BIMBINGAN KONSELING DI SD

KONSEP DASAR BIMBINGAN KONSELING SOSIAL

  1. Latar belakang diperlukannya bimbingan konseling social
    Pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak membawa perubahan-perubahan dalam tata kehidupan baik social, ekonomi dan juga politik. Ada dua sikap yang muncul akibat dari pengaruh modernisasi yaitu: optimistic atau pesimistik? Mereka yang psimistik berpandangan bahwa globalisasi dapat mengguncang dan mengganggu keseimbangan individu dalam masyarakat. Derasnya arus globalisasi itu akan meruntuhkan nilai-nilai moral dan social serta tatanan yang ada dalam masyarakat, yang dianggapnya telah mapan dari generasi-ke generasi. Hancurnya nilai-nilai moral dan social ini pada gilirannya akan menimbulkan keresahan dan juga kerusuhan di dalam masyarakat yang secara langsung berdampak negative terhadap anggota masyarakat, dalam skala yang tak terbayangkan, masa depan yang demikian ini akan penuh dengan bahaya dan kemunduran-kemunduran, bahkan kehancuran yang tak terhindarkan. Sebaliknya mereka yang berpandangan positif berpendapat justru melihat bahwa dalam era globalisasi itu terdapat banyak kesempatan dan peluang-peluang untuk mengadakan perubahan perubahan, perbaikan dan peningkatan terhadap segala sesuatu yang dirasakan selama ini kurang berkembang.

Pandangan ini berpendapat masa depan harus lebih baik, ada kemajuan. Perubahan yang diharapkan adalah adanya kesempatan sekaligus tantangan yang memberikan harapan harapan baru bagi kita semua untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik seperti yang dicitacitakan Berangkat dari dua sikap tersebut baik yang positif maupun yang negative, agar perubahan yang terjadi dapat seperti yang diharapkan dan juga tidak terlepas dari akar budaya yag ada, dan tetap bercirikan sebagai budaya dan dapat merupakan ciri khas kepribadian bangsa.Demikian juga yang pesimis, yang penuh kekhawatiran, karena beranggapan dengan pengaruh perubahanperubahan tersebut akan membawa dampak yang negative, satu hal yang harus disadari bahwa kehidupan tidaklah statis tetapi harus dinamis, oleh karena itu perubahan tetaplah kita perlukan sepanjang itu dapat meningkatkan martabat kemanusiaan dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Konseling social hadir sebagai upaya untuk menjembatani agar individu-individu yang ada dalam masyarakat dapat menghadapi berbagai perubahan sekaligus juga tantangan yang harus dihadapi dengan berpedoman pada norma-norma yang ada
untuk disesuaikan seiring dengan dinamika masyarakat sebagai tuntutan yang harus dipenuhi. Dengan kata lain bimbingan konseling social hadir berangkat dari hakekat manusia sebagai mahluk yang paling indah dan paling tinggi derajatnya sehingga mendorong manusia untuk terus maju dan berkembang tanpa henti dari zaman ke zaman, dari situlah maka dimensi-dimensi kemanusiaan perlu dikembangkan dengan pertimbangan: pertama antara individu satu dengan individu lain terdapat banyak perbedaan sebagai contoh perbedaan tersebut dapat dilihat dari fisik misalnya, hidungnya mancung, badannya jangkung, kulitnya hitam, badannya gemuk dan lain sebagainya, dari perbedaan psikhis misalnya: berfikirnya lamban, terlalu banyak pertimbangan, mudah tersinggung, sensitive dan lain-lain. Meski demikian juga ada persamaannya misalnya: mempunyai hoby yang sama misalnya suka berjalan-jalan, membaca, makan makanan yang pedas,kesamaan dalam persepsi dan lain-lain, dari sinilah bagaimana manusia menyikapi perbedaanperbedaan tersebut sebagai keragaman yang dapat mewarnai kehidupan, dimensi inilah yang seringkali disebut dimensi individualitas. Pengembangan dimensi individualitas memungkinkan seseorang dapat mengembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya secara optimal yang mengarah pada aspek-aspek kehidupan yang positif, seperti misalnya: bakat, minat, kemampuan dan berbagai kemungkinan. Pengembangan dimensi ini akan membawa seseorang individu yang mampu berdiri tegak dengan kepribadiannya sendiri dengan aku yang tangguh, positif, produktif dan dinamis. Pertimbangan kedua, setiap individu pasti memerlukan individu lain atau tidak bisa lepas dari individu lain, oleh karena itu pasti membutuhkan orang lain, si jabang bayi yang baru lahirpun tak dapat bertahan hidup tanpa bantuan seorang ibu bahkan ayahnya. Disisi lain manusia dapat hidup dan berkembangbtidak dapat lepas dari lingkungan yang mempengaruhinya, oleh karena itu peranan individu satu dengan individu yang lain sangat besar. Sebagai contoh cerita si Tarsan kota adalah manusia yang dibesarkan di hutan dengan lingkungan sekitarnya adalah hewan, yang akhirnya berkembanglah pribadi manusia si Tarsan tetapi karakternya adalah hewan, sehingga dari sinilah dapat dikatakan bahwa manusia akan menjadi manusia apabila ia hidup dan berkembang dalam lingkungannya, dimensi ini sering disebut dengan dimensi kesosialan atau sosialitas.Pengembangan dimensi individualitas seharusnya diimbangi dengan dimensi kesosialan pada diri individu yang bersangkutan. Pengembangan dimensi kesosialan akan memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, bekerja sama dan hidup bersama dengan orang lain. Kaitan antara dimensi individualitas dan dimensi sosialitas memperlihatkan bahwa manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk social.Dimensi individu dan dimensi social saling berinteraksi, dan dalam berinteraksi tersebut keduanya saling tumbuh dan berkembang, saling mengisi dan saling menemukan makna yang sesungguhnya.

Dimensi kesusilaan memberikan warna moral terhadap perkembangan dimensi pertama dan kedua, dimana etika dan berbagai ketentuan yang berlaku mengatur bagaimana kebersamaan antar individu seharusnya dilaksanakan. Hidup bersama dengan orang lain, baik dalam rangka memperkembangkan dimensi individualitas maupun kesusilaan tidak dapat dilakukan seadanya saja, tetapi perlu diselenggarakan sedemikian rupa sehingga semua orang yang berada didalamnya memperoleh manfaat yang sebasar-besarnya dari kehidupan bersama itu. Dimensi kesusilaan justru mampu menjadi pemersatu sehingga dimensi individualitas dan kesosialan dapat bertemu dalam satu kesatuan yang penuh makna.   Dapat dikatakan bahwa tanpa dimensi dimensi kesusilaan, berkembangnya dimensi individualitas dan kesosialan akan nampak tidak serasi, bahkan dapat dikatakan saling bertabrakan sehingga dapat berakibat yang satu cenderung menyalahkan yang lain. Perkembangan ketiga dimensi diatas memungkinkan manusia dapat menjalani kehidupan. Apabila ketiga dimensi itu dapat berkembang optimal tidak mustahil kehidupan manusia dapat mencapai taraf kebudayaan yang amat tinggi. Dengan ketiga dimensi itu manusia dapat hidup layak serta dapat mengembangkan tehnologi dan seni yang sehebat-hebatnya bahkan ia dapat mengarungi angkasa luar serta mampu mencapai bulan sekalipun, akan tetapi kehidupan manusia tidaklah bersifat acak atau sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan tertentu, hampir setiap kegiatan manusia baik secara individu atau perorangan maupun kelompok mengikuti aturan aturan tersebut. Aturan-aturan tersebut ada yang bersumber dari agama, social, budaya dan lain lain. Sebagai ilustrasi manusia adalah berbeda dengan binatang, karena itulah manusia mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan serta mengadakan penyesuaian penyesuaian ketika menghadapi situasi yang berubahubah, dari perubahan itulah menghasilkan pola-pola perilaku tertentu.

Demikian juga dalam pergaulan dengan orang lain yang ada di masyarakat, aturan-aturan tersebut semakin diperlukan, sehingga bersama orang lain manusia atau individu tidak boleh sembarangan, tetapi harus saling menjaga, menghormati keyakinan masing-masing, menghargai pendapat, saling memberi dan menerima sehingga akan tercipta kehidupan bersama dalam masyarakat, demikian juga dalam suatu lembaga hubungan antara atasan dan bawahan hendaklah memperhatikan hak dan kewajiban, semua ini dimaksudkan demi terciptanya situasi dan kondisi yang menyenangkan dalam masyarakat tersebut. Dimensi ini sering disebut dengan dimensi kesusilaan atau moralitas.

  1. Tujuan Bimbingan Konseling Sosial
    Sebagaimana telah diuraikan pada latar belakangdiperlukannya bimbingan konseling social adalah terciptanyatatanan kehidupan baik: individu, keluarga dan masyarakat yangmeliputi ketentraman, ketertiban dan kesusilaan.Ketentramanyang dimaksud adalah bebas dari segala ancaman, teror danlain-lain, baik lahir maupun bathin. Ketertiban adalah adanyakesesuaian berdasarkan norma-norma yang berlaku denganmengikuti petunjuk-petunjuk yang ada yang telah ditetapkanbersama. Kesusilaan adalah sesuai dengan norma-norma yangberlaku di masyarakat secara dinamis dan fleksibel. Kondisimasyarakat ini akan dapat terwujud melalui kerja sama denganberbagai pihak dan tanggung jawab bersama antara pemerintahan masyarakat termasuk LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Sebagai illustrasi, kondisi masyarakat yang diharapkan adalah masyarakat yang dapat diorganisir dengan baik, hal ini dapat dicirikan antara lain:

  1. adanya stabilitas dalam segalabidang;
  2. terciptanya interaksi personal yang intim yangditandai dengan pola hubungan individu yang harmonis yangada dalam masyarakat tersebut;
  3. terciptanya relasi socialyang yang berkesinambungan atau kontinuitas;
  4. adanyaconsensus yang bertaraf tinggi diantara anggota-anggotamasyarakat (Kartini Kartono, 2001).Stabilitas disini, tidaklah berarti stagnan tanpa mengalamiperubahan, tetapi yang dimaksudkan adalah stabilitas yangdinamis yaitu mengikuti perubahan untk menyesuaikan dengankondisi-kondisi yang ada, dan dalam prosesnya tidaklahmenimbulkan konflik atau gejolak yang berarti, sehinggaindividu-individu yang ada dalam masyarakat akan merasakankenyamanan dan ketentraman.Interaksi personal yang intim yang ditunjukkan denganpola-pola hubungan individu yang saling tolong-menolong,solidaritas yang tinggi, menjunjung kebersamaan, saling menjagadan menghormati hak azasi dan lain-lain.

Disisi lain akibat adanya kemajuan atau modernisasi mengakibatkan:

  1. lenturnyaatau bahkan hilangnya nilai-nilai intimitas tersebut, sehinggayang muncul adalah tidak adanya kesinambunan pengalamandari kelompok satu ke kelompok yang lain;
  2. perubahan yangterjadi serba cepat;
  3. kondisi yang tidak stabil;
  4. tidakadanya penyesuaian diantara individu-individu yang ada dalammasyarakat;
  5. relasi yang retak dan lain-lain, yang kemudiantercipta pola-pola hubungan yang individualistis, ekstrim untukkepentingan diri sendiri atau kelompoknya, karena yangdemikian ini maka banyak anggota masyarakat yang mengalamidepresi bahkan frustrasi dan lain sebagainya. Kondisi yangdemikian ini, maka bimbingan konseling sosial hadir sebagaiupaya untuk membantu individu individu yang ada dalammasyarakat agar mampu menghadapi realitas yang ada secaradinamis dan fleksibel.
  6. Sasaran Bimbingan Konseling Sosial
    Adapun yang menjadi sasaran dalam bimbingan konseling sosial menurut S. Kasni Hariwoerjanto (1977) secara garis besar dibagi menjadi dua:
  7. individu yang mengalamikesulitan dalam bersosialisasi, dan
  8. kelompok yangmengalami stagnasi sosial. Yang dimaksud individu yangmengalami kesulitan dalam bersosialisasi adalah: a) individunon sosial, adalah individu yang tidak mau bergaul denganlingkungannya karena ada penghalang atau sebab, penghalangini dapat berupa minder, takut dicemooh, malu dan sebagainya;b) individu a sosial, adalah individu yang tidak dapatmenyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada, atauindividu yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bukankarena tidak mampu, tetapi memang individu tersebut sengajatidak mau atau tidak suka untuk menyesuaikan denganligkungan sekitarnya. Biasanya sebab-sebab yang menjadipenghalang tidak nyata, sehingga menurut ukuran orang,individu tersebut dapat menyesuaikan; c) individu anti sosial,adalah individu yang sebenarnya mampu untuk menyesuaikandiri atau memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada dalammasyarakat, tetapi individu tersebut melawan atau bahkanmenentang dengan lingkungan sekitarnya.Kelompok yang mengalami stagnasi sosial antara lain: a)disorganisasi sosial, pada kenyataannya setiap manusiamempunyai masalah atau tantangan yang harus dihadapi denganbaik atau lapang dada sehingga tercapai kesejahteraan sosial.Disorganisasi sosial adalah suatu keadaan yang retak dibidangaqidah, nilai sehingga tidak dapat menjalankan peraturan peraturan sebagaimana layaknya, kebiasaan dalam pergaulanhidup yang semaunya dan lain-lain; b) kesukaran sosial,kesukaran sosial banyak ditimbulkan karena disorganisasi yangmembahayakan, ini lebih bersifat kondisi patologis yang dideritaakibat kondisi patologi keluarga yang tidak dapat direduksi olehsystem referensi problem solving; c) masalah sosial, adalahsuatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari
    sudut yang tidak diinginkan, kondisi tersebut dapat disebut dengan salah atau abnormal. Kondisi yang abnormal tersebut dapat disebabkan salah satunya adalah terjadinya penyimpangan dari kondisi yang seharusnya.
  9. Bimbingan Konseling Sosial Dalam Kaitannya Dengan
    Ilmu-ilmu Lain.
    Secara umum bimbingan konseling sosial adalah bagian dari bimbingan dan konseling yang diaplikasikan lebih khusus untuk masyarakat atau sosial. Sebagai bagian dari bimbingan dan konseling masuk dalam kategori ilmu-ilmu sosial, meskipun demikian bimbingan konseling sosial tidak berarti terlepas dari ilmu-ilmu yang lain misalnya: ilmu komunikasi, ilmu sosiologi,
    ilmu filsafat, ilmu antropologi dan ilmu psikologi termasuk juga ilmu ekonomi. Ilmu komunikasi diperlukan dimana seorang konselor sosial dapat menyampaikan pesan-pesan sehingga isi materi dalam konseling dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Dalam perspektif imu sosiologi, konseling sosial hendaklah mempelajari bagaimana interaksi individu dalam masyarakat. Demikian juga ilmu antropologi, keanekaragaman budaya, suku yang ada dalam masyarakat hendaklah difahami dengan baik dan sebagai wacana untuk memberikan solusi dalam terapi, termasuk memahami pentingnya budaya yang ada dalam masyarakat, dengan keragaman tersebut akan mempersatukan dari berbagai unsur termasuk ras, etnis sekaligus. Ilmu filsafat membantu konselor sosial dalam mendiagnosa permasalahan yang ada dalam masyarakat sehingga dapat mengambil solusi yang tepat serta tindak lanjut. Ilmu psikologi diperlukan sebagai alat untuk terapis dan membantu konselor sosial dalam memahami perubahan perilaku dan perkembangan kepribadian manusia. Ilmu ekonomi diperlukan untuk membantu memahami dunia kerja dan lain sebagainya. Semuanya itu akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pemahaman secara lebih utuh untuk penyelenggaraan praktek konseling sosial. Hansen dkk (1982) menyebutnya konseling sosial sebagai aplikasi dari ilmu-ilmu sosial interdisipliner, lebih lanjut Hansen
    menegaskan sebagai berikut:
    The purpose of counseling makes it clear why such
    varied diciplines have influenced the profession…… if
    counselor are to enhance the will being of the individual,
    the must understand as many as possible of the factors
    that effect people; they must adopt an interdisciplinary
    approach ( Hansen dkk, 1982).
    Dengan demikian kemampuan seorang konselor social selain harus memiliki pengetahuan khusus yang menjadi bidang keahliannya, juga harus ditopang oleh pengetahuan lain secara interdisipliner, karena dalam kenyataannya individu yang ada dalam masyarakat itu berasal dari berbagai latar belakang yang beragam, baik sosial, budaya, agama dan lain-lain, sehingga masalah yang dihadapi oleh konselor sosial juga beragam dan komplek, oleh karena itulah dengan kemampuannya yang interdisipliner sangat membantu konselor dalam menjalankan tugas-tugas konseling sosialnya.
    Rangkuman
    Sebagaimana telah diuraikan bahwa tujuan bimbingan
    konseling social adalah terciptanya tatanan kehidupan individu,
    keluarga dan masyarakat yang sejahtera baik lahir maupun bathin
    yang ditandai dengan rasa ketentraman, ketertiban dan kesusilaan.
    Pengaruh modernisasi menimbulkan disharmoni individu
    dalam keluarga yang ditandai dengan: (1) hilangnya nilai-nilai
    intimitas individu dalam keluarga; (2) perubahan yang terjadi serba
    cepat; (3) kondisi yang tidak stabil dan (4) tidak adanya penyesuaian
    diantara individu-individu yang ada dalam masyarakat.
    Masyarakat yang dicita-citakan adalah masyarakat yang
    bercirikan antara lain: (1) adanya stabilitas di segala bidang; (2)
    terciptanya interaksi personal yang intim yang ditandai dengan pola
    hubungan individu yang harmonis yang ada dalam masyarakat; (3)
    terciptanya relasi social yang berkesinambungan; (4) adanya
    konsensus yang bertaraf tinggi diantara anggota-anggota dalam
    masyarakat.
    Sasaran bimbingan konseling sosial secara garis besar
    adalah: 1) individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi, dan
    2) kelompok yang mengalami stagnasi sosial.
    Individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi antara
    lain 1) individu non sosial; b) individu a sosial dan c) individu
    anti sosial. Sedangkan kelompok yang mengalami stagnasi
    sosial antara lain: 1) disorganisasi sosial; 2) kesukaran sosial
    dan 3) masalah sosial.
    Keterkaitan bimbingan konseling sosial dengan ilmu-ilmu
    lain misalnya dengan: ilmu komuikasi; ilmu sosiologi; ilmu
    psikoogi; ilmu filsafat; ilmu antropologi dan ilmu ekonomi.

    Adapun yang menjadi sasaran dalam bimbingan konseling social
    menurut S. Kasni hariwoerjanto (1997) secara garis besar dibagi
    menjadi dua: 1).individu yang mengalami kesulitan bersosialisasi,
    dan 2). kelompok yang mengalami stagnasi social. Yang dimaksud
    individu yang mengalami kesulitas dalam bersosialisasi adalah: (a)
    individu non social, adalah individu yang tidak mau bergaul dengan
    lingkungannya karena ada penghalang atau sebab, penghalang ini
    dapat berupa minder, takut dicemooh, malu dan lain sebagainya; (b)
    individu a social, adalah individu yang tidak dapat menyesuaikan
    diri dengan kondisi lingkungan yang ada, atau individu yang tidak
    dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bukan karena tidak mampu
    tetapi memang individu tersebut sengaja tidak mau atau tidak suka
    untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Biasanya sebabsebab yang menjadi penghalang tidak nyata, sehingga menurut
    ukuran orang, individu tersebut dapat menyesuaikan; (c) individu
    anti social, adalah individu yang sebenarnya mampu untuk
    menyesuaikan diri atau memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada dalam
    masyarakat, tetapi individu tersebut melawan atau menentang
    dengan lingkungan sekitarnya.
    Kelompok yang mengalami stagnasi social antara lain: (a)
    disorganisasi social, pada kenyataannya setiap manusia mempunyai
    masalah atau tantangan yang harus dihadapi dengan baik atau lapang
    dada sehingga tercapai kesejahteraan social, sebab jika tidak dapat
    maka akan terjadi disorganisasi social. Disorganisasi social adalah
    suatu keadaan yang retak dibidang aqidah, nilai, tidak dapat
    menjalankan peraturan-peraturan sebagaimana layaknya, kebiasaan
    dalam pergaulan hidup yang semaunya dan lain-lain; (b) kesukaran
    social, kesukaran social banyak ditimbulkan karena disorganisasi
    yang membahayakan, ini lebih bersifat kondisi patologis yang
    diderita akibat kondisi patologi keluara yang tidak dapat direduksi
    oleh system referensi problem solving;(c) masalah social, adalah

    suatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari sudut
    yang tidak diinginkan, kondisi tersebut dapat disebut dengan salah
    atau abnormal. Kondisi yang abnormal tersebut dapat disebabkan
    salah satunya adalah terjadinya penyimpangan dari kondisi yang
    seharusnya.
    B. Bimbingan konseling Sosial dalam kaitanya dengan ilmu lain
    Secara umum bimbingan konseling social adalah bagian dari
    bimbingan dan konseling yang diaplikasikan lebih khusus untuk
    masyarakat atau social. Sebagai bagian dari bimbingan dan
    konseling masuk dalam kategori ilmu-ilmu social, meskipun
    demikian bimbingan konseling social tidak berarti terlepas dari ilmuilmu yang lain misalnya: ilmu komunikasi, ilmu sosiologi, ilmu
    filsafat, ilmu antropologi dan ilmu psikologi termasuk juga ilmu
    ekonomi.
    Ilmu komunikasi diperlukan dimana seorang konselor social
    dapat menyampaikan pesan-pesan sehingga isi materi dalam
    konseling dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Dalam perspektif
    ilmu sosiologi, konseling social hendaklah mempelajari bagaimana
    interaksi individu dalam masyarakat. Demikian juga ilmu
    antropologi, keanekaragaman budaya, suku yang ada dalam
    masyarakat hendaklah difahami dengan baik dan sebagai wacana
    untuk memberikan solusi dalam terapi, termasuk memahami
    pentingnya budaya yang ada dalam masyarakat, dengan keragaman
    tersebut akan mempersatukan dari berbagai unsur termasuk ras, etnis
    sekali gus. Ilmu filsafat membantu konselor social dalam
    mendiagnosa permasalahan yang ada dalam masyarakat sehingga
    dapat mengambil solusi yang tepat serta tindak lanjut. Ilmu psikologi
    diperlukan sebagai alat untuk terapis dan membantu konselor social
    dalam memahami perubahan dan perkembangan kepribadian
    manusia. Ilmu ekonomi diperlukan untuk membantu memahami
    dunia kerja dan lain sebagainya. Semuanya itu akan memberikan
    kontribusi yang berarti bagi pemahaman secara lebih utuh untuk
    penyelenggaraan praktek konseling social. Hansen dkk (1982)
    menyebutnya konseling social sebagai aplikasi dari ilmu-ilmu social
    interdisipliner, lebih lanjut Hansen menegaskan sebagai berikut:
    The purpose of counseling makes it clear why such varied diciplines
    have influenced the profession….if counselor are to enhance the
    will-being of the individual, the must understand as many as possible
    of the factors that effect people; they must adopt an interdisciplinary
    approach ( Hansen dkk, 1982).
    Dengan demikian kemampuan seorang konselor social selain harus memiliki pengetahuan khusus juga harus ditopang oleh pengetahuan lain secara interdisipliner, karena dalam kenyataanya individu yang ada dalam masyarakat itu berasal dari berbagai latar belakang yang beragam, baik social, budaya, agama dan lain-lain, sehingga masalah yang dihadapi konselor social juga beragam dan komplek, oleh karena itulah dengan kemampuannya yang interdisipliner sangat membantu konselor dalam menjalankan tugastugas konseling sosialnya.

KONSEP DASAR BIMBINGAN

ASAS BIMBINGAN

Asas Kerahasiaan Asas Kesukarelaan Asas Keterbukaan

Asas Kekinian Asas Kemandirian Asas Kegiatan Asas Kedinamisan Asas Keterpaduan Asas Kenormatifan Asas Keahlian Asas Alih tangan Asas Tutwuri Handayani ASAS BIMBINGAN

Tujuan Bimbingan

  • Agar konseling/siswa dapat:
  1. Menyadari “keadaan” diri, + –
  2. Menerima diri
  3. Menyesuaikan dengan lingkungan
  4. Mengembangkan diri
  5. Mencapai kebahagiaan

FUNGSI BIMBINGAN

  1. Fungsi Pemahaman
  2. Fungsi Fasilitasi
  3. Fungsi Penyesuaian
  4. Fungsi Penyaluran
  5. Fungsi Adaptasi
  6. Fungsi Pencegahan (preventif)
  7. Fungsi Perbaikan
  8. Fungsi Penyembuhan
  9. Fungsi Pemeliharaan

10.Fungsi Pengembangan

Jenis Layanan BK

  1. Orientasi
  2. Informasi
  3. Penempatan&Penyaluran
  4. Konseling individual
  5. Konseling kelompok
  6. Bimbingan kelompok
  7. Mediasi
  8. Konsultasi

PRINSIP-PRINSIP UMUM BIMBINGAN

MEDIA TRANSPARANSI / BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR / 2004

1.Bimbingan diperuntukkan semua siswa 2.Bimbingan sbg proses individuasi 3.Bimbingan menekankan hal yang positif 4.Bimbingan merupakan usaha bersama 5.Pengambilan keputusan sebagai hal yang esensi 6.Bimbingan berlangsung dalam berbagai seting kehidupan

PRINSIP BIMBINGAN

UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 Ayat 6: “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”

PP No. 28/1989, Pasal 25:

  1. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenai lingkungan dan merencanakan masa depan 2. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. • Layanan bimbingan perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan membimbing. • Untuk pendidikan SD, memperhatikan karakteristik, kebutuhan siswa, dan penyelenggaraan sistem pendidikan di SD ditangani oleh guru kelas, maka layanan bimbingan lebih efektif dilaksanakan secara terpadu dengan pembelajaran dan ditangani oleh guru kelas. • Guru SD dikehendaki memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menyelenggarakan layanan bimbingan.

MEDIA TRANSPARANSI / BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR / 2004

Robert Myrick, (1989) :

Pendekatan perkembangan lebih tepat digunakan dalam tatanan pendidikan sekolah dasar karena pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan siswa, kebutuhan dan minat, serta membantu siswa mempelajari keterampilan hidup. Tugas perkembangan adalah perangkat perilaku yang harus dikuasai siswa dalam periode kehidupan tertentu, dimana keberhasilan menguasai perangkat perilaku pada periode kehidupan tersebut mendasari keberhasilan penguasaan perangkat perilaku dalam periode berikutnya.

Perkembangan pada usia SD terarah kepada perolehan perilaku yang berkaitan dengan sikap, kebiasaan, dan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai bagian dari lingkungan dan memiliki kecakapan tertentu yang berbeda dari orang lain.

Lingkungan  perkembangan  mengandung unsur-unsur:

 Unsur Peluang  Unsur Pendukung  Unsur Penghargaan

TEKNIK-TEKNIK MEMAHAMI PERKEMBANGAN MURID

TEKNIK MEMAHAMI MURID

TEKNIK TES

Tes Psikologi: ☻Kecerdasan, Bakat, Minat, Kepribadian ☻Tes Hasil Belajar ☻Tes Penampilan

tes

TEKNIK NON TES

☻Observasi ☻Catatan Anekdot ☻Wawancara ☻Angket ☻Autobiografi ☻Sosiometri ☻Studi Kasus

TES KECERDASAN (IQ) SEKOR KLASIFIKASI

> 140 Genius

120 – 139 Very Superior

110 – 119 Superior

90 – 109 Normal

80 – 89 Dull

70 – 79 Border Line

50 – 60 Debil 30 – 49 Embicile

< 30 Idiot

TES BAKAT

REKONIK

BAKAT MUSIK

BAKAT ARTISTIK

BAKAT KLERIKAL

BAKAT MULTIFAKTOR

♣ Berpikir Verbal

♣ Berpikir Bilangan

♣ Berpikir Abstrak

♣ Berpikir Ruang

♣ Kecepaatan dan Ketelitian

♣ Mekanik

♣ Bahasa: Pengucapan & Menyusun

TES MINAT

 TES HOLLAD

 RMIB (Rothwell Miller Interest Blank)

TES KEPRIBADIAN

 PROYEKTIF : GAMBAR, GRAFIS.  MEKANIS/ OBYEKTIF : EPPS

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s