BAHAN AJAR MANAJEMEN PENDIDIKAN (2017)

 

MANAJEMEN PENDIDIKAN

  1. Pengertian Administrasi, Manajemen, dan Manajemen Pendidikan
    1. Pengertian Administrasi

Secara etimologi, administrasi berasal dari kata ad + ministrare. Ad berarti intensif, sedangkah ministrare adalah melayani, membantu, dan memenuhi, sehingga administrasi dapat diartikan dengan melayani secara intensif.

 

Secara sempit, Administrasi adalah pekerjaan yang berhubungan dengan ketatausahaan. Sedangkan menurut beberapa ahli Administrasi dapat diartikan sebagai berikut :

  1. Ilmu/seni mengelola sumberdaya 7M + 1I (man, money, material, machine, methods, marketing, minutes + information (Usman, 2009).
  2. Segenap proses penyelenggaraan dlm setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu (The Liang Gie).
  3. Pengertian Manajemen

Secara etimologi, manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan sehingga manajemen berarti menangani.

Menurut Sumantri (1990 : 44) manajemen sebagai proses penggerakan kerjasama dengan orang lain dan segala fasilitas yang diperlukan. Manajemen juga diartikan sebagai Seni melaksanakan pekerjaan melalui orang lain (Parker  dalam stoner & freeman, 2000). Selain itu juga disebutkan bahwa manajemen adalah Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian (P4) sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Usman, 2009).

  1. Manajemen dan Administrasi sebagai Istilah yang Ekuivalen

Frederick Winslow Taylor (1856 – 1915) merupakan tokoh dari Amerika Serikat yang mempelopori manajemen sebagai suatu disiplin ilmu. Adapun Henry Fayol merupakan tokoh manajemen yang berasal dari Perancis lebih sering menggunakan kata administrasi daripada manajemen dan menganggap keduanya memiliki makna yang sama. Menurut Panglaykim dan Tanzil (1986 : 34), jika manajemen menetapkan kebijaksanan yang harus dituruti, maka administrasi menyelenggarakannya.

Tidak semua orang menganggap istilah manajemen dan administrasi memiliki makna yang sama. Umumnya, pada lembaga pemerintahan istilah yang dipergunakan adalah administrasi, sedangkan pada lembaga komersil istilah manajemen lebih banyak digunakan. Namun hal tersebut tentu saja tidak selamanya berlaku, istilah manajemen mempunyai makna yang lebih marketable dan bergengsi dan mereka menggunakan istilah “Bos” pada pemimpinnya. Sedangkan istilah administrasi khususnya dalam dunia pendidikan hanya diartikan sebagai pekerjaan tulis – menulis, kearsipan / pembukuan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ketatausahaan dan menggunakan istilah pemimpin bukan bos.

Perbedaan Bos dan Pemimpin

BOS PEMIMPIN
Memerintah Melatih
Ingin berkuasa Niat Baik
Menciptakan Rasa Takut Menciptakan Kebanggaan
Berkata “saya” Berkata “kita”
Suka Menyalahkan Memecahkan Masalah
Tahu caranya Tunjukkan caranya
Menggunakan orang Melayani Orang
Menasihati dengan sedikit kasar Menasihati dengan ramah

 

  1. Defenisi Pendidikan

Defenisi pendidikan sejauh ini belum ada keseragaman formulasi yang dapai dipakai sebagai  pegangan karena masing-masing ahli mengemukakan defenisi yang agak berbeda satu dengan yang lainnya, tergantung dari konsepsi pendekatannya masing-masing.  Namun ditinjau dari sudut hukum, defenisi pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 1 ayat (1) yaitu : ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

  1. Defenisi Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan dapat didefenisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya  pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Manajemen pendidikan dapat pula didefenisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya  pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Adapun sumber daya  pendidikan adalah sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi 12 hal sebagai mana yang disebut di atas. Manajemen pendidikan dapat pula diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian,  pengarahan, dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif, efisien mandiri, dan akuntabel. Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4) , Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi  proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan

Soebagio Atmodiwirio. (2000:23), Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari  bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama Engkoswara (2001:2), Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan  pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan

Istilah yang akrab dengan pengelolaan pendidikan sebelumnya adalah Administrasi Pendidikan, namun saat ini istilah tersebut seolah menyempit, hal ini seakan–akan merupakan kegiatan ketatausahaan sekolah semata. Untuk merevitalisasi makna yang terkandung pada Administrasi Pendidikan, trend terakhir di Indonesia kini lebih banyak menggunakan istilah Manajemen Pendidikan.

Batasan manajemen pendidikan dapat diambil berdasarkan 3 pendekatan. Pendekatan pertama menganggap manajemen pendidikan sebagai cabang ilmu manajemen, sehingga batasannnya adalah seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Adapun secara proses, manajemen pendidikan didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Bila dikaji dengan pendekatan struktur atau tugasnya, maka manajemen pendidikan diartikan sebagai manajemen peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik, dan kependidikan, keuangan, fasilitas, hubungan lembaga dengan masyarakat, pengorganisasian, ketatalaksanaan, dan supervise pendidikan (Husaini Usma, 2004 : 12).

 

  1. Fungsi Manajemen Pendidikan

Ada banyak pendapat mengenai fungsi – fungsi manajemen, diantaranya Terry yang menyatakan fungsi manajemen sbb :

  1. Planning (perencanaan), yakni menentukan garis – garis besar untuk dapat memulai usaha yang terdiri atas apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, kapan, dan lain sebagainya
  2. Organizing (menyusun), yakni rangkaian kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan sebagaimana telah ditetapkan dalam perencanaan. Hal – hal yang dilakukan antara lain pembagian tugas, pendelegasian kekuasaan dan wewenang dan lain – lain
  3. Actuating (menggerakkan untuk bekerja/pelaksanaan), untuk melaksanakan kegiatan atau aktivitas pencapaian tujuan, diperlukan tindakan – tindakan seperti kepemimpinan, perintah, instruksi, komunikasi, dan lain – lain.
  4. Controlling (pengawasan), yakni kegiatan dalam rangka memeriksa hal – hal apa yang telah dilakukan memastikan apakah pekerjaan telah berjalan sebagaimana mestinya, serta mengetahui hambatan – hambatan yang menghalangi tercapcainya tujuan.

 

Fayol merumuskan fungsi manajemen sebagai to plan, to organize, to command, to coordinate, dan to control. Adapula pendapat dari Gullick yang merumuskan fungsi manajemen secara lebih detil lagi, yakni dengan planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting (Hartati Sukirman, 1999 : 5). Namun demikian, pada prinsipnya fungsi – fungsi yang dipaparkan para pakar tersebut memiliki benang merah yang sama. Hanya saja, masing- masing dari mereka memiliki pengembangan yang sedikit berbeda yang tujuannya mempermudah pengimplementasian ilmu manajemen di dunia nyata.

 

  1. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi :

  1. Manajemen Peserta Didik

Peserta didik selaku input dalam lembaga pendidikan merupakna pusat dari seluruh kegiatan dalam manajemen pendidikan. Oleh karenanya peserta didik hendaknya menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan di bidang pendidikan. Kegiatan yang termasuk dalam bidang ini adalah pencatatan peserta didik mulai dari saat penerimaan sampai dengan keluarnya dari sekolah.

  1. Manajemen Tenaga Kependidikan

Dalam prosesnya lembaga penyelenggara dan pengelola pendidikan pastilah harus dikelola oleh tenaga – tenaga, sehingga mereka pun sangat perlu dikelola. Manejemen tenaga kependidikan adalah segenap proses penataan pegawai yang meliputi semua proses atau cara memperoleh pegawai, penempatan dan penugasan, pemeliharaan dan pembinaan, evaluasi, sampai pada pemutusan hubungan kerja.

  1. Manajemen Kurikulum

Apa yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada peserta didiknya disajikan dalam bentuk kurikulum. Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi pbm.

  1. Manajemen Fasilitas Pendidikan

Agar pbm berjalan dan tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien, maka diperlukan sarana atau fasiiltas guna memperlancar proses pendidikan itu sendiri. Manajemen fasilitas pendidikan adalah segenap proses penataan yang bersangkut paut denagn pengadaan, pendagunaan, dan pengelolaan sarana pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien

  1. Manajemen Pembiayaan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan tentunya memerlukan dana, untuk itu pengelolaan pendanaan atau pembiayaan pendidikan agar efektif dan efisien sangatlah penting guna menunjang ketercapaian tujuan pendidikan. Manajemen pembiayaan pendidikan merupakan kegiatan pengelolaan yang meliputi penataan sumber, penggunaan, dan pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan pada umumnya

  1. Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

Masyarakat merupakan laboratorium pendidikan yang tidak ternilai harganya. Masyarakat juga merupakan stakeholder pendidikan, dimana keberlangsungan proses pendidikan juga bergantung pada masyarakat. Untuk itu, lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Manajemen hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat merupakan kegiatan penataan yang berkaitan dengan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat untuk menunjang pbm di sekolah

  1. Manajemen Organisasi Lembaga Pendidikan

Dalam setiap organisasi pastilah terdapat struktur tugas dan berbagai macam konsekuensi akibat adanya pembidangan tugas tersebut. Hal inilah yang menjadi garapan manajemen organisasi lembaga pendidikan, yaitu segenap kegiatan mengorganisasikan lembaga pendidikan yang termasuk diantaranya adalah pengelolaan fungsi kepemimpinan

  1. Manajemen Ketatalaksanaan dan Sistem Informasi Lembaga Pendidikan

Kegiatan pencatatan berakibat pada perlunya penataan data atau informasi, agar pada saaat informasi tersebut diperlukan dapat diperoleh dengan mudah, cepat, dan tepat. Manajemen ketatalaksanaan dan Sistem informasi Lembaga Pendidikan berupaya untuk mencapai hal tersebut, dengan kegiatan yang meliputi pencatatan, pengolahan, penggandaan, pengiriman, dan penyimpanan semua bahan atau informasi yang temasuk dalam data lembaga pendidikan

  1. Supervisi Pendidikan

Kehadiran supervisi pendidikan diharapkan membantu tercapainya tujuan pendidikan secara efisien, khususnya melalui pembinaan profesionalitas guru. Namun trend pendidikan terakhir tidak selalu mengartikan supervisi pendidikan memiliki sasaran satu–satunya berupa guru, melainkan juga melibatkan tenaga – tenaga kependidikan lainnya. Batasan supervisi pendidikan yang selama ini akrab adalah suatu usaha untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar dan pada kenyataannya kelancaran pbm tidak semata bergantung pada guru melainkan pula tenaga kependidikan lainnya.

 

  1. Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan
  2. Terwujudnya PBM yang PAKEMB (bermakna)
  3. Peserta didik yang aktif mengembangkan dirinya
  4. Memiliki kompetensi manajerial
  5. Tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien
  6. Teratasinya masalah mutu pendidikan
  7. Perencanaan pendidikan merata, bermutu, relevan, dan akuntabel
  8. Meningkatnya citra positif pendidikan

 


 

PERENCANAAN PENDIDIKAN

 

  1. Pengertian Perencanaan Pendidikan

Pengertian Perencanaan Pendidikan menurut Suryosubroto adalah Mengarahkan proses kegiatan pada tujuan yg hendak dicapai. Sedangkan secara umum Perencanaan Pendidikan dapat diartikan sebagai pedoman proses kegiatan pendididkan agar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Prof. Dr. Yusuf Enoch, Perencanaan Pendidikan, adalah suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.

Menurut Beeby, C.E, Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa depan ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.

Menurut Guruge (1972), Perencanaan Pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.

Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975), Perencanaan Pendidikan adala investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.

Menurut Coombs (1982), Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.

Menurut Y. Dror (1975), Perencanaan Pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara optimal untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain

 

  1. Tujuan Perencanaan Pendidikan
  2. Standar Pengawasan : Mengetahui kapan akan memulai pelaksanaan dan selesai serta mengetahui siapa saja yang terlibat.
  3. Memadukan beberapa subkegiatan. Mendeteksi hambatan. Mengarahkan pencapaian tujuan
  4. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan
  5. Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya
  6. Mendapatkan kegiatan yang sistematis, termasuk biaya dan kualtias pekerjaan
  7. Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu
  8. Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan
  9. Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan
  10. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui
  11. Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

 

  1. Manfaat Perencanaan Pendidikan
    1. Standar Pelaksanaan & Pengawasan
    2. Pemilihan berbagai alternatif terbaik
    3. Penyusunan skala prioritas
    4. Hemat pemanfaatan resources
    5. Penyesuaian terhadap lingkungan
    6. Memudahkan koordinasi dengan pihak terkait
    7. Meminimalisir pekerjaan yang tidak pasti

 

  1. Ruang Lingkup Perencanaan Pendidikan
  2. Perencanaan dari demensi waktu

Dari demensi waktu perencanaan mencakup; (a) Perencanaan jangka panjang (long term planning) berjangka 10 tahun keatas, bersifat prospektif, idealis dan belum ditampilkan sasaran-sarana yang bersifat kualitatif. (b) Perencanaan jangka menengah (medium term planning) berjangka 3 sampai 8 tahun, merupakan penjabaran dan uraian rencana jangka panjang. Sudah ditampilkan sasaran-sasaran yang diproyksikan secara kuantitatif, meski masih bersifat umum. (c) Perencanaan jangka pendek (sort term planning) berjangka 1 tahunan disebut juga perencanaan jangka pendek tahunan (annual plan) atau perencanaan operasional tahuanan (annual opperasional planning)

  1. Perencaan dari demensi spasial

Perencanaan ini terkait dengan ruang dan batas wilayah yang dikenal dengan perencanaan nasional (berskala nasional), regional (berskala daerah atau wilayah), perencanaan tata ruang dan tata tanah (pemanfaatan fungsi kawasan tertentu).

  1. Perencanaan dari demensi tingkatan teknis perencanaan

Dalam demensi ini kita mengenal istilah (a) perencanaan makro (b) perencaan mikro (c) perencanaan sektoral (d) perencaan kawasan dan (e) perencaan proyek. Perencaan makro meliputi peningkatan pendapatan nasional, tingkat konsumsi, investasi pemerintah dan masyarakat, ekspor impor, pajak, perbankan dsb. Perencanaan mikro disusun dan disesuaikan dengan kondisi daerah. Perencanaan kawasan memperhatikan keadaan lingkungan kawasan tertentu sebagai pusat kegiatan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif. Perencanaan proyek adalah perencanaan operasional kebijakan yang dapat menjawab siapa melakukan apa, dimana, bagaimana dan mengapa.

  1. Perencanaan demensi jenis

Menurut Anen (2000) sebagaimana dikutip Syaiful sagala meliputi ; (a) Perencanaan dari atas ke bawah (top down planning), (b) perencanaan dari bawah ke atas (botton up planning), (c) perencanaan menyerong kesamping (diagonal planning), dibuat oleh pejabat bersama dengan pejabat bawah diluar struktur (d) perencanaan mendatar (horizontal planning), yaitu perencanaan lintas sektoral oleh pejabat selevel (e) perencanaan menggelinding (rolling planning) berkelanjutan mulai rencana jangka pendek,menengah dan panjang.(f) perencanaan gabungan atas ke bawah dan bawah ke atas (top down and button up planning), untuk mengakomodasi kepentingan pusat dengan wilayah/daerah.

Dalam kegitan pendidikan lingkup perencanaan meliputi semua komponen administrasi sekolah dalam hal kurikulum, supervisi, kemuridan, keuangan, sarana dan prasarana, personal, layanan khusus, hubungan masyarakat, media belajar, ketata usahaan sekolah dsb. Atau berupa penentuan sasaran, alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, kesepakatan (commitment) yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang

  1. Macam Perencanaan Pendekatan Pendidikan
  2. Efektifitas Biaya (Cost Effectiveness appr)  : dana diambil dari pos-pos dana masing-masing dan perhitungan pengambilan dana disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak terjadi pemborosan biaya.
  3. Optimalisasi Pemanfaatannya (Cost & Benefit Approach) : dana yang didapatkan dioptimalkan pemanfaatannya untuk kemajuan pendidikan.
  4. Pemberdayaan Tenaga Kerja (Manpower Approach)
  5. Keperluan Masyarakat (Social Demand Approach)

 

  1. Model Perencanaan Pendidikan
  2. Komprehensif : Menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara

menyeluruh

  1. Keefektifan Biaya      : Menganalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas
  2. PPBS                          : Planning, Programming, Budgeting system  Banyak digunakan di

pendidikan tinggi negeri

  1. Target Setting   : Untuk memproyeksi tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu

 

 

 

 

 


 

PENGORGANISASIAN

 

  1. Pengertian Organisasi

Pengertian Organisasi menurut Weber dalam Stoner & Freeman (1955) adalah Struktur birokrasi sedangkan menurut Usman, 2009 Organisasi adalah  Proses kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Usman, 2009).

  1. Tujuan dan Manfaat Organisasi
  2. Mengatasi keterbatasan kemampuan dari perseorangan dan Resources.
  3. Mencapai tujuan secara efektif dan efisien, wadah SDM dan Teknologi, hal ini dilakukan secara terorganisir.
  4. Mengembangkan potensi dan pembagian pekerjaan : hal ini dapat dilakukan dengan mencari dan menggali potensi pada organisasi.
  5. Mengelola lingkungan dan mencari keuntungan bersama : pencarian keuntungan pada organisasi dapat dicari dengan memperoleh sponsor untuk membantu mendanai kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi.
  6. Wadah menggunakan kewenangan dan mendapatkan penghargaan : dalam kegiatan berorganisasi individu dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya dan menggunakan wewenangnya serta dapat memperoleh sertifikat dari setiap kegiatan.
  7. Wadah pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin banyak.
  8. Wadah menambah pergaulan dan memanfaatkan waktu luang : individu yang berlatih berorganisasi dapat lebih mampu beradaptasi dengan baik terhadap partner kerjanya serta waktu luang tidak terbuang percuma karena dapat dimanfaatkan dengan kegiatan yang positif di organisasi.
  9. Tipe Organisasi (Lipham, et al l [1974:100])
Organisasi Organis Organisasi Mekanistis
Kompleksitas Tinggi Kompleksitas Rendah
Sentralisasi Rendah Sentralisasi Tinggi
Formalitas Rendah Formalitas Tinggi
Produksi Rendah Produksi Tinggi
Adaptasi Tinggi Adaptasi Rendah
Terbuka Tertutup
Efisiensi Rendah Efisiensi Tinggi
Fokus Strategi Fokus Strategi
Inovasi, dll Efisiensi, dll

 

  1. Pengembangan Organisasi
  2. Humanistik : memaksimalkan setiap potensi yang ada pada diri individu atau SDM.
  3. Orientasi Sistem : setiap anggota organisasi harus mampu mengenal dan memahami tempat serta asal usul dan manfaat yang ia dapatkan dalam organisasi yang ia ikuti.
  4. Agen Perubahan : cenderung dimiliki oleh orang yang mempunyai gagasan baru untuk mengembangkan dan memajukan organisasi.
  5. Problem Solving : mengatasi masalah/ pemecahan masalah.

Tahap :

  1. Perumusan pemecahan masalah
  2. Perolehan data
  3. Analisis
    1. Pembelajaran Experiensial : pelatihan-pelatihan yang mendukung ke arah organisasi yang berupa pelatihan pengalaman.
    2. Balikan : Sesuatu yang didapatkan oleh individu dalam organisasi yang berupa manfaat dari pelatihan setiap kegiatan yang dilakukan. Dalam organisasi terdapat evaluasi yaitu dengan mengevaluasi apa yang telah kita keluarkan untuk kebaikan organisasi.
    3. Orientasi Kontingensi : kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu memberikan perhatian yang luas dan situasional terhadap organisasi yang dipimpinnya.
    4. Bina Tim : Mampu membentuk sebuah team work yang efektif dan solid serta kerjasama sosial yang kuat.

 


 

  1. Tahapan Pengembangan Organisasi
  1. Kreativitas dan Inovasi          : mengembangkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi organisasi dan mampu menciptakan penemuan baru yang juga berguna demi kebaikan organisasi.
  2. Kepemimpinan Baru              : pembuatan kebijakan baru
  3. Pendelegasian                                    : membagi tugas dan wewenang setiap anggota
  4. Koordinasi, Kolaborasi          : setiap ada kegiatan semuanya telah dikoordinasi dengan baik dan semua anggota mampu bekerja sama dengan anggota lainnya.
  5. Organitational Development  : organisasi berkembang
    1. Struktur di Sekolah
  6. Elemen penting struktur adalah puncak struktur, jajaran tengah, jajaran operasional, staf pendukung, dan struktur teknologi
  7. Struktur sekolah sangat beragam, sederhana, birokrasi mesin, birokrasi profesional, kebanyakan adalah gabungan.
  8. Organisasi mengakomodasi konflik ini dengan membentuk struktur yang longgar, mengembangkan struktur kewenangan ganda, atau terlibat dalam sosialisasi.

 

 

MANAJEMEN KURIKULUM

 

  1. Konsep Dasar Kurikulum
  2. Lunenberg dan Ornstein (2000:433) mengemukakan bahwa kurikulum dapat didefinisikan dalam berbagai pengertian: sebagai rencana, dalam kaitan dengan pengalaman, sebagai suatu bidang studi, dan dalam kaitan dengan mata pelajaran dan tingkatan kelas.
  3. Pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga disebutkan pengertian kurikulum yaitu “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
  4. Lunenberg & Orstein (2000) mengatakan manajemen kurikulum yaitu proses perencanaan kurikulum (planning the curriculum), pelaksanaan kurikulum (implementation  the curriculum), dan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum (evaluating the curriculum).
  5. Komponen Kurikulum
  6. Tujuan            : tujuan dalam komponen kurikulum disusun untuk membuat keteraturan dalam pembuatan jadwal.
  7. Isi/ Materi       : mata kuliah atau mata pelajaran yang diajarkan.
  8. Proses             : pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
  9. Media             : media digunakan untuk memperlancar proses belajar mengajar.
  10. Evaluasi          : evaluasi diadakan untuk mengevaluasi kurikulum apakah sudah tepat atau belum pelaksanaannya.
  11. Manajemen Kurikulum
  12. Perencanaan kurikulum harus memperhatikan karakteristik kurikulum yang baik, baik dari segi isi, pengorganisasian maupun peluang-peluang untuk menciptakan pembelajaran yang baik akan mudah diwujudkan oleh pelaksana kurikulum
  13. Pelaksanaan kurikulum merupakan tahap pelaksanaan pembelajaran
  14. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk melihat atau menaksir keefektifitasan kurikulum yang digunakan oleh guru yang mengaplikasikan kurikulum tersebut
  15. Pengembangan Kurikulum
    1. IPTEKS
    2. Perubahan Sosial dan Kebutuhan Staholders
    3. Pemenuhan Kebutuhan Siswa
    4. Kemajuan Pendidikan
    5. Perubahan Sistem Pendidikan
  16. Pengembangan Kurikulum (T Khun)
    1. Adanya praktik pengajaran dan materi pelajaran konvensional yang diterima secara umum.
    2. Adanya perubahan masyarakat secara terus-menerus.
    3. Adanya berbagai indikator sosial yang menandai perubahan (misal: adanya kemajuan IPTEKS, berkembangnya struktur sosial-budaya, dll).
    4. Krisis dan/atau kritik di dalam pendidikan.
    5. Pendidikan sebagai sistem terbuka haruslah dapat menyesuaikan dengan perubahan masyarakat, serta perkembangan zaman dan IPTEKS, sehingga muncullah berbagai kritik di dalam pendidikan agar dapat memenuhi berbagai tuntutan dan perubahan tersebut.
    6. Adanya praktek alternatif diusulkan.
    7. Berbagai konsep pendidikan alternatif diusulkan.
    8. Perselisihan dan konflik (anti-thesis).
    9. Adanya praktik pengajaran dan materi pelajaran lama, dan munculnya berbagai konsep baru yang lain menimbulkan perselisihan dan konflik. Hal tersebut terjadi untuk mencari konsep dan praktek baru yang diharapkan karena adanya pembaruan, pemenuhan kebutuhan dan tuntukan akan perubahan yang terjadi.
    10. Percobaan dan inovasi.
    11. Adanya konsep baru tersebut dilaksanakan dalam taraf percobaan (misal: hanya diberlakukan di beberapa sekolah), dan adanya berbagai inovasi untuk perbaikan dan penyempurnaan konsep baru tersebut.
    12. Praktek baru atau yang dimodifikasi (sintesis). Praktek pendidikan baru atau yang dimodifikasi diterapkan untuk mengganti praktik pengajaran dan materi pelajaran lama. Hal tersebut di dalam pendidikan salah satunya ditandai adanya kurikulum baru untuk mengganti atau memperbaiki kurikulum lama.
    13. Krisis dan/atau kritik di dalam pendidikan.
    14. Adanya praktek alternatif diusulkan.
    15. Perselisihan dan konflik (anti-thesis).
    16. Percobaan dan inovasi.
    17. Praktek baru atau yang dimodifikasi (sintesis)
    18. Praktek pendidikan baru atau yang dimodifikasi diterapkan untuk mengganti praktik pengajaran dan materi pelajaran lama. Hal tersebut di dalam pendidikan salah satunya ditandai adanya kurikulum baru untuk mengganti atau memperbaiki kurikulum lama.

 

 

 

 

MANAJEMEN PESERTA DIDIK

Manajemen peserta didik mengkhususkan pada kegiatan pengelolaan peserta didik mulai dari proses penerimaan sampai pada keluarnya peserta didik dari sekolah. UU RI No. 20 tahun 2003 mengenai sisdiknas bagian Bab IV bahkan mengatur hak – hak dan kewajiban peserta didik. Hak yang ditentukan adalah untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya, mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Sedangkan kewajiban peserta didik antara lain, menjaga norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.

  1. Penerimaan peserta didik

Penerimaan peserta didik sangat menentukan sukses tidaknya usaha pendidikan di suatu sekolah. Dalam penyelenggaraannya diperlukan panita khusus untuk menentukan banyaknya murid yang diterima, syarat – syarat penerimaan, melaksanakan penyaringan, mengumumkan penerimaan, mendaftar kembali calon yang diterima, sampai melaporkan hasil kegiatan pada pimpinan sekolah. Kesmua kegiatan ini tentulah memerlukan pencatatan secara baik dan lengkap karena akan sangat bermanfaat dalam pembinaan dan kebutuhan administratif peserta didik di kemudain hari. Beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan yang berkaitan dengan penerimaan peserta didik baru menurut makalah mengenai akreditasi sekolah (2005) antara lain sistem penerimaan yang terbuka dan adil, kesesuaian jumlah peserta didik dalam suatu kelas dengan standar, rasion pendaftar dan daya tampung, kemampuan awal, serta kesiapan peserta didik baik secara fisik maupun mental.

  1. Pembinaan bakat dan minat

Dalam rangka membina bakat dan minat peserta didik, maka sekolah berkewajiban menyalurkan segenap potensi yang ada pada diri peserta didik. Langkah yang dilakukan dapat melalui kegiatan pencatatan bimbingan dan penyuluhan, ditindaklanjuti, dengan pembentukan kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kesiswaan, dan lain sebagainya. Prinsip yang harus dipegang dalam pembentukan kegiatan ekstrakurikuler adalah bahwa kegiatan tersebut memang diminati peserta didik, dan tidak terlepas dari upaya mendidik baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu kebijakan sekolah, orangtua dan masyarakat secara umum juga mendukung kegiatan pembinaan bakat dan minat peserta didik tersebut. Sekolah pun sangat perlu memberikan penghargaan atau penguatan bagi peserta didik yang berprestasi dalam bidang kegiatan bakat dan minat

  1. Layanan Khusus

Layanan khusus yang biasa ditujukan bagi peserta didik adalah bimbingan dan penyuluhan atau Bimbingan dan Konseling. Layanan khusus ini memerlukan pencatatan – pencatatan baik menyangkut data pribadi peserta didik dan keluarga inti, kemampuan khusus ataupun kelainan khusus yang dimiliki, ataupun kejadian – kejadian aneh yang pernah dilakukan peserta didik. Program layanan Bimbingan hendaknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu kepala sekolah haruslah mendukung program layanan bimbingan yang diselenggarakan, antara lain dengan mengadakan evaluasi layanan bimbingan secara kontinyu.

  1. Mutasi Peserta Didik

Jika seorang peserta didik naik kelas, pindah kelas, maupun keluar dari sekolah, maka dilakukan tindakan pencatatan mutasi peserta didik. Ada dua jenis mutasi pada peserta didik, yakni interndal dan eksternal. Jika mutasi tersebut terjadi dalam lingkungan sekolah (pindah kelas, naik kelas) maka dikatakan sebagai mutasi internal, sedangkan jika terjadi di luar sekolah disebut dengan mutasi eksternal

  1. Pencatatan Data Peserta Didik

Pencatatan data peserta didik secara umum terbagi atas dua, yakni pencatatan untuk sekolah secara keselurhan dan bagi masing – masing kelas. Catatan – catatan yang diperuntukkan bagi sekolah secara keseluruhan terdiri atas buku induk, buku klapper dan catatan tata tertib sekolah. Adapun yang diperuntukkan bagi kelas – kelas diantaranya yaitu buku kelas (cuplikan buku induk), dan presensi kelas. Selain daripada itu, pencatatan juga sangat perlu dilakukan dalam hal yang berhubungan dengan prestasi belajar peserta didik. Pencatatan prestasi belajar yang diperuntukkan bagi sekolah adalah buku daftar nilai, dan buku legger sekolah sedangkan bagi kelas yaitu buku legger kelas dan raport.

 


 

TENAGA KEPENDIDIKAN

  1. Pengertian Manajemen Tenaga Kependidikan

Manajemen Tenaga Kependidikan adalah rangkaian kegiatan menata tenaga kependidikan dari mencari, menggunakan, membina hingga pemutusan hubungan kerja agar dapat menyelenggrakan satuan pendidikan secara efektif dan efesien

  1. Jenis Pendidik dan Tenaga Kependidikan
  1. Pendidik : para pendidik terdiri dari
  2. Guru
  3. Dosen
  4. Konselor
  5. Pamong Belajar
  6. Widyaiswara
  7. Tutor
  8. Instruktur
  9. Pembimbing
  10. Supervisor
  11. Tenaga Kependidikan
  12. TU (Tata Usaha)
  13. Teknisi
  14. Laboran

 

Sumber :

http://www.pengertianku.net/2015/04/pengertian-manajemen-pendidikan-dan-tujuannya-serta-ruang-lingkupnya.html

http://www.kembar.pro/2015/08/pengertian-fungsi-dan-peranan-manajemen.html

https://winamartiana.wordpress.com/2011/09/25/definisi-perencanaan-pendidikan/

http://afifulikhwan.blogspot.co.id/2013/04/perencanaan-pendidikan-dalam-manajemen.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s