BAHAN AJAR KAJIAN BAHASA INDONESIA SD (2017)

BY: ROBERT TAGANG

BAGIAN  SATU

ADANYA BAHASA MANUSIA:

Suatu  Tinjuan  Historis

 

A.     PENGANTAR
Para ahli linguistik dunia berdaya upaya untuk menjejaki,  dari mana asal bahasa manusia itu? Apakah manusia pertama di “Taman Firdaus” telah diberikan bahasa oleh Penciptanya? Apakah ada teori lain yang dapat membuktikan bahwa bahasa pada manusia sesungguhnya berkembang secara bertahap sesuai perkembangan manusia? Tidak ada data yang  cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada beberapa pandangan yang akan kita pelajari pada bagian materi pengayaan.  
B.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

Mahasiswa mampu menjelaskan lahirnya bahasa manusia ditinjau dari:

  1. Teori Tekanan Sosial
  2. Teori Onomatopetik atauTeori Ekoik
  3. Teori Interyeksi
  4. Teori Nativistik atau Teori Fonetik
  5. Teori YO – HE – HO
  6. Teori Isyarat
  7. Teori Permainan Vokal
  8. Teori Isyarat Oral
  9. Tepri Kontrol Sosial
  10. Teori Kontak
  11. Teori Hockett – Ascher
C.      LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa diajak duduk di dalam kelompok-kelompok kecil.
  • Mahasiswa distimulasi dengan beberapa pertanyaan:
  • Menurut pendapat Anda, bagaimanakah pada awalnya manusia memperoleh bahasa?
  • Apakah sejak masa primitif, manusia telah mengenal bahasa?
  • Pendamping dapat memastikan bahwa mahasiswa telah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sesuai pemahaman mereka masing-masing.
  • Pendamping diharapkan lebih banyak bersabar selama mahasiswa berupaya menemukan jawabannya.
LANGKAH 02
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
2 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

1.       Mahasiswa dibagikan Handout  BAHASA MANUSIA: SUATU TINJAUAN HISTORIS BAHASA DAN HAKEKATNYA untuk dicermati, baik secara berkelompok maupun  secara mandiri.

  1. Materi Pengayaan

ADANYA BAHASA MANUSIA:

Suatu Tinjauan Historis

 

  • Pengantar

Para ahli linguistik dunia berdaya upaya untuk menjejaki,  dari mana asal bahasa manusia itu? Apakah manusia pertama di “Taman Firdaus” telah diberikan bahasa oleh Penciptanya? Apakah ada teori lain yang dapat membuktikan bahwa bahasa pada manusia sesungguhnya berkembang secara bertahap sesuai perkembangan manusia? Tidak ada data yang  cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Paba  bagian awal ini kita mencoba mengikuti beberapa pandangan yang dikemukakan oleh sejumlah ahli bahasa.

(a)  Teori tekanan Sosial

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith di dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments. Teori ini bertolak dari suatu anggapan bahwa bahasa manusia lahir karena manusia dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila manusia primitif dihadapkan pada objek tertentu, manusia terdorong untuk mengucapkan sesuatu melalui bunyi-bunyi tertentu. Bunyi-bunyi tertentu itu dikenal sebagai tanda untuk menyatakan hal-hal yang dimaksudkannya. Jika  pengalaman manusia bertambah, manusia akan menyampaikan pengalaman-pengalaman barunya itu melalui bunyi-bunyi tertentu pula.

Teori  Tekanan Sosial tidak mempersoalkan  fisik manusia primitif – yang berhubungan langsung dengan perkembangan kemampuan berbahasa manusia.

Teori Tekanan Sosial memberikan suatu gambaran bahwa manusia pada saat itu sudah memiliki bentuk fisik (jasmani) yang sudah sempurna, sehingga kapasitas mentalnya  sudah sempurna pula. Teori  Tekanan Sosial  menegaskan bahwa perilaku tutur manusia pada saat itu terjadi sebagai akibat dari tekanan sosial, dan bukan terjadi dari hasil  perkembangan manusia itu sendiri.

 

(b)  Teori Onomatopetik atau Ekoik

Teori ini disebut juga teori Imitasi Bunyi atau Teori Gema. Teori ini pertama kali dikumandangkan oleh J.G Herder, dkk.  J.G Herder, dkk menyatakan bahwa objek-objek di bumi diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek-objek itu sendiri. Objek yang dimaksudkannya adalah binatang dan alam.  Secara awal, manusia berusaha meniru bunyi-bunyi seperti  lolongan anjing, bunyi ayam, desiran angin, deburan gelombang, dan sebagainya. Melalui tiruan itulah lahirlah kata-kata.

Walaupun dalam kenyataan yang sudah diakui oleh para ahli bahasa bahasa bahwa ada unsur-unsur bahasa yang diciptakan manusia dengan meniru-niru bunyi binatang atau gejala alam yang terjadi di sekitar kehidupan manusia, tetapi kebenaran teori ini masih dipersoalkan para ahli yang lain.  Para penyanggah mempersoalkan bahwa walaupun untuk berkomunikasi, manusia waktu itu cenderung meniru bunyi-bunyi makhluk  rendahan seperti bunyi-bunyi binatang dan gejala alam, tidak berarti bahwa daya cipta manusia lebih rendah dari mahluk-mahluk rendahan itu.

 

(c)  Teori  Interyeksi

Teori  ini diberi nama TEORI POOH-POOH. Teori ini dicetuskan pertama kali oleh Etienne Bonnet Condillac, dkk. TEORI POOH-POOH selanjutnya dikembangkan oleh Whitney setelah dikolaborasikannya dengan temuannya yakni onomatopetik. Dalam menguatkan hasil kolaborasinya, Whitney menjelaskan bahwa adalah wajar jika orang-orang yang tidak terpelajar dan belum berkembang, mengucapkan ujaran-ujaran tertentu, sementara mereka juga secara alamiah mengexpresikan keadaan jiwanya. Whitney memberikan penguatan kepada pengikutnya bahwa dalam melakukan ssesuatu hal manusia cenderung menampilkan expresi jiwa, dan berdasarkan expresi jiwa itulah manusia memberi makna pada ujaran-ujaran yang juga merupakan refleksi  atau wujud dari suasana bathin tertentu itu. Whitney menambahkan,  bahwa karena dengan adanya ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya, makhluk-makhluk seperti binatang dan manusia cenderung mengucapkan  ujaran tertentu, dan ujaran-ujaran itu diterima oleh manusia lainnya.

Pengembangan teori ini dilatari oleh suatu asumsi bahwa bahasa itu lahir dari ujaran-ujaran instingtif karena tekanan bathin – karena  manusia mengalamai perasaan yang mendalam, atau karena rasa sakit yang dialaminya. Para penganut teori ini tidak menjelaskan, bagaimana caranya bahasa itu lahir.

 

(d) Teori Nativistik atau Tipe Fonetik

Oleh  Max Muller (pencetus), teroi ini diberi nama DING-DONG. Max Muller berdalih, terdapat satu hukum yang menguasai seluruh alam ini, yakni “bahwa setiap barang akan mengeluarkan bunyi kalau barang itu dipukul”.  Secara kodrati, semua barang memiliki bunyi-bunyi yang  khas dan kekhasan itu ditanggapi manusia. Kekuatan dasar manusia  adalah memiliki kemampuan expresif artikulatoris. Dengan kekuatan itulah manusia mengirimkan pesan kepada penerima  melalui expresi pancaindra – artikulatorisnya. Max Muller mengingatkan bahwa kemampuan artikulatoris itu bukan buatan manusia sendiri, melainkan suatu daya insting dari manusia. Oleh sebab itu bahasa merupakan suatu produk dari insting manusia yang dikategorikan dalam suatu tahapam kemampuan yang sangat primitif (sederhana).

 

Max Muller menjelaskan bahwa dengan insting manusia meresapi setiap inpresi dari luar yang menciptakan expresi vokalnya dari dalam. Bahasa berawal dari akar, dan akar itu merupakan tipe fonetik atau bunyi yang khas. Kata lahir dari bermacam-macam inpresi  yang diramu dari perpaduan fonetik, dan peragaman dan /atau perubahan-perubahan fonetik. Bila  expresi instingtif telah diselesaikan, instingtif tersebut akan padam dengan sendirinya.

Muller kembali menyimpulkan bahwa “tipe barang selalu memberikan reaksi tertentu bila diberikan srimulus”. Reaksi itu terjadi pada manusia yang separuhnya berbentuk vokal, yang dalam hal ini telah membentuk tipe-tipe fonetik tertentu yang kemudian  menjadi akar bagi perkembangan bahasa manusia itu sendiri.

Dalam perjalanannya, tapatnya pada tahun  1891,  Max Muller memodifikasi teori ding dong dengan nama  Yo-He-Ho, yang sesungguhnya telah populer berangka tahun 1861 – 1863. Dalam kata pengantar teorinya, Max Muller menjelaskan bahwa sesuangguhnya istilah teorinya itu dipinjamnya dari tipe fonetiknya  Noire, seorang sarjana filologi Perancis yang menerangkan tentang sumber tipe-tipe fonetik. Menurut Muller.

Teori Yo-He-Ho beranggapan bahwa aktivitas lahir dari otot-otot yang kuat mengakibatkan manusia berupaya melepaskan bunyi-buniyi melalui pernafasan yang dari padanya menyebabkan perangkat mekanisme pita suara bergetar menghasilkan berbagai tipe bunyi. Akibat gateran yang dihasilkan itulah, lahirlah bunyi ujaran. Orang-orang pada kelas  primitif yang belum mengenal peralatan maju akan mengalami beban yang sangat berat. Oleh sebab itu, manusia kelas primitif selalu bekerja bersama-sama dalam  menyelesaikan berbagai pekerjaan-pekerjaan yang amat berat sekali pun. Untuk memberikan semangat kepada sesama mereka selama bekerja, manusia-manusia kelas itu mengucapkan bunyi-bunyi yang khas – yang selalu dipertalikan dengan pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Nama-nama baru akan selalu lahir dari aktivitas seperti itu dan sekali gus nama-nama itu dipakai untuk menamakan pekerjaan mereka.

 

(e)  Teori Isyarat

Teori ini dikumandangkan oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog terkenal pada abad  XIX. Dengan berpatok tolak dari hukum psikologis, Wundt menjelaskan bahwa setiap perasaan manusia mempunyai bentuk expresi yag khusus, yang merupakan pertalian tertentu antara saraf reseptor dengan saraf axeptor. Bila diamati secara mendalam dari ekspresi-ekspresi yang lahir, tampaklah bahwa setiap ekspresi selalu mereflekesikan peraaan tertentu yang dapat dipakai dalam mengkomunikasikan kenyataan-kenyataan.

 

Teori ini menjelaskan bahwa bahasa isyarat lahir dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari – yang menyertai emosi. Suatu komunikasi gagasan dilakukan dengan gerakan tangan yang mendukung gerakan-gerakan mimik. Bila seseorang diajak berbicara dalam suatu gerakan yang disepakati maka lahirlah suatu kesepahaman, dan melalui proses kesepahaman itu selalu lahir dan dikembangkan dari suatu proses berpikir yang sama. Kesepahaman itu kemudian terbentuk dan terakumulasi dalam gerakan-gerakan konkrit yang tak disadari. Gerakan-gerakan konkrit yang tidak disadari itu lambat laun diganti oleh gerakan-gerakan yang disadari.

Berdasarkan konten ideasional inilah,  gerakan-gerakan pengungkap emosi berubah menjadi pengungkap gagasan. Pada saat yang sama terjadi alih-fungsi komunikasi, dari  mengenal pengalaman manusia berubah menjadi mwujudkan komunikasi pikiran. Wujud konkrit yang lahir pada masa inilah yang dinamakan bahasa.

Perlu diingat bahwa, komunikasi untuk mendengar memungkinkan manusia menciptakan jenis gerakan yang ketiga yakni gerakan artikulatoris, di samping gerakan mimietik dan pantomimiek yang sudah ada. Dijelaskannya pula bahwa walaupun bahasa isyarat merupakan bahasa primitif, tetapi Wundt, dkk sama sekali tidak  menegaskan bahwa artikulatoris berkembang dari bahasa isyarat. Wundt menganggap bahwa kedua hal itu (artikulasi dan isyarat) dipakai bersama-sama, kemudian bahasa ujaran memperoleh status yang lebih tetap karena flexibilitasnya dan kemampuannya untuk mengadakan abstraksi.

 

(f)   Teori Permainan Vokal

Jespersen seorang filolog Denmark menyimpulkan bahwa bahasa primitif manusia menyerupai bahasa anak-anak. Keputusan Jespersen diumumkan setelah dilakukannya penelitian bahasa anak-anak, bahasa suku-suku primitif, dan sejarah bahasa-bahasa. Bahasa manusia pada mulanya berwujud dengungan dan senandung yang tak berkeputusan yang tidak mengungkapkan pikiran apa pun, sama seperti suara senandung orang tua dalam membuat dan menyenangkan bayi. Bahasa lahir dari suatu  permainan vokal, didukung oleh ujaran-ujaran. Dengungan dan senandung itu bermula dari suatu kebiasaan mengisi waktu senggang. Kesan Jespersen, bahwa bahasa yang terjadi dari dan berkembang dari kata-kata hasil dengungan dan senandung itu sesungguhnya merupakan suatu bentuk lahir  yang sangat kaku, yang rumit, dan bahkan kacau. Walaupun demikian, bahasa yang lahir dari proses seperti itu kecenderungan untuk berkembang lambat – kendatipun “dia” terus bergerak maju menuju ke suatu yang lebih jelas, teratur, dan mudah.

Hasil permenungan Jespersen menegaskan bahwa sesungguhnya bahasa manusia mula-mula bersifat puitis yang lahir dari permainan yang gembira, dalam suatu impian yang romantik. Perkembangan selanjutnya teori ini kemudian berusaha untuk menjembatani upaya penyatuan kesenggangan antara vokalisasi emosional dan ideasional.

 

(g)  Teori Isyarat Oral

Teori ini dikumandangkan oleh Sir Richard Piaget dalam bukunya Human Speech. Dalam upaya  memperkuat teorinya, Richard Piaget mengemukakan bukti-bukti yang selalu  bertolak dari zaman bahasa isyarat. Bahwa ketika manusia mulai menggunakan peralatan, tangan manusia  dipenuhi barang-barang sehingga manusia tidak secara bebas berkomunikasi. Berdasarkan hal itulah manusia selalu menggunakan oral (mulut) untuk membuat isyarat, yang sejatinya dilakukan dengan tangan  (baca Keraf, 1996:9 – 11).

 

(h) Teori Kontrol Sosial

Teori ini diajukan oleh Grace Andrus de Laguna dalam bukunya Speech: Its Function and Development. Menurut teori ini, ujaran adalah suatu medium yang besar yang memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa (ujaran) merupakan upaya yang mengkoordinasikan dan menghubungkan teriakan hewan (cry) dan panggilan (call) yang memiliki fungsi sosial. Panggilan yang merupakan bahasa dari seekor induk ayam  ketika seekor elang terbang melintasi di atasnya, membangkitkan respon tertentu pada anak-anak ayam untuk mencari tempat persembunyian. Kontrol sosial yang berwujud teriakan binatang dihubungkan dengan tingkah laku sederhana manusia dan kemampuan yang masih rendah dari spesies yang bersangkutan.

Dewasa ini kompleksitas hidup semakin bertambah disertai perubahan-perubahan yang terjadi pada habitat itu dari jangkauan kegiatan yang cenderung meluas secara konstan, yang semuanya menciptakan kebutuhan akan kerja sama yang lebih kompak, baik untuk mengadakan pertahanan bersama maupun untuk mengadakan serangan-serangan bersama. Keamanan kelompok semakin tergantung dari solidaritas kelompok. Perubahan dalam kontrol ssial ini memerlukan pula pengembangan suatu alat kontrol yang lebih ampuh. Sebab itu timbullah perbedaan antara proklamasi dan perintah. Tiap tipe situasi akan memerlukan tipe respons yang berlainan yang perlu dikembangkan dalam kelompok. Dan situasi yang khusus itu perlu juga dikembangkan suatu alat yang khusus.

Perubahan-perubahan dalam cara hidup manusia menyebabkan cry dan call sama sekali tidak mencukupi kebutuhan dalam berkomunikasi. Perubahan dari manusia yang arboreal (manusia yang hidup di atas pohon), ke manusia yang hidup dan tinggal di tanah menyebabkan perubahan dalam susunan urat saraf yang cukup kompleks dan fleksibel untuk manata kembali suatu kehidupan yang lebih tinggi tingkatannya. Semakin meningkatnya komplesitas, organisme manusia pun harus menjadi lebih sensitif untuk membuat variasi-variasi yang lebih halus dalam membuat rangsangan (baca de Laguna dalam Keraf, 1996:11-12).

Ketika (cry)  manusia primitif berakhir sebagai determinan langsung dari tingkah laku kelompok, ia berubah menjadi proklamasi yang sesungguhnya sebagai penentu bermacam-macam tingkah laku kelompok, dan sebagai alat untuk membangkitkan dan mengonsentrasikan persiapan bagi tindak-tanduk yang akan dilakukan. Ketidaklangsungannya sebagai alat kontrol sosial adalah sesuai dengan tingkat kebebasan ekspresi emosional di satu pihak dan fungsi simbolisme yang asli di pihak yang lain.

Pemisahan teriakan dari sebegitu banyaknya teriakan menuju pada ekspresi yang lain yang memungkinkan teriakan itu dipergunakan dalam kapasitas yang lain. Teori ini membandingkjan pemakaian bunyi-bunyi vokal manusia primitif dengan bunyi yang digunakan oleh manusia dewasa ini. Pandangan  ini sependapat dengan Jespersen, yakni bahwa permainan vokal adalah unsur yang penting pada waktu lahirnya bahasa.  Bunyi-bunyi yang digunakan dalam bentuk tindak-tanduk itu sendiri memang menyenangkan, tetapi juga ada kesenangan dalam tindak-tanduk itu sendiri. Ketika bunyi-bunyi itu dipakai secara sistimatik untuk mengontrol tingkah laku orang-orang lain yang mengacu pada objek-objek selama permainan berlangsung, nama-nama itu menjadi kata dan masuk sebagai unsur dalam struktur bahasa. Bila kita tengok ke belakang, teori ini ibarat seorang bayi yang kelaparan. Ketika seorang bayi hendak mengucapkan bunyi-bunyi ”din-din now”,  bayi itu secara otomatis mulai bicara dalam arti kata yang sesungguhnya.

 

(i)   Teori Kontak

Dalam bukunya The Origins and Prehistory of Language, G. Reveesz menjelaskan  asal-usul bahasa berdasarkan TEORI KONTAK. Sebagian teori ini menyerupai teori kontrol sosial yang diajukan Adam Smith. Namun, bagian-bagian yang penting meyerupai teori kontrol sosial-nya Laguna. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan sosial pada mahluk hidup memperlihatkan bahwa kebutuhan manusia untuk mengadakan kontak satu sama lain tidak pernah memberikan kepuasan antara individu. Pada tahap yang sangat rendah, yakni pada tingkat instingtif – kebutuhan   untuk mengadakan kontak tampaknya dapat dipenuhi oleh kontak spesial. Tetapi semakin kehidupan dilapisi oleh pengalaman yang terarah, keinginan akan kontak spesial (kontak karena kerapatan jarak fisik) tadi akan menjelma menjkadi suatu keinginan untuk mengadakan kontak emosional. Pada tingkatan ini kepuasan manusia karena kedekatan emosinal dengan yang lain yang akan menibulkan pengertian, simpati, dan empati pada orang lain tercapai. Kontak emosional adalah hal biasa dan esensial pada tingkah laku berbahasa. Bahasa hanya mungkin ada bila ada hubungan personal atau kontak emosional antara orang-orang yang mampu berbicara.

Aspek terakhir dari kontak yang sangat esensial dari perkembangan bahasa adalah kontak intelektual. Kontak ini berfungsi untuk menyampaikan pikiran. Hal ini berlaku secara filogenetis, bahwa bahasa dapat lahir sesudah tercapai prakondisi untuk kontak emosional dan kontak intelektual pada anggota-anggota masyarakat primitif.

 

(j)   Teori Hockett-Ascher
Dengan  mempertimbangkan evolusi manusia berdasarkan data arkeologi dan data-data geologis, Hockett-Ascher mengupas lebih menyeluruh  perihal adanya bahasa manusia dalam bukunya The Human Revolution. Hockett-Ascher merumuskan bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, makhluk yang disebut PROTO-HOMINOID sudah memiliki semacam bahasa. Primat PROTO-HOMINOID ini dianggap memiliki semacam sistem komunikasi yang disebut call. Makhluk proto-hominoid adalah makhluk arboreal – hidup mereka berkelompok-kelompok antara 5 – 30 anggota. Mereka menggunakan tongkat dan batu sebagai peralatan  kerja.

Proto-hominoid tidak memapu berbicara. Mereka menggunakan sistem komunikasi seperti yang terdapat pada GIBBON MODERN. Dari penelitian mendalam ditemukan suatu teori bahwa sistem call yang digunakan oleh makhluk proto-hominoid itu dikenallah dua sistem komunikasi yang masih bertahan sampai dewasa ini, yakni sistem komunikasi yang diturunkan pada Gibbon modern dan yang lainnya berkembang menjadi bahasa nenek moyang manusia.

Call  merupakan suatu sistem yang komunikasi  sederhana, terdiri atas enam tanda distingsi, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Keenam perbendahaan call itu diuraikan:

  • call untuk menandakan adanya makanan,
  • call untuk menyatakan adanya bahaya,
  • call untuk menyatakan persahabatan atau keinginan untuk bersahabat,
  • call yang tidak mempunyai arti dan hanya menunjukkan dimana seekor Gibbon berada – call ini berfungsi untuk menjaga agar anggota kelompok jangan berpisah terlalu jauh ketika mereka bergerak di antara pohon-pohonan,
  • call untuk perhatian sexual,
  • call untuk menyatakan kebutuhan akan perlindungan keibuan.

Untuk menyatakan sifat stimulus yang dihadapi setiap call dapat bervariasi berdasarkan intensitasnya, lamanya, dan jumlah perulangannya. Tiap call bersifat exklusif dan timbali-balik. Ciri exklusif yang timbali-balik ini secara teknis disebut sistem tertutup (clossed system), sebaliknya bahasa yang digunakan manusia dewasa ini sifatnya terbuka (open system). Sistem call dan bahasa berbeda dalam tiga hal –  sebagaimana diuraikan berikut.

  • Sistem call tidak mengandung ciri pemindahan (displacement), bahasa justru memiliki ciri ini. Ciri pemindahan mengandung pengertian bahwa kita dapat berbicara dengan bebas mengenai suatu hal yang jauh letaknya dari pandangan kita, atau sesuatu yang berada dalam masa lampau, atau yang ada pada masa datang, bahkan kita bisa berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada. Gibbon tak akan mengeluarkan call mengenai makanan kalau tidak ada makanan, atau ia tidak akan melakukan call jika yang dimaksudkan adalah ”tadi ada makanan tetapi sekarang sudah tidak ada makanan”, atau Gibbon lainnya juga tidak akan merespons bila ”mereka akan menunggu makanan berikutnya”. Atau, Gibbon yang mendapat makanan akan berlari ke markas  induknya untuk menyebarkan informasi bahwa ia sudah menemukan makanan di suatu tempat, dan ia akan berada di tempat itu setelah mengeluarkan makanan.
  • Ujaran dari suatu bahasa terdiri atas susunan unit-unit tanda yang disebut fonem yang tidak mengandung makna, tetapi berfungsi untuk memisahkan ujaran-ujaran yang bermakna satu dengan yang lainnya. Jadi, ujaran memiliki dua hal, yakni struktur dari ujaran yang tidak mengandung makna, tetapi bisa dibedakan satu dari yang lain, dan juga sebuah struktur dari unsur-unsur yang mengandung makna. Sistem ini disebut dengan kekembaran pola (duality of patterning). Sebuah call tidak memiliki ciri ini. Perbedaan antara dua call bersifat global.
  • Konvensi-konvensi dari sebuah bahasa yang dialihkan secara tradisional, walaupun kepastian mempelajari bahasa dan rangsangan untuk berbahasa bersifat genetis. Hal ini belum dipastikan mengenai Gibbon, walaupun telah dicatat bahwa ada berbedaan regional dari call Sebab itu dapat disimpulkan bahwa call proto-hominoid diteruskan dari generasi ke generasi dilakukan secara genetis.

Menurut Hockett-Ascher, sekitar 1.000.000 – 40.000 tahun yang lalu, proto-hominoid perlahan-lahan berkembang menjadi kera pra-manusia. Dalam suatu peristiwa yang sangat penting kelompok proto-hominoid berpindah  dan membuat tempat kediaman mereka di tanah dengan cara yang sangat kasar (Keraf, 1996:17-21).

Perlu dicatat bahwa lahirnya ssuatu bahasa dari sistem call hendaknya ditanggapi secara wajar. Ciri-ciri khusus dari sistem call proto-hominoid masih dapat dijumpai dalam tingkah laku manusia pada tingkat vokal-auditoris, yang bukan sebagai bagian dari bahasa, tetapi sebagai kesetaraan dalam penggunaan bahasa.

Proto-hominoid dapat meragamkan intensitas, nada, dan durasi; kadang-kadang juga manusia  berbicara sangat keras, kadang-kadang dengan lemah lembut, dan kadang-kadang dengan register yang lebih tinggi dan kadang-kadang lebih rendah. Manusia masih menggunakan gerutu, desah, atau teriakan-teriakan yang bukan kata atau morfem, juga semuanya itu bukan bagian dari bahasa.  Bermacam-macam fonomenon-fenomenon paralinguistik ini diolah kembali dan diubah dengan banyak cara berdasarkan kondisi hidup manusia, tetapi silsilahnya tetap lebih tua dari bahasa itu sendiri.

 

LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan lembaran latihan untuk dikerjakan secara berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Pendamping mendampingi diskusi mahasiswa.

 

LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

1)      Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang ADANYA BAHASA MANUSIA: SUATU TINJAUAN HISTORIS.

  • Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

 

  1. PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI,  digunakanlah tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah bentuk portofolio.. (Lembar penilaian: terlampir).

 

 

 

BACAAN PENGAYAAN

  • Alwasillah, chaedar. 1983. Linguiustik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
  • Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Grammedia.
  • ——————- Komposisi: Sebuah Kemahiran Berbahasa. Ende: Nusa Indah.
  • Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum, Historis komparatif, dan Tipologi Struktura Jakarta: Erlangga.
  • Pateda, Mansoer. 1994. Linguistik: Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa.
  • Sanda, Fransiskus. 2000. “Pengantar Linguistik: Bahan Ajar.” Kupang: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Nusa Cendana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN DUA

HAKEKAT DAN CIRI BAHASA

(1 x 150 menit)

 

  1. PENGANTAR

Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah.

Pateda (1994) menjelaskan rumusan  “sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah”  merupakan serentetan bunyi artikulatif yang lahir dari seseorang penutur dalam satuan  rumusan yang bermakna. Pateda (1994) menjelaskan, bahwa gambaran peristiwa yang tergambar dari sudah jam tujuh saya terlambat ke sekolah, hanya dapat dipahami dan diterima oleh pihak-pihak yang memiliki pengalaman yang sama. Gambaran rumusan peristiwa tersebut  tidak akan terjadi bagi pihak-pihak yang memiliki latar bahasa  Dawan, Tetun, Jerman, Inggris, atau yang lain-lainnya.

 

  1. TUJUAN

Setelah pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan hakekat bahasa secara benar.

 

  1. BAHAN DAN ALAT

c.1  Referensi yang Digunakan

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, hal. 21. PT. Grammedia: Jakarta.

Pateda, Mansoer. 1994. Linguistik Terapan, hal. 18. Penerbit Nusa Indah: Jakarta. Bandung: Angkasa.

Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum, Historis komparatif, dan Tipologi Struktural. Jakarta: Erlangga.

Sumarsono, dkk.  2002. Sosiolinguistik, hal. 8. Yogyakarta: Penerbit Sabda.

Sanda, Fransiskus. 2000. ”Pengantar Linguistik:  Bahan Ajar.” Kupang: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Nusa Cendana.

 

c.2  Bahan dan Alat

Komputer, LCD, Meta-plano, Flipchart, Bahan ajar/ handout

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah 1: PENYAJIAN AWAL (1O MENIT)

Waktu yang dibutuhkan  untuk melakukan proses langkah ini lebih kurang 10 menit, dengan alur proses sebagai berikut.

  • Mahasiswa diajak duduk berkelompok, yang setiap kelompoknya beranggotakan 3 – 5 orang.
  • Mahasiswa distimulasi dengan soal-soal pre-test yang berkisar sekitar “hakekat bahasa”.
  • Pendamping dapat memastikan bahwa mahasiswa telah memiliki pengetahuan siap yang memadai tentang “hakekat bahasa”.
  • Mahasiswa diberi kesempatan mencermati materi “hakekat bahasa”.
  • Hasil pre-test mahasiswa (pada butir 2) dapat dijadikan pendamping sebagai bahan stimulan untuk pembelajaran selanjutnya.

Langkah 2: PENJELASAN MATERI POKOK (15 menit)

Materi pokok “hakekat bahasa” disampaikan dalam bentuk powerpoint diselingi penjelasan dan tanya jawab.

 

Langkah 3: DISKUSI KELOMPOK (45 MENIT)

Pada langkah ini, mahasiswa dibagikan soal-soal diskusi melalui LKM (lembar kerja mahasiswa).   Soal-soal diskusi dapat dilihat pada LKM.

Langkah 4: PLENO HASIL DISKUSI (45 MENIT)

            Langkah ini mengikuti alur belajar sebagai berikut.

  • Setiap kelompok menanfaatkan waktu 5 menit sacara baik untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Waktu yang disiapkan untuk setiap itu untuk melakukan kegiatan presentasi, tanggapan, dan penyampaian rangkuman oleh kelompok pengamat. Penetapan waktu tersebut akan disesuaikan dengan tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi saji dan waktu dimulainya kegiatan diskusi kelompok.
  • Untuk menghindari “terbengkelainya” (yang kadang terjadi sebagai akibat peristiwa debat kusir) penyampaian dan tanggapan hasil pleno kelompok, pendamping menyiapkan satu kelompok belajar  di antara kelompok-kelompok yang ada  untuk merekam seluruh proses dan hasil diskusi kelompok. Strategi seperti ini juga terjadi ketika kelompok-kelompok lain menyampaikan hasil diskusinya. Pertimbangan  lain dari strategi ini, yakni mempermudah proses  penyimpulan yang akan dilakukan pada langkah 5.

 

Langkah 5: REVIEW (10 MENIT)

  • Mahasiswa diajak mereview atau merangkum seluruh isi sajian pada pertemuan ini.
  • Demi penyempurnaan hasil review atau hasil rangkuman, pendamping perlu menyampaikan materi pengayaan yang berhubungan dengan pertemuan ini.
  • Sebagai akhir dari pertemuan ini, kepada mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan secara kelompok di luar waktu tatap muka.
  • Perlu diingat, bahwa peran dosen pada seluruh langkah kegiatan adalah  sebagai fasilitator, motivator, dan observer.

 

  1. BAHAN BACAAN UNTUK MAHASISWA DAN DOSEN

 

HAKEKAT BAHASA

 

Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah.

Pateda (1994) menjelaskan rumusan  Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah  merupakan serentetan bunyi artikulatif yang lahir dari seseorang penutur bahasa dalam satuan  rumusan yang bermakna. Jika dianalisis,  pertanyaan-pertanyaan yang lahir barangkali  sebagai berikut.

  • Siapa yang berartikulasi?  ”Saya” (orang).
  • Perihal  apakah yang disampaikan ”saya?”  ”Sudah jam tujuh”.
  • Pertanyaan selanjutnya, ”maksud apakah yang terkandung dalam ”sudah jam tujuh itu?”  ”Saya sudah terlambat ke sekolah”.

 

Jika direnungkan, sesungguhnya serentetan bunyi yang digambarkan dalam deretan “sudah jam tujuh saya terlambat ke sekolah” itu memantulkan amanat dari seseorang pemakai bahasa (Indonesia), dan dari deretan bunyi itulah memantulkan makna yang sempurna, dan oleh kesempurnaan jualah amanat itu dapat ditanggapi secara sempurna pula oleh para pemakai bahasa Indonesia, dan dipastikan  tidak bertentangan dengan:

Sudah jam tujuh, saya sudah terlambat ke sekolah.

Pateda (1994) menjelaskan, pesan peristiwa tersebut ditanggapi secara baik hanya karena pihak-pihak yang memiliki pengalaman yang sama benar-benar memahami pesan itu secara baik pula. Tentu saja, gambaran pesan itu tidak akan terjadi untuk pemakai bahasa: seperti  Dawan, Tetun, Jerman, Inggris, atau yang lainnya.

 

  1. Apa  itu bahasa?

Bloomfield (Sumarsono, 2002:18; baca juga Kridalaksana 2001:21) mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer), dipakai oleh anggota masyarakat untuk saling berhubungan, berinteraksi, dan mengidentifdikasikan diri.  Definisi Bloomfield itu dipandang Archibal A Hill (lihat Pateda, 1994:7), tidak hanya mengandung makna berinteraksi, dan mengidntifikasi diri,  tetapi bahasa memiliki sifat yang sempurna dan universal.

Definisi  tersebut dinilai Chaer (2003:30-31), memiliki dua kandungan, yakni   kandungan hakekat, dan kandungan fungsi. Terhadap kandungan pertama, Chaer mengartikannya sebagai suatu sistem yang sistematik dan sistemis, sama dengan sistem lambang lainnya.  Chaer menjelaskan, sistem bahasa tidak bersifat tunggal, tetapi dibangun dari sejumlah subsistem seperti fonem (dalam tataran fonologis), kalimat (dalam tataran sintaksis), dan leksem (dalam tataran leksis). Masih oleh Chaer, bahasa dan juga yang lainnya  adalah lambang, tetapi sistem pada bahasa adalah bunyi, berbeda dengan lambang-lambang  lalu lintas jalan yang dipasang di jalan-jalan, dan sebagainya. Walaupun demikian, oleh Chaer dipertanyakan, apakah bahasa atau yang lainnya, sama-sama memiliki sifat arbiter-konvesional dan wajib hubungannya antara lambang yang tampak dengan konsep yang dilambangkannya?

 

  1. Ciri Universal

Para ahli bahasa menemukan sejumlah ciri universal bahasa diuraikan sebagai berikut.

  1. Sistemis dan Sistematis. Sebagai suatu sistem, bahasa terdiri atas sejumlah unsur yang tersusun secara teratur yang masing-masing unsurnya saling bekerja sama, berhubungan satu sama lainnya. Unsur-unsur  itu diuraikan sebagai bunyi,  bentuk, makna, fungsi, struktur, proses, dan unsur para-lingual.

 

  1. Lambang Bunyi. Satuan unsur mulai dari unsur yang paling rendah dalam suatu hierarkis bahasa sampai pada suatu tingkat yang tertinggi itu berwujud lambang atau simbol bunyi yang artikulatif. Lambang atau simbol yang tertata dalam satuan fonem, morfem, kata,  frase, klausa, kalimat, dan wacana itu bermuara pada suatu pengertian utuh, yakni satu satuan konsep, satu satuan ide, atau satu satuan pikiran.

 

  1. Bersifat Arbitrer. Lambang bunyi yang bersistem itu berhubungan secara wajib dengan konsep, ide, atau pengertian yang dikandungnya. Sebagai misal, suatu deretan  lambang bunyi yang membentuk kembang mengacu pada makna bakal buah. Makna bakal buah dari leksem lambang  itu adalah semena-mena, sewenang-wenang, dan manasuka, dan hanya untuk pemakai bahasa Indonesia dan tidak untuk pemakai bahasa lain, seperti Inggris, Jerman, Tetun, Lamaholot, dan lain-lainnya. Dengan demikian, kembang bagi orang  Inggris adalah hasil kesepakatan atau konsensus orang Inggris. Begitu pun, bagi pemakai yang berbahasa Jerman, Tetun, Lamaholot, atau pun Dawan. Berdasarkan keadaan  itulah, lahirlah keberbagaian bahasa di atas muka bumi ini.

 

  1. Satuan-satuan lambang sistematis itu, baik yang mempunyai rujukan yang jelas  maupun yang tidak mempunyai rujukan,  semuanya digunakan secara fungsional untuk berkomunikasi dan mengidentifikasi diri oleh para pemakainya. Oleh karena itu, suatu makna mengikuti lambang-lambang dan memiliki sifat yang  sempurna.
  2. Agar komunikasi sosial dalam suatu kelompok pemakai bahasa berjalan dengan lancar dan tidak terjadi hambatan karena salah paham atau salah pengertian, semua anggota kelompok masyarakat pemakai bahasa tertentu mestinya memahami konvensi keterkaitan lambang bunyi yang digunakannya itu dengan konsep, ide, pengertian, atau pikiran yang mewakilinya. Kekonvensionalan bahasa terletak pada ketaatan dan kepatutan para penuturnya untuk menggunakan lambang bunyi itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.

 

  1. Setiap bahasa memiliki ciri yang spesifik dan unik.  Artinya, lambang atau bentuk, struktur, dan makna yang dimiliki oleh suatu bahasa tidak sama dan bahkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Bahwa  ciri khas itu mengenai seluruh tataran kebahasaan, mulai fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, sampai pada suatu wacana yang luas dan kompleks. Keunikan bahasa  juga dapat terjadi pada struktur supra segmental seperti nada, tekanan, intonasi, jeda.

 

  1. Setiap kelompok sosial atau kelompok masyarakat bahasa mempunyai perbedaan akibat adanya tingkat pendidikan, staus sosial, tempat tinggal, letak geografis, umur, profesi-keahlian, pekerjaan, budaya, dan lain-lainnya. Karena perbedaan-perbedaan itulah maka lahirlah variasi-variasi atau ragam-ragam bahasa. Misalnya, ada ideolek sarjana, ada idiolek masyarakat pesisir, ada idiolek pejabat, ada idiolek baku, ada idiolek resmi, ada idiolek masyarakat adat, dan sebagainya. Koine (variasi bahasa) yang digunakan oleh masyarakat yang merasa dirinya petinggi  akan berbeda dengan masyarakat kelas petani,  nelayan, atau masyarakat penutur kebanyakan.

 

  1. Meskipun jumlah unsur-unsur pembentuk suatu bahasa seperti fonem, morfem, kata, kalimat, dan wacana  itu terbatas, unsur-unsur itu dapat menurunkan satuan-satuan baru yang jumlahnya tak terbatas. Misalnya, dengan sejumlah kosa kata seperti: saya, gunung, laut, mereka, ke, dan, orang dapat secara produktif memformulasikan berbagai-bagai kalimat dengan makna  yang tak terbatas.

Saya ke gunung dan mereka ke laut;

Saya ke laut dan mereka ke gunung;

Saya, mereka ke laut dan ke gunung, dan seterusnya.

 

  1. Dinamis dan Berkembang. Bahasa itu selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan masyarakat penuturnya. Sebelum tahun 1965, kata gerombolan digunakan tanpa ada dampak politisnya. Namun, setelah pemberontakan G30S/PKI, kata itu berdampak pada kelompok yang mengacu pada pengertian yang lain. Kata tikus mengacu pada suatu benda, hewan atau binatang jenis pengerat. Ikuti contoh formulasi kalimat:

Sebidang sawah milik Bapak Siso habis dimakan tikus sawah.

Bandingkan formulasi di atas dengan:

Dana purnabakti sejumlah pensiunan guru SD tahun 2007

Kecamatan Siso, habis dimakan tikus pengurus.

 

  1. LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)

Petunjuk: Kerjakanlah dalam kelompok!

  • Bahasa adalah suatu sistem bunyi? Jelaskanlah sistem fonologis bahasa Anda?
  • Jika penutur pada kampung seberang, sedikit pun tidak mengerti bahasa yang Anda gunakan, apakah artinya bahwa bahasa Anda berbeda dengan orang-orang di kampung seberang? Jika berbeda, mengapa hal itu terjadi?
  • Bahasa adalah suatu sistem yang konvensional? Jelaskan dari sisi sintaksis!
  • Tuturan manusia, jelas berbeda dengan tuturan hewan. Di manakah letak perbedaan yang paling hakiki?
  • Pada sekitar tahun 1960-an, kata “oknum, gerombolan, diamankan”, dirasakan meresahkan masyarakat Indonesia.  Jelaskanlah dari sisi makna!

 

  1. TES AKHIR( 25 MENIT)

Petunjuk: jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara singkat!

  • Apa itu “bahasa” menurut Bloomfield?
  • Unsur-unsur apa sajakah yang Anda dapatkan dari batasan Bloomfield itu?
  • Sebutkan ciri-ciri universal dari bahasa!
  • Menurut Anda, apakah bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat penutur Bahasa Dawan di kota So’e, sama dengan bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat penutur Bahasa Malayu Kupang di Kodya Kupang?
  • Salah satu ciri bahasa adalah “dinamis dan bervariasi”. Jelaskan maksud tersebut!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN TIGA

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

 

A.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

Mahasiswa mampu menjelaskan bahwa:

  1. kedudukan Bahasa Indonesia dalam perpolitikan Indonesia
  2. fungsi Bahasa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa distimulasi dengan beberapa pertanyaan:
  • Menurut pendapatmu, Bagaimanakah kedudukan bahasa Indonesia dalam duania perpolitikan dewasa ini?
  • Menurut pendapatmu, bagaimanakah fungsi praktis dan funsi pendidikan bahasa Indonesia dalam  dunia pendidikan dewasa ini?
  • Pendamping memastikan bahwa mahasiswa dapat menemukan jawaban tersebut sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.
  • Pendamping diharapkan lebih banyak bersabar selama mahasiswa berupaya menemukan jawaban.
LANGKAH 02
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
2 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

  1. BACAAN PENGAYAAN
    • Halliday,M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-Aspek bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada Univ. Press.
    • Keraf, Gorys. 1997. Komposisi. Ende: Nusa Indah.
    • Kridalaksana, Harimurti. 1995. “Pendayagunaan Potensi Intern dan Extern dalam Pengembangan Bahasa Indonesia dan Peningkatan Budaya bangsa”. Makalah yang disajikan dalam Seminar nasional Sejarah Bahasa Indonesdia dalam Perjalanan Bangsa.” Denpasar, Bali: Univ Udayana.
    • ———————. 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
    • Pateda Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Ende: Nusa Indah.
    • Sa’adie, Maimur, dkk. 1997. Bahasa Bantu. Jakarta: Depdikbud, bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III tahun 1997/1998.

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

3.       Mahasiswa dibagikan Handout  KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA untuk dicermati, baik secara berkelompok maupun  secara mandiri.

  1. Materi Pengayaan

 

 

KEDUDUKAN DAN  FUNGSI BAHASA INDONESIA

 

  • Kedudukan Bahasa Indonesia

Kedudukan  bahasa adalah suatu status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan dengan bahasa yang bersangkutan (Politik Bahasa Nasional 2:145). Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia memiliki status tertinggi. Secara tegas, kedudukan ini dimilikinya sejak diikrarkannya oleh para pemuda dalam Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

Selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara atau bahasa resmi. Hal ini juga ditegaskan dalam UUD ’45, Bab XV pasal 36. Dalam dokumen tertinggi itu Bahasa Indonesia dimaklumatkan sebagai bahasa negara.

 

  • Fungsi Bahasa Indonesia

Sebelum kita berbicara tentang fungsi Bahasa Indonesia, alangkah baiknya kita berbicara sejenak perihal fungsi bahasa pada umumnya.

Keraf (1997:3-6) menuliskan bahwa secara umum bahasa berfungsi sebagai berikut.

  • Untuk menyatakan ekspresi diri. Fungsi tersebut mengidikasikan bahwa melalui bahasa, manusia dapat menyatakan diri secara terbuka tentang segala sesuatu yang tersirat dalam “dadanya”, sekurang-kurangnya untuk memaklumatkan keberadaan dirinya.  Faktor-faktor yang yang mendorong lahirnya fungsi ini adalah:
  • ketertarikan dan perhatian orang lain terhadap diri kita,
  • keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.

 

  • Untuk menyatakan transaksi dan komunikasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan memungkinkan kita bekerja sama dengan sesama warga. Fungsi ini memiliki kekuatan, bahwa bahasa dapat mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan, dan mengarahkan masa depan pemakainya.  Dengan bahasa, manusia pemakai dapat menganalisis masa lampau kehidupan, menyempurnakan aktivitas kehidupan masa kini, dan dapat memprediksi dan menganalisis kehidupan pada masa yang akan datang.
  • Alat intergrasi dan adaptasi sosial. Fungsi ini mengindikasikan, bahwa dengan kekuatan bahasa, anggota-anggota masyarakat dapat dipersatukan secara efisien, dan setiap warga merasa dirinya terikat erat dengan warga kelompok lain, karena manusia merasa bahwa ”dia” adalah bagian dari kelompok sosial yang lebih besar.  Dengan bahasa, manusia dapat melakukan aktivitas kemsyarakatan dan menghindarkan diri  sejauh mungkin terhadap bentrokan-bentrokan dalam kehidupan kemasyarakatan. Bahasa juga memiliki  kekuatan untuk memungkinkan manusia berintgrasi (hidup membaur) secara sempurna dengan kelompok sosial yang dimasukinya. Dengan kekuatan bahasa manusia dapat secara perlahan-lahan belajar mengenal adat-istiadat, tingkah laku, dan tata krama masyarakat. Manusia berusaha berdaptasi dengan kelompok sosial lain yang tentunya memiliki tatakrama, adat istiadat yang berbeda daripadanya.

 

  • Alat kontrol sosial. Fungsi ini mengindikasikan bahwa dengan kekuatan bahasa manusia berdaya upaya mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tanduk orang lain. Bahwa, tingkah laku manusia dapat bersifat terbuka (overt: tingkah laku yang dapat diamati dan diobservasi) dan tingkah laku yang bersifat tetrtutup (covert: tingkah laku yang tidak dapat diobservasi). Dengan kekuatan bahasa manusia dapat mengadakan kontrol sosial melalui proses-proses sosialisasi yang berwujud: (i) keahlian bicara, (ii) pengalihan kepercayaan dan sikap orang tua kepada anak-anak yang sedng tumbuh, (iii) melukiskan dan menjelaskan peranan serta mampu mengidentifikasi diri dalam melakukan tindakan, (iv) menanamkan rasa keterlibatan (sense of belonging atau esprit de corps) pada si anak tentang masyarakat bahasanya.

Roman Jacobson (Pateda, 1991:82) menuliskan bahwa secara umum bahasa memiliki fungsi (a) emotive (emotif), yang mengacu kepada penggunaan bahasa dalam kaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pribadi pembicara; (b) fungsi referensial (referntial) mengacu kepada penggunaan bahasa yang berkaitan dengan hal, benda, proses, peristiwa yang berada di luar pembicara atau pendengar, (c) fungsi konatif (conative) mengacu pada penggunaan bahasa untuk mempengaruhi, mengajak, menyuruh atau melarang, (e) fungsi puitis (poetic) mengacu pada penggunaan bahasa yang bernilai puitis, (f) fungsi fatis (phatic) mengacu kepada penggunaan bahasa untuk memelihara kontak antara pembicara dengan pendengar, (g) fungsi metalingual (metalingual) mengacu kepada penggunaan untuk menguraikan unsur-unsur bahasa itu sendiri.

Finocchiaro (Dardjowidjojo 1987) menuliskan bahwa bahasa memiliki fungsi (a) fungsi personal mengacu kepada kemampuan pembicara atau penulis untuk mengungkapkan pikiran, kemauan, dan perasaannya, (b) fungsi interpersonal mengacu pada penggunaan bahasa yang berakibat pada hubungan pembicara dengan pendengar atau antara penulis dengan pembaca, (c) fungsi direktif mengacu pada penggunaan bahasa yang berhubungan dengan permintaan, ajakan, bujukan, perintah, dan larangan, (d) fungsi referensial yang mengacu pada penggunaan bahasa yang berhubungan dengan dunia luar pembicara/penulis dan pendengar/pembaca, misalnya berhubungan dengan benda, peristiwa, dan proses, (e) fungsi imajinatif yang mengacu kepada penggunaan bahasa yang bersifat imajinatif, misalnya dalam menyusun sajak, cerpen, dan novel.

Blundell, cs. (Dardjowidjojo 1987:138-139) menuliskan bahwa bahasa memiliki (a) fungsi informational, attitudinal, active yang didasarkan pada kenyataan bahwa sebelum kita mempunyai sikap (attitude) terhadap suatu pendapat, ujaran, kita memerlukan informasi lebih dahuulu, (b) social formula, yakni penggunaan bahasa hanya untuk basa-basi, misalnya halo, apa khabar! (c) pelumas komunikasi mengacu pada penggunaan bahasa yang bermaksud agar komunikasi berjalan terus, mislnya: ah, masak, oh…. ya, mm… I see, aha…! (d) fungsi informasi kebahasaan yang mengacu kepada informasi kebahasaan saja.

Halliday dan Ruqaya Hasan (Asruddin B Tou) menuliskan bahwa bahasa memiliki fungsi (a) instrumental, yang mengacu kepada penggunaan bahasa yang menyebabkan timbulnya keadaan tertentu, misalnya: siap…., maju…., jangan pegang bukuku!, (b) fungsi regulatory mengacu kepada penggunaan bahasa yang bersifat memelihara, termasuk di dalamnya persetujuan, penolakan, pengawasan terhadap tingkah laku, (c) fungsi representasional mengacu kepada penggunaan bahasa yang menyajikan fakta dan pengetahuan, mempresentasikan kenyataan seperti yang kita lihat, misalnya Inem sexi!, (d) fungsi interactional mengacu kepada penggunaan bahasa yang beruasaha agar kominikasi tertap berjalan lancar, misalnya: harus memperhatikan situasi, norma, (e) fungsi personal, yang mengacu kepada penggunaan bahasa yang menyatakan pikran, kemauan, perasaan pribadi, (f) fungsi heuristic mengacu kepada penggunaan bahasa untuk  memperoleh pengetahuan, untuk mengenal lingkungan, (g) fungsi imaginatif mengacu kepada penggunaan bahasa untukmenciptakan ide yang imajinatif, misalnya menciptakan sajak, novel, dan cerpen.

Berdasarkan fungsi-fungsi umum, fungsi Bahasa Indonesia dapat dijabarkan, bahwa  Dalam kedudukannya sebagai sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa resmi kenegaraan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

  • Sebagai lambang kebanggaan nasional.
  • Sebagai lambang identitas nasional.
  • Sebagai alat yang memungkinkan penyatuan suku atau etnik yang memiliki ciri bahasa dan ciri budaya masing-masing.
  • Sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

Di samping itu, dalam kedudukan sebagai bahasa negara atau bahasa resmi kenegaraan, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

  • bahasa resmi dalam menjalankan adminitrasi kenegaraan,
  • bahasa pengantar dalam dunia pendidikan,
  • alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencaraan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintahaan,
  • alat pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi

 

LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan lembaran latihan untuk dikerjakan secara berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Pendamping mendampingi diskusi mahasiswa.

 

LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

3)      Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang  KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

  • Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

 

  1. PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI,  digunakanlah tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.. (Lembar penilaian: terlampir).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN EMPAT

PUNGTUASI

 (1 x 200 menit)

 

  1. PENGANTAR

Bahasa terdiri-dari dua aspek yakni aspek bentuk dan aspek makna. Aspek bentuk dapat dibagi menjadi dua unsur yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur segmental dapat dibagi-bagi atas bagian-bagian yang lebih kecil yang meliputi: fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana. Sebaliknya unsur suprasegmental adalah unsur bahasa yang kehadirannya tergantung dari kehadiran unsur segmental. Unusr suprasegmental meliputi: tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang yang dalam bentuk yamg lebih luas dikenal sebagai intonasi

Unsur-unsur segmental dapat dikatakan sudah cukup berhasil digambarkan di atas helai kertas, walaupun di sana sini masih terdapat adanya kekurangan. Unsur-unsur suprasegmental beserta gerak-gerik dan air muka belum dapat dilukiskan dengan sempurna. Unsur-unsur segmental biasanya dinyatakan secara tertulis dengan abjad, persukuan, penulisan kata dan sebagainya. Sebaliknya unsur-unsur suprasegmental biasanya dinyatakan secara tertulis melalui tanda-tanda baca atau pungtuasi.

 

 

 

 

  1. TUJUAN

Setelah pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan pungtuasi dalam berbagai karya tulis ilmiah.

 

  1. BAHAN DAN ALAT

c.1  Referensi yang Digunakan

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, hal. 21. Jakarta: PT. Grammedia.

 

Effendi, S. 1995. Pnduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta. Pustaka Jaya.

 

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

 

Keraf, Gorys. 1996. Tata Bahasa Indonesia: untuk SMU dan SMK. Ende: Nusa Indah.

 

Moeliono, A.M.(Ed.) 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Putaka.

 

Sugono, Dendy (Penyunting). 2008. Petunjuk Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.

 

Sugono, Dendy (Penyunting). 2008. Pengindnesiaan Kata dan Ungkapan Asing. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.

 

c.2  Bahan dan Alat

Komputer, LCD, Meta-plano, Flipchart, Bahan ajar/ handout

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah 1: PENYAJIAN AWAL (1O MENIT)

Waktu yang dibutuhkan  untuk langkah ini lebih kurang 10 menit, dengan alur proses sebagai berikut.

  • Mahasiswa diajak duduk berkelompok, yang setiap kelompoknya beranggotakan 3 – 5 orang.
  • Mahasiswa distimulasi dengan soal-soal pre-test yang berkisar sekitar “pungtuasi”.
  • Pendamping dapat memastikan bahwa mahasiswa telah memiliki pengetahuan siap yang memadai tentang “pungtuasi”.
  • Mahasiswa diberi kesempatan mencermati materi “pungtuasi”.
  • Hasil pre-test mahasiswa (pada butir 2) dapat dijadikan pendamping sebagai bahan stimulan untuk pembelajaran selanjutnya.

 

Langkah 2: PENJELASAN MATERI POKOK (15 menit)

Materi pokok “pungtuasi” disampaikan dalam bentuk powerpoint diselingi penjelasan dan tanya jawab.

 

Langkah 3: DISKUSI KELOMPOK (45 MENIT)

Pada langkah ini, mahasiswa dibagikan soal-soal diskusi melalui LKM (lembar kerja mahasiswa).

 

Langkah 4: PLENO HASIL DISKUSI (45 MENIT)

            Langkah ini mengikuti alur belajar sebagai berikut.

  • Setiap kelompok menanfaatkan waktu 5 menit sacara baik untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Waktu yang disiapkan untuk setiap itu untuk melakukan kegiatan presentasi, tanggapan, dan penyampaian rangkuman oleh kelompok pengamat. Penetapan waktu tersebut akan disesuaikan dengan tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi saji dan waktu dimulainya kegiatan diskusi kelompok.
  • Untuk menghindari “terbengkelainya” (yang kadang terjadi sebagai akibat peristiwa debat kusir) penyampaian dan tanggapan hasil pleno kelompok, pendamping menyiapkan satu kelompok belajar  di antara kelompok-kelompok yang ada  untuk merekam seluruh proses dan hasil diskusi kelompok. Strategi seperti ini juga terjadi ketika kelompok-kelompok lain menyampaikan hasil diskusinya. Pertimbangan  lain dari strategi ini, yakni mempermudah proses  penyimpulan yang akan dilakukan pada langkah 5.

 

Langkah 5: REVIEW (10 MENIT)

  • Mahasiswa diajak mereview atau merangkum seluruh isi sajian pada pertemuan ini.
  • Demi penyempurnaan hasil review atau hasil rangkuman, pendamping perlu menyampaikan materi pengayaan yang berhubungan dengan pertemuan ini.
  • Sebagai akhir dari pertemuan ini, kepada mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan secara kelompok di luar waktu tatap muka.
  • Perlu diingat, bahwa peran dosen pada seluruh langkah kegiatan adalah  sebagai fasilitator, motivator, dan observer.

 

  1. BAHAN BACAAN UNTUK MAHASISWA DAN DOSEN

 

PUNGTUASI

(sumber utama: Komposisi Gorys Keraf

 

  1. Pentingnya Pungtuasi

Bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis merupakan pencerminan kembali dari bahasa lisan itu dalam bentuk simbol-simbol tertulis. Dalam percakapan-percakapan secara lisan jelas terdengar bahwa kata-kata seolah-olah dirangkaikan satu sama lain, serta di sana-sini terdengar perhentian sebentar atau agak lama dengan suara menaik atau menurun. Di samping itu masih terdapat ekspresi-ekspresi air muka berupa menggerak-gerakkan alis mata, menggeleng-gelengkan atau mengangguk-anggukkan kepala, mengangkat bahu, mengacungkan tangan dan sebagainya. Kata “ya!” dapat diucapkan sedemikian rupa untuk menyatakan persetujuan yang bersemangat atau bernada kemalu-maluan, kebimbangan dan kekurangpercayaan, atau suatu penolakan yang kasar. Banyak sekali warna arti yang dapat diberikan kepada suatu ucapan dengan perbedaan variasi kecepatan, keras lembut dan intonasi yang berlainan.

Semuanya itu begitu biasa dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak timbul persoalan bagi pendengar. Setiap orang yang diajak bicara langsung memahami apa fungsi dari suara naik atau menurun. Apa makna dari suatu tutur yang disampaikan dalam tempo yang relatif lebih lama? Tetapi semuanya ini baru menjadi persoalan bila percakapan-percakapan atau bahasa lisan itu ditranskripsikan dalam tulisan. Bagaimana seorang dapat menyatakan nada yang naik atau menurun, bagaimana ia harus melukiskan ujaran-ujaran yang keras, lembut dan sebagainya?

Pada waktu dilakukan transkripsi bahasa lisan itu, sebenarnya dicoba pula untuk menuangkan semua hasil ujaran manusia beserta nuansa lagu dan laju ujaran ke dalam gambar-gambar di atas sehelai kertas. Penulis yang ahli dan berpengalaman akan megubah kalimat-kalimatnya sedemikian rupa sehingga ia dapat memperoleh tekanan yang diinginkannya sebagaimana terdapat dalam bahasa lisan. Ia akan berusaha pula untuk memilih kata-kata yang tepat untuk mencerminkan kembali arti sebagai yang dimaksudkan dalam bahasa lisan; walaupun masih terdapat kekurangan-kekurangan.

 

  1. Dasar Pungtuasi

Sebelum mempelajari pungtuasi, hendaknya sekali lagi dicamkan bahwa pungtuasi itu dibuat berdasarkan dua hal utama yang saling melengkapi,  yaitu (1) didasarkan pada unsur suprasegmental, (2) didasarkan pada hubungan sintaksis.

Coba katakan, saudara, siapa namamu?

Dalam ujaran yang wajar antara “katakan” dan “saudara” tidak terdapat perhentian, sebab itu seharusnya koma di sana dihilangkan. Namun karena kata “saudara” merupakan unsur yang tidak ada hubungan dengan kata “katakan” maka harus ditempatkan koma di sana. Antara kata “saudara” dengan “siapa” ditempatkan koma, karena di situ diberikan perhentian sebentar dengan intonasi menaik. Sebaliknya pada akhir kalimat diberikan tanda tanya karena intonasinya adalah intonasi tanya.

Sering terjadi bahwa unsur-unsur kalimat yang merupakan kesatuan ditampilkan dalam urutan yang terpisah, yaitu diinterupsi oleh unsur-unsur yang kurang esensil sifatnya. Dalam hal ini harus dipergunakan tanda-tanda baca agar hubungan itu tidak menjadi kabur. Misalnya kita tidak boleh memisahkan unsur-unsur yang merupakan satu kesatuan seperti subjek dan predikat atau sebuah kata dengan keterangan yang erat. Sebaliknya kita harus memisahkan anak-anak kalimat yang independen dalam sebuah kalimat majemuk, memisahkan subjek dari unsur-unsur pengantar predikat yang mendahului subyek memisahkan unsur-unsur yang setara, dan lain sebagainya.

 

  1. Macam-macam Pungtuasi

Pungtuasi yang lazim dipergunakan dewasa ini didasarkan atas relasi gramatikal, frasa, dan inter-relasi antara bagian kalimat (hubungan sintaksis). Tanda-tanda tersebut duraikan sebagaikan berikut.

Titik atau perhentian terakhir biasanya dilambangkan dengan (.). Tanda ini lazimnya dipakai untuk hal-hal sebgai berikut.

  • Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.

Bapak sudah pergi ke kantor.

Tidak ada yang perlu ditakuti.

Ada kalangan yang menganggap cara dramatik itu sebagai cara yang terbaik.

 

Karena kalimat tanya dan kalimat perintah atau seru mengandung pula pengertian perhentian akhir yaitu berakhirnya suatu tutur. Tanda  tanya dan tanda seru yang digunakan dalam kalimat–kalimat tersebut selalu mengandung sebuah tanda titik.

Kamu sudah mendengar berita itu?

Apa yang diinginkannya?

Pergilah dari sini!

Aduh, sialnya nasibku!

 

  • Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan pangkat dan singkatan kata atau ungkapan yang sudah lazim.

 

Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.

Dr. (Doktor)                                                 a.n. (atas nama)

  1. (dokter) d.a. (dengan alamat)

Ir. (Insinyiur)                                              u.b. (untuk beliau)

Kol. (Kolonel)                                             dkk. (dan kawan-kawan)

M.Sc.(Master of Science)                           dll. (dan lain-lain)

Prof . (Pofesor)                                            dst. (dan seterusnya)

S.H. (Sarjana Hukum)                                 dsb. (dan sebagainya)

Drs. (Doktorandus)                                      tsb. (tersebut)

M.A. (Master of Arts)                                  Yth. (Yang terhormat)

 

Semua singkatan kata yang mempergunakan inisial atau akronim tidak mempergunakan titik: MPR, DPR, ABRI. Hankam, Kopkamtib, Ampera, Lemhanas, dan sebagainya.

 

  • Tanda titik dipergunakan untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menunjukkan jumlah; juga dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik.

1.000

pukul 5.45.42 (pukul lima lewat 45 123.000                                                                           menit 42 detik)

154.376.235.

567.987.456.879.

 

Bila bilangan itu tidak menunjukkan jumlah maka tanda titik tidak dipergunakan:

Pada halaman 5675 terdapat kata-kata berikut.

Ia lahir pada tahun 1876

 

Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menaik di tengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Di samping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu. Dalam hal-hal berikut dapat dipergunakan tanda koma.

  1. Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menyatakan pertentangan, antara anak kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan kalimat.

 

  • Ia sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi maksudnya tidak tercapai.
  • Mereka bukan mengerjakan apa yang diperintahkan, melainkan duduk bermalas-malasan saja.
  • Nenek mengatakan dengan bangga, bahwa mereka adalah keturunan petani yang kuat-kuat, yang pantang mengalah dengan raksasa alam – ya, tiada dilupakan beliau berceritera tentang tanggul yang arsiteknya beliau rencanakan.
  • Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa dalam usaha penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, lebih dahulu harus ditentukan secara deskriptif tata fonem bahasa Indonesia, sebelum dilakukan pemilihan huruf bagi fonem-fonem.

 

  1. Koma dipergunakan untuk menandakan suatu bentuk parentetis (keterangan-keterangan tambahan  yang biasanya ditempatkan juga dalam kurung) dan unsur –unsur yang tak restriktif.

 

  1. Pertama, tulislah nama saudara di atas kertas itu.
  2. Anak-anak, yang sudah menghadiri kebaktian itu, dapat dipulangkan ke rumahnya masing-masing.
  3. Kedatangannya, seperti yang diinginkannya dari dulu, tidak disambut dengan upacara besar-besaran.

 

  • Tanda koma dipergunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk kalimatnya, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.

 

Bila hujan berhenti, ia akan mulai menanami sawahnya.

Karena marah, ia meninggalkan kami.

Sebagai pembuka acara ini, kami persilakan hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan.

 

  1. Koma dipergunakan untuk menceraikan beberapa kata yang disebut berturut-turut.

 

Ia membeli seekor ayam, dua ekor kambing, lima puluh kilogram gula sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya.

Realita kehidupan penuh dengan kaidah, aturan-aturan, ukuran-ukuran, hukum-hukum, yamg memberikan arti pada keselarasan hidup itu sendiri.

 

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat pada awal kalimat, misalnya: jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, di samping itu.

 

Di samping itu, kenyataan dan sejarah juga menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa itu biasanya tidak berlangsung lama.

 

Biarpun demikian, pelajar-pelajar yang berkualitas baik tidak sepenuhnya tertampung dalam universitas-universitas.

 

Oleh karena itu, sudah tibalah waktunya bagi kita untuk menata kembali kehidupan di kampus ini.

 

  1. Koma selalu dipergunakan untuk menghindari salah baca atau keragu-raguan.

Meragukan            : Di luar rumah kelihatan suram.

Jelas                       : Di luar, rumah kelihatan suram.

Jelas                       : Di luar rumah, kelihatan suram.

 

  • Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang diajak bicara.

Saya mendoakan, Yanto, agar engkau selalu berhasil dalam usahamu.

Saya setuju, saudara.

 

  • Koma dipakai juga untuk memisahkan aposisi dari kata yang diterangkannya.

Jendral Suharto, Presiden Republik Indonesia, dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.

Orang tuanya, Pak Yakob telah meninggal tadi malam.

 

  1. Koma dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari bagian kalimat lainnya.

 

Aduh, betapa sedih nasibnya

Wah, sungguh hebat hasil yang mereka capai.

 

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dari bagian kalimat  lainnya.

 

Kata  ayah, ”saya akan mengurus sendiri persoalan itu.”

 

  1. Koma dipergunakan juga untuk beberapa maksud berikut.
    • Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal.
    • Menceraikan bagian nama yang dibalikkan
    • Memisahkan nama keluarga dari gelar akademik.
    • Untuk menyatakan angka desimal.

 

Bila anda ingin menyurati saya alamatkanlah ke: Fakultas Sastra – Universitas Indonesia, Jln. Daksinapati, Rawamangun, Jakarta.

Mulyana, Slamet.

A.K. Pardede, S.S.,M.A.

Tanah itu panjangnya 25,56 m

 

  • Titik Koma.

Fungsi titik koma sebenarnya terletak antara titik dan koma. Di satu pihak orang ingin melanjutkan kalimatnya dengan bagian kalimat berikutnya, tetapi di pihak lain dirasakan bahwa kalimat tadi sudah dapat diakhiri dengan sebuah titik. Sebab itu titik-koma itu dilambangkan dengan sebuah titik di atas sebuah koma (;).  Titik–koma dipakai dalam hal-hal berikut.

  1. Untuk memisahkan dua bagian kalimat yang sederajat, dimana tidak dipergunakan kata-kata sambung.

 

Ia seorang sarjana yang cemerlang; seorang atlit yang mengandung harapan; seorang aktor yang sangat baik.

 

  1. Titik-koma dipergunakan juga untuk memisahkan anak-anak kalimat yang sederajat.

 

Ia mengatakan bahwa ia sudah kecapaian; ia membenci pekerjaan itu; sebab itu ia ingin segera meninggalkan pekerjaan itu yang sudah dijalankannya bertahun-tahun lamanya.

  • Untuk memisahkan sebuah kalimat yang panjang yang mengandung subyek yang sama, serta terdapat perhentian yang lebih lama dari koma biasa; teristimewa titik-koma itu dipergunakan dalam bagian kalimat terdahulu telah dipergunakan koma.

 

Tingkat kultural suatu bangsa menentukan kekuatan teknik, industri dan pertaniannya; dengan demikian menentukan kekuatan ekonminya.

Melihat adiknya tiba-tiba seperti orang putus harapan itu, hilang segala akalnya; gelisah tak tentu apa yang hendak dikerjakannya, dipegang-pegangnya dagunya dengan tangannya yang kasar, yang mulai lisut sedikit-sedikit.

 

  1. Memisahkan ayat-ayat atau perincian-perincian yang bergantung pada suatu pasal atau pada suatu induk kalimat.

 

Menurut penyelidikan Lembaga tersebut, kekuatan yang menyolok di kalangan para mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru, antara lain:

  1. pengetahuan umum mereka kebanyakan berada dibawah taraf;
  2. tidak cukup menguasai bahasa indonesia dan bahasa inggris;
  3. tidak mampu membaca tabel, grafik, mempergunakan register dan kamus;
  4. cara belajar mereka kurang efisien;
  5. cara berpikir mereka jauh dari memadai.

 

Pendeknya, sebagai pedoman dapat diingat bahwa titik-koma merupakan sebuah perhentian yang lebih lama dari koma. Dengan mempergunakan sebuah titik-koma, penulis dapat terhindar dari tiga kemungkinan kesalahan.

  • berhenti secara tiba-tiba pada suatu rangkaian kalimat-kalimat pendek yang terpisah, yang diakhiri dengan titik biasa;
  • menghilangkan kejenuhan (monotoni) dari suatu kalimat yang panjang, terdiri dari bagian-bagian kalimat atau anak-anak kalimat yang dirangkaikan begitu saja dengan kata dan atau kata sambung yang lain;
  • menghindari kekaburan dari sebuah kalimat yang berbelit-belit yang dipisahkan oleh sebuah koma saja

 

 

  • Titik Dua.

Titik dua yang biasanya dilambangkan dengan tanda (:), biasanya dipergunakan dalam hal-hal berikut.

  • Sebagai penghantar sebuah kutipan yang panjang, baik yang diambil dari sebuah buku, majalah dan sebagainya, maupun dari sebuah ucapan langsung.

 

Dalam sebuah karangannya yang berjudul ”Pengajaran Bahasa Indonesia”  I.R.Poedjawijatna mengatakan: ”maka dari bahasa : membimbing anak (orang yang belum tahu betul akan bahasa itu seperti ) supaya dapat mempergunakan dan menerima (mengerti) bahasa itu sebaik-baiknya.” (BKI)

 

  • Titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan yang lengkap, tetapi diikuti suatu rangkaian atau pemerian.
  • Di warung itu dapat dibeli barang-barang berikut: sayur-sayuran, gula, tembakau, buah-buahan, barang pecah-belah, dan sebagainya.

 

  • Manusia terdiri dari dua bagian: jiwa dan badan.
    • Titik dua tidak dipakai kalau pemerian atau perincian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

 

  • Di warung itu dapat dibeli barang-barang sayur-sayuran, gula, tembakau, buah-buahan, barang pecah-belah, dan sebagainya.
  • Manusia terdiri atas jiwa dan badan.

 

  • Titik dua dipergunakan juga sebagai sebuah pengantar sebuah pernyataan atau kesimpulan.

 

Kenyataannya ádalah sebagai berikut: Bahasa Indonesia dan Matemática merupakan mata pelajaran dasar, bahasa Perancis dan Jerman merupakan pilihan.

 

  • Walaupun sangat jarang, titik dua dapat juga dipergunakan untuk memishkan dua kalimat yang sederajat, sedangkan bagian yang kedua menerangkan atau menegaskan bagian yang pertama.

 

Tiap pelari cepat sudah berusaha sedapat-dapatnya: Roby adalah seorang pelari jarak pendek.

 

  • Titik dua dipakai sesudah kata atau frasa yang memerlukan pemerian.

Ketua Panitia      : S. Sastradinata

Wakil Ketua        : Adiarta

Sekretaris             : Anita

 

  • Dalam teks drama atau dialog, titik dua dipakai sesudah kata yang menunjuk pelaku percakapan.

 

David: He, Abil, kemarilah. Apa artinya tulisan itu? Bahasa Latinkah?

Abil : (tetap menyembunyikan orgel) Alaaah, apa gunanya?

David: gunanya? Demi kepentingan orgelmu yang terkutuk itu.

 

 

  • Tanda kutip.

Tanda kutip, yang biasanya dilambangkan dengan tanda ( ”…” ) atau  (’….’), dipergunakan dalam hal-hal berikut.

  • Untuk mengutip kata-kata seseorang, atau sebuah kalimat atau suatu bagian yang penting dari buku, majalah dan sebagainya.

 

Ia  mengatakan, ”saya harus pergi.”

Dalam bukunya tentang ilmu perbandingan pemerintahan Prof. M. Nasroen, S.H mengatakan antara lain: ”menurut pendapat saya, Monarkhie, republik oligarkhi, dsb. Itu, semuanya adalah bentuk-bentuk negara dan oleh sebab itu semuanya itu masing-masing adalah negara. . . ”

 

  • Bila hanya ada satu kata yang dikutip, maka tidak perlu mempergunakan titik dua.

 

Ia berteriak ” tembak !” kepala anak buahnya.

  • Tanda kutip dipergunakan untuk menulis judul karangan (artikel), syair atau bab buku.

 

  • Ia menulis sebuah artikel dalam majalah bulanan itu dengan judul ”pemuda dan dekadensi moral”.
  • Untuk deklamasi minggu depan siapkanlah ”aku” ciptaan Chairil Anwar.

 

  • Tanda kutip dipakai untuk menyatakan sebuah kata asing atau ssebuah kata yang diistimewakan atau mempunyai arti khusus.

 

  • Ia menyatakan bahwa semuanya sudah ”oke”
  • Hal ini bisa dimengerti karena biaya bagi penelitianbebas yang jauh lebih kurang daripada biasa untuk keperluan penelitian  yang sifatnya ”applied” dan prakti.
  • Semboyan ”buku, pesta dan cinta” sudah lama ditinggalkan baik didalam tindak- tanduk maupun slogan.

 

  • Tanda kutip dalam tanda kutip: bila terdapat sebuah kutipan dan dalam sebuah kutipan, maka masing-masingnya harus dibedahkan dengan tanda kutip yang berlainan.

 

  • Yanto berkata, ”tiba-tiba saya mendengar suatu suara berseru ‘siapa itu?’” atau
  • Yanto berkata, ‘tiba-tiba saya mendengar’ saya mendengar suatu suara berseru ”siapa itu?”

 

  • Tanda kutip tunggal dipakai untuk mengapit terjemahan atau penjelasan sebuah kata atau ungkapan asing.

 

Teriakan-teriakan binatang dan orang primitif oleh wundt disebut LAUTGEBARDEN ’gerak-gerik bunyi’.

 

  • Di samping hal-hal yang telah diuraikan diatas, perlu kiranya diminta perhatian atas pemakaian koma, titik dan huruf kapital dalam contoh-contoh berikut yang juga mempergunakan tanda kutip itu.

 

”Hendaknya demikian, ”katanya. ”kita harus sadar untuk melaksanakan tugas kita masing-masing dengan baik.”

 

  • Perhatikan: koma sesudah ”demikian” titik sesudah ”katanya”. dan huruf kapital K pada kata ”kita” yang memulai kalimat baru.

 

”Saya kira, ” katanya,  ” kita harus berhenti sekarang.”

 

  • Perhatikan : Koma sesudah ”kita” dan ”katanya” huruf k kecil untuk kata ”kita”, sebab ”kita harus berhenti” sekarang merupakan bagian dari kalimat ”saya kira”

 

Astaga! Serunya. (tak ada koma sebelum ”serunya”).

”Kau sakit?” tanyanya.  (juga tak ada koma sebelum ”tanyanya”.  sebab baik tanda seru maupun tanda tanya sudah mengandung titik).

 

  • Akhirnya dapat diberikan pula cara pengalineaan dalam karangan-karangan yang mengandung dialog-dialog. Tiap pembicaraan baru betapa pun pendeknya selalu dimulai dengan alinea baru.

 

  • Nenek itu kemudian pergi. Ketika bujang akan membanting kartu, tangan Maya menahan.
  • ”Nanti dulu,” kata Maya.
  • ”apa?”
  • ”Kau terlalu banyak berdusta. Aku yakin sekarang bahwa benar seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang mandi itu…..”
  • ”Nenekku gila?” tanya bujang bagitu maksudmu?”
  • ”Ya”
  • ”Kau menghina keluarga kami!” (MP)

 

 

  • Tanda Tanya.

Tanda tanya yang biasanya dilambangkan dengan tanda (?), digunakan dalam hal-hal berikut.

  • Dalam suatu pertanyaan langsung.

 

  • Bilamana kau menyelesaikan tugasmu itu?
  • Bukankah kamu yang diserahi pekerjaan itu?

 

Dalam hubungan ini dapat ditegaskan bahwa tanda tanya tidak boleh dipergunakan dalam ucapan tak langsung (oratio indirecta).

 

  • Ia menanyakan apa yang harus dikerjakannya?
  • Ia ingin mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas tugas itu

 

 

  • Tanda tanya dipergunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau ketaktentuan. Untuk maksud tersebut tanda tanya harus ditempatkan dalam tanda kurung (?).

 

Pengarang itu lahir tahun 1886 (?) dan meninggal tahun 1968.

 

  • Tanda tanya kadang-kadang dipergunakan juga untuk menggantikan suatu bentuk sarkastis.

 

Ia seorang gadis yang cantik(?) dan peramah.

 

 

 

 

  • Tanda Seru.

Tanda seru yang dilambangkan dengan (!), biasanya dipakai dalam hal-hal beriukut.

  • Untuk menyatakan suatu pernyataan yang penuh emosi. Kata-kata seru biasanya dimasukan juga dalam golongan ini.

 

  • Mustahil! Hal semacam itu tidak boleh terjadi!
  • Perhatian! Perhatian!
  • Aduh! Betapa sedih kita meliha nasibnya!

 

Tanda seru tidak selalu harus dipakai dibelakang kata-kata seru, tetapi tidak ada keharusan untuk mempergunakan tanda itu.

  • ”He, dari mana kamu? Katanya penuh keheranan.
  • ”He! dari mana kamu? Katanya penuh keheranan.

 

  • Tanda seru selalu dipergunakan untuk menyatakan suatu perintah.
  • Pergilah segera ke rumahnya! Bawalah dia kemari!
  • Bawalah penjahat itu kesini, hidup atau mati!

 

  • Tanda seru dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang mengutip sesuatu sebenarnya tidak setuju atau sependapat dengan apa yang dikutipnya itu.

 

  • Dataran-dataran itu dianggap sebagai bukti (!) pendaratan makhluk angkasa luar di bumi kita pada masa lampau.
  • Kita semua berasal dari kera (!)

 

 

  • Tanda Hubung

Tanda hubung yang dilambangkan dengan tanda (-) dipergunakan dalam hal-hal berikut.

  • Memisahkan suku kata yang terdapat pada akhir baris.

Mungkin tidak ada konsensus apakah pembangunan itu, apa definisinya dan bagaimana caranya.

 

Semua suku kata (baik dai kata dasar maupun dari afiks) yang terdiri dari satu huruf tidak dipisahkan supaya jangan terdapat hanya satu huruf pada ujung maupun awal baris. Jadi jangan menulis: a-nak, i-bu, di-a seti-a melompat-i dan sebagainya walaupun pemisahan suku kata memang demikian.

 

  • Tanda hubung dipakai untuk menyambung bagian-bagian dari kata ulang.

rumah-rumah, bermain-main, sekali-kali, sekali-sekali, berdekat-dekatan, pertama-tama, dan sebagainya.

  • Tanda hubung dipakai untuk memperjelas hubungan antara bagian kata atau ungkapan.

 

Ber-evolusi, be-revolusi; be-ruang,  ber-uang;

Padanya ada unag dua puluh lima-ribuan (20 X 5000)

Padanya ada unag dua-puluh-lima-ribuan (1 X 5000)

Isteri-kolonel yang cerewet (sang istri yang cerewet)

Isteri colonel-yang cerewet (kolonel yang cerewet).

 

  • Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan: se-dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; ke-dengan angka; angka dengan an; dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.

 

Se-indonesia, se-jakarta, hadia ke-3, ulangan ke-5, tahun 20-an, SIM-nya, bom-H di-DIP-kan.

 

 

 

  • Tanda Pisah.

Tanda pisah (dash) yang biasanya dilambangkan dengan tanda (-) dipergunakan untuk beberapa hal berikut.

  • Untuk menyatakan suatu pikiran sampingan atau tambahan.
    • Ada kritik yang menyatakan bahwa cara penyiar kita mempergunakan bahasa Indonesia -khusus dalam pengucapannya – kurang baik.
    • Karangan yang lebih populer dapat mendorong orang-orang awam – seperti saya ini – untuk  mempergunakan bahasa Indonesia dengan cara yang lebih baik.

 

  • Untuk menghimpun atau memperluas suatu rangkaian subyek atau bagian kalimat, sehingga menjadi lebih jelas.

 

  • Rumah, hewan, makanan – semuanya musnah dilanda bajir.
  • Rangkaian kegiatan ini – penelitian, seminar, diskusi ilmiah –  kegiatan ilmiah pada suatu perguruan tinggi.
  • Rakyat Indonesia – pria, wanita, orang orang dewasa dan anak-anak- menyambut gembira hasil pemilihan umum.

 

  • Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan berarti sampai dengan, sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti ke atau sampai.

 

Ia dibesarkan di bandungdari tahun 1945-1970.

Seminar itu berlangsung dari taggal 04-10 april.

 

  • Tanda pisah dipakai juga untuk menyatakan suatu ringkasan atau suatu gelar.

 

Hanya satu kesenangannya – makan.

Inlah kedua kawan yang saya ceriterakan – Nina dan Nita.

 

  • Untuk menyatakan suatu ujaran yang terputus, atau suatu keragu-raguan.

 

Di dalam belukar itu terdapat seekor-seekor-tak dapat saya pastikan binatang apa itu.

Dalam hal ini lebih lazim dipergunakan titik-titik (….) dari pada tanda pisah.

 

 

  • Tanda Elipsis.

Tanda elipsis (titik-titik ) yang dilambangkan dengan tiga (…) titik di pakai untuk menyatakan hal-hal berikut.

  • Untuk menyatak ujaran yang trputus-putus, atau menyatakan ujaran yang terputus dengan tiba-tiba.

 

Ia seharurnya…seharusnya…berada di sini

Tadi aku dengar dia berkata, seolah-olah lelaki yang di incernya itu ada sekitar ini . . ., ya, ya, di berkata begitu.

 

Sebagai sudah dikatakan di atas, walaupun kurang lazim, tanda  elipsis adakalanya diganti dengan tanda pisah.

 

  • Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian yang dihilangkan.

 

Mental menjalankan kekuasaan dalam negara modern . . . perlu dibina.

 

Tanda elipsis yang dipergunakan pada akhir kalimat karena menghilangkan bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir, menggunakan empat titik , yaitu satu sebagai titik untuk kalimat sebelumnya, dan tiga bagi bagian yang dihilangkan.

 

Demi kelancaran tata tertib hal ini sungguh perlu . . . . sehingga tiap orang yang agak ”keluar dari rel”,  lantas ditindak.

 

  • Tanda elipsis dipergunakan juga untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.

 

Gajinya kecil. Tetapi ia memiliki sebuah mobil luks, rumah yang mewah, malah sebuah bungalow di puncak. Entahlah dari mana ia dapat mengumpulkan semua kekayaan itu . . . . !

 

 

  • Tanda Kurung

 Tanda kurung yang biasanya dilambangkan dengan tanda (…) dipergunakan untuk menyatakan hal-hal sebagai berikut.

 

  • Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
    • Peranan IRRI (International Rice Research Institute) adalah untuk menciptakan berbagai variets yang telah ditingkatkan.
    • Begitu pulah pembentukan kata/istilah-istilah berdasarkan pinjam- terjemahan (loan-translation) banyak contonya dalam bahasa indonesia.

 

  • Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari pokok pembicaraan.

 

Memang di akui bahwa untuk dua jenis pelajaran (menurut kami harus dikatakan : ’ pengajaran’) ini ada metode dan sistimnya.

 

  • Mengapit angkah atau huruf yang memperinci satu seri keterangan.

Agar  seminar mengambil keputusan dengan pokok-pokok berikut:

  • Standarisasi perlu, mengapa?
  • Di sini sudah menyangkut: fungsi dan nilai
  • Siapa yang melaksanakan?
    • Organisasi; lembaga khusus.
    • Personalia; staf ahli.
    • Perguruan tinggi (komplemen).

 

 

  • Tanda Kurung Siku

            Tanda kurung siku biasanya dilambangkan dengan tanda […]. Tanda ini dipergunakan untuk maksud-maksud berikut.

  • Dipakai untuk menerangkan sesuatu diluar jalannya teks, atau sisipan keterangan (interpolasi) yang tidak ada hubungan dengan teks.

 

Sementara itu lingkungan pemuda dari kampus ini berhubung [maksudnya: berhubungan] dengan kenyataan-kenyataan luar kampusnya.

 

  • Mengapit keterangan atau penjelasan bagi suatu kalimat yang sudah ditempatkan dalam tanda kurung.

 

(Hanya menggunakan nada atau kombinasi nada-nada dan apa yang saya sebut persendian [atau mungkin kata lain perjedahan atau juncture itu])

 

 

  • Garis Miring

Garis miring yang biasanya dilambangkan dengan (/) dipakai untuk hal-hal sebagai berikut.

  • pengganti kata dan atau per atau memisah-misahkan nomor alamat yang mempunyai fungsi yang berbeda.

 

Begitu pulah pembentukan kata/istilah-istilah berdasar pinja–terjemah banyak terdapat dalam bahasa Indonesia

Akan diadakan pungutan wajib Rp. 1.000;/jiwa.

Engkau dapat menyurati saya dengan alamt: kayu pahit I/185, Rt.007/08.

 

  • Penomoran kode surat

No. I/255-a-I

 

  • Huruf Kapital

Huruf  kapital atau huruf  besar, biasanya dipergunakan dalam hal-hal berikut.

  • Huruf awal dari kata pertama dalam sebuah kalimat, dapat juga dipergunakan pada huruf awal dalam kata pertama suatu baris sanjak, walaupun penyair-penyair dewasa ini telah meninggalkan kebiasaan tersebut.

 

Ia meninggalkan rumah tanpa pamit.

Tuhanku akan datang dan lalu,

Badanku, akan jadi tua,

Tapi luka-luka jiwaku,

Dapat di fajar masaku muda. (PB).

 

Penyair-penyair dewasa ini tidak suka dengan formalitas itu, malahan ada yang secara ekstrim sama sekali tidak mempergunakan satu huruf kapital pun.

rubahlah satu per-satu rubuh

benteng-benteng dendam kendurlah

Satu per-satu kendur urat-urat sakit hati

akupun berpihak kepada kasih-sayang.

dilarut sepih. (BKI)

 

  • Huruf kapital dipergunakan pula di depan nama diri, nama tempat, bangsa, negara, organisasi, bahasa nama bulan dan hari, Tuhan, dan sifat-sifat Tuhan yang mempergunakan kata

 

Nama diri: Adi, Nina, Anita,Tomi, Yana, Tanto, dan sebagainya.

Nama tempat: Bogor, Bandung, Jakarta, Ende, dan sebagainya.

Bangsa, negara, bahasa: Inggris, Indonesia, Nederland, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bangsa Indonesia, bangsa Belanda, dan sebagainya.

 

Nama bulan dan hari: Januari, Pebruari, Minggu, Senin, dan sebagainya.

Tuhan dan sifat Tuhan: Tuhan, Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Pengasih, dan sebagainya.

 

  • Huruf kapital dipergunakan pula bagi judul-judul buku, pertunjukan,nama harian, majalah, artikel dan sanjak. Dalam hal ini biasanya kata-kata yang penting saja ditempatkan dalam huruf kapital, sedangkan kata-kata yang tidak penting ditempatkan tetap dalam huruf

 

Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru

Majalah Ilmu Sastra Indonesia

Bahasa Indonesia dan Problematikanya.

 

  • Huruf kapital dipergunakan juga pada kata-kata biasa yang mendapat arti istimewa, terutama dalam personifikasi.

 

Keseimbangan yang keempat adalah keseimbangan dengan alam yang Gaib (N)

Seperti wajah merah membara

Dalam bakaran api nyata

Biar jiwaku habis terlebur

Dalam Kobaran Nyala Raya (PB).

 

  1. LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)

Petunjuk: Kerjakanlah dalam kelompok!

  1. Tempatkanlah tanda-tanda baca pada kalimat-kalimat di bawah ini!
    1. dalam hal ini kita tidak bisa melupakan sumbangan Aristoteles yang berpendapat bahwa struktur alur dramatik dibangun atas dua bagian perkembangan utama yakni penggawatan komplikasi dan penyelesaian konklusi katastrofi
    2. tingkat kulturil suatu bangsa menentukan kekuatan teknik industri dan pertaniannya dengan demikian menentukan kekuatan ekonominya
    3. mutu pendidikan tinggi kita baik dilihat dari segi relevansinya keutamaan akademis atau pun dari keutamaan kependidikan masih belum memuaskan
    4. terima kasih katanya sambil menerima bungkusan itu dari tangannya
    5. benarkah kamu menerima bungkusan itu tanyanya dengan nada yang agak keras.
    6. karena macetnya lalu lintas antara jam  30 pagi sampai jam 10.30 pagi maka tidak mungkin mobil itu dilarikan lebih cepat dari 20 km/jam!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN  LIMA

KATA DAN PENGGUNAANNYA

 

 

  1. INDIKATOR PENCAPAIAN

Mahasiswa mampu:

  1. memilih kata yang tepat untuk merumuskan ide atau gagasan mereka secara benar,
  2. menggunakan kata-kata yang dipilih berdasarkan bidang ilmu atau spesifikasinya.

 

  1. BACAAN PENGAYAAN

Adjat, Sakri. Bangun Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB Bandung

Effendi, S. 1995. Pnduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta. Pustaka Jaya.

Hadi, Farid dan Isas Budionon (Ed.) 1995.Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengemabangan Bahasa.

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek dalam Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan: Asruddin Bbarori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada Univerity Press.

Keraf, Gorys. 1997. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Grammedia

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Gorys. 1996. Tata Bahasa Indonesia: untuk SMU dan SMK. Ende: Nusa Indah.

Moeliono, A.M.(Ed.) 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Putaka

Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat.

Razak, Abdul. Kalimat Efektif: Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: PT Gramedia.

Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Sastra Hudaya

Syafi’ie, Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi.  Malang: FPBS IKIP Malang.

 

 

C.      LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

 

LANGKAH 01
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa/peserta diajak duduk di dalam kelompok-kelompok kecil.
  • Mahasiswa distimulasi dengan beberapa kasus penggunaan kata di lapangan atau di masyarakat, seperti penggunaan kata: tidak, bukan, melainkan, dari pada, pertanggungan jawab, pertanggungjawaban, dll.
  • Pendamping memastikan bahwa mahasiswa dapat menemukan latar persoalannya dan dapat pula mencari solusi terbaik untuk memecahkan persoalan atau masalah yang ditemukannya sendiri di lapangan.
  • Pendamping diharapkan lebih banyak bersabar selama mahasiswa berupaya menemukan persoalannya.
LANGKAH 02
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
2 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

Mahasiswa dibagikan Handout  Diksi untuk dicermati, baik perncermatan secara berkelompok maupun  secara mandiri.

 

 

 

 

 

Materi Pengayaan

 

KATA DAN PENGGUNAANNYA

  • Pengantar

Kata merupakan bahan dasar untuk berbahasa pada umumnya dan menulis karya ilmiah khususnya. Jika seseorang memiliki penbendaharan kata yang memadai akan memberikan kemudahan dalam menuangkan idenya. Namun, perlu dicatat di sini bahwa kekayaan perbendaharaan kata bukan merupakan jaminan keberhasilan seseorang untuk menulis. Kesulitan yang dihadapi penulis  adalah, bagaimana memilih dan menggunakan kata yang dipilihnya  itu dalam suatu konteks yang tepat.

Bab ini akan dibicarakan perihal (1) syarat-syarat  pemilihan kata, yang meliputi kelugasan dan ketaksaan, ketepatan, kecermatan, dan kehematan; (2) kata utama, (3) kata tugas, dan (4) penggunaan kamus mini.

 

  • Syarat Pemilihan Kata dalam Penulisan Ilmiah

Sebelum dibicarakan syarat-syrat khusus pemilihan kata dan pengoperasiaanya, perlu kiranya diketahui dahulu beberapa kriteria umum yang hendaknya dipetrtimbangkan. Pateda (1992; lihat juga Keraf, 2003) menuliskan tujuh kriteria sebagai berikut.

Pertama, kriteria humanis antropologis. Kata-kata yang dipilih hendaknya dipertimbangkan persyaratan yang berkaitan dengan kepentingsn penulis, baik itu kepentingan yang bersifat kognisi, emosi, maupun kepentingan yang bersifat konasi.

Kedua, kriteria linguistik-pragmatik. Kata-kata yang dipilih hendaknya sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa yang digunakan dan bidang ilmu yang dibicarakan misalnya: bidang linguistik, bidang logika-matematika, bidang sains dan kedokteran, bidang spatial-teknis, dan bidang-bidang lainnya.

Ketiga, kriteria ekonomis. Kata-kata yang dipilih hen­daknya singkat, hemat, namun dapat  dicermati maksud dan logis hubungan maknanya.

Keempat,  kriteria psikologis. Kata yang dipilih hendaknya dipertimbangkan nilai rasa kata atau kesantuan maknanya.

 Kelima, kriteria sosiologis. Kata-kata yang dipilih hendaknya dipertimbangkan dampak sosial, politik, dan dampak budaya bagi masyarakat pengguna atau pembaca – apakah penggunaan kata-kata tersebut akan menimbulkan keresahan, permusuhan, kedengkian, atau dampak-dampak lainnya. Tentu saja, pertimbangan sosiologis ini mengacu pada norma sosial, norma agama, dan norma adat-istiadat dalam masyarakat di mana suatu bahasa sedangkan digunakan.

Keenam, kriteria politis. Sejak  tahun 1960-an, kata-kata seperti gerombolan, oknum, diamankan, dirumahkan, dikotakan, dan lainnya, mengalami pergeseran makna, dan cenderung berpengertian negatif  – yakni hanya ditujukan kepada orang-orang yang dicurigai dan terbukti masalah hukum.

Ketujuh, kriteria strategis.  Kata-kata yang digunakan hendaknya tidak menjerumuskan si pemakai bahasa, namun sebaliknya, kata-kata tersebut hendaknya menguntungkan, menyelamatkan,  baik itu untuk diri sendiri, maupun untuk kelompok pengguna yang lebih luas. Berdasarkan ketujuh kriteria di atas maka syarat pemilihan dan penggunaan kata dapat diuraikan sebagai berikut.

 

Kelugasan dan Ketaksaan Makna

Dalam berbahasa,  sering orang berupaya memilih kata sedemikian rupa untuk menarik perhatian. Bahasanya sering dibumbui dengan bunga-bunga kata. Dalam karya ilmiah hal semacam itu hendaknya dihindari.  Bahasa dalam tulisan ilmiah hendaknya menyuratkan suatu pesan yang lugas dan langsung mengenai sasaran yang dituju.

(001) Pemerintah telah menyesuaikan tarif listrik.

Kata menyesuaikan pada kalimat (001) berkonotasi politis. Pemakaian  kata menyesuaikan  memberikan kondisi yang tidak lugas karena kenyataan yang ada adalah, pemerintah telah  menaikan tarif listrik.  Pola ketaklugasan tersebut dapat juga dibaca pada kalimat-kalimat berikut.

(002) Dana JPS telah digulirkan

(003) Indonesia  mendapat bantuan dari IMF tiga triliun  rupiah.

(004) Buku riwayat hidup B.J. Habibie telah diluncurkan.

(005) Gembong PKI itu telah diamankan.

 

Kata-kata yang bercetak tebal dalam kalimat-kalimat (002), (003), (004), dan (005) di atas akan bermakna tidak lugas, apabila kalimat-kalimat tersebut dirumuskan kembali sebagaimana kalimat-kalimat pada (002a), (003a), (004a), dan (005a) berikut.

(002a) Dana JPS telah dibayarkan.

(003a) Kelereng itu digulirkan di lantai.

(004a) Buku riwayat hidup B.J. Habibie telah diedarkan.

(005a) Gembong PKI itu telah ditembak mati.

Ketepatan.

Ketepatan pemilihan dan penggunaan kata  tidak hanya menjadi tujuan dalam berbahasa, tetapi justru pada setiap kegiatan komunikasi yang lain pun dikehendaki adanya ketepatan pemilihan dan penggunaan kata. Ketepatan pemilihan dan penggunaan kata yang dimaksudkan dalam tulisan ini mengacu pada apa yang dipikirkan oleh penulis diungkapkan secara tepat sesuai dengan apa yang dimengerti oleh pembaca. Dengan perkataan lain, maksud dan pemahaman antara si penulis dan pembaca, atau antara pembicara dan lawan bicara adalah sama.  Oleh karena itu, kepada seorang penulis tidak hanya dituntut untuk dapat menganalisis konsep yang ada dalam pikirannya sendiri, tetapi hendaknya juga perlu menganalisis keberterimaan yang akan terjadi oleh pembacanya. Syafi’ie (1990:97) menegaskan bahwa “Kesesuaian penggunaan kata bukan hanya persoalan ketepatan, melainkan  melibatkan pula aspek-aspek seperti (1) situasi, (2) tema, (3) tujuan, dan (4) orang yang diajak bicara.”

Secara sinonimi, tak ada orang menyangkal kalau kata melihat  bersinonim dengan kata memandang, mengamati, menyaksikan, menonton, meninjau dan sebagainya sebagaimana keadaan berikut ini.

melihat

mengamati

menonton

menyaksikan

meninjau

 

 

(006) Banyak orang yang                                 peristiwa itu

 

 

Kata-kata   melihat, mengamati, menonton, menyaksikan, dan meninjau bersinonim tetapi tidak sama. Artinya, ada perbedaan di antara mereka bila kata-kata tersebut digunakan. Kata melihat lebih merujuk pada makna pengindraan dengan matamengamati merujuk pada makna menggunakan mata atau  bisa juga dengan indra lain, begitu pula dengan menyaksikan. Kalimat (007) berikut secara maknawi berbeda dengan kalimat (007a).

 

(007) Kami mengamati dengan saksama pidato Gus Dur melalui siaran radio.

(007a) Kami menyaksikan pidato Gus Dur lewat radio.

 

 

Kecermatan

Salah satu ciri keilmiahan suatu tulisan adalah adanya kecermatan. Kecermatan  yang dimaksudkan dalam tulisan ini mengacu pada kejelian seorang penulis atau pembicara memilih sebuah kata, dan kata yang dipilihnya akan digunakan sesuai dengan makna yang dikandungi kata tersebut. Mari kita ikuti kisah berikut!

Untuk direnungkan pada kesempatan ini, bahwa secara historis, sistem pendidikan di sekolah pada waktu yang lalu, menempatkan siswa sebagai objek dan guru sebagai subjeknya. Dalam kaitan dengan sistem tersebut  guru mengajar siswa untuk  belajar. Kondisi tersebut mengizinkan lahirnya kata pengajaran. Dalam perjalanan waktu, sistem pelayanan kepada berubah, seiring perubahan paradigma pendidikan, peran guru  beralih dari mengajar menjadi  motivator, katalisator, mediator, dan konselor. Peran itu diharapkan guru  untuk menciptakan kondisi yang menyebabkan siswa belajar.

Dengan demikian maka lahirlah  tugas membelajarkan siswa – artinya membuat siswa menjadi belajar. Biasan dari perlakuan itu, lahirlah kata-kata seperti  pembelajaran, pembelajar, pebelajar.  Terkait dengan hal itu  muncul pula kata-kata seperti  pelatihan, perlatihan. Kata perlatihan   beroposisi dengan berlatih sedangkan  pelatihan beroposisi dengan melatih. Jadi, kata perlatihan atau pelatihan merujuk  pada ‘perbuatan berlatih’. .

Bagaimanakah sikap Anda terhadap kalimat-kalimat  (008) dan (009)?

(008)  Di  sini akan dibangun  gedung  tempat latihan TKW

(009)  Peserta diklat sedang sibuk melakukan pelatihan.

 

Bila Anda cermat, maka kalimat (008)  dan (009) hendaknya dikembalikan menjadi:

 

(008a) Di sini akan dibangun gedung tempat pelatihan TKW.

(009a) Peserta diklat sedang sibuk melakukan perlatihan.

 

Kehematan

Kehematan merupakan tuntutan yang perlu dipenuhi bagi seorang penulis. Kehematan dalam tulisan ilmiah ditandai oleh dimungkinkannya bagian kalimat yang dapat dikurangi. Walaupun demikian, penulis hendaknya mempertimbangkan aspek kelugasan, ketaksaan, ketepatan, dan ketuntasan suatu rumusan.  Ikuti tabel berikut!

Tidak hemat

Hemat
dapat atau tidak dapatnya sesuatu untuk diterima.

dapat atau tidak dapatnya sesuatu untuk dibaca

dapat atau tidak dapatnya sesuatu untuk dipelajari

membuat jadi berlaku.

data yang memenuhi kriteria.

data yang dapat dipercaya kebenarannya.

keterujian kebenaran data

 

cegah dan tangkal

peluru kendali

radio detector and ranging

pendidikan dan pelatihan

 

keberterimaan

 

keterbacaan

 

keterpelajarian

 

memberlakukan

data yang sahih, valid.

data yang andal/reabel

keterandalan data, reabilitas data

cekal

rudal

radar

diklat

 

Kelaziman

Kelaziman dalam tulisan ini merujuk pada hal-hal berikut.

  • Kata-kata asing dalam bidang ilmu tertentu hendaknya dicari dahulu padanannya dalam ba­hasa Indonesia atau bahasa daerah yang sudah lazim. Jika padanan dari kedua sumber itu tidak ditemukan, digunakanlah kata-kata asing yang cocok sebagai unsur serapan. Misalnya, kata berterima untuk menerjemahkan kata aceptable, dan canggih untuk menerjemahkan sophisticated. Akan tetapi kita tentunya tidak secepatnya untuk tidak menggunakan kata-kata seperti radio, televisi, praktikum, praktik, definisi, dan sebagainya. Kata-kata seperti itu masih sulit dicarikan padanan pengganti, baik dalam dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa daerah.
  • Kata serapan bahasa asing yang digunakan sebagai peristilahan dalam bidang ilmu tertentu yang sudah memasyarakat, juga masih sulit untuk dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Bahkan, tetah ditetapkan untuk tidak menggantikan karena akan mengganggu makna dasarnya. Para linguis Indonesia pernah mengupayakan untuk menggantikan kata frasa dengan kata puak, sehingga dipakai puak benda, puak kerja, puak bilangan, namun upaya itu gagal karena puak berkonotasi pada hal yang lain.  Begitu pun kata diagram pohon dengan kata Kata frasa dan diagram pohon lebih lazim dan lebih mudah dikenali dari pada kata puak dan rangga.
  • Keberterimaan dari sisi sosiokultural. Kata bertele-tele sebaiknya tidak digunakan di Gorontalo (lihat juga Pateda 1992) karena kata ini memiliki asosiasi yang negatif (bagi masyarakat berpenutur bahasa Gorontalo): tele ‘alat kelamin perempuan’. Begitu pula kata semena-mena dalam masyarakat Lamaholot.

Kata dan Peristilahan Umum/Utama

Secara umum, kedudukan  suatu kata dalam suatu kalimat dapat dibedakan atas kata-kata yang menduduki fungsi utama kalimat  dan kata-kata yang tidak  menduduki fungsi utama.  Kata-kata kelompok pertama disebut kata utama dan kata-kata kelompok kedua disebut kata tugas. Kata utama dibedakan atas empat yaitu nomina (kata benda). verba (kata kerja), adjetiva (kata sifat), dan numeralia (kata bilangan) (Keraf dalam Kridalaksana:2007). Kata tugas dibedakan atas kata sarana benda, kata sarana kerja, kata sarana sifat, kata sarana bilangan, preposisi, konjungsi, dan kata seru.

Kata-kata utama dibedakan lagi atas, kata yang berfungsi sebagai kata umum, dan istilah. Kata umum adalah kata-kata yang sudah lazim dipakai, sedangkan Istilah adalah kata atau gabungan kata yang menjelaskan konsep, proses, keadaan atau sifat khas dalam bidang ilmu tertentu. Selain istilah,  dikenal juga tata-nama. Tata-nama ialah kaidah penamaan dalam beberapa cabang ilmu seperti biologi, kimia beserta kumpulan nama yang dihasilkannya.

Berikut kita akan dibahas  peristilahan yang sering ditemukan dalam karya ilmiah, seperti dalam paper, makalah, laporan hasil penelitian, proposal dan skripsi mahasiswa, dan lain sebagainya yang bersifat ilmiah.

acak, random:  sembarang, percontoh acak (random sampling): suatu teknik pengambilan contoh dengan cara acak, semua subjek diberlakukan sama dan penetapan pengambilan dilakukan semabarangan tanpa pilih-pilih.

acuan, rujukan,  referensi, buku-buku yang dijadikan sumber; kerangka acuan teori, garis-garis besar yang dirujuk dari sumber pustaka  yang dijadikan dasar teori dalam penelitian.

 

ancangan, pendekatan (approach): titik tolak berpijak yang berdasarkan konsep-kon­sep teori tertentu guna memecahkan masalah.

andal, reabel (reable): dapat dipercaya, memberikan hasil yang sama pada pengujian ulang; keterandalan, reabilitas: tingkat kepercayaan (data, atau alat pengumpul data). Sebelum instrumen  penelitian digunakan instrumen harus terlebih dahulu diuji keterandalannya.

data: bahan atau  keterangan yang benar dan nyata yang dijadikan dasar analisis untuk pemecahan masalah

hipotesis: jawaban sementara terhadap maslah penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji dengan data yang terkumpul.

hipoteses alternatif, hipotesis kerja : adanya hubungan  antara peubah x dan y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok peubah. Biasanya  dinyatakan dalam kalimat jika  dikenai x, …terjadi y;

jika digunakan pendekatan komunikatif, ke­mampuan siswa dalam menulis berita berhasil dengan baik.

hipotesis nol: pernyataan sementara mengenai hubungan dua peubah yang bersifat kosong biasanya dinyatakan dengan kalimat tidak ada hubungan antara peubah x dan y).

masalah, (problem): sesuatu yang harus dipecahkan. Masalah  dalam penelitian timbul sebagai akibat adanya kesenjangan antara yang ada dan yang seharusnya ada.

percontoh, sampel (sample): sebagian  atau wakil dari yang diteliti.  Penelitian  percontoh adalah penelitian yang menggeneralisasikan hasil penelitian percontoh. Percontoh  acak/sampel random: percontoh yang diambil secara acak; percontoh berstrata (stratified sample) percontoh yang diambil dengan memperhitungkan pada strata-strata yang ada, percontoh wilayah (area probability sample): pengambilan percontoh yang merupakan wakil dari setiap wilayah populasi; percontoh imbangan, sampel proporsional: percontoh yang diambil dengan memperhitungkan porsi yang sama pada masing-masing wilayah atau strata; percontoh bertujuan (purposive sample): sampel yang diambil didasarkan tujuan tertentu.

peubah, ubahan, (variable): gejala yang bervariasi yang menyebabkan timbulnya masalah; atau konsep  yang  menyebabkan munculnya masalah yang perlu diteliti, misalnya prestasi belajar, jenis kelamin, jumlah penduduk, dan sebagainya;  peubah dibedakan dua  peubah diskrit dan peubah kontinum; peubah diskrit disebut juga peubah nominal atau peubah kategorik karena hanya dapat dikategorikan 2 kutub “ya” dan “tidak” misalnya : perempuan, laki-laki, angka keselu­ruhan sebagai frekuensi; peubah kontinum dibedakan menjadi 3 peubah, yaitu peubah yang menunjukkan tingkatan, misalnya pendek, lebih pendek, paling pendek; peubah interval, yaitu peubah yang mempunyai jarak jika dibandingkan dengan yang lain, misalnya suhu di luar 33o, suhu di dalam 35o, peubah ratio: yaitu perbandingan sesamanya, misalnya berat Pak Karto 70 kg, sedangkan anaknya 35 kg, sehingga Pak Karto beratnya dua kali anaknya. Dalam rancan­gan  penelitian peubah dibedakan fungsinya sebagai peubah bebas dan peubah terikat; peubah bebas peubah yang mempengaruhi terhadap peubah lain,  peubah terikat (ubahan); peubah yang kena pengaruh dari peubah bebas, peubah kontrol; peubah yang tidak kena pengaruh peubah bebas, peubah perantara

populasi: keseluruhan subjek penelitian; populasi penelitian ini adalah semua siswa SLTP di Kota Madya Kupang. Kata ini biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif yang beroposisi dengan kata percontoh, sampel. Misalnya dalam kalimat:

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SLTP Kodya Kupang, sedangkan percntoh penelitian ditetapkan 10% dari besaran populasi.

pustaka, buku-buku, kepustakaan, bibliografi: daftar buku-buku yang digunakan untuk menulis. (bukan *daftar kepustakaan, melainkan kepustakaan  atau daftar pustaka)

sahih, valid: memenuhi kriteria; kesahihan , validitas: hal benar atau tidaknya data/instrumen penelitian berdasarkan kriteria yang digunakan.

sistem: 1. perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk totalitas, sistem pencernaan makanan, pernafasan; 2. susunan yang teratur berdasarkan teori, konsep, asas. Dalam  penelitian/karya ilmiah makna yang kedua ini yang dipakai, menyistem, sistemik: ‘proses menjadi sistem’, penyisteman, sistematisasi, sistematisir: ‘pengaturan sesuatu berdasarkan sistem tertentu’ penyisteman organisasi kegerejaan dapat juga diterapkan dalam organisasi lain, bersistem, sistematik, sistematis: ‘memiliki sistem’; kebersisteman, (systematicallys); hal-ikhwal bersistem,  berkesisteman (systematicness): ‘memiliki ikhwal kesisteman’ tersistem (systematized): ‘sudah disitemkan, sudah menjadi sistem  tindak korupsi di Indonesia sudah tersistem sehingga sulit diberantas; sistematika: ‘susunan yang bersistem

teori: asas dan hukum umum yang menjadi ilmu pengetahuan; teori heliosentris:  teori yang menyatakan bahwa  bumi ini berbentuk bulat serta berputar mengelilingi sumbunya dan bersama planet-planet lain beredar mengelilingi matahari; teori atom: teori yang mengatakan bahwa materi disusun oleh partikel-partikel kecil ialah atom.

tabel, matrik, bagan, skema: kata-kata ini sering dikacaukan penggunaannya; tabel: daftar informasi data (yang biasanya berupa angka-angka) disusun dalam kolom dan lajur berdasarkan indikator-indikator tertentu.

matrik: kerangka, daftar informasi data yang disusun dalam lajur dan kolom sehingga dapat dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.

 

 

 

Matrik 3.10 Klausa Verbal Transitif Reseptif

Kelas FN FV
  N V N
Fungsi Subjek Predikat Objek
Peran Pelaku Tindakan Penerima
……. ……. ……… ……….
……. ……. …….. ……….

bagan, skema: kerangka, ringkasan, sesutau atau proses terjadinya sesuatu yang ditampil-kan dengan gambaran atau denah, atau dihubungkan dengan garis supaya memper-mudah pemahamannya,

canggih (sophyticated) pelik, rumit, modern. Peralatan yang canggih: peralatan yang mampu digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang rumit, ruwet, dan pelik

akurasi, kecermatan, ketelitian; akurat A: teliti, cermat, tepat dan benar.

 

Peristilahan Umum

perian, deskripsi; penggambaran, pelukisan, pencandraan wacana perian, wacana deskritif, perian: hasil memerikan, hasil medeskripsikan, pemerian: proses/hal memerikan/menggambarkan.

latihan, perlatihan, pelatihan:

latihan: hasil berlatih/melatih;  latihan hari ini sangat bagus. perlatihan: perihal atau proses berlatih; Kerjakan soal-soal perlatihan. Mahasiswa sedang mengerjakan tugas-tugas perlatihan; pelatihan: ‘proses/perihal melatih’ Di sini akan didirikan tempat pelatihan kempo. Pelatihan yang dilakukan seorang pelatih dari Jepang itu bagus sekali.

simpulan, kesimpulan,

Kata-kata ini berasal dari kata kerja simpul. Bentuk ini tidak pernah berdiri sendiri, selain dalam kelompok kata tali simpul. Dalam pemakaiannya biasa disertai imbuhan gabung me – kan sehingga menjadi menyimpulkan. Hasil menyimpulkan adalah simpulan dan bukan kesimpulan. Oleh karena itu bagian akhir dari tulisan ilmiah seharusnya simpulan bukan kesimpulan. Begitu pula halnya dengan kata keputusan, ketetapan secara gramatikal seharusnya putusan, tetapan jika yang dimaksudkan adalah hasil memutuskan, menetapkan.

rincian, perincian

Bentuk asal kata ini adalah rinci. Bentukan yang dihasilkan dari kata ini di anta­ranya: merinci, dirinci, terinci, rincian,  perincian. Bentuk-bentuk yang sering terdapat dalam tulisan ilmiah adalah *terperinci.* pemerincian, *perincian, diperinci adalah bentuk-bentuk yang salah, karena bentuk asalnya bukan perinci.

pengalaman, alaman

Bentuk ini berasal dari kata kerja alam. Bentukan yang dapat dihasilkan adalah mengalami, pengalaman, dialami, pengalam. Bentukan baru yang perlu dimasyarakatkan adalam alaman, dan beralaman. Berdasarkan Kaidah Morfologis Bahasa Indonesia untuk menyatakan hasil pekerjaan dapat  ditampilkan dengan akhiran, mi-salnya  cucian “hasil mencuci; iirisan “hasil mengiris, jahitan “hasil menjahit’ Oleh karena itu, seharusnya ‘hasil mengalami’ alaman bukannya pengalaman. Kata bentukan dengan imbuhan pe-an biasanya untuk menyatakan proses atau hal apa yang dinyatakan pada bentuk

persatuan, penyatuan, kesatuan

Kata-kata ini berasal dari kata bilangan satu. Kata persatuan adalah hasil pembendaan/nominalisasi dari kata bersatu, upaya menjadi satu. Mis.

Jadi  di sini terdapat perbedaan-perbedaan  negara persatuan dengan negara federasi.

Kata penyatuan adalah nominalisasi dari kata kerja menyatu.; kesatuan ‘dalam keadaan satu’

 

Kata-kata Tugas

Selain kata-kata utama, kata tugas atau kata sarana sering menjadi kendala penulis dalam menulis karya ilmiah. Berikut ini akan dibicarakan kata-kata tugas yang sering menjadi kendala dalam pemakaiannya.

suatu, dan sesuatu

Kata sesuatu merupakan kata benda/nomina yang bersifat relatif. Contoh pemakaiannya:

Mereka mencari sesuatu

Segala sesuatu yang diutarakan dalam tulisan ini  belum tentu benar.

Kata suatu merupakan kata tugas atau kata sarana nomina yang hanya boleh hadir dalam frasa nominal, atau hadir sebagai pembatas dalam frasa nominal.

Sebagai suatu badan usaha sudah sewajarnya PLN berupaya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Suatu pendapat di dalam rapat komosi kadang-kadang diperdebatkan hingga tiga jam.

Suatu hal yang mustahil untuk dilaksanakan oleh perusahaan itu untuk adalah menaikkan gaji karyawan sebesar 200%.

 

semua, seluruh, segenap, segala

Kata semua bermakna, setiap anggota terkenan atau termasuk dalam hitungan, seperti terlihat dalam contoh berikut.

Semua warga kota diungsikan.

Kata seluruh juga mengandung makna bahwa setiap anggota termasuk  dalam hitungan, tetapi dalam pengertian satuan kelompok atau kolektif.  Kalimat di atas dapat pula dirumuskan dengan mengganti semua menajdi seluruh.

Seluruh warga kota diungsikan.

Akan tetapi, pada dua kalimat berikut pemakaian kata semua masih perlu dipertibangakan.

Seluruh bangsa Indonesia memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seluruh kota Solo tergenang air.

(*)Semua bangsa Indonesia memperingati hari Proklasi Kemerdekaan.

(*)Semua kota Solo tergenang air.

Kata segala dapat dipertukarkan dengan semua, seperti terlihat dalam contoh berikut. ( (*) adalah bentuk yang perlu dipetimbangkan )

Di taman itu ditanam segala macam bunga

Segala umat yang hidup memerlukan makanan.

Di kebun binatang ini terdapat segala macam binatang.

(*)Di taman ini ditanam semua macam bunga .

Semua umat yang hidup memerlukan makanan.

(*)Di kebun bintang ini terdapat semua macam binatang.

 

Kata segenap  juga menyatakan makna ‘semua’ tetapi dalam pengertian kelengkapan. Kata ini berasal dari kata genap. Kelompok kata semua bangsa In­donesia dapat dipertukarkan dengan segenap bangsa Indonesia.

di, pada

  • (*)Di waktu senja sinar matahari mulai redup
  • (*)Di saat negara sedang dilanda krisis ini hendaknya setiap orang berupaya
  • mengendalikan diri.
  • (*)Kesahihan data sangat bergantung pada kecermatan peneliti dalam mengidentifikasi fenomena-fenomna yang ada.

Kalimat-kalimat tersebut dinyatakan tidak baku. Penyimpangan gramatikal yang terjadi dalam kalimat itu adalah pemakaian kata di dan pada. Kata di tidak dapat dirangkaikan dengan kata-kata yang menyatakan waktu, tanggal, hari, tahun, pukul, saat, waktu,dan sebagainya. Kata depan yang dapat dirangkaikan dengan kata-kata semacam itu adalah pada, sehingga kalimat di atas dapat dirumuskan kembali menjadi berikut.

  • Pada waktu senja sinar matahri mulai redup
  • Pada saat negara sedang dilanda krisis ini hendaknya setiap orang berupaya mengendalikan diri.

Kata pada dalam kalimat berikutnya juga tidak tepat pemakaiannya. Kata kerja bergantung mengandung makna dalam keadaan upaya bergerak, sehingga kata yang te­pat untuk kata kerja yang berawal ber- di atas adalah kata depan kepada,  bukan pada.

 

Kesahihan data sangat bergantung kepada kecermatan peneliti dalam mengidentifikasi fenomena-fenomna yang ada.

 

Kalimat berikut lebih tepat memilih kata tugas pada daripada kata tugas kepada.

 

Permasalahan kerusuhan di Maluku dapat atau tidak dapat diselesaikan sangat bergantung pada masyarakat Ambon sendiri.

 

Kata depan/preposisi kepada membentuk satuan sintaktik dengan nomina yang menghasilkan kelompok kata atau frasa preposisional. Frasa preposisional yang dibentuknya berfungsi sebagai pelengkap tujuan. Oleh karena itu, preposisi kepada biasanya bergabung dengan kata benda manusiawi atau kata ganti orang, sedangkan  pada tidak bisa bergabung dengan kata ganti.

 

Bentuk kalimat,

  • Hal itu sangat tergantung padamu.
  • Tugas itu kami serahkan padamu.
  • Aku telah menyampaikan gagasan itu padanya.

 

Bentuk-bentuk di atas tidak baku, dan sebaiknya diubah menjadi:

  • Hal itu sangat tergantung kepadamu.
  • Tugas itu kami serahkan kepadamu.
  • Aku telah menyampaikan gagasan itu kepadanya

 

Preposisi pada bergabung dengan kata lain berupa nomina. Kelompok kata yang dibentuk dengan kata pada dalam kalimat tersebut akan berfungsi menduduki keterangan waktu, atau keterangan tempat. Preposisi di juga biasa bergabung dengan kata benda tetapi kata benda yang tidak menyatakan waktu, sehingga preposisi di tidak dapat membentuk kelompok kata yang menduduki fungsi keterangan waktu.

 

Preposisi di sering dikacaukan dengan preposisi dari atau ke seperti yang kalimat-kalimat berikut.

(1) Peneliti mengambil data di laboratorium.

(2) Peneliti mengambil data dari laboratorium.

(3) Peneliti mengambil data ke laboratorium.

 

Ketiga kalimat tersebut, hanya kalimat (2) yang memenuhi kaidah bahasa Indonesia.

Peneliti mengambil data dari laboratorium.

Preposisi di dan ke dalam kalimat (1) dan (3) tidak memenuhi  kaidah. Dengan perkataan lain, kalimat (1) menunjukkan tempat keberadaan sesuatu, kalimat (3) menunjuk tempat yang dituju. Kesilapan pemakaian preposisi terjadi pada kalimat-kalimat berikut.

(*)Pekerja itu meletakkan sarung tangannya di rak-rak peralatan kerja.

(*)Masyarakat kota membuang sampah di jalan raya.

(*)Para tamu telah masuk di ruang sidang.

(*)Bendahara telah mengambil uang ke bank.

(*)Alat-alat elektronik ini diimpor di Jepang.

(*)Buah-buahan segar diekspor di Jepang

 

Secara kasat mata, kalimat-kalimat di atas terasa seakan-akan tidak ada kesalahanan. Jika dianalisis secara cermat maka hubungan kata kerja dengan preposisi yang mengikuti­nya perlu ditinjau kembali. Dengan demikian, kalimat-kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali menjadi:

  • Pekerja itu meletakkan sarung tangannya ke rak-rak peralatan kerja.
  • Masyarakat kota membuang sampah ke jalan raya.
  • Para tamu telah masuk ke ruang sidang.
  • Bendahara telah mengambil uang dari bank.
  • Alat-alat elektronik ini diimpor dari J
  • Buah-buahan segar diekspor ke
LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan lembaran latihan untuk dikerjakan secara berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Pendamping mendampingi proses diskusi mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

  • Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi DIKSI.
  • Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

 

  1. PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI,  digunakanlah tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN ENAM

KALIMAT

 

  1. INDIKATOR PENCAPAIAN

Mahasiswa  terampil:

  1. menuliskan kalimat dengan kelengkapan dan urutan unsur yang benar,
  2. menyusun kalimat dengan adanya kesatuan ide,
  3. menuliskan kalimat yang padu dan serasi,
  4. memilih variasi kalimat yang tepat dalam menulis karya ilmiah,
  5. memberikan penekanan bagian kalimat yang memuat ide yang diutamakan,
  6. menggabungkan kalimat menjadi kalimat tunggal luas,
  7. menggabungkan beberapa kalimat  lepas menjadi kalimat majemuk,

 

B.     BACAAN PENGAYAAN

  • Adjat, Sakri. Bangun Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB Bandung
  • Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Tulisan. Terjemahan: I Soetikno. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Effendi, S. 1995. Pnduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Pustaka Jaya.
  • Hadi, Farid dan Isas Budionon (Ed.) 1995.Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengemabangan Bahasa.
  • Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa Konteks, dn Teks: Aspek-aspek dalam Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan: Asruddin Bbarori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada Univerity Press.
  • Keraf, Gorys. 1997. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Grammedia
  • Keraf, Gorys. 1994. Argumentasidan Narasi: Jakarta: PT Gramedia.
  • Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende:
  • Nusa Indah.
  • Keraf, Gorys.1996. Jakarta: Grasindo(Gramedia Widiasarana Indonesia)
  • Keraf, Gorys.1981. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah
  • Keraf, Gorys. Tata Bahasa Indonesia: untuk SMU dan SMK. Ende: Nusa Indah.
  • Moeliono, A.M.(Ed.) 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Putaka
  • Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat.
  • Razak, Abdul. Kalimat Efektif: Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: PT Gramedia.
  • 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Sastra Hudaya
  • Syafi’ie, Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi. Malang: FPBS IKIP Malang.

 

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa/peserta diajak duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing keolompok beranggotakan 5 sampai 7 orang.
  • Setiap kelompok dipandu untuk mencermati kalimat-kalimat bentuk rancau, bentuk boros, dan bentuk acak lainnya dalam lembar tes awal.
  • Mahasiswa menyampaikan hasil temuannya dalam pleno kelompok.
LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

  • Mahasiswa dibagikan materi tentang KALIMAT untuk dicermati secara berkelompok dan/atau secara mandiri.

 

 

 

 

 

  • Materi Pengayaan

KALIMAT

  1. Pendahuluan

Karena pembahasan materi pada bahan ajar ini diarahkan pada “penulisan karya tulis ilmiah, maka pola uraian dan ilustrasinya lebih diarahkan kepada, bagaimana seseorang mahasiswa pada akhirnya mampu dan terampil berbahasa (Indonesia) dalam “menghasilkan sebuah karya tulis dalam bentuk yang paling sederhana sampai pada  yang paling kompleks, yakni  kalimat-kalimat dalam rumusan  proposal  dan skripsi.

Pengertian kalimat dalam sajian ini mengacu pada suatu pengertian, “bagian dari suatu wacana tulis yang biasanya ditandai dengan huruf besar pada awal dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru pada akhirnya”.  Bila dilihat dari isinya, rumusan yang telah dirumuskan itu mengandung suatu makna yang lengkap, benar dan logis hubungan antarunsurnya. Walaupun dalam kenyataannya kalimat-kalimat yang dihasilkan oleh sebagian kecil penulis kadang tidak menggambarkan maksud atau gagasan penulis itu sendiri. Mari kita pertimbangkan empat  kalimat lepas berikut ini!

  • Mereka mengikatkan tali itu.
  • Orang tua dahulu telah mengajarkan dasar-dasar pandangan hidup yang cukup kuat.
  • Petani itu menyiramkan air yang dicampuri garam.
  • Tukang itu menyemprotkan cat merah.

 

Kata kerja berakhiran -kan dalam kalimat  (1), (2), (3),  dan (4) menuntut hadirnya  komponen objek. Jika  demikian, rumusan di atas akan menghasilkan kalimat-kalimat baru seperti pada (1a), (2a), (3a), dan (4a).

 

(1a)  Mereka mengikatkan tali pada leher kambing itu.

(2a)  Orang tua dahulu mengajarkan dasar-dasar pandangan hidup yang cukup kuat kepada anak-anaknya.

(3a)   Petani itu menyiramkan air yang dicampuri garam pada pucuk kelapa.

(4a)   Tukang itu menyemprotkan cat merah  pada  relief itu.

 

Penelusuran lapangan telah menemukan sejumlah penyebab lahirnya rumusan-rumusan seperti terdapat pada (1), (2), (3), dan (4).  Temuan yang paling dominan adalah:

  • Adanya kelaziman pemakai bahasa itu sendiri.
  • Adanya kebiasaan.
  • Kurangnya pengetahuan kebahasaan, termasuk tata bahasa Indonesia.
  • Adanya sikap tidak peduli.
  • Adanya suatu sikap bahwa “yang dikatakannya telah memenuhi indikator komunikatif”.

Begitu kuatkan 5 alasan di atas, maka lahirlah ragam-ragam kalimat seperti dapat dibaca pada antara lain lima kalimat berikut.

  • Petani yang akan menerima dana JPS terdiri empat kelompok.
  • Sesuai isi pembukaan UUD 45, bentuk negara kita adalah negara kesatuan.
  • Sehubungan pendapat anggota koperasi, perlu ditinjau kembali bunga pinjaman.
  • Dibandingkan dengan pengabdiannya, kesalahan yang dilakukan tidak begitu besar.
  • Kami bertemu orang itu.

 

Hilangnya unsur kata tugas pada kalimat (5) – (9) telah mengganggu keefektifan kalimat –kalimat itu.  Dengan demikian, bila unsur tugas itu ditempatkan pada posisi yang tepat, rumusannya dapat dibaca pada  (5a) – (9a) berikut.

(5a) Petani yang akan menerima dana JPS terdiri atas empat kelompok.

(6a) Sesuai dengan isi pembukaan UUD 45, bentuk negara kita adalah negara kesatuan.

(7a) Sehubungan dengan hasil rapat kerja dewan, tindakan yang tidak etis dalam persidangan tidak perlu dibahas.

(8a) Jika dibandingkan dengan pengabdiannya, kesalahan yang dilakukan tidak begi itu besar.

(9a)  Kami bertemu dengan orang itu.

 

Bandingkan dengan rumusan berikut!

 

  • Arloji saya dicopet orang sudah mati
  • Pemuda bertemu dengan anak saya gagah sekali.
  • Peti berisi buah-buahan rusak

 

Kalimat-kalimat (10) – (12) dapat dianalisis sebagai berikut. Kalimat (10) dipertanyakan:  yang sudah mati adalah  arloji atau orang; kalimat (11) dipertanyakan: yang gagah itu adalah anak saya atau pemuda, begitu pula kalimat (12),  yang rusak itu adalah  petinya atau buah-buahannya. Kalimat (a), (b), dan (c) dapat dirumuskan kembali menjadi:

(10a) Arloji saya yang dicopet orang itu sudah  mati.

(11a) Pemuda yang bertemu dengan anak saya itu  gagah sekali.

(11b) Pemuda itu bertemu dengan anak saya yang gagah sekali.

(12a) Peti  yang berisi buah-buahan itu rusak

(12b) Peti itu berisi buah-buahan yang rusak.

 

Dalam kenyataan pemakaian, sering ditemukan kalimat-kalimat  yang oleh penulisnya dirumuskan sangat panjang, seperti pada rumusan berikut.

(13) *Menanggapi tulisan Saudara pada harian Kompas Hari Kamis 27 Maret 1975 pada halaman IV kolom Redaksi Yth. Mengenai TVRI Palembang yang isinya mengungkapkan perasaan tidak puas, mual, dan jengkel terhadap acara-acara Produksi TVRI Palembang, dengan tulisannya antara lain menampilkan acara TVRI Palembang tidak terlebih dahulu menganalisis acara-acara yang dipro-duksinya sendiri itu, asal jadi saja.

Kalimat (13) bila dianalisis, ditemukan: (a) kehilangan unsur-unsur pembentuk kalimat (13), (b) gagasan utama (13) juga tidak jelas tampak, (c) kesatuan ide (13) juga  tidak jelas tampak. Kalimat  (13) dalam dikembalikan seperti tampak pada kalimat (13a) di bawah.

(13a) …….”Melalui Kolom ini saya menanggapi  tulisan saudara Amien yang dimuat dalam Harian Kompas, Kamis, 27 Maret 1975 pada halamam IV “Kolom Redaksi Yth.” Dalam tulisan itu, saudara Amien mengungkapkan perasaan tidak puas mengenai TVRI Palembang. Saudara Amien merasa mual dan jengkel terhadap acara-acara TVRI Palembang. Menurut saudara Amien, TVRI Palembang menampilkan acara-acara yang diproduksinya asal jadi saja, tidak dianalisis terlebih dahalu….”

 

  1. Kesatuan Gagasan

Kesatuan gagasan yang dimaksudkan dalam tulisan ini mengacu pada adanya satu kesatuan gagasan atau satu kesatuan ide dalam suatu rumusan kalimat. Kalimat yang dibangun dari beberapa ide hendaknya menunjang satu ide pokok. Hal ini tidak berarti, bahwa sebuah kalimat tidak boleh memiliki lebih dari satu gagasan.  Sebuah kalimat yang baik, dapat dibentuk dari beberapa gagasan pokok yang di antara mereka hendaknya saling menyatu dalam satu kesatuan ide pokok. Penyatuan gagasan pokok itu dapat menghasilkan sebuah rumusan kalimat tunggal, dan dapat pula menghasilkan rumusan kalimat-kalimat majemuk – yang di antara mereka berkedudukan setara, atau satu berkedudukan lebih tinggi sebagaiu induk,  dari yang lainnya sebagai anak kalimatnya. Antara  induk kalimat dan anak  kalimat hendaknya ada peluang untuk saling menjelaskan atau mendukung dalam rangka menciptakan sebuah ide atau gagasan utama.  Mari kita ikuti beberapa ide berikut ini!

  • Orang mendirikan pilar
  • Pilar itu berdiri tegak.
  • Pilar itu bertulang
  • Tulang pilar itu besi beton
  • Bahan pilar itu semen pasir, batu pecah,
  • Ukuran bahan baik
  • Proses pengadukan baik
  • Kedalaman penanaman sesuai kondisi tanah
  • Pilar itu baik

 

Gagasan (14) – (21)  yang tertata secara terpisah itu, dapat disatukan menjadi rumusan (22) berikut.

(22) Pilar yang baik adalah pilar dari bahan semen, pasir, batu pecah dengan ukuran standar dan pengadukan yang baik, dan  bertulang besi beton, yang didirikan tegak dengan kedalaman penanamam sesuai dengan kondisi tanah.

 

Bila ditinjau kembali rumusan (22) maka ada beberapa unsur yang sama, dan unsur yang lain ditempatkan sesuai dengan sasaran penyatuan gagasan tersebut. Dalam  menulis karya ilmiah,  kadang ditemukan rumusan yang  melantur keluar dari topik yang menjadi fokusnya. Hal semacam itu terjadi, diasumsikan nalar si penulis pada saat menghasilkan kalimat-kalimat itu diprediski sedang kacau, sehingga gagasan yang dihasilkannya juga turut kacau.

(23)  *Perencanaan bangunan itu murah, sehat, indah, aman, nyaman, dan strategis.

 

Kalimat  (23) tidak memiliki kesatuan gagasan. Jika dianalisis secara cermat (23) dapat dikembalikan sebagai berikut.

(23a) Perencanaan bangunan itu murah.

(23b) Perencanaan bangunan itu sehat.

(23c) Perencanaan bangunan itu indah.

(23d) Perencanaan bangunan itu nyaman.

(23e) Perencanaan bangunan itu strategis.

 

Bandingkan juga dengan rumusan  (24)  berikut !

(24) Bangunan itu dirancang sedemikian rupa sebagai bangunan yang murah, strategis, indah, sehat, dan nyaman.

 

  1. Koherensi dan Kohesi

Koherensi/kepaduan dan kohensi/keserasian adalah hal kekompakan hubungan timbal balik antarunsur pembentuk kalimat. Selain koherensi/kepaduan, kohesi/keserasian juga sangat menentukan terbentuknya sebuah kalimat utuh, kompak, dan padu.

  • Pak Jecky mengajar matematika di kelas 2.
  • Indriana membelikan rumah baru untuk karyawannya
  • Siswa memberi tanda silang setiap jawaban yang benar.
  • Bab ini membahas landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini

 

Kalimat-kalimat (25) – (28) merupakan kalimat yang berterima bagi orang-orang awam. Namun, secara cermat, kalimat-kalimat tersebut sebenarnya tidak  padu dan serasi hubungan antarunsurnya. Kalimat (25)  baru akan diketahui ketidakserasiannya jika kalimat itu diuji bentuk pasifnya. Rumusan (25) akan menjadi koheren dan kohesan jika dirumuskan kembali, akan menjadi sebagai berikut.

(25a) Pak Jecky mengajar siswa kelas 2 mata pelajaran  matematika.

(25b) Pak Jecky mengajarkan  matematika di kelas 2.

(25c) Pak Jecky mengajari kelas 2 matematika.

Kalimat (26) dan (27) juga memiliki hubungan antarunsurnya tidak padu sebagaimana yang terjadi pada kalimat (25). Kedua kalimat itu dapat dirumuskan kembali menjadi (26a) dan (27a)

(26a) Indriana membelikan karyawannya rumah baru.

(27a) Siswa memberikan tanda silang setiap jawaban yang benar.

 

Hubungan antarunsur pada kalimat (28) juga tidak serasi. Kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali seperti (28a, 28b) berikut.

(28a) Bab ini berisi pembahasan landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini. Atau,

(28b) Di dalam bab ini penulis membahas landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini.

 

  1. Kehematan

Kehematan kalimat dalam sistem sebuah karya tulis ilmiah hendaknya menjadi bahan pertimbangan penulis. Dengan perkataan lain, penulis hendaknya mengindarkan diri dari pemakaian kata yang berbunga-bunga yang hanya mengganggu ide itama. Bila dalam suatu proses,  penulis cenderung untuk menggunakan bentuk-bentuk yang sama yang kadang bermakna kontradiksi dengan maksud penulis, hendaknya “yang sama” itu dilesapkan saja salah satu bagiannya – kalau memang bagian yang sama itu sudah dapat terwakili. Contoh pemakaian dua unsur yang sama,  yang salah satu unsurnya boleh dilesapkan.

  • Instrumen penelitian itu baru dapat digunakan setelah instrumen itu diuji keterandalannya dan kesahihannya.
  • Setelah data itu ditabulasikan, data itu baru dapat diolah dengan analisis statistik.

 

Kalimat-kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut.

(29a) Instrumen penelitian itu baru dapat digunakan setelah diuji keterandalan dan kesahihannya.

(30a) Setelah ditabulasikan, data itu baru dapat diolah dengan analisis statistik.

 

Yang perlu pula dicatat dalam proses pelesapan itu adalah letak unsur yang dilesapkan. Unsur subjek pada induk kalimat tidak boleh dilesapkan. Sebaliknya, pelesapan itu boleh terjadi apabila yang dilesapkan adalah unsur subjek pada anak kalimat. Bandingkan  pelesapan yang keliru pada rumusan berikut.

(31) *Setelah instrumen penelitian itu diuji keterandalan dan kesahihannya, baru dapat digunakan untuk mengumpulkan data.

(32)  *Setelah data itu ditabulasikan, baru diolah dengan statistik

 

Penghematan dapat dilakukan pula dengan tidak menyertakan pemakaian kata penghubung ganda, terutama kata penghubung subordinatif (bertinghkat). Berikut adalah beberapa kata penghubung ganda  yang sering digunakan dalam tulisan.

meskipun —–, tetapi——-

walaupun—–, tetapi——-

kendatipun—-, tetapi——-

Sehubungan dengan, —–, maka—-

berdasarkan —–, maka —–

menurut ———–, maka —–

jika —-, maka —–

apabila —–, maka —–

kalau —–, maka —–

 

Contoh:

  • Meskipun hujan sudah turun selama sebulan, tetapi mata air belum bertambah besar.
  • Walaupun diadakan razia di mana-mana, tetapi perdagangan narkoba sulit diatasi’
  • Sehubungan dengan diadakannya libur sekolah, maka besar kemungkinannya akan merebak kerusuhan di mana-mana.
  • Berdasarkan data sensus penduduk, maka dapat diketahui bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih kecil dibandingkan jumlah perempuan.
  • Jika digunakan pendekatan komunikatif, maka prestasi belajar siswa dalam menulis

 

Rumusan (33) – (37) tersebut di atas dapat dikembalikan dalam rumusan  sebagai berikut.

(33a)  Meskipun hujan sudah turun selama sebulan, mata air belum bertambah besar.

(34a) Walaupun diadakan razia di mana-mana,  perdagangan narkoba sulit diatasi.

(35a) Sehubungan dengan  diadakannya libur sekolah, besar kemungkinannya akan merebak kerusuhan di mana-mana.

(36a)   Berdasarkan data sensus penduduk, dapat diketahui bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih kecil dibandingkan jumlah perempuan.

(37a) Jika digunakan pendekatan komunikatif,  prestasi belajar siswa dalam menulis (akan) baik.

 

Pemborosan semacam itu terjadi pula dalam pemakaian kata atau kelompok kata sifat/adjektiva berikut.

  • Goncangan itu sangat kuat sekali
  • Badai itu bergerak sangat amat

 

Kedua rumusan tersebut dapat dirumuskan kembali menjadi (38a,b – 39a,b).

(38a) Goncangan itu sangat kuat, dan

(38b) Goncangan itu  kuat sekali   

(39a) Badai itu bergerak sangat kencang, dan

(39b) Badai itu bergerak amat kencang.

 

Kehematan juga dikenakan pada pemakaian kata yang berhiponimi, yaitu kata-kata yang memiliki makna bawahan. Kata bulan, memiliki medan bawahan Januari, Februari, Maret ….Desember – dan kata hari memiliki bawahan Senin, Selasa, Rabu …. Sabtu. Sebagai misal, kata Januari sesungguhnya sudah menunjukkan nama Bulan Desember, dan seterusnya. Berikut adalah contoh pemakaian kata yang berlebihan.

(40)  Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke Bejing hari Kamis lalu.

(41) Pada bulan Desember, hari Selasa tanggal 7, Kapal Dobonsolo bersandar di Kupang

(42)  Rambutnya berwarna kemerah-merahan

(43)  Bapak Rektor turun ke bawah ke lantai I memalui tangga samping.

 

Rumusan (40) – (43)  dapat ditulis kembali menjadi rumusan berikut.

(40a) Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke Bejing Kamis lalu.

(41a) Kapal Dobonsolo bersandar di Kupang Selasa 7 Desember 1999.

(42a) Rambutnya kemerah-merahan

(43a) Bapak Rektor turun ke lantai I  melalui tangga samping.

 

Pemborosan kata semacam itu terjadi pula pada pemakaian kata yang bersinonim agar supaya, adalah merupakan, seperti misalnya.

  • Salah satu cara agar supaya kita tidak terinfeksi virus HIV sebaiknya kita tidak melakukan hubungan seksual di luar istri sah atau suami sah.
  • Pemebrian surat rekomendasi dari salah seorang pejabat adalah merupakan salah satu cara yang ditempuh nasabah untuk mendapatkan pinjaman dari bank tetentu.
  • Beberapa kota besar sekarang ini sudah menjadi kota produsen dan pengekspor narkoba, a seperti misalnya Jakarta, Surabaya, dan Medan.

 

Kalimat-kalimat tersebut dapat  dikembalikan sebagai berikut.

(44a) Salah satu cara  supaya tidak  terinfeksi virus HIV,  sebaiknya kita tidak melakukan hubungan seksual di luar istri sah atau suami sah.

 

(45a) Pemebrian surat rekomendasi dari salah seorang pejabat adalah salah satu cara yang  ditempuh nasabah untuk mendapatkan pinjaman dari bank tetentu.

(46a) Beberapa kota besar sekarang ini sudah menjadi kota produsen dan pengekspor narkoba, misalnya Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Pemborosan sering terjadi pula dalam pemakaian kata-kata sarana benda yang meyatakan jamak yang diikuti oleh kata benda bentuk ulang, seperti pada contoh berikut.

  • Para guru-guru harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar.
  • Beberapa orang-orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikeluarkan dari perusahaan itu.
  • Banyak murid-murid SMU telah kecanduan narkoka.

Kalimat-kalimat  tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut.

 

(47a) Para guru harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar.

(47b) Guru-guru  harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar

(48a) Beberapa orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikelurkan dari perusahaan itu.

(48b) Orang-orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikelurkan dari perusahaan itu.

(49a)  Banyak murid SMU telah kecanduan narkoka.

(49b)  Murid-murid SMU telah kecanduan narkoka.

 

Pasangan kalimat tersebut di atas  tentu saja memiliki perbedaan nuansa makna. Kelompok kata banyak murid SMU, berbeda maknanya dengan murid-murid SMU.  Kelompok kata murid-murid SMU berarti semua murid SMU, sedangkan banyak murid SMU tidak semua murid SMU walaupun jumlahnya banyak. Kata para-lah yang bisa mewakili makna perulangan nomina di atas.

Kesalahan serupa juga terjadi pada bentuk ulang kata kerja yang menyatakan ‘saling’,  misalnya  pukul-memukul, cubit-cubitan, kait-mengait, sambung-menyambung, dan sebagainya. Makna ‘saling’ dapat pula dinyatakan dengan afiks gabung ber-an, misalnya: bergandengan, berciuman, berpelukan, bertabrakan, dan sebagainya. Pemborosan pemakain bentuk ini dapat dilihat dalam contoh berikut.

  • Kedua orang itu saling pukul-memukul, cubit-mencubit.
  • Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan yang saling kait-mengait.
  • Mereka saling berpelukan.
  • Kedua kendaraan itu saling bertabrakan.

 

Kalimat-kalimat itu dapat dikembalikan sebagai berikut.

(50a) Kedua orang itu pukul-memukul, cubit-mencubit.

(50b) Kedua orang itu saling memukul, mencubit.

(51a) Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan  yang saling megait.

(51b) Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan  yang kait-megait.

(52a) Mereka  berpelukan.

(52b) Mereka saling memeluk

(53a) Kedua kendaraan itu bertabrakan.

(53b) Kedua kendaraan itu saling menabrak

Pemborosan juga banyak terjadi pada pemakaian kata dari, dan daripada seperti yang terdapat  dalam rumusan berikut.

(54) *Tujuan daripada penghijauan ini adalah untuk mencegak erosi dan bahaya banjir.

(55) *Walaupun segi kepariwisataan telah memberikan lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong sektor sektor seni lukis, seni pahat, dan kerajian lainnya, namun, kita mulai merasakan aspek-aspek negatif daripada perkembangan kepariwisataan ini.

 

Kalimat-kalimat tersebut dapat dikembali sebagai berikut.

(55a) Tujuan penghijauan ini adalah untuk mencegak erosi dan bahaya banjir.

(56a) Walaupun segi kepariwisataan telah memberikan lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong sektor sektor seni lukis, seni pahat, dan kerajian lainnya, namun, kita mulai merasakan aspek-aspek negatif perkembangan kepariwisataan ini.

 

 

 

  1. Kevariasian

Variasi kalimat yang dimaksudkan di sini adalah bentuk-bentuk kalimat yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Variasi kalimat ini diperlukan dalam kegiatan tulis-menulis guna menghindari kebosanan pembaca karena berkesan monoton. Penulis yang berpengalaman dapat menciptakan berbagai macam variasi. Pemilihan variasi ini juga sangat ditentukan oleh gaya penulisan.

(57)  Orang tuaku memiliki rambut keriting, dapat divariasikan sebagai:

(57a) Orang tuaku berambut keriting.

(57b) Orang tuaku rambutnya keriting.

(57c)  Rambut orang tuaku  keriting.

 

Penggunaan variasi selain dipertimbangkan formasi letak, juga perlu dipertimbangkan faktor penekanannya.

 

(58) Orang dapat mengetahui jumlah uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan  di dalam tabel 4.

Dalam tulisan ilmiah kalimat tersebut memiliki variasi sebagai berikut.

 

(58a) Di dalam tabel 4 dapat diketahui uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan.

(58b) Uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan dapat diketahui di dalam tabel 4.

 

Pergeseran unsur kalimat di atas, selain penekanan terhadap usnur tertentu, juga kaitannya dengan kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya. Dengan muatan makna yang sama kadang-kadang penulis menuangkannya dengan struktur kalimat lain, yang bukan kalimat turunan dari pola dasarnya. Gagasan di atas misalnya dapat disampaikan dalam formulasi.

(58c) Tabel 4 berisi data jumlah uang negara yang hilang dari 180 perusahaan.

Data unag negara yang didihilangkan oleh 180 perusahaan dapat dilihat dalam tabel 4

 

Kalimat aktif transitif yang dipasifkan, diupayakan memberikan penekanan terhadap objek kalimat.

(59)  Pengusaha-pengusa besar menyimpan uangnya di luar negeri.

(60)  Uang pengusaha-pengusaha besar disimpannya di luar negeri.

(61)  Oleh karena kerusuhan terjadi di mana-mana, orang-orang kaya melarikan modalnya ke luar negeri.

(62)  Modal orang-orang kaya dilarikan ke luar negeri karena kerusuhan terjadi di mana-mana.

Tidak semua kalimat aktif transitif dapat dipasifkan. Kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat pasif yang salah.

(63)  Kemiskinan di desa-desa telah berhasil diatasi oleh pemerintah

(68)  Hama belalang telah berhasil diberantas oleh para petani.

 

Mengapa salah? Struktur  pasif semacam itu dapat diartikan, yang ‘berhasil’ adalah “kemiskinan dan hama wereng”. Padahal, pada kalimat pertama tentu penulis maksudkan,  yang berhasil adalah ‘pemerintah’, dan kalimat kedua yang berhasil adalah “para petani”. Kalimat semacam itu tidak dapat dipasifkan, kalimat-kalimat itu sebaiknya ditulis dalam bentuk aktif sebagai berikut.

(63a)  Pemerintah telah berhasil mengatasi kemiskinan di desa-desa.

(63b)  Para petani telah berhasil memberantas hama belalang.

Kalimat-kalimat tersebut sebenarnya merupakan penggabungan dari kalimat-kalimat sebagai berikut.

(63a-1)  Pemerintah telah berhasil.

(63a-2)  Pemerintah mengatasi kemiskinan di desa-desa.

(64a-1)  Pra Petani telah berhasil

(64a-2)  Para petani memberantas hama belalang.

Kalimat-kalimat itu dapat pula digabungkan sebagai berikut.

(63a-1a)  Pemerintah telah berhasil dalam mengatasi kemiskinan di desa-desa.

(64a-1a)  Para petani telah berhasil dalam memberantas hama belalang.

 

Kalimat aktif transitif  yang sebenarnya adalah pada ruas kedua, sedangkan pada ruas pertama jelas terlihat sebagai kalimat intransitif. Verba gabung dengan kata mau, suka, senang, ingin juga menhasilkan kalimat gabung yang seakan-akan sebagai kalimat tunggal seperti pada kalimat berikut.

(65) Orang itu senang merancang bagunan yang bernuansakan bangunan tradisional.

(66)   Kami mau mendirikan gedung bertingkat tiga.

(67)   Kami tidak suka mengerjakan penggalian harta karun.

(69)  Peneliti ingin melestarikan sastra lisan di daerah-daerah sebagai aset nasional.

Kalimat-kalimat tersebut di atas merupakan hasil penggabungan dua kalimat. Kalimat turunannya, walaupun ruas keduanya transitif, kalimat itu tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif.

Kalimat yang terlalu pendek dalam tulisan ilmiah akan terkesan kering, sebaliknya kalimat yang terlampau panjang akan sulit dipahami pembaca, bahkan dapat menyulitkan penulis itu sendiri. Ide dalam kalimat yang panjang cenderung kabur. Oleh karena itu,  kombinasi kalimat panjang dan pendek barangkali menjadi pilihan dalam rangka menciptakan sebuah wacana ilmiah yang mudah dan enak dicerna. Namun,  ada suatu syarat kertebacaan, bahwa kalimat yang memiliki daya keterbacaan yang baik, jumlah unsur pembentuk kalimatnya tidak melebihi sembilan kata.

 

LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan LKM dan soal latihan kalimat untuk dikerjakan berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Fasilitator/ pendamping mendampingi diskusi pleno mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

  • Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan KALIMAT.
  • Pendamping menyimpulkan materi pertemuan hari itu.
  • Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan ini,  tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja digunakan sebagai model penilaian. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan: mulai dari proses kegiatan di kelas, sampai pada merekam hasil tugas-tugas (portofolio).

BAGIAN  TUJUH

PARAGRAF

A.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

Mahasiswa mampu:

  • menjelaskan pengertian paragraf,
  • menjelaskan syarat pembentukan paragraf,
  • menuliskan paragraf yang deduktif,
  • menuliskan paragraf yang induktif,
  • menuliskan paragraf yang deduktif – induktif,
  • menuliskan paragraf yang deskriptif,
  • mengembangkan paragraf-paragraf dengan mengikuti urutan waktu, urutan ruang, dan urutan logis.

 

B.    BACAAN PENGAYAAN

 

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa Konteks, dan Teks: Aspek-aspek dalam Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan: Asruddin Barori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada Univerity Press.

Keraf, Gorys. 1994. Argumentasidan Narasi: Jakarta: PT Gramedia.

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Gorys.1996.  Komposisi. Jakarta: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)

Keraf, Gorys.1981. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah

Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.

Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat.

Razak, Abdul. Kalimat Efektif: Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: PT Gramedia.

Syafi’ie, Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi.  Malang: FPBS IKIP Malang.

C.      LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 01

  • Mahasiswa diarahkan duduk di dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing keolompok beranggotakan 5 sampai 7 orang.
  • Setiap kelompok diminta menceritakan satu kejadian nyata yang pernah dialami atau dilihat. Setiap mahasiswa dalam kelompok diharapkan dapat menceritakan kejadian yang dialaminya.
  • Mahasiswa diajak merumuskan kejadian tersebut dalam berbagai bentuk paragraf dan mengembangkannya dalam berbagai model pengembangan.
  • Mahasiswa dalam kelompok atau bahkan semua mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini dipastiakan mampu menceritakan pengalamannya dalam tertulis sebuah karya tulis yang ilmiah secara konseptual.
LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN LANGKAH 02

  • Mahasiswa dibagikan handout perkuliahan PARAGRAF untuk dicermati secara kelompok atau secara mandiri.
  • Materi Pengayaan

PARAGRAF

  1. Penegertian

Suatu tulisan biasanya terdiri atas tiga bagian utama yakni pembuka, penghubung, penutup. Tiap-tiap bagian ini disusun lagi atas subbagian-subbagian, begitu seterusnya hingga dirinci menjadi satuan-satuan yang disebut paragraf. Dengan uraian ini timbul pertanyaan, “yang disebut paragraf itu yang mana?” Secara teknis suatu tulisan dapat diskemakan sebagai berikut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paragraf adalah bentuk satuan tulisan yang terkecil yang merupakan bagian satuan tulisan yang lebih besar. Bab dan subbab dari suatu tulisan juga disebut paragraf. Subbab-subbab dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sebagai satuan tulisan yang  yang lebih besar. Paragraf (atau alinea) bisa saja hanya terdiri atas sebuah kalimat, namun pada umumnya paragraf merupakan gabungan beberapa kalimat.   Keraf  (1997:62) memberikan batasan, bahwa  alinea [= paragraf] bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri atas kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari kesatuan kalimat saja. Alinea (baca: paragraf) tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam alinea,  gagasan itu menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran penulis secara lebih jelas.

 

  1. Syarat Pembentukan sebuah Paragraf

Suatu paragraf yang efektif, hendaknya memiliki   memiliki  kesatuan, kepaduan, dan pengembangan yang tepat.

  • Kesatuan

Yang dimaksudkan kesatuan di sini ialah kalimat-kalimat yang membangun paragraf secara bersama-sama menyatakan suatu hal atau suatu tema tertentu. Kesatuan di sini bukan berarti bahwa setiap paragraf hanya menyampaikan satu ide atau sutu hal saja. Sebuah paragraf bisa saja menyampaikan beberapa hal sebagai rincian dari suatu hal tertentu. Yang perlu diingat di sini, bahwa unsur-unsur pembangun suatu paragraf hendaknya menunjang  maksud tunggal (Keraf, 1997:67; Syafi’ie, 1990:136—137).  Kalimat yang mengandung ide pokok atau yang menjadi inti dari keseluruhan paragraf itu disebut kalimat topik atau kalimat utama. Untuk lebih jelasnya kita perhatikan contoh berikut.

Tapi sedihnya, apabila masyarakat dari suatu negara yang belum mempunyai bahasa persatuannya, maka sudah pasti hal yang sedemikian, pasti tidak terdapat pada masyarakat tersebut. Maka yang lebih sedih lagi, nasib rakyat yang jauh dari kota, di mana kebutuhan dari-pada mereka tidak dapat diperhatikan dengan saksa-ma. Mereka seperti terisolir, yang mana mereka tidak leluasa memperkenalkan ke-adaan daripada tempat serta aspek-aspek kehidupan mereka. Dalam hal ini, yang menjadi pionir terhadap daerah itu, sudah pasti dari kaum cerdik pandai. Karena mereka ingin mengetahui serta mempelajari dan di samping membantu mereka.

 

Paragraf  di atas sulit dipahami maksudnya karena tidak memiliki kesatuan. Kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya tidak saling menunjang dalam rangka membentuk sebuah ide atau gagasan yang tunggal. Jika dianalisis,  tulisan tersebut mengandung tiga gagasan – yang satu dengan yang lainnya dimaknai secara sendiri-sendiri, seperti ditulis berikut.

  1. keadaan negara yang memiliki bahasa kesatuan, tidak terdapat dalam negara yang tidak memiliki bahasa kesatuan
  2. nasib rakyat yang jauh dari kota menyedihkan;
  3. pionir terhadap daerah itu kaum cerdikiawan

 

Jika ketiga gagasan tetap tetap dipertahankan, hendaknya disusun dalam tiga paragraf yang berbeda. Jika penulis ingin membicarakan ide pertama, berarti ide yang kedua dan ketiga perlu diubah sebagai unsur penjelas gagasan pertama. Misalnya menjadi:

di negara yang tidak memiliki bahasa persatuan antara daerah yang satu dengan yang lain terisolir kehidupan masyarakat yang jauh dari perkotaan sangat menyedihkan karena tidak bisa berkomunikasi baik untuk menerima in-formasi, mapupun menginformasikan tentang daerahnya ( dan seterunya).

 

Berikut ini dikutip sebuah paragraf yang agak panjang, namun memiliki kesatuan yang jelas.

Setiap negara pada dasarnya harus mampu menghidupi dirinya sendiri dari kondisi, posisi, dan potensi wilayahnya masing-masing. Akan tetapi tidak setiap wi-layah kondisinya memungkinkan, posisinya menguntungkan, atau mempunyai po-tensi yang cukup untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat yang bermukim di wilayah itu, sehingga harus mencukupi-nya dari tempat lain yang hampir selalu me-nyangkut kpentingan negara lain. Untuk itu dibina  hubungan internasional yang memungkinkan terbukanya peluang bagi setiap negara untuk mencukupi kebutuh-annya dari negara lain mmelalui jalan damai. Namun, untuk mencukupi kebutuhan itu tidak jarang pula ditempuh jalan kekerasan. Oleh karena itu, masalah  utama setiap negara selain meningkatkan kesejahteraan negaranya, juga mempertahankan eksistensinya yang meliputi kemerdekaan, kedaulatan, kesatuan bangsa, dan keu-tuhan wilayah.

 

Paragraf di atas walaupun agak panjang, namun tetap mendukung satu kesatuan ide. Gagasan lain yang dikandung dalam kalimat-kalimat berikutnya merupakan penjelas atau penjabar dari gagasan utama itu.

Sebuah paragraf dapat juga merupakan penggabungan gagasan-gagasan,  tetapi tetap membentuk suatu kesatuan yang tunggal, seperti kutipan berikut.

Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 19008, suatu benda cerah tidak dikenal menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh sedikit-dikitnya seribu orang di pelbagai dusun Siberia Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Verovana melihat benda itu menjadi bola api menyilaukan di atas hutan cemara sekitar sungai Tunguska. Korbaran api memben­tuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar ba­gaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya ( Intisari – Februari, 1969).

Paragraf di atas tetap menunjang satu kesatuan gagasan, walaupun sulit untuk ditentukan dimana letak kalimat utamanya. Kalimat-kalimat dalam paragraf itu boleh dikatakan memiliki kekuatan yang sama. Demikian, bila dianalisis, maka ditemukan beberapa hal yang diungkapkan dalam paragraf tersebut.

  • Benda cerah menyusur lengkungan lagit.
  • Penduduk melihat benda itu.
  • Benda itu menjadi bola api.
  • Ledakan

 

  • Kepaduan atau Koherensi

Kepaduan  atau koherensi yaitu kekompakan hubungan timbal balik antara unsur yang satu dengan yang lain. Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan teknik di antaranya: pengulangan kata kunci, penggunaan deiksis, penggunaan pemarkah hubungan, penggunaan paralelisme, dan implikasi makna.

Contoh:

Dalam mengajarkan sesuatu, langkah pertama yang perlu kita lakukan ialah menentukan tujuan untuk mengajarkan sesuatu itu. Tanpa tujuan yang jelas, materi yang kita berikan, metode yang kita gunakan, dan evaluasi yang kita susun tidak banyak memberikan manfaat kepada anak didik. Dengan mengetahui tujuan pengajaran, kita dapat menentukan materi yang akan kita ajarkan, metode yang kita gunakan, serta bentuk evaluasinya secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

 

Kepaduan pada paragraf di atas dibangun dengan menggunakan pengulangan kata kunci tujuan, yaitu kata yang menjadi topik pembicaraan  dalam sebuah paragraf itu.

Kepaduan paragraf dapat dibangun dengan  transisi sebagai pemarkah hubungan antar unsur pembentuknya seperti terlihat dalam contoh berikut.

Perkuliahan bahasa Indonesia seringkali sangat membosankan, sehingga tidak mendapat perhatian sama sekali dari pemakai buku ini. Hal ini disebabkan, bahan kuliah yang disajikan dosen sebenarnya merupakan masalah yang tidak diperlukan pemakai buku ini. Di samping itu, pemakai buku ini yang sudah mempelajari bahasa Indonesia sejak duduk di bangku Sekolah Dasar atau sudah mempelajari bahasa Indonesia belasan tahun, merasa mampu menggunakan bahasa Indonesia. Dengan sikap ini, dosen pun sangat sulit menciptakan kond-si,belajar mengjar yang baik.

 

Cara lain untuk membangun paragraf yang padu dapat digunakan paralelisme, yaitu suatu cara untuk menuangkan gagasan-gagasan dalam pola kalimat yang paralel atau berpola sama, seperti terlihat dalam contoh berikut.

Udara yang dihirupnya terasa nyaman. Kilauan atap seng perumahan pegawai proyek yang dipimpinannya terasa indah. Dan deruman buldoser yang menguruk tanah terasa empuk di telinga. Segalanya indah. Segalanya kemilau.

 

Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas menyampaikan ide yang sejajar, dan ditampil­kan pula dengan struktur kalimat yang sepola. Kalimat 1, 2, dan 3  tersusun sebagai kalimat statif, sedangkan kalimat 4 dan 5 merupakan pesejaran struktur.

 

  • Pengembangan
    • Letak Kalimat Utama

Dalam pengembangan sebuah paragraf hendaknya seorang penulis memperhatikan empat hal pokok berikut, yakni (1) kalimat utama, (2) kalimat penjelas, (3) gagasan utama, dan (4) gagasan penjelas. Logisnya, dalam sebuah kalimat utama terdapat gagasan utama, sedangkan dalam kalimat-kalimat penjelas terdapat gagasan penjelas atau penegas. Tata letak gagasan utama dapat diurutkan pada posisi awal paragraf, dapat juga diposisikan pada akhir paragraf, dapat juga diposisikan pada awal dan pada  akhir paragraf, dan dapat juga tersurat pada seluruh paragraf. Artinya, setiap gagasan utama yang dimaksudkan itu dipastikan dibentuk dari kalimat-kalimat utama, dan sebaliknya gagasan penjelas atau gagasan penegas dibentuk dari kalimat-kalimat penjelas atau kalimat-kalimat penegas.

KALIMAT-KALIMAT UTAMA YANG BERISI GAGASAN UTAMA

(PARAGRAF DEDUKTIF)

SKEMA 01

Skema 01 MENAMPILKAN model paragraf dengan kalimat utama diposisikan pada awal paragraf. Dalam sebuah karya tulis ilmiah, model paragraf yang dikembangkan demikian dinamakan paragraf deduktif. Ikutilah contoh kutipan berikut!

Mulai usia sangat dini, bahkan sebelum seorang anak mulai mempelajari ‘bahasa ibu’, anak telah dapat melibatkan diri dalam faal-faal makna. Ia dapat memahami lmbang-lambang yang ditujukan kepdanya, dan dapat menyusun lambang-lambang yang dapat dipahami orang-orang sekitarnya. Ketika anak berusia satu tahun, ia sudah menguasai asas faal-faal makna semacam itu: bahwa faal makna mempunyai dua fungsi dasar untuk bertindak, dan untuk mengetahui. Seperti halnya surat dinas, bahasa befungsi ‘untuk suatu tindakan’ atau ‘untuk suatu imformasi’. (Halliday, 1992:60)

KALIMAT-KALIMAT UTAMA YANG BERISI GAGASAN UTAMA

(PARAGRAF INDUKSI)

SKEMA 02

Skema 02 MENAMPILKAN model paragraf dengan kalimat utama diposisikan pada akhir paragraf. Dalam sebuah karya tulis ilmiah, model paragraf yang dikembangkan dengan teknik demikian dinamakan paragraf induktif. Ikutilah contoh kutipan berikut!

Ambillah daun yang kering karena terik matahari. Letakkan di telapak tangan dan. re­maslah daun itu!  Apa yang terjadi? Daun itu pasti hancur. Ambil daun lain yang kering juga karena terik matahari! Letakkan di telapak tangan Anda, kemudian oleskan Ollan Oil! Tunggu sekitar dua atau tiga menit, kemudian  remaslah daun itu!  Apa yang terjadi? Daun itu tetap utuh. Jadi, Ollan Oil dapat melembabkan daun yang kering, apalagi dengan kulit Anda.

 

KALIMAT-KALIMAT UTAMA YANG BERISI GAGASAN UTAMA
KALIMAT-KALIMAT UTAMA YANG BERISI GAGASAN UTAMA

SKEMA 03

Skema 03 MENAMPILKAN model paragraf dengan kalimat utama diposisikan pada AWAL, dan pada posisi akhir dari paragraf. Dalam sebuah karya tulis ilmiah, model paragraf yang dikembangkan dengan teknik demikian dinamakan paragraf deduktif-induktif atau biasa disebut paragraf model campuran. Ikutilah contoh kutipan berikut!

Akhir-akhir ini ramai sekali dibicarakan orang tentang pemuda. Perihal pemuda yang gelisah yang frustsi dan apatis. Yang statis dan mlempem. Santer dipermasalahkan tentang patriotisme dan idealisme. Partisipasi dan aktivis. Penyimpangan nilai, kenakalan dan amoral. Penanggulangan ini dan itu. Problem begini dan begitu. Sebelah sini ada penataran, sebelah sana ada pengarahan. Sebentar kemudian lokakarya, disusul up-grading. Berbagai pertemuan diadakan, isinya diskusi dan penerangan. Yang baru saja usai adalah seminar. Dan sebagainya. Semuanya tentang pembinaan generasi muda dan selalu dikaitkan dengan pembangunan dan ketahanan nasional.

 

 

 

 

 

 

KALIMAT-KALIMAT UTAMA YANG BERISI GAGASAN UTAMA , ATAU

 

KALIMAT-KALIMAT PENJELAS BERISI GAGASAN PENJELAS/PENEGAS

(DESKTRIPTIF)

SKEMA 03

Skema 04 MENAMPILKAN model paragraf dengan kalimat utama diposisikan pada  seluruh bagian paragraf. Dapat juga terjadi, bahwa paragraf dengan model ini,  seluruh kalimat yang memenuhi bagian tersebut adalah kalimat-kalimat penjelas atau penegas. Dalam sebuah karya tulis ilmiah, model paragraf yang dikembangkan dengan teknik demikian dinamakan paragraf deskriptif atau paragraf pemerian. Paragraf jenis ini selalu dikembangkan dalam karya-karya non-ilmiah atau karya fiksi. Ikutilah contoh kutipan berikut!

Setelah periode seribu tahun itu berakhir, setan akan dilepaskan kembali. Maka terjadi-lah perang habis-habisan di lembah Armagedon antara yang baik dan yang jahat. Perang akan diakhiri dengan kilat sambung-menyambung, suara guntur guruh-gemuruh, serta gempa bumi yang dahsyat. Hancurlah saat itu juga kota-kota semua negara di dunia. Hilanglah pulau-pulau. Musnahlah gunung-gunung. Jatuhlah dari langit hujan es raksasa, masing-masing bongkah lima puluh kilogram, menimpa setiap orang. Maka binasalah seluruh bumi dan segala isinya (Basis, Nov—Desember, 1999).

 

  • Metode Pengembangan

Berikut ini disajikan beberapa metode pengembangan yang biasa digunakan para penulis (Keraf,1997:87-96).

  • Klimaks – Anti klimaks
  • Perbandingan dan pertentangan
  • Analogi
  • Contoh
  • Proses
  • Umum – khusus
  • Khusus – umum
  • Klasifikasi
  • Pola Susunan

Ada dua pola susunan yang dikenal oleh para penulis. Kedua pola susunan itu diuraikan sebagai berikut.

 

  • Pola Alamiah

Pola ini disusun berdasarkan urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu pola ini dikembangkan berdasarkan dimensi atas – bawah, melintang – menyeberang, sekarang – nanti, dulu – sekarang, timur – barat, selatan – utara, dan sebagainya (Keraf, 1997:136). Pola susunan alamiah dibedakan atas (1) urutan waktu (kronologis), (2) urutan ruang (spasial), (3) urutan berdasarkan topik yang sudah ada. 

  • Urutan Waktu / Kronologis

Pengembangan paragraf ini disebut pengembangan paragraf kronologi atau proses urutan waktu karena rangkaian kalimat dalam paragraf itu merupakan suatu peristiwa atau proses yang sambung menyambung.  Peristiwa  yang satu sebagai kelanjutan peristi wa yang lain, seperti dibaca dalam contoh berikut:

Setelah periode seribu tahun itu berakhir, setan akan dilepaskan kembali. Maka terjadi-lah perang habis-habisan di lembah Armagedon antara yang baik dan yang jahat. Perang akan diakhiri dengan kilat sambung-menyambung, suara guntur guruh-gemuruh, serta gempa bumi yang dahsyat. Hancurlah saat itu juga kota-kota semua negara di dunia. Hilanglah pulau-pulau. Musnahlah gunung-gunung. Jatuhlah dari langit hujan es raksasa, masing-masing bongkah lima puluh kilogram, menimpa setiap orang. Maka binasalah seluruh bumi dan segala isinya (Basis, Nov—Desemb.,  1999).

  • Urutan Ruang

Sesuai dengan istilahnya urutan ruang, paragraf ini dikembangkan dengan menunjukkan batas-batas ruang, misalnya barat, timur, utara, selatan, atas, bawah, tengah sekeliling, dan sebagainya.

Setiap kota memiliki pasar, selain alun-alun, tempat ibadah, dan penjara. Pola semacam itu terutama tampak di Jawa. Di pusat kota berdiri gedung kabupaten, di depannya ada alun-alun. Di sebelah kiri alun-alun terdapat menara, di sebelah kanan masjid, dan di seberang  alun-alun sebuah pasar.

 

 

  • Topik yang sudah Ada

Suatu barang, hal, atau peristiwa yang sudah dikenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian dari sesuatu hal, barang atau peristiwa harus dijelaskan berturut-turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana yang lebih penting dan bagian yang mana yang kurang penting (Keraf, 1997:138).

 

  • Pola Logis

Keraf (1997:138-142) memerincikan pola logis atas beberapa pola, yang diurutkan sebagai berikut.

  • Urutan klimaks – anti klimaks
  • Urutan kausal
  • Urutan pemecahan masalah
  • Urutan umum – khusus
  • Urutan familiaritas
  • Urtan akseptabilitas.

Sumber lain, seperti Syafi’ie (1990) memerincikan beberapa pola logis, yang secara singkat diurutkan sebagai berikut.

  • Urutan Logis-Rincian

Sesuai dengan istilahnya, paragraf jenis ini fungsi  kalimat penjelasnya memberikan rincian, contoh, atau gambaran umum  terhadap ide utama yang diungkapkan pada kalimat utama.

Dalam kemajuan teknologi komputer dewasa ini banyak kemudahan yang dapat kita nikmati. Jika kita menginginkan sumber informasi dari luar negeri yang jauh sekalipun dengan mudah dapat dilakukan lewat komputer dan internet. Dengan tek-nologi itu tidak lagi kita menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan informasi itu, hanya beberapa menit saja kita bisa mendapat informasi yang kita perlukan, misalnya rujukan buku ilmiah. Dalam dunia perbankan juga banyak kemudahan yang kita peroleh dengan teknologi komputer. Kita dapat mengirim uang ke keluarga kita yang jauh hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Kita dapat meng-ambil uang dengan ATM, sehingga merasa aman dan cepat.Komputer tidak hanya berfungsi sebagai mesin ketik atau pengolah data tetapi juga sangat membantu dalam berbagai hal.

 

  • Perbandingan dan Pertentangan

Paragraf dengan jenis ini fungsi kalimat-kalimat, baik utama maupun penjelasnya menyajikan perbandingan dan pertentngan pada hal-hal yang dibahas. Dalam Perbandingan dikemukakan persamaan dan perbedaan antara dua hal atau lebih.

Satuan tulisan perian faktawi berbeda dengan satuan tulisan perian khayali. Wacabna faktawi merupakan satuan tulisan yang besifat memberi tahu atau memberikan informasi sebagaimana adanya. Satuan tulisan perian khayali bertujuan untuk membawa daya khayal pembaca sehingga mereka akan terlibat secara emosional, seolah-olah menyaksikan, mendengar, merasakan. Pembaca didorong untuk  hanyut di dalamnya. Namun, perlu diingat baik satuan tulisan perian faktawi mau­pun khayali kedua-duanya harus mampu memberikan gambaran tentang sesuatu kepada pembacanya

 

  • Analogi

Teknik ini biasanya untuk membandingkan sesuatu sudah dikenal dengan hal yang akan dibicarakan. Tujuannya, agar hal yang dibahas dipahami secara lebih konkret, lebih menarik, sebagaimana ditulis dalam contoh berikut.

Filsafat dapat diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendarat-an pasukan infantri. Pasukan infantri ini diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan yang dian-taranya terdapat ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmu-an. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan keme-nangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkan itu kepada pengetahuan-pengetahuan lainnya. Setelah penyerahan di­lakukan, filsafat pun pergi kembali menjelajahi laut lepas, berspekulasi dan meneratas

 

  • Sebab-Akibat

Dalam tulisan ilmiah pengembangan paragraf  sebab-akibat paling banyak ditemukan. Paragraf ini dikembangkan dengan kalimat utama sebagai sebab dan kalimat penjelasnya sebagai akibat, seperti dalam contoh berikut ini.

Dulu, sebelum krisis ekonomi, pada setiap awal bulan Desember Jalan Siliwangi Kupang macet. Orang-orang kampung berduyun-duyun berbelanja. Begitu juga orang-orang kota Kupang sendiri tidak mau kalah dalam mempersiapkan perayaan Natalnya. Tentu saja, selain manusia yang memenuhi jalan itu, juga bertambahnya jumlah kendaraan terutama kendaraan pribadi orang-orang yang berbelanja itu.Berbeda halnya sekarang ini, kemacetan di jalan-jalan bukan karena kesibukan orang berbelanja untuk merayakan Natal, tetapi karena kerusuhan atas bentrokan masal antar pemuda yang sering timbul dengan tiba-tiba.

 

  • Definisi

Kalimat utama dalam suatu paragraf dapat pula dikembangkan dengan cara mendefinisikan topiknya. Definisi biasanya disusun dalam sebuah kalimat. Namun, kadang-kadang definisi disusun dalam paragraf yang merupakan penggabungan beberapa kalimat. Kalimat-kalimat penjelas merupakan jabaran lanjut dari definisi topik tertentu tersebut.

Humanisme adalah pandangan atau sikap hidup yang mengakui bahwa manusia itu memiliki struktur tersendiri, mempunyai tedensi-tedensi sendiri. Sikapnya dan hubungan-nya terhadap dunia dan sesamanya adalah tersendiri pula. Cara hidup, caranya berbahagia, caranya kerja sama mempunyai ciri-ciri khas yang tidak terdapat di luar lingkungan manusia. Inilah kira-kira konsep umum mengenai manusia, yang kurang lebih diakui dalam macam-macam humanisme. Selanjutnya konsep yang umum itu masih ditambah dengan macam-macam perkhususan, menurut pandangan hidup masing-masing cabang humanisme.

LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGITAN LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan LKM dan soal latihan tentang PARAGRAF untuk dikerjakan berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Pendamping mendampingi diskusi pleno mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

 

KEGIATAN LANGKAH 04

  • Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan PARAGRAF.
  • Pendamping menyimpulkan materi pertemuan hari itu.
  • Tugas diberikan PENGAYAAN diberikan kepada mahasiswa untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

 

PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI  digunakan tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan DAPAT merekam seluruh proses sejak awal kegiatan: proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN  DELAPAN

WACANA

A.     INDIKATOR PENCAPAI HASILBELAJAR

 

 

Setelah perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu menulis hal sebagai berikut.

  • Wacana kisahan (narasi) dalam bahasa Indonesia yang benar dan santun.
  • Wacana perian (deskripsi) dalam bahasa Indonesia yang benar dan santun.
  • Wacana paparan (eksposisi) dalam bahasa Indonesia yang benar dan santun.
  • Wacana uraian (argumentasi) dalam bahasa Indonesia yang benar dan santun.

 

B.     BACAAN PENGAYAAN

 

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa Konteks, dan Teks: Aspek-aspek dalam Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan: Asruddin Barori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada Univerity Press.

Keraf, Gorys. 1994. Argumentasidan Narasi: Jakarta: PT Gramedia.

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Gorys.1996.  Eksposisi. Jakarta: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)

Keraf, Gorys.1981. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah

Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat. Jakarta: Erlangga

 

 

C.      LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu Media Pendukung
1x 50  menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa diarahkan duduk di dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing keolompok beranggotakan 5 sampai 7 orang.
  • Setiap kelompok diminta menceritakan satu kejadian nyata yang pernah dialami atau dilihat. Setiap mahasiswa dalam kelompok diharapkan dapat menceritakan kejadian itu (seperti pada pembelajaran paragraf).
  • Pilih satu peristiwa kebahasaan yang menarik, dan jadikanlah kejadian itu sebagai pembicaraan dalam kelompok.
  • Rumuskan peristiwa yang dipilih itu dalam berbagai macam wacana (kisahan, perian, argumentasi/ uraian, dan paparan)
  • Pastikan bahwa mahasiswa dapat merumuskan masalah itu dalam wacana-wacana yang diinginkannya.
  • Pendamping bertugas memotivasi mahasiswa dengan tidak berceramah tentang wacana secara bertele-tele.
LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 50  menit ¨     Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel, proposal, rancangan skripsi

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

  • Mahasiswa dibagikan handout/ materi wacana untuk dicermati  secara individual atau pun

 

 

  • Materi Pengayaan

 

WACANA

 

  1. Kisahan/Narasi

Narasi adalah kemampuan untuk menghasilkan dan mengerti kejadian-kejadian yang terstruktur. Heath dan Branscomber, 1986 (dalam Purwo,2001:41) menemukan bahwa secara mendasar ada empat jenis narasi dalam cerita yang ditulis manusia, yaitu menceritakan kembali sebuah cerita yang telah dikenal; memberikan informasi atau interpretasi yang baru tentang hal yang mungkin sebagiannya  telah diketahui oleh penerima; ulasan atau komentar yang diberikan  kepada kejadian yang sedang berlangsung, dan khayalan atau narasi fiksi tentang benda tak bernyanwa yang dapat bertingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu.

Narasi memiliki struktur linear yang terbagi dalam beberapa bagian,dan tiap bagian memiliki bentuk-bentuk sintaksis dan semantik yang berpola berbeda. Narasi diawali dengan abstraksi yang meringkas apa yang telah terjadi dan menunjukan ke mana narasi akan dikembangkan. Biasanya abstraksi dapat juga dinyatakan dalam judul. Kemudian abstraksi diikuti dengan orientasi tentang waktu, tempat, dan identitas setiap pelakunya; serta tujuan dan permasalahan. Bagian  utama dalam sebuah narasi adalah langkah penyelesaian masalah. Permasalahan yang telah diselesaikan dinyatakan dalam resolusi, yang diikuti dengan evaluasi atau penelitian dari sudut pandang lain, dan ditutup dengan koda. Tokoh cerita memiliki tujuan dan dalam mencapai tujuannya dia akan menghadapi banyak rintangan. Pada akhir cerita atau resolusi, tokoh cerita mendapatkan apa yang diharapkannya.  Kadang kala moral cerita diringkas kembali dan dievaluasi nilai aplikatifnya. Koda sebagai bagian akhir memindahkan waktu lampau saat cerita terjadi ke waktu sekarang  saat cerita disampaikan (Schiffrin 1994; Hatch 1994; McManis et al.1987 dalam Purwo 2001:41-42).

Wacana jenis narasi hampir tidak pernah ditemukan dalam karya tulis ilmiah. Wacana kisahan (yang biasa disebut wacana narasi) ditulis dengan tujuan untuk menyampaikan serangkain peristiwa yang dilakukan atau dialami oleh seseorang atau sekelompok orang. Kekhasan wacana ini adalah “permainan” tokoh yang terlibat dengan serangkaian peristiwa. Dengan perkataan lain, wacana jenis ini terbatas mengisahkan kehidupan tokoh atau seseorang atau sekelompok orang sesuai dengan rangkain misteri atau peristiwa kehidupan yang dialami oleh tokoh atau orang yang dikisahkan. Oleh karena itu, wacana jenis ini dinamakan WACANA KISAHAN ATAU NARASI.

Wacana jenis ini ada yang bersifat faktawi dan ada yang bersifat khayali. Kisahan faktawi merupakan kisahan yang benar-benar terjadi, misalnya autobiografi (kisah tentang diri sendiri) dan atau biografi (kisah tentang orang/tokoh lain). Contoh sederhana tulisan kisahan faktawi adalah biodata penulis buku yang sering dilampirkan pada sampul belakang buku, atau CV (curriculum vitae) seseorang, seperti yang dapat diikuti pada contoh berikut.

Dr. Burhan Nurgiyantoro, M.Pd. yang dilahirkan di Kulon Progo pada 3 April 1953, adalah staf pengajar FPBS IKIP Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sejak tahun 1978. Pendidikan SD, SMP, dan SPG ditempuh di kabupaten kelahirannya. Masuk FKSS IKIP Yogyakarta tahun 1973 dan tamat sarjana muda pada tahun 1976 serta sarjana pada 1977. Masuk FPS (S2) IKIP Malang tahun 1983, dan tamat magister pendidik-an pada 1985. Pada September 1994 menempuh pendidikan program S 3 di PPS IKIP Ma-lang, dan selesai pada Juli 1997. Ia banyak menulis artikel mengenai berbagai masalah kesastraan dan kebahasaan di sejumlah majalah. Selain buku ini, buku lain yang telah ditulisnya adalah Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaan (1988) dan  Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan sastra (1995, edisi pertama 1988).

 

Bentuk tulisan kisahan faktawi ini dapat muncul dalam tulisan ilmiah, misalnya dalam Sejarah, Antropologi, dan yang lebih umum sebagai kelengkapan buku yang dilampirkan di bagian luar sampul belakang. Tulisan kisahan faktawi tidak memberikan sentuhan rasa, tetapi  cenderung memberikan informasi yang akan tertelaah secara kognitif.

Bentuk tulisan kisahan khayali disusun dengan upaya mempengaruhi rasa emosi pembaca ke dalam dunia khayal (imajiner) sehingga banyak kata-kata atau struktur kalimat yang secara sengaja, penulis memberikan peluang kepada pembaca untuk terbawa rasa, sebagaimana yang penulis rasakan. Sajian sederhana berikut ini adalah salah satu contoh wacana khayali.

“Yah, seperti pernah  engkau kulihat dahulu. Tiada lepas-lepas dari pikiranku, engkau mesti pernah kulihat dahulu.”

Yah duduk di pangkuan Sukartono. Diusap-usapnya kening Sukartono.

“Janganlah merengut. Janganlah Susahkan pikiranmu: Kalau datang ke sini tanggalkan pikiranmu. Di luar masih banyak yang engkau pikirkan.”

“Benar, Yah, kalau aku di sini di rumahmu ini ….”

“Bukan, di rumah kita…”

“ … ya rumah kita ini, aku tenang, hilang pikiranku, tetapi entah timbul juga pikiranku yang satu itu juga. Di manakah engkau kulihat dahulu?” Dipegangnya muka Yah dengan kedua belah tangannya.(Armijn Pane, 1973:37)

 

Selain karena muatan isinya, pilihan kata dan struktur kalimatnya tidak sebagaimana sebuah tulisan ilmiah. Gaya kalimat wacana jenis ini terkesan tidak lengkap – dan semuanya disengajakan oleh penulisnya untuk “memperdaya” dan mengajak daya imaji pembaca, dan mempengaruhi emosi pembaca berlarut di dalamnya. Gaya wacana jenis ini dapat ditemukan dalam karya-karya  fiksi.

 

  1. Perian/ Deskriptif

Wacana  perian atau biasa disebut juga wacana deskripsi  adalah bentuk wacana yang berupaya memerikan atau memberikan gambaran tentang sesuatu hingga selengkap mungkin sehingga pembaca seakan-akan langsung berhadapan dengan objek yang diperikan itu. Wacana jenis  ini berupaya melukiskan sesuatu sebagaimana adanya atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca seakan-akan melihat, mendengar, mencium, dan meraba apa atau objek yang diperikan oleh penulisnya. Penulis perian berupaya memindahkan kesan-kesannya, memindahkan hasil pengamatannya dan perasaannya kepada pembaca; ia menyampai­kan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada objek tersebut (Keraf, 1981:93).

Pusat dari wacana atau teks deskriptif adalah benda atau kejadian. Deskripsi kadang kala menjelaskan tentang bagian benda dan fungsi tiap bagiannya, atribut-atribut, contoh-contoh, dan spesifikasinya (Beaugrande & Dressler 1981 dalam Purwo, 2001:41).  Sesungguhnya, deskripsi dan narasi sama-sama menceritakan sebuah situasi dan sebuah kjadian dalam sebuah ruang dan waktu. Narasi dan deskripsi sama-sama ditulis secara kronologis, namun deskripsi memiliki keajegan dengan fokus detail pada pusat impresi atau central impresion (Chandler & Fisher 1971 dalam Purwo, 2001:41).

Wacana  perian atau deskripsi dapat dibedakan  atas perian faktawi dan perian khayali. Disebut perian faktawi karena yang diperikan adalah sesuatu fakta, dihadirakan dalam bentuk tulisan, sebagaimana dapat dibaca pada contoh singkat berikut.

Bayangan pohon cemara telah samar dalam senja. Burung gereja ramai mencericit di pinggir-pinggir atap. Di sana, gedung induk Universitas Gajah Mada yang bertingkat tiga terpacak diam-diam. Lampu-lampu sepanjang Bulaksumur Boulevard yang membelah kampus telah menyala. Sinarnya redup. Pohon flamboyan di pinggir jalan tak kentara lagi sebagai pohon bunga indah. Dia hanya sebagai onggokan dedaunan hitam sekarang.(Siregar, 1975: 31)

 

Keraf (1981) menwarkan tiga pendekatan dalam menghasilkan wacana atau tulisan perian, yaitu pendekatan realistik, improsionisme, dan sikap penulis. Bidang-bidang yang diperikan meliputi tempat, orang, dan watak. Dalam tulisan ilmiah, bentuk tulisan perian hanya dapat ditemukan dalam pemerian data. Oleh karena itu, berbagai macam teknik perian ini dapat dicerna lebih mendalam dalam EXPOSISI DAN DESKRIPSI karya Gorys Keraf dalam berbagai edisi terbitan.

 

  1. Paparan/Eksposisi

Bentuk wacana paparan/eksposisi adalah salah satu bentuk tulisan yang berusaha menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran, yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan seseorang. Tulisan atau wacana paparan merupakan wacana atau tulisan yang kerap ditemukan dalam berbagai karya ilmiah dalam berbagai bidang ilmu.

Tulisan jenis ini ingin memaparkan tentang sesuatu. Berbeda halnya dengan perian, tulisan paparan ini tidak memberikan rasa sugesti atau pun melibatkan citraan pembaca ke dalam perasaan penulis. Penulis paparan berupaya menetralisasi sikap pembaca agar tidak larut secara emosional sebagaimana yang terjadi pada narasi atau pun perian.

Jika kita membaca paparan tentang negara federal atau demokrasi, kita hanya diajak untuk “tahu” apa sebenarnya yang disebut negara federal atau demokrasi itu. Untuk sistem fedral misalnya, kita menjadi tahu bagaimana sistem pemerintahannya, bagaimana struktur organisasi antara pemerintahan pusat dan pemerintahan negara bagian, bagaimana kewenangan pemerintahan pusat, dan pemerintahan negara bagian dan sebagainya. Uraian-uraian atau paparan itu sama sekali penulis tidak mem­pengaruhi pembacanya.

Kemampuan seseorang untuk dapat menuliskan tulisan paparan selain diperlukan pengetahuan yang cukup luas terhadap subjek yang akan dipaparkan, perlu juga dilengkapi metode dan teknik menulis. Metode dan tenik penulisan paparan itu, adalah:

  1. Identifikasi
  2. Perbandingan
  3. ilustrasi atau eksemplikasi
  4. klasifikasi
  5. definisi
  6. analisis: analisis bagian, analisis fungsional, analisis proses, analisis kausal (Keraf, 1981:7)

 

 

Paparan dengan Metode Identifikasi

 

Persyaratan untuk dapat mengidentifikasikan sesuatu, seorang penulis  perlu memiliki kemampuan mencari ciri-ciri unnsur-unsur yang bisa memberikan gambaran tentang sesuatu itu. Metode identifikasi berupaya menjawab pertanyaan apa, atau siapa. Semakin lengkap informasi unsur-unsur yang menjadi cirinya semakin berhasil pula pemaparan identitas sesuatu itu. Paparan identifikasi dapat diikuti pada contoh sederhana berikut ini.

Dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa, gotong royong merupakan sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam kegiatan bercocok tanam. Untuk keperluan itu seorang petani meminta, dengan adat sopan santun yang sudah tetap, bebebrapa lain sedesanya untuk membantunya, misalnya dalam mempersiapkan sawahnya untuk masa penanaman yang baru, seperti membajak, memperbaiki/membuat pematang, menggaru dan sebagainya. Petani tuan rumah cukup menyediakan makan siang tiap hari kepada tetangganya yang membantu itu selama pekerjaan berlangsung. Kompensasi lain tidak ada, tetapi yang minta bantuan tadi harus siap mengembalikan jasa itu dengan membantu semua petani yang dimintai bantuan tadi, tiap saat jika mereka memerlukan bantuannya. Dengan demikian sistem gotong royong sebagai suatu sistem pengerahan tenaga seperti itu, amat cocok dan fleksibel untuk bercocok tanam yang bersifat usaha kecil dan terbatas, terutama waktu unsur uang belum masuk ekonomi pedesaan. Tenaga tambahan dapat dikerahkan bilamana perlu, dan segera dibubarkan lagi bila sudah selesai (Koentjaraningrat, 1979:60).

 

 

 

Paparan dengan Teknik Perbandingan

 

Paparan dengan metode perbandingan merupakan suatu cara untuk menunjukkan persamaan-persamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih dengan menggunakan dasar-dasar tertentu. Paparan dengan teknik ini digunakan penulis dengan tujuan sebagai berikut.

  • Mempermudah daya pemahaman pembaca terhadap sesuatu yang diperkirakan belum dipahami dengan sesuatu yang sudah dipahami.
  • Menyampaikan dua pokok persoalan atau lebih yang sudah dikenal.
  • Menyampaikan dua pokok persoalan yang belum dikenal.

Teknik perbandingan akan berhasil dengan baik jika penulis secara cermat mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dijadikan landasan perbandingan. Sebagai misal, seorang penulis akan membandingkan objek nyata seperti Rusa dan Kambing. Aspek yang akan dijadikan dasar perbandingan meliputi: kepala, badan, telinga, tanduk, kaki, ekor, bulu, makanan, tempat kehidupannya dan sebagainya.

Contoh (1):

Rusa sejenis binatang menyusui dan memamah biak yang mirip dengan kambing. Perbedaan yang mendasar kambing adalah binatang jinak yang biasa diternak para petani, sedangkan rusa bintang liar. Olleh karena itu, kaki rusa ini lebih panjang dan lebih kuat dibandingkan dengan kambing. Rusa harus mempertahankan hidupnya di tengah berbagai macam musuh di hutan terutama binatang buas dan juga manusia. Kaki yang panjang dan kuat ini bisa digunakan untuk lari di tengah hutan dengan kecepatan tinggi hingga 80 km per jam. Bulu rusa pada umumnya berwarna coklat, berbeda dengan kambing ada yang coklat, putih, abu-abu , dan hitam. Bulu rusa tubuh sebegitu padat  atau jauh lebih padat dibandingkan kambing. Tentu saja hal ini sangat diperlukan untuk menahan sengatan matahari, hujan, dan dinginnya udara malam atau udara gunung. Leher rusa lebih panjang dibanding dengan leher kambing. Dengan leher panjang ini dimungkinkan rusa dapat mencari dedaunan lebih leluasa dan dapat mengintip musuh dari jarak jauh. Ciri khas lain yang membedakan rusa dengan kambing ialah tanduk. Rusa dewasa sajalah yang bertanduk. Tiap tahun tanduknya akan bercabang dan bertambah panjang. Selain bentuk tanduk yang bercabang-cabang, tanduk rusa sangat kuat dan panjang. Kambing betina bertanduk walau­pun lebih pendek dari tandung kambing betina, rusa betina tidak memiliki tanduk.

 

 

Contoh (2) :

Novel dan puisi kedua-duanya merupakan karya sastra. Sebagai karya sastra kedua-duanya bersifat imajiner. Namun, novel memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi. Novel biasanya ditulis sebagai rangkaian peristiwa dari kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Novel tersusun dalam tulisan sebagai rangkaian kalimat-kalimat dan paragraf-pare­graf, sedangkan puisi tersusun atas larik-larik yang membentuk satuan yang lebih besar yang biasa disebut bait

Contoh (3)

Di Kalimantan pada masa orde baru banyak terjadi kebakaran hutan. Daerah tersebut sangat kaya dengan produksi kayu untuk diekspor. Anehnya yang menikmati hasil kekayaan Kalimantan ini bukan orang Kalimatan, dan bukan pula pemerintah daerah yang ada di Kalimatan. Pemagang usaha perkayuan pada umumnya di tangan orang-orang ibu kota. Ketidak adilan inilah yang barangkali menyebabkan terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan.

Hal ini menjadi semakin jelas setelah tersulutnya pula kerusushan yang melanda di Kalimantan. Masyarakat Kalimatan sangat kecewa karena negerinya yang kaya banyak anggota masyarakatnya yang menderita. Unjuk rasa dan luapan emosi ini terlihat secara tranfaran di masa reformasi ini.

Ketakadilan yang terjadi di Aceh juga menyulut kerusuhan. Selain ketidakseimbangan  pembagian pendapatan daerah yang harus diserahkan atau diambil pemerintah pusat, juga kketidakadilan terhadap hukum. Para pembesar dapat melanggar hukum dengan seenaknya pada masa orde baru tanpa ada tindakan pidana yang jelas.

Jadi, jelaslah kiranya bahwa sumber kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah tersebut pemicu utamanya adalah ketidakadilan selain juga masalah-maslah lain yang belum terungkap.

 

Paparan dengan Teknik Pemberian Contoh/ Ilustrasi

Paparan dengan teknik  ini dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman terhadap suatu konsep tertentu atau pokok pikiran tertentu dengan menyampai­kan contoh-contoh yang konkret, atau ilustrasi-ilustrasi yang konkret yang mudah di­mengerti. Ikuti contoh berikut!

Karya seorang penyair biasanya tidak bisa terlepas sama sekali dengan dirinya, atau pengalaman hidupnya. Karya sastra yang ditulis kadang-kadang sebagai pelepasan dari muatan yang ada dalam diri penyair. Rendra sewaktu masih muda sebagai seorang Katolik banyak menulis puisi yang bernadakan Kristen Katolik, Kumpulan Puisi Sajak-sajak sepatu Tua pada umumnya berisi puji-pujian terhadap Sang Penebus, Ballada Penyaliban, Saron Mawar . Setelah terkenal dan beruang banyak,  kereligiusan Rendra mulai bergeser. Rendra beristri dua, tiga, bahkan empat, dan masuk Islam. Gaum Katoliknya tidak muncul lagi. Perhatian terhadap perempuan memang sudah ada sejak semula. Sajak-sajaknya yang bernuansa  tentang perempuan sangat produktif, seperti Bersatulah Pelacur-pelacur Ibu kota, Pesan Suami kepada Seorang Istri, Maria Zaitun dan sebagainya.

  1. Tulisan Bahasan/ Argumentatif

WACANA ATAU tulisan bahasan/argumentatif bertujuan  memberikan pembahasan atau berupaya membuktikan kebenaran dari suatu pokok persoalan. Berbeda halnya dengan tulisan paparan/exposisi, pada argumentasi,  penulis berupaya membawa jalan pikiran pembaca untuk menerima keputusan yang disampaikan, bahkan penulis berupaya mengubah pandangan pembaca yang semula mungkin menolak atau memiliki pendapat lain, diupayakan untuk meninggalkan pendapatnya itu dan menerima pendapatnya. Oleh karena itu, tulisan ini disebut juga tulisan bahasan atau argumentatif – penulis berargumentasi terhadap sesuatu yang diputuskannya. Dalam argumentasi, penulis berupaya mendorong pembaca untuk menjadi yakin atas kebenaran keputusannya itu. Untuk itu, penulis penulis senantiasa mnyertakan evidensi sebagai upaya  pembuktian kebenaran yang telah disampaikannya. Pembuktian dalam wacana argumentatif hendaknya kuat sehingga dapat dipertangguyngjawabkan. Pembuktian juga hendaknya rasional dan objektif.

Setiap tulisan argumentatif/bahasan diangkat dari pokok permasalahan tertentu. Pokok permasalahan yang dibawahnya itu hendaknya diikuti dengan evindensi melalui data-data, fenomenon-fenomenon atau gejala-gejala – yang kemudian, dari padanya  itu akan dibahas dan dibahasakan  secara rasional dan objektif. Oleh karena itu,, tulisan argumentatif merupakan tulisan yang memiliki tingkat keilmuan yang cukup tinggi. Tulisan ini memerlukan kemampuan nalar atau kecerdasan yang cermat dan cendikia.

Tulisan argumentatif pada dasarnya berisi tentang jawaban dari pertanyaan “mengapa”, bukan sekedar jawaban atas pertanyaan apa, dan siapa seperti dalam paparan. Laporan penelitian, tesis, desertasi yang berhipotesis sudah barang tentu disusun dalam tulisan argumentatif. Namun tidak semua buku ilmiah atau hasil penelitian ditulis dengan tulisan argumentatif. Penelitian deskriptif kualitatif berkecenderungan disusun dalam tulisan paparan.

Dalam Tulisan argumentatif juga dimungkinkan terdapat paparan seba­gai argumetasi untuk meyakinkan kebenaran dari sebuah proposisi/pernyataan yang dibuktikan kebenarannya itu. Pembuktian ini dapat juga merupakan pernyataan sebagai argumen atas pendapat atau proposisinya tersebut. Dalam bergumentasi, penulis bisa berbicara secara induktif atau deduktif, dan dapat pula secara deduktif-induktif, seperti terlihat dalam kutipan  dari agumentasi Kaswanti Purwu berikut.

Mengapa Deiksis dalam Bahasa Indonesia?

Mengapa bahasa Indonesia? Masih banyak bidang dalam bahasa Indonesia (terutama bidang sintaksis) yang belum diteliti secara mendalam, Di samping itu juga, belum banyak orang Indonesia sendiri yang mendalami bahasanya sendiri. Baru beberapa sarjana Indone­sia, antara lain Sudaryanto (1979), Simatupang (1979), yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahan disertasi dan dipertahankan di Indonesia. Yang menjadi penyebabnya barang­kali adalah bahwa orang Indonesia memandang bahasa Indonesia bukan merupakan bahasa pertama. Apalagi apa yang disebut bahasa baku masih dapat dipersoalkan.

Penulisan tata bahasa Indonesia dan artikel tentang bahasa Indonesia hingga kini belum memuaskan, belum memberikan gambaran yang lengkap tentang bahasa Indonesia. Masih banyak hal yang belum diterangkan secara tuntas, di antaranya perbedaan antara kata sampai dan tiba, antara sekarang dan kini,  antara telah dan sudah, antara akan dan bakal, mau, dan hendak, dan antara sekejap, sekilas, sepintas, sejurus, antara nanti dan nantinya, antara lain dan lainnya, antara tentu dan tentunya, dan tentu saja, antara supaya dan untuk, mengapa ada dua bentuk pasif dalam bahasa Indonesia. Ini semuanya dan beberapa hal lain lagi yang ada hubungannya dengan deiksis menjadi bahan penelitian dalam disertasi ini

Faktor lain yang mendorong saya memilih bahasa Indonesia adalah rasa ketidakpuas-an terhadap hasil penelitian tentang bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh beberapa ah-li bahasa yang tidak menguasai bahasa Indonesia, antara lain Chung (1976), terutama sebagian besar data yang dianalisis berbau bahasa Indonesia. Memang idealnya, dalam penelitian linguistik, bahasa yang diteliti adalah bahasa yang dikuasai peneliti; apalagi kalau itu menyangkut bidang sintaksis dan semantik.

Peneliti memilih deiksis karena dalam bidang linguistik belum banyak ahli yang menelitinya. Filmore (1971) merupakan salah seorang di antara beberapa ahli bahasa yang mencoba menyusun sebuah teori tentang deiksis dengan mempergunakan hasil penelitian tentang deiksis bahasa Indonesia. Menurut pengakuannya sendiri, teori tentang deiksis yang dicoba disusun itu belum merupakan hasil yang matang: meskipun demikian, bukan maksud disertasi ini untuk mendukung atau melawan atau mengembangkan teori tersebut; beberapa istilah Filmore dan yang lain dipinjam dalam penelitian ini karena deiksis meru­pakan kerangka kesatuan yang dikerjakan, terutama oleh Filmore (1966, 1971), Lyons (1977), dan Brecht (1974), dipinjam sebagai kerangka dasar yang menyatukan bahan-bahan yang diteliti ini.

Jadi, teori deiksis itu hanya dipakai sebagai alat (semacam teropong atau kaca mata) untuk lebih mengerti tentang bahasa Indonesia, dan tentu saja fenomena-fenomena yang kemudian muncul sebagai akibatnya hanyalah yang tampak dari sudut pandang teori deiksis itu, Hingga kini, sepanjang pengetahuan saya, belum ada yang mendalami bahasa Indonesia dari kaca mata deiksis ini. Ternyata dengan kaca mata ini saya dapat melihat fenomenon-fenomenon dalam bahasa Indonesia yang belum pernah saya lihat sebelum-nya, bahkan menyeret lebih lanjut sampai ke aspek sintaksis yang penting dalam linguistik (yang tidak saya bayangkan sewaktu saya memulai penelitian ini), yaitu yang menyangkut tipologi bahasa. Aspek sintaksis ini perlu dijabarkan secara tuntas, bukan hanya deiksis (karena hanya sedikit sangkut pautnya dengan deiksis meskipun demi pemahaman tentang deiksis secara utuh aspek sintaksis ini diperlukan) akan tetapi demi bidang sintaksis sendiri karena dalam bahasa Indonesia bidang itu masih rawan sekali.(1982:3-4)

LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan LKM dan soal latihan WACANA untuk dikerjakan berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
  • Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
  • Fasilitator/ pendamping mendampingi diskusi pleno mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

  • Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang
  • Pendamping menyimpulkan materi pertemuan hari itu.
  • Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

 

PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN digunakan tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan: proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN SEMBILAN

TULISAN ILMIAH

 

 

A.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL
  1. Mahasiswa mampu menjelaskan hakekat sebuah tulisan ilmiah berdasarkan pemahamannya dari berbagai sumber.
  2. Mahasiswa mampu mengidentififikasi ciri-ciri sebuah tulisan yang ilmiah dan yang bukan ilmiah.
  3. Mahasiswa meguraikan langkah-langkah pemecahkan masalah berdasarkan metode kerja ilmiah.

B.                                           LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

LANGKAH 01
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa diajak duduk di dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing keolompok beranggotakan 5 sampai 7 orang.
  • Setiap kelompok diminta menceritakan satu kejadian nyata yang pernah dialami atau dilihatnya.
  • Pilih satu peristiwa kebahsaan yang menarik, dan jadikanlah kejadian itu sebagai pembicaraan dalam kelompok.

Misalnya:

PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR KODYA KUPANG TERKONTAMINASI OLEH BAHASA MALAYU KUPANG DAN BAHASA ROTE.

 

  • Pastikan bahwa mahasiswa dapat menemukan latar persoalannya, dan mencari solusi terbaik untuk memecahkan persoalan/ masalah
LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

  • Kelompok menentukan presenter, notulensi, dan pemandu
  • Presenter menyampaikan hasil rumusan kelompok selama 5 menit, setelah dipersilahkan pemandu.
  • Pastikan bahwa masing-masing kelompok dapat mempresentasian hasil rumusannya secara teratur, dan menggunakan bahasa (Indonesia) lisan secara benar dan baik.
  • Notulen setiap kelompok merumuskan hasil pleno kelompok kemudian membacakannya kepada peserta.

 

LANGKAH 03

Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan handout TULISAN ILMIAH untuk dicermati, baik secara individual maupun secara kelompok.
  • Materi Pengayaan

 

TULISAN ILMIAH

 

Sebelum kita belajar tentang sebuah tulisan ilmiah alangkah baiknya secara singkat kita bicara dulu perihal perpikir ilmiah. Mengapa? Seseorang akan mampu menulis ilmiah bila “dia” berada dalam suatu kontek berpikir ilmiah. Dalam lingkup tulis-menulis, orang mengenal dua cara berpikir ilmiah. Pertama, Berpikir Ilmih secara Deduktif, dan kedua, berpikir ilmiah secara induktif. Berpikir dengan cara pertama kadang disebut juga berpikir secara rational, sementara berpikir dengan cara kedua kadang juga disebut berpikir secara empiris.

 

  1. BERPIKIR ILMIAH

Seperti disinggung di atas, bahwa berpikir ilmiah dapat dibagi atas dua macam, yakni berpikir ilmiah secara deduktif dan berpikir ilmiah secara induktif.

 

  • BERPIKIR ILMIAH SECARA DEDUKTIF

Secara singkat pula dapat diuraikan bahwa berpikir ilmiah secara deduktif adalah suatu proses daya upaya penulis atau peneliti untuk menarik kesimpulan dari pernyataan umum menjadi pernyataan-pernyataan  khusus. Dasar penarikan kesimpulan dengan cara ini adalah hanya dengan menggunakan akal sehat atau ratio dan tidak didukung oleh data. Sebagai contoh, dapat diikuti pada  uraian berikut.

Setiap makluk akan mati (pernyataan umum).

Kucing adalah makluk hidup.

Oleh karena          itu, kucing akan mati  (pernyataan khusus).

                        Semua benda bila dipanaskan akan memuai.

Besi, jika  dipanaskan akan memuai.

Dalam berpikir  ilmiah secara deduktif, penulis dapat menggunakan asumsi. Ikutilah contoh pernyataan berikut.

 

Jika setiap guru diwajibkan membuat RPP/SP sebelum mengajar, maka Pak Sanda sebagai guru di SD XX           akan                 membuat RPP/SP sebelum ia mengajar. (kata jika: prasyarat atau asumsi)

 

  • BERPIKIR ILMIAH SECARA INDUKTIF

Berpikir ilmiah secara induktif diartikan sebagai suatu proses daya upaya dalam menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan khusus  menjadi pernyataan umum. Dasar penarikannya dengan menggunakan gejala, fakta, data, informasi dari lapangan. Sebagai contoh, ikutilah pernyataan-pernyataan berikut.

 

Sejumlah guru di sekolah dasar  AA di Kabupaten Kelapa 2, mengajar pelajaran MATEMATIKA dengan menggunakan metode kerja kelompok.

 

Sejumlah guru di sekolah dasar  BB di Kabupaten Kelapa 2, mengajar pelajaran MATEMATIKA dengan menggunakan metode kerja kelompok.

 

Sejumlah guru di sekolah dasar  CC di Kabupaten Kelapa 2, mengajar pelajaran MATEMATIKA dengan menggunakan metode kerja kelompok.

 

Sejumlah guru di sekolah dasar  DD di Kabupaten Kelapa 2, mengajar pelajaran MATEMATIKA dengan menggunakan metode kerja kelompok.

 

Kesimpulannya, pada umumnya semua guru di Kabupaten Kelapa 2 mengajarkan pelajaran MATEMATIKA kepada murid-muridnya dg menggunakan metode kerja kelompok.

 

Pertanyaannya, untuk apa kedua pola berpikir, yakni BERPIKIR DEDUKTIF DAN INDUKTIF DIPAKAI DALAM PENELITIAN? Jawabannya sderhana, yakni untuk merumuskan MASALAH PENELITIAN. MASALAH dalam suatu penelitian adalah mutlak perlu.  Selain merumuskan masalah, peneliti atau penulis memerlukan pola pikir deduksi dan sinduksi untuk MENDUGA BERBAGAI ALTERNATIF JAWABAN TERHADAP MASALAH YANG DIRUMUSKAN.

Dalam dunia penulisan ilmiah, para penulis merasakan adanya ”kekeringan” bila mereka hanya memilih satu dari dua cara berpikir itu untuk menuliskan penelitian mereka. Dengan perkataan lain, untuk menghidupkan sebuah tulisan ilmiah, penulis lebih memilih untuk MENGKOMBINASIKAN ANTARA BERPIKIR ILMIAH SECARA DEDUKTIF DAN BERPIKIR ILMIAH SECARA INDUKTIF.

Walaupun demikian, para penulis atau peneliti tatap menjaga hakiki dari kedua pola pikir tersebut.

Sebagai penguatnya, kedua pola berpikir itu dirumuskan kembali:

  • BERPIKIR ILMIAH SECARA DEDUKTIF adalah proses penulis berdaya upaya  mengkaji alternatif pemecahan masalah dlm bentuk dugaan jawaban masalah atas dasar berpikir rasional, dan
  • BERPIKIR ILMIAH SECARA INDUKTIF adalah proses penulis atau peneliti berdaya upaya melihat, menjejaki, menelusuri gejala, fakta di lapangan  sebagai bahan bukti  atau eviden  untuk membuktikan kebenaran atas dugaan jawaban terhadap masalah.

 

  1. TULISAN ILMIAH

Berkaitan dengan PERKULIAHAN INI, akan dibahas secara singkat  langkah pengerjaan sebuah tulisan ilmiah. Sekedar diingat kembali bahwa ada perbedaan antara tulisan ilmiah dari hasil pemikiran deduksi dan tulisan ilmiah yang dihasilkan secara induksi.

Sudjana,dkk (1992:12) mnembedakan secara ketat antara kedua bentuk tulisan ilmiah tersebut. Dituliskannya, bahwa, jika sebuah tulisan yang ilmiah yang dihasilkan hanya  didasarkan pada kajian teori atau hanya diinspirasi oleh hasil berpikir rasional (deduksi), tanpa didukung oleh gejala, fakta, dan data-data lapangan, karya ilmiah itu hanya layak dilaporkan dalam suatu bentuk yang namanya MAKALAH ILMIAH. Sebaliknya, jika sebuah tulisan ilmiah dihasilkan atas dasar kajian teori yang mendalam serta didukung oleh gejala, fakta-fakta, dan data-data lapangan, karya tulis semacam itu layak dinamakan LAPORAN HASIL PENELITIAN. Dengan demikian, ditegaskannya, bahwa ada perbedaan antara KARYA TULIS ILMIAH yang didukung oleh data lapangan (PENELITIAN) dengan MAKALAH. Pada PENELITIAN, ada kombinasi berpikir deduktif (berpikir rasional/penalaran) dan berpikir induktif (gejala,fakta-fakta, data-data lapangan) sedangkan pada MAKALAH, hanya semata-mata berpatokan pada berpikir deduktif (Sudjana,dkk 1992:10).

 

  1. LIMA LANGKAH BERPIKIR ILMIAH DAN ATAU PENELITIAN ILMIAH
    • LANGKAH I, Merumuskan malasah.

Masalah, dapat dikatakan sebagai ”jantungnya” sebuah tulisan. Masalah diartikan sebagai kesenjangan antara apa adanya dengan apa seharusnya. Sebuah masalah dapat bersifat kualitatif, dapat juga bersifat kuantitatif. Contoh rumusan masalah  KUALITATIF sebagai berikut:

Bagaimanakah kualitas guru bidang IPA ditinjau dari aspek                                                  mengajarnya?

 

Bagaimanakah ketahanan fisik anak usia 5 tahun selama belajar di TKK  jika sebelum ke anak diberikan makan pagi?

 

 

Bagaimanakah prestasi belajar siswa kelas IV dalam bidang studi Bahasa Indonesia?

 

Bagaimanakah gambaran  tingkat ketercapaian kompetensi calistung siswa kelas I, II, III SDI MB, SDI TAR 2, SDM TAW, dan SDN RAM pada periode 2008-2009?

 

Bagaiamanakah tingkat ketercapaian kompetensi menulis Bahasa Inggris siswa kelas IV SMPK Madi pada periode 2007-2008?

 

Bagaimanakah gambaran pengelolaan ketenagaan, peserta didik, rencana pengembangan sekolah, partisipasi masyarakat, proses relajar mengajar, sarana prasarana, kurikulum, dan penilaian serta standar kelulusan di SDI MB, SDI TAR 2, SDM TAW, dan SDN RAM pada periode 2007-2008?

 

                        Contoh rumusan masalah KUANTITATIF:

Berapa banyak diperlukan tambahan guru TKK akibat kenaikan jumlah anak  sebanyak 25% dari jumlah aanak saat ini?

 

 

MENGKAJI SEBUAH MASALAH

Beberapa langkah pengkajian masalah.

  • Apakah masalah yang telah dibangun, benar-benar berkasiat masalah?
  • Untuk mengetahuinya, telusurilah akar penyebab permasalahannya!
  • Hasil penelusuran itu hendaknya dinarasikan, dideskripsikan,diuraikan pada bagian latar belakang tulisan Anda!
  • Uraikanlah hingga sedetail mungkin agar masalah yang diangkat itu benar-benar dipertimbangkan sangat perlu untuk dikaji.
  • Uraikanlah seobjektif mungkin.
  • Hindarilah dari kata-kata yang berpotensi atau bernuansa ambigu atau membutuhkan tafsiran.
  • Gunakanlah kalimat-kalimat efektif yag bermakna lugas sehingga mampu membangun paragraf-paragraf yang luas pula.
  • Kalimat, paragraf, dan wacana yang lugas selalu berisi ide yang lugas.

 

SUMBER SEBUAH MASALAH

Sebuah masalah dapat digali dari berbagai sumber. Berhubungan dengan perkuliahan ini, maka masalah dapat digali dari sumber-sumber sebagai berikut.

Aspek   TANGGUNG JAWAB GURU/PENDAMPING, a.l:

  • Proses pembelajaran (PBM)
  • penilaian proses belajar
  • penilaian hasil belajar
  • bimbingan
  • administrasi guru dan manajerial kepsek
  • kurikulum dan pengembangannya
  • sarana dan prasarana (media, alat praktikum, dll)
  • lingkungan dan PSM
  • dll

Aspek   BIDANG KAJIAN, a.l:

  • anak didik (murid atau siswa): a.l: prestasi belajar, motivasi belajar, cara belajar, latar belakang pribadi siswa, latar belakang keluarga siswa, minat terhadap mata pelajaran, sikap terhadap guru, kemampuan atau bakat, ciri khusus, dll.
  • tenaga pendidik (guru dan nonguru): a.l: keterampilan mengajar, keterampilan menggunakan metode, keterampilan bermain media, penguasaan materi, motivasi mengajar, sikap terhadap profesi, tingkat pendidikan, usia, hubungan dengan siswa, dll.
  • kurikulum dan pembelajarannya
  • lingkungan dan PSM

 

  • LANGKAH II, Mengkaji teori atau berpikir rasional untuk menentukan jawaban sementara atau dugaan jawaban terhadap pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan (pd langkah I).

 

  • LANGKAH III, Mencari data di lapangan utk. dijadikan bahan dalam usaha membuktikan kebenaran jawaban yang telah diajukan (pd langkah II).

 

  • LANGKAH IV, Mengolah data dari lapangan dan menguji kebenaran jawaban sementara.

 

  • LANGKAH V, Menarik kesimpulan, yakni menetapkan apakah jawaban sementara yang diajukan (pd langkah II) diterima sebagai jawaban akhir.

Catatan:

TIGA UNSUR POKOK dan BEBERAPA UNSUR TAMBAHAN  DALAM TULISAN ILMIAH

  • Adanya masalah (unsur pokok I).
  • Adanya kajian teori untuk membuat dugaan jawaban sementara terhadap masalah (unsur pokok II).
  • Adanya metodologis (kegiatan pengumpulan data untuk membuktikan kebenaran jawaban sementara terhadap permasalahan (unsur pokok III).
  • Prosedur pengumpulan dan pengolahan data (bila ada data-data) (unsur pendukung wajib1)
  • Pengujian hipotesis (bila ada hipotesis) (unsur pendukung wajib 2).
  • Penarikan kesimpulan (unsur pendukung wajib 3)
  • Pengajuan saran atau rekomendasi (bila hasil penelitian itu dapat direkomendasikan untuk ditindaklanjuti).

 

LANGKAH 04

Durasi Waktu Media Pendukung
100 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

  • Mahasiswa melakukan diskusi dengan panduan sebagai berikut:
  • Mengapa suatu tulisan dikatakan “ilmiah” ?
  • Komponen apa sajakah yang membedakannya dari tulisan yang bukan ilmiah ?
  • Seseorang mahasiswa semester IX pada sebuah PT, melakukan KKN di wilayah X. Wilayah itu awam baginya. Beberapa kenyataan yang dihadapinya adalah: (1) Masyarakat wilayah X sangat minim memahami Bahasa Indonesia lisan, (2) masyarakat wilayah X dikenal sebagai masyarakat yang berpegang teguh pada adat, sehingga setiap kegiatan harus dilalui dengan adat. Pertanyaan: Bagaimanakah Anda menyikapi persoalan tersebut ?

 

  • Pleno hasil diskusi kelompok.
  • Pastikan bahwa semua proses dikerjakan secara baik oleh mahasiswa peserta.

 

LANGKAH 05

Durasi Waktu Media Pendukung
100 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 05

  • Mahasiswa diajak mereview seluruh proses sejak awal pertemuan hingga akhir. Langkah ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman peserta selama proses berlangsung.
  • Pendamping dapat menyimpulkan pertemuan, dialnjutkan dengan penyampaian tugas pengayaan secara individual untuk dikerjakan di rumah.
  • Pertemuan ditutup oleh oleh pendamping.

PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI  digunakan tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

BAGIAN  SEPULUH

PENULISAN ARTIKEL

 
A.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

 

  1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep artikel berdasarkan pemahamannya dari berbagai macam sumber.
  2. Mahasiswa mampu memahami ciri dan jenis artikel.
  3. Mahasiswa mampu menuliskan artikel dengan bahasa yang populer

 

  1. BACAAN PENGAYAAN

 

Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Tulisan.  Terjemahan: I Soetikno. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa Konteks, dn Teks: Aspek-aspek dalam Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan: Asruddin Bbarori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada Univerity Press.

Keraf, Gorys. 1994. Argumentasidan Narasi: Jakarta: PT Gramedia.

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Gorys.1996.  Eksposisi. Jakarta: Grasindo (Gramedia Widiasarana   Indonesia)

Keraf, Gorys.1981. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah

Parera, Jos Daniel dan Aning Retnaningsih. 1969. Belajar Mengutarakan Pendapat.

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

 

LANGKAH  01
Durasi Waktu Media Pendukung
30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 01

  • Mahasiswa dianjurkan duduk di dalam kelompok-kelompok kecil. Jumlah anggota antara 5 sampai 7 orang.
  • Kelompok distimulasi dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
  • Apakah Anda pernah membaca artikel ilmiah dalam jurnal-jurnal ilmiah ?
  • Apakah Anda pernah membaca artikel ilmiah populer dalam majalah-majalah populer ?
  • Bagaimanakah tanggapan Anda terhadap kedua jenis artikel yang pernah dibaca itu ?
  • Bagaimanakah tanggapan Anda terhadap artikel yang ditulis dari hasil penelitian dan artikel yang ditulis dari hasil permenungan semata ?

 

  • Pendamping hendaknya telah memastikan bahwa mahasiswa peserta memiliki pengetahuan yang luas perihal artikel.  Oleh karena itu, hendaknya fasilitator sedapat mungkin menghindarkan diri dari kuliah yang bertele-tele.
LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 02

  • Mahasiswa/ peserta dibagikan lembar materi PENULISAN ARTIKEL. Untuk dicermati secara individu maupun secara kelompok.

 

 

 

 

 

  • Materi Pengayaan

 

ARTIKEL

  • Pengertian Artikel

Artikel adalah salah satu bentuk wacana ilmiah yang dimuat/ dipublikasikan dalam terbitan berkala (koran, majalah, atau jurnal). Artikel dapat dibedakan atas artikel populer dan artikel serius.  Artikel popoler merupakan artikel yang dimuat dalam majalah, atau koran umum, sehingga diupayakan dapat dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan artikel serius adalah artikel yang ditulis dalam bidang ilmu tertentu dan ditujukan untuk dibaca oleh orang yang seprofesi bidang ilmunya. Jadi perbedaannya, selain bahasa yang digunakan,  tentu saja bobot keilmiahannya.

Ini bukan berarti  bahwa menulis artikel populer lebih mudah, dibandingkan dengan menulis artikel serius. Ilmuwan yang kurang berpengalaman dalam berkomunikasi dengan berbagai starata sosial akan mengalami kesulitan luar biasa untuk mempublikasikan karya ilmiah kepada masyarakat umum. Artikel populer dapat pula berasal dari hasil penelitian dengan bobot keilmiahannya sangat tinggi,  yang kemudian disajikan sesederhana mungkin agar dicerna oleh berbagai kelompok sosial tanpa mengurangi bobot keilmiahannya.

Tulisan ilmiah dapat dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel, atau buku bunga rampai.  Artkel merupakan bentuk tulisan ilmiah yang paling padat dan singkat dibandingkan dengan bentuk tulisan ilmiah lainnya yang dipublikasikan.  Menulis artikel dapat dikatakan setingkat lebih sulit dibandingkan menulis laporan penelitian, skripsi, atau pun makalah. Tingkat kesulitannya bukan sekedar pemadatan tulisan ilmiah itu, namun penulis artikel terbebani tanggung jawab moral terhadap tulisannya disadarinya  bahwa tulisannya akan dibaca oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, untuk mewujudkan artikel ini melalui proses yang cukup rumit dan panjang karena penulis yang dibebani adanya kerja sama dengan penerbit.

Naskah artikel perlu dievaluasi oleh tim ahli, dan disunting oleh tim ahli di bidangnya dan diatur tampilannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada jurnal/majalah/koran tempat di mana akan dipublikasikannya. Proses untuk dapat diterbitkannya sebuah artikel memakan waktu satu tahun hingga dua tahun,  karena harus melalui proses perputaran antara penyunting ahli, penulis, dan penyunting pelaksana.

 

  • Bentuk/ Sistematika Artikel
    • Artikel Nonpenelitian

Artikel konseptual atau artikel nonpenelitian adalah artikel hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam rangka menghasilkan artikel yang berbobot, penulis biasanya mengkaji terlebih dahulu tulisan-tulisan ilmiah yang relevan dengan masalah, baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang menurut pemikiran penulis artikel, bahwa itu benar. Tulisan-tulisan yang diacu adalah artikel-artikel konseptual atau artikel hasil penelitian yang telah diterbitkan/dipublikasikan sebelumnya,  dan dilengkapi dengan  teori-teori  dari buku-buku teks yang relevan.

Artikel konseptual bukan sekedar pemindahan tulisan dari satu sumber atau sejumlah sumber, tetapi hendaknya merupakan hasil pemikiran kristis dari penulis terhadap masalah-masalah aktual. Rujukan teori hanyalah sebagai penguat atas penawaran pemecahan masalah atau hasil pemikiran kritis penulis tersebut. Dalam prakteknya, penyunting jurnal tidak jarang menolak artikel konseptual, karena artikel tersebut hanya merupakan tempelan konsepsi teori atau bagian-bagian dari karangan yang lain, atau mungkin satu bagian dari sebuah buku teks.

Komponen-komponen pokok sebuah artikel konseptual atau artikel nonpenelitian  adalah sebagai berikut.

  • Judul

Judul hendaknya ditulis dalam frasa nomina tetapi telah mencerminkan masalah yang dibahas dalam artikel tersebut. Walaupun ditulis secara singkat, judul artikel sebaiknya telah mengandung unsur-unsur utama yang dibahas. Judul hendaknya menarik atau mempunyai daya tarik yang kuat kepada pembacanya. Ini bukan berarti bahwa judul sebuah artikel harus bersifat diplomatis,bahkan bombastis.

  • Nama penulis

Nama penulis artiel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain. Nama lengkap dengan gelar akademik boleh ditulis sebagai catatan kaki/foonote  – jika memang informasi lengkap tentang identitas penulis sangat diperlukan. Berdasarkan kriteria akreditasi jurnal ilmiah Ditbinlintabmas Dirjen Dikti, identitas penulis ini perlu dilengkapi nama lembaga dan nama tempat. Cara penulisannya, bisa disertakan pada nama penulis setelah judul, atau dapat pula pada catatan kaki. Jika tulisan tersebut dikerjakan oleh sebuah tim (lebih dari seorang, hanya penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul, nama penulis lain ditulis di dalam catatan kaki.

 (3)         Abstrak  dan kata kunci

Abstrak artikel atau isi artikel diramu secara padat, kira-kira  50 sampai  75 kata. Ketentuan dalam penelitian dasar maksimal 200 kata. Abstrak diketik dalam spasi tunggal. Huruf biasanya lebih kecil, menjorok ke dalam dari sisi kanan maupun kiri. Walaupun pendek, abstrak harus benar-benar merupakan pemadatan dari isi artikel. Abstrak sebuah artikel bukanlah sebuah  ringkasan/summary dari tulisan tersebut.

 

Abstrak hendaknya merupakan pengembangan ide dari kata kunci yang dinyatakan di bagian bawah abstrak tersebut. Kata kunci adalah kata atau istilah keilmuan di bidang yang terkait terhadap konsep-konsep dasar yang dituangkan dalam tulisan tersebut. Jumlahnya antara 3 hingga 5 kata kunci.

        (4)          Bagian  pendahuluan

Pada umumnya pendahuluan tidak diberi judul. Dalam artikel nonpenelitian, pendahuluan berisi uraian tentang hal-hal yang mampu menarik perhatian pembaca terhadap permasalahan yang akan dibahas. Misalnya, dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau yang belum tuntas dalam pembahasan artikel-artikel atau buku-buku yang dipublikasikan terdahulu. Akhir dari suatu pendahuluan adalah suatu rumusan singkat tentang hal-hal pokok yang akan dibahas.

 (5) Bagian inti

Isi bagian ini sangat bervariasi. Lazimnya berisi kupasan, analisis, argumentasi, dan pendirian penulis mengenai masalah yang dibicarakan. Banyaknya subbagian dalam inti sangat tergantung pada kecukupan dan keluasan masalah yang dibahas. Perlu dicatat dalam penulisan jurnal hendaknya dihindari sistem enumeratif sebagaimana menulis bahan ajar atau diktat. Pembagian subbab dan anak subbab terlalu banyak akan menciptakan citraan keilmuan  sebagai tampilan bahan ajar.

 (6) Penutup/simpulan

Penutup artikel biasanya diisi dengan simpulan penulis atas bahasan terhadap permasalahan. Sering pula pada  bagian ini penulis memberikan saran-saran.

 (7) Daftar Rujukan

Daftar rujukan ditulis secara alfabetis sebagaimana yang berlaku dalam menyusun daftar rujukan penelitian atau ketentuan umum. Perlu dicatat di sini bahwa banyak model penyusunan daftar pustaka, yang perlu diperhatikan di sini adalah model selingkung  yang dipilih oleh jurnal yang bersangkutan.

 

  • Artikel Hasil Penelitian

Penulisan artikel hasil penelitian tidak sama dengan penulisan laporan hasil penelitian. Selain perbedaan tampilan (sistematika unsur-unsur),  juga teknik pengungkapannya. Artikel  hasil penelitian harus berupa suatu informasi yang telah dikemas sedemikian rupa sehingga siap untuk dinikmati pembacanya.

Pengemasan ini tidak sekedar membungkus hasil penelitian dengan perwujudan yang layak ditampilkan di dalam jurnal, tetapi  harus diolah, ditata kembali agar  tidak  berkesan sebagai pelaporan hasil kerja. Pengolahan tersebut bisa pemadatan, bisa juga pendetailan.

Hasil penelitian bisa dijadikan lebih dari satu artikel jika ruang lingkup kajiannya sangat luas. Namun perlu dicatat di sini, bahwa pencuplikan sebagian dari hasil penelitian bukan berarti mengambil salah satu subbab laporan hasil penelitian, kemudian dibubuhi bagian pendahuluan, metode dan simpulan, dan daftar rujukan.

Proses mengolah sebagian dari hasil penelitian jauh lebih rumit dibandingkan dengan penulisan artikel dari hasil penelitian secara utuh. Penulis perlu menata dan menyusun kembali sebagian dari hasil penelitian itu menjadi komponen-komponen artikel yang runtut dan serasi, baik pada bagian pendahuluan, metode, maupun rujukan-rujukan pembahsan hasil penelitian, simpulan, dan daftar rujukannya.

Ada perbedaan antara gaya penulisan laporan penelitian dengan gaya penulisan artikel hasil penelitian. Laporan hasil penelitian biasanya ditulis dengan gaya numerasi, sedangkan dalam artikel ditulis dengan gaya esei. Gaya penulisan laporan hasil penelitian ditata atas bab dan subbab dengan memberikan nomor, sedangkan dalam artikel, sistem seperti itu tidak dibenarkan. Penulisan artikel dengan sistem bab dan sub-bab hendaknya diminimalisasi. Bila terpaksa diadakan, sebaiknya  hanya sampai tiga peringkat. Biasanya, peringkatan yang banyak dari laporan hasil penelitian dipaparkan dalam bentuk esei (lihat contoh artikel !) Misalnya, pendahuluan sebuah artikel hasil peneitian adalah pemadatan dari subbab-subbab: (a) Latar Belakang,  (b) Masalah, (c)  Tujuan, (d) Kerangka Acuan teori dari suatu laporan hasil penelitian.

Artikel hasil penelitan tersusun atas:

  • Judul

Judul artikel hasil penelitian hendaknya dapat memberikan gambaran lengkap mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antarvaribel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Namun, judul penelitian hendaknya disusun dalam struktur frasa nominal (bukan kalimat). Biasanya judul  artikel hasil penelitian terdiri atas  5 sampai 15 kata.

  • Nama penulis

Nama penulis artikel ditulis dibawah judul tanpa disertai gelar akademik atau pun gelar lainnya.  Selain  nama penulis, identitas lembaga dan nama tempat. Jika dipandang perlu informasi tambahan tentang identitas dapat pula disertakan dalam catatan kaki/foonote. Jika penulisnya lebih dari satu orang, nama penulis utama saja yang dicamtumkan di bawah judul, sedangkan yang lainnya dapat disertakan pada catatan kaki.

  • Abstrak dan kata kunci

Sebagaimana abstrak artikel nonpenelitian, abstrak artikel hasil penelitian biasanya ditulis dalam sebuah paragraf,  sebagai penuangan gagasan/ide atau isi artikel dengan kepadatan kira-kira 50 hingga 75 kata.  Abstrak  diketik berspasi tunggal. Ukuran huruf  biasanya lebih kecil, diketik menjorok ke dalam dari sisi kanan maupun kiri. Abstrak artikel hasil penelitian memuat (masalah atau tujuan berupa pertanyaan yang dijawab oleh peneliti, metode penelitian, dan simpulan. Abstak sebaiknya disampaikan dalam bahasa Inggris jika bahasa pengantar artikel tersebut berbahasa Indonesia, dan sebaliknya jika bahasa pengantarnya bahasa Inggris hendaknya abstraknya dalam bahasa Indonesia (lihat contoh dalam artikel !)

Abstrak hendaknya merupakan pengembangan ide dari kata kunci yang dinyatakan di bagian bawah abstrak tersebut. Kata kunci adalah gambaran istilah keilmuan dalam bidang yang terkait dengan konsep-konsep dasar yang dituangkan dalam tulisan tersebut. Jumlahnya antara 3 hingga 5 kata kunci

  • Bagian pendahuluan

Bagian ini berisi tentang permasalahan (tentu saja untuk menggiring pembaca ke dalam pemahaman permaslahan ini disertai penggambaran latar belakang teoritik, dan fakta yang ada di lapangan), (2) wawasan dan rencana pemecahan masalah, (tujuan penelitian, (3) tinjauan pustaka relevan/hasil-hasil penelitian sebelumnya, (4) kontribusi penelitian.

  • Metode penelitian

Bagian metode penelitian ini memuat (1) pendekatan dan rancangan penelitian, (2) sasaran penelitian (untuk kuantitatif: popu-lasi dan sampel), (3) teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumennya, dan (4) teknik analisis data. Walaupun bagian metode terdiri beberapa subbagian, dalam teknik penulisannya tidak digunakan teknik enumeratif, melainkan teknik penulisan dalam bentuk esei.

  • hasil penelitian dan pembahasan

Penyampaian hasil penelitian dalam artikel, berbeda dengan penyampaian dalam bentuk laporan hasil penelitian. Dalam penulisan artikel, hasil penelitian yang disampaikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan dalam artikel. Dalam laporan penelitian sering hasil penelitian ini disertai tabel dan grafik secara mendetail. Tabel dan grafik boleh dimanfaatkan dalam artikel sebagai alat bantu komunikasi, tetapi tidak semendetail seperti yang dalam membuat laporan hasil penelitian.

  • Simpulan dan saran

Simpulan penelitian hendaknya merupakan jawaban atas masalah dan tujuan yang diutarakan pada bagian pendahuluan. Kalimat pernyataan simpulan hendaknya juga relevan atau koheren dan kohesif dengan apa yang dinyatakan dalam masalah serta tujuan penelitian. Simpulan tidak dibenarkan jika muncul pernyataan yang bukan jawaban atas masalah penelitian. Masalah  dan tujuan penelitian harus ada jawabannya dalam simpulan. Namun, perlu diingat kembali bahwa gaya penyampaian simpulan adalah pernyataan bersih, tidak bersifat melaporkan hasil sebagaimana dalam laporan penelitian.

Selain simpulan perlu juga disampaikan saran-saran. Saran hendaknya didasarkan adanya temuan yang perlu ditindaklanjuti oleh peneliti lain, atau penelitian lanjutan, atau kepada pihak-pihak lain yang terkait atas temuan tersebut. Saran dapat pula berupa himbauan kepada pihak-pihak yang terkait untuk menerapkan hasil-hasil penelitian yang memberikan harapan lebih baik dari kondisi yang ada dewasa ini, atau saat penelitian dilaksanakan.

  • Daftar

Daftar rujukan atau sering pula disebut daftar pustaka hendaknya mengacu pada salah satu model, dan diberlakukan untuk semua artikel, maupun seluruh nomor yang diterbitkan jurnal tersebut. Daftar rujukan hendaknya hanya memuat daftar yang benar-benar terujuk dalam tulisan itu.

LANGKAH 03

Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 100 menit ¨    Lembar informasi/ Handout

¨    Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨    Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

  • Mahasiswa difasilitasi menuliskan  artikel jenis nonpenelitian melalui panduan sebagai berikut.

Angkatlah satu masalah kebahasaan yang dianggap menarik, dan tulisalah dalam bentuk artikel !

 

  • Mahasiswa diarahkan pada lembaran materi bila kesulitan telah melanda proses kerja.
  • Pastikan bahwa mahasiswa telah mengalami pencerahan setelah mencermati isi materi ARTIKEL secara baik.

LANGKAH 04

Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 100  menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Hasil penelitian ilmiah.

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

  • Mahasiswa diajak berdiskusi perihal penulisan artikel yang diramu dari hasil penelitian.
  • Pendamping mendampingi mahasiswa peserta dalam mencermati dan menuliskan sebuah artikel yang diramu dari hasil penelitian.
  • Pastikan bahwa mahasiswa peserta dapat belajar menuliis dengan baik, sesuai tingkat pemahaman mereka.

LANGKAH 05

Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 100  menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Hasil penelitian ilmiah.

¨     Hasil tulisan mahasiswa peserta.

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

KEGIATAN PADA LANGKAH 05

  • Mengajak mahasiswa berdiskusi perihal penulisan ertikel dari hasil penelitian.
  • Pendamping melakukan perbaikan/ solusi bila ada hal-hal yang harus diperbaiki.
  • Pendamping diharapkan tidak berceramah banyak pada setiap  tahapan pembelajaran.
  • Mahasiswa diajak untuk mereview, baik proses maupun hasil yang telah dan yang akan dicapai dalam sesi penulisan artikel.

 

  1. PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI  digunakan tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN SEBELAS

PENULISAN PROPOSAL DAN SKRIPSI

A.     INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

 

  1. Mahasiswa mampu menjelaskan prosedur penulisan proposal dan skripsi secara benar.
  2. Mahasiswa mampu merumuskan suatu masalah dari latar belakang terjadinya masalah secara benar.
  3. mahasiswa mampu merumuskan tujuan penulisan sesuai dengan permaasalah yang akan dikerjakan secara benar.
  4. mahasiswa mampu merancang metode penulisan dan atau penelitian secara benar.
  5. mahasiswa mampu menentukan teori-teori yang cocok berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
  6. mahasiswa mampu memprediksi kontribusi yang dapat disumbangkan kepada masyarakat secara tepat.
  7. mahasiswa mampu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang telah dibahasnya secara benar.

 

 

 

  1. BACAAN PENGAYAAN

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 01

  • Mahasiswa diajak duduk di dalam kelompok belajar. Setiap kelompok beranggotakan 3 – 5 orang.
  • Masing-masing kelompok berupaya menemukan satu peristiwa kebahasaan yang menurut kelompok sangat menarik untuk dikaji.

Contoh peristiwa:

  1. Kemampuan berbahasa Indonesia: Membaca-Menulis para siswa SD  di NTT sangat rendah.
  2. Minat belajar Masyarakat ke PTN sangat tinggi.
  3. Dongeng dapat dijadikan media alternatif dalam pendidikan budi pekerti pada anak usia dini di Indonesia.
  • Pendamping dapat memfasilitasi mahasiswa menemukan peristiwa lain.
  • Mahasiswa dipastikan dapat merumuskan kerangka berpikirnya  sesuai hasil kesepakatan dan pertimbangan

 

LANGKAH 02
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 02

  • Mahasiswa menyampaikan hasil diskusi dalam pleno kelompok.
  • Pendamping diharapkan mencermati semua persoalan yang disampaikan mahasiswa dari pleno dimaksud.
  • Pendamping memberikan solusi sebagai upaya penguatan dan pengayaan bila mahasiswa menemukan kesulitan.
LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 30 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 03

  • Mahasiswa dibagikan materi panduan Penulisan Proposal dan Penulisan Skripsi.

 

  • Materi Pengayaan

 

PENULISAN PROPOSAL

 

Bagian Awal

Bagian kelengkapan awal proposal meliputi (1) halaman kulit, (2) halaman judul, (3) halaman pengesahan

Halaman Kulit

Halaman kulit/sampul (cover), berisi 3 komponen, yaitu: (1) judul proposal, (2) nama dan nomor regestrasi mahasiswa, (3) logo fakultas, dan (4) nama fakultas, universitas, kota, serta tahun penyelesaian proposal.

(b)  Halaman Judul

Halaman judul berisi 5 komponen, yaitu: (1) judul proposal, (2) pernyataan tujuan penyusunan proposal, (3) nama, dan nomor registrasi mahasiswa, (4) logo fakultas. (5) nama fakultas, universitas, kota, dan tahun diselesaikannya proposal.

(c)  Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan ini terdiri atas dua paragraf/bagian, yaitu: (1) indentitas proposal (meliputi judul proposal, nama dan nomor registrasi mahasiswa, (2) bagian dan persetujuan pengesahan  dari dosen pembimbing, ketua program studi/jurusan, dan dekan.

Bagian Batang Tubuh

Batang tubuh proposal terdiri atas tiga bab, yaitu (1) pendahuluan, (2) kerangka acuan teori, dan (3) metode penelitian

(a)  Bab I,  Pendahuluan

Pendahuluan berisi 4 subbab, yaitu (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, dan (4) kontribusi/mamfaat penelitian.

Latar Belakang

Bagian ini pada dasarnya berisi paparan/uraian proses dalam mengidentifikasi masalah penelitian. Masalah adalah kesenjangan antara yang ada dan yang seharusnya ada (antara das sollen dan das sain). Oleh karena itu, untuk menyusun latar belakang, penulis hendaknya mengikuti hal-hal sebagai berikut.

  • Tulislah dalam bentuk paparan tentang kenyataan yang ada, tentang sesuatu yang terkait dengan subjek, atau tentang sesuatu yang akan Anda teliti.
  • Tulislah yang seharusnya ada, yaitu dengan cara memaparkan prinsip-prinsip teoritis yang relevan dengan kenyataan yang Anda hadapi. Prinsip-prinsip ini memberikan argumentasi adanya masalah yang perlu dipecahkan.

Dalam penelitian deskriptif kualitatif (misalnya, tentang struktur bahasa, karya sastra, tingkat kemampuan belajar siswa) selain memaparkan kenyataan yang ada (misalnya pemaparan letak geografis bahasa, luas wilayah penuturan, jumlah penutur, fungsi dan peran bahasa)tentang sesuatu yang akan Anda teliti, perlu diungkapkan argumen atau alasan secara jelas yang mendorong perlunya diadakan penelitian terhadap sasaran bersangkutan.

 

Masalah

Rumuskan secara jelas masalah yang akan diteliti. Rumusan masalah dapat berupa kalimat tanya dapat pula berupa kalimat pernyataan.

Hipotesis (jika ada)

Penelitian kuanitatif berkorelasi diperlukan rumusan hipotesis. Hipotesis adalah simpulan sementara. Hipotesis dapat dirumuskan sebagai hipotesis nol, atau hipotesis alternatif atau hipotesis kerja. Oleh karena itu, hipotesis harus relevan dengan masalah, karena hipotesis adalah jawaban sementara yang dianggap tingkat kemungkinan kebenarannya paling mungkin/tinggi.

Tujuan

Berikan pernyataan singkat mengenai tujuan penelitian. Tujuan penelitian tentu saja berupa pernyataan untuk menjawab atau memecahkan masalah. Tujuan penelitian hendaknya relevan dengan masalah. Tujuan penelitian dapat berupa kalimat untuk membuktikan, mendeskripsikan suatu gejala yang dirumuskan dalam masalah.

 

Kontribusi/Manfaat Penelitian

Uraikan manfaat/kontribusi penelitian dalam pengembangan ilmu, pembangunan atau masyarakat/khalayak pemakai yang relevan dengan bidang yang diteliti.

(b)  Bab II Kerangka Acuan Teori

Kerangka acuan teori ini berisi dua sub, yaitu landasan teori dan konsep-konsep dasar.

Landasan teori perlu diungkapkan di sini, sebagai prinsip-prinsip kerangka pikir yang didasari oleh pendekatan teori yang relevan dengan masalah penelitian. Kemukakan dasar teori yang digunakan, dan rujuk prinsip-prinsip dari teori itu yang relevan dengan masalah yang akan dipecahkan. Hendaknya menggunakan rujukan pustaka yang mutakhir (10 tahun terakhir), dan hendaknya pustaka primer. Rujukan dari jurnal lebih diutamakan daripada buku teks.

Konsep dasar adalah konsep-konsep yang akan muncul dari masalah penelitian. Kerangka berpikir ilmiah dapat digambarkan sebagai berikut.

 

 

 

Sebagai contoh tulisan ilmiah S.S. Ola, “Struktur dan Peran Semantik Verba dalam Bahasa Lamaholot Dialek Nusa Tadon”; Landasan teori yang digunakan adalah NSM (Natural Semantic Metalanguage) dan konsep yang muncul dari permasalahan yang dipecahkan dengan teori tersebut adalah (1) verba: pengertian dan jenisnya, (2) struktur semantik verba (3) peran pemantik perba. Penjelasan atau pemaparan konsep-konsep tersebut didasari pula teori yang digunakan.

Dalam penelitian deskriptif kualitatif penegasan tentang konsep-konsep dasar ini mutlak diperlukan.

(c)  Bab III Metode Penelitian

Bab ini berisi tentang karakteristik penelitian, disain penelitian, variabel dan batasan variabel, populasi dan sampel, sumber data, teknik pengumpulan data, uji validitas dan reabilitas instrumen, uji normalitas data, teknik pengolahan data.

Langkah-langkah penelitian, perlu juga dikemukakan pada bagian ini, dari langkah persiapan, penyusunan proposal, seminar proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, hingga pengesahan dan penyerahan skripsi.

(d)  Bagian Akhir

Daftar Pustaka

Daftar pustaka dapat dimasukan sebagai batang tubuh proposal, dapat pula dimasukkan sebagai lampiran. Daftar pustaka hendaknya hanya memuat pustaka yang relevan dengan permasalahan dan yang benar-benar digunakan atau dirujuk Penulisan hendaknya mmengikuti salah satu sistem yang sudah ada. Tnetu saja sistem itu dibuat demi kemudahan pembaca yang hendak mencari kembali. Pada umumnya sistem penulisan daftar pustaka disusun atas indeks nama penulisnya secara alfabetis, dan tidak diberi nomor (enumerasi).

Jadwal Penelitian

Buatlah jadwal peenelitian sesuai dengan langkah-langkah kerja, disusun dalam tabel (Gann Chart) dengan kepala tabel (jenis kegiatan, waktu (tahun, bulan, minggu). Jenis kegiatan meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan draf skripsi. Setiap jenis kegiatan tentu saja selalu disertai konsultasi dengan dosen pembim-bingnya.

Rancangan Biaya

Tuliskan rincian biaya yang mengacu kepada kegiatan penelitian. Buat pula rincian di-sertai nilai biaya secara jelas misalnya dalam persiapan diperlukan biaya pengetikan proposal, seminar proposal, penjilidan proposal, dan ATM untuk penyusunan proposal, dan sebagainya)

Instrumen Penelitian

Lampirkan pula instrumen penelitian. Instrumen penelitian hendaknya disusun secara cermat supaya dapat menjaring data seobjektif mungkin, dan seorisinal mungkin. Kali-mat/pernyataan dalam instrumen tidak menekan narasumber/responden, memberikan kemudahan dan keleluasaan dalam mengisi atau menjawabnya. Untuk penelitian kuanti-tatif (dengan pengolahan data statistik) instrumen penelitian perlu diuji reabilitas dan validitasnya.

 

 

 

 

PENULISAN SKRIPSI

Bagian Awal

  • Kulit/ Sampul

Halaman sampul/kulit skripsi berisi empat unsur, yaitu (1) judul skripsi, (2) nama dan nomor registrasi mahasiswa, (3) logo fakultas, (4) nama fakultas, universitas, kota, dan tahun terselesaikannya skripsi.

(b)  Halaman Judul

Halaman judul berisi lima satuan unsur, yaitu (1) judul skripsi, (2) tujuan/kegunaan pe-nysunan skripsi, (3) nama dan nomor registrasi mahasiswa, (4) logo fakultas, (5) nama fakultas, universitas, kota, dan tahun terselesaikannya skripsi.

 (c)  Ringkasan/ abstrak

Ringkasan ini berisi intisari skripsi yang mencakup: masalah, tujuan, metode pemecahan masalah yang disertai prinsip-prinsip teori yang mendasarinya,  simpulan hasil pe-mecahan masalah, saran/rekomendasi tindak lanjut. Ringkasan ini ditulis hendaknya ditulis sesingkat dan sepadat mungkin paling banyak dalam 200 kata, tetapi telah mem-berikan gambaran lengkap keseluruhan isi skripsi.

Di bagian awal ringkasan (setelah kata RINGKASAN) perlu diperlengkap dengan identitasnya, yaitu judul skripsi, nama dan nomor registrasi mahasiswa, serta dosen pembimbung.

  • Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan terdiri atas judul skripsi, nama dan nomor registrasi mahasiswa, nama dan tanda tangan dosen pembimbing, ketua program studi/jurusan, dan dekan.

Untuk lebih menguatkan dasar yuridisnya, pengesahan ini perlu pula disertai berita acara ujian yang berisi waktu pelaaksanaan ujian, nilai ujian dan tanda tangan serta nama penguji. Hal ini diperlukan untuk menghindari terjadinya keslahpahaman, misalnya saaran dari penguji belum diperhatikan, belum direvisi.

 

 

  • Riwayat Hidup

Riwayat hidup memuat nama lengkap dan nomor registrasi mahasiswa, tempat dan tanggal lahir, nama lengkap orang tua, riwayat pendidikan, pengalaman beroganisasi, dan prestasi yang pernah dicapai selama belajar di perguruan tinggi. Bagi yang sudah berkeluarga dapat pula dinyatakan nama istri/suami beserta anak-anaknya.

Riwayat hidup ini dapat disusun dalam narasi/esai, dapat pula dengan enumerasi dengan tabel.

  • Prakata

Perlu kiranya dibedakan istilah prakata dengan kata pengantar. Istilah baku untuk bagi-an ini lebih tepat prakata, karena bagian ini berisi permasalahan, tujuan penelitian terhadap masalah tersebut, pelaksanaan penulisan skripsi, serta ucapan terima kasih kepada orang-orang yang terlibat dalam penulisan skripsi.

Kata pengantar biasanya disampaikan oleh orang lain yang mengantarkan sebuah tulisan hingga dapat dipublikasikan.Misalnya, sebuah buku disertai kata pengantar Dirjen Dikti.

  • Daftar Isi

Daftar isi ini dibuat sebagaimana membuat kerangka tulisan, yang dumulai dari ringkasan hingga bagian akhir skripsi. Kepala/judul bagian (bab, subbab) ditulis sama se-perti yang terdapat di dalam skripsi itu, dan diberikan letak nomor halaman dimualainya bagian/bab/subbab tersebut.

  • Daftar Tabel

Daftar tabel ini berisi nomor tabel disertai judul tabel dan nomor halaman, tempat tabel dimuat. Taknik penulisannya diatur seperti membuat daftar isi

  • Daftar Gambar

Daftar gambar juga disusun sebagaimana membuat daftar isi.

  • Daftar Lampiran

Daftar lampiran ini juda dibuat sebagaimana menyusun daftar isi.

 

 

 

Batang Tubuh

Batang tubuh skripsi ini terdiri atas lima bab, yaitu : (1) pendahuluan, (2) kerangka teori, (3) metode penelitian, (4) hasil dan pembahasan, dan (5) simpulan dan saran-saran.

Bab I, II, dan III tidak jauh berbeda dengan apa yang disusun dalam proposal. Perbedaan yang perlu diperhatikan adalah pada proposal/rancangan dinyatakan dalam bentuk pernyataan keakanan, sedangkan dalam skripsi ini kata akan hendaknya dihapus, karena baik teori, metode atau data dan lain-lainnya merupakan sesuatu yang yang sedang dan telah diberlakukan.

Perubahan dalam pendahuluan, maupun dalam kerangka teori, atau metode sangat dimungkinkan terjadi karena kemungkinan besar setelah dikumpulkan data ditemukan hal-hal yang belum terancang dalam proposal.

Bab I,   Pendahuluan

Bab ini terdiri atas 4 subbab, yaitu: (1) latar belakang, (2) masalah, (3) hipotesis (jika diperlukan), (4) tujuan penelitian, dan (5) kontribusi/manfaat penelitian. Walaupun kemungkinan besar isi bab ini sama dengan apa yang disusun dalam proposal, hendaknya diperhatikan kalimat-kalimat keakanan diubah menjadi kalimat kekinian-sudahan. Hindari pemakaian kata akan.

Perlu diperhatikan kembali, kemungkian perubahan-perubahan lainnya karena terkait dengan data-data yang terkumpul. Bbab pendahuluan ini sangat dimungkinkan pula tidak terjadi perubahan jika penulisnya telah melakukan survei dengan cermat sebelum menyusun proposal.

Bab II,  Kerangka Acuan Teori

Peneliti yang telah berpengalaman, biasanya isi bab ini tidak mengalami perubahan dengan apa yang dirancang dalam proposal. Namun, sebagai penulis skripsi sangat besar kemungkinannya prinsip-prinsip teori baru didapatkan secara lebih meyakinakan setelah melakukan pengumpulan data, atau bahkan banyak informasi lain yang relevan baru diperoleh bersamaan pengumpulan data atau bahkan analisis data. Informai teori itu bisa saja bersumber dari dosen pembimbing, atau berkat ketekunannya mengkaji terus-menerus ke perpustakaan.

 

 

Bab III Metode Penelitian

Isi metode penelitian ini hendaknya konsisten dengan apa yang dirancang dalam proposal. Jika terpaksa terjadi perubahan perlu diberikan penjelasan secara tegas.

Bab IV,  Hasil dan Pembahasan

Bab ini terbagi atas beberapa subbab. Yang perlu diingat di sini adalah subbab-subbab tersebut hendaknya merupakan hasil pemecahan masalah. Bunyi dan jumlah, serta isinya hendaknya relevan dengan permasalahan.

Bentuk wacananya tentu saja wacana argumentasi (walaupun mungkin ada paparan atau perian, secara keseluruhan hendaknya terbangun sebagai wacana argumentasi. Pengembangan wacana ini secara khusus dibahas pada Bab III.

Simpulan dan Saran

Simpulan merupakan putusan akhir terhadap masalah, setelah masalah dibahas dan didukung dengan data-data. Untuk penelitian kuantitatif dengan analisis statistik, perumusan simpulan dapat dinyatakan dengan menolak atau menerima hipotesis. Dalam penelitian deskriptif kualitatif, simpulan merupakan kalimat rampatan dari pembahasan pada bab IV. Simpulan hendaknya relevan dengan masalah. Jika masalah/ruang lingkupnya dua, hendaknya simpulannya juga dua dan merupakan jawaban terhadap masalah. Simpulan hendaknya padat, dan juga hendaknya secermat mungkin, dan tidak terdapat kalimat-kalimat memberikan peluang, bahwa masalah belum selesai dibahas. Bila penelitian diperlukan tindak lanjut, hendaknya diberikan saran yang berupa rekomendasi tindak lanjut.

 

Bagian Akhir

  • Daftar Pustaka

Daftar ini berisi buku-buku, jurnal, dan bentuk pustaka lainnya yang dirujuk sebagai dasar teori atau yang lainnya. Tidak dapat dibbenarkan jika dalam daftar pustaka ini terdapat daftar buku, jurnal, atau pustaka lainnya yang tidak dirujuk dalam penelitian tersebut.  Sistem penulisan pustaka, banyak versinya. Dengan demikian, penulis dapat memilih versi yang dikehendaki, asalkan konsisten dengan sistem perujukan.(lihat juga  pada bagian  catatan !)

  • Lampiran-lampiran

Oleh karena skripsi merupakan tulisan ilmiah yang akan diuji, perlu kiranya dilengkapi dengan lampiran-lampiran yang mmenguatkan keabsahan penelitian tersebut, seperti istrumen, data, daftar narasumber atau responden, surat-surat perizinan penelitian, dan sebagainya.

Jika datanya sangat banyak dapat diambil percontohnya- yang dapat mewakili keseluruhan data. Tabulasi  data mutlak diperlukan dalam lampiran.

 

CATATAN

Petunjuk Teknis Penampilan/Gaya penulisan Skripsi

  • Skripsi hendaknya diketik dengan komputer, ketentuan yang digariskan berikut ini adalah ketentuan yang berlaku dalam program kopmputer.
  • Jenis kertas yang digunakan adalah HVS 70 gram, dengan ukuran A4 (21 cm x 29, 7 cm), atau dapat pula kuarto (letter, 21,59 cm x 27,94 cm).
  • Margin / Ruang Kosong Pinggiran

Margin Atas                : 3,5 cm

Margin bawah            : 2,5 cm

Margin kiri : 3,5 cm

Margin kanan             : 2,5 cm

Sirahan/header            : 2 cm

Kakian/footer             :  1 cm

  • Lay out dipersiapkan untuk dicetak/print bukan bolak-balik atau satu muka, sehingga tidak ada pembedaan antara halaman genap dan ganjil, maupun halaman pertama. Penomoran dapat di bagian bawah atau pun atas namun harus konsisten. Jika pnomoran di atas setiap bab baru nomor halaman tidak dinyatakan.
  • Batang tubuh skripsi ditulis double spasi, dengan ukuran huruf 12 pt tipe huruf Times New Roman
  • Batang tubuh skripsi terinci atas beberapa bab dan subbab ditulis dengan sistem enumera-si, sebagai berikut.
  • Bab ditulis di tengah dari margin atas dengan perkataan BAB diikuti angka romawi kapital (I, II, III, IV, atau V), judul bab ditulis di bawahnya dengan huruf kapital dicetak tebal
  • Penomoran subbab digunakan angka arab dengan sistem digit, yaitu:

Peringkat I: ditulis nomor bab (juga dengan angka arab), diikuti titik ( . ), diikuti no-mor subbab, dikuti jarak 2 spasi baru diikuti judul subbab dengan huruf besar kecil kata pokok selalu dimulai dengan huruf besar sedangkan kata tugas (dan, di, ke, dari, dan sebagainya) ditulis dengan huruf kecil. Semuanya  dicetak tebal. Penomoran ini hendaknya diatur dengan sistem bullet. komputer akan mengatur sendiri.

Contoh

  1. Sistem Kekebalan Tubuh

Ini berarti untuk menuliskan bab 2 subbab 3. Begitu seterusnya untuk enumerasi dan penulisan subbab peringkat II, III dan seterusnya, seperti dalam contoh berikut

1.1 Kekebalan  Tubuh Bawaan

                           1.1.1 Kekebalan Masa Bayi

                           1.1.2 Kekebalan Masa remaja

1.2  Kekebalan Tubuh bentukan

                           1.2.1 Vaksinasi

                           1.2.2 Olah Raga

  • Setelah perkataan judul bab dan/atau subbab tidak diikuti tanda baca titik, begitu se-telah nomor/enumerasi berdigit 2 ke atas tanpa diikuti tanda baca titik; termasuk juga yang diapit kurung atau diikuti kurung tunggal.
  • Jarak spasi antara bab dengan uraian di bawahnya dijarangkan 18 pt, sedangkan subbab de-ngan uraian di bawahnya 3 pt, dan subbab dengan uraian di atasnya 12 pt.
  • Paragraf baru ditulis menjorok 1 cm . Jarak antarparagraf tidak perlu dijarangkan, jadi, ber-jarak tetap double sapasi sebagaimana jarak antarbaris lainnya.
  • Tabel, bagan, gambar disertai judul dan bernomor dengan angka arab ditulis di atasnya. Pe-nomorannya hendaknya perbab (misalnya tabel pertama pada Bab IV diberi nomor 4.1).
  • Jika ada catatan/keterangan tabel dapat diletakkan di bawah tabel
  • Rujukan kepustakaan ditulis dengan sistem nama akhir diikuti kurung pembuka, tahun, titik dua tanpa direnggangkan dengan spasi 1 ditulis nomor halaman, lalu diakhiri kurung penu-tup, misalnya: Kartomihardjo (199:4) mengemukakan …
  • Perujukan lain dapat dilakukan dengan menuliskan sumber yang terujuk setelah kutipan. misalnya: “Temuan ini mendukung hasil-hasil penelitian psikolinguistik (Clark, James, dan Hobart 1977:67–71; Burt, 1978:68; dan Halim, 1992:23). Rujukan hendaknya diupayakan terbitan sepuluh tahun terakhir.
  • Penulisan kutipan mengikuti tata cara berikut.
    1. Kutipan terdiri dari 3 baris atau kurang dari tiga baris ditulis langsung diapit tanda petik ganda.
    2. Halliday breaks this function into “informative uses (orientation to content), interactive uses (orientation to effect – control other, mutual support, express self) and imaginative uses (ritual and poetic)” (1978, p. 17)
  • Kutipan bentuk potongan kalimat dimulai atau diakhiri dengan 3 (tiga)  titik ( … )
  1. “… tuturan ini tidak santun dan tidak sesuai dengan konsep dengan kaidah maksim kebijakan (Porat, 1999:23).
  2. Kutipan terdiri lebih dari 3 baris ditulis dalam format blok, 0,7 cm masuk ke dalam dari margin kanan maupun kiri

In this context Murray (1984:6) says:

Writing also varies with our thinking style.  Some of us think out loud, and others work quietly.  Some are long distance learners, writing steadily and evenly day after day.  Others of us are sprinters, and spend a lot of time sitting around between sudden spurts of writing.  Others use a logic that is less apparent, moving from A, B to C.  Others use a logic that less apparent, leaping to C and working back to B  then A.  Or going to D, then B, E, F, C, G, A.

  • Penulisan kutipan mengikuti tata cara berikut.
  • Daftar pustaka disusun secara alpabetis dan khronologis.
  • Buku: Nama akhir, initial pengarang,. tahun. Judul buku (dicetak miring), .Tempat terbit.: nama penerbit.
  • Ellis, Rod. 1990. Instructed Second Language Acquisition. Cambridge, Massachu-setts: Basil Blackweel Ltd.
  • Karangan dalam buku (bunga rampai): Nama akhir, inisial pengarang.tahun. Judul karangan (ditulis dalam tanpa petik).Dalam: Nama Editor (Ed.) Judul Buku, halaman. Tempat terbit: Nama penerbit.

Brockway, Diane. 1981. “Semantic constraints on Relevance. Dalam: Herman Parret, Marina Sbisa, dan JefVerskuren. Possibilities and Limitations of Pragmatics, hlm. 57–58. Amsterdam: John Benyamins B.V.

  • Karangan dalam jurnal: Nama akhir, inisial pengarang. Tahun. ‘Judul Artikel” (diapit tanda petik ganda). Dalam: Nama Jurnal, Nomor, Bulan, dan tahun, Halaman. Tempat terbit: Nama pnenerbit.
  • Kweldju, Siusana. 1992. “Peranan Belahan Otak Sebelah Kanan terhadap Kemampuan Berbahasa”. Dalam: Bahasa dan Seni, Tahun XX: hlm. 25–33. Malang: IKIP
  • Karangan dalam pertemuan: Nama akhir, initial pengarang. Tahun. “Judul Makalah” (ditulis diapit tanda petik ganda). Makalah dibacakan dalam pertemuan, Nama Lembaga penyelenggara, tempat dan tanggal penyelenggaraannya
  • Lumintaintang, Yayah B. 1991. “Pemasyarakatan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.” Makalah dibacakan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indo-nesia, PBS IKIP Yogyakarta, 21–22 Oktober.
  • Karangan ditulis dan diterbitkan oleh lembaga: Nama lembaga penanggung jawab lang-sung. Tahun. Judul Karangan. Nama Kota: Nama lembaga tertinggi yang bertanggung jawab atas penerbitan ini.
  • Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1998. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

 

  • Pengetikan tanda baca serta penulisan kata dan huruf mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (Moeliono 1998). Beberapa hal yang perlu diwaspadai perhatikan ketentuan berikut.
    1. Titik (.). titik koma (;), tanda seru (!), tanda tanya (?), dan tanda persen (%) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.
    2. Tanda petik (“…”) dan tanda kurung ( ) diketik rapat dengan huruf dari kata atau frasa yang diapit.
    3. Tanda hubung (-), tanda pisah ( ), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya.
    4. Tanda sama dengan (=), lebih besar (>), lebih kecil (<), tambah (=), kurang (-), kali (x), bagi (:) diketik dengan jarak satu spasi/ketukan sebelum dfan sesudahnya.
    5. Akan tetapi tanda bagi(;) untuk memisahkan tahun terbitan dan nomor halaman pada rujukan diketik rapat dengan angka yang mendahuluinya.
    6. Pemenggalan suku kata untuk bahasa Inggris disesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Inggris, bahasa Indonesia mengikuti pedoman Ejaan yang Disempurnakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BEBERAPA CONTOH TEKNIS PENULISAN PROPOSAL & SKRIPSI

 

Contoh halaman kulit/cover Proposal

 

 

INTERFERENSI STRUKTUR KALIMAT LUAS BERUNSUR KETERANGAN

BAHASA WEWEWA TERHADAP BAHASA INDONESIA TULIS

SISWA KELAS VI SD DI DESA KALIMBU TILLU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh

 

(————————————————–)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Nusa Cendana

Kupang

2002

 

Contoh halaman Judul Proposal

 

 

INTERFERENSI STRUKTUR KALIMAT LUAS BERUNSUR KETERANGAN

BAHASA WEWEWA TERHADAP BAHASA INDONESIA TULIS

SISWA KELAS VI SD DI DESA KALIMBU TILLU

 

 

Proposal

 

Disusun dan Diajukan untuk Menyusun Skripsi

 

 

Oleh

 

(——————————————-)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Nusa Cendana

Kupang

2002

 

 

Contoh halaman kulit skripsi

 

INTERFERENSI STRUKTUR KALIMAT LUAS BERUNSUR KETERANGAN

BAHASA WEWEWA TERHADAP BAHASA INDONESIA TULIS

SISWA KELAS VI SD DI DESA KALIMBU TILLU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh

 

(————————————————–)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Nusa Cendana

Kupang

2002

 


Contoh halaman judul

 

 

 

INTERFERENSI STRUKTUR KALIMAT LUAS BERUNSUR KETERANGAN

BAHASA WEWEWA TERHADAP BAHASA INDONESIA TULIS

SISWA KELAS VI SD DI DESA KALIMBU TILLU

 

 

 

 

SKRIPSI

 

Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat

Guna Meperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Bahasa dan Sastra Indonesia

 

 

Oleh

 

 

(————————————)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Nusa Cendana

Kupang

2002


 

Contoh Ringkasan

 

RINGKASAN

Tarno, dkk. 1995. “Keefektifan Kalimat dalam Makalah Hasil Penelitian Dosen FKIP Undana Tahun Anggran 1993/1994”, Kupang: FKIP Undana

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan dua masalah pokok: (1) adakah hubungan an-tara aspek-aspek retorik kalimat efektif dengan keefektifan kalimat? dan (2) bagaimana tingkat keefektifan kalimat dalam makalah ringkasan hasil penelitian dosen FKIP Undana tahun ang-garan 1993/1994?

Penelitian ini dilakukan di FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang. Populasi penelitian 18 makalah ringkasan hasil penelitian (bahan seminar). Sampel ditentukan secara purporsive random sampling, dengan jumlah sampel 10 makalah dengan 12000 kalimat.

Data penelitian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif untuk menguji hipotesis dengan teknik regresi ganda. Data kualitatif dianalisis dengan cara yang mengacu kepada skala Carrol dan Hall (1985). Analisis kualitatif untuk menjawab pertanyaan kedua, yaitu bagaimanakah tingkat keefektifan kalimat dalam makalah ringkasan hasil penelitian dosen FKIP Universitas Nusa Cendana tahun anggaran 1993/1994?.

Temuan yang diperoleh dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa aspek-aspek retorik kalimat mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keefektifan kalimat. Hasil pembahsan koefisien regresi menegaskan bahwa aspek kepaduan, kesatuan, kevariasian, dan kehmatan me-miliki peranan besar dalam membngun kalimat efektif. Keefektifan aspek-aspek ini membawa serta keefektifan diksi, gramatika, dan penekanan. Hal ini membuktikan bahwa dalam berbahasa tulis ilmiah, ppenulis tidak memikirkan aturan-aturan diksi dan gramatika, tetapi keruntutan keberna-laran menjadi titik kekuatan ilmiah.

Analisis kualitatif menunjukkan bahwa tingkat kefektifan kalimat dalam makalah dosen FKIP Universitas Nusa Cendana tahun anggaran 1993/1994 adalah cukup.

 

Contoh lembar pengesahan

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

Judul Skripsi : Interferensi Struktur Kalimat Kalimat Luas Berunsur Kete-rangan Bahasa Wewewa terhadap Bahasa Indonesia Tulis Murid SD di Desa Kalimbu Tillu, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat
Nama Mahasiswa : Yohana Dada Keke
Nomor Registrasi : 9631120038

 

Skripsi ini telah Diterima dan Disahkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sas-tra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Nusa Cendana sebagai salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tanggal ……….Februari 2002

 

 

 

 

Pembimbing I                                                                                                     Pembimbing II

 

 

—————————-                                                                           ——————————-

 

 

 

 

Mengetahui/Mengesahkan                                                                Mengetahui/Mengesahkan

Ketua Program Studi                                                                         a.n. Dekan

Pembantu Dekan Bidang Akademik

 

————————————                                                                ————————————–

 

 

  • Contoh lembar berita acara ujian

 

HALAMAN BERITA ACARA UJIAN

Judul Skripsi : Interferensi Struktur Kalimat Kalimat Luas Berunsur Ke-terangan Bahasa Wewewa terhadap Bahasa Indonesia Tu-lis Murid SD di Desa Kalimbu Tillu, Kecamatan Wewe-wa Barat, Kabupaten Sumba Barat
Nama Mahasiswa : Yohana Dada Keke
Nomor Registrasi : 9631120038

 

Skripsi ini telah Dipertahankan di depan Dewan Penguji pada Tanggal ….Februari 2002 dan Dinyatakan Lulus (tanpa revisi/dengan revisi) nilai ……

 

 

Dewan Penguji

Penguji I  ……………………………………………………….(……………………………. )

Penguji II  ………………………………………………………(……………………………..)

Penguji II  ………………………………………………………(……………………………..)

Penguji IV ……………………………………………………..(………………………………)

Penguji V  ………………………………………………………(………………………………)

 

Ketua Pelaksana Ujian Skripsi

 

 

—————————-

 

Contoh prakata

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan, atas kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini setelah melalui berbagai hambatan dan kesulitan.

Penulis tidak menduga sebegitu banyaknya hambatan dan kesulitan yang terjadi dalam pelaksanaan penelitian walaupun dalam seminar proposal telah banyak mendapatkan masukan dari dosen-dosen dan rekanan sejawat. Kesulitan di lapangan yang penulis hadapi adalah subjek penelitian yang kemampuan berbahasa Indonesianya sangat rendah sekali. Dalam rancangan penelitian diharapkan setiap subjek dapat mengarang sedikit-dikitnya dua halaman buku tulis, kenyataan di lapangan tidak demikian. Murid SD kelas VI masih sangat sulit sekali untuk mengarang karena mereka hampir belum pernah melakukannya. Untuk mengatasinya terpaksa penulis membimbing murid-murid tersebut untuk bisa mengarang. Walaupun telah dibimbing bersama guru kelasnya, muri subjek penelitian ini baru menghasilkan rangkaian kalimat-kalimat dengan kondisi bahasa Indonesianya sangat rendah. Rata-rata murid dapat menulis setengah halaman buku tulis dalam waktu 40 menit.

Tantangan yang muncul setelah data terkumpul adalah konsep-konsep teori beserta metode pemecahannya. Penulis harus mencari sumber-sumber rujukan yang dapat memecahkan masalah atas data yang penulis temukan. Berkat ketekunan dan kesabaran Bapak Tarno selaku pembimbing I dan Ibu Ratukoreh selaku pembing II, kesulitan dan tantangan itu akhirnya dapat penulis lalaui.

Oleh karena itu, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih atas kesabaran, ke-kunan Bapak Tarno dan Ibu Adriana Ratukoreh dalam memberikan pembimbingan penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih tidak lupa pula penulis sampaikan kepada dosen-dosen Program Studi Pndidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah menggembleng diri penulis, sehingga penulis dapat mewujudkan skripsi ini.

Ucapan terima kasih tidak lupa pula penulis sampaikan kepada kelas VI sekolah dasar di Kecamatan Wewewa Barat, yang telah membantu penulis dan memberikan ke-sempatan dalam pengumpulan data untuk penulisan skripsi ini. Tentu saja penulis tidak akan lupa pula mengu-capkan terima kasih kepada kepala sekolah dasar negeri di keca-matan Wewewa Barat dan Ba-pak kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumba Ba-rat yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya.

Semua hambatan administratif dan akademik yang penulis hadapi dapat terselesaikan dengan baik, berkat petunjuk-peetunjuk yang diberikan oleh Dekan FKIP Undana berserta stafnya. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih.

Banyak  pihak pula yang menolong penulis terutama teman-teman seperkuliahan, keluarga, dan pihak-pihak lainnya, yang telah memotivasi, memberikan bantuan moral maupun material. Oleh karena itu, tidak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih.

Kendatipun banyak pihak telah terlibat dalam penulisan skripsi ini tidak berarti terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya. Semua kelemahan yang terdapat dalam tulisan ini dengan pihak-pihak yang disebutkan di atas. Semuanya terjadi, karena adanya keterbatasan penulis sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, segala kelemahan dan kekurangan itu menjadi tanggung jawab penulis.

Penulis, Maret 2002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 50 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 04

  • Mahasiswa diajak merumuskan masalah berdasarkan peristiwa kebahasaan yang telah ditemukan. Akan lebih baik bila masalah-masalah kebahasaan itu ditemukan dalam kelompok-kelompok kecil.
  • Berdasakan masalah-masalah itu, mahasiswa diajak merumuskan tujuan penelitian.
  • Pendampig diharapkan untuk tidak memberikan kuliah yang bertele-tele pada tahap ini.
  • Mahasiswa menyampaikan hasil diskusi kelompok dalam pleno.
  • Pastikan, bahwa mahasiswa mampu merumuskan dengan kemampuannya yang ada, dan fasilitator hanya sebatas memberikan pencerahan bila terjadi kesulitan.

 

LANGKAH 05
Durasi Waktu Media Pendukung
2 x 100 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

KEGIATAN LANGKAH 05

  • Berdasarkan masalah, mahasiswa diajak menentukan teori yang cocok untuk memandu proses penelitiannya.
  • Tentu saja, teori-teori kebahasaan telah dicermati mahasiswa dengan baik pada semester-semester yang telah dilewatinya.
  • Pastikan, bahwa mahasiswa mampu menemukan kembali teori-teori yang telah didapatkan terdahulu. Hal ini bermanfaat bagi fasilitator untuk tidak memberikan kuliah ulangan pada pelatihan keterampilan ini.

 

LANGKAH 06

Durasi Waktu Media Pendukung
100 menit ¨     Lembar informasi/ Handout

¨     Lembar kerja mahasiswa (LKM)

¨     Sumber lain yang relevan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEGIATAN LANGKAH 06

  • Mahasiswa diajak mereview seluruh proses dan isi belajar sejak awal pertemuan hingga akhir
  • Pendamping menyimpulkan materi pertemuan, dilanjutkan dengan penyampaian tugas pengayaan individual untuk dikerjakan di rumah (lembaran tugas: tersendiri !)
  • Pertemuan ditutup oleh pendamping/ fasilitator

 

7.3  PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI  digunakan tiga model penilaian, yakni  penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adjat, Sakri. Bangun Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung:                                     Penerbit ITB Bandung

Alwasillah, chaedar. 1983. Linguiustik: Suatu Pengantar.                             Bandung: Angkasa.

Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT                              Grammedia.

——————-1984. Komposisi: Sebuah Kemahiran Berbahasa.                   Ende: Nusa Indah.

Pateda, Mansoer. 1994. Linguistik: Sebuah Pengantar. Bandung:               Angkasa.

Sanda, Fransiskus. 2000. ”Pengantar Linguistik:  Bahan Ajar.”                  Kupang: FKIP Undana.

——————- 2008. “Terampil Berbahasa Indonesia, Seri 2                                     (sedang edit)”: Bahan Ajar”. Kupang: FKIP Undana.

Verhaar, JMW. 1996. Asas-asas Linguistik. Yogyakarta: Gadja Mada                   University Press.

Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan               Benar. Jakarta. Pustaka Jaya.

Hadi, Farid dan Isas Budionon (Ed.) 1995.Petunjuk                             Praktis Berbahasa Indonesia, Jakarta:                               Pusat   Pembinaan dan Pengemabangan Bahasa.

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan 1992. Bahasa,                             Konteks, dan Teks: Aspek-  aspek dalam                                Pandangan Semiotik Sosial, Terjemahan:                             Asruddin Bbarori Tou. Yogyakarta: Gajah                                    Mada   Univerity Press.

Razak, Abdul. Kalimat Efektif: Struktur, Gaya, dan                          Variasi. Jakarta: PT Gramedia.

Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia.           Jakarta: PT                  Sastra Hudaya

Syafi’ie, Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi.          Malang:                       FPBS IKIP Malang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s