KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD KELAS RENDAH

BAHAN AJAR PENDIDIKAN GURU SKOLAH DASAR

MATA KULIAH KAJIAN BAHASA INDONESIA

OLEH

ROBERT TAGANG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2017

 

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

DI SD KELAS RENDAH

 

Bahan Belajar Mandiri ini membahas kurikulum sekolah dasar mata pelajaranBahasa Indonesia yang sedang berlaku saat ini, yakni Kurikulum 2004 atau yanglazim disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP). Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuanpendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri dari: standar isi, proses,kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,pembiayaan dan penilaian pendidikan. Standar isi dan Standar Kompetensi Lulusanmerupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolahmenyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisidaerah. Dengan demikian daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untukmerancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalamanbelajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar.Kurikulum di atas menekankan pada:

  1. Ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yangbervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhiunsur edukatif.
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaanatau pencapaian suatu kompetensi.

Pembahasan berikutnya akan difokuskan pada tiga hal:

  1. 1.Struktur Kurikulum dan Standar Kompetensi mata pelajaran BahasaIndonesia.
  2. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah.
  3. Materi dan Model Pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pemahaman kurikulum sangat penting bagi Anda sebagai calon gurusekolah dasar sebab kurikulum merupakan salah satu alat yang strategisdan menentukan dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.Setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda dapat:

  1. Menjelaskan struktur kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia kelasrendah.
  2. Menerapkan model pembelajaran tematik sesuai tuntutan kurikulum.
  3. Menyusun berbagai model pembelajaran tematik.
  4. Menjelaskan keunggulan dan kelemahan model pembelajarantematik/pembelajaran terpadu.

 

KEGIATAN BELAJAR I

Sturktur Kurikulum dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Kurikulum yang dipakai saat ini, mengacu pada Undang-undang No.20 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Adapun struktur Kurikulum Sekolah Dasarkelas rendah ( kelas I-III) dan kelas tinggi (kelas IV-VI) dapat Anda lihat pada tabelberikut:

Penjelasan untuk Kelas Rendah (Kelas I dan II)

  1. Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajarpembiasaan dengan menggunakan pendekatan tematik diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah.
  2. Penjelasan teknis pendekatan tematik diatur dalam pedoman tersendiri.
  3. Alokasi waktu total yang disediakan adalah 27 jam pelajaran per minggu.Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total ataumengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa,sekolah, madrasah atau daerah.
  4. Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 35 menit.
  5. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34-40 minggu dan jam tatap muka per minggu adalah 34-40 minggu dan jam tatap muka perminggu adalah 945 menit (16 jam), jumlah jam tatap muka per tahun adalah544 jam (32.640).
  6. Alokasi waktu sebanyak 27 jam pelajaran pada dasarnya dapat diatur denganbobot berkisar: (a) 15% untuk Agama; (b) 50% untuk Membaca dan MenulisPermulaan serta Berhitung; dan (c)35% untuk Sains, Pengetahuan Sosial,Kerajinan Tangan dan Kesenian, dan Pendidikan Jasmani.
  7. Sekolah dasar dan madrasah dapat mengenalkan teknologi informasi dankomunikasi sesuai dengan kemampuannya.Secara garis besar struktur kurikulum berisi:
  8. Sejumlah mata pelajaran
  9. Kegiatan belajar pembiasaan
  10. Alokasi waktu

Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dansubstansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidikan dan per kelas selamamasa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harusdicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatanpencapaian hasil belajarnya. Tolok ukur kompetensi dinyatakan dalam indikator.Matapelajaran mengutamakan kegiatan intruksional yang berjadwal dan berstruktur.Yang dimaksud kegiatan belajar pembiasaan yaitu kegiatan yangmengutamakan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan dalamkegiatan rutin, spontan, dan pengenalan unsur-unsur penting kehidupan masyarakat.Alokasi waktu menunjukkan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka.Kegiatan pembelajaran pembiasaan diselenggarakan secara berkesinambunganmulai dari pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar, sampai denganpendidikan menengah. Pada pendidikan kanak-kanak dan raudhatul athfal sertapendidikan dasar diselenggarakan melalui kegiatan terprogram yang diberikan alokasiwaktu secara khusus. Sedangkan pada sekolah menengah atas dan yang sederajatdiselenggarakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang tidak didan berikan alokasisecara khusus.Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indoneisa disusun untukmeningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia secara nasional. Saat ini berbagaiinformasi dan kemajuan ilmu pengetahuan hadir dan tidak dapat dicegah. Bagisebagian masyarakat hal tersebut bermanfaat bagi kehidupan.Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satusarana yang dapat mengakses berbagai informasi dan kemajuan tersebut. Untuk itukemahiran berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara lisan dan tertulis harusbenar-benar dimiliki dan ditingkatkan.Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yangdiwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenalimelalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati.Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahankajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan sejaktaman kanak-kanak, kelas I SD sampai kelas XII yang menggambarkan saturangkaian kemampuan yang bertahap, berkelanjutan, dan konsisten seiring denganperkembangan psikologis peserta didik.Berikutnya di bawah ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan mata

pelajaran Bahasa Indonesia, sebelum membahas materi dan model pembelajaran

Bahasa Indonesia untuk SD kelas rendah (kelas I-II).

 

Rasional

Mata pelajaran Bahasa Indonesia diberikan di semua jenjang pendidikanformal. Dengan demikian diperlukan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang memadai dan efektif sebagai alat berkomunikasi, berinteraksi sosial, media pengembangan ilmu dan alat pemersatu bangsa. Daerah/sekolah dapat secara efektif menjabarkan standar kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuansiswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis seta menghargai karya cipta

bangsa Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia memberikan akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Dengan demikian siswa menjadi terbuka terhadap beragam informasi dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia mengupayakan siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, minat, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya bangsa sendiri. Pada sisi lain sekolah atau daerah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan

siswa dan sumber belajar yang tersedia.

 

  1. Pengertian

Bahasa merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling berbagipengalaman, saling belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan pengetahuan intelektual dan kesusassteraan merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

  1. Fungsi dan Tujuan
  2. Fungsi

Standar kompetansi ini disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan danfungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai :

  1. Sarana pembinaan kesatuan dan kesatuan bangsa
  2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya
  3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk keperluan menyangkut berbagai masalah
  5. Sarana pengembangan penalaran
  6. Sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.

 

  1. Tujuan

Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Siswa menghargai dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara.
  2. Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk makna, dan fungsi, serta menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk bermacammacam tujuan, keperluan dan keadaan.
  3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan itelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
  4. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis)
  5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia
  6. Ruang Lingkup

Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek:

  1. Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, kaset, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat,cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun dan menonton drama anak.
  2. Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri, kegiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk dan laporan serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak
  3. Membaca; seperti membaca huruf, suku katam kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengumuman, kamus, enslikopedia serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyar, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak kompetensi membaca juga diarahkan menumbuhkan budaya membaca.
  4. Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat tunggaldan kalimat majemuk serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melaluikegiatan menulis hasil sastra berupa cerita dan puisi. Kompetensi menulis juga diarahkan menumbuhkan kebiasaan menulis.
  5. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum

Standar kompetensi lintas kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup danbelajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa melalui pengalaman belajar.

Standar Kompetensi Lintas Kurikulum ini meliputi :

  1. Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan agama yang dianutnya.
  2. Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk beriteraksi dengan orang lain.
  3. Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep, teknik-teknik, pola, struktur, dan hubungan
  4. Memilih, mencari, dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber
  5. Memahami dan menghargai lingkungan fisik, makhluk hidup, dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat
  6. Berpartisipasi, berinteraksi, dan berkontribusi aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis, dan histories.
  7. Berkreasi dan menghargai karya artistic, budaya dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai leluhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.
  8. Berpikir logis, kritis dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan
  9. menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri, dan bekerja sama dengan orang lain. Di muka telah diuraikan bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Untuk itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa

terampil berkomunikasi. Fungsi utama sastra adalah sebagai penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk, berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk mengetahui pengetahuan tentang bahasa, sedangkan pengajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati dan memahami karya sastra. Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasi karya sastra.Kata menduduki posisi penting dalam sistem bahasa. Pemakaian kata merupakan hal penting dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Oleh sebab itu,

penguasaan kosa kata seseorang sangat menetukan keberhasilannya dalam berkomunikasi. Pembelajaran kosakata bertujuan untuk memperkaya perbendaharaan kata siswa. Siswa tidak harus menghafal sejumlah kata, tetapi yang terpenting dapat menggunakannya di dalam kalimat. Mengenal dan memahami makna kata merupakan tujuan utama pembelajaran kosakata.

Pengorganisasian Materi

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kerangkatentang standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang harus diketahui, dilakukan dan dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam lima komponen utama, yaitu :

  1. Standar kompetensi
  2. Kompetensi dasar
  3. Hasil belajar
  4. Indikator
  5. Materi pokok

Standar kompetensi mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Aspek-aspek tersebut dalam pembelajaran dilaksanakan secara terpadu. Kompetensi dasar kebahasaan disajikan pada lampiran dokumen ini. Kompetensi ini disajikan secara terpadu dengan kompetensi dasar yang lainnya dengan menggunakan tema yang sama. Standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan materi pokok yang dicantumkan dalam standar kompetensi ini merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah, atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Membaca:

– Membaca teks bacaan

– Mendeklamasi puisi

Tema lingkungan

Berbicara:

Mendiskusikan isi teks bacaan

Mendengarkan:

Mendengarkan pembacaan

karangan

Menulis:

– Menulis karangan

– Memeriksa pemakaian

tanda baca dalam karangan

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untukmempelajari bahasa nasional dan bahasa asing. Teknologi komunikasi dapat berupa media cetak dan elektronik. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, radio, internet, video, CD, VCD dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi dalam Bahasa Inggris sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca. Melalui televisi dan radio siswa dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan dan melalui komputer siswa dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.

Diversifikasi Kurikulum

Diversifikasi kurikulum ini ditujukan bagi siswa yang memiliki kemampuanlebih (anak berbakat) atau di bawah rata-rata (anak berkesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus). Agar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak, kebutuhan anak, emosioanal dan sosial anak; maka kurikulum perlu dimodifikasi sehingga berbeda dengan kurikulum anak normal. Modifikasi kurikulum menyangkut empat bidang, yaitu: materi (konten), proses dan metode pembelajaran, kemampuan (produk) yang diharapkan dari siswa, dan lingkungan belajar. Sebagai contoh, guru SD Kelas 4 dapat memodifikasi pembelajaran menulis (mengarang) melalui metode kelompok, diskusi, conferencing,

inkuiri, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan sebagainya.

Bacaan Sastra

Setiap siswa SD dan MI diperkenalkan jenis- jenis sastra seperti puisi anak, cerita anak, drama anak, dongeng atau cerita rakyat. Siswa berharap mampu mengapresiasi karya sastra tersebut.

Pembelajaran apresiasi sastra ini harus disesuaikan dengan kompetensikompetensi yang terdapat pada setiap aspek. Pemilihan bahan ajar untuk kompetensikompetensi

tersebut dapat dicari pada sumber-sumber yang relevan. Kegiatannya dapat diitegrasikan dalam pembelajaran menyimak, berbicara, membaca dan menulis (narasi dan deskripsi).

Latihan

Setelah Anda mempelajari bahasan di atas, cobalah berlatih menjawab

pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

  1. Mengapa struktur pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kelas Rendah

menurut Kurikulum 2004 dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

harus menggunakan pendekatan tematik ?

  1. Sebutkan tujuan umum pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar!
  2. Sebutkan ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia!
  3. Mengapa bagi anak berbakat dan bagi anak berkebutuhan khusus perlu

diferensiasi kurikulum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya

dalam aspek materi, proses, metode, kompetensi dan lingkungan belajar?

Jelaskan dan berilah contoh setiap aspek tersebut!

 

RANGKUMAN

  1. Struktur Kurikulum dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

mengacu pada Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Secara garis besar struktur kurikulum berisi: sejumlah mata

pelajaran, kegiatan belajar pembiasaan dan alokasi waktu.

  1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional

yang disusun oleh dan dilaksanakan pada masing-masing satuan pendidikan.

KTSP terdiri dari: tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan

muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

  1. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif

terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai

kemanusiaan.

  1. Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan

MI terdiri dari aspek: mendengarkan, berbicara,membaca dan menulis.

  1. Standar kompetensi lintas kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup dan

belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa melalui

pengalaman belajar.

 

 

 

 

           

KEGIATAN BELAJAR II

Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah

2.1 Teori Pembelajaran di Kelas Rendah

Karakteristik anak usia SD yang antaranya lain telah mampu melakukankoordinasi otot-ototnya sehingga mereka selalu aktif bergerak melakukan aktivitas baik permainan maupun gerakan-gerakan jasmaniah lainnya, seperti melompat, lari, memegang pensil, dan sebagainya. Di samping itu kognitif mereka telah berkembang walaupun masih terbatas pada operasi-operasi konkrit, dan dalam hal sosial serta emosional mereka masih mendambakan berlangsungnya pengalaman di lingkungan keluargannya dapat dialami pula di sekolah, serta pengamatan mereka yang masih bersifat global (Briggs dan Potter 1990), menurutnya perlu diterapkannya model pembelajaran yang relevan dengan karakteristik tersebut. Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid kelas rendah(kelas I-II SD) itu adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992) atau model-model interaksi dan transaksi (Brady, 1985) daripada model-model pembelajaran yang didasarkan pada“behavioral” atau expository”. Dari model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran sebagai berikut:

  1. Libatkan Murid supaya Aktif Belajar.

Libatkan murid dalam merumuskan tujuan, merencanakan kegiatan danmerefleksi terhadap efektivitas belajar mereka.keterampilan ini merupakan dasar yang penting bagi “belajar seumur hidup”. Murid terlibat dalam memecahkan masalah, membuat keputusan,menganalisis, mengevaluasi dan mengambil tindakan. Jenis belajar seperti ini dapat

diakomodasikan dalam model-model pembelajaran transaksi, interaksi dan perkembangan kognitif.

  1. Dasar pada Perbedaan Individual

Pengalaman dan minat murid berbeda-beda. Karena itu pembelajaran akanlebih berhasil jika berlangsung dalam konteks yang berkaitan dengan pengalaman murid dan relevansinya dengan kehidupan mereka saat ini dan akan datang, termasuk perbedaan jenis kelamin. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi oleh model perkembangan kognitif, model transaksi, dan model personal.

  1. Kaitkan Antara Teori dan Praktik

Belajar akan sangat bermakna jika teori berkaitan dengan praktik dan tujuan sosial. Hubungan pengalaman murid di sekolah dengan kehidupan mereka diluar sekolah. Pembelajaran jenis ini dapat diakomodasi dalam model transaksional dan model kognitif.

 

  1. Kembangkan Komunikasi dan Kerjasama dalam Belajar

Murid hendaknya mempunyai kesempatan mengekspresikan danmendiskusikan ide-ide mereka, mengenal dan memecahkan masalah melalui kerjasama dalam tim, mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam kegiatan kooperatif, dan berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama. Pembelajaran ini dapat diakomodasikan dalam model sosial, interaksi dan transaksi.

  1. Beranikan Anak dalam Pengambilan Resiko dan Belajar dari Kesalahan

Murid belajar secara individual atau dalam kelompok mempunyai kesempatanmenerapkan ide-ide dan keterampilan-keterampilan sendiri, mencoba menyelesaikan masalah dan belajar dari kesalahan dan juga dari keberhasilan. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi dalam model behavior dan model eksposisitorik.

  1. Belajar sambil Berbuat dan Bermain

Murid kelas rendah senang bermain. Briggs dan Potter (1990) menyatakanbahwa mereka sukar membedakan antara bermain dan bekerja. Mula-mula anak senang bermain sendiri, tetapi makin bertambah umur mereka mulai senang bermain secara berpasangan dan berkelompok. Melalui kegiatan bermain dengan alat-alat permainan dan bermain peran, murid dapat mempelajari konsep, mengembangkan kepercayaan diri, mengembangkan berpikir, memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan sosial, belajar tentang nilai-nilai sosial, mengembangkan empati terhadapa orang lain dan sebagainya. Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi melalui model-model pemrosesan informasi.

  1. Sesuaikan Pembelajaran dengan Taraf Perkembangan Kognitif yang Masih

pada Taraf Operasi Konkrit.

Pembelajaran adalah upaya mengkreasi lingkungan dimana struktur kognitifmurid dapat muncul dan berubah. Tujuannya adalah menyediakan pengalaman belajar yang memberi kesempatan murid praktik dengan operasi-operasi khusus itu. Dalam memperoleh pengalaman belajar itu murid harus aktif, menemukan sendiri, dan pengalaman-pengalaman itu sendiri harus induktif. Dalam mempelajari operasi-operasi baru murid harus diberi kesempatan yang luas untuk memanipulasi lingkungan. Bagi murid materi yang kita gunakan hendaknya konkrit, ketimbang lambang/simbol. Misalnya kubus atau tutup botol yang diberi tulisan akanlebih berfungsi. Jadi lingkungan harus kaya dalam kacamata pengalaman sensoris murid. Dilihat dari materi yang dipelajari dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengetahuan tentang fisik, sosial, dan logik. Pengetahuan sosial diperoleh melalui balikan dari orang lain dalam suasana interaksi bebas di lingkungan. Dalam memperoleh pengetahuan fisik dan logik, guru hendaknya menyiapkan “setting” yangmemungkinkan murid membangun pengetahuan bagi dirinya sendiri melaui pertanyaan menuntun atau memancing yang dapat merangsang pemikiran dan eksplorasi lebih jauh. Dengan demikian model pembelajaran ini dapat diakomodasi melalui model pengembangan intelek.

III. Model Pembelajaran di Kelas Rendah

Pada bagian terdahulu telah diidentifikasikan berbagai model pembelajaranyang dapat mengakomodasi berbagai prinsip atau teori pembelajaran di kelas rendah. Pertemuan kelompok, bermain peran, penyesuaian pada perbedaan individu, pemrosesan informasi, pengembangan intelek, model ekspositorik, transaksi dan kognitif. Berikut akan dikemukakan deskripsi umum dari model-model pembelajaran itu (Joyce dan Weil, 1992), tetapi pelaksanaan model-model belajar itu untuk kelas rendah masih harus disesuaikan atau disederhanakan lagi.

 

  1. Pertemuan kelompok (Patner-patner dalam belajar)
  2. Langkah-langkah pembelajaran
  3. Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak direncanakan) yang diidentifikasi oleh guru sebagai objek studi.
  4. Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu.
  5. Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya
  6. Mempelajari secara independen dan kelompok
  7. Menganalisis kemajuan dan proses
  8. Mengulang lagi kegiatan 1-5 jika hasil analisis belum memadai.
  9. Sistem sosial yang diperlukan

Sistem sosialnya adalah demokratis, aktivitas kelompok muncul dengan petunjuk minimal dari guru. Murid dan guru mempunyai status yang sama kecuali peranan masing-masing.

  1. Prinsip-prinsip reaksi

Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid merumuskan rencanan, tindakan dan mengatur kelompok serta mengarahkan kegiatan sesuai dengan yang dituntut oleh metode enquiry. Guru berfungsi sebagai konselor akademik.

  1. Sistem pendukung

Perlengkapan sekolah (perpustakaan, media dan alat-alat) harus memenuhi keperluan pembelajaran ini. Di samping itu hendaknya juga dimungkinkan untuk dapat menggunakan sumber-sumber di luar sekolah.

 

 

 

  1. Role Playing (Bermain Peran)
  2. Langkah-langkah
  3. Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dan membuat masalahjadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing
  4. Memilih partisipan

Menganalisis peran-peran dan memilih pemain peran

  1. Menetapkan tahapan

Menetapkan alur laku (action)

Menyatakan kembali peran-peran

Memasuki situasi masalah

  1. Menyiapkan pengamat

Menetapkan apa yang harus diamati

Memberi tugas pengamatan pada murid

  1. Pelaksanaan

Melaksanakan Role Playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaan dan menghentikannya

  1. Diskusi dan evaluasi

Menelaah kembali pelaksanaan role playing

Mendiskusikan fokus utama role playing

Menyiapkan pelaksanaan ulang role playing

  1. Pelaksanaan ulang

Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang sebagai ibu.

  1. Diskusi dan evaluasi (lihat langkah keenam)
  2. Berbagi pengalaman dan generalisasi

Menghubungkan masalah yang diperankan itu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku.

  1. Sistem Sosial yang Diperlukan

Model ini terstruktur secara moderat. Guru mengemukakan langkah-langkah dan mengarahkan murid dalam melaksanakan setiap langkah. Isi diskusi/tema dan pelaksanaan umumnya ditentukan oleh murid.

 

 

 

  1. Prinsip-prinsip reaksi

Terimalah semua respon murid tanpa mengevaluasi. Bantu murid menggali berbagai sisi situasi masalah dibandingkan dengan pandangan-pandangan lain.Tingkatkan kesadaran siswa tentang pandangan dan perasaan sendiri melalui merefleksi, parafrase, dan menyimpulkan respon-respon mereka. Tekankan bahwa ada berbagai cara memainkan peran dan juga ada banyak cara untuk memecahkan masalah.

  1. Sistem pendukung

Role playing hanya memerlukan sedikit saja material pendukung kecuali situasi awal. Misal: tempat yang agak luas, benda-benda dari lingkungan sekitar atau dari alam.

 

Peranan Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah

Guru merupakan kunci sentral untuk keberhasilan suatu pengajaran. Terlebihlagi apabila lingkungan tempat pembelajaran kurang menguntungkan, peran guru sangat berarti bagi siswa karena penentu keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, orang tua dan sekolah. Kedudukan guru sebagai komponen pengajaran di samping siswa, kurikulum, metode, alat pelajaran, dan alat evaluasi merupakan penentu keberhasilan. Dengan demikian guru berperan sebagai pembimbing, model, inovator, administrator dan evaluator, terlebih lagi dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

 

2.2.1. Guru Bahasa Indonesia sebagai Pembimbing

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membimbing kelas I dan II antara lain

sebagai berikut:

  1. Tingkat Kesiapan anak

Kesiapan anak yang berasal dari TK tentunya akan lebih matang bila dibandingkan dengan yang bukan dari TK. Biasanya anak dari TK lebih memiliki dasar kedisiplinan dan dasar pembiasaan diri yang lebih, meskipun tidak mutlak. Hal ini dapat diperkuat GBPP dan Kurikulum Pendidikan TK yang bertujuan untuk membantu kesiapan dalam menghadapi pendidikan selanjutnya. Seharusnya bagi siswa yang memiliki kesiapan plus mendapat tambahan pengayaan, sedang bagi yang kurang diadakan pembimbingan tambahan.

  1. Tingkat Pengembangan Anak

Anak usia dini kecenderungan ingin tahu sangat besar dengan apa yang ia lihat, serta pada diri anak kelas I dan II memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya. Oleh karena itu dorongan dan bimbingan guru sangat diperlukan untuk memupuk dan membangkitkan bakat, minatdan kemapuan anak tersebut. Guru harus berperan aktif serta dapat memanfaatkan saat-saat yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan anak didiknya.

  1. Bahasa Ibu

Bahasa ibu anak kelas I,II dan III, seharusnya menjadi sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bahan pelajaran, metode, dan teknik pembelajaran bahasa Indonesai sebagai bahasa kedua.

2.2.2. Guru sebagai Model

Guru sebagai cermin bagi anak didik, terutama baik bagi anak usia dini, yang biasanya dorongan ingin meniru sangat menonjol. Semua tingkah laku guru akan berpengaruh bagi anak didik, begitu juga tutur kata guru, secara sadar atau tidak akan merupakan model bagi anak didik. Oleh karena itu, guru kelas I dan II hendaknya santun dalam berbicara, baik tutur katanya, serta menggunakan bahasa yang baik dan benar.

2.2.3. Guru sebagai Administrator

Guru sebagai pengelola segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pengajaran, termasuk pengadministrasiannya, misal: mencatat jumlah siswa, pekerjaan orang tua, bagaimana prestasi anak tersebut, kelemahan dan kekurangan masing-masing siswa , termasuk perkembangan bahasanya.

2.2.4. Guru Bahasa sebagai Inovator

Guru bahasa tentunya menyadari, bahwa bahasa yang digunakan dan diajarkan bersifat hidup. Dengan demikian bahasa senantiasa mengalami perkembangan, misalnya adanya unsur serapan asing maupun daerah yang merupakan wujud berkembangnya bahasa tersebut. Di satu sisi perkembangan tersebut berakibat positifterhadap perbendaharaan kata, di sisi lain menuntut kita lebih kreatif mendorong aktivitas anak didik untuk terampil menyaring dan memanfaatkan perkembangan tersebut secara tepat.

Untuk mewujudkan pemikiran di atas, guru harus bersifat terbuka menerima bahkan mengharap saran-saran, aktif dalam kegiatan yang bersifat sebagai ajang bertukar pikiran kebahasaan dan tertanam rasa bangga dan hormat terhadap perkembangan dan kedudukan Bahasa Indonesia serta mengimplementasikan secara sungguh-sungguh dalam pembelajaran. Guru harus menyadari peran bahasa Indonesia sebagai sarana mempelajari mata pelajaran lain dan sebagai salah satu keterampilan hidup bagi para siswa.

2.2.5. Guru sebagai Evaluator

Evaluator berarti orang yang mengadakan kegiatan penilaian, sedangkan evaluasi merupakan proses pelaksanaan penilaian tersebut. Aktivitas evaluasi oleh guru pada umumnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Evaluasi awal
  2. Evaluasi Tengah
  3. Evaluasi akhir

Pertama, evaluasi awal, yang sering kita sebut analisis kondisi awal, atau evaluasi perencanaan.

Kedua, evalusi tengah atau evaluasi proses. Kegiatan mengadakan penilaian ini dilakukan guru pada saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Apakah teknik, metode, sarana dan prasarana kegiatan siswa telah searah dengan tujuan pembelajaran.

Ketiga, adalah evaluasi akhir atau disebut evaluasi hasil, merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan alat evaluasi berupa tes, dengan tujuan untuk melihat tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap materi yang telah disajikan. Ketiga kegiatan evalusi tersebut berlangsung melingkar, secara terus menerus, artinya hasil evalusi yang lalu akan menjadi pedoman pembelajaran yang akan datang, begitu seterusnya.

2.3. Pendekatan Mengajar

Beberapa pendekatan yang masih dominan digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain: pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, pendekatan integratif dan tematik.

2.3.1. Pendekatan Komunikatif

Yang dimaksudkan dengan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi. Dalam pendekatan ini yang diutamakan adalah tersampaikannya semua pesan komunikasi. Dalam pembelajaran keterampilan wicara, keterampilan menulis, materi pembelajaran kebahasaan disusun dan dipilih untuk menunjang tercapainya komunikasi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dengan mudah dipahami bagi komunikan dan komunikator. Prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut :

  1. Pragmatik, struktur dan kosakata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri, karena kosa kata, pragmatik dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut.
  2. Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang disampaikan secara tersirat.
  3. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar dan memperluas wawasan juga mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misalnya membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama.
  4. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswamenguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan informasi secara lisan maupun tulis.

2.3.2. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif

Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan bahwa CBSA indentik dengan belajar kelompok adalah tidak benar.

2.3.3. Pendekatan Integratif dan Tematik

Yang dimaksud dengan pendekatan integratif adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara integrative, misalnya dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Selain integratif dalam kebahasanan juga integratif lintas materi dengan diikat oleh sebuah tema. Berdasarkan struktur Kurikulum 2004 dan uraian di atas, pembelajaran di SD kelas rendah harus menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini dianggap cocok diterapkan di SD sebab pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

Karakteristik Pengajaran Tematik

  • Memberikan pengalaman langsung tentang objek-objek yang riil bagi anak
  • Menciptakan kegiatan sehingga anak-anak menggunakan semua pemikirannya
  • Membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada hal-hal yang telah mereka ketahui dan telan dapat mereka lakukan sebelumnya.
  • Memberikan kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang ditujukan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan anak (kognitif,sosial, emosi, fisik, dan sebagainya).
  • Mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan siswa untuk bergerak dan melakukan aktivitas fisik, interaksi sosial. Melatih kemandirian, serta mengembangkan harga diri yang positif (positive self esteem)
  • Memberikan kesempatan untuk menggunakan bermain sebagai alat untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam suatu pengertian.
  • Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, pengalaman di dalam keluarga yang dibawa anak ke dalam kelasnya.
  • Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.

 

 

Prinsip-prinsip Pengajaran Tema

  • Tema harus terkait langsung dengan pengalaman kehidupan nyata anak-anakdan harus dikembangkan atas dasar pengetahuan yang telah mereka miliki.
  • Setiap tema harus menyajikan konsep untuk diselidiki dan ditemukan oleh anak-anak. Penekanannya, guru harus membantu anak membangun konsep yang berhubungan dengan tema.
  • Setiap tema harus didukung oleh bahan yang cocok untuk diteliti oleh anak.
  • Setiap tema merupakan pengikat dari isi/bahan dan proses belajar.
  • Informasi yang berkaitan dengan tema harus disampaikan kepada anak melalui kegiatan pengalaman langsung.
  • Kegiatan yang berkaitan dengan tema harus menyajikan berbagai materi kurikulum dan cara-cara yang dapat melibatkan anak-anak.
  • Isi atau materi yang sama harus diberikan lebih dari satu kali (berulang-ulang) dan dikembangkan ke dalam jenis-jenis kegiatan yang berbeda-beda.
  • Tema harus memungkinkan untuk memadukan beberapa bidang pengembangan yang ada dalam program.
  • Setiap tema harus dapat diperluas atau dapat direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan anak-anak.

 

Keuntungan Pengajaran Tema

  • Meningkatkan perkembangan konsep anak
  • Mengintegrasikan isi dan proses belajar.
  • Anak-anak memiliki kesempatan untuk menemukan informasi-informasi penting melalui berbagai cara.
  • Memungkinkan anak untuk memahami lebih dari bidang-bidang studi yang dipelajarinya.
  • Adanya keterlibatan kolektif mempelajari topik-topik khusus dapat meningkatkan keeratan kelompok.
  • Mendorong para praktisi untuk menentukan fokus materi yang ada di sekitar anak .
  • Memungkinkan guru untuk menyajikan topik yang cukup luas dan mendalam serta memberikan kesempatan kepada semua anak dalam mempelajari materi
  • Dapat diimplementasikan pada berbagai tingkatan kelas dan kelompok usia yang berbeda

 

 

 

Contoh Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar

Kelas Rendah berdasarkan Pendekatan Tematik

Sebelum penyajian model, perlu dipahami langkah-langkah perencanaanpembelajaran. Tentu saja langkah-langkah ini tidak harus Anda ikuti secara kaku.

  1. Menentukan tema, subtema, dan materi yang dikembangkan:
  2. Memilih tema dari kurikulum
  3. Menentukan subtema dati tema yang dipilih
  4. Menuliskan materi yang akan dikembangkan
  5. Menentukan fokus pembelajaran
  6. Menentukan keterampilan yang ditekankan dan diberi jatah waktu terbanyak
  7. Menentukan materi keterampilan dan konsep dalam bidang studi atau dari bidang studi lain yang dipadukan
  8. Menentukan dampak pengiring yang diharapkan

III. Menentukan kompetensi dasar, indikator, dan hasil belajar.

  1. Menyediakan bahan ajar dan alat peraga/media yang diperlukan

Yang dimaksud dengan bahan ajar ialah apa yang akan diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan, seperti huruf yang akan diperkenalkan, pola kalimat yang dilatihkan, kosakata yang dikembangkan, kemampuan kognitif/afektif yang dikembangkan. Media adalah benda yang dikembangkan untuk mempermudah tercapainya tujuan, seperti gambar, kartu huruf/ suku kata/ kata/ kalimat, bunga, daun dsb.

  1. Menentukan Strategi Pembelajaran

Berdasarkan indikator, kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran disusun dengan memperhatikan kondisi seperti umur siswa, keadaan kelas/sekolah, serta cuaca. Dalam hal ini, perlu ditentukan alokasi waktu untuk setiap kegiatan. Kegiatan yang berkaitan dengan fokus pembelajaran mendapat jatah waktu paling banyak. kalanya dalam satu pertemuan ditetapkan dua fokus, misalnya mendengarkan (menyimak) dan berbicara, atau membaca dan menulis permulaan.

  1. Menyusun Alat Evaluasi

Untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran tercapai, perlu disusun alat evaluasi (formatif). Yang dievaluasi terutama yang merupakan fokus pembelajaran. Berikut ini akan diberikan dua contoh model pembelajaran. Perlu diketahui bahwa model-model itu dikembangkan secara terpadu dengan tingkat keterpaduanyang tidak sama. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa model-model yang disajikan hanyalah sekedar contoh yang dapat diubah dan dikembangkan sesuai dengankreativitas guru/calon guru.

  1. Model Pembelajaran Terpadu Bidang Studi Bahasa Indonesia

Kelas 1, Semester II

  1. Tema : Kegiatan sehari-hari

Subtema : Belajar di rumah

Materi Pokok : Membaca, teks nonsastra

  1. Fokus Pembelajaran : Membaca ( + 50%)

Aspek dipadukan : menulis ( + 30%) berbicara dan menyimak ( + 20%)

kemampuan kognitif yang dikembangkan: berpikir divergen.

Nilai moral: religius.

III. Kompetensi Dasar : Membaca Bersuara

  1. Indikator
  • Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar
  • Membaca dengan memperlihatkan tempat jeda (untuk berhenti, menarik nafas): jeda panjang atau pendek
  • Membaca dengan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteksnya
  • Mengidentifikasi kata-kata kunci dari bacaan agak panjang
  1. PBM
  2. Membaca bacaan (lebih kurang 10 kalimat) dengan lafal dan intonasi yang wajar
  3. Menuliskan kata-kata yang didiktekan guru
  4. Menulis kalimat sederhana dimulai dengan huruf capital
  5. Menjawab pertanyaan tentang isi bacaan
  6. Menyebutkan sifat, watak, atau kebiasaan yang baik
  7. Mengucapkan doa sebelum/sesuadah makan menurut agama masing-masing dengan lafal dan intonasi yang baik dan wajar.
  8. Materi Pokok : Teks nonsastra

Bahan ajar yang digunakan ialah teks bacaan buatan guru, sesuai dengan tema dan materi pokok. Siswa diharapkan telah menguasai semua huruf kecuali x dan z. Alat Bantu lainnya : gambar anak berseragam SD sedang makan pagi. Jam dinding menunjukkan pukul 05.50, suku kata bagian dari kata-kata sifat dalam bacaan.

Alat Bantu lainnya: gambar Wawan sedang menggambar. Ayah memperhatikan. Adiknya melihat gambar, ibu menceritakan gambar itu. Jam dinding menunjukkan pukul 05.05, seperangkat kartu suku kata.

VII. Strategi Pembelajaran

  1. Guru menempelkan gambar dengan judul Wawan, teks bacaan ditutupi.
  2. Kegiatan prabaca, anak-anak diajak menerka isi bacaan.
  3. Kegiatan membaca

– Membaca sepuluh kalimat pertama

– Mencocokan terkaan isi bacaan dengan isi bacaan yang sebenarnya

– Melanjutkan kegiatan membaca

– Mencocokan terkaan isi bacaan dengan isi bacaan yang sebenarnya

  1. Kegiatan pascabaca

– Mendorong siswa untuk berpikir divergen dalam menanggapi bacaan.

– Mendorong siswa untuk mengenali karakter (sifat-sifat)tokoh.

– Menyalin bacaan dengan huruf tegak bersambung

– Mengembangkan kosa kata dengan membuat suku kata menjadi kata.

– Mengerjakan latihan menggunakan kata sifat.

Catatan:

Pembelajaran di atas dilaksanakan secara terpadu. Fokusnya ialah membaca. Kegiatan

tersebut dimulai dengan orientasi menyimak pertanyaan guru dan berbicara untuk

memberikan jawaban. Di dalam pembelajaran membaca itu, siswa juga harus menulis.

Selain itu, beberapa pertanyaan yang diajukan memacu siswa “berpikir”divergen:

tidak hanya satu jawaban yang benar.

  1. Model Pembelajaran Terpadu (Integratif)

Tema : KEJADIAN SEHARI-HARI

Kelas : 1 (satu)

Semester : II (dua)

Bahasa Indonesia

Aspek berbicara :

Kompetensi Dasar : Mendeklamasi puisi anak atau syair lagu

Hasil Belajar : Mendeklamasi puisi anak atau syair lagu dengan penghayatan dan ekspresi yang sesuai Indikator : – Membaca Puisi atau sayir lagu dengan benar

– Mendeklamasikan sesuai dengan isi dan mengekpresikan dalam gerak dan mimic yang sesuai

Materi Pokok : Puisi anak atau lagu anak.

Aspek Membaca :

Kopmpetensi Dasar : Membaca bersuara (lancar)

Hasil Belajar : -Membaca bersuara (lancar) kalimat sederhana terdiri atas 3-5

Kata.

Indikator : – Membaca lancar teks pendek dengan hafal dan intonasi

yang Benar

– Membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti menarik nafas) jeda panjang atau pendek

– Membaca dan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteks

– Mengidentifikasi kata-kata kunci dari bacaan agak panjang.

Materi Pokok : Teks sastra dan nonsastra

Aspek Menulis :

Kompetensi Dasar : Menulis dengan huruf sambung

Hasil Belajar : Menulis rapi kalimat dengan huruf sambung

Indikator : Menulis kalimat dengan huruf sambung yang rapi dan

dapat dibaca orang lain

Materi Pokok : Kalimat dengan huruf sambung yang tertulis rapi dan

jelas di papan tulis dan buku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiasih dan Zuchdi, Darmiyati. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di

Kelas Rendah. Jakarta. Dekdikbud.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Sekolah Dasar. Jakarta

Depdiknas.

————–. 2004. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar. Jakarta. Depdiknas

Hernawan, Asep Herry. 2002. Kurikulum Pembelajaran. Bandung. Jurusan Kurikulim

dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universita

Pendidikan Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2000. Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung. Program

Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia .

Harjasujana, Ahmad Slamet. 2001. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk PGSD.

Bandung. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesi.

Purwanto, Ngalim dan Alim, Djeniah. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa

Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta. Rosda Jayaputra.

Sapani, Suardi. 1994. Contoh Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jakarta. Depdikbud.

Salleh, Norilla MD dan Othman Ikhsan. 2005. Kurikulum dan Pengajaran Sekolah

Rendah. Perak. Quantum Book.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum; Teori dan

Praktek.Bandung. Remaja Rosdakarya.

Syafiíe, Sudarmi. 1994. Seri Panduan Guru; Implementasi Kurikulum Pendidikan

Dasar 1994 Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 Sekolah Dasar. Solo.

Tiga Serangakai.

Tarigan, Djago. 1995. Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan

SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung. Jurusan Pendidikan

Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung.

5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s