebut dilaksanakan dalam taraf percobaan (misal: hanya diberlakukan di beberapa sekolah), dan adanya berbagai inovasi untuk perbaikan dan penyempurnaan konsep baru tersebut.
    12. Praktek baru atau yang dimodifikasi (sintesis). Praktek pendidikan baru atau yang dimodifikasi diterapkan untuk mengganti praktik pengajaran dan materi pelajaran lama. Hal tersebut di dalam pendidikan salah satunya ditandai adanya kurikulum baru untuk mengganti atau memperbaiki kurikulum lama.
    13. Krisis dan/atau kritik di dalam pendidikan.
    14. Adanya praktek alternatif diusulkan.
    15. Perselisihan dan konflik (anti-thesis).
    16. Percobaan dan inovasi.
    17. Praktek baru atau yang dimodifikasi (sintesis)
    18. Praktek pendidikan baru atau yang dimodifikasi diterapkan untuk mengganti praktik pengajaran dan materi pelajaran lama. Hal tersebut di dalam pendidikan salah satunya ditandai adanya kurikulum baru untuk mengganti atau memperbaiki kurikulum lama.

 

 

 

 

MANAJEMEN PESERTA DIDIK

Manajemen peserta didik mengkhususkan pada kegiatan pengelolaan peserta didik mulai dari proses penerimaan sampai pada keluarnya peserta didik dari sekolah. UU RI No. 20 tahun 2003 mengenai sisdiknas bagian Bab IV bahkan mengatur hak – hak dan kewajiban peserta didik. Hak yang ditentukan adalah untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya, mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Sedangkan kewajiban peserta didik antara lain, menjaga norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.

  1. Penerimaan peserta didik

Penerimaan peserta didik sangat menentukan sukses tidaknya usaha pendidikan di suatu sekolah. Dalam penyelenggaraannya diperlukan panita khusus untuk menentukan banyaknya murid yang diterima, syarat – syarat penerimaan, melaksanakan penyaringan, mengumumkan penerimaan, mendaftar kembali calon yang diterima, sampai melaporkan hasil kegiatan pada pimpinan sekolah. Kesmua kegiatan ini tentulah memerlukan pencatatan secara baik dan lengkap karena akan sangat bermanfaat dalam pembinaan dan kebutuhan administratif peserta didik di kemudain hari. Beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan yang berkaitan dengan penerimaan peserta didik baru menurut makalah mengenai akreditasi sekolah (2005) antara lain sistem penerimaan yang terbuka dan adil, kesesuaian jumlah peserta didik dalam suatu kelas dengan standar, rasion pendaftar dan daya tampung, kemampuan awal, serta kesiapan peserta didik baik secara fisik maupun mental.

  1. Pembinaan bakat dan minat

Dalam rangka membina bakat dan minat peserta didik, maka sekolah berkewajiban menyalurkan segenap potensi yang ada pada diri peserta didik. Langkah yang dilakukan dapat melalui kegiatan pencatatan bimbingan dan penyuluhan, ditindaklanjuti, dengan pembentukan kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kesiswaan, dan lain sebagainya. Prinsip yang harus dipegang dalam pembentukan kegiatan ekstrakurikuler adalah bahwa kegiatan tersebut memang diminati peserta didik, dan tidak terlepas dari upaya mendidik baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu kebijakan sekolah, orangtua dan masyarakat secara umum juga mendukung kegiatan pembinaan bakat dan minat peserta didik tersebut. Sekolah pun sangat perlu memberikan penghargaan atau penguatan bagi peserta didik yang berprestasi dalam bidang kegiatan bakat dan minat

  1. Layanan Khusus

Layanan khusus yang biasa ditujukan bagi peserta didik adalah bimbingan dan penyuluhan atau Bimbingan dan Konseling. Layanan khusus ini memerlukan pencatatan – pencatatan baik menyangkut data pribadi peserta didik dan keluarga inti, kemampuan khusus ataupun kelainan khusus yang dimiliki, ataupun kejadian – kejadian aneh yang pernah dilakukan peserta didik. Program layanan Bimbingan hendaknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu kepala sekolah haruslah mendukung program layanan bimbingan yang diselenggarakan, antara lain dengan mengadakan evaluasi layanan bimbingan secara kontinyu.

  1. Mutasi Peserta Didik

Jika seorang peserta didik naik kelas, pindah kelas, maupun keluar dari sekolah, maka dilakukan tindakan pencatatan mutasi peserta didik. Ada dua jenis mutasi pada peserta didik, yakni interndal dan eksternal. Jika mutasi tersebut terjadi dalam lingkungan sekolah (pindah kelas, naik kelas) maka dikatakan sebagai mutasi internal, sedangkan jika terjadi di luar sekolah disebut dengan mutasi eksternal

  1. Pencatatan Data Peserta Didik

Pencatatan data peserta didik secara umum terbagi atas dua, yakni pencatatan untuk sekolah secara keselurhan dan bagi masing – masing kelas. Catatan – catatan yang diperuntukkan bagi sekolah secara keseluruhan terdiri atas buku induk, buku klapper dan catatan tata tertib sekolah. Adapun yang diperuntukkan bagi kelas – kelas diantaranya yaitu buku kelas (cuplikan buku induk), dan presensi kelas. Selain daripada itu, pencatatan juga sangat perlu dilakukan dalam hal yang berhubungan dengan prestasi belajar peserta didik. Pencatatan prestasi belajar yang diperuntukkan bagi sekolah adalah buku daftar nilai, dan buku legger sekolah sedangkan bagi kelas yaitu buku legger kelas dan raport.

 


 

TENAGA KEPENDIDIKAN

  1. Pengertian Manajemen Tenaga Kependidikan

Manajemen Tenaga Kependidikan adalah rangkaian kegiatan menata tenaga kependidikan dari mencari, menggunakan, membina hingga pemutusan hubungan kerja agar dapat menyelenggrakan satuan pendidikan secara efektif dan efesien

  1. Jenis Pendidik dan Tenaga Kependidikan
  1. Pendidik : para pendidik terdiri dari
  2. Guru
  3. Dosen
  4. Konselor
  5. Pamong Belajar
  6. Widyaiswara
  7. Tutor
  8. Instruktur
  9. Pembimbing
  10. Supervisor
  11. Tenaga Kependidikan
  12. TU (Tata Usaha)
  13. Teknisi
  14. Laboran

 

Sumber :

http://www.pengertianku.net/2015/04/pengertian-manajemen-pendidikan-dan-tujuannya-serta-ruang-lingkupnya.html

http://www.kembar.pro/2015/08/pengertian-fungsi-dan-peranan-manajemen.html

https://winamartiana.wordpress.com/2011/09/25/definisi-perencanaan-pendidikan/

http://afifulikhwan.blogspot.co.id/2013/04/perencanaan-pendidikan-dalam-manajemen.html

 

BAHAN AJAR KOMPUTER DASAR PGSD (2017)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi komputer meningkat dengan cepat, hal ini terlihat pada era tahun 80-an jaringan komputer masih merupakan teka-teki yang ingin dijawab oleh kalangan akademisi, dan pada tahun 1988 jaringan komputer mulai digunakan di universitas-universitas, perusahaan-perusahaan, sekarang memasuki era milenium ini terutama world wide internet telah menjadi realitas sehari-hari jutaan manusia di muka bumi ini.

Selain itu, perangkat keras dan perangkat lunak jaringan telah benar-benar berubah, di awal perkembangannya hampir seluruh jaringan dibangun dari kabel koaxial, kini banyak telah diantaranya dibangun dari serat optik (fiber optics) atau komunikasi tanpa kabel.

Pengertian komputer adalah sistem elektronik untuk memanipulasi data yang cepat dan tepat serta dirancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis menerima dan menyimpan data input, memprosesnya, dan menghasilkan output yang berdasarkan instruksi-instruksi yang telah tersimpan didalam memori. Berbicara tentang komputer, tidak lepas dari sejarah perkembangan komputer dari generasi ke generasi . banyaknya pakar yang berusaha menghadirkan komputer  terbaik yang dapat digunakan manusia selama bertahun-tahun sehigga terciptalah komputer yang praktis dan minimalis sehingga dapat memudahkan kerja manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana sejarah perkembangan komputer dari generasi ke generasi?
  2. Bagaimana klasifikasi komputer dan jenis-jenisnya?
  3. Bagaimana perkembangan mikroprocessor?
  4. Apa manfaat dari komputer?

 

  1. TUJUAN
  1. Menjelaskan sejarah perkembangan komputer dari generasi ke generasi.
  2. Menjelaskan klasifikasi komputer.
  3. Menjelaskan sistem mikro prosesor , tipe serta kelemahan dan keunggulannya.
  4. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

 

 

  1. MANFAAT

Manfaat penulisan makalah ini ialah agar kita selaku mahasiswa dapat mengetahui sejarah komputer dan perkembangannya, bukan hanya tahu menggunakan tapi juga tahu bagaimana awal komputer dan perkembangannya hingga sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Komputer

Komputer berasal dari bahasa latin ‘computare’ yang berarti berhitung (to compute atau to reckon) . Tetapi pengertian komputer saat ini bukanlah semata-mata sebagai alat hitung saja tetapi adalah suatu alat hitung dengan konstruksi elektronika yang mempunyai storage internal (tempat penyimpanan) dan bekerja dengan bantuan sistem operasi (operating system) menurut program-program yang diberikan kepadanya.

 

  1. Menurut Hamacher : mesin penghitung elektronik yang cepat dan dapat menerima informasi input digital, kemudian memprosesnya sesuai dengan program yang tersimpan di memorinya, dan menghasilkan output berupa informasi.
  2. Menurut Blissmer : alat elektonik yang mampu melakukan beberapa tugas sebagai berikut:
  • menerima input
  • memproses input tadi sesuai dengan programnya
  • menyimpan perintah-perintah dan hasil dari pengolahan
  • menyediakan output dalam bentuk informasi
  1. Menurut Fuori : pemroses data yang dapat melakukan perhitungan besar secara cepat, termasuk perhitungan aritmetika dan operasi logika, tanpa campur tangan dari manusia. Elemen sistem komputer (computer system) terdiri dari hardware, software dan brainware.
  2. Hardware atau Perangkat Keras:

peralatan yang secara fisik terlihat dan bisa dijamah.

  1. Software atau Perangkat Lunak:

program yang berisi instruksi/ perintah untuk melakukan pengolahan data.

  1. Brainware: manusia yang mengoperasikan dan mengendalikan sistem komputer.

 

 

 

 

 

Ada beberapa ciri pada suatu komputer yaitu :

  • Alat elektronik
  • Dapat menerima input data
  • Dapat mengolah data (data processing)
  • Menggunakaan suatu program yang tersimpan di memori komputer
  • Dapat menyimpan program dan hasil pengolahan (data storage)
  • Memiliki kendali (control)
  • Dapat melakukan pemindahan data (data movement)
  • Bekerja secara otomatis.

 

Suatu sistem komputer terdiri atas tiga bagian utama:

  1. CPU (Central Processing Unit)

CPU terdiri atas dua bagian yaitu:

CU (Control Unit) :

Ini adalah unit pengendali. Fungsi utama unit pengendali (CU) adalah mengambil, mengkode,mdan melaksanakan instruksi sebuah program yang tersimpan dalam memori. Unit pengendali mengatur urutan operasi seluruh sistem. Unit ini juga menghasilkan dan mengatur sinyal pengendali yang diperlukan untuk menyerempakkan operasi, juga aliran dan instruksi program.

ALU (Arithmetic Logic Unit ):

Unit ini berfungsi melaksanakan operasi aritmatik serta operasi-operasi logika.

 

  1. Memory Unit (Unit Penyimpan)

Unit-unit ini mengandung program-program yang bersangkutan dan data yang sedang diolah.

  1. RAM (Random Access Memory)

RAM adalah unit memori yang dapat dibaca dan/atau ditulisi. Data dalam RAM bersifat volatile (akan hilang bila power mati).

RAM hanya digunakan untuk menyimpan data sementara, yaitu data yang tidak begitu penting (tidak masalah bila hilang akibat aliran daya listrik terputus). Ada dua macam RAM yaitu RAM statik dan RAM dinamik. RAM statik adalah flipflop yang terdiri dari komponen seperti resistor, transistor, dioda dan sebagainya. Setiap 1 bit informasi tersimpan hingga sel “dialamatkan” dan “ditulis-hapuskan”.

Keuntungan dari RAM statik adalah akses atau jalan masuk yang bebas ke setiap tempat penyimpanan yang diinginkan, dan karena itu kecepatan masuk ke dalam memori terhitung relatif tinggi. RAM dinamik menyimpan bit informasi sebagai muatan. Sel memori elementer dibuat dari kapasistansi gerbang-substrat transistor MOS. Keuntungan RAM dinamik adalah sel-sel memori yang lebih kecil sehingga memerlukan tempat yang sempit, sehingga kapasistas RAM dinamik menjadi lebih besar dibanding RAM statik. Kerugiannya adalah bertambahnya kerumitan pada papan memori, karena diperlukannya rangkaian untuk proses penyegaran (refresh). Proses penyegaran untuk kapasitor ini dilakukan setiap 1 atau 2 mili detik.

 

  1. ROM (Read Only Memory)

ROM merupakan memori yang hanya dapat dibaca. Data tidak akan terhapus meskipun aliran listrik terputus (non-volatile). Karena sifatnya, program-program disimpan dalam ROM.

Beberapa tipe ROM:

  • ROM Murni : yaitu ROM yang sudah diprogram oleh pabrik atau dapat juga program yang diminta untuk diprogramkan ke ROM oleh pabrik.
  • PROM (Programmable Random Access Memory) : ROM jenis ini dapat diprogram sendiri akan tetapi hanya sekali pakai (tidak dapat diprogram ulang).
  • EPROM (Erasable Programmable Random Access Memory) : yaitu jenis ROM yang dapat diprogram dan diprogram ulang.

 

  1. I/O (Unit Pengontrol Masukan dan Pengeluaran)

Unit ini melakukan hubungan dengan peripheral.

Piranti Input/Output (I/O interface) dibutuhkan untuk menghubungkan piranti di luar sistem. I/O dapat menerima/memberi data dari/ke mikroprosesor. Untuk menghubungkan antara I/O interface dengan mikroprosesor dibutuhkan piranti address. Dua macam I/O interface yang dipakai yaitu: serial dan paralel. Piranti serial (UART/universal asynchronous receiver-transmitter) merupakan pengirim-penerima tunggal (tak serempak). UART mengubah masukan

serial menjadi keluaran paralel dan mengubah masukan paralel menjadi keluaran serial. PIO (paralel input output) merupakan pengirim-penerima serempak. PIO dapat diprogram dan menyediakan perantara masukan dan keluaran dasar untuk data paralel 8 bit.

 

  1. Sejarah Komputer

Sejak zaman kuno, manusia telah menggunakan bilangan. Bahkan suku-suku paling primitif telah melakukan perhitungan rumit yang diperlukan untuk pertanian, perniagaan, dan navigasi. Alat untuk mempermudah perhitungan macam itu dimulai dari batu penghitung jaman prasejarah dan meningkat maju .

Menurut Blissmer (1985), komputer adalah suatu alat elektronik yang

mampu melakukan beberapa tugas, yaitu menerima input, memproses input

sesuai dengan instruksi yang diberikan, menyimpan perintah-perintah dan

hasil pengolahannya, serta menyediakan output dalam bentuk informasi. Sedangkan

Menurut Sanders (1985), komputer adalah sistem elektronik untuk memanipulasi data yang cepat dan tepat serta dirancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis menerima dan menyimpan data input, memprosesnya, dan menghasilkan output berdasarkan instruksi-instruksi yang telah tersimpan di dalam memori.  Dan masih banyak lagi ahli yang mencoba mendefinisikan secara berbeda tentang komputer.

Namun, pada intinya dapat disimpulkan bahwa komputer adalah suatu peralatan elektronik yang dapat menerima input, mengolah input, memberikan informasi, menggunakan suatu program yang tersimpan di memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan, serta bekerja secara otomatis.

Dari definisi tersebut terdapat tiga istilah penting yaitu, input (data), pengolahan data, dan informasi (output). Pengolahan data dengan menggunakan komputer dikenal dengan nama pengolahan data elektronik (PDE) atau elecronic data processing (EDP). Data adalah kumpulan kejadian yang diangkat dari suatu kenyataan (fakta), dapat berupa angka-angka, huruf, simbol-simbol khusus, atau gabungan dari ketiganya. Data masih belum dapat bercerita banyak sehingga perlu diolah lebih lanjut.

Pengolahan data merupakan suatu proses manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berati, yaitu berupa suatu informasi.

Dengan demikian, informasi adalah hasil dari suatu kegiatan pengolahan data  yang memberikan bentuk yang lebih bermakna dari suatu fakta. Oleh karena itu, pengolahan data elektronik adalah proses manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih bermakna berupa suatu informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik, yaitu komputer.

Sejak dahulu kala, proses pengolahan data telah dilakukan oleh manusia. Manusia juga menemukan alat-alat mekanik dan elektronik untuk membantu manusia dalam penghitungan dan pengolahan data supaya bisa mendapatkan hasil lebih cepat. Komputer yang kita temui saat ini adalah suatu evolusi panjang dari penemuan-penemuan manusia sejah dahulu kala berupa alat mekanik maupun elektronik. Saat ini komputer dan piranti pendukungnya telah masuk dalam setiap aspek kehidupan dan pekerjaan. Komputer yang ada sekarang memiliki kemampuan yang lebih dari sekedar perhitungan matematik biasa. Diantaranya adalah sistem komputer di kassa supermarket yang mampu membaca kode barang belanjaan, sentral telepon yang menangani jutaan panggilan dan komunikasi, jaringan komputer dan internet yang menghubungan berbagai tempat didunia.

pengolah data dari sejak jaman purba sampai saat ini bisa kita golongkan ke dalam 4 golongan besar yaitu :

  1. Peralatan manual: yaitu peralatan pengolahan data yang sangat sederhana,

dan faktor terpenting dalam pemakaian alat adalah menggunakan tenaga

tangan manusia

  1. Peralatan Mekanik: yaitu peralatan yang sudah berbentuk mekanik yang

digerakkan dengan tangan secara manual

  1. Peralatan Mekanik Elektronik: Peralatan mekanik yang digerakkan secara otomatis oleh motor elektronik
  2. Peralatan Elektronik: Peralatan yang bekerja secara elektronik penuh.

 

ALAT HITUNG TRADISIONAL DAN KALKULATOR MEKANIK

 

  • ABACUS

Abacus, yang muncul sekitar 5000 tahun yang lalu di Asia kecil.

Abacus adalah salah satu alat yang paling awal yang digunakan untuk perhitungan. Alat ini sudah dikenal sejak zaman yunani kuno. Pertama-tama abacus berupa sebuah permukaan pasir, sabak lilin, atau batu lebar dengan tanda yang menunjukkan  letak bilangan dan kerikil yang digunakan sebagai penghitung. Orang romawi menyebut kerikil semacam itu calculus, dari situ berasal kata kalkulasi. Pada abacus modern terdiri dari dua kelompok baris yang menggambarkan tangan manusia. Lima cincinn bawah mewakili lima jari manusia, dan dua cincin atas mewakili dua tangan manusia.

 

 

 

Gambar B.1. Abacus

 

  • PASCALIN

Di perancis pada tahun 1642, dalam usia 19 tahun Blaise Pascal (1621662), menemukan mesin penjumlah mekanis atau yang disebut dengan kalklator roda mekanik(numerical wheel calculator) yang pertama, yang digunakan untuk membantu ayahnya dalam perhitungan pajak.

Penemuan pascal, yang disebut Pascalin, dikenal debagai mesin menjumlah dan mengurangi pertama.

Gambar B.2 Pascaline

 

 

Kotak persegi kuningan ini yang dinamakan Pascaline, menggunakan

delapan roda putar bergerigi untuk menjumlahkan bilangan hingga delapan

digit. Mesin pascalin dapat menjumlah atau mengurangi jika roda gigi saling berkait sewaktu diputar. Sebuah roda memindahkan jumlah yang lebih besar.

Alat ini merupakan alat penghitung bilangan berbasis sepuluh. Kelemahan alat ini adalah hanya terbataas untuk melakukan penjumlahan.

 

Gambar B.3 susunan roda gigi mesin pascal.

 

  • JACQUARD

Pada tahun 1801 Joseph Marie Jacquard dari Perancis mengembangkan mesin tenun yang pola tenunnya disimpan menggunakan kartu dari kayu yang berlubang (yang kemudian dikenal dengan punch card).

 

Gambar B.4 kartu berlubang (puch card)

 

Penemuannya ini mendapat perlawanan dari para buruh, dan mendorong terbentuknya persatuan dan aksi buruh yang pertama di dunia, yang merusak mesin tenun ciptaanya. Namun pada tahun 1812 telah muncul ribuan mesin tenun ciptaan Jacquard, yang sampai saat ini masih digunakan di industri teksil untuk membuat pola brokad.

Gambar B.5 mesin tenun jacquard

 

 

 

 

 

 

  • BABBAGE

Pada abad ke -19, jauh sebelum tibanya abad elektronik, charles babbage (1791-1871). Seorang alhi matematika dari Inggris, sudah begitu dekat dengan penemuan fungsi-fungsi komputer sehingga sekarang ia dikenal sebagai Bapak Komputer. Dengan bantuan dari Lady Augusta Ada Lovelace (1815-1842),  pada tahun 1834 Babbage mengembangkan mesin analitis untuk menghitung tabel astronomi untuk digunakan pada angkatan laut yang disebut mesin selisih (“Different Engine”) dijalankan dengan tenaga uap, mesin tersebut dapat menyimpan program dan dapat melakukan kalkulasi serta mencetak hasilnya secara otomatis. Setelah bekerja dengan Mesin Differensial selama sepuluh tahun, Babbage tiba-tiba terinspirasi untuk memulai membuat komputer general-purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine. Asisten Babbage, Augusta Ada King (1815-1842) memiliki peran penting dalam pembuatan mesin ini. Ia membantu merevisi rencana dan mencari pendanaan dari pemerintah inggris dan mengkomunikasikan spesifikasi Anlytical Engine kepada publik. Selain itu, pemahaman Augusta yang baik tentang mesin ini memungkinkannya membuat instruksi untuk dimasukkan ke dalam mesin dan juga membuatnya menjadi programmer wanita yang pertama. Pada tahun 1980, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menamakan sebuah bahasa pemrograman dengan nama ADA sebagai penghormatan kepadanya. Mesin uap Babbage, walaupun tidak pernah selesai dikerjakan, tampak sangat primitif apabila dibandingkan dengan standar masa kini. Bagaimanapun juga, alat tersebut menggambarkan elemen dasar dari sebuah komputer modern dan juga mengungkapkan sebuah konsep penting. Terdiri dari sekitar 50.000 komponen, desain dasar dari Analytical.

 

Gambar B.6 Mesin Selisih (Difference Engine) Charles Babbage

 

 

 

 

 

  • HOLLERITH

Herman Hollerith (1860-1929) adalah orang pertama yang membangun pemrosesan data. Tujuannya adalah untuk menghitung dan menjumlah sensus tahun 1890 di Amerika Serikat. Sensus sebelumnya yang dilakukan di tahun 1880 membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan perhitungan. Dengan berkembangnya populasi, Biro tersebut memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan perhitungan sensus.

Hollerith menggunakan kartu perforasi untuk memasukkan data sensus

yang kemudian diolah oleh alat tersebut secara mekanik. Sebuah kartu

dapat menyimpan hingga 80 variabel. Dengan menggunakan alat tersebut,

hasil sensus dapat diselesaikan dalam waktu enam minggu. Selain

memiliki keuntungan dalam bidang kecepatan, kartu tersebut berfungsi

sebagai media penyimpan data. Tingkat kesalahan perhitungan juga dapat

ditekan secara drastis. Pada akhir abad 18 Hollerith mendirikan Tabulating Machine Company (1896) .Setelah Hollerith pensiun pada tahun 1904, Thomas Watson, Sr., menjadi presdir dan kemudian mengubah nama perusahaan menjadi International Business Machines Corporation (IBM).

 

Gambar B.7 Hollerith Desk

Pada masa berikutnya, beberapa insinyur membuat penemuan baru lainnya.

Vannevar Bush (1890- 1974) membuat sebuah kalkulator untuk menyelesaikan persamaan differensial di tahun 1931. Mesin tersebut dapat menyelesaikan persamaan differensial kompleks yang selama ini dianggap rumit oleh kalangan akademisi. Mesin tersebut sangat besar dan berat karena ratusan gerigi dan poros yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan. Pada tahun 1903, John V. Atanasoff dan Clifford Berry mencoba membuat komputer elektrik yang menerapkan aljabar Boolean pada sirkuit elektrik.

Pendekatan ini didasarkan pada hasil kerja George Boole (1815-1864) berupa sistem biner aljabar, yang menyatakan bahwa setiap persamaan matematik dapat dinyatakan sebagai benar atau salah. Dengan mengaplikasikan kondisi benar-salah ke dalam sirkuit listrik dalam bentuk terhubung-terputus, Atanasoff dan Berry membuat komputer elektrik pertama di tahun 1940. Namun proyek mereka terhenti karena kehilangan sumber pendanaan.

 

 

 

  1. Komputer Elektronik Pertama

 

  1. MARK 1

Gagasan Charles Babbage menjadi kenyataan 70 tahun setelah dia meninggal yaitu pada tahun 1942. Ketika itu para peneliti dari Universitas harvard di bawah pimpinan Howard Aiken (1900-1973), bekerja sama dengan IBM mulai mengerjakan kalkulator Mark 1. Mesin ini berukuran 2,4 meter x 15,2 meter dengan berat 5 ton, tersusun atas saklar, relai, batang putar (rotating shaftI), dan kopling (clutch).

 

Gambar C.1. Harvard Mark 1 : Komputer Electro-mechanis (kiri),

Komponen Pembaca Pita pada Mark 1 (kanan)

 

  1. ENIAC

Ilmuwan dari Universitas Pennsylvania, John Presper Eckert (1919-1995) dan John W. Mauchly (1907-1980), merancang dan mengembangkan Electronic Numerical Integrator and Computer (ENIAC) tahun 1945, yang dikenal sebagai komputer elektronik modern pertama. Komputer ini hampir dua kali ukuran Mark 1.

Mesin ini memenuhi 40 lemari dengan 100.000 komponen, termasuk sekitar 17.000 tabung hampa, beratnya 27 ton dan ukurannya 5,5 meter x 24,4 meter.

 

Gambar C.2 Komputer ENIAC 1 (kiri), Komputer ENIAC 2 (kanan)

 

  1. EDVAC

Pada pertengahan tahun 1940-an,John von Neumann (1903-1957) bergabung dengan Tim University of Pennsylvania dalam usaha membangun konsep desain komputer yang hingga 40 tahun mendatang masih dipakai dalam teknik komputer

Von Neumann mendesain Electronic Discrete Variable Automatic Computer(EDVAC) pada tahun 1945 dengan sebuah memori untuk menampung baik program ataupun data.Teknik ini memungkinkan komputer untuk berhenti pada suatu saat dan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Kunci utama arsitektur von Neumann adalah unit pemrosesan sentral (CPU),yang memungkinkan seluruh fungsi komputer untuk dikoordinasikan melalui satu sumber tunggal.

  1. UNIVAC 1

UNIVAC I (Universal Automatic Computer I) yang dibuat oleh Remington Rand, menjadi komputer komersial pertama yang memanfaatkan model arsitektur von Neumann tersebut. Baik Badan Sensus Amerika Serikat dan General Electric memiliki UNIVAC.Salah satu hasil mengesankan yang dicapai oleh UNIVAC adalah keberhasilannya dalam memprediksi kemenangan Dwilight D. Eisenhower dalam

pemilihan presiden tahun 1952.

 

  1. Generasi Komputer
  2. Komputer Generasi Pertama(1940 – 1959)

dikarakteristik dengan fakta bahwa instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu.Setiap komputer memiliki program kode-biner yang berbeda yang disebut “bahasa mesin” (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya.

Ciri komputer generasi pertama :

Tabung hampa udara sebagai penguat sinyal, merupakan ciri khas komputer

generasi pertama. Pada awalnya, tabung hampa udara (vacuum-tube)

digunakan sebagai komponen penguat sinyal. Bahan bakunya terdiri dari

kaca, sehingga banyak memiliki kelemahan, seperti: mudah pecah, dan mudah

menyalurkan panas. Panas ini perlu dinetralisir oleh komponen

berfungsi sebagai pendingin. Dan dengan adanya komponen tambahan, akhirnya komputer yang ada menjadi besar, berat dan mahal.

 

Pada tahun 1946, komputer elektronik di dunia yang pertama yakni ENIAC. Pada komputer tersebut terdapat 17486 tabung hampa udara, 7200 dioda kristal, 1500 pemancar, 70000 resister, 100000 kapasitor, 5 juta sambungan solder tangan. Begitu besar ukurannya, sampai-sampai memerlukan suatu ruangan kelas tersendiri yakni seluas 167 M2. Komputer ENIAC, yang merupakan komputer

elektronik pertama di dunia yang mempunyai bobot seberat 30 ton,

panjang 30 M dan tinggi 2,4 M dan lebar 0,9 M dan mengkonsumsi energi

sebesar 160 KW (160000 Watt).

 

 

 

Mesin Von Neumann

Mesin ini dikembangkan oleh seorang ahli matamatika yaitu John Von Neumann yang juga merupakan kosultan proyek ENIAC. Mesin ini dikembangkan mulai tahun 1945 yang memberikan gagasan sebagai stored-program concept, yaitu sebuah konsep untuk mempermudah proses program agar dapat direpresentasikan dalam bentuk yang cocok untuk penyimpanan dalam memori untuk semua data. Gagasan ini juga dibuat hampir pada waktu yang bersamaan dengan Turing. Selanjutnya Von Neumann mempublikasikannya dengan nama baru yaitu: Electronic Discrete Variable Computer (EDVAC).

Semua input dan output dilakukan melalui kartu plong. Dalam waktu satu detik, ENIAC mampu melakukan 5.000 perhitungan dengan 10 digit angka yang bila dilakukan secara manual oleh manusia akan memakan waktu 300 hari, dan ini merupakan operasi tercepat saat itu dibanding semua komputer mekanis lainnya. ENIAC dioperasikan sampai tahun 1955. Teknologi yang digunakan ENIAC adalah menggunakan tabung vakum yang dipakai oleh Laboratorium Riset Peluru Kendali Angkatan Darat (Army’s Ballistics Research Laboratory-LBR) Amerika Serikat.

Selanjutnya mesin ini dikembangkan kembali dengan perbaikan-perbaikan pada tahun 1947, yang disebut sebagai generasi pertama komputer elektronik terprogram modern yang disediakan secara komersial dengan nama EDVAC, EDSAC (Electronic Delay Storage Automatic Calculator), dan UNIVAC1 dan 2 (Universal Automatic Computer) yang dikembangkan oleh Eckert dan Mauchly. Untuk pertama kalinya komputer tersebut menggunakan Random Access Memory (RAM) untuk menyimpan bagian-bagian dari data yang diperlukan secara cepat.

Dengan konsep itulah John Von Neumann dijuluki sebagai bapak komputer modern pertama di dunia yang konsepnya masih digunakan sampai sekarang. John Von Neumann lahir di Budapest, Hongaria 28 Desember 1903 dan meninggal pada tanggal 8 Februari 1957 di Washington DC, AS. Von Neumann sangat cerdas dalam matematika dan angka-angka. Pada usia eman tahun dia sudah dapat menghitung pembagian angka dengan delapan digit tanpa menggunakan kertas atau alat bantu lainnya. Pendidikannya dimulai di University of Budapest pada tahun 1921 di jurusan kimia. Tapi kemudian dia kembali kepada kesukaannya, matematika, dan menyelesaikan doktoralnya di bidang matematika di tahun 1928. di tahun 1930 dia mendapatakan kesempatan pergi ke Princeton University (AS). Pada tahun 1933, Institute of Advanced Studies dibentuk dan dia menjadi salah satu dari enam professor matematika di sana. Von Neumann kemudian menjadi warga negara Amerika.

Von Neumann juga merupakan orang pertama yang mencetuskan istilah “Game Theory” yang kemudian berkembang menjadi ilmu tersendiri. Game theory bermanfaat untuk mensimulasikan permainan, seperti catur, bridge, dan sejenisnya. Dia juga bermanfaat untuk mensimulasikan perang.

Pada pertengahan tahun 1950 UNIVAC mengalami kemajuan dalam beberapa aspek pemrograman tingkat lanjut, sehingga merupakan komputer general purpose pertama yang didesain untuk menggunakan angka dan huruf dan menggunakan pita magnetik sebagai media input dan output-nya. Inilah yang dikatakan sebagai kelahiran industri komputer yang didominasi oleh perusahaan IBM dan Sperry. Komputer UNIVAC pertama kali digunakan untuk keperluan kalkulasi sensus di AS pada tahun 1951, dan dioperasikan sampai tahun 1963.
Komputer-Komputer IBM

IBM memproduksi IBM 605 dan IBM 701 pada tahun 1953 yang berorientasi pada aplikasi bisnis dan merupakan komputer paling populer sampai tahun 1959. IBM 705 dikeluarkan untuk menggantikan IBM 701 yang kemudian memantapkan IBM dalam industri pengolahan data.

Contoh nya :

  • ENIAC, 1946
  • Harvard Mark II, Juli 1947
  • IBM Selective Sequence Electronic Calculator, Januari 1948
  • EDSAC (Electronic Delayed Storage Automatic Computer), Mei 1949, merupakan komputer pertama yang sepenuhnya menggunakan stored program.
  • Harvard Mark III, September 1949, dibuat dengan menggunakan memori drum magnetik(magnetic drum)
  • ACE(automatic Calculating Engine), 1950, dibuat oleh Alan M Turing, merupakan komputer digital elektronik ukuran besar yang pertama. Komputer ini menggunakan kartu plong standar untuk alat input dan outputnya.
  • LEO(Lyon Electronic Office), 1951 merupakan komputer komersial di Inggris yang pertama
  • UNIVAC(UNIVersal Automatic Computer) I,1951 , merupakan komputer pertama yang menggunakan pita magnetik
  • EDVAC (Electronic Discrete Variable Automatic Computer), 1952, menggunakan stored program.
  • Whirlwind I, 1952, merupakan computer pertama yang menggunakan magnetic core memory.
  • IBM 650, 1954, merupakan computer komersial pertama yang paling popular.
  • RAMAC 305(Random Acces Methods for Accounting and Control), 1956, merupakan computer pertama yang memungkinkan file disimpan di disk dengan akses secara random. Dll

 

 

 

 

Gambar. D.1. Komputer Generasi pertama

 

 

 

 

 

 

 

  1. Komputer Generasi Kedua (1959-1964)

 

 

Gambar. D.2. Komputer Generasi Kedua, Sirkuit Generasi ke-2 Komputer : Transistor

ciri-ciri Komputer generasi kedua sebagai berikut:

  • Menggunakan teknologi sirkuit berupa transistor dan diode untuk menggantikan tabung vakum.
  • Sudah menggunakan operasi bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti FORTRAN, ALGOL dan COBOL.
  • Kapasitas memori utama dikembangkan dari Magnetic Core Storage.
  • Menggunakan simpanan luar berupa Magnetic Tape dan Magnetic Disk.
  • Kemampuan melakukan proses real time dan real-sharing.
  • Ukuran fisiknya sudah lebih kecil dibanding komputer generasi pertama.
  • Proses operasi sudah lebih cepat, yaitu jutaan operasi perdetik.
  • Kebutuhan daya listrik lebih kecil.
  • Orientasi program tidah hanya tertuju pada aplikasi bisnis, tetapi juga aplikasi teknik.
  • Sirkuitnya berupa transistor
  • Sudah ada sistem operasi
  • Kapasitas memori utama sudah cukup besar

UNIVAC III

Dibanding dengan tabung, teknologi transistor jauh lebih efisien sebagai switch dan dapat diperkecil ke skala mikroskopik. Bahan bakunya terdiri atas tiga lapis, yaitu: “basic”, “collector” dan “emitter”. Transistor merupakan singkatan dari Transfer Resistor, yang berarti dengan mempengaruhi daya tahan antara dua dari tiga lapisan, maka daya (resistor) yang ada pada lapisan berikutnya dapat pula dipengaruhi. Dengan demikian, fungsi transistor adalah sebagai penguat sinyal.

Sebagai komponen padat, transistor mempunyai banyak keunggulan seperti misalnya: tidak mudah pecah, tidak menyalurkan panas. dan dengan demikian, komputer yang ada menjadi lebih kecil dan lebih murah.

Pada tahun 2001 peniliti Intel telah memperkenalkan silikon paling kecil dan paling cepat di dunia, dengan ukuran 20 nanometer ata sebanding dengan sepermiliar meter, yang akan digunakan pada prosesor dengan kecepatan 20 GHz (Giga Hertz). Era ini juga menandakan permulaan munculnya minikomputer yang merupakan terbesar kedua dalam keluarga komputer. Harganya lebih murah dibanding dengan generasi pertama.  Komputer DEC PDP-8 adalah minikomputer pertama yang dibuat tahun 1964 untuk pengolahan data komersial. Jenis-jenis komputer lain yang muncul pada generasi ini diantaranya UNIVAC III, UNIVAC SS80, SS90, dan 1107, IBM 7070, 7080, 1400, dan 1600.

Beberapa contoh komputer generasi kedua adalah: IBM Serie 1400, NCR Serie 304, MARK IV dan Honeywell Model 800. Pada tahun 1957 MARK IV yang merupakan komputer pertama yang diproduksi di- Jepang. Pada tahun 1960-an, komputer komersial yang memanfaatkan transistor dan digunakan secara luas mulai beredar di pasaran.  Komputer IBM- 7090 buatan Amerika Serikat merupakan salah satu komputer komersial yang memanfaatkan transistor.

PDP-5, 1963, merupakan komputer mini yang pertama, diikuti dengan PDP-8

IBM 401, untuk aplikasi bisnis,IBM 1602, dan IBM 7094 untuk aplikasi teknik,

UNIVAC III, UNIVAC SS90, UNIVAC 1107,Burroughs 200,

NCR(National Cash Register) 300

  1. Komputer Generasi Ketiga (1964-1970)

Gambar. D.3. Komputer Generasi Ketiga(Kiri), IC (Integrated Circuit)

Konsep semakin kecil dan semakin murah dari transistor, akhirnya

memacu orang untuk terus melakukan pelbagai penelitian. Ribuan

transistor akhirnya berhasil digabung dalam satu bentuk yang sangat kecil.

Secuil silicium yang mempunyai ukuran beberapa milimeter berhasil

diciptakan, dan inilah yang disebut sebagai Integrated Circuit atau IC-Chip.

Pada generasi ketiga inilah teknologi Integrated Circuit (IC) menjadi ciri utama karena mulai digunakan pada sebuah perangkat komputer hingga generasi sekarang. Komponen IC berbentuk hybrid atau solid (SLT) dan monolithyc (MST). SLT adalah transistor dan diode diletakkan terpisah dalam satu tempat sedangkan MST adalah elemen transistor, diode, dan resistor diletakkan bersama dalam satu chip. MST lebih kesil tetapi mempunyai kemmapuan lebih besar dibanding SLT.

IC dibuat pertama kali oleh Texas Istruments dan Fairchild Semiconductor pada tahun 1959 yang hanya berisi enam transistor. Bisa kita bandingkan bahwa prosesor saat ini yang kita gunakan telah memiliki jutaan, puluhan, ratusan juta transistor, bahkan telah didesain prosesor dengan miliaran transistor. Sebuah perkembangan yang luar biasa dalam masa kurang dari setengah abad.

Ciri komputer generasi ini adalah:

  • Karena menggunakan IC maka kinerja komputer menjadi lebih cepat dan tepat.
  • Kecepatannya hampir 10.000 kali lebih cepat dari komputer generasi pertama.
  • Peningkatan dari sisi software.
  • Kapasitas memori lebih besar, dan dapat menyimpan ratusan ribu karakter (sebelumnya hanya puluhan ribu).
  • Menggunakan media penyimpanan luar disket magnetik (external disk) yang sifat pengaksesan datanya secara acak (random access) dengan kapasitas besar (jutaan karakter).
  • Penggunaan listrik lebih hemat.
  • Kemampuan melakukan multiprocessing dan multitasking.
  • Telah menggunakan terminal visual display dan dapat mengeluarkan suara.
  • Harganya semakin murah.
  • Kemampuan melakukan komunikasi dengan komputer lain.

Salah satu kemajuan komputer generasi ketiga adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang berfungsi untuk memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.

 

IBM S/360, UNIVAC 1108, UNIVAC 9000, Burroughts 5700, 6700, 7700, NCR Century, GE 600, CDC 3000, 6000, dan 7000, PDP-8, dan PDP-11 (pabrik pembuatnya adalah Digital Equipment Corporation), Apple Computer dan TRS Model 80 merupakan contoh-contoh komputer generasi ketiga.

  1. Komputer Generasi Keempat (1970-1980-an)

Gambar. D.4. Komputer Generasi Keempat

 

Komputer generasi keempat merupakan kelanjutan dari generasi III. Bedanya bahwa IC pada generasi IV lebih kompleks dan terintegrasi. Sejak tahun 1970 ada dua perkembangan yang dianggap sebagai komputer generasi IV. Pertama, penggunaan Large Scale Integration (LSI) yang disebut juga dengan nama Bipolar Large Large Scale Integration. LSI merupakan pemadatan beribu-ribu IC yang dijadikan satu dalam sebuah keping IC yang disebut chip. Istilah chip digunakan untuk menunjukkan suatu lempengan persegi empat yang memuat rangkaian terpadu IC. LSI kemudian dikembangkan menjadi Very Large Scale Integration (VLSI) yang dapat menampung puluhan ribu hingga ratusan ribu IC. Selanjutnya dikembangkannya komputer mikro yang menggunakan mikroprosesor dan semikonduktor yang berbentuk chip untuk memori komputer internal sementara generasi sebelumnya menggunakan magnetic core storage.

Perusahaan- perusahaan yang membuat micro-processor adalah Intel corporation,Motorola, Zilog dan lainnya lagi. Di pasaran bisa kita lihat adanya

microprocessor dari Intel dengan model 4004, 8088, 80286, 80386, 80486,

80586 yang lebih dikenal dengan nama: Pentium dan lainnya lagi. Sedang

pabrik Motorola mengeluarkan model 6502, 6800 dan lainnya.

Komputer Generasi IV: Apple II

Perusahaan Intel pada tahun 1971 memperkenalkan mikrokomputer 4 bit yang menggunakan chip prosesor dengan nama 4004 yang berisi 230 transistor dan berjalan pada 108 KHz (Kilo-Hertz) dan dapat mengeksekusi 60.000 operasi per detik. Dilanjutkan pada tahun 1972, Intel memperkenalkan mikrokomputer 8008 yang memproses 8 bit informasi pada satu waktu. Selanjutnya mikroprosesor 8080 dibuat pada tahun 1974, dan merupakan prosesor untuk tujuan umum pertama. Sebelumnya prosesor 4004 dan 8008 dirancang untuk kebutuhan aplikasi tertentu, dan prosesor 8080 memiliki kemampuan lebih cepat dan memilki set instruksi yang lebih kaya, serta memiliki kemampuan pengalamatan yang lebih besar. Pada generasi keempat ini tampilan monitor masih satu warna (green color).

Komputer Generasi IV: PDP 11

Komputer-komputer generasi keempat diantaranya adalah IBM 370, Apple I dan Apple II, PDP-11, VisiCalc, dan Altair yang menggunakan prosesor Intel 8080, dengan sistem operasi CP/M (Control Program for Microprocessor), dengan bahasa pemrograman Microsoft Basic (Beginners Allpurpose Symbolic Instruction Code). Sebagai catatan bahwa pada komputer-komputer generasi keempat ini tidak satupun yang PC-Compatible atau Macintosh-Compatible. Sehingga pada generasi ini belum ditentukan standar sebuah komputer terutama personal computer (PC).

Ciri komputer generasi keempat :

  • Menggunakaan Large Scale Integration ( LSI )
  • Microprocessor : penggabungan seluruh komponen komputer

( CPU , memori, kendali I/O) dan diprogram sesuai dengan kebutuhan.

  • Munculnya PC
  1. Komputer Generasi Kelima (1980-an-sekarang)

Akhir tahun 1980, IBM memutuskan untuk membangun sebuah komputer personal (PC) secara massal, yang pada tanggal 12 Agustus 1981 menjadi sebuah standar komputer PC, dan pada akhirnya hingga saat ini PC dikenal dengan nama standar IBM-PC. Prosesor yang digunakan adalah 8088/8086 yang menjadi standar komputer saat ini, menggunakan basis proses 16 bit persatuan waktu.

Dengan lahirnya komputer generasi kelima ini, IBM bekerja sama dengan Microsoft untuk mengembangkan software di dalamnya. Hingga saat ini Microsoft mendominasi kebutuhan software di dunia PC.

Pada perkembangan selanjutnya perubahan besar terjadi bahwa sejak IBM-PC diperkenalkan dan bukan menjadi satu-satunya manufaktur PC-compatible, maka standar baru dalam dunia industri PC lebih dikembangkan oleh perusahaan lain seperti Intel dan Microsoft yang dipelopori oleh W. Bill Gates yang menjadi pionir standar hardware dan software dunia.

Pada generasi kelima ini, telah dilakukan pengembangan dengan apa yang dinamakan Josephson Junction, teknologi yang akan menggantikan chip yang mempunyai kemampuan memproses trilyunan operasi perdetik sementara teknologi chip hanya mampu memproses miliaran operasi perdetik. Komputer pada generasi ini akan dapat menerjemahkan bahasa manusia, manusia dapat langsung bercakap-cakap dengan komputer serta adanya penghematan energi komputer. Sifat luar biasa ini disebut sebagai “Artificial Intelligence”, selain itu juga berbasis Graphic User Interface (GUI), multimedia, dan multikomunikasi.

Contoh-contoh komputer yang lahir pada generasi kelima berbasis x86, seperti chip 286 yang diperkenalkan pada tahun 1982 dengan 134.000 transistor, kemudian chip 386 pada tahun 1983 dengan 275.000 transistor, sedangkan chip 486 diperkenalkan tahun 1989 yang memiliki 1,2 juta transistor. Selanjutnya pada tahun 1993 Intel memperkenalkan keluarga prosesor 586 yang disebut Pentium 1 dengan jumlah transistor 3,1 juta untuk melakkan 90 MIPS (Million Instruction Per Second). Kemudian dilanjutkan pada generasi berikutnya yaitu Pentium 2, 3, dan 4.

Pada akhir tahun 2000 Intel memperkenalkan Pentium 4, yang merupakan prosesor terakhir dalam keluarga Intel dengan arsitektur 32 bit (IA-32). Tahun 2001 Intel mengumumkan prosesor Itanium yang merupakan prosesor dengan basis arsitektur 64 bit (IA-64) pertama. Itanium merupakan prosesor pertama milik Intel dengan instruksi-instruksi 64 bit dan akan menelurkan satu generasi baru dari sistem operasi dan aplikasi, sementara masih mempertahankan backward compatibility dengan software 32 bit. Perlu diketahui bahwa sejak dikeluarkannya prosesor 386, komputer beroperasi pada 32 bit per satuan waktu dalam mengeksekusi informasi hingga Pentium 4. Hingga sekarang komputer yang digunakan kebanyakan masih yang berbasis 32 bit.

Pada generasi pentium, selain ciri khas pada peningkatan kecepatan akses datanya juga tampilan gambar sudah beresolusi (kualitas gambar) bagus dan berwarna serta multimedia, dan yang lebih penting adalah fungsi komputer menjadi lebih cerdas. Meskipun komputer pada generasi ini ukuran fisiknya menjadi lebih kecil dan sederhana namun memiliki kemampuan yang semakin canggih.

 

 

 

 

 

 

  1. Komputer Generasi Keenam (Masa Depan )

Dengan teknologi komputer yang ada saat ini, agak sulit untuk dapat membayangkan bagaimana komputer masa depan. Dengan teknologi yang ada saat ini saja kita seakan sudah dapat “menggenggam dunia”. Dari sisi teknologi beberapa ilmuan komputer meyakini suatu saat tercipta apa yang disebut dengan biochip yang dibuat dari bahan protein sitetis. Robot yang dibuat dengan bahan ini kelak akan menjadi manusia tiruan. Sedangkan teknologi yang sedang dalam tahap penelitian sekarang ini yaitu mikrooptik serta input-output audio yang mungkin digunakan oleh komputer yang akan datang.

Ahli-ahli sains komputer sekarang juga sedang mencoba merancang komputer yang tidak memerlukan penulisan dan pembuatan program oleh pengguna. Komputer tanpa program (programless computer) ini mungkin membentuk ciri utama generasi komputer yang akan datang.

 

Kemungkinan Komputer Masa Depan

Secara prinsip ciri-ciri komputer masa mendatang adalah lebih canggih dan lebih murah dan memiliki kemampuan diantaranya melihat, mendengar, berbicara, dan berpikir serta mampu membuat kesimpulan seperti manusia. Ini berarti komputer memiliki kecerdasan buatan yang mendekati kemampuan dan prilaku manusia. Kelebihan lainnya lagi, kecerdasan untuk memprediksi sebuah kejadian yang akan terjadi, bisa berkomunikasi langsung dengan manusia, dan bentuknya semakin kecil. Yang jelas komputer masa depan akan lebih menakjubkan.

  1. KLASIFIKASI KOMPUTER

Terdapat banyak tipe komputer yang sangat bervariasi dalam ukuran, biaya, daya, komputasi, dan tujuan penggunaannya.

Komputer yang paling umum digunakan adalah:

  1. Personal Computer

yang biasa digunakan di sekolah-sekolah, kantor, dan dirumah.

  1. Komputer Dekstop

memiliki unit pengolahan dan penyimpanan, display visual dan uni output

audio dan keyboard yang ditempatkan secara mudah di meja kantor atau

rumah. Media penyimpanan tersebut berupa harddisk, CD-ROM, dan disket / flashdisk.

  1. Komputer Notebook portable

adalah versi ringkas dari personal komputer dengan semua komponennya

terpaket dalam satu unit tunggal seukuran koper tipis.

  1. Super Computer

digunakan untuk perhitungan skala besar seperti perkiraan cuaca, desain dan

simulasi pesawat terbang.Dalam sistem enterprice, server dan supercomputer,

unit fungsionalnya yang banyak processor, dapat terdiri dari sejumlah unit

besar dan sering kali terpisah.

 

 

 

 

 

 

  1. Klasifikasi Komputer berdasarkan Bentuk Fisik dan Kemampuan

Mengolah Data.

  1. Mainframe

Mainframe secara umum membutuhkan ruangan khusus di mana faktor

lingkungan yang terdiri dari temperatur, kelembaban udara ataupun

gangguan asap dapatlah dimonitor. Hal ini disebabkan karena nilai

komputer serta nilai dari informasi yang tersimpan didalamnya sangatlah

mahal. Ruangan yang ada biasanya juga dilengkapi dengan pelbagai

sistem pengamanan elektronik.

Mainframe adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang

mengacu kepada kelas tertinggi dari komputer yang terdiri dari komputer-

komputer yang mampu melakukan banyak tugas komputasi yang rumit

dalam waktu yang singkat. Mainframe umumnya digunakan oleh puluhan hingga ratusan pengguna yang terkoneksi dengan menggunakan terminal. Kecepatan kerja mainframe mencapai 1 milyar operasi per detik

(1 Giga operations per-seconds = 1 GOPS).

Contoh Komputer MainFrame

IBM System/360

IBM System/390

Honeywell-Bull DPS 7

Cray-1 dari Cray Research

 

  1. MiniComputer

Komputer mini mempunyai kemampuan berapa kali lebih besar jika

dibanding dengan personal komputer. Hal ini disebabkan karena micro-

processor yang digunakan untuk memproses data memang mempunyai

kemampuan jauh lebih unggul jika dibanding dengan microprocessor yang

digunakan pada personal komputer. Ukuran fisiknya dapat sebesar almari

kecil. Komputer mini pada umumnya dapat digunakan untuk melayani

lebih dari satu pemakai (multi user). Dalam sistem multi user ini, pada

akhirnya personal komputer banyak digunakan sebagai terminal yang

berfungsi untuk memasukkan data.

Contoh Komputer mini: IBM AS-400.

 

 

 

  1. Super-komputer

Sesuai dengan namanya, super komputer memiliki ciri khas, yaitu

kecepatan proses yang tinggi serta memiliki kemampuan menyimpan data

yang jauh lebih besar apabila dibanding dengan main-frame. Harga super

komputer sangatlah besar dan mahal. Salah satu contoh super komputer

adalah Cray-2. Pengguna super komputer biasanya negara-negara yang

sudah maju ataupun perusahaan-perusahaan yang sangat besar, seperti

misalnya industri pesawat terbang Nurtantio.

Dikarenakan kemampuannya yang sangat luar biasa dan diantaranya

memiliki kemampuan untuk membaca/ menyadap pelbagai data dari satelit, maka untuk pembelian sebuah super komputer harus mendapat

persetujuan secara langsung dari presiden. Permintaan Indonesia pernah

ditolak oleh presiden Amerika ketika Nurtantio. menginginkan untuk

membeli sebuah super komputer dari Amerika.

  1. Personal komputer

Personal komputer (PC)  diciptakan untuk memenuhi kebutuhan perorangan (personal) dengan Kemampuan memory yang dimiliki pada awalnya hanya berkisar antara 32 hingga 64 KB (Kilo Byte). Tetapi dalam perkembangannya hingga kini memory telah mencapai 3 GB (Giga Byte). Komputer personal model Apple II merupakan pelopor dari kelahiran personal komputer yang ada pada saat sekarang. Karena harganya relatif murah, bentuknya kecil dan teknologi yang

dimiliki dianggap sudah memadai, maka personal komputer menjadi

begitu cepat populer. Personal komputer kini tidak hanya digunakan oleh

perorangan tetapi pada akhirnya banyak digunakan oleh perusahaan untuk

menyelesaikan pelbagai masalah yang ada di perusahaan.

Pada umumnya personal komputer hanya mampu bekerja untuk melayani

satu orang pemakai (single-user), tetapi dalam perkembangannya dengan

menggunakan konsep LAN (Local Area Network) personal komputer juga

dapat digunakan untuk melayani banyak pemakai dalam saat yang

bersamaan (konsep multi user). Dan dewasa ini kemampuan Personal

Komputer telah mampu menandingi Main Frame.

Personal Komputer terdiri atas monitor, keyboard, mouse dan CPU. PC

dapat berbentuk Tower (berdiri) dan desktop (tidur).

 

 

  1. Komputer Portable

Komputer jijing (populer dalam bahasa Inggris: laptop, notebook, atau

power book) adalah komputer bergerak yang berukuran relatif kecil dan

ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran, bahan, dan

spesifikasi laptop tersebut. Sumber daya komputer jinjing berasal dari

baterai atau adaptor A/C yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai. Sebagai komputer pribadi, laptop memiliki fungsi yang sama dengan komputer desktop (desktop computers) pada umumnya. Komponen yang terdapat di dalamnya sama persis dengan komponen pada desktop, hanya saja ukurannya diperkecil, dijadikan lebih ringan, lebih tidak panas, dan lebih hemat daya.

Komputer jinjing kebanyakan menggunakan layar LCD

(Liquid Crystal Display) berukuran 10 inci hingga 17 inci tergantung dari

ukuran laptop itu sendiri. Selain itu, papan ketik yang terdapat pada laptop

juga kadang-kadang dilengkapi dengan papan sentuh yang berfungsi sebagai “pengganti” tetikus. Papan ketik dan tetikus tambahan dapat dipasang melalui soket USB maupun PS/2 jika tersedia. Berbeda dengan komputer desktop, komputer jinjing memiliki komponen pendukung yang

didesain secara khusus untuk mengakomodasi sifat komputer jinjing yang

portabel. Sifat utama yang dimiliki oleh komponen penyusun laptop

adalah ukuran yang kecil, hemat konsumsi energi, dan efisien.

Komputer jinjing biasanya berharga lebih mahal, tergantung dari merek dan

spesifikasi komponen penyusunnya, walaupun demikian harga komputer

jinjing pun semakin mendekati desktop seiring dengan semakin tingginya

tingkat permintaan konsumen.

Deteskop, portable, notebook, palmtop.

  1. Klasifikasi Komputer Menurut Data Yang diolah.

Data yang diolah oleh komputer jenisnya sangatlah banyak. Ada data yang

berwujud gambar, suara, huruf, angka, keadaan, simbol ataupun yang

lainnya lagi. Dalam hal ini, tidak setiap komputer bisa mengolah seluruh

data yang ada. Ada komputer yang hanya bisa mengolah suara, ataupun

hanya bisa mengolah gambar ataupun hanya mengolah huruf dan angka

saja. Walaupun demikian, ada pula komputer yang bisa mengolah

beberapa data secara bersama-sama.

  1. Digital Komputer

Merupakan suatu jenis komputer yang bisa digunakan untuk mengolah

data yang bersifat kuantitatif (sangat banyak jumlahnya). Data dari digital

komputer biasanya berupa simbol yang memiliki arti tertentu, misalnya:

simbol alphabetis yang digambarkan dengan huruf A s/d Z ataupun a s/d z,

simbol numerik yang digambarkan dengan angka 0 s/d 9 ataupun simbol-

simbol khusus, seperti halnya: ? / + * & !.

  1. Komputer Analog.

Merupakan suatu jenis komputer yang bisa digunakan untuk mengolah

data kualitatif. Data yang ada bukan merupakan simbol, tetapi masih

merupakan suatu keadaan. Seperti misalnya: keadaan suhu ataupun

kelembaban udara, ketinggian ataupun kecepatan adalah merupakan suatu

keadaan yang oleh komputer kemudian ditetapkan sehingga menjadi suatu

ukuran. Analog banyak dipakai di pabrik-pabrik yang tujuannya untuk

mengontrol ataupun menghasilkan suatu produk. Pengertian komputer

analog lebih mendekati dengan robotic ataupun mesin otomatis.

  1. Hibrid Komputer

Merupakan jenis komputer yang bisa digunakan untuk mengolah data

yang bersifat kuantitatif ataupun kualitatif. Hibrid komputer juga bisa

dikatakan sebagai gabungan dari analog dan digital komputer. Komputer

jenis ini banyak digunakan oleh pelbagai rumah sakit yang digunakan

untuk memeriksa keadaan tubuh dari pasien, yang pada akhirnya,

komputer bisa mengeluarkan pelbagai analisa yang disajikan dalam bentuk

gambar, grafik ataupun tulisan.

  • Klasifikasi Komputer Berdasarkan Penggunaanya
  1. Spesial Purpose Komputer

Komputer ini dirancang untuk menyelesaikan masalah khusus, biasanya hanya berupa satu masalah saja. Dapat berupa komputer analog ataupun komputer digital, namun pada umumnya komputer analog adalah spesial purpose komputer. Komputer ini banyak dikembangkan untuk pengontrolan yang otomatis pada proses-proses industri.

 

Contohnya :

HORN-5 digunakan untuk electroholography real-time

SPC digunakan untuk simulasi interaksi sistem partikel

Petaflops Komputer khusus untuk simulasi sistem molekul dinamik

SGI, computer khusus untuk pengolahan grafik.

 

  1. General-Purpose Komputer

Komputer ini dirancang untuk menyelesaikan bermacam masalah, dapat menggunakan beberapa program yang dapat menyelesaikan jenis permasalahan yang berbeda, karena komputer ini tidak dirancang untuk

masalah secara khusus.misalnya aplikasi bisnis, teknik, pendidikan,

pengolahan kata, permainan dll. General-Purpose Computer dapat berupa

komputer digital dan analog, namun pada umumnya adalah komputer

digital.

Contohnya personal komputer (PC).

 

 

  1. Klasifikasi Komputer Berdasarkan Kapasitas dan Ukurannya

 

  1. Komputer Mikro (Micro Computer)

Komputer dengan mikroprosesor sebagai pusat pengendali utamanya.

Contoh : Komputer desktop, video game consoles, laptop , tablet PCs, dll

 

  1. Komputer Mini (Mini Computer) .

Komputer yang bersifat multiuser, yaitu sebua komputer mini dapat dihubungkan sampai dengan 64 terminal.

 

  1. Komputer Kecil (Small Computer)

menggunakan sistem multiprogramming, multiprocessing, virtual storage, dan multiuser dengan terminal sampai dengan ratusan buah.

 

 

 

 

  1. Komputer Menengah (Medium Computer)

digunakan untuk komunikasi data dengan ratusan terminal yang terpisah dari pusat komputernya. Pusat komputer biasanya menggunakan medium komputer, dan terminal-terminalnya menggunakan komputer mikro atau komputer mini, untuk penerapan distributed data processing.

 

  1. Komputer Besar (Large Computer) , disebut juga sebagai komputer mainframe. Komputer ini digunakan oleh perusahaan besar, misalnya perusahaan penerbangan yang mempunyai ratusan kantor cabang tersebar diseluruh dunia yang tiap kantor cabang mempunyai terminal dihubungkan dengan pusat komputernya

 

  1. Komputer Super (Super Computer). Super komputer memiliki ciri khas, yaitu kecepatan proses yang tinggi serta memiliki kemampuan menyimpan data yang jauh lebih besar apabila dibanding dengan main-frame. Harga super komputer sangatlah besar dan mahal. Salah satau contoh super komputer adalah Cray-2. Pengguna super komputer biasanya negara-negara yang sudah maju ataupun perusahaan-perusahaan yang sangat besar, seperti misalnya industri pesawat terbang.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sejarah Perkembangan Mikroprocessor

Processor adalah Sebuah IC yang mengontrol keseluruhan jalannya sebuah sistem komputer. Processor digunakan sebagai pusat atau otak dari komputer yang berfungsi untuk melakukan perhitungan dan menjalankan tugas.

Prosesor adalah chip yang sering disebut “Microprosessor” yang sekarang ukurannya sudah mencapai gigahertz. Ukuran tersebut adalah hitungan kecepatan prosesor dalam mengolah data atau informasi. Merk prosesor yang banyak beredar dipasatan adalah AMD, Apple, Cyrix VIA, IBM, IDT, dan Intel. Bagian dari Prosesor Bagian terpenting dari prosesor terbagi 3 yaitu :

  • Aritcmatics Logical Unit (ALU)
  • Control Unit (CU)
  • Memory Unit (MU)

Mikroprosesor adalah suatu komponen digital jenis LSI (Large Scale Integration atau Very Large Scale Integration) dengan kompleksitas rangkaian sangat tinggi yang mampu melaksanakan fungsi suatu unit pemroses sentral

(CPU = Central Processing Unit). Mikroprosesor sering disebut CPU, merupakan elemen kontrol pada sistem komputer. Mikroprosesor mengontrol memori dan I/O (Input/Output) melalui sejumlah jalur koneksi yang disebut bus. Bus memilih piranti memori atau I/O, mentransfer data antara piranti I/O dan memori dengan mikroprosesor, dan mengendalikan sistem I/O dan memori. I/O dan memori dikontrol melalui instruksi yang disimpan dalam memori dan dijalankan oleh mikroprosesor.

Sistem Mikroprosesor, yaitu suatu sistem yang di dalamnya terdapat mikroprosesor, komponen I/O, dan memori yang mana sering disebut juga komputer. Komponen I/O antara lain : PPI (Programmable Peripheral Interface), SIO (Serial Input Output), PIO (Parallel Input Output), ACIA (Asynchronous Communication Interface Adapter), USART( Universal Synchronous and Asynchronous Receiver Transmitter), micro switch, sensor, keyboard, mouse, floppy disk drive, monitor, printer, hard disk drive, CD-ROM drive, plotter, tape backup, Scanner, DVD, dan serial communication. Sedangkan memori antara lain: DRAM (DynamicRandom Acces Memory), SRAM

(Static RandomnAcces Memory), Cache, Read Only Memory (ROM), Flash memory, EPROM (Erasable Programmble Read Only Memory),

SDRAM (Static Dinamic Random Acces Memory), EAROM (Electrically Alterable Read Only Memory), dan lain-lain.

Mikrokontroler adalah mikroprosesor plus atau mikrokomputer chip tunggal yang di

dalamnya mengandung unit mikroprosesor, memori, I/O, ADC (Analog to Digital

Converter), Timer, Clock, dan lain-lain. Fasilitas yang terkandung di dalamnya akan

tergantung pada jenis dan tipe dari mikrokontroler. Contoh, misalnya mikrokontroler AT

89C51 produk dari ATMEL mempunyai fitur-fitur : CMOS 8 bit mikrokomputer, 4 K

bytes Flash PEROM (Programmble Erasable Read Only Memory), 128 bytes RAM

internal, 32 Programmable I/O line, 2 bytes timer/counters, 6 sumber interupsi,

programmable serial channel, low power, power down modes, dan beroperasi pada

frekuensi 0 hz sampai dengan 24 M hz.

1971: 4004 Microprocessor

Pada tahun 1971 munculah microprocessor pertama Intel , microprocessor 4004 yang berkategori 4 bit  ini digunakan pada mesin kalkulator Busicom. Mikroprosesor ini mampu mengalamati 4096 lokasi memori. Mikroprosesor 4004 hanya mempunyai 45 instruksi yang dibuat dengan teknologi  channel Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor) atau disingkat MOSFET. Kinerja prosesor ini hanya mampu menjalankan perintah pada kecepatan rendah, yaitu 50 Kilo instruksi per detik. Kekurangan mikroprosesor ini adalah dalam hal kecepatan yang rendah, lebar word yang sempit, dan ukuran memorinya yang kecil. Untuk memperbaiki kecepatannya maka diproduksi mikroprosesor tipe 4040, tetapi lebar word dan ukuran memorinya tetap sama. Perusahaan Texas Instrument memproduksi mikroprosesor kelas 4 bit, yaitu TSM-1000. Mikroprosesor kelas 4 bit hanya dapat mengerjakan aplikasi tingkat rendah seperti:  oven microwave, kontrol kecil, dan kalkulator yang berbasis mikroprosesor 4 bit.

 

1972: 8008 Microprocessor

Pada bulan Januari tahun 1972, lahir mikroprosesor generasi kedua, Intel

mengeluarkan mikroprosesor tipe 8008 sebagai mikroprosesor 8 bit yang mampu

mengalamati ukuran alamat yang lebih luas, yaitu 16 K byte. Mikroprosesor inipun dianggap masih banyak kekurangan terutama ukuran memori yang masih kecil.

1974: 8080 Microprocessor

Pada tahun 1973, Intel memperkenalkan mikroprosesor modern yang berkategori 8 bit, yaitu tipe 8080. Keistimewaan mikroprosesor ini dapat mengalamati lebih banyak memori, dan menjalankan instruksi tambahan, demikian juga mampu melaksanakan 10 kali lebih cepat dibandingkan µP 8008 dan membutuhkan waktu 2,0 µs (500.000 instruksi per detik). 8080 kompatibel dengan TTL (Transistor-Transistor Logic) sehingga antar muka akan lebih mudah. Sedangkan pengalamatan memorinya 64 K byte, empat kali lipat dibandingkan dengan µP 8008. Perusahaan lain, yaitu motorola memperkenalkan mikroprosesor tipe 6800, Rockwell PPS-8, Signetic 2650 dan seterusnya.

1975: 8085 Microprocessor

Pada tahun 1975 – 1977, munculah mikroprosesor generasi ketiga buatan Intel tipe 8085, Zilog Inc, yaitu tipe Z 80, tipe 6809 dari Motorola, MOS Teknologi tipe 6502, Nasional Semiconductor tipe IMP-8, dan muncul pula komputer satu chip F8 dari Fairchild, dan Mostex, tipe 8048 dari Intel; TSM 1000 dan 9940 dari Texas Instrument. Keunggulan tipe 8085 dibandingkan dengan 8080 mampu menjalankan perangkat lunak pada kecepatan tinggi dan keunggulan utamanya adanya internal clock generator, sistem control internal, dan frekuensi clock yang lebih tinggi. Intel telah berhasil menjual mikroprosesor 8 bit yang merupakan kegunaan umum sebanyak 200 juta mikroprosesor 8085. Perusaan lain yang mampu menjual 500 juta mikroprosesor 8 bit adalah Zilog Corporation, yang memproduksi mikroprosesor Z – 80. Z-80 mempunyai kode bahasa mesin yang kompatibel dengan 8085.

1978: 8086-8088 Microprocessor

Pada tahun 1978, Intel mengeluarkan mikroprosesor 16 bit, yaitu tipe 8086, 8088, 80186, 80286; Motorola dengan tipe 68000; Zilog dengan tipe Z 8000, dan TexasInstrument dengan tipe 9900.

Mikroprosesor 16 bit ini pada umumnya untuk meningkatkan kinerja mikroprosesor sebelumnya, peningkatan antara lain pengalamatan sistem memori sampai 16 M byte, penambahan instruksi, kecepatan clock 8 M Hz, dan beberapa perubahan juga terjadi pada eksekusi instruksi internal yang akan meningkatkan kecepatan sebesar 8 kali pada berbagai instruksi dibandingkan dengan instruksi pada 8086/8088.

1982: 286 Microprocessor

Intel 286 atau yang lebih dikenal dengan nama 80286 adalah sebuah processor yang pertama kali dapat mengenali dan menggunakan software yang digunakan untuk processor sebelumnya. 286 (1982) juga merupakan prosessor 16 bit. Prosessor ini mempunyai kemajuan yang relatif besar dibanding chip-chip generasi pertama. Frekuensi clock ditingkatkan, tetapi perbaikan yang utama ialah optimasi penanganan perintah. 286 menghasilkan kerja lebih banyak tiap tik clock daripada 8088/8086. Pada kecepatan awal (6 MHz) berunjuk kerja empat kali lebih baik dari 8086 pada 4.77 MHz. Belakangan diperkenalkan dengan kecepatan clock 8,10,dan 12 MHz yang digunakan pada IBM PC-AT (1984). Pembaharuan yang lain ialah kemampuan untuk bekerja pada protected mode/mode perlindungan – mode kerja baru dengan “24 bit virtual address mode”/mode pengalamatan virtual 24 bit, yang menegaskan arah perpindahan dari DOS ke Windows dan multitasking. Tetapi anda tidak dapat berganti dari protected kembali ke real mode / mode riil tanpa mere-boot PC, dan sistem operasi yang menggunakan hal ini hanyalah OS/2 saat itu.

1985: Intel386™ Microprocessor

Intel 386 adalah sebuah prosesor yang memiliki 275.000 transistor yang tertanam diprosessor tersebut yang jika dibandingkan dengan 4004 memiliki 100 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan 4004.

Pada tahun 1986 – 1987, diperkenalkan mikroprosesor 32 bit. Intel mengeluarkan

80386DX/80486DX, 80486SX, dan 80486DX4; Motorola memperkenalkan tipe 68020,

68030, 68040, dan 68050; Zilog tipe Z80000; Nasional semikonduktor memperkenalkan

dengan tipe 32032 dan 32132. Mikroprosesor 32 bit buatan Intel mampu meningkatkan

pengalamatan memori dari 4 G byte sampai dengan 4 G + 16 K cache, dengan kecepatan

clock dapat mencapai 120 M Hz. Peningkatan kemampuan mikroprosesor tidak terlepas

dari tuntutan kebutuhan perangkat lunak (software) seperti yang menggunakan GUI

(Graphical User Interface), tampilan Vidio VGA (Variable Graphics Array), sistem CAD (Computer Aided Drafting/Design) seperti AUTOCAD, ORCAD, dan lain-lain

1989: Intel486™ DX CPU Microprocessor

Processor yang pertama kali memudahkan berbagai aplikasi yang tadinya harus mengetikkan command-command menjadi hanya sebuah klik saja, dan mempunyai fungsi komplek matematika sehingga memperkecil beban kerja pada processor.

1993: Intel® Pentium® Processor

Pada tahun 1993, Intel memperkenalkan mikroprosesor 64 bit, yaitu Pentium I

mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan mikroprosesor 80386 dan 80486.

Sedangkan Motorola mengeluarkan mikroprosesor tipe 68060 dan Power PC. Pentium I

bekerja dengan frekuensi Clock 100 M Hz, 120 M Hz, 133 M Hz, dan 223 M Hz dengan

ukuran cache ditingkatkan dari 8 K byte menjadi 16 K byte. Processor generasi baru yang mampu menangani berbagai jenis data seperti suara, bunyi, tulisan tangan, dan foto.

1995: Intel® Pentium® Pro Processor

Processor yang dirancang untuk digunakan pada aplikasi server dan workstation, yang dibuat untuk memproses data secara cepat, processor ini mempunyai 5,5 jt transistor yang tertanam.

1997: Intel® Pentium® II Processor

Processor Pentium II merupakan processor yang menggabungkan Intel MMX yang dirancang secara khusus untuk mengolah data video, audio, dan grafik secara efisien. Terdapat 7.5 juta transistor terintegrasi di dalamnya sehingga dengan processor ini pengguna PC dapat mengolah berbagai data dan menggunakan internet dengan lebih baik. pada tahun 1997 diperkenalkan Pentium II dan Pentium Pro dengan clock 266 M Hz, 333 M Hz, 350 M Hz, 400M Hz, dan 450 M Hz. Dengan kecepatan bus data 100 M Hz. Pentium III diperkenalkan untuk memperbaiki kinerja Pentium II, terutama frekuensi clock-nya ditingkatkan menjadi 1 G Hz dengan cache 512 K versi lot 1, dan cache 256 K untuk versi flip-chip, serta kecepatan bus 100 M Hz.

1998: Intel® Pentium II Xeon® Processor

Processor yang dibuat untuk kebutuhan pada aplikasi server. Intel saat itu ingin memenuhi strateginya yang ingin memberikan sebuah processor unik untuk sebuah pasar tertentu.

1999: Intel® Celeron® Processor

Processor Intel Celeron merupakan processor yang dikeluarkan sebagai processor yang ditujukan untuk pengguna yang tidak terlalu membutuhkan kinerja processor yang lebih cepat bagi pengguna yang ingin membangun sebuah system computer dengan budget (harga) yang tidak terlalu besar. Processor Intel Celeron ini memiliki bentuk dan formfactor yang sama dengan processor Intel jenis Pentium, tetapi hanya dengan instruksi-instruksi yang lebih sedikit, L2 cache-nya lebih kecil, kecepatan (clock speed) yang lebih lambat, dan harga yang lebih murah daripada processor Intel jenis Pentium. Dengan keluarnya processor Celeron ini maka Intel kembali memberikan sebuah processor untuk sebuah pasaran tertentu.

1999: Intel® Pentium® III Processor

Processor Pentium III merupakan processor yang diberi tambahan 70 instruksi baru yang secara dramatis memperkaya kemampuan pencitraan tingkat tinggi, tiga dimensi, audio streaming, dan aplikasi-aplikasi video serta pengenalan suara.

1999: Intel® Pentium® III Xeon® Processor

Intel kembali merambah pasaran server dan workstation dengan mengeluarkan seri Xeon tetapi jenis Pentium III yang mempunyai 70 perintah SIMD. Keunggulan processor ini adalah ia dapat mempercepat pengolahan informasi dari system bus ke processor , yang juga mendongkrak performa secara signifikan. Processor ini juga dirancang untuk dipadukan dengan processor lain yang sejenis.

2000: Intel® Pentium® 4 Processor

Pada tahun 2000, Intel memperkenalkan Pentium 4 yang menyediakan versi

kecepatan 1,3 G Hz, 1,4 G Hz, 1,5 G Hz, s/d 3,4 G Hz. Dengan ukuran memori 64 G byte + 32 K L1 + cache + 256 K L 2 cache. Kecepatan bus data 200 M Hz atau lebih

tinggi. Disamping mikroprosesor Pentium terdapat juga mikroprosesor buatan AMD

(Advanced Micro Devices) yang populer di pasaran dan menjadi pesaing Intel.

2001: Intel® Xeon® Processor

Processor Intel Pentium 4 Xeon merupakan processor Intel Pentium 4 yang ditujukan khusus untuk berperan sebagai computer server. Processor ini memiliki jumlah pin lebih banyak dari processor Intel Pentium 4 serta dengan memory L2 cache yang lebih besar pula.

2001: Intel® Itanium® Processor

Itanium adalah processor pertama berbasis 64 bit yang ditujukan bagi pemakain pada server dan workstation serta pemakai tertentu. Processor ini sudah dibuat dengan struktur yang benar-benar berbeda dari sebelumnya yang didasarkan pada desain dan teknologi Intel’s Explicitly Parallel Instruction Computing ( EPIC ).

2002: Intel® Itanium® 2 Processor

Itanium 2 adalah generasi kedua dari keluarga Itanium

2003: Intel® Pentium® M Processor

Chipset 855, dan Intel® PRO/WIRELESS 2100 adalah komponen dari Intel® Centrino™. Intel Centrino dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar akan keberadaan sebuah komputer yang mudah dibawa kemana-mana.

2004: Intel Pentium M 735/745/755 processors

Dilengkapi dengan chipset 855 dengan fitur baru 2Mb L2 Cache 400MHz system bus dan kecocokan dengan soket processor dengan seri-seri Pentium M sebelumnya.

2004: Intel E7520/E7320 Chipsets

7320/7520 dapat digunakan untuk dual processor dengan konfigurasi 800MHz FSB, DDR2 400 memory, and PCI Express peripheral interfaces.

2005: Intel Pentium 4 Extreme Edition 3.73GHz

Sebuah processor yang ditujukan untuk pasar pengguna komputer yang menginginkan sesuatu yang lebih dari komputernya, processor ini menggunakan konfigurasi 3.73GHz frequency, 1.066GHz FSB, EM64T, 2MB L2 cache, dan HyperThreading.

2005: Intel Pentium D 820/830/840

Processor berbasis 64 bit dan disebut dual core karena menggunakan 2 buah inti, dengan konfigurasi 1MB L2 cache pada tiap core, 800MHz FSB, dan bisa beroperasi pada frekuensi 2.8GHz, 3.0GHz, dan 3.2GHz. Pada processor jenis ini juga disertakan dukungan HyperThreading.

2006: Intel Core 2 Quad Q6600

Processor untuk type desktop dan digunakan pada orang yang ingin kekuatan lebih dari komputer yang ia miliki memiliki 2 buah core dengan konfigurasi 2.4GHz dengan 8MB L2 cache (sampai dengan 4MB yang dapat diakses tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power ( TDP )

 

 

2006: Intel Quad-core Xeon X3210/X3220

Processor yang digunakan untuk tipe server dan memiliki 2 buah core dengan masing-masing memiliki konfigurasi 2.13 dan 2.4GHz, berturut-turut , dengan 8MB L2 cache ( dapat mencapai 4MB yang diakses untuk tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power (TDP)

Intel Core i3

Intel Core i3 diluncurkan dengan dua tipe, yaitu untuk desktop processor dan mobile processor (notebook). Untuk tipe desktop, Intel Core i3 menggunakan microarchitecture yang diberi codename Clarkdale, yang memiliki L3 Cache sebesar 4 MiB, dengan Thermal Design Power (TDP) sebesar 74 Watt. Core i3 memiliki core processor sebanyak dua, sedangkan untuk socket yang digunakan masih socket LGA 1156, sama dengan yang digunakan untuk processor Intel Core i5. Teknologi tambahan yang diinjeksikan pada Intel Core i3 adalah didalam processor sudah terdapat GPU atau dengan kata lain, didalam processor sudah terintegrasi dengan GPU.

 

 

 

 

Intel Core i5

Kelebihan Core i5 ini adalah ditanamkannya fungsi chipset Northbridge pada inti processor (dikenal dengan nama MCH pada Motherboard). Maka motherboard Core i5 yang akan menggunakan chipset Intel P55 (dikelas mainstream) ini akan terlihat lowong tanpa kehadiran chipset northbridge. Jika Core i7 menggunakan Triple Channel DDR 3, maka di Core i5 hanya menggunakan Dual Channel DDR 3. Penggunaan dayanya juga diturunkan menjadi 95 Watt. Chipset P55 ini mendukung Triple Graphic Cards (3x) dengan 1×16 PCI-E slot dan 2×8 PCI-E slot. Pada Core i5 cache tetap sama, yaitu 8 MB L3 cache.

Intel Core i7

Core i7 Sendiri adalah Processor pertama dengan teknologi “Nehalem”. Nehalem menggunakan platform baru yang betul-betul berbeda dengan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah mengintegrasikan chipset MCH langsung di processor, bukan motherboard. Nehalem juga mengganti fungsi FSB menjadi QPI (Quick Path Interconnect) yang lebih revolusioner.

Di bawah ini diperlihatkan persaingan antara mikroprosesor Intel dan Motorola modern.

Tabel 1. Perkembangan Mikroprosesor Intel dan Motorola modern

Intel8051Intel8085AIntel8086Intel8088Intel8096Intel80186Intel80188Intel80251Intel80286Intel80386 EXIntel80386 DXIntel80386 SLIntel80386 SLCIntel80386 SXIntel80486 DX/DX2Intel80486 SXIntel80486 DX4IntelPentium IIntelPentiumOverdrive

Pabrik Produk Lebar Bus Data Ukuran Memori
Intel 8048 8 2 K internal
8 8 K internal
8 64 K byte
16 1 M byte
8 1 M byte
16 8 K internal
16 1 M byte
8 1 M byte
8 16 K internal
16 16 M
16 64 M
32 4G
16 32 M
16 32 M + 1 K cache
16 16 M
32 4 G + 8 K cache
32 4 G + 8 K cache
32 4 G + 16 K cache
64 4 G + 16 K cache
32 4 G + 16 K cache

 

Motorola6805Motorola6809Motorola68000Motorola68008 QMotorola68008 DMotorola68010Motorola68020Motorola68030Motorola68040Motorola68050Motorola68060MotorolaPower PC

  (P24T)    
Prosesor Pentium Pro 64 64 G + 16 K L1

cache + 256 K L2

cache

Pentiun II 64 64 G + 32 K L1

cache + 512 L2 cache

Pentium II Xeon 64 64G + 32 K L1 Cache

+ 512 K /1 M cache.

Pentium III, Pentium 4 64 64 G + 32 K L1

cache + 256 K L2

cache

Motorola 6800 8 64 K
8 2K
8 64 K
16 16 M
8 1M
8 4M
16 16 M
32 4G
32 4 G + 256 cache
32 4 G + 8 K cache
32 Tidak dikeluarkan
64 4 G + 16 K cache
64 4 G + 32 K cache

Tabel .2 Perbandingan Data dan Address Bus pada Processor

KelasExternal(bit)TahunMemorymaks(MB)8088

8

8

8

16

16

20

16

20

1976

1978

0,064

1

Kelas Data Bus Address Bus Tahun Memory

maks

(MB)

Internal

(bit)

External

(bit)

Internal

(bit)

8085
8086

80186

80286

80386 SX

16

16

16

16

16

16

16

32

20

20

24

24

20

20

24

32

1978

1981

1983

1988

1

1

16

4096

80386 DX

80486 SX

80486 DX

80486 DX2

80486 DX3

80486 DX4

586DX-100

586DX-133

585DX-166

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

1986

1989

1989

1990

1991

1992

1994

1994

1995

4096

4096

4096

4096

4096

4096

4096

4096

4096

Pentium 60

P-100

P-133

P-166

P-200

Pentium

Pro-133

Pro-166

64

64

64

64

64

64

64

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

1993

1994

1995

1995

1995

1996

1996

4096

4096

4096

4096

4096

4096

4096

Pro-200

K5-75

K5-100

K5-133

K5-166

Cyrix 686

64

64

64

64

64

64

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

32

1996

1994

1995

1995

1996

1995

4096

4096

4096

4096

4096

4096

K5-166

Cyrix 686

64

64

32

32

32

32

32

32

1996

1995

4096

4096

 

 

 

 

Persaingan mikroprosesor yang paling tajam, yaitu sejak generasi ke 5 dari

perkembangan mikroprosesor ketika Intel mengeluarkan mikroprosesor Pentium I, II, III, dan IV; yang disaingi oleh AMD dan Cyrix. AMD mengeluarkan K5, K6, K6-2, K6-3, dan K7 bersaing dengan Pentium MMX dan Pentium II, III, dan IV. Sedangkan Cyrix mengeluarkan dengan tipe 6X86MX (MII), yaitu PR166, PR200, PR233, PR 266, PR300, PR333, PR433, dan PR466.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. SIMPULAN

Dalam perjalanannya, Komputer telah menjalani perkembangan yang sangat

pesat dari tahun ke tahun, baik dari segi teknologinya maupun dari bentuk dan

ukuran yang hingga saat ini terus di kembangkan dengan teknologi yang

semakin canggih dan mudah penggunaanya. Seiring perkembangan jaman

yang semakin modern ini komputer juga tercipta dengan bentuk yang beragam

jenisnya, dari yang dahulu bentuknya sangat besar dan berat sekarang sudah

lebih kecil dan ringan bahkan bisa dibawa kemana-mana . komputer juga

sudah mempengaruhi cara kita bersosialisasi dengan orang lain. komputer

membuat kita dapat berinteraksi secara tidak langsung dengan orang lain

  1. SARAN

Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat mengharapkan kritikan dan

saran yang bersifat menbangun kearah kebaikan demi kelancaran dan

kesumpurnaan penulisan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fairus N.H., Mahir Menggunakan tik dan word 2003, Jakarta, Ganeca Exact, 2007

Naughtyric.blogspot.com klasifikasi komputer2011

www.ilmukomputer.com

Romi Satria Wahono, Apa itu Ilmu komputer, http://www.ilmukomputer.com, 2003

Jogiyanto,Pengenalan Komputer, Andi Offset, 1995

Ir. Edi Nur Sasongko, M.Kom, http://kuliah.dinus.ac.id/edi-nur/pde.htm

Harry Garland. (1979). Introduction to microprocessor system design.

New Jersey : MC Graw Hill.

Jacob Millman. (1979). Microelectronics, Digital and Analog Circuits and Systems. New York: McGraw-Hill, Inc.

Brey,  Barry  B.  (2003). The  intel  microprocessors  :

8086/8088/80186/80286/80386/80486, Pentium, Pentium Pro

processor, Pentium II, Pentium III, and Pentium 4: architecture,

programming, and Interfacing– 6 th ed. New Jersey : Pearson Education.

 

 

 

 

 

 

 

BAHAN AJAR KONSEP DASAR IPS SD (2017)

HAKIKAT MATA KULIAH KONSEP DASAR IPS

 

Istilah pengetahuan umum ada tiga yaitu

–          Ilmu social

–          Study social

–          Ilmu pengetahuan

Selain ketiga itu, istilah menurut cheppy

–          Social education

–          Social learning

Yang memiliki arti IPS adalah istilah yang menitik beratkan kepada berbagai pengalaman disekolah yang dipandang dapat membantu anak didik untuklebih mampu bergaul ditengah-tengah masyarakat. Istilah pengetahuan umum ada 3 yaitu

  1. Ilmu social

Ilmu yangmempelajari tentang disiplin ilmu yang biasa didunia persekolahan perguruan tinggi atau dimasyarakat umum.

  • Pendekatan ilmu social

Pendekatan yang digunakan bersifat disipliner dari bidang imunya masing-masing.

  • Penerapan

Sering terjadi pemahaman keliru antara IPS dan IIS pada guru/pembelajar sehingga menimbulkan implementasi yang kurang teapat, bahkan jauh dari IPS. Aplikasi disekolah IPS sering dipraktikkan sebagai IIS padahal keduanya tidakbisa dipisahkan karena secara tradisional, keduanya memang saling berhubungan.

  1. Study social

Bukan bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis melainkan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social.

  • Pendekatan ilmu social

Pendekatan ini pbersifat interdisipliner atau bersifat multi disipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan.

  • Penerapan

Biasanya diterapkan di tingkat lebih rendah karena bersifat multidimensional yaitu meninjau satugejala/ masalah social dari bebagai dimensi/aspek kehidupan.

Cara kerjanya tidak menekan di bidang teoritis namun di bidang praktis dalam mempelajari gejala dan masalah social yangada dilingkungan masyarakat.

  • Tujuan

Membina warga masyarakat yangmampu menyelaraskan kehidupan berdasarkan kekuatan fisik dan social serta membantu melahirkan kemampuan memecahkan masalah social yang dihadapi.

  1. Ilmu pengetahuan social

Ilmu yang dipelajari kehidupan tentang masyarakat dengan menitik beratkan pada pengalaman disekolah untuk bergaul ditengah masyarakat.

  • Pendekatan IPS

Pendekatannya secara multidisplin atau interdisiplin, dimana topic-topik dalam ips dapat kita manipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau permasalahan yang berperspektif interdisiplin. IPS dan keberadaan dikurikulum Indonesia tidak lepas dari perkembangan dan keberadaan study social di Amerika Serikat yang mempengaruhi kesamaan IPS dari tingkat kependidikan tinggi. SMA, SMP, dan SD tidak menekan pada teoritis keilmuan melainkan lebih menekan pada segi praktis mempelajari, menelah, serta mengkaji gejala dan masalah social , dengan mempertimbangkan bobot dan tingat kemampuan pada tiap jenjang yang berbeda.

  • Tujuan IPS :
  1. Mempersiapkan siswa untuk study lanjut dibidang social sciences jika mau  masuk perguruan tinggi
  2. Mendidk kewarganegaraan yang baik
  3. Berhakikat kompromi antara tujuan satu dan dua
  4. Mempelajari closed  areasatau masalah social yang tidak dibicarakan dimuka umum
  5. Materi disaring dan di sinkronkan kembali. Ada dua hal yaitu pembinaan warga Negara Indonesia atas dasar Pancasila dalm UUD 45 dan sikap social yang rasional dalam kehidupan.

 

Nilai pembelajaran IPS

  1. Nilai edukatif

Agar anak didik mempunyai moral yang lebih baik. Perilaku seperti:

  1. Aspek kognitif
  • Peningkatan nalar social dan kemampuan mencari alternative pemecahan masalah social
    1. Aspek afektif
  • Perilaku yang lebih mewarnai aspek kemanusiaan seperti peraasaaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepedulian, dan tanggung jawab siswa dalm pendidikan IPS
    1. Aspek psikomoter
  • Perilaku mengembangkan keteranpilan social dalma kerja sama, gotong royong dan menolong orang
  1. Nilai praktis

Nilai yangbisa dijalankan / digali dalam kehidupan sehari-hari

Contohnya : lingkungan terkecil keluarga, pasar, jalan, tempat bermain

  1. Nilai teoritis

Nilai yang membina siswa pada proses perjalanannya diarahkan menjadi SDM untuk hari esok .

  1. Nilai filsafat

Nilai perkembangan siswa untuk dapatmengembangkan kesadaran mereka selaku

anggota masyarakat/ makhluk social

  1. Nilai ketuhanan

Nilai yang menghayati sendiri makhluk social berbeda dengan makhluk TYE baik tumbuhan dan binatang

 

Karakteristik mata kuliah konsep dasar IPS

Sebagai progam pendidikan IPS yang layak harus mampu memberikan berbagai penger tian yang mendasar, melatih berbagai keterampilan, serta mengembangkan sikap moral yang dibutuhkan agar peserta didik menjadi warga masyarakat yang berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ketiga aspek yang dikaji dalam proses pendidikan ilmu pengetahuan social (memberikan berbagai pengertian yang mendasar, melatih berbagai keterampilan, serta mengembangkan sikap pengertian yang mendasar, melatih berbagai keterampilan, serta mengembangkan sikap moral yang dibutuhkan). Berikut tiga aspek yang tercakup dalam kajian IPS.

  1. Berbagai pengertian yang selayaknya dimiliki oleh setiap peserta didik melalui progam pendidikan IPS antara lain berikut ini.
  2. Aspek-aspek utama dalam lingkungan keluarga.
  3. Aspek-aspek utama dari lingkungan social.
  4. Aspek-aspek utama dari lingkungan dalam sekitar.
  5. Kesalingketergantungan diantara individu, masyarakat, bangsa dan Negara.
  6. Berbagai upaya manusia beradaptasi dan bekerja sama dalam pelestarian lingkungan.
  7. Berbagai cara manusia memerintah dan diperintah.
  8. Berbagai fungsi kontrol social dalam kelompok.
  9. Hubungan timbal balik antara individu dan antar masyarakat.
  10. Perkembangan-perkembangan utama dari peradaban manusia.
  11. Sifat-sifat yang membentuk kepribadian manusia.
  12. Perkembangan sikap, nilai, dan moral sebagai warga masyarakat dan Negara.
  13. Berbagai keterampilan yang harus dikembangkan mulalui progam pendidikan IPS, antara lain berikut ini:
  14. Befikir kritis.
  15. Menganalisis dan memecahkan masalah.
  16. Menentukan dan mengumpulkan informasi atau data.
  17. Mampu mengorganisasikan dan menilai secara logis.
  18. Membaca dan mendengarkan untuk mampu mengerti secara nala.
  19. Berbicara dan menulis yang sistematis.
  20. Menginterpretasikan atau membaca peta globe, bagan, statistik, dan grafik secara akurat.
  21. Menggunakan konsep ruang dan waktu.
  22. Ikut dalam kegiatan kelompok.
  23. Berbagai sikap moral yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran pendidikan IPS, antara lain berikut ini:
  24. Menghargai harka sesame individu.
  25. Yakin akan adanya persamaan kesempatan dalam berbagai hal bagi semua orang.
  26. Menjunjung tinggi supremasi hukum.
  27. Bekerja sama demi kebahagiaan bersama.
  28. Bersedia membuktikan tanggung jawab sebagai warga Negara.
  29. Yakin akan perlunya demokrasi.
  30. Yakin bahwa manusia mampu dirinya sendiri.
  31. Yakin bahwa problema sosial mampu dipecahkan melalui pemikiran yang kritis.
  32. Yakin akan masa depan yang lebih baik.
  33. Yakin mampu menghadapi arus globalisasi secara positif.

 

Nu’man sumantri, yang dikutip oleh daldjoni (1981) menyatakan bahwa pembaharuan pengajaran IPS sebenarnya masih dalam proses yang penuh berisi berbagai eksperimen. Adapun ciri-ciri yang kedapatan didalamnya memuat rincian sebagai berikut:

  1. Bahan pelajaannya akan lebih banyak memperhatikan minat para siswa, masalah-masalah sosial dekat, keterampilan berfikir (khususnya tentang menyelidiki sesuatu), serta pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
  2. Proga studi ips akan mencerminkan sebagai kegiatan dasar dari manusia.
  3. Organisasi kurikulum IPS akan berfariasi dari susunan yang integreted (terpadu), correlated (berhubungan) sampai yang separated (terpisah).
  4. Susunan bahan pembelajaran akan bervariasi dari pendekatan kewargaan Negara, fungsional, humanistis, sampai yang seturuktual.
  5. Kelas pengajaran IPS akan dijadikan laboraturium demokrasi.
  6. Evalusinya tak hanya akan mencakup aspek-aspek kognitif, efektif, dan psikomotor saja, tetapi juga mencobakan mengembangkan apa yang disebut democratic, quotient,dan citicenship quotient.
  7. Unsur-unsur sosiologi dan pengetahuan sosial lainnya akan melengkapi program pembelajaran IPS,

Demikian pula unsur-unsur science, teknologi, matematika, dan agama akan memperkaya bahan pembelajarannya

 

Nu’man sumantri menyinggung akan kebutuhan pembaharuan pengajaran pendidikan IPS dan untuk memberikan gambaran utuh tentang ciri pengembangan berbagai pendekatan pembelajaran IPS terintegrasi dengan pembelajaran IPS, anda perhatikan penjelasan berikut.

  1. Sparated subject

Pengorganisaian kegiatan pembelajaran dalam bentuk bagian-bagian yang saling terpisah antara yang satu dengan yang lain. Masing-masing bagian disertai dengan satu kesatuan waktu terpisah. Bahan disajikan secara terpisah dan berbeda dengan bagian-bagian yang lain. Proses pembelajaran seperti ini dapat kita temukan pada SLTA dan perguruan tinggi.

  1. Correlation of subject

Suatu modifikasi dari bentuk pendekatan sparated subject dikenalkan sebagai pendekatan korelasi (correlation of subject). Masalah pemilihan bacaan yang dapat dikaitkan dengan topic-topik IPS, hendaknya diseleksi sesuai dengan kebutuhan pembelajaran serta pengaturan waktu yang telah ada. Dengan perancanaan seperti ini, diharapkan akan dapat dihindari adanya pemisahan subjek-subjek yang ada namun tetap menunjukkan antar hubungan antaa ilmu-ilmu sosial yang ada.

  1. Integration of fusion

Nilai utama yang di gunakan pendekatan ini adalah dengan digunakan nya seluruh subjek untuk meningkatkan proses pembelajaran . namun ,kelemahan yang sering pula Nampak adalah apabila guru terlalu bertumpu atau terlalu mendasarkan pada subjek tertentu, dan kurang memperhatikan ketrampilan mengajarnya . apabila hal ini terjadi maka bahasan dapat menghambat IPS karena alokasi waktu yang sedikit, terutama bila untuk mengembangkan kreativitas-kreativitas yang dipersyaratkan proses pembelajaran tersebut.

Berikut adalah berbagai contoh cabang ilmu sosial :

  1. Ekonomi

Objeknya mempelajari tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna mencapai kemakmuran.

  1. Politik

Mempelajari kehidupan Negara, pemerintahan dan kehidupan manusianya sebagai “an organizet of political man”

  1. Ekologi

Mempelajari bagai mana manusia berhubungan dengan lingkungan alamnya ,memelihara , mengembangkan, dan melestarikannya.

  1. Sosiologi

Mempelajari bentuk dan proses sifat atau cirri yang  timbul dari kehidupan masyarakat, yaitu interaksi sosiall yang di lembagakan.

  1. Antropologi

Mempelajari tentang manusia dan karyanya “the science of group of man and their behavior and production”

  1. Psikologi social

Mempelajari proses mental manusia sebagai anggota masyarakat.

  1. Sejarah

Mempelajari aspek historis kehidupan manusia yang meliputi peristiwa kemanusiaan sesuai dengan kurun waktunya dan sesuai dengan urutan kejadian.

  1. Geografi

Mempelajari relasasi manusia dengan akan yang terungkapkan pada pemanfaatan alam dalam berbagai bentuknya.

 

Prinsip-prinsip Pengembangan Materi Pembelajaran IPS

Pemilihan atau seleksi konsep-konsep ilmu-ilmu sosial guna pengembangan materi pembelajaran IPS sesuai dengan kebutuhan pembelajaran pada tingkat yang berbeda tidaklah mudah, namun harus didasarkan pada beberapa prinsip, seperti yang dikemukakan oleh buchori alma dan harlas gunawan (1987) yang menyatakan prinsip-prinsip tersebut, antara lain:

  1. Keperluan

Konsep yang akan diajarkan harus konsep yang diperlukan oleh peserta didik dalam memahami “dunia” sekiitarnya. Oleh sebab itu, lingkungan hidup yang berbeda memerlukan konsep yang lain pula.

  1. Ketepatan

Perumusan yang akan diajarkan harus tepat sehingga tidak member peluang bagi penafsiran yang salah (salah konsep).

  1. Mudah dipelajari

Konsep yang diperoleh harus dapat disajikan dengan mudah. Fakta dan contohnya harus terdapat dilingkungan hidup peserta didik serta sudah dikenal oleh para peserta didik tersebut.

  1. Kegunaan

Konsep yag akan diajarkan hendaknya bena-benar berguna bagi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan benegara Indonesia pada umumnya serta masyarakat lingkungan dimana ia hidup bersama dalam keluarga, dan masyarakat terdekat pada khususnya.

 

Evaluasi Pembelajaran IPS

Evaluasi pada hakekatnya adalah penilaian progam, proses dan hal pendidikan. Dalam pembelajaran IPS evaluasi emiliki pengertian penilaian progam, proses dan hasil pembelajaran IPS. Evaluasi pembelajaran IPS yang berkesinambungan, sebaiknya dilakukan terus menerus sesuai dengan keterlaksanaan pembelajarannya. Evaluasi seperti ini merupakan baro meter atau pengecekan apakah proses yang berlangsung itu dapat diikuti dan dipahami oleh peserta didik, serta seberapa besar penguasaan atau pemahaman peserta didik. Evaluasi itu berfungsi mengungkapkan kelemahan proses kegiatan mengajar yang meliputi bobot materi yang disajikan, metode yang diterapakan, media yang digunakan, dan strategi yang dilaksanakan.

Hasil evaluasi dapat dijadikan dasar memperbaiki kelemahan proses kegiatan belajar mengajar tadi, sedangkan di pihak peserta didik , evaluasi ini berfungsi mengungkapkan penguasaan materi pembelajaran oleh mereka dan juga untuk mengungkapkan kemajuannya secara individual ataupun kelompok dalam mempelajari IPS. Dari sudut peserta didik tujuan evaluasi ini adalah mendorong mereka belajar IPS sebaik-baiknya agar mencapai makna sebesar-besarnya dari apa yang mereka pilajari .

Evaluasi dalam pembelajaran IPS yang memenuhi syarat mencapai tujuan yang sebaik-baiknya, harus berlandasan asas evaluasi yang meliputi:

1)    Asas koprehansif /asas kesinambungan

Menentukan syarat evaluasi itu harus meliputi keseluruhan pribadi peserta didik yang di evaluasi meliputi penguasaan matei (pengetahuan), kecakapan (kecerdasan), keterampilan, kesadaran, dan sikap mental. Jika berpegang pada tosonom bloom evaluasi itu meliputi aspek-aspek kognitif, efektif, dan psikomotor.

2)    Asas kontinuitasi

Pembelajaran IPS mensyaratkan bahwa evaluasi itu wajib dilakukan secara berkesi nambungan mulai dari sebelum (pra) proses belajar membelajarkan IPS iti dilaksanakan, selama prose situ berjalan atau di tengah-tengah (mid) proses berlangsung, dan setelah (pasca) proses tersebut berakhir.

3)    Asas objektif

Evaluasi pembelajaran IPS mensyaratkan bahwa evaluasi itu menilai dan mengukur apa adanya. Selaku guru IPS wajib memberlakukan bahwa peserta didik memiliki peluang dan kesempatan yang sama.

 

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPS TERPADU

 

  1. Pengertian Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas bidang studi (Maryanto, 1994: 3).

 

Secara umum pembelajaran terpadu pada prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuat siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.

 

Pembelajaran terpadu juga suatu model pembelajaran yang dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu artinya, siswa akan memahami konsep-konep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Tim Pengembang D-2 PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar (1997 : 17) yang mengatakan bahwa “ pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa”.Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.

 

Berdasarkan uraian di atas maka pembelajaran terpadu sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain baik berasal dari bidang studi yang bersangkutan ataupun lainnya.
  2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata disekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
  3. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
  4. Menggabungkan sebuah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

 

Konsep Pembelajaran Terpadu

Kecenderungan konsep pembelajaran terpadu diyakini sebagai suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak. Pendekatan ini berangkat dari suatu paham bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu konsep dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.

Adapun untuk dapat melaksanakan pembelajaran terpadu, beberapa hal yang diperlukan antara lain adalah:

  1. Kejelian guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai arahan pengait konseptual intra ataupun antar bidang studi.
  2. Penguasaan material dan metodologi terhadap bidang-bidang studi yang bisa dikaitkan.
  3.     Wawasan kependidikan yang mampu membuat guru selalu waspada untuk memanpaatkan setiap keputusan dan tindakan untuk memberikan uraian nyata bagi pencapaian tujuan utuh pendidikan.

 

Untuk mempermudah ilustrasi proses pembelajaran terpadu, dapat dilihat melalui alur proses seperti dibawah ini:

  1. Topik/tema
  2. Pertanyaan-pertanyaan dari Topik/tema
  3. Bagaimana guru dapat menyusun kegiatan pembelajaran?
  4. Kegiatan apa saja yang dapat meliputi pertanyaan di atas?
  5. Pembelajaran Terpadu
  6. Kegiatan yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan fsikomotor
  7. melalui keterpaduan beberapa mata pelajaran
  8. (Hilda Karli, 2003: 52)
  9. Bagan Alur Proses Pembelajaran Terpadu

 

Berdasarkan bagan di atas kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak, pelaksanaan pendekatan ini bertolak dari suatu topik atau tema-tema yang dipilih/dikembangkan guru bersama anak, tujuan dari tema ini bukan untuk literasi bidang studi, akan tetapi konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana untuk mempelajari topik dan tema tersebut.

 

Karakteristik Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, seperti menurut Hilda Karli (2003: 53) mengungkapkan bahwa pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:

  1. Berpusat pada anak (studend centerd).
  2. Memberi pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
  5. Bersipat luwes.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
  8. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang dimiliki siswa.
  9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
  10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.

 

Wujud lain dari implementasi terpadu yang bertolak pada tema, yakni kegiatan pembelajaran yang dikenal dengan berbagai nama seperti pembelajaran proyek, pembelakaran unit, pembelajaran tematik dan sebagainya.

 

 

Adapun kelebihan-kelebihan pembelajaran terpadu diantaranya:

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
  2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak pada minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran Terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
  5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingklungan anak.
  6. Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain.

 

Selain kelebihan pembelajaran terpadu juga memiliki keterbatasan terutama pada pelaksanaannya, terutama pada aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga terhadap proses.

 

Tipe Pembelajaran Terpadu antar Bidang Studi dan Intra Bidang Studi

 

Fogarty (1991:15) memperkenalkan 10 model pembelajaran terpadu yakni:

  1. Fragmented(terbagi-bagi)
  2. connected(terhubung)
  3. nested(lintas kajian)
  4. seguenced(bertahap)
  5. shaved (berbagi)
  6. webbed(jaring laba-laba)
  7. threaded(perlakuan)
  8. integrated(terpadu)
  9. immersed(menyatu)
  10. (terhubung)

 

Tipe I

Pembelajaran terpadu dalam satu disiplin ilmu (fragmented, connected, nested),

Tipe II

Pembelajaran terpadu antara bidang studi (seguenced, shaved, webbed, threaded, integrated),

Tipe III

keterpaduan dalam faktor siswanya (immersed, networked)

(Fogarty, 1991: XV).

 

Tipe Pembelajaran Terpadu antar Bidang Studi

  1. Seguenced(bertahap)
  2. Shaved(berbagi)
  3. Webbed(jaring laba-laba)
  4. Threoded(bergalur)
  5. Integrated (terpadu)

 

Tipe Keterpaduan dalam Satu Disiplin Ilmu

Fragmented (terbagi-bagi)   

Nested (lintas kajian)                            

Connected (terhubung)

Tipe Keterpaduan dalam Faktor Siswa

Immersed (menyatu)    

Networked

 

Perencanaan Pembelajaran Terpadu Model Integreted

Perencanaan pebelajaran pada hakikatnya adalah rangkaian isi dan kebutuhan pembelajaran yang bersipat menyeluruh dan sistematis yang digunakan sebagai pedoman dari guru dalam mengelola proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran terpadu sangat ditentukan oleh seberapa jauh pembelajaran terpadu itu direncanakan dan dikemas sesuai dengan kondisi peserta didik seperti minat, bakat, kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

 

Langkah-langkah pembelajaran terpadu

  1. Memberi tanda PB/SPB yang dipadukan dan menghubungkannya
  2. Menentukan jenis mata pelajaran yang akan dipadukan
  3. Menyusun daftar PB/SPB mata pelajaran yang dipaduklan
  4. Membaca dan mengkaji uraian PB/SPB
  5. Menentukan tema pemersatu
  6. Penguraian lanjut PB/SPB yang dipadukan
  7. Membuat satuan pembelajaran/rencana masing-masing mata pelajaran

 

Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Model Integreted

Untuk model keterpaduan maka proses pembelajaran terpadunya dapat dikemukakan dalam tabel berikut:

  1. Perencanaan
  2. Pelaksanaan
  3. Kulminasi
  4. Peta konsep berbagai bidang studi
  5. Konsep-konsep berhubungan
  6. Rancangan aktivitas belajar
  7. Pelaksanaan tugas
  8. Analisis hasil
  9. Penyusunan laporan
  10. Penyajian laporan
  11. Evaluasi

 

Adapun langkah dan tahapan dalam pembelajaran terpadu model integreted yaitu:

  1. Langkah guru merancang program rencana pembelajaran dengan mengadakan penjajakan tema dengan cara curah pendapat (brain stroming).
  2. Tahap pelaksanaan melakukan kegiatan:
  3. Proses prengumpulan informasi.
  4. Pengelolaan informasi dengan cara analisis komparasi dan sintesis.
  5. Penyusunan laporan, dapat dilakukan dengan cara verbal, gravisi, victorial, audio, gerak dan model.
  6. Tahap kulmunasi dilakukan dengan:
  7. Penyajian laporan (tertulius, oral, unjuk kerja, produk).
  8. Penilaian meliputi proses dan produk dengan menggunakan prosedur formal dan informal dengan tekanan pada penilaian produk.

 

Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, yaitu dengan cara menggabungakan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam beberapa bidang studi.

 

 

Adapun kekuatan dan kelemahan model integreted yaitu:

Kekuatan :

  1. Memudahkan siswa untuk mengarahkan keterkaitan dan keterhubungan diantara berbagai bidang studi.
  2. Memungkinkan pemahaman antar bidang studi dan memberikan penghargaan terhadap pengetahuan dan keahlian.
  3. Mampu membangun motivasi.

 

Kelemahan:

  1. Sulit diterapkan secara penuh.
  2. Menuntut keterampilan guru dalam percaya diri dan penguasaan konsep sikap juga keterampilannya.
  3. Menghendaki tim antar bidang studi yang kadang-kadang sulit dilakukan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan.
  4. Mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep dari masing-masing disiplin menuntut komitmen terhadap berbagai sumber.

 

Model pembelajaran terpadu model integrated dapat meningkatkan aktifitas dan kreativtas siswa. Yaitu peningkatan hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaannya materi pokok, sikap dan keterampilan siswa dalam pembelajaran di kelas. Tentunya dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapan dari pembelajaran terpadu integrated.

Guru diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan dalam proses pembelajaran serta harus menerima suatu hal yang baru konseptual teknik, metode dan model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.

 

Ruang lingkup IPS

  1. Ditinjau dari aspek-aspeknya meliputi hubungan sosial,ekonomi, psikologi sosial, budaya, sejarah, gegrafi dan politik.
  2. Ditinjau kelompoknya meliputi keluarga, RT, RW, WK, Warga Desa, ormasy. Sampai ke tingkat desa. Lokal, nasional,regional, global.
  3. Proses interaksi sosial meliputi interaksi bid. Kebudayaan, politik dan ekonomi.
  4. Mengingat luasnya cakupan IPS maka guruIPS wajib melakukan sseleksi agar sesuai dg tingkat jenajng dan kemampuan peserta didik.
  5. Wajib mengenali sumber dan apendekatan yang sesuai dg peserta didik

 

NILAI-NILAI yang DIKEMBANGKAN IPS

Nilai edukatif

Nilai praktis

Nilai teoritis

Nilai filsafat

Nilai ketuhanan

 

NILAI EDUKATIF

Salah satu tolok ukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan IPS adalah addanya perubahan tingkah laku sosial peserta didik kearah yang lebih baik.

Menanamkan perasaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepedulian dan tanggung jawab sosial melalui pendidikan IPS, fakta sosial diproses melalui metode dan pendekatan IPS untuk membangkitkan sikap + di atas.

Sikap positif dia tas terus dikembangngkan dalam penddilan IPS untuk mengubah perilaku peserta didik kearah kerja sama, gotong royong, dan membantu pihak2 yang membutuhkan.

Proses pembelajaran IPS tiidak hanya terbatas di kelas dan sekolah pada umummnya melainkan lebih jauh dari itu b dlaksanakan dalam kekhidupan prakttis sehari-hari

 

NILAI PRAKTIS

Pelajaran dan pendidikan tidak memiliki makna yang baik jk tidak memiliki nilai praktis.

Pokok bahasan IPS tidak hanya konsep teoritis belaka, tapi digali dari kehidupan sehari2 (disesuikan dg umur dan kegiatan siswa)

Penget IPS bermanfaat scr praktis dalam kehidupan masa depan

 

NILAI TEORITIS

Pendidikan IPS tak hanya menyajikan fakta & data yang terlepas tp menelaah keterkaitan suatu aspek kehidupan sosial dg lainnya

Dibina +dikkembangkan kemampuan nalar kearah sense of rality, sense of discovery, sense of inquiry, kemampuan mengajukan hipotesis thd suatu masalah.

Dalam menghadapai kehidupan sosial yang berubah ini kemampuan berteori sangat berguna dan strategis. Disini pensdidikan membina dan mengembangkan.

 

NILAI FILSAFAT

Menumbuhkan kemampuan merenung kan HAKIKAT MATA KULIAH KONSEP DASAR IPS

 

Istilah pengetahuan umum ada tiga yaitu

–          Ilmu social

–          Study social

–          Ilmu pengetahuan

Selain ketiga itu, istilah menurut cheppy

–          Social education

–          Social learning

Yang memiliki arti IPS adalah istilah yang menitik beratkan kepada berbagai pengalaman disekolah yang dipandang dapat membantu anak didik untuklebih mampu bergaul ditengah-tengah masyarakat. Istilah pengetahuan umum ada 3 yaitu

  1. Ilmu social

Ilmu yangmempelajari tentang disiplin ilmu yang biasa didunia persekolahan perguruan tinggi atau dimasyarakat umum.

Pendekatan ilmu social

Pendekatan yang digunakan bersifat disipliner dari bidang imunya masing-masing.

Penerapan

Sering terjadi pemahaman keliru antara IPS dan IIS pada guru/pembelajar sehingga menimbulkan implementasi yang kurang teapat, bahkan jauh dari IPS. Aplikasi disekolah IPS sering dipraktikkan sebagai IIS padahal keduanya tidakbisa dipisahkan karena secara tradisional, keduanya memang saling berhubungan.

  1. Study social

Bukan bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis melainkan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social.

Pendekatan ilmu social

Pendekatan ini pbersifat interdisipliner atau bersifat multi disipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan.

Penerapan

Biasanya diterapkan di tingkat lebih rendah karena bersifat multidimensional yaitu meninjau satugejala/ masalah social dari bebagai dimensi/aspek kehidupan.

Cara kerjanya tidak menekan di bidang teoritis namun di bidang praktis dalam mempelajari gejala dan masalah social yangada dilingkungan masyarakat.

Tujuan

Membina warga masyarakat yangmampu menyelaraskan kehidupan berdasarkan kekuatan fisik dan social serta membantu melahirkan kemampuan memecahkan masalah social yang dihadapi.

  1. Ilmu pengetahuan social

Ilmu yang dipelajari kehidupan tentang masyarakat dengan menitik beratkan pada pengalaman disekolah untuk bergaul ditengah masyarakat.

Pendekatan IPS

Pendekatannya secara multidisplin atau interdisiplin, dimana topic-topik dalam ips dapat kita manipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau permasalahan yang berperspektif interdisiplin. IPS dan keberadaan dikurikulum Indonesia tidak lepas dari perkembangan dan keberadaan study social di Amerika Serikat yang mempengaruhi kesamaan IPS dari tingkat kependidikan tinggi. SMA, SMP, dan SD tidak menekan pada teoritis keilmuan melainkan lebih menekan pada segi praktis mempelajari, menelah, serta mengkaji gejala dan masalah social , dengan mempertimbangkan bobot dan tingat kemampuan pada tiap jenjang yang berbeda.

 

Tujuan IPS :

  1. Mempersiapkan siswa untuk study lanjut dibidang social sciences jika mau  masuk perguruan tinggi
  2. Mendidk kewarganegaraan yang baik
  3. Berhakikat kompromi antara tujuan satu dan dua
  4. Mempelajari closed  areasatau masalah social yang tidak dibicarakan dimuka umum
  5. Materi disaring dan di sinkronkan kembali

Ada dua hal yaitu pembinaan warga Negara Indonesia atas dasar Pancasila dalm UUD 45 dan sikap social yang rasional dalam kehidupan.

 

Nilai pembelajaran IPS

  1. Nilai edukatif

–          Agar anak didik mempunyai moral yang lebih baik. Perilaku seperti:

  1. Aspek kognitif

–          Peningkatan nalar social dan kemampuan mencari alternative pemecahan masalah social

  1. Aspek afektif

–          Perilaku yang lebih mewarnai aspek kemanusiaan seperti peraasaaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepedulian, dan tanggung jawab siswa dalm pendidikan IPS

  1. Aspek psikomoter

keberadaannya dan pernannya di tengah masyrakat shg tumbuh kesadaran mrk srlaku anggota msy. Atau sebagai makhluk sosial

 

NILAI KETUHANAN

Selaku guru IPS harus menyadari bahwa materi proses pembelajaran apapun pada pendidikan IPS wajib berlandaskan nilai ketuhanan.

Kekaguman akan ciptaa-Nya akan menumbuhkan rasa syukur kepadaNYA ssebagaikunci kebahagiaan manusia lahir dan bathin.

 

PROSES PEMBELAJARAN BERTAHAP

Sejarah

Ekonomi

Budaya

Psikologi

Hub sosial

Politik

Geografi

 

PROSES PEMBELAJARAN IPS

  1. Penguasaan materi sebagai landasan kepercayaan
  2. Anak didik kita tidak kosong sama sekali oleh pengetahuan sosial
  3. Proses pembelajaran mengkaitkan fenomena yang ada di sekitar anak, dapat memperkaya pengetahuan, mempertajam penalaran
  4. Anak mempunyai pengetahuan sesuai dengan penghayatan dan pegalamannya
  5. Kejadian sosial yang nyata dialami dan diamati dapat ditarik ke dalam kelas sebagai bahasan yang menarik
  6. Makna yang wajib dihayati dalam proses pembelajaran IPS yaitu nilai-2 kehidupan yang menjadi landasan kebahagiaan hidup di masyarakat sebagai makluk sosial.-
  7. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh nilai2 yang bermakna, akan menjadikan siswa yang berkemampuan intelektual tinggi namun emosinya tumpul-
  8. Nilai yang wajib dihayati nialai filsafat yang menjadi kaesadaran keberadaan manusia di masyarakat dan lingkungan.
  9. Nilai keTuhanan yang menjadi landasan IMTAQ, baersyukur atas nikmat, kekaguman atas makhluk ciptaan Tuhan,
  10. Emosi tumpul berarti lebih mementingkan nilai material dari pada nilai moral
  11. Atau mengobankan nilai moral demi tercapainya nilai maaterial.

 

YANG HARUS DIHINDARI GURU IPS

  1. Proses pembelajaran IPS yang makin membuat siswa asing tehadap kehidupan yang sesungguhnya.
  2. Mendidik siswa hafal materi IPS yang diperoleh di sekolah namun tidak mengetahui hal tsb dalam kehidupan sehari2 –
  3. Untuk meningkatkan nalar penghayatan dan kepedullian siswa thd masalah sosial yang terjadi di masyarakat materi pembelajaran dapat diberikan sebagai tantangan, materi tidak saja dilontarkan
  4. Untuk meningkatkan nalar penghayatan dan kepedullian siswa thd masalah2an sosial yang terjadi di masyarakat materi pembelajaran dapat diberikan sebagai tantangan, materi toidak saja dilontarkan
  5. Dalam proses pembelajaaran IPS ragamm pendekaatan dan metode yang diterapkan disesusikan dg kondisi lingkup msyarakat serta aspek yang menjadi pokok bahasan.
  6. Keragaman penekatan dan metode yang ditrapka pada proses pembelajaran IPS, dapat mempertahankan suasana hangat dan menarik

 

Empat landasan dalam proses pembelajaran IPS adalah telah dimiliki

1) Mental psikologis yang melekat pada diri peserta didik,

2) Pengetahuan sosial yang scr spontan

3) Ruang lingkup IPS sangat luas

4) Nilai-nilai yang melekat pada pendidikan IPS

 

PARADIGMA PENDIDIKAN IPS

 

Konsep dan Rasional “social tudies”

  1. Dalam wacana kurikulum sistem Pendidikan di Indonesia terdapat tiga jenis program pendidikan sosial, yakin: program (pendidikan) ilmu-ilmu sosial (IIS) yang dibina pada fakultas-fakultas sosial murni; disiplin ilmu pengetahuan sosial (PDPIS) yang dibina pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial: dan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (PIPS) yang diberikan terutama di dalam pendidikan persekolahan
  2. Perkembangan PIPS dan PDIPS secara konseptual terkait erat pada konsep “social studies” secara umum, dan secara kurikuler terkait erat pada perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana karakteristik dan perkembangan PDIPS perlu dikaitkan dengan konsep, dan perkembangan “social studies” dan konsep serta perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan.
  3. Konsep “social studies” secara umum berkembang secara evolusioner di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an, yang kemudian mengkristal menjadi domain pengkajian akademik pada tahun 1900-an, antara lain dengan berdirinya National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1935. Pilar akademik pertama muncul dalam pertemuan pertama NCSS tahun 1935, berupa kesepakatan untuk menempatkan “social studies” sebagai “core curriculum”, dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian “social studies” yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni “The social studies are the social. sciences simplified for pedagogical purposes”.
  4. Dari penelusuran historis epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi “social studies” mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketakmenentuan, ketakberkeputusan, ketakbersatuan, dan ketakmajuan. Antara tahun 1940-1950 “social studies” mendapat serangan dari berbagai sudut; tahun. 1960-1970-an timbulnya tarik-menarik antara pendukung gerakan the new social studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan “social studies” yang menekankan pada “citizenship education”. Para pendukung gerakan “the new social studies” kemudian mendirikan Social Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan “social studies” yang terpisah pada “citizenship education”
  5. Pada era 1980-1990-an NCSS kelompok berhasil, menyepakati “scope and sequence of social studies”, yakni tahun 1963; kemudian pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep “social studies” untuk abad ke 21 yang dituangkan dalam “Charting A Course: Social Studies for the 21st Century”, dan terakhir pada tahun 1994 disepakati “Curriculum Standards for Social Studies”. Dalam perkembangan terakhir itu NCSS masih tetap menempatkan “citizenship education” sebagai inti dari tujuan “social studies”. Sementara itu pada kelompok SSEC, kelompok bidang studi ekonomi mengembangkan secara tersendiri “economics education”.

 

Paradigma Pendidikan IPS

 

Pemikiran mengenai konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran “social studies” di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang itu. Reputasi tersebut tampak dalam perkembangan pemikiran mengenai bidang itu seperti dapat disimak dari berbagai karya akademis yang antara lain dipublikasikan oleh National Council for the Social Studies (NCSS).

 

Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972-1973, yakni dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam Kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran sosial terpadu. Dalam Kurikulum tersebut digunakan istilah Pendidikan Kewargaan negara yang di dalamnya tercakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, dan Civics yang diartikan sebagai Pengetahuan Kewargaan Negara.
Dalam Kurikulum 1975 pendidikan IPS menampilkan empat profil yakni: (1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang mewadahi tradisi “citizenship transmission”; (2) pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah Dasar; (3) pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep payung yang menaungi mata palajaran geograft, sejarah, dan ekonomi koperasi; dan (4) pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG.
Bila disimak dari perkembangan pemikiran pendidikan IPS yang terwujudkan dalam Kurikulum sampai dengan dasawarsa 1990-an ini pendidikan IPS di Indonesia mempunyai dua konsep pendidikan IPS, yakni: pertama, pendidikan LPS yang diajarkan dalam tradisi “citizenship transmissio” dalam bantuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan. Kewarganegaraan dan Sejarah Nasional; kedua, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi “social science” dalam bentuk pendidikan IPS terpisah dari SMU, yang terkonfederasi di SLTP, dan. yang terintegrasi di SD.
Dilihat dari perkembangan pemikiran yang berkembang di Indonesia sampal saat ini pendidikan IPS terpilah dalam dua arah, yakni: Pertama, PIPS untuk dunia persekolahan yang pada dasarnya merupakan penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, dan humaniora, yang diorganisasikan secara psiko-pedagogis untuk tujuan pendidikan persekolahan; dan kedua, PDIPS untuk perguruan tinggi pendidikan guru IPS yang pada dasarnya merupakan penyeleksian dan pengorganisasian secara ilmiah dan meta psiko-pedagogis dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan disiplin lain yang relevan, untuk tujuan pendidikan. profesional guru IPS. PIPS merupakan salah satu konten dalam PDIPS

 

. PARADIGMA PENDIDIKAN IPS

  1. KONSEP DAN RASIONAL “SOSIAL STUDIES” SECARA UMUM
  2. Dalam wacana kurikulum sistem Pendidikan di Indonesia terdapat tiga jenis program pendidikan sosial, yakni : Program (pendidikan) ilmu-ilmu sosial (IIS) yang dibina pada fakultas-fakultas sosial murni; disiplin ilmu pengetahuan sosial (PDPIS) yang dibina pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial; dan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (PIPS) yang diberikan terutama di dalam pendidikan persekolahan
  3. Perkembangan PIPS dan PDIPS secara konseptual terkait erat pada konsep “sosial studies” secara umum, dan secara kurikuler terkait erat pada perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana karakteristik dan perkembangan PDIPS perlu dikaitkan dengan konsep, dan perkembangan “sosial studies” dan konsep serta perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan.
  4. Konsep “sosial studies” secara umum berkembang secara evolusioner di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an, yang kemudian mengkristal menjadi domain pengkajian akademik pada tahun 1900-an, antara lain berdirinya National Council for the Sosial Studies (NCSS) pada tahun 1935. Pilar akademik pertama muncul dalam pertemuan pertama NCSS tahun 1935, berupa kesepakatan untuk menempatkan “sosial studies” sebagai “core curriculum”, dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian “sosial studies” yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni “The sosial studies are the sosial. Science simplified for pedagogical purposes”.
  5. Dari penelusuran histories epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi “sosial studies” mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketakmenentuan, ketakberkeputusan, ketakbersatua, dan ketakmajuan. Antara tahun 1940-1950 “sosial studies” mendapat serangan dari berbagai sudut; tahun 1960-1970-an timbul tarik menarik antara pendukung gerakan the new sosial studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan “sosial studies” yang menekankan pada “citizenship educatin”. Para pendukung gerakan “the new sosial studies” kemudian mendirikan Sosial Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan “sosial studies” yang terpisah pada “citizenship education:
  6. Pada era 1980-1990-an NCSS kelompok berhasil, menyepakati “scope and sequence of sosial studies” yakni tahun 1963; kemudian pada pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep “sosial studies” untuk abad ke-21 yang dituangkan dalam “Charting A Course: Sosial Studies for the 21st Century”, dan terakhir pada tahun 1994 disepakati “Curriculum Standards for Sosial Studies”. Dalam perkembangan terakhir itu NCSS masih tetap menempatkan “citizenship education” sebagai inti dari tujuan “sosial studies”. Sementara itu pada kelompok SSEC, kelompok bidang studi ekonomi mengembangkan secara tersediri “economics education”.
  7. PARADIGMA PENDIDIKAN IPS INDONESIA

Pemikiran mengenai konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran “sosial studies” di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang itu. Reputasi tersebut tampak dalam perkembangan pemikiran mengenai bidang itu seperti dapat disimak dari berbagai karya akademis yang antara lain dipublikasikan oleh National Council for the Sosial Studies (NCSS).

Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972-1973, yakni dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran sosial terpadu. Dalam kurikulum tewrsebut digunakan istilah Pendidikan Kewargaan Negara yang di dalamnya tercakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, dan Civics yang diartikan sebagai Pengetahuan Kewargaan Negara.

Dalam kurikulum 1975 pendidikan IPS menampilkan empat profil yakni: (1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang mewadahi tradisi “citizenship transmission”; (2) pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah Dasar; (3) Pendidikan IPS menaungi mata pelajaran geografi, sejarah, dan ekonomi koperasi; dan (4) pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, geografi dan ekonomi untk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG.

Bila disimak dari perkembangan pemikiran pendidikan IPS yang terwujudkan dalam kurikulum sampai dengan dasawarsa 1990-an ini pendidikan IPS di Indonesa mempunyai dua konsep pendidikan IPS, yakni: pertama, Pendidikan LPS yang diajarkan dalam tradisi “citizenship transmission” dalam bentuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Sejarah Nasional; kedua, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi “sosial science” dalam bentuk pendidikan IPS terpisah dari SMU, yang terkonfederasi di SLTP, dan yang terintergrasi di SD.

Dilihat dari perkembangan pemikiran yang berkembang di Indonesia sampai saat ini pendidikan IPS terpilah dalam dua arah, yakni: Pertama, PIPS untuk dunia persekolahan yang pada dasarnya merupakan penyederhanaaan dari ilmu-ilmu sosial, dan humaniora, yang diorganisasikan secara psiko-pedagogis untuk tujuan pendidikan persekolahan; dan kedua, PDIPS untuk perguruan tinggi pendidikan guru IPS yang pada dasarnya merupakan penyeleksian dan pengorganisasian secara ilmiah dan meta psiko-pedagogis dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan disiplin lain yang relevan, untuk tujuan pendidikan. Professional guru IPS. PIPS merupakan salah satu konten dalam PDIPS.

 

MODUL 2. PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL

  1. PERILAKU SOSIAL

Perilaku erat kaitannya dengan kepribadian, yang terbentuk melalui sosialisasi semenjak masa kanak-kanak sampai usia tua, sehingga menjadi ajang pembinaan kepribadian (personality building) bagi seseorang. Sosialisasi dan kepribadian akan membentuk sistem perilaku (behavior sistem), dimana perilaku tersebut harus menyesuaikan dengan kaidah yang berlaku (conformity), tetapi sering terjadi perilaku yang menyimpang (deviation) yang memicu terjadinya perubahan sosial.

Tindakan sosial adalah tindakan individu yang diarahkan pada orang lain dan memiliki arti, baik bagi diri si pelaku maupun bagi orang lain. Dalam tindakan sosial mengandung tiga konsep, yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman. Cirri-ciri sari tindakan sosial adalah: tindakan memiliki makna subjektif, tindakan nyata yang bersifat membantin dan bersifat subjektif, tindakan berpengaruh positif, tindakan diarahkan pada orang lain dan tindakan merupakan respons terhadap tindakan orang lain. Berdasarkan tingkat pemahamannya, terdapat rasionalitas instrument, rasionalitas berorientasi nilai dan tindakan afektif serta tindakan tradisional.

Interaksi sosial merupakan prasyarat terbentuknya masyarakat, karena melalui interaksi tersebut akan terjalin hubungan antarindividu dan individu dengan kelompok serta hubungan antar kelompok, yang ditandai dengan adanya hubungan timbale balik antara pihak yang berinteraksi. Terjadinya interaksi sosial diperlukan kontak sosial dan komunikasi. Imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati, merupakan faktor yang dapat melangsungkan interaksi sosial. Dalam kehidupan sehari-hari ditemui dua bentuk interaksi sosial, yaitu yang bersifat asosiatif dan disosiatif. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif adalah kerjasama (cooperative) dan akomodasi (accommodation) , sedangkan yang termasuk ke dalam bentuk disosiatif yaitu persaingan (competition), kontraversi (contravention) dan pertentangan (conflict).

 

  1. PERUBAHAN SOSIAL

Dinamika masyarakat dicirikan dengan adanya perubahan sosial, oleh karena itu tidak ada satu masyarakat pun yang statis. Terjadinya perubahan pada salah satu aspek kehidupan dapat menimbulkan perubahan pada aspek yang lainnya, baik yang menyangkut material maupun nonmaterial, sehingga sering menimbulkan disintegrasi yang diikuti dengan adanya reorganisasi untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan sosial.

Perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk faktor internal yaitu yang berasal dari masyarakat itu sendiri, seperti : perubahan komposisi penduduk, konflik dan penemuan baru. Sedangkan faktor eksternal yaitu yang berasal dari luar masyarakat, seperti : bencana alam, peperangan, intervensi dan budaya asing. Selain itu, terdapat pula faktor penghambat dan pendorong perubahan. Faktor penghambat yaitu : perkembangan ilmu pengetahuan yang berjalan lambat, sikap tradisional, solidaritas kelompok tinggi, kepentingan, prasangka buruk pada pihak luar san takut akibat dari perubahan. Faktor pendorong perubahan adalah pendidikan yang maju, sikap menghargai karya orang lain, toleransi dan sistem masyarakat terbuka.

Berlangsungnya perubahan dapat terjadi secara lambat atau cepat, meliputi skala kecil dan besar, direncanakan dan tidak direncanakan. Perubahan sosial yang cepat dan tidak direncanakan sering menimbulkan disintegrasi dalam berbagai bentuk konflik sosial.

  1. KONFLIK SOSIAL

Konflik sosial adalah pertentang antar anggota atau antar kelompok dalam masyarakat yang sifatnya menyeluruh, yang disebabkan oleh adanya beberapa perbedaan, yaitu perbedaan individu, perbedaan pola budaya, perbedaan status sosial, perbedaan kepentingan dan terjadinya perubahan sosial.

Bagi masyarakat, terjadinya konflik memiliki beberapa fungsi yaitu : mendorong upaya akomodasi, menjadi media untuk meningkatkan solidaritas, memungkinkan terjalinnya kerjasama, meningkatkan peran individu dan mendorong terjadinya komunikasi. Terdapat enam bentuk konflik sosial yaitu: konflik pribadi, konflik kelompok, konflik antar kelas, konflik rasial, konflik politik dan konflik budaya.

Berdasarkan tingkatannya, konflik sosial dibedakan atas tiga tingkatan, yaitu : konflik tingkat rendah, konflik tingkat menengah dan konflik tingkat tinggi. Agar supaya konflik tersebut tidak menimbulkan disintegrasi dalam masyarakat, maka diperlukan upaya-upaya untuk mengatasinya. Cara yang biasa ditempuh untuk mengatasi konflik tersebut adalah melalui, konsiliasi, mediasi, arbitrasi, paksaan dan détente.

 

Modul 3. MANUSIA DAN LINGKUNGAN

  1. SALING KETERGANTUNGAN ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Sejak masa prasejarah nenek moyang kita sudah mempunyai kemampuan merefleksikan bagaimana dunia sekelilingnya mempengaruhi dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan mampu menjelaskan suatu pandangan yang lebih bijak tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alam.

Beberapa ahli ilmu pengetahuan alam menyatakan bahwa teknik-teknik baru yang digunakan oleh manusia akan mampu mengontrol alam serta meningkatkan kesejahteraan umat manusia di masa mendatang. Sebaliknya ahli-ahli lain berpendapat bahwa kita masih sangat terikat dari “campur tangan alam.”

Secara hakikat pemikiran kondisi geografik, menolak gagasan yang mengatakan lingkungan hidup mengontrol tindakan-tindakan manusia. Menurut pemikiran geografi malah terjadi sebalinya, yakni bahwa manusia secara aktif merupakan agen dominan yang mampu memanipulasi dan memodifikasi habitatnya (lingkungan sekitarnya). Walaupun demikian kita tidak bisa lepas dari pengaruh alam.

Seacara sederhana dapat dikatakan bahwa suatu kebudayaan adalah keseluruhan pandangan hidup suatu penduduk yang penekanannya pada standar yang idealis, didesain oleh penduduk bagi kepentingannya.

Carl Ritter seorang tokoh yang sangat memperhatikan tentang sejarah perkembangan kebudayaan umat manusia yang beranekaragam dipelbagai belahan dunia. Menurut pendapatnya masyarakat manusia akan mengalami perkembangan dari bangsa barbarisme, yang sangat kejam sampai menjadi bangsa yang beragama dan beradab.

Alexander Van Humblodt berdasarkan hasil studinya yang dilakukan tentang bentang lahan, iklim, mencoba membahas adanya perbedaan kebudayaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Hipocrates, Aristoteles dan Jean Bodin menggambarkan adanya pengaruh setiap habitat terhadap penduduknya. Sebagai contoh karena iklim di Eropa terdiri dari beberapa musim hingga fisik orang-orang Eropa lebih besar daripada orang-orang Asia. Demikian juga dalam hal perjuangan, organisasi maupun politik.

Dalam geografi adanya suatu pendekatan yang dikenal dengan inveronmentalisme. Paham ini melaetakan pondasi yang terpenting dalam pandangannya bahwa aktivitas manusia kondisinya sedemikian kuat atau dipengaruhi oleh lingkungan hidup.

Sedangkan Federik Ratzel seorang ahli geografi dan etnologi, merupakan orang pertama yang menyanggah keyakinan kaum inveronmentalis, dalam argumentasi di salahsatu essainya ia menegaskan posisi yang paling penting adalah faktor kebudayaan.

 

  1. DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA

Bagi ahli geografi dampak manusia terhadap lingkungan alam sesungguhnya lebih banyak diperhatikan bila dibandingkan dengan kaitannya isu-isu sosial.

Untuk memahami bagaiman asal mula perubahan energi dari satu makhluk ke makhluk lain di bumi maka dapat digambarkan sebagai berikut: Kehidupan di bumi berasal dari energi matahari. Melalui fotosintesa diubahlah energi ini ke dalam bentuk energi kimia di dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagai respon bagi kita untuk bertahan hidup, serta semua makhluk hidup lainnya, maka kita makan tumbuh-tumbuhan tersebut dalam proses ini energi kimia yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan ditaransformasi menjadi energi gerak. Beberapa makhluk hidup memang tidak langsung makan tumbuh-tumbuhan. Tetapi energi mereka didapatkan dengan cara memakan binatang serangga dan ikan, bila ditelusuri kebelakang akhirnya sampai pada tanaman.

Semakin tinggi teknologi suatu masyarakat semakin bertambah besar tingkat ketergantungannya pasa konsumsi energi dan semakin besar hilangnya panas. Maka akan menciptakan lembaga pengrusakan pada biosfir atau oktosfir.

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang makin pesat dorongan pertumbuhan ekonomi berbagai negara mengakibatkan berbagai pemborosan sumber daya alam yang berakibat kemorosotan kualitas lingkungan.

Pada saat ini terjadinya kemorosaotan kualitas lingkungan sudah menjangkau ke berbagai segi kehidupan. Sebagai contohnya antara lain terjadinya ; mutasi gen antar manusia terselubung, hujan asam, dampak rumah kaca, lobang lapisan ozon.

  1. PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Kemampuan lingkungan hidup sangat terbatas secara kuantitas atau jumlahnya.

Peraturan pengelolaan lingkungan hidup:Udang-undang No. 23 tahun 1997.

Pengertian lingkungan hidup (UU No 4 tahun 1982 atau No. 23 tahun 1997) sebagai suatu kesatuan ruang yang terdiri dari benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnyaKomponen lingkungan hidup:

  1. fisik,
  2. biotis,
  3. sosial,
  4. ekonomi,
  5. budaya dan
  6. kesehatan masyarakat.

Azas Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup: pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan (berkelanjutan).

Setiap orang mempunyai kewajiban untuk dapat memelihara lingkungan hidup di muka bumi.

Perangkat pengelolaan lingkungan: AMDAL, UKL, UPL.

Penyelenggaraan pengelolaan lingkungan dengan memanfaatkan perangkat sukarela dianggap sebagai gambaran kepedulian yang tinggi dalam upaya pengelolaan lingkungan.

Permasalahan lingkungan telah mendapat perhatian yang luas di berbagai negara sejak dasawarsa 1970-an hingga sekarang ini.

Konferensi lingkungan hidup sedunia di Stockholm tahun 1972 maka sampai sekarang telah banyak dikeluarkan penanganan masalah lingkungan baik oleh masing-masing negara maupun antar negara.

Isu-isu lingkungan telah menjadi isu seluruh dunia seperti rusaknya lapisan ozon, masalah perubahan iklim global dan lain sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa dalam melakukan pembangunan perlu dilakukan melalui pendekatan ekologis.

Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan, baik yang direncanakan maupun di luar rencana, dapat menurunkan atau menghapus kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan kita pada tingkat kualitas hidup yang lebih tinggi.

 

INDIVIDU, KELOMPOK DAN KELEMBAGAAN

  1. INDIVIDU DAN KELOMPOK SOSIAL

Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan manusia lain. Sebagai akibat dari hubungan yang terjadi di antara individu-individu (manusia) kemudian lahirlah kelompok-kelompok sosial (sosial group) yang dilandasi oleh kesamaan-kesamaan kepentingan bersama.

Namun bukan berarti semua semua himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial. Untuk dikatakan kelompok sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu.

Macam-macam kelompok sosial meliputi :

  1. klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial;
  2. kelompok sosial dipandang dari sudut individu;
  3. in groupdan out group
  4. primary group dan secondary group;
  5. gemeinschalf dan geselfchaft

Primary group adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat pribadi. Sedangkan yang dimaksud pengertian secondary group adalah kebalikan dari primary graoupSecondary group sebagai kelompok-kelompok yang besar, yang terdiri banyak orang antara siapa hubungannya tak perlu berdasarkan kenal mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak begitu langgeng.

Tonnies dam Loomis menyatakan bahwa gemeinschalf adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan. Contoh bentuk gemeinschalf dijumpai dalam keluarga, kelompok kekerabatan dan rukun tetangga. Sedangkan gesefchaft adalah kebalikannya, yaitu berupa ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat imajiner dan strukturnya bersifat mekanis sebagaimana terdapat dalam mesin. Contoh bentuk geselfchaft ini terdapat bentuk utama hubungan perjanjian berdasarkan ikatan timbal balik. Seperti ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik, industri dan lain-lain.

Di samping ada kelompok sosial juga terdapat sistem sosial dalam bentuk piramida sebagai berikut :

  1. lapisan sosial atas (upper)
  2. lapisan sosial menengah (midle)
  3. lapisan sosial rendah (lower)

 

  1. KELEMBAGAAN (SOSIAL INSTITUTION)

Beberapa pendapat para ahli sosiologi tentang pengertian kelembagaan (Sosial Institution). Menurut Soerjono Soekanto (1982;191) mendefenisikan bahwa lembaga kemasyarkatan adalah “sesuatu bentuk dan sekaligus mengandung pengertian-pengertian yang abstrak perihal norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri-ciri dari lembaga kemasyarakatan. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1984:165) adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku masyarakat. Pranata sosial diberi arti sebagai sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Lembaga kemasyarakatan terbentuk melalui proses disebut sebagai lembaga institusional, atau kelembagaan nilai-nilai yang dibentuk untuk membantu hubungan antar manusia di dalam masyarakat. Nilai-nilai yang mengatur tersebut dikenal dengan istilah norma yang mempunyai kekuatan mengikat dengan kekuatan yang berbeda-beda. Norma-norma tersebut dapat dibedakan seperti berikut : cara (ussage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).

Lembaga kemasyarakatan disamping seperti yang dijelaskan tersebut di atas, lembaga kemasyarakatan juga memiliki ciri-ciri dan tipe-tipe berdasarkan: pelembagaannya, sistem nilai, penyebarannya dan bagaimana penerimaan di masyarakat.

Dalam lembaga kemasyarakatan juga terdapat social control (sistem pengendalian sosial) yang dilakukan bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik yang bersifat preventif maupun represif.

 

KONSEP WAKTU, PERUBAHAN, DAN KEBUDAYAAN

  1. PEMBELAJARAN KONSEP WAKTU

Tugas Sejarah:

membuka kegelapan masa lampau manusia, memaparkan kehidupan manusia, dalam berbagai aspek kehidupan dan mengikuti perkembangannya dari masa yang paling tua hingga kini dan untuk dijadikan pedoman di masa kini dan masa yang akan datang.

Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti kelangsungan (continuity) dan satuan atau jangka berlangsungan perjalanan waktu (duration). Kelangsungan waktu atas kesadaran manusia, terhadap waktu dibagi menjadi tiga dimensi yaitu : waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang di dalam satu kontinuitas.

Dimensi waktu dalam sejarah adalah penting sekali karena peristiwa yang menyangkut masyarakat manusia terjadi atau berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu. Akan tetapi karena tak dapat ditentukan kapan waktu berawal dan kapan waktu berakhir, maka terbatasnya konsep tentang kelangsungan waktu itu lalu dibatasi dengan awal dan akhir atas dasar kesadaran manusia yang disebut periode atau kurun waktu atau babakan waktu. Babakan waktu juga dinamai penzaman, serialisasi, periodesasi dan masa.

Sejarah lokal merupakan sejarah yang terjadi di satu tempat saja. Pengaajaran sejarah lokal sangat penting guna menumbuhkan rasa kecintaan terhadap daerahnya sendiri.

 

  1. PEMBELAJARAN KONSEP PERUBAHAN

Perubahan merupakan gejala yang umum terjadi pada masyarakat manusia, tidak ada satu masyarakat pun yang benar-benar statis, cepat atau lambat semua masyarakat akan mengalami perubahan.

Ada dua macam perubahan, yaitu perubahan sosial dan kebudayaan.

Perubahan sosial adalah perubahan lembaga-lembaga, kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang sistem sosialnya termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola prilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan.

Perubahan kebudayaan mencakup: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan sejenisnya bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk dan aliran-aliran organisasi sosial.

Perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai aspek yang sama, yaitu kedua-duanya bersangkut paut dengan penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dari cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perubahan itu ada yang berjalan lambat, ada juga yang berjalan cepat.

Disamping itu ada perubahan yang kecil pengaruhnya dan ada yang besar, serta ada perubahan yang dikehendaki dan ada pula perubahan yang tidak dikehendaki dan tidak direncanakan.

Sebab-sebab terjadinya perubahan ada yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang berasal dari luar masyarakat. Disamping itu ada juga sejumlah faktor yang mendorong jalannya perubahan dan ada juga sejumlah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan.

  1. PEMBELAJARAN KONSEP KEBUDAYAAN

Kebudayaan disebut superorganis karena walaupun kebudayaan adalah hasil ciptaan manusia tetapi budaya menguasai manusia.

Kebudayaan hanya dinilai oleh masyarakat manusia yang tidak diturunkan secara biologis tetapi melallui proses belajar, yang didukung, diteruskan melalui masyarakat. Kebudayaan juga merupakan pernyataan atau perwujudan kehendak, perasaan dan pikiran manusia.

Kebudayaan memiliki unsur-unsur yang universal, yang artinya unsur-unsur kebudayaan ini dimiliki oleh semua budaya-budaya manusia yang ada di muka bumi ini, dari masyarakat sederhana sampai masyarakat modern.

Unsur-unsur kebudayaan universal meliputi: sistem bahasa, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia atau sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi dan sistem kesenian.

Unsur kebudayaan universal itu mempunyai tiga wujud yang menurut Koentjaraningrat wujud kebudayaan itu dapat berupa sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

Kebudayaan dari waktu ke waktu selalu berubah karena adanya faktor-faktor dari dalam masyarakat yang meliputi discovery , invention, inovasi, dan enkulturasi serta faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat yang meliputi difusi, akulturasi dan asimilasi.

PRODUKSI, KONSUMSI, DISTRIBUSI DAN EKONOMI KERAKYATAN

PRODUKSI

Produksi dalam arti yang luas diidentifikasikan sebagai setiap tindakan yang ditujukan untuk menciptakan dan menambah manfaat atau nilai guna barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

1 Tindakan yang dimaksud meliputi: mengubah bentuk barang, memindahkan suatu barang dari suatu tempat ke tempat lain, mengatur waktu penggunaan suatu barang dan menciptakan suatu jasa.

2 Proses produksi hanya bisa berlangsung jika terpenuhinya factor-faktor produksi yang diperlukan.

3 Faktor produksi yang dimaksud terdiri dari sumber daya alami (land), modal (capital), tenaga kerja (labour), dan kewirausahaan (entrepreneurship).

Fungsi produksi merupakan hubungan antara input yang berupa sumber daya perusahaan dengan output yang berupa barang dan jasa. Fungsi produksi terikat pada hukum yang disebut “law of diminishing returns”. Hukum tersebut menjelaskan pertautan antara tingkat produksi dan tenaga kerja yang digunakan.

DISTRIBUSI DAN KONSUMSI

  1. Distribusi adalah setiap upaya yang dilakukan baik oleh orang maupun lembaga yang ditujukan untuk menyalurkan barang-barang dan jasa-jasa dari produsen ke konsumen.
  2. Saluran distribusi merujuk pada proses pemilihan atau rute yang akan ditempuh oleh suatu produk ketika produk tersebut mengalir dari produsen ke konsumen.
  3. Kegiatan distribusi, secara ekonomis merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berupaya menambah manfaat atau nilai guna suatu barang melalui proses pemindahan tempat dan pengaturan waktu.
  4. Melalui kegiatan ini suatu produk akan disalurkan pada tempat dan waktu yang tepat.
  5. Berdasarkan intensitasnya saluran distribusi dapat dibedakan atas tiga bentuk yaitu saluran intensif, selektif dan eksklusif.
  6. Lembaga-lembaga distribusi yang paling umum antara lain grosir, agen dan pedagang eceran.
  7. Konsumsi adalah tindakan menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang dan jasa.
  8. Kegiatan konsumsi merupakan tindakan pemuasan atas berbagai jenis tuntutan kebutuhan manusia.
  9. Pola konsumsi seseorang akan berubah-ubah sesuai dengan naik turunnya pendapatan.
  10. Variasi pola konsumsi seorang konsumen selalu ditujukan untuk memperoleh kepuasan yang maksimum. Kepuasan itu sendiri dalam pengertian yang sebenarnya sukar untuk diukur. Atas dasar itulah dalam teori keseimbangan konsumsi dimulai dengan beberapa dugaan.
  11. Perilaku konsumen akan sejalan dengan hukum permintaan, dan hal ini hanya berlaku apabila syarat-syarat terpenuhi (cateris paribus).
  12. Dalam mempelajari perilaku konsumen tersebut dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu indifference curve approach dan marginal utiliyapproach.

EKONOMI KERAKYATAN

  1. Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh Negara-negara berkembang termasuk Indonesia dalam menerapkan teori pertumbuhan.
  2. Penerapan teori pertumbuhan telah membawa kesuksesan di negara-negara kawasan Eropa ternyata telah menimbulkan kenyataan lain di sejumlah bangsa yang berbeda. Salah satu harapan agar hasil dari pertumbuhan tersebut bisa dinikmati sampai pada lapisan masyarakat paling bawah, ternyata banyak rakyat di lapisan bawah tidak selalu dapat menikmati cucuran hasil pembangunan yang diharapkan itu. Bahkan di kebanyakan Negara-negara yang sedang berkembang, kesenjangan sosial-ekonomi semakin melebar.
  3. Dari pengalaman ini, akhirnya dikembangkan berbagai alternatif terhadap konsep pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan. Pertumbunhan ekonomi tetap merupakan pertimbangan prioritas, tetapi pelaksanaannya harus serasi dengan pembangunan nasional yang berintikan pada manusia pelakunya.
  4. Pembangunan perlu berorientasi kerakyatan dan berbagai kebijaksanaan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa konsep, ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya untuk lebih mengedepankan masyarakat. Dengan kata lain konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengedepankan masyarakat. Dengan kata lain konsep ekonomi kerakyatan dilakuka sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat.
  5. Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu strategi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini merupakan paradigma baru yang bersifat people-centered, participatory, empowering, and Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan ekonomi dimaksudkan untuk (1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang, (2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, (3) melindungi yang lemah dalam menghadapi yang kuat.
  6. Ada tiga dasar yang melandasi konsep pembangunan yang berpusat pada rakyat, yaitu :
  7. memusatkan pemikiran dan tindakan kebijaksanaan pemerintah pada penciptaan keadaan-keadaan yang mendorong dan mendukung usaha-usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah-masalah mereka sendiri pada tingkat individual, keluarga dan komunitas.
  8. mengembangkan struktur-struktur dan proses-proses organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah sistem yang swa-organisasi.
  9. mengembangkan sistem-sistem produksi-konsumsi yang diorganisasi secara territorial yang berlandaskan pada kaidah-kaidah pemilikan dan pengendalian lokal.

KEKUASAAN NEGARA, PEMERINTAH DAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN

  1. KONSEP KEKUASAAN NEGARA
  • Konsep kekuasaan Negara berawal dari teori kedaulatan Tuhan, kedaulatan Negara, kedaulatan hukum dan kedaulatan rakyat.
  • Kemerosotan teori kedaulatan Tuhan berasal dari pertentangan yang timbul dari konsepsi bahwa raja bertindak atas nama Tuhan dengan kekuasaan yang tidak terkontrol, maka melahirkan diktatorisme. Kondisi ini antara lain menjadi factor munculnya dan berkembangnya teori kedaulatan Negara.
  • Teori kedaulatan Negara menyatakan bahwa kekuasaan hanya ada pad Negara baik bersifat absolute maupun terbatas. Disamping factor-faktor kemasyarakatan juga ada factor ideal yaitu hokum, kesadaran hokum dan rasa keadilan.
  • Teori kedaulatan Hukum menyatakan bahwa yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara adalah hokum, kedaulatan itu berada ditangan hokum bahkan yang merupakan kekuasaan tertinggi di dalam suatu Negara itu adalah hokum itu sendiri.
  • Teori kedaulatan Rakyat menyatakan bahwa yang memiliki kedaulatan itu adalah rakyat, hal ini mlahirkan teori demokrasi yang berkembang mempengaruhi terhadap perkembangan sistem pemerintahan yang modern.
  • Tuntutan reformasi sebagai alat control penyimpangan penggunaan kekuasaan, namun dalam kenyataannya cenderung dijadikan perebutan kekuasaan oleh para elit politik sehingga belum menunjukkan arah yang sebenarnya.
  • Perkembangan teori kedaulatan yang berhubungan tersebut bahkan berkembang atas dasar kritik kelemahan dari suatu teori kedaulatan, bahkan lahirnya suatu teori kedaulatan merupakan koreksi dari penyempurnaan dari teori kedaulatan yang lain.
  1. PEMBELAJARAN KONSEP KEKUASAAN DAN PEMERINTAHAN NEGARA

Untuk mewujudkan tujuan Negara sangat terkait dengan kekuasaan dan penyelenggaraan pemerintahan Negara;

  1. Negara sebagai organisasi kekuasaan yang tertinggi dalam masyarakat, kekuasaaan tersebut dijalankan oleh suatu sistem pemerintahan. Selanjutnya pemerintah memiliki kekuasaan yang diberikan oleh Negara untuk mencapai tujuan Negara harus melalui mekanisme sistem politik;
  2. Kekuasaan Negara dalam perwujudannya harus melalui sistem yang dilengkapi dengan alat control yang kuat dan efektif, maka diperhatikan alat control yang efektif pula. Pada umumnya pemegang kekuasaan cenderung tidak dapat menjalankan sesuai dengan prinsip dasar pemegang kekuasaan;
  3. Kajian tentang kekuasaan dalam suatu Negara maka hal ini harus dibedakan dengan kekuasaan dan sistem pemerintahan, dan yang dimiliki oleh lembaga kenegaraan lainnya, karena derajat dan kekuatannya serta legitimasinya, kekuasaan Negara lebih tinggi daripada kekuasaan pemerintah;
  4. Pembagian kekuasaan salah satu upaya untuk membatasi atau melemahkan kekuasaan penguasa, supaya kekuasan itu tidak disalahgunakan, sangat efektif untuk mencegah praktik penyalahgunaan kekuasaan atau bertindak otoriter;
  5. Hubungan internasional dan lembaga internasional, seperti lembaga hak azasi manusia dapat memberikan control terhadap praktik penyalahgunaan kukuasaan, untuk itu dapat salah satu upaya membatasi kekuasaan terhadap sistem pemerintahan.
  6. HUBUNGAN OTONOMI DAERAH, DESENTRALISASI PENDIDIKAN SERTA PENINGKATAN PERAN DAN FUNGSI GURU IPS SD

Otonomi

Daerah sebagai realisasi perwujudan dari azas desentralisasi akan membawa konsekuensi terhadap dampak penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam hal penetuan kebijakan bagi daerah yang bersangkutan termasuk terhadap penyelenggaraan kebijakan pendidikan. Konsep otonomi daerah merupakan bagian esensial pemerintahan desentralisasi, sedangkan otonomi daerah adalah esensi pemerintahan desentralisasi. Pemerintahan desentralisasi tidak dapat dibayangkan tanpa esensi otonomi daerah. Sedangkan hakikat otonomi daerah itu adalah :

  1. hak mengurus rumah tangga sendiri bagi suatu daerah otonom. Hak tersebut bersumber dari wewenang pangkal dan urusan-urusan pemerintahan pusat yang diserahkan kepada daerah. Yang dimaksud sendiri di sini adalah penetapan kebijakan sendiri, pelaksanaan sendiri serta pembiayaan danpertanggungjawaban sendiri,. Inilah yang menjadi inti otonomi;
  2. dalam kebebasan menjalankan hak mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri, daerah tidak dapat menjalankan dan wewenang otonominya itu di luar batas-batas wilayah daerahnya;
  3. daerah tidak boleh mencampuri hak mengatur dan mngurus rumah tangga daerah lain sesuai wewenang pangkal dan urusan yang diserahkan padanya;
  4. otonomi tidak membawahi otonomi daerah lain, hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri tidak merupakan subordinasi hak mengatur dan mengurus rumah tangga daerah lain.

Sedangkan tujuan pemberian otonomi kepada daerah meliputi, 4 aspek, yaitu :

  1. a) dari segi politik adalah untuk mengikutsertakan dan menyalurkan inspirasi dan aspirasi masyarakat, baik untuk kepentingan daerah sendiri maupun untuk mendukungpolitik dan kebijaksanaan nasional dalam rangka pembangunan dan proses demokratisasi di lapisan bawah;
  2. b) dari segi manajemen pemerintahan adalah untuk meningkatkan day guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan, terutama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat dengan memperluas jenis-jenis pelayanan dalam berbagai bidang kebutuhan masyarakat.
  3. c) Dari segi kemasyarakatan, untuk meningkatkan partisipasi serta menumbuhkan kemandirian masyarkat dengan melakukan usaha pemberdayaan masyarakat, sehingga masyarakat makin mandiri, tidak terllalu banyak bergantung pada pemberian pemerintayh serta memiliki daya saing yang kuat dalam proses penumbuhannya;
  4. d) Dari segi ekonomi pembangunan adalah untuk melancarkan pelaksanaan program pembangunan guna tercapainya kesejahteraan rakyat yang makin meningkat.

Tujuan desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah untuk meningkatkan pemerataan kesempatan, efisien, mutu dan relevansi pendidikan. Perubahan kelembagaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pernecanaan dan pelaksanaan pada unit-unit kerja di daerah, sehingga unsur demokrasi di daerah berkembang. Sehubungan dengan itu dibentuk Dinas baru yang menangani pendidikan dan kebudayaan. Dinas tersebut merupakan penggabungan/peleburan dan bukan perluasan dari Dinas P & K. aparat “Dinas” tersebut dipilih atas dasar kemampuan professional dan berasal dari unsure-unsur Dinas P & K, Kandep Dikbud dan Kandepag serta lembaga-lembaga lain yang relevan. Dengan kondisi seperti ini akan menuntut peran dan fungsi guru IPS dalam meningkatkan professionalismenya.

KONSEP ILMU, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT DALAM PENGAJARAN IPS

  1. PENDEKATAN KONSEP ILMU, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT DALAM PEMBELAJARAN IPS

Kebudayaan konsep ilmu, teknologi dan kemasyarakatan semakin penting dalam era masyarakat modern yang banyak menimbulkan masalah-masalah kompleks. Kenyataan ini akan semakin dirasakan apabila dalam penjelasannya memberi informasi lebih jauh bahwa pemecahan masalah-masalah tersebut mengkehendaki adanya kedudukan dari berbagai disiplin ilmu.

IPS sebagai mata pelajaran di lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis. Hal ini terbukti dengan banyak ide atau pemikiran dari para ahli seperti Robert E. Yager yang memasukan ilmu, teknologi dan masyarakat (ITM) baik sebgai bidang penerapan dan hubungan, kreativitas dan sikap maupun konsep dan proses. Remy (1990) mengemukakan konsep ITM memberikan kontribusi secara langsung terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga negara yang : (1) memahami ilmu pengetahuan di masyarakat, (2) pengambilan keputusan warga negara, (3) membuat hubungan antar pengetahuan, (4) mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab.

Melalui studi “Project Synthesis”, Noris Harms mengembangkan tujuan IPS untuk pendidikan sebagai berikut : (1) IPS umtuk memenuhi kebutuhan pibadi individu, (2) IPS untuk memecahkan persoalan-persoalan kemasyarakatan masa kini; (3) IPS untuk membantu dalam memilih karir, (4) IPS untuk mempersiapkan studi lanjutan.

Ilmu, teknologi dan masyarakat (ITM) merupakan istilah yang diterapkan sebagai upaya untuk memberikan wawasan kepada siswa secara nyata dalam mengkaji ilmu pengetahuan: konsep ITM mencakup keseluruhan spektrum tentang peristiwa-peristiwa kritis dalam konsep pendidikan, meliputi tujuan, kurikulum, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan serta penampilan guru. Ciri dasar keeberadaan ITM adalah lahirnya warga negara yang berpengetahuan yang mampu memecahkan masalah-maslah krusial dan mengambil tindakan secara efisien dan efektif.

  1. PENDEKATAN DAN STRATEGI KONSEP ILMU, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT DALAM PENGAJARAN IPS SD

Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran IPS untuk proses pembelajaran ITM adalah interdisipliner atau multidisipliner. Artinya dalam proses belajar mengajar di kelas IPS, para siswa seyogyanya diajak, dibina dan didorong agar dalam mengkaji atau memecahkan masalah atau topik, dipandang dari berbagai disiplin ilmu. Ada dalam pengajaran IPS, yakni: (1) infusi ITM ke dalam mata pelajaran yang ada, (2) perluasan melalui topik kajian dalam mata pelajaran, dan atau (3) penciptaan/pembuatan mata pelajaran yang baru. Sedangkan karakteristik dari program internal ITM dalam IPS terdiri atas empat kategori sebagai berikut : (1) hasilnya dinyatakan secara jelas, (2) strategi organisasi, (3) sistem dukungan, (4) strategi instruksional.

MODEL INTERAKTIF DAN SUMBER PEMBELAJARAN IPS

  1. MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS

Pengembangan model pembelajaran interaktif dalam IPS dapat dilakukan oleh guru pada semua pokok bahasan, dengan syarat harus memperhatikan sembilan hal, yaitu : motivasi, pemusatan perhatian, latar belakang siswa dan konteksitas materi pelajaran, perbedaan individual siswa, belajar sambil bermain, belajar sambil bekerja, belajar menemukan dan memecahkan permasalahan serta hubungan sosial. Dalam proses kegiatan belajar mengajar yang interaktif, guru berperan sebagai pengajar, motivator, fasilitator, mediator, evaluator, pembimbing dan agen pembaharu. Dengan demikian, kedudukan siswa dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas memiliki peran aktif, dimana aktivitasnya dapat diukur dari kegiatan memperhatikan, mencatat, bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat dan mengerjakan tugas, baik tugas kelompok maupun tugas individual. Dalam situasi belajar yang demikian, siswa akan mendapatkan pengalaman yang berkesan, menyenangkan dan tidak membosankan.

Guru dalam proses belajar mengajar yang interaktif dapat mengembangjan teknik bertanya efektif atau melakukan dialog kreatif dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Sifat pertanyaan dapat mengukapkan sesuatu atau memiliki sifat inkuiri, sehingga melalui pertanyaan yang diajukan, siswa dikembangkan kemampuannya ke arah berfikir kreatifdalam menghadapi sesuatu. Beberapa komponen yang harus dikuasai oleh guru dalam menyampaikan pertanyaan yaitu : pertanyaan harus mudah dimengerti oleh siswa, memberi acuan, pemusatan perhatian, pemindahan giliran dan penyebaran, pemberian waktu berfikir kepada siswa serta pemberian tuntunan. Sedangkan jenis pertanyaan mengembangkan model dialog kreatif ada enam jenis yaitu : pertanyaan mengingat, mendeskrisikan, menjelaskan, sintesa, menilai dan pertanyaan terbuka. Untuk meningkatkan interaksi dalam proses belajar mengajar, guru hendaknya mengajukan pertanyaan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawabannya dan menjadi dinding pemantul atas jawaban siswa.

  1. SUMBER PEMBELAJARAN DALAM PIPS

Belajar mengajar merupakan dua konsep yang saling terkait dalam proses belajar mengajar dan efektivitasnya dapat tercapai dengan memanfaatkan sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran IPS dapat menggunakan buku sumber (buku teks, majalah atau koran dan media massa lainnya), media dan alat pengajaran, situasi dan kondisi kelas serta lingkungan.

Bagi guru IPS buku sumber bukan satu-satunya sumber pembelajaran yang dapat digunakan, karena buku sumber pada umumnya memuat informasi yang sudah lama. Media dan alat peraga dalam pengajaran merupakan sumber pembelajaran yang dapat membantu guru dalam melaksanakan perannya sebagai demonstrator. Manfaat media atau alat pembelajaran adalah : mengurangi verbalisme, memusatkan perhatian siswa, mudah diingat, membantu pemahaman siswa serta mendorong untuk melakukan diskusi. Media pembelajaran yang digolongkan atas 3 kelompok yaitu : media dengar (visual aids), media pandang (auditive aids) dan media raba atau gerak (motor aid). Tetapi dalam pelaksanaannya terdapat multi media yang mencakup ketiga jenis media tersebut.

Kelas dapat dijadikan sumber pembelajaran sangat bergantung kepada guru dalam melaksanakan perannya sebagai pengelola kelas. Kelas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya PBM, tetapi berfungsi pula sebagai pameran hasil kerja siswa atau pajangan kelas. Hasil kerja siswa yang dipajangkan adalah yang memuat pesan secara jelas, menunjang kegiatan belajar mengajar, menimbulkan minat dan perhatian siswa dan adanya peraturan untuk menggunakannya.

Lingkungan sebagai sumber pembelajaran menuntut kreativitas guru untuk memanfaatkannya dan mengeliminasi kebiasaan mengajar yang rutinitas dan menoton. Terdapat empat jenis sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dari lingkungan, yaitu: masyarakat, lingkungan fisik, bahan sisa atau limbah dan peristiwa alam dan sosial. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran mendorong siswa untuk berfikir logis, sistematis dan logis, karena dari lingkungan muncul berbagai fenomena yang menarik dan menantang bagi siswa, oleh karena itu guru dituntut memiliki keterampilan membawa lingkungan ke dalam kelas dan atau membawa siswa ke luar kelas.

Model Pembelajaran Terpadu.

Pembelajaran terpadu adalah suatu pembelajaran yang mengaitkan tema-tema yang over lapping untuk dikemas menjadi satu tema besar kemudian dibahas dalam suatu pembelajaran. Model pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran dengan pendekatan yang menekankan pada aspek-aspek bersifat umum seperti thinking skills, social skill, values and attitudes. Model Pembelajaran ini dapat diterapkan pada semua mata pelajaran.

Ada tiga model pembelajaran terpadu, namun di sini kita bahas tiga model, yaitu model webbed, model connected dan model integrated.

  1. Contoh Pembelajaran Terpadu Model Connected

Pembelajaran terpadu model connected, hanya memadukan topik-topik yang hampir sama dalam satu mata pelajaran saja. Untuk lebih jelasnya marilah kita cermati contoh di bawah ini:

Langkah-langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran keterhubungan sebagai berikut : (1) Guru menentukan tema-tema yang dipilih dari silabus, (2)Guru mencari tema yang hampir sama/relevan dengan tema-tema yang lain, (3) Tema-tema tersebut diorganisasikan pada tema induk seperti pada gambar di atas yang cakupannya lebih luas, (4) Guru menjelaskan materi yang terdiri dari beberapa tema di atas, (5) Guru mengadakan tanya jawab tentang materi yang diajarkan, (6) Dengan bimbingan guru siswa membentuk kelompok kecil, (7) Dengan bimbingan guru pula siswa diminta untuk mengerjakan pertanyaan yang telah disiapkan dan mengerjakan tugas kelompok dari guru, (7) Guru memberikan kesimpulan, penegasan, evaluasi secara tertulis dan sebagai tindak lanjut guru menugaskan pada siswa untuk menyusun portofolio dan dikumpulkan minggu depan

  1. Pembelajaran Terpadu Model Webbed

Dalam model pembelajaran ini guru memilih tema yang sama atau hampir sama dari beberapa standar kompetensi dengan lintas mata pelajaran atau pada bidang studi yang berbeda. Misal IPS dengan IPS, IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Langkah-langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran jaring laba-laba sebagai berikut.: (1) Guru menyiapkan tema utama seperti nilai juang dalam perumusan Pancasila, dan tema lain yang telah dipilih dari beberapa standar kompetensi lintas mata pelajaran/bidang Studi, (2) Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih, misalnya tema matematika, kesenian, bahasa dan IPS yang sesuai dengan tema nilai juang dalam perumusan Pancasila supaya tidak over lapping, (3) Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih luas, (4) Guru memilih konsep atau informasi yang bisa mendorong belajar siswa dengan pertimbangan lain yang memang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran terpadu.

  1. Model Pembelajaran Terpadu Integrated.

Model integrated yaitu pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa tema yang serumpun pada mata pelajaran. Tema yang akan dipilih adalah Mengenal Pentingnya Alam Seperti Dunia Tumbuhan Dan Hewan. Tema tersebut dipadukan seperti dalam bagan di bawah ini

Langkah-langkah pembelajaran terpadu model integrated sebagai berikut:

(1) guru menentukan salah satu tema dari mata-pelajaran IPS yang akan dipadukan dengan tema-tema pada mata pelajaran lain, (2) guru mencari tema-tema dari mata-pelajaran lain yang memiliki makna yang sama, (3) guru memadukan tema-tema dari beberapa mata pelajaran yang dikemas menjadi satu tema besar, (4) guru menyusun RPP yang terdiri dari gabungan konsep-konsep beberapa mata-pelajaran, (5) guru menentukan alokasi waktu karena untuk pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu lebih dari satu kali pertemuan.

Pengertian Konsep, Nilai, Moral, Norma dalam Pembelajaran IPS SD dan Analisis materi Pembelajaran IPS SD dalam kurikulum 2006.

  1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (IPS)

Anda perlu tahu bahwa pengertian IPS (n) tidak sama dengan IPS (N). IPS (N) adalah pendidikan kewargaan negara, sedangkan IPS (n) adalah kewarganegaraan. Istilah KN merupakan terjemahan civis. Menurut Soemantri (1967) Pendidikan Kewarganegaraan Negara (IPS) merupakan mata pelajaran sosial yang bertujuan untuk membentuk atau membina warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu , mau dan mampu berbuat baik. Sedangkan IPS (n) adalah pendidikan kewarganegaraan, yaitu pendidikan yang menyangkut status formal warga negara yang pada awalnya diatur dalam Undang-Undang No. 2 th. 1949. Undang-Undang ini berisi tentang diri kewarganegaraan, dan peraturan tentang naturalisasi atau pemerolehan status sebagai warga negara

Indonesia (Winataputra 1995). Undang-Undang ini telah diperbahuri dalam UU no.62 th. 1958. Dalam perkembangannya, UU ini dianggap cukup diskriminatif, sehingga diperbarui lagi menjadi UU No.12 th. 2006 tentang kewarganegaraan, yang telah diberlakukan mulai 1 Agustus 2006. UU ini telah disahkan oleh DPR dalam sidang paripurna tanggal 11 juli 2006. Hal yang menarik dalam UU ini adalah terdapatnya peraturan yang memberikan perlindungan pada kaum perumpuan yang menikah dengan warga negara asing, dan nasib anak-anaknya (Harpen dan Jehani 2006). Perubahan ini dibangun setelah menimbang UUD hasil amandemen yang sarat dengan kebebasan, dan penuh dengan perlindungan HAM, serta hasil konvensi intenasional yang anti diskriminasi.

UU NO. 12 th. 2006 ini berangkat dari adanya keinginan UU yang ideal yang harus memenuhi tiga unsur : Unsur Filosofi, Yuridis, Sosiologis. Dalam UU yang lama, ketiga unsur diatas kurang tampak, karena filosofis UU lama masih mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak sejalan dengan pancasila. Sebagai contohnya, adanya sifat diskriminasi karena kurang adanya perlindungan terhadap perumpuan dan anak. Sedangkan secara Yuridis, pembentukan UU yang lama masih masih mengacu pada UUDS th. 1950, dan secara sosiologis,UU tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat dunia. Dengan demikian, sudah jelas bahwa KN berbeda dengan Kn karena KN merupakan program pendidikan tentang hak dan kewajiban warga negara yang baik, sedangkan Kn merupakan status formal warga negara yang diatur dalam UU No.2 1949 tentang naturalisasi, yang kemudian diperbahuri lagi dalam UU No.12 th. 2006.

 

  1. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (IPS)

Tujuan IPS adalah untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. Sedangkan tujuan pembelajaran mata pelajaran IPS, menurut Mulysa (2007) adalah untuk menjadikan siswa :

  1. mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan di negaranya.
  2. mau berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan, secara aktif dan bertanggung jawab, sehingga bisa bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan, dan
    bisa berkembang secara positif dan demokratis, sehingga mampu hidup bersam dengan bangsa lain di dunia dan mampu berinteraksi, serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.

 

  1. Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

Berdasarkan tujuan tersebut diatas, maka materi dalam pembelajaran PKn perlu diperjelas. Oleh karena itu, ruang lingkup PKn secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut. (1) Pesatuan dan Kesatuan, (2) Norma Hukum dan Peraturan, (3) HAM, (4) Kebutuhan warga Negara, (5) Konstitusi Negara, (6) Kekuasaan Politik, (7) Kedudukan Pancasila, dan (8) Globalisasi.

 

  1. Pengertian Konsep dalam Materi IPS

Pengertian dan Makna Konsep dalam Pembelajaran IPS

Konsep adalah suatu pernyataan yang masih bersifat abstrak/pemikiran untuk mengelompokan ide-ide atau peristiwa yang masih dalam angan-angan seseorang. Meski belum diimplementasikan, konsep yang bersifat positif memiliki makna yang baik. Begitu pula sebaliknya, jika konsep itu bersifat negatif maka juga akan memiliki makna negatif pula. Contoh konsep : HAM, demokrasi, globalisasi, dan masih banyak lagi. Menurut Bruner, setiap konsep mengandung nama, ciri/atribut, dan aturan.

Perhatikan contoh pemikiran Bruner dikaitkan dengan HAM seperti di bawah ini !
Contoh : Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) di rumah dan sekolah

Nama konsep : Hak asasi manusia terhadap anak

Contoh positif :Adanya kesadaran dari orang tua, guru, masyarakat, pemerintah terhadap hak-hak anak yang harus diberikan. Misal anak diberi waktu belajar, bermain, mengutarakan pendapatnya baik di rumah, disekolah maupun didalam masyarakat.
Contoh negatif : Orang tua yang merampas hak anak dengan memaksanya berjualan kue atau koran, sehingga dia tidak sempat belajar atau menyelesaikan sekolahnya.
Contoh lain dari guru : Yang diskriminasi terhadap sesama siswa, (misal karena Amin anak kepala sekolah, maka Amin diberi perhatian yang lebih oleh guru), sedangkan siswa yang lain tidak mendapat perhatikan secara wajar, bahkan anak yang tidak pandai juga kurang mendapat perhatian dari guru.

 

  1. Pengertian Nilai dan Moral dalam Materi IPS

Pengertian nilai (value), menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Sedangkan menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu tersebut secara instrinsik memang berharga.
Pendidikan nilai adalah pendidikan yang mensosialisasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai dalam diri siswa. PKn SD merupakan mata pelajaran yang berfungsi sebagai pendidikan nilai, yaitu mata pelajaran yang mensosialisasikan dan menginternalisasikan nila-nilai pancasila/ budaya bangsa seperti yang terdapat pada kurikulum IPS SD. Pelaksanaan pendidikan nilai selain dapat melalui taksonomi Bloom dkk, dapat juga menggunakan jenjang afektif (Kratzwoh, 1967), berupa penerimaan nilai (receiving), penaggapan nilai (responding), penghargaan nilai (valuing), pengorganisasi nilai (organization), karaterisasi nilai (characterization).

Contoh : Nilai benda kayu jati dianggap tinggi, sehingga kayu jati memiliki nilai jual lebih mahal daripada kayu kamper atau kayu lainnya. Secara instrinsik kayu jati adalah kayu yang memiliki kualitas yang baik, tangguh, tidak mudah kropos, dan lebih kuat daripada jenis kayu yang lain seperti kamper. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kayu jati, menurut pandangan masyarakat khususnya pemborong, nilainya mahal.
Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara, nilai pancasila merupakan standar hidup bangsa yang berideologi pancasila. Nilai ini sudah pernah dikemas dan disosialisasikan melalui P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila), dan dianjurkan disekolah-sekolah sebagaimana telah dibahas di muka. Anda hendaknya sadar bahwa secara historis, nilai pancasila digali dari puncak-puncak kebudayaan, nilai agama, dan adat istiadat bangsa Indonesia sendiri, bukan dikulak dari negara lain. Nilai ini sudah ada sejak bangsa Indonesia lahir. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika pancasila mendapat predikat sebagai jiwa bangsa.
Nilai Pancasila yang digali dari bumi Indonesia sendiri merupakan pandangan hidup/panutan hidaup bangsa Indonesia. Kemudian, ditingkatkan kembali menjadi Dasar Negara yang secara yuridis formal ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu sehari setelah Indonesia merdeka. Secara spesifik, nilai Pancasila telah tercermin dalam norma seprti norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, serta norma hukum. Dengan demikian, nilai Pancasila secara individu hendaknya dimaknai sebagai cermin perilaku hidup sehari-hari yang terwujud dalam cara bersikap dan dalam cara bertindak.
Berdasarkan uraian di muka dapat disimpulkan bahwa pengertian dan makna nilai adalah suatu bobot/kualitas perbuatan kebaikan yang mendapat dalam berbagai hal yang dianggap sebagai sesesuatu yang berharga, berguna, dan memiliki manfaat. Dalam pembelajaran IPS SD, nilai sangat penting untuk ditanamkan sejak dini karena nilai bermanfaat sebagai standar pegangan hidup.

  1. Pengertian Moral dalam Materi IPS

Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadaikan anak manusia bermoral dan manusiawi. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik-buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri individu, tetapi moral berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan moralitas memiliki sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk sedangkan moralitas merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, hakekat dan makna moralitas bisa dilihat dari cara individu yang memiliki moral dalam mematuhi maupun menjalankan aturan.
Ada beberapa pakar yang mengembangkan pembelajaran nilai moral, dengan tujuan membentuk watak atau karakteristik anak. Pakar-pakar tersebut diantaranya adalah Newman, Simon, Howe, dan Lickona. Dari beberapa pakar tersebut, pendapat Lickona yang lebih cocok diterapkan untuk membentuk watak/karater anak. Pandangan Lickona (1992) tersebut dikenal dengan educating for character atau pendidikan karakter/watak untuk membangun karakter atau watak anak. Dalam hal ini, Lickona mengacu pada pemikiran filosofi Michael Novak yang berpendapat bahwa watak/ karakter seseorang dibentuk melalui tiga aspek yaitu, moral knowing, moral feeling, dan moral behavior, yang satu sama lain saling berhubungan dan terkait. Lickona menggarisbawahi pemikiran Novak. Ia berpendapat bahwa pembentukan karakter/watak anak dapat dilakukan melalui tiga kerangka pikir, yaitu konsep moral(moral knowing), sikap moral(moral feeling), dan prilaku moral(moral behavior). Dengan demikian, hasil pembentukan sikap karekter anak pun dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu konsep moral, sikap moral, dan perilaku moral.
Pemikiran Lickona ini mengupayakan dapat digunakan untuk membentuk watak anak, agar dapat memiliki karater demokrasi. Oleh karena itu, materi tersebut harus menyentuh tiga aspek teori (Lickona), seperti berikut :

Konsep moral (moral knowing) mencakup kesadaran moral (moral awarness), pengetahuan nilai moral (knowing moral value), pandangan ke depan (perspective talking), penalaran moral (reasoning), pengambilan keputusan (decision making), dan pengetahuan diri (self knowledge), sikap moral (moral feeling) mencakup kata hati (conscience), rasa percaya diri (self esteem), empati (emphaty), cinta kebaikan (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (and huminity). Prilaku moral (moral behavior) mencakup kemampuan (compalance), kemauan (will) dan kebiasaan (habbit).

 

Berdasarkan uraian di muka, dapat disimpulkan bahwa pengertian moral/ moralitas adalah suatu tuntutan prilaku yang baik yang dimiliki individu sebagai moralitas, yang tercermin dalam pemikiran/konsep, sikap, dan tingkah laku. Dalam pembelajaran IPS, moral sangat penting untuk ditanamkan pada anak usia SD, karena proses pembelajaran IPS SD memang bertujuan untuk membentuk moral anak, yaitu moral yang sesuai dengan nilai falsafah hidupnya.

 

 

 

  1. Pengertian Norma dalam Materi IPS

Norma adalah tolok ukur/alat untuk mengukur benar salahnya suatu sikap dan tindakan manusia. Normal juga bisa diartikan sebagai aturan yang berisi rambu-rambu yang menggambarkan ukuran tertentu, yang di dalamnya terkandung nilai benar/salah. Norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia ada lima, yaitu (1) norma agama, (2) norma susila, (3) norma kesopanan, (4) norma kebiasan, dan (5) norma hukum, disamping adanya norma-norma lainnya.
Pelanggaran norma biasanya mendapatkan sanksi, tetapi bukan berupa hukuman di pengadilan. Menurut anda apa sanksi dari pelanggaran norma agama? Sanksi dari agama ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu, hukumannya berupa siksaan di akhirat, atau di dunia atas kehendak Tuhan. Sanksi pelanggaran/ penyimpangan norma kesusilaan adalah moral yang biasanya berupa gunjingan dari lingkungannya. Penyimpangan norma kesopanan dan norma kebiasaan, seperti sopan santun dan etika yang berlaku di lingkungannya, juga mendapat sanksi moral dari masyarakat, misalnya berupa gunjingan atau cemooh. Begitu pula norma hukum, biasanya berupa aturan-aturan atau undang-undang yang berlaku di masyarakat dan disepakti bersama.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa norma adalah petunjuk hidup bagi warga yang ada dalam masyarakat, karena norma tersebut mengandung sanksi. Siapa saja, baik individu maupun kelompok, yang melanggar norma dapat hukuman yang berwujud sanksi, seperti sanksi agama dari Tuhan dan dapartemen agama, sanksi akibat pelanmggaran susila, kesopanan, hukum, maupun kebiasaan yang berupa sanksi moral dari masyarakat

 

Hakekat, Fungsi, Komponen Kurikulum

Pengembangan kurikulum IPS-IPS merupakan bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Ada 4 bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Ke-4 bagian/komponen penting kurikulum ini saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan/dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional.

Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula dalam memilih isi/materi yang harus dikuasai, strategi yang akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur ketercapaian kurikulum.

Hierarki perumusan tujuan kurikulum IPS-IPS dimulai dari tujuan umum pendidikan, kemudian tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.

Materi/isi kurikulum IPS-IPS menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaan, pemecahan masalah yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan pemecahan masalah sosial.

Strategi pembelajaran IPS-IPS berkaitan dengan bagaimana menyampaikan isi/materi kurikulum agar tujuan tercapai dan komponen evaluasi kurikulum adalah untuk menilai apakah tujuan kurikulum telah tercapai. Hasil dari evaluasi kurikulum IPS-IPS adalah berupa umpan balik apakah kurikulum ini akan direvisi atau tidak.

Pengembangan Kurikulum IPS-IPS

Kurikulum adalah apa yang akan diajarkan sedangkan pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan apa yang diajarkan. Menurut McDonald & Leeper kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan melaksanakan rencana tersebut. Kurikulum dan pembelajaran pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem yang lebih besar, yaitu sistem persekolahan. Kurikulum dan pembelajaran adalah dua sistem yang saling terkait satu sama lain secara terus-menerus dalam suatu siklus.

Menurut Gagne dan Briggs pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk mempengaruhi proses belajar dalam diri siswa. Menurut Gredler proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa pada dasarnya terjadi dalam satu lingkungan buatan dan sangat sedikit bergantung pada situasi alami, ini artinya agar proses belajar siswa berlangsung optimal guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Proses menciptakan lingkungan belajar yang kondusif ini disebut pembelajaran.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola kegiatan pembelajaran IPS-IPS adalah:

  1. harus berpusat pada siswa yang belajar
  2. belajar dengan melakukan,
  3. mengembangkan kemampuan sosial,
  4. mengembangkan keingintahuan,
  5. imajinasi dan fitrah anak
  6. mengembangkan keterampilan memecahkan masalah
  7. mengembangkan kreativitas siswa,
  8. mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
  9. menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik, dan
  10. belajar sepanjang hayat.

Pengembangan kurikulum IPS adalah suatu istilah yang ada dalam studi kurikulum, yaitu sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa. Kegiatan pengembangan kurikulum ini perlu dilakukan untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan berikut, yaitu merespons perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di luar sistem pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan-kemajuan dalam pendidikan.

Masalah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum IPS biasanya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana memilih materi yang diajarkan, apa yang harus dilakukan bila ada pandangan yang bertolak belakang dengan pengembang dan bagaimana menerapkan kurikulum secara meyakinkan.

Landasan Pengembangan Kurikulum

Landasan pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosiologis.

Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landasan filosofis ini ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.

Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar (psychology/theory of learning) dan psikologi perkembangan (developmental psychology). Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.

Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar dan acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia iptek.

Prinsip, Pendekatan, dan Langkah-langkah dalam Pengembangan Kurikulum

Setiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati.

Secara umum prinsip-prinsip pengembangan kurikulum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, serta efisiensi dan efektivitas.

Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Prinsip efisiensi dan efektivitas berkenaan dengan pendayagunaan semua sumber secara optimal untuk mencapai hasil yang optimal.

Sementara itu, prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Apabila dianalisis secara mendalam beberapa prinsip khusus yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan penjabaran dari empat prinsip umum pengembangan kurikulum.

Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yaitu pendekatan administratif dan akar rumput. Pendekatan administratif adalah suatu pendekatan dalam pengembangan kurikulum di mana ide atau inisiatif pengembangan muncul dari para pejabat atau pengembang kebijakan seperti Menteri Pendidikan, Kepala Dinas dan lain-lain. Sedangkan pendekatan akar rumput, ide pengembangan muncul dari keresahan para guru-guru yang mengimplementasikan kurikulum di sekolah di mana mereka menginginkan perubahan atau penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan di sekolah.

Ada beberapa langkah dalam pengembangan kurikulum, yaitu analisis dan diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi.

Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu: kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah. Adapun caranya dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas.

Langkah pengembangan kurikulum selanjutnya setelah seperangkat kebutuhan tersusun adalah perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, serta pengembangan alat evaluasi.

Landasan, Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan Sistem Persekolahan, dan Standar Kompetensi

Adanya perkembangan dan perubahan yang terus-menerus dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang dipengaruhi oleh perubahan global, perkembangan pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya menuntut perlunya perubahan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.

Perbaikan sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk memperoleh masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, dan keterampilan dari peserta didik agar nantinya memiliki kompetensi untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan kemajuan yang ada.

Penyempurnaan kurikulum dilandasi oleh kebijakan yang ada dalam peraturan UU, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.

Prinsip pengembangan kurikulum meliputi peningkatan keimanan dan budi pekerti, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika, penguatan integritas nasional, perkembangan pengetahuan dan IT, kecakapan hidup 4 pilar pendidikan dan belajar sepanjang hayat.

Prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada kesamaan memperoleh kesempatan, berpusat pada anak, pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Jenjang pendidikan terdiri dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan pada jalur formal dan non-formal.

Standar nasional pendidikan meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana pengelolaan dan penilaian.

Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan satuan pendidikan. Tolok ukur kompetensi di tentukan dalam indikator.

Standar kompetensi lulusan dijabarkan dalam standar isi yang memuat bahan kegiatan, mata pelajaran, dan kegiatan belajar pembiasaan.

Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar secara berkesinambungan.

Struktur dan Pelaksanaan Kurikulum 2004

  1. Struktur kurikulum berisi tiga hal, yaitu sejumlah mata pelajaran, kegiatan belajar pembiasaan, dan alokasi waktu.
  2. Kegiatan belajar pembiasaan dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar, dan menengah.
  3. Taman kanak-kanak dan raudhatul athfal merupakan bentuk pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal. Struktur kurikulum TK memuat dua bidang pengembangan, yaitu pengembangan kegiatan belajar pembiasaan dan bentuk-bentuk kemampuan dasar.
  4. Penjelasan kegiatan pembiasaan di TK, SD dilakukan dengan pendekatan tematik yang diorganisasikan sekolah.
  5. Kurikulum SMA dan MA ada dua jenis, yaitu kurikulum program studi dan struktur kurikulum program pilihan. Struktur program studi terdiri atas ilmu alam, ilmu sosial, dan bahasa.
  6. Kurikulum program pilihan di SMA dan MA bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan potensi, bakat, dan minat peserta didik.
  7. elaksanaan kurikulum 2004 menerapkan prinsip “Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan”.
  8. Standar nasional ditentukan pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan masing-masing daerah/sekolah. Pelaksanaan kurikulum sekolah ini harus memperhatikan:
  9. perencanaan dan pelaksanaan sesuai standar yang telah ditetapkan,
  10. perluasan kesempatan berimprovisasi dan berkreasi dalam meningkatkan mutu,
  11. menugaskan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan,
  12. peningkatan pertanggungjawaban kinerja penyelenggaraan pendidikan,
  13. mewujudkan ketentuan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan sesuai otoritasnya,
  14. penyelesaian masalah pendidikan sesuai karakteristik wilayah.
  15. Kurikulum dapat didiversifikasi untuk melayani keberagaman penyelenggaraan kebutuhan dan kemampuan sekolah dan melayani minat peserta didik.
  16. Kegiatan kurikuler dikelompokkan menjadi kegiatan intrakurikuler, yaitu kegiatan pembelajaran untuk menguasai kompetensi dan ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan secara kontekstual dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi mata pelajaran, pembentukan karakter, peningkatan kecakapan hidup sesuai kebutuhan dan kondisi sekolah.
  17. Kegiatan belajar pembiasaan diselenggarakan secara ber-kesinambungan mulai dari TK, SD, SMA, mengutamakan kegiatan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan dalam kegiatan rutin, spontan, dan mengenal unsur-unsur penting kehidupan.

Tantangan Kurikulum dan Pembelajaran di Abad XXI

Life Skills (Pendidikan Kecakapan Hidup)

Life skills atau pendidikan kecakapan hidup (PKH) adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dapat membantu siswa belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan dalam hidupnya.

PKH perlu dikenalkan pada siswa karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), karena kecakapan ini diperlukan oleh semua orang. Makna kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja karena diharapkan dengan kecakapan ini, seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dengan baik.

PKH terdiri dari:

  1. kecakapan personal GLS (kecakapan hidup general),
  2. kecakapan sosial GLS,
  3. kecakapan akademik SLS (kecakapan hidup spesifik),
  4. kecakapan vokasional SLS.

Keempat pilar pendidikan dari UNESCO adalah perwujudan dari siswa yang memiliki kecakapan hidup sesuai standar UNESCO. Keempat pilar ini kemudian diwujudkan dalam berbagai kompetensi yang ada dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pelaksanaan PKH di sekolah perlu kerja sama semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di sekolah, misalnya persetujuan dan bantuan kepala sekolah, guru dan siswanya, guru-guru di kelas lain atau guru mata pelajaran lain, guru perpustakaan, orang tua siswa, staf administrasi sekolah dan lainnya. PKH perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Keterampilan Melek Informasi (Information literacy)

Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan keterampilan melek informasi adalah serangkaian kemampuan untuk menyadari kebutuhan informasi dan kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang dibutuhkan, memanfaatkan informasi secara kritis dan etis, kemudian meng-komunikasikannya secara efektif dan efisien. Keterampilan melek informasi juga berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan. Siswa yang mempunyai keterampilan melek informasi adalah siswa yang independent dan competent, yang dapat beradaptasi dengan perubahan apapun secara mandiri dan fleksibel.

Manfaat keterampilan melek informasi adalah dapat membiasakan siswa untuk selalu belajar untuk meneliti sesuatu dengan menggunakan strategi ilmiah, mengajak mereka untuk rajin membaca dan menulis untuk menambah pengetahuan, wawasan, maupun kecerdasan siswa sebagai bekal menuju manusia berkualitas.

Pelaksanaan keterampilan melek informasi di kelas dapat menggunakan metode ilmiah. Penilaian keterampilan ini juga perlu penilaian menyeluruh yang dapat menilai kemampuan dan hasil kerja siswa.

Model Pengembangan Rencana Pembelajaran

Ada banyak model pengembangan rencana pembelajaran diantaranya model Gagne, model Kemp, model Gerlach & Ely, model Dick dan Carey, model Banathy, dan model PPSI. Masing-masing model memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaan dari model tersebut adalah mengandung 3 kegiatan pokok, yaitu: mengidentifikasikan masalah; mengembangkan pemecahannya; dan menilai pemecahan, dan mengandung unsur dasar yang sama yaitu siswa, tujuan, metode dan kegiatan belajar-mengajar.

Ada 5 kriteria untuk memilih model, yaitu harus sederhana, lengkap, dapat diterapkan, luas, dan teruji.

Langkah-langkah pengembangan model Banathy adalah:

  1. Merumuskan tujuan belajar secara spesifik dan objektif,
  2. Menyusun tes untuk mengukur ketercapaian tujuan,
  3. Menentukan tugas-tugas yang akan diberikan agar tujuan dicapai, dan
  4. Menganalisis sistem yang meliputi analisis fungsi tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana, siapa yang akan melakukannya, membagi fungsi pada tiap komponen, dan menentukan jadwal kapan pelaksanaannya dan di mana tempatnya.

Adapun langkah pengembangan model Dick & Carey meliputi:

  1. Merumuskan tujuan pembelajaran.
  2. Menentukan macam kegiatan belajar/keterampilan yang me-mungkinkan tujuan pembelajaran tercapai.
  3. Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa untuk menentukan pola strategi pembelajaran.
  4. Merumuskan tujuan khusus.
  5. Menyusun butir-butir tes berdasarkan acuan patokan.
  6. Mengembangkan strategi pembelajaran, berupa pengalaman belajar yang akan dialami siswa.
  7. Mengembangkan dan memilih materi/bahan pembelajaran.
  8. Mengadakan evaluasi formatif.
  9. Mengadakan revisi sistem hasil evaluasi formatif.
  10. Mengadakan evaluasi sumatif.

Adapun langkah-langkah mengembangkan model Gerlach & Ely adalah:
Menentukan materi yang akan diajarkan serta merumuskan tujuan pembelajaran.
Menilai perilaku siswa yang belajar, Melakukan lima hal secara simultan, yaitu: menentukan strategi; mengatur pengelompokan siswa; mengalokasikan waktu; menentukan tempat atau ruangan mengajar, dan memilih sumber belajar yang akan digunakan.

Perencanaan Kegiatan Ekstrakurikuler

  1. Dari beberapa sumber, terdapat beberapa kesamaan pengertian ekstrakurikuler, yaitu pertama, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diprogramkan di luar jam pelajaran sekolah; kedua, kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk membantu ketercapaian program kurikuler.
  2. Perbedaan antara kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan kurikuler dapat ditinjau dari sifat kegiatan, waktu pelaksanaan, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, teknis pelaksanaan, serta kriteria evaluasi keberhasilan.
  3. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh kegiatan ekstrakurikuler diantaranya adalah memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan/kompetensi yang relevan dengan program intrakurikuler, memberikan pemahaman terhadap hubungan antarmata pelajaran, menyalurkan minat dan bakat siswa, mendekatkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat/lingkungan, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
  4. Dalam upaya mencapai tujuan kegiatan ekstrakurikuler, ada sejumlah kegiatan yang dapat diprogramkan diantaranya adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, pembinaan kedisiplinan dan hidup teratur, pembinaan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan, pembinaan keterampilan, hidup mandiri dan kewiraswastaan, pembinaan hidup sehat dan kesegaran jasmani, serta pembinaan apresiasi dan kreasi seni. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu secara langsung program kurikuler sekolah.
  5. Keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya, sumber daya manusia yang tersedia seperti kepala sekolah, guru-guru; dana, sarana dan prasarana; serta perhatian orang tua siswa.
  6. Perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler perlu disusun oleh kepala sekolah bersama guru agar memperoleh hasil yang maksimal. Terdapat sejumlah komponen yang harus dirumuskan dalam perencanaan kegiatan ekstrakurikuler diantaranya bidang atau materi kegiatan, jenis kegiatan, tujuan atau hasil yang diharapkan, sarana penunjang, kendala atau hambatan yang mungkin muncul, waktu pelaksanaan, dan penanggung jawab. Sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan, perlu diperhatikan beberapa prinsip diantaranya berorientasi pada tujuan, prinsip sosial dan kerja sama, prinsip motivasi, prinsip pengkoordinasian dan tanggung jawab, serta prinsip relevansi.

Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran berarti penyusunan langkah-langkah pelaksanaan suatu kegiatan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari kemampuan mendeskripsikan kompetensi pembelajaran, memilih dan menentukan materi, mengorganisasi materi, menentukan metode/strategi pembelajaran, menentukan perangkat penilaian, menentukan teknik penilaian, dan mengalokasikan waktu. Komponen-komponen itu merujuk pada apa yang akan dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, sebelum kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya dilaksanakan.

Manfaat perencanaan pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
  2. sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
  3. sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun siswanya.
  4. sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat dapat diketahui ketepatan dan kelambatan kerjanya.
  5. sebagai bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
  6. perencanaan pembelajaran dibuat untuk menghemat waktu, tenaga, alat dan biaya.

Pengembangan Silabus dan Rencana atau Satuan Pelajaran

Silabus adalah garis besar ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok materi pelajaran. Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada kelas dan jenjang tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.

Kurikulum 2004 menyebutkan silabus sebagai:

  1. Seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar.
  2. Komponen silabus menjawab 1) kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa? 2) bagaimana cara mengembang-kannya? 3) bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dicapai siswa?
  3. Tujuan pengembangan silabus adalah membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan pembelajaran.
  4. Sasaran pengembangan silabus adalah guru, kelompok guru mata pelajaran di sekolah, kelompok kerja guru, dan dinas pendidikan.

Isi silabus minimal harus mencakup unsur:

  1. tujuan mata pelajaran,
  2. sasaran mata pelajaran,
  3. keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik,
  4. uraian topik-topik yang akan diajarkan,
  5. aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan pembelajaran,
  6. berbagai teknik evaluasi yang akan digunakan.

Komponen silabus terdiri dari: 1) bidang studi yang akan diajarkan, 2) tingkat sekolah dan semester, 3) pengelompokan standar kompetensi, kompetensi dasar, 4) indikator, 5) materi pokok, 6) strategi pembelajaran, 7) alokasi waktu, dan 8) bahan/alat/media. Komponen pokok silabus terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran.

Manfaat silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan seluruh kegiatan pembelajaran.

Prinsip pengembangan silabus adalah: ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, dan relevan.

Proses pengembangan silabus berbasis kompetensi terdiri atas tujuh langkah utama, yaitu: 1) penulisan identitas mata pelajaran, 2) perumusan standar kompetensi, 3) penentuan kompetensi dasar, 4) penentuan materi pokok dan uraiannya, 5) penentuan pengalaman belajar, 6) penentuan alokasi waktu, dan 7) penentuan sumber bahan.

Rencana mengajar merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam penentuan pengalaman belajar. Guru dapat mengembangkan rencana pembelajaran dalam berbagai bentuk.

Perencanaan pembelajaran dapat dibagi menjadi rencana mingguan dan harian. Rencana harian adalah rencana pembelajaran yang disusun untuk setiap hari mengajar.

Dalam menyusun rencana pembelajaran harian ini guru perlu selalu berpusat pada siswa, dan semua kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar baik secara fisik maupun mentalnya.

Prinsip-prinsip persiapan mengajar adalah harus sederhana, dan fleksibel, kegiatan yang dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan, persiapan pembelajaran harus utuh dan menyeluruh serta jelas indikatornya, kemudian, harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program sekolah.

Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran IPS

Esensi dan Makna Tujuan IPS SD dan MI

Dalam persekolahan di negara kita, nama mata pelajaran IPS SD/MI pernah muncul dalam kurikulum tahun 1957 dengan istilah Kewarganegaraan yang merupakan bagian dari mata pelajaran Tata Negara. Kemudian, pada tahun 1961 muncul istilah civics dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Pada tahun 1968, mata pelajaran Civics berubah nama menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (IPS) atau Civic Education. Dalam kurikulum 1975 nama mata pelajaran IPS berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian dalam kurikulum 1994 berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PIPS). Selanjutnya, dalam kurikulum tahun 2004 nama mata pelajaran PIPS berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (IPS).

Para ahli memberikan definisi Civics dalam rumusan yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya memiliki makna yang sama, yaitu bahwa Civics merupakan unsur atau cabang keilmuan dari ilmu politik yang secara khusus terutama membahas hak-hak dan kewajiban warga negara.

Dalam standar kompetensi kurikulum 2004, ditegaskan bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education)” adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.

Sedangkan dalam Encyclopedia of Educational Research dijelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan dapat dibagi 2, yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, pendidikan kewarganegaraan membahas masalah hak dan kewajiban. Sedangkan dalam arti luas, pendidikan kewarganegaraan membahas masalah: moral, etika, sosial, serta berbagai aspek kehidupan ekonomi (Suriakusumah, 1992). Sedangkan Turner dkk., mengungkapkan bahwa Civics merupakan suatu studi tentang hak-hak dan kewajiban dari warga negara.

Mata pelajaran IPS sangat esensial diberikan di persekolahan di negara kita sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil dan berkarakter (National Character Building) yang setia dan memiliki komitmen kepada bangsa dan negara Indonesia yang majemuk. Selain itu, pentingnya mata pelajaran IPS diberikan di sekolah adalah dalam rangka membina sikap dan perilaku siswa sesuai dengan nilai moral Pancasila dan UUD 1945 serta menangkal berbagai pengaruh negatif yang datang dari luar baik yang berkaitan dengan masalah ideologi maupun budaya.

Rumusan tujuan untuk masing-masing satuan pendidikan mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pemerintah yang menyertainya. Dalam merumuskan tujuan dan materi pelajaran IPS SD dan MI, di samping harus memperhatikan tingkat perkembangan siswa juga harus melihat kesinambungan, kedalaman, dan sekuen antarkelas dan/atau antarjenjang pendidikan untuk menghindari terjadinya pengulangan yang mungkin saja akan mengakibatkan kebosanan siswa.

Dalam standar kompetensi kurikulum IPS tahun 2004, ditegaskan bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai tujuan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut.

  1. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
  2. Berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
  4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam kurikulum IPS 2004 dikenal rumus indikator. Indikator-indikator tersebut merupakan indikator minimal untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik. Artinya, guru IPS dapat menambah dan mengembangkan indikator tersebut jika Anda menganggap indikator yang sudah ada belum memadai, dengan catatan tidak mengurangi indikator yang sudah ada.

Pembinaan Pribadi Siswa

Membahas tujuan IPS tidak bisa dipisahkan dari fungsi mata pelajaran IPS karena keduanya saling berkaitan, di mana tujuan menunjukkan dunia cita, yakni suasana ideal yang harus dijelmakan, sedangkan fungsi adalah pelaksanaan-pelaksanaan dari tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, fungsi menunjukkan keadaan gerak, aktivitas dan termasuk dalam suasana kenyataan, dan bersifat riil dan konkret.

Demikian pula membicarakan fungsi IPS memiliki keterkaitan dengan visi dan misi mata pelajaran IPS. Mata pelajaran IPS memiliki visi, yaitu “terwujudnya suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character building) dan pemberdayaan warga negara”. Upaya pembinaan watak/ karakter bangsa merupakan ciri khas dan sekaligus amanah yang diemban oleh mata pelajaran IPS atau Civic Education pada umumnya.

Sedangkan misi mata pelajaran IPS, yaitu “membentuk warga negara yang baik yakni warga negara yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bernegara, dilandasi oleh kesadaran politik, kesadaran hukum, dan kesadaran moral”. Untuk mewujudkan misi di atas, jelas bahwa peserta didik harus memiliki kemampuan kewarganegaraan yang multidimensional agar dapat menjalankan hak dan kewajibannya dalam berbagai aspek kehidupan.

Sementara itu, mata pelajaran IPS berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Jika rumusan fungsi IPS tersebut dihubungkan dengan dimensi keilmuan IPS maka fungsi IPS tersebut dapat dikelompokkan menjadi:

  1. fungsi IPS dalam membina kecerdasan /pengetahuan peserta didik;
  2. fungsi IPS dalam membina keterampilan peserta didik;
  3. fungsi IPS dalam membina watak/karakter peserta didik.

Melalui mata pelajaran IPS diharapkan peserta didik bukan hanya memiliki pengetahuan yang luas tentang materi pokok IPS yang meliputi politik, hukum, dan moral (pengetahuan kewarganegaraan), tetapi juga memiliki keterampilan dalam merespon berbagai persoalan politik, hukum, moral, dan terampil menggunakan hak dan kewajibannya di bidang politik, hukum, dan moral (keterampilan kewarganegaraan). Selain itu, melalui IPS diharapkan peserta didik memiliki sikap, rasa tanggung jawab dan hormat terhadap peraturan yang berlaku (watak kewarganegaraan).

Lingkup Materi IPS

Ruang lingkup materi IPS atau Civics menurut Hanna dan Lee meliputi berikut ini.

  1. Informal content.
  2. Formal Disciplines.
  3. The response of pupils both to the informal and the formal studies.

Materi informal content merupakan bahan-bahan yang diambil dari kehidupan masyarakat sehari-hari yang ada di sekitar kehidupan siswa, meliputi berikut ini.

  1. Bahan-bahan yang saling bertentangan (controversial issues).
  2. Masalah yang sedang hangat dibicarakan dalam kehidupan masyarakat (current affairs).
  3. Masalah yang tabu (taboo) atau Closed area yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran yang menghubungkan materi yang diajarkan dengan masalah-masalah kehidupan masyarakat dikenal dengan pendekatanContextual Teaching and Learning (CTL). Dalam pembelajaran CTL, peserta didik didorong untuk belajar melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah.

Sejalan dengan seringnya perubahan nama atau label mata pelajaran IPS dari masa ke masa maka ruang lingkup materi IPS pun mengalami perubahan sejalan

dengan dinamika dan kepentingan politik. Dalam kurikulum 1957, isi pelajaran Kewarganegaraan membahas cara-cara memperoleh kewarganegaraan dan cara-cara kehilangan kewarganegaraan Indonesia; sedangkan isi materi mata pelajaran Civics pada tahun 1961 adalah sejarah kebangkitan nasional, UUD, pidato politik kenegaraan, yang terutama diarahkan untuk “nations and character building” bangsa Indonesia. Dalam kurikulum 1968, muatan bahan IPS (Civic Education) sangat luas, karena bukan hanya membahas Civics dan UUD 1945, tetapi meliputi pula muatan sejarah kebangsaan Indonesia dan bahkan di Sekolah Dasar mencakup ilmu bumi.

Selanjutnya, dalam standar kompetensi kurikulum IPS 2004 diuraikan bahwa ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ditekankan pada bidang kajian Sistem Berbangsa dan Bernegara dengan aspek-aspeknya sebagai berikut.

  1. Persatuan bangsa.
  2. Nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum).
  3. Hak asasi manusia.
  4. Kebutuhan hidup warga negara.
  5. Kekuasaan dan politik.
  6. Masyarakat demokratis.
  7. Pancasila dan konstitusi negara.
  8. Globalisasi.

Menurut pandangan Suryadi dan Somardi (2000) sistem kehidupan bernegara (sebagai bidang kajian IPS) merupakan struktur dasar bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan. Konsep negara tersebut didekati dari sudut pandang sistem, di mana komponen-komponen dasar sistem tata kehidupan bernegara terdiri atas sistem personal, sistem kelembagaan, sistem normatif, sistem kewilayahan, dan sistem ideologis sebagai faktor integratif bagi seluruh komponen.

Dilihat dari struktur keilmuannya, Pendidikan Kewarganegaraan paradigma baru mencakup tiga dimensi keilmuan, yaitu dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter atau watak kewarganegaraan (civic dispositions).

Sistem Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Permasalahan yang mendasar dalam dunia pendidikan kita adalah berkenaan dengan kualitas, kuantitas, dan relevansi. Berbicara kualitas pendidikan salah satu komponen yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah materi pelajaran yang ada dalam kurikulum, dengan tidak melupakan unsur guru, input/siswa, dan sarana prasarana pendidikan. Khusus yang berkaitan dengan kurikulum, dipandang perlu untuk memberikan berbagai upaya, terutama yang berkaitan dengan pembaharuan atau perubahan sehingga kurikulum yang berkembang dapat memenuhi harapan masyarakat.

Berkenaan dengan permasalahan materi pelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan dalam kurikulum 2004 telah mengalami perubahan yang sangat besar, dari pengembangan materi dalam kurikulum sebelumnya. Dalam kurikulum 2004 pengembangan materi IPS, baik untuk jenjang SD maupun MI lebih bercirikan keilmuan. Hal ini tidak terlepas dari adanya karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (IPS ) dengan paradigma baru, yaitu bahwa IPS merupakan suatu bidang kajian ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan diterima sebagai wahana utama serta esensi pendidikan demokrasi di Indonesia yang dilaksanakan melalui Civic Intellegence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik dalam dimensi spiritual, rasional, emosional maupun sosial; Civic Responsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab dan Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas dasar tanggung jawabnya, baik secara individual, sosial maupun sebagai pemimpin hari depan.

Ruang lingkup pada bidang kajian dan aspek-aspeknya sebagai berikut persatuan bangsa; nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum); hak asasi manusia; kebutuhan hidup; kekuasaan dan politik; masyarakat demokratis; Pancasila dan konstitusi negara dan globalisasi.

Urutan Logis Materi IPS

Jika kemampuan dasar dan indikator dirumuskan dalam bentuk kata kerja maka standar materi dirumuskan dalam bentuk kata benda, atau kata kerja yang dibendakan. Selanjutnya, pokok-pokok materi tersebut perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran. Setelah jenis dan cakupan materi ditentukan, langkah berikutnya adalah mengurutkan (squencing) materi tersebut sesuai dengan urutan mempelajarinya. Sama halnya dengan cara mengurutkan kemampuan dasar dan standar kompetensi, materi pelajaran dapat diurutkan dengan menggunakan pendekatan prosedural, hierarkis, dari sederhana ke sukar, dari konkret ke abstrak, spiral, tematis, dan terpadu.

Nilai, Moral, dan Norma dalam Materi IPS

Kompetensi penguasaan bahan ajar dalam IPS mencakup 3 aspek, yaitu memahami Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge), memahami Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skills), dan memahami Etika Kewarganegaraan (Civic Ethic). Modul ini ditujukan untuk mengembangkan kompetensi penguasaan bahan ajar, pada aspek kompetensi tentang pemahaman Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge) khusus pada subkompetensi pemahaman nilai, norma, dan moral.

Nilai merupakan sesuatu yang paling dasar, sesuatu yang bersifat hakiki, esensi, intisari atau makna yang terdalam. Nilai adalah sesuatu yang abstrak, yang berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan, dan hal-hal yang bersifat ideal. Norma berisi perintah atau larangan itu didasarkan pada suatu nilai, yang dihargai atau dijunjung tinggi karena dianggap baik, benar atau bermanfaat bagi umat manusia atau lingkungan masyarakat tertentu. Nilai merupakan sumber dari suatu norma. Norma merupakan aturan-aturan atau standar penuntun tingkah laku agar harapan-harapan itu menjadi kenyataan. Moral dalam pengertian sikap, tingkah laku, atau perbuatan yang baik yang dilakukan oleh seseorang adalah merupakan perwujudan dari suatu norma dan nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tersebut. Dengan demikian secara hierarkis dapat dikemukakan bahwa nilai merupakan landasan dari norma, selanjutnya norma menjadi dasar penuntun dari moralitas manusia, yakni sikap dan perbuatan yang baik.

Metode dan Media Pendidikan Kewarganegaraan

Setelah Anda mencocokkan hasil diskusi dengan rambu-rambu kunci jawaban di atas, cermati dengan baik rangkuman materi Kegiatan Belajar 1 sebagai berikut.

Ciri utama IPS (baru) tidak lagi menekankan pada mengajar tentang IPS tetapi lebih berorientasi pada membelajarkan IPS atau pada upaya-upaya guru untuk ber-IPS atau melaksanakan IPS. Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk memilih dan menggunakan metode pembelajaran IPS yang efektif, tepat, menarik, dan menyenangkan untuk membelajarkan IPS tersebut.

Istilah strategi pembelajaran lebih luas daripada metode pembelajaran karena strategi pembelajaran diartikan sebagai semua komponen materi, paket pembelajaran, dan prosedur yang digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan metode lebih menunjuk kepada teknik atau cara mengajar. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, strategi (metode) pembelajaran yang akan digunakan guru dalam proses pembelajaran mesti dirumuskan terlebih dahulu dalam desain pembelajaran.

Penguasaan metode pembelajaran merupakan salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki seorang guru. Kemampuan dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa baik keberhasilan aspek kognitif maupun aspek afektif dan psikomotor. Ketidaktepatan memilih dan menggunakan metode pembelajaran akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut rambu-rambu pembelajaran IPS dalam Kurikulum 2004, ditegaskan bahwa pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual (CTL) untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terdapat 7 komponen CTL, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.

Dalam IPS dikenal suatu model pembelajaran, yaitu model VCT (Value Clarification Technique/Teknik Pengungkapan Nilai), yaitu suatu teknik belajar-mengajar yang membina sikap atau nilai moral (aspek afektif). VCT dianggap cocok digunakan dalam pembelajaran IPS yang mengutamakan pembinaan aspek afektif. Pola pembelajaran VCT dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena pertama, mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai-moral. Kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai-moral yang disampaikan. Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai-moral diri siswa dalam kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya. Kelima, mampu memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan. Keenam, mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai-moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang. Ketujuh, menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi.

Alternatif Media Pembelajaran IPS

Perolehan pengetahuan dari pengalaman langsung dengan melihat, mendengar, mengecap, meraba serta menggunakan alat indra dapat dianggap permanen dan tidak mudah dilupakannya karena kata-kata yang mereka peroleh benar-benar mereka kenal yang diperolehnya melalui pengalaman yang konkret. Media pembelajaran adalah sarana yang membantu para pengajar. Ia bukan tujuan sehingga kaidah proses pembelajaran di kelas tetap berlaku.

Media pengajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses kegiatan pada diri siswa. Di samping itu, media dapat membawakan pesan atau informasi belajar dengan keandalan yang tinggi, yaitu dapat diulang tanpa mengalami perubahan isi.

Prinsip pengajaran yang baik adalah jika proses belajar mampu mengembangkan konsep, generalisasi, dan bahan abstrak dapat menjadi hal yang jelas dan nyata. Konsep media pembelajaran lebih luas daripada pengertian alat peraga, sebab alat peraga hanya merupakan sebagian dari media pembelajaran. Secara umum yang dapat dijadikan media pembelajaran, antara lain slide, proyektor, peta, globe, grafik, diagram, gambar, film, bagan, diorama, tape recorder, dan radio.

Edgar Dale (1969) mengemukakan jenis media yang terkenal dengan istilah kerucut pengalaman (the cone of experience), yaitu (1) pengalaman langsung; (2) pengalaman yang diatur; (3) dramatisasi; (4) demonstrasi; (5) karyawisata; (6) pameran; (7) gambar hidup; (8) rekaman, radio, dan gambar mati; (9) lambang visual; (10) lambang verbal.

Burton membagi media berdasarkan pengalaman langsung dan pengalaman tak langsung. Sedangkan Heinich mengklasifikasikan media menjadi dua kelompok, yaitu pertama, media yang tidak diproyeksikan, kedua, media yang diproyeksikan.

Terdapat beberapa persyaratan yang hendaknya diperhatikan dalam pengembangan media pengajaran Pendidikan Nilai dan Moral, yaitu (1) membawakan sesuatu/sejumlah isi-pesan harapan; (2) memuat nilai/moral kontras atau dilematis; (3) diambil dari dunia kehidupan nyata (siswa,lokal,nasional atau dunia); (4) menarik minat dan perhatian siswa atau melibatkan diri siswa; (5) oleh kemampuan belajar siswa.