BAHAN AJAR ABK

BAHAN AJAR ABK

 

BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK KHUSUS ANAK BERKELAINAN FISIK(TUNANETRA, TUNARUNGU DAN TUNADAKSA)

 

  1. PENGERTIAN ANAK KELAINAN FISIK

Menurut para ahli (Kirk, 1970 ; Heward dan Orlansky, 1988 ) anak berkelainan di artikan sebagai anak yang memilki kelainan penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal umumnya dalam hal fisik, mental, maupun karakteristik prilaku sosialnya, atau menurat ahli lainnya ( Hallahan dan Kauffman 1991 ) anak berkelainan di defenisikan sebagai anak yang berbeda dari rata-rata umumnya,dikarenakan ada permasalahan dalam kemampuan berfikir, \penglihatan, pendengaran, sosialisasi, dan bergerak.

Kelainan fisik adalah kelainan yang terjadi pada satu atau lebih organ tubuh tertentu. Akhibat kelainan tersebut timbul suatu keadaan pada fungsi fisik tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya secara normal. Yang termasuk dalam kelainan ini adalah tunanetra (kelainan pada indra penglihatan), tunarungu (kelainan pada pendengaran), dan Tunadaksa (cacat tubuh).

 

  1. KLASIFIKASI KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
  2. Tunanetra

Tunanetra tidak saja mereka yang buta tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat di manfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar. Jadi anak-anak dengan kondisi penglihatan yang termasuk “ setengah melihat” ‘low vision’ atau rabun adalah bagian dari anak tunanetra.

Dari uraian di atas pengertian anak tunanetra adalah individu yang indra penglihatanya(kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dlam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang awam. (Somantri.2007:65)

  1. Tunarungu

Tunarungu dapat diartiakn sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagi rangsangan terutama melalui indra pendengaran.

Andreas dwidjosumarto (1990:1) dalam somantri (2007:93) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak mampu atau kurang mendengar suara dikatakan tunarungu. Kekurangan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli dan kurang dengar. Tuli adalah mereka yang memiliki kerusakan pada indra pendengaran berat. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indra pendengarannyamengalami kerusakan tetapi masih bisa untuk mendengar baik dengan maupun tanpa alat bantu pendengar.

Mufti Salim (1984:8) dalam Somantri (2007:93) menyimpulkan anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangna atau kehilangan kemampuan mendengar disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan lahir dan batin yang layak.

Disimpulkan bahwa anak yang mengalami tunarungu adalah mereka yang keilangan pendengaran baik sebagian maupun keseluruhan yang mengakibatkan pendengaran tidak memiliki nilai fungsional didalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Tunadaksa

Tunadaksa berarti suatu keadaan yang tergangu sebagai akibat ganguan bentuk atau hambatan pada tulang,otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelekaan atau dpat juga disebabkan oleh bawaan sejak lahir(white housse confence,1931 dalam Somantri.2007:hal 121)

Tunadaksa sering diartikan sebagai suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat kerusakan atau ganguan pada tulang dan otot sehingga mengurangi kapasitas normal individu untuk mengikutu pendidikan dan untuk berdiri sendiri.

 

  1. CIRI-CIRI UMUM KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
  2. Keadaan tubuh tidak normal
  3. Kehidupanya tergantung kepada orang lain
  4. Membutuhkan perhatian secara khusus.

 

  1. CIRI-CIRI KELOMPOK MENURUT KLASIFIKASI ANAK KELAINAN FISIK

1.1 ANAK TUNANETRA

  1. CIRI-CIRI
  2. ciri-ciri anak tunanetra secara umum.
  3. Ketejaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang dewasa.
  4. Terjadi kekeruhan pada lensa mataatau terdapat cairan tertentu.
  5. Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak.
  6. Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan. Somantri, 2007:65
  7. Ciri-ciri anak Tunanetra total

Fisik

Keadaan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak sebaya lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanya terdapat pada organ penglihatannya.
Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik diantaranya:

  1. Mata juling
  2. Sering berkedip
  3. Menyipitkan (kelopak) mata
  4. Mata merah
  5. Mata infeksi
  6. Gerakan mata tak beraturan dan cepat
  7. Mata selalu berair (mengeluarkan air mata.
  8. Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.

Perilaku

Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini:

  1. Menggosok mata secara berlebihan.
  2. Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau mencondongkan kepala ke depan.
  3. Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat memerlukan penggunaan mata.
  4. Berkedip lebih banyak daripada biasanya atau lekas marah apabila mengerjakan suatu pekerjaan.
  5. Membawa bukunya ke dekat mata.
  6. Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh.
  7. Menyipitkan mata atau mengkerutkan dahi.
  8. Tidak tertarik perhatiannya pada objek penglihatan atau pada tugas-tugas yang memerlukan penglihatan seperti melihat gambar atau membaca.
  9. Janggal dalam bermain yang memerlukan kerjasama tangan dan mata.
  10. Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau memerlukan penglihatan jarak jauh.

Psikis

Secara psikhis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mental/intelektual
    Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
  2. Sosial

Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan orang lain terhadap dirinya.

 

  1. KLASIFIKASI ANAK TUNANETRA

klasifikasi anak tunanetra yang didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan, ciri-cirinya yaitu :

  1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
  2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
  3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.
  4. Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
  5. Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
  • Tunanetra akibat bawaan (partial sight bawaan)

Klasifikasi anak tuna netra berdasarkan kemampuan daya penglihatan,yaitu :

  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.
  3. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.
  • Menurut WHO, klasifikasi didasarkan pada pemeriksaan klinis, yaitu:
  1. Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
  2. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.
    Menurut Hathaway, klasifikasi didasarkan dari segi pendidikan, yaitu :
  3. Anak yang memiliki ketajaman penglihatan 20/70 atau kurang setelah memperoleh pelayanan medik.
  4. Anak yang mempunyai penyimpangan penglihatan dari yang normal dan menurut ahli mata dapat bermanfaat dengan menyediakan atau memberikan fasilitas pendidikan yang khusus.
  • Menurut Kirk (1962) mengutip klasifikasi ketunanetraan, yaitu :
  1. Anak yang buta total atau masih memiliki persepsi cahaya sampai dengan 2/2000, ia tidak dapat melihat gerak tangan pada jarak 3 kaki di depan wajahnya.
  2. Anak yang buta dengan ketajaman penglihatan sampai dengan 5/200, ia tidak dapat menghitung jari pada jarak 3 kaki di depan wajahnya.
  3. Anak yang masih dapat diharapkan untuk berjalan sendiri, yaitu yang memiliki ketajaman penglihatan sampai dengan 10/200, ia tidak dapat membaca huruf-huruf besar seperti judul berita pada koran.
  4. Anak yang mampu membaca huruf-huruf besar pada koran, yaitu yang memiliki ketajaman penglihatan sampai dengan 20/200, akan tetapi ia tidak dapat diharapkan untuk membaca huruf 14 point atau tipe yang lebih kecil.
  5. Anak yang memiliki penglihatan pada batas ketajaman penglihatan 20/200 atau lebih, akan tetapi ia tidak memiliki penglihatan cukup untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan penglihatan dan anak ini tidak dapat membaca huruf 10 point.

 

1.2 ANAK TUNARUNGU

  1. CIRI-CIRI

Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran:

  1. Tidak mampu mendengar,
  2. Terlambat perkembangan bahasa
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara
  5. Ucapan kata tidak jelas
  6. Kualitas suara aneh/monoton,
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar
  8. Banyak perhatian terhadap getaran,
  9. Keluar cairan ‘nanah’ dari kedua telinga.
  10. KLASIFIKASI

Tuli dalam kedokteran dibagi atas 3 jenis:

  1. Tuli/Gangguan Dengar Konduktif adalah gangguan dengar yang disebabkan kelainan di telinga bagian luar dan/atau telinga bagian tengah, sedangkan saraf pendengarannya masih baik, dapat terjadi pada orang dengan infeksi telinga tengah, infeksi telinga luar atau adanya serumen di liang telinga.
  2. Tuli/Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar akibat kerusakan saraf pendengaran, meskipun tidak ada gangguan di telinga bagian luar atau tengah.
  3. Tuli/Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan campuran kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.Untuk menentukan jenis dan derajat ketulian dapat diperiksa dengan audiometri.

 

1.3 ANAK TUNADAKSA

  1. CIRI-CIRI ( bawaan dan kecelakaan )
  2. Tangan dan kaki sangat lentur dan berbeda  dibandingkan anak lain
  3. Anak memiliki bentuk wajah yang tidaklazim dengan mata miring, lidah tebal,leher mungkin juga pendek
  4. Mata mendekat pada hidung atau menjauh dari sudut normal . Mata anak juga terlihat berbeda dari berbagai  arah
  5. Mata selalu terbuka (melotot) atau malah selalu tertutup
  6. Anak sulit untuk menghisap, tidak mau minum atau memiliki masalah dengan mulut dan tidak mampu menghisap melalui botol susu atau puting susu ibunya
  7. Bagian ata bibir atau langit-langit mulut terbuka atau seperti terpotong
  8. Kepala anak terlalu besar dibandingkan tubuhnya dan berkembang lebih cepat dari bagian-bagian lain tubuhnya.
  9. Satu tangan lemah dan lambat dan terlihat dalam posisi aneh. Kaki anak pada sisi yang sama juga terlihat lambat
  10. Satu atau kedua kaki atau tangan selalu berputar menghadap atau berbalik ke belakang
  11. Ditemukan benjolan dipunggung anak. Kedua kaki anak juga dapat terlihat aneh posisinya dan tidak dapat digerakkan, anak tidak merasa jika kakinya disentuh.
  12. Pada anak ditemukan juga benjolan sekitar pusar khususnya pada saat anak menangis
  13. Testis anak laki-laki membesar dan bengkak

 

  1. KLASIFIKASI
    menurut Frances G. Keoning, dalam Somantri 2007:123. Tuna daksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  2. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan keturunan, meliputi:
  • Club-foot (kaki seperti tongkat)
  • Club-hand (tangan seperti tongkat)
  • Polydactylism (jari yang lebig dari lima pada masing-masing tangan atau kaki)
  • Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya)
  • Torticolis (ganggun pada leher sehingga kepala terkulai ke muka)
  • Spina-bivida (sebagian dari sumsum tulang belakang tidak tertutup)
  • Cretinism (kerdil/katai)
  • Mycrocephalus (kepala yang besar berisi cairan)
  • Clefpalats (langit-langit mulut yang berlubang)
  • Herelip (gangguan pada bibir dan mulut)
  • Congenital hip dislocation (kelumpuhan pada bagian paha)
  • Congenital amputation (bayi lahir tanpa anggota tubuh tertentu)
  • Fredresich ataxia (gangguan pada sumsum tulang belakang)
  • Coxa valfa (gangguan pada sendi paha terlalu besar)
  • Syphilis (kerusakan tulang dan sendi akibat penyakit syphilis)
  1. Kerusakan pada waktu kelahiran:
  • Erb’s palsy (kerusakan pada saraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran)
  • Frangilitas osium (turang yang rapuh dan mudah patah)

 

  1. Infeksi:
  • Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku)
  • Osteomyelitis (radang didalam dan di sekeliling sumsum tulang karena bakteri)
  • Poliomyelitis (infeksi firus yang mungkin menyebabkan kelumpuhan)
  • Pott‘s disease (tuberkolosis tulang belakang)
  • Still’s disease (radang pada tulang yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tulang)
  1. Kondisi traumatik atau kerusakan traumatik:
  • Amputasi (anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan)
  • Kecelakaan akibat luka bakar
  • Patah tulang
  1. Kondisi-kondisi lainnya:
  • Belakang yang cekung)
  • Flatfeet (telapak kaki yang rata tidak berbentuk)
  • Kyphosis (bagian sum-sum tulang belakang yang cekung)

 

  1. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
    1. Tunanetra

Keunggulan anak tunanetra

yaitu kepekaan terhadap suara, perabaan, ingatan yang tinggi, ketrampilan dalam memainkan alat musik, serta ketertarikan tinggi terhadap nilai-nilai dan norma dan agama.

Kelemahan anak tunanetra

  1. Perkembangan kognitif anak tunanetra cenderung terhambat.
  2. Memiliki keterbatasan atau ketidak mampuan dalam menerima rangsangan atau informasi dari luar dirinya melalui indra penglihatanya. Tetapi penerima rangsangan hanya dapat dilakukan lewat pemanfaatan indra-indra lain.(somantri,2007:68)
  3. Dalam hal rangsangan yang berada dari luar dirinya tidak diperoleh secara utuh. Krtidak tahuan tersebut disebabkan anak tidak memiliki kesan,presepsi, pengertian, ingatan dan pemahaman yang bersivat visual terhadap objek yang diamati. (somantri,2007:68)
  4. Beberapa konsep mungkin tidak dikenalnya: konsep warna, arah, jarak, dan waktu adalah contoh-contoh konsep yang dikuasai tunanetra secara verbal saja, hanya berdasarkan pada apa yang dikatakan orang lain kepadanya.(somantri,2007:69)
  5. Komunikasi nonverbal pada tunanetra juga merupakan hal yang kurang dipahami karena kemampuan ini sangat tergantung pada stimulus visual dari lingkungannya.(somantri,2007:69)

 

  1. Tunarungu

Keunggulan anak tunarungu, mereka memiliki kekurangan dalam indra pendengaran, tetapi mereka bisa mengembangkan dalam bidang lain, contohnya ada seorang anak Fajar Malik, Crosser Tuna Rungu di Kejurnas Motocross sukses dalam bidang olah raga.

 

Kelemahan anak tunarungu,

  1. Hanya bisa menggunakan media tulis dan bacaan sebagi sarana penerimaannya.
  2. Menggunakan isyarat sebagai media.
  3. Hanya bisa memahami secara nonverbal dan secara verbal tidak bisa.

 

  1. Tunadaksa

Keunggulan anak tunadaksa, mereka memiliki kekurangan yaitu cacat tubuh tetapi mereka mempunyai keunggulan dalam bidang lain seperti, seni, musik,dll.

Kelemahan anak tunadaksa,

  1. Tidak dapat melakukan aktivitas seperti manusia normal.
  2. Memiliki kekurangan dalam melakukan aktifitas yang menggunakan bagian tubuh yang cacat.

 

  1. MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
  2. Masalah Anak Tunanetra
  3. Masalah pendidikan

Contoh:

Masalah yang berkaitan dengan bagaimana kesadaran ruang (batasan wilayah ruang gerak) pada anak tunanetra sejak lahir.

Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya secara brlebihan.

Masalah intelegensi (IQ) anak tunanetra lebih rendah karena hanya dapat memahami dari segi verbalnya saja.

  1. Masalah sosial

Contoh:

Jika di lingkungan sosial memiliki perasaan rendah diri ,malu sikap-siakp masyrakat yang sering kali yang tidak menguntungkan seprti menolak, menghina sikap tak acuh, ketidakjelasan tuntutan sosial.

Kesulitan lain dalam melaksanakan tugas.perkembangan sosial ialah keterbatasan anak tunanetra untuk dapat belajar sosial melalui proses identifikasi dan imitasi.

  1. Masalah emosi

Contoh:

Kemempuan untuk memberi respon secara emosional suda dijumpai sejak lahir.mula-mula tak deferiansi/ random dan cendrung ditampilkan dalam bentuk perilaku atau respon motori menuju ke arah terdeferensiasi dan dinyatakan dalam respon yang bersifat verbal.

 

  1. Masalah Anak tunarungu
  2. Bagi diri sendiri

Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung kiasan dan memehami kata-kata yang abstrak.

  1. Masalah sosial

sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan.

  1. perkembangan anak

ketidakmampuan dalam menerima rangsangan pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktepatan emosi, dan keterbatasan intelegensi, dihubungkan dengan sifat lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya

 

  1. Masalah anak tunadaksa
  2. Fisik

Tidak dapat melakukan aktifitas secara umum seperti biasanya karna memiliki cacat tubuh

  1. kognitif

Bila ketunadaksaan terjadi pada anak yang usuianya masih musa menunjukan pengaruh yang berarti terhadap kemepuaan individu.

Memiliki hambatan dalam perkembangan individu sehingga ia mengalami kesulitan dalam berkembang dari satu tahap ke tahap yang berikutnya..

 

  1. PENYEBAB TERJADINYA KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
  2. Penyebab Terjadinya Tunanetra

Secara ilmiah ketunanetraan anak dapat  disebabkan oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selam masih dalam kandungan. Kemungkinanya karna faktor gen, kondisi psikis ibu kekurangan gizi, keracuanan obat dll.Faktor eksternalnya adalah saat bayi sudah dilahirkan misalnya kecelakaan , terkena penyakit sipilis yang mengenai mata saat diklahirkan, pengaruh alat bantu medis saat dilahirkansehingga sistem syarafnya rusak , kurang gizi , terkena racun bakteri ataupun virus.

 

  1. Penyebeb Terjadinya Tunarungu

Untuk lebih jelasnya faktor-faktor penyebab ketunarunguan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Faktor dalam diri anak
  2. Disebabkan oleh faktor keturunan dari salah satu atau kedua orangtuanya yang mengalami ketunarunguan,
  3. Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit Campak Jerman (Rubella),
  4. Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah atau Toxaminia.
  5. Faktor luar diri anak
  6. Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran. Misal, anak terserang Herpes Implex,
  7. Meningitis atau radang selaput otak,
  8. Otitis media (radang telinga bagian tengah),
  9. Penyakit lain atau kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian tengah dan dalam.

 

  1. Penyebab Terjadinya Tunadaksa

Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada anak hingga menjadi tunadaksa. Kerusakan tersebuta da yang terletak di jaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem musculus skeletal. Adanya keragaman jenis tunadaksa dan masing-masing kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.

 

Sebab-sebab  SebelumLahir (Fase Prenatal)

  1. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya, misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis.
  2. Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusat tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak.
  3. Bayi dalam kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu.
  4. Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan perutnya membentur yang cukup keras dan secara kebetulan mengganggu kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat.

Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal, peri natal)

  1. Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu kecil sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen menyebabkan terganggunya sistem metabolism dalam otak bayi, akibatnya jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
  2. Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak pada bayi.
  3. Pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem syaraf otak bayi, sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya.

 

Sebab-sebab setelah Proses kelahiran (fase post natal)

Fase setelah kelahiran adalah   masa  mulai bayi dilahirkan sampai masa perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun. Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:Kecelakaan/trauma kepala, amputasiInfeksi penyakit yang menyerang otak.

 

  1. DAMPAK JIKA MASALAH KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK TIDAK DITANGANI
  2. Dampak Jika Masalah Tunanetra Tidak Ditangani

Di samping itu, dampak ketunanetraan dapat terjadi pada beberapa aspek, seperti aspek psikologis, aspek fisik atau aspek emosi dan sosial. Berikut ini akan dibahas dampak ketunanetraan terhadap perkembangan dan pertumbuhan berbagai aspek.

Dampak terhadap Perkembangan Motorik

  1. Ketunanetraan itu sendiri tidak mempengaruhi secara langsung terhadap perkembangan dan pertumbuhan fisik yang menyebabkan anak tunanetra mengalami hambatan atau keterlambatan. Perkembangan motorik anak tunanetra pada bulan-bulan awal tidak berbeda dengan anak awas (Scholl, 1986: 73). Tetapi perkembangan selanjutnya perkembangan motorik anak tunanetra tampak berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya stimulasi visual, ketidakmampuan menirukan orang lain, dan pengaruh faktor lingkungan.
  2. Dampak terhadap Perkembangan Kognitif

Kognitif adalah persepsi individu tentang orang lain dan obyek-obyek yang diorganisasikannya secara selektif. Respon individu terhadap orang dan obyek tergantung pada bagaimana orang dan obyek tersebut tampak dalam dunia kognitifnya, dan dunia setiap orang itu bersifat individual. karena tunanetra harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan inderaindera lainnya untuk mempersepsi lingkungannya dan banyak di antara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga konsep tentang dunia ini mungkin berbeda dari konsep orang awas pada umumnya.

  1. Dampak terhadap Keterampilan Sosial

Orang tua mempunyai peran penting dalam perkembangan sosial anak. Perlakuan orang tua terhadap anaknya yang tunanetra sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap ketunanetraan itu, dan emosi merupakan satu komponen dari sikap di samping dua komponen lainnya yaitu kognisi dan kecenderungan tindakan. Ketunanetraan yang terjadi pada seorang anak selalu menimbulkan masalah emosional pada orang tuanya. Ayah dan ibunya akan merasa kecewa, sedih, malu dan berbagai bentuk emosi lainnya. Mereka mungkin akan merasa bersalah atau saling menyalahkan, mungkin akan diliputi oleh rasa marah yang dapat meledak dalam berbagai cara. Persoalan seperti ini terjadi pada banyak keluarga yang mempunyai anak cacat. Pada umumnya orang tua akan mengalami masa duka karena anaknya yang cacat itu dalam tiga tahap; tahap penolakan, tahap penyesalan, dan akhirnya tahap penerimaan, meskipun untuk orang tua tertentu penerimaan itu mungkin akan tercapai setelah bertahun-tahun. Proses dukacita ini merupakan proses yang umum terjadi pada orang tua anak cacat. Sikap orang tua tersebut akan berpengaruh terhadap hubungan di antara mereka (ayah dan ibu) dan hubungan mereka dengan anak itu, dan hubungan tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak.

 

  1. Dampak Jika Masalah Tunarungu Tidak Ditangani
  2. Bagi anak tunarungu sendiri

Sehubungan dengan karakteristik tunarungu yaitu miskin dalam kosakata, sulit memahami kata-kata abstrak, sulit mengartikan kata- kata yang mengandung kiasan, adanya gangguan bicara, maka hal- hal itu merupakan sumber masalah pokok bagi anak tersebut.

 

  1. Bagi keluarga

Lingkungan keluarga merupakan faktor yang mempunyai pengaruh penting dan kuat terhadap perkembangan anak terutama anak luar biasa. Anak ini mengalami hambatan sehingga mereka akan sulit menerima norma lingkunggannya. Berhasil tidaknya anak tunarungu melaksanakan tugasnya sangat tergantung pada bimbingan dan pengaruh keluarga. Tidaklah mudah bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa anaknya menderita kelainan/ cacat. Reaksi pertama orang tua mengetahui bahwa anaknya menderita tunarungu adalah merasa terpukul dan bingung. Reaksi ini kemudian diikuti dengan reaksi lain.

  1. Bagi masyarakat

Pada umumnya orang masih berpendapat bahwa anak tuna rungu tidak dapat berbuat apapun. Pandangan yang semacam ini sangat merugikan anak tunarungu. Karena adanya pandangan ini biasanya dapat kita lihat sulitya anak tunarungu untuk memperoleh lapangan pekerjaan. Disamping pandangan karena ketidakmampuannya tadi, ia sulit bersaing dengan orang normal.

Kesulitan memeperoleh pekerjaan di masyarakat mengakibatkan timbulya kecemasan, baik dari anak itu sendiri maupun dari keluarganya, sehingga lembaga pendidikan dianggap tidak dapat berbuat sesuatu karena anak tidak dapt bekerja sebagaimana bisanya. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya dapat memerhatikan kemampuan yang dimilki anak tunarungu walaupun hanya merupakan sebagian kecil dari pekerjaan yang telah lazim dilakukan oleh orang normal.

 

  1. Dampak Jika Masalah Tunadaksa Tidak Ditangani
  2. Dampak yang dialamioleh anak tunadaksa yaitu dalam proses perkembangan fisiknya akan mengalami gangguan karena ia tidak dapat melakukan aktifitas seperti anak pada umumnya, jika di tangani dengan baik maka anak yang mengalami tunadaksa yaitu kerusakan bagian tubuh tertentu dapat dikompensasikan atau digantikan dengan bagian tubuh lainnya.
  3. Dampak bagi perkembangan koknitif anak tunadaksa yaitu gangguan dan hambatan dalam kemampuan motorik, jika ditangani dengan baik anak tunadaksa maka kadaan psikologisnya tidak akan mengalami pengaruh yang besar.

 

  1. UPAYA UNTUK MENANGANI KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK

Sekolah Khusus / Sekolah Luar Biasa (SLB)

Sekolah Luar Biasa ialah satuan pendidikan yang menyelenggagarakan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jenis ketunaan yang dilayani adalah  semua jenis ketunaan, yang proses pembelajarannya dikelompokkan berdasarkan masing-masing jenis ketunaan.  Misalnya dalam sekolah tersebut ada anak tunanetra, tunarungu dan ketunaan lainnya, maka anak tunanetra belajar dengan tunanetra lainya dan terpisah dengan dengan anak tunarungu atau ketunaan lainnya.

Dalam SLB satu atap menyelenggarakan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus mulai jenjang:

TKLB     selama 2-3 tahun

SDLB    selama  6   tahun

SMPLB  selama  3   tahun

SMALB  selama  3   tahun

Pada kurikulum SLB selain pendidikan akademis dan ketrampilan ada juga program khusus. Program Khusus ini diberikan berdasarkan jenis ketunaan. Adapun program khusus untuk anak berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut:

  1. Orientasi dan Mobilitas                                               : untuk tunanetra
  2. Bina Komunikasi Persepsi  Bunyi dan Irama             : untuk tunarungu
  3. Kemampuan Merawat Diri/Bina Diri                          : untuk tunagrahita
  4. Bina Gerak                                                                  : untuk tunadaksa
  5. Bina Pribadi dan Sosial                                               : untuk anak tunalaras
  1. BK UNTUK MENANGANI KELOMPOK ANAK KELAINAN FISIK
  2. Ancangan Konseling Yang Sesuai Untuk Menangani Kelompok Anak Kelainan Fisik

 

Ancangan konseling yang diambil yaitu untuk menangani anak-anak berkelainan di defenisikan sebagai anak yang berbeda dari rata-rata umumnya,dikarenakan ada permasalahan dalam kemampuan berfikir, emoso, penglihatan, pendengaran, sosialisasi, dan bergerak.

Proses konseling dapat dilakukan dengan kolaborasi guru SLB kusus Tunarungu dan Tunanetra.

 

  1. Konsep Dasar
  2. REFRAMING

Setiap orang mempunyai perspektif-perspektif yang berbeda, dan cara orang lain memandang segala sesuatu mungkin berbeda dengan cara kita memandang segala sesuatu. Sebuah frame dapat merujuk kepada suatu keyakinan, apa yang membatasi pandangan meraka tentang dunia. Mereka mengeinterpretasikan peristiwa-peristiwa saat mereka melihatnya, akan tetapi yang sering terjadi adalah mereka melihatnya dari posisi mereka yang sedang mengalami depresi atau harga diri rendah. Terkait dengan hal tersebut, konselor dapat mengubah cara konseli memandang peristiwa-peristiwa atau situasi dengan megubah kerangka pandang (reframing) gambaran yang dijelaskan konseli. Reframing merupakan salah satu metode dari pendekatan konseling kogntif bahavior yang bertujuan mereorganisair content emosi yang dipikirkannya dan mengarahkan/membingkai kembali ke arah pikiran yang rasional, sehingga kita dapat mengerti berbagai sudut pandang dalam konsep diri/konsep kognitif dalam berbagai situasi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa reframing adalah suatu pendekatan yang mengubah atau menyusun kembali persepsi atau cara pandang konseli terhadap masalah atau tingkah laku dan untuk membantu konseli membentuk atau mengembangkan pikiran lain yang berbeda tentang dirinya.

  1. POSITIVE REINFORCEMENT

Reinforcement Theory ini merupakan suatu pendekatan psikologi yang sangat penting bagi manusia.Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang itu dapat menentukan, memilih dan mengambil keputusan dalam dinamika kehidupan. Teori ini bisa digunakan pada berbagai macam situasi yang seringkali dihadapi manusia.
Reinforcement Theory ini mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu adalah hasil kompilasi dari pengalaman-pengalaman yang ia temui sebelumnya, yang paling mudah yang bisa saya gambarkan disini adalah bagaimana sikap yang diambil oleh seorang siswa di dalam kelas. Asumsikan bahwa sang guru sudah menjelaskan seperangkap aturan yang harus ditaati oleh siswa di dalam kelas. Suatu ketika, seorang siswa berteriak di dalam kelas. Maka sang guru langsung memberikan hukuman kepada siswa tersebut. Dari hukuman itu, siswa tadi akan merubah sikapnya untuk tidak berteriak lagi. Juga demikian, kepada siswa yang tekun mengikuti pelajaran di dalam kelas, maka sang guru memberikan kepada mereka semacam hadiah atau penghargaan. Jika sistem ini berjalan dalam jangka waktu tertentu, maka keadaan siswa tadi pasti akan konvergen untuk mengambil sikap yang baik di dalam kelas.

Adalah suatu peristiwa yang bila hadir mengikuti suatu perilaku tertentu dapat menyebabkan perilaku tersebut akan diulangi.

 

  1. Tujuan Konseling
  2. REFRAMING
  • Reframing dimaksudkan untuk memperluas gambaran konseli tentang dunianya dan untuk memungkinkannya mempersepsi situasinya secara berbeda dengan cara yang lebih konstruktif.
  • Memberi cara pandang terhadap konseli dengan cara pandang yang baru dan positif.
  • Mengubah keyakinan/pikiran/cara pandang konseli dari negatif irasional menjadi positive rasional.
  • Membingkai ulang cara pandang konseli, dari:
  • Sebuah masalah sebagai peluang
  • Sebuah kelemahan sebagai kekuatan
  • Sebuah kemustahilan sebagai kemungkinan yang jauh
  • Kemungkinan jauh sebagai kemungkinan dekat
  • Penindasan (‘terhadap saya’) sebagai netral (‘tidak peduli tentang saya’)
  • Perbuatan buruk karena kurangnya pemahaman.

 

  1. POSITIVE REINFORCEMENT

Adapun tujuan dari teknik renforcement dengan teknik kontrak prilaku ini antara lain adalah:

  • Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya
  • Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
  • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan

 

  1. Teknik Konseling yang Relevan
  2. REFRAMING

Meaning reframing, yaitu mengubah cara pandang secara maknawi dengan cara mencari arti/ makna lain (meganton & tarmizi, 2001:54)

  1. POSITIVE REINFORCEMENT

Positive reinforcement, yaitu bisa dilakukan dengan teknik Kontrak  prilaku.

 

  1. Deskripsikan Langkah-langkah Pelaksanaan
  2. REFRAMING

Tahapan/ langkah-langkah strategi reframing adalah meliputi:

  • rasional yang memperkenalkan strategi reframing kepada konseli dan menjelaskan maksud dari penggunaannya,
  • Identifikasi masalah, prilaku, respon yang akan dimulai.
  • Membangun komunikasi pada bagian yang bertanggung jawab untuk prilaku masa atau respon.
  • Menanyakan kepada diri, apakah bisa diterima atau tidak jika dilakukan pengubahan prspekstif terhadap suatu hal yang menyebabkan masalah, prilaku respon tersebut.
  • Meminta orang lain untuk memberikan berbagai macam alternatif perspektif.
  • Menanyakan kepada diri sendiri apakah diri setuju atau sepakat jika menerapkan alternatif perspektif lain terhadap suatu hal.
  • Memeriksa kembali apakah ada bagian diri yang keberatan dengan menerapkan alternatif perspektif lain.
  • Ciptakan komitmen dan mencoba proses.

 

  1. POSITIVE REINFORCEMENT

Langkah-langkah lewat teknik kontrak prilaku yaitu:

  • Pilih tingkah laku yang akan di ubah lewat analisis ABC
  • Tentukan data awal yang akan di ubah atau tingkah laku yang akan diubah
  • Tentukan jenis penguatan yang akan diterapkan
  • Berikan reisforcement setiap kali tingkah laku yang diinginkan ditampilkan sesuai jadwal kontrak
  • Berikan penguatan setiap tingkah laku yang ditampilkan menetap.

 

Langkah-langkah lebih rinci:

  • Pilih prilaku yang dikehendaki.
  • Menjelaskan prilaku tersebut.
  • Identivikasi ganjaran yang akan mendorong klien untuk melakukan prilaku yang dikehendaki dengan menyediakan menu penguatan reward diberikan dengan sengaja, memiliki daya prediktif hasil/ganjaran harus berfrekuensi.
  • Tetapkan orang yang dapat memberikan reward/membantu konselor menjaga berjalannya prilaku yang akan dikehendaki
  • Tulis kontrak secara sistematis dan jelas sehingga pihak yang terlibat dapat memahami isi serta tujuannya.
  • Pengumpulan data.
  • Adanya cara jika data yang dikumpulkan/ prilaku yang dikehendaki tidak muncul.
  • Tulis kembali kontrak ketika tujuan tidak tercapai.
  • Pilihlah prilaku laian yang mungkin dapat dilakukan klien mencapai tujuan.

 

  1. Pengertian

Menurut Kaufimam dan Hallahan (1986), mengatakan bahwa tunagrahita “keterbelakangan mental menunjukkan fungsi  intelektual  dibawa rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan  terjadi pada masa perkembangan. Anak tunagrahita anak yang diidentifikasi memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (dibawah normal)sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara khusus, terutama di dalamnya kebutuhan program pendidikan dan bimbingannya.

Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Somantri,2006:103). Istilah lain untuk siswa (anak) tunagrahita dengan sebutan anak dengan hendaya perkembangan. Diambil dari kata Children with developmental impairment. Kata impairment diartikan sebagai hendaya atau penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan,nilai,kualitas, dan kuantitas (American Heritage Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie:2006:113).

Sedangkan pengertian tunalaras menurut Depertemen Pendidikan Kebudayaan (1977: 13) yaitu “ Anak yang berumur antara 6-17 tahun dengan karakteristik bahwa anak tersebut mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga,sekolah dan masyarakat”.

Kauffman (1977)Mengemukakan batasan anak yang mengalami gangguan perilaku sebagai anak yang secara nyata dan menahan merespon lingkungan tanpa ada kepuasaan pribadi namun masih dapat diajakkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan pribadinya.

Anak tunalaras juga dapat diartikan sebagai anak-anak yang mengalami gangguan perilaku,yang ditunjukkan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari,baik di sekolah maupun dalam lingkungan sosialnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tunagrahita adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbatasan dalam  aspek fisik ,aspek  intelektual dan aspek keterbatasan dalam hal penyesuaian diri  yang menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan seperti yang semestinya pada anak lainnya atau anak yang normal. Sedangkan tunalaras adalah anak berkebutuhan khusus yang tidak mengalami keterbatasan pada aspek fisik namun mengalami keterbatasan dalam hal perilaku yang sejumlah gangguan perilaku yang menyebabkan kurangnya kemampuan dalam menyesuaikan diri baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

 

  1. Klasifikasi Kelompok Khusus Anak Berkelainan Mental Emosional (Tunagrahita Dan Tunalaras)
  2. Klasifikasi anak tunagrahita

Ada beberapa klasifikasi atau pengelompokan tunagrahita berdasarkan berbagai tinjauannnya :

  • Berdasarkan kapasitas intelektual (sekor IQ)
  1. Tunagrahita ringan IQ 50-70
  2. Tugrahita sedang IQ 35-50
  3. Tugarahita berat IQ 20-35
  4. Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 20
  • Berdasarkan kemampuan akademik
  1. Tunagrahita mampu didik
  2. Tunagrahita mampu latih
  3. Tunagrahita perlu rawat
  • Berdasarkan tipe klini pada fisik
  1. Down’s syndrome (mongolism )
  2. Macro cephalic (hidro cephalic)
  3. Micro cephalic

 

  1. Klasifikasi anak tunalaras

Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan perilaku social ini adalah :

  • Berdasarkan perilakunya :
  1. Beresiko tinggi: hiperaktif suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak diri sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerja sama dll.
  2. Beresiko rendah :kuatir,cemas,ketakutan,merasa tetekan,tidak mau bergaul dll.
  3. Kurang dewasa :suka berfantasi,berangan-angan,mudah di pengaruhi, kaku, suka mengantuk,mudah bosan dan sebagainya.
  4. Agresif : memiliki gang jahat, suka mencuri dengan kelompoknya,loyal terhadap teman jahatnya,sering bolos sekolah,sering pulang larut malam,dan terbiasa minggat dari rumah.
  • Berdasarkan kepribadiannya :
  1. Kekacauan perilaku
  2. Menarik diri (withdrawll)
  3. Ketidak matangan (immaturity)
  4. Agresi sosial
  5. Ciri-ciri Umum Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras)

Karakteristik Penderita Tunagrahita

  1. Intelektual

Dalam pencapaian tingkat kecredasan bagi tunagrahita selalu dibawah rata-rata dengan anak yang seusia, demikian juga perkembangan kecerdasan sangat terbatas. Mereka hanya mampu mencapai tingkat usia mental setingkat mental usia anak sekolah dasar.

  1. Segi sosial

Dalam kemampuan bidang sosial juga mengalami kelambatan dibandingkan dengan anak normal sebaya.hal ini di tunjukkan dengan pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri. Waktu kanak-kanak mereka harus dibantu treus menerus, disuapi makanan, dipasangkan dan ditanggalkan pakaiannya, diawasi terus menerus, setelah dewasa kepentingan ekonomi sangat tergantung pada orang lain.

  1. Ciri pada fungsi mental lainnya

Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas.pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu ingatan, kurang mampu mebuat asosiasi serta sukar membuat kreasi baru.

  1. Ciri dorongan dan emosi

Perkembangan dorongan emosi anak tunagarhita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya masing-masing.Anak yang berat dan sangat bera ketunagrahitaannya hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri, dalam keadaan haus dan lapar tidak menunjukkan tanda-tandanya. Mendapat perangsang yang menyakitkan tidak mampu menjauh dari perangsang tersebut. Kehidupan emosinya lemah, dorongan biologisnya dapat berkembang tapi penghayatannya terbatas padaperasaan senang, takut, marah, dan benci. Anak yang tidak terlalu berat ketunagrahiataannya mempunyai kehidupan emosi yang hampir sama dengan anak normal tetapi kurang kaya, kurang kuat,kurang beragam, kurang mampu menghayati perasaan bangga, tanggung jawab, dan hak sosial.

  1. Ciri kemampuan dalam bahasa

Kemampuan bahaa sangt terbatas perbendaharaan kata erutama kata yang abstrak. Pada anak yang ketunagrahitaannya semakin berat banyak yang mengalami gangguan bicara disebabkan cacat artikulasi dan problem dalam pembentukan bunyi.

  1. Ciri dalam bidang akademis

Mereka sulit membaca dan kemampuan menghitung yang problematis, tetapi dapat dilatih dalam menghitung yang bersifat perhitungan.

  1. Ciri kepribadian

Kepribadian anak tunagrahita dari berbagai penelitian oleh Leahi, Balla, dan Zigler (Hallanhan dan Kauffman, 1988:69) bahwa anak yang merasa retarded tidak percaya kemampuannya, tidak mampu mengontrol dan mengarahkan dirinya sehingga lebih banyak bergantung pada pihak luar. Mereka tidak mampu untuk mengarahkan diri sehingga segala sesuatu yang terjadi pada dirinya bergantung pengarahan dari la uar.

  1. Ciri kemampuan dalam organisme

Kemampuan anak untuk mengorganisasi keadaan dirinya sangat jelek, terutama pada anak tunagrahita yang kategori berat. Hal ini ditunjukan dengan baru dapat berjalan dan bicara pada usia dewasa namun gerak langkahnya tidak serasi, penglihatan dan pendengarannya tidak dapat difungsikan, kurang renta terhada perasaan sakit, bau yang tidak enak, serta makanan yang idak enak.

 

Sedangkan karakteristik yang spesifik berdasarkan berat ringannya kelainan dapat dikemukan sbb:

  1. Mampu didik

Mampudidik merupakan istilah pendidikan yang digunakan  mengelompokkan tunagrahita ringan. Mampudidik memiliki kapasitas intelegensi antar 50-70 pada skala binet maupun weschler. Mereka masih mempunyai kemampuan untuk dididik dlalam bidang akademikyang sederhana (dasar) yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Anak mampudidik kemampuan maksimalnya setara dengan anak uisa 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapatkan layanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampudidik akan lulus sekolah dasar.

  1. Mampu latih

Tunagrahita mampu latih secara fisik sering memiliki atau disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motori, bahkan hampir semua anak yang memiliki tipe kelainan dengan tipe klinik masuk pada kelompok mampulatih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak mampulatih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak normal sebaya, anak mampulatih mempunyai kapasitas intelegensi (IQ) berkisar antara 30-50, kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas 2 SD.

  1. Perlu rawat

Anak perlurawat adalah klasifikasi tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut anak idiot. Anak perlurawat memiliki kapasitas intelegensi di bawah 25 dan sudah tidak mampu dilatih keterampilannya. Anak ini hanya mampu dilatih pembiasaan (conditioning) dalam kehidupan sehari-hari. Seumur hidupnya tidak dapat terlepas dari orang lain.

 

Karakteristik Penderita Tunalaras

Anak tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sosialnya. Pada hakekatnya anak-anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual yang normal, atau tidak di bawah rata-rata. Kelainan lebih banyak terjadi pada perilaku sosialnya.

  1. Karakteristik umum
  • Mengalami gangguan perilaku; suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerja sama, sok aksi, ingin menguasai orang lain, mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka mencuri, mengejek dan sebagainya.
  • Mengalami kecemasan; kawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri, kurang PD, bimbang, sering menangis, dan malu
  • Kurang dewasa; suka berfantasi, berangan-angan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, suka mengantuk, mudah bosan dan sebagainya.
  • Agresif; memiliki geng jahat, suka mencuri dengan kelompoknya, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
  1. Sosial/emosi
  • Sering melanggar norma masyarakat
  • Sering mengganggu dan bersifat agresif
  • Secara emosional sering merasa rendah diri dan mengalami kecemasan.
  1. Karakteristik akademik
  • Hasil belajarnya selalu di bawah rata-rata
  • Seringkali tidak naik kelas
  • Sering membolos sekolah
  • Seringkali melanggar peraturan sekolah dan lalulintas

 

  1. Ciri-Ciri Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras) Menurut Klasifikasi
  2. Klasifikasi anak tunagrahita

Adabeberapa klasifikasi atau pengelompokan tunagrahita berdasarkan berbagai tinjauannnya :

  • Berdasarkan kapasitas intelektual (sekor IQ)
  • Tunagrahita ringan ;tingkat kecerdasan (IQ)mereka berkisar 50-70
  • Tunagrahita sedang ; tingkat kecerdasan (IQ)mereka berkisar 35-50
  • Tunagrahita berat      ; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 20-35
  • Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 20
  • Berdasarkan kemampuan akademik
  • Tunagrahita mampudidik, Anak ini setingkat mild,borderline,marginally dependent,moron,dan debil.IQ mereka berkisar50/55-70/75.
  • Tunagrahita mampulatih, setingkat dengan morderate,semi dependent,imbesil,dan memiliki tingkat kecerdasan IQ berkisar 20/25-50/55
  • Tunagrahita perlurawat, mereka termasuk totallydependent or profoundly mentally retarded,severe,idiot,dan tingkat kecerdasannya 0/5-20/25
  • Berdasarkan tipe klini pada fisik
  • Down syndrom(dahulu disebut mongoloid)

Pada tipe ini terlihat raut rupanya menyerupai orang mongol dengan cirri : mata sipit dan miring,lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar,telinga kecil,tangan kering,semakin dewasa kulitnya semakin kasar,pipi bulat,bibir tebal dan besar,tangan bulat dan lemah,kecil,tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak pendek.

  • Macro cephalic

Bentuk ukuran kepala lebih besar dari ukuran normal

  • Micro cephalic

Bentuk ukuran kepala yang kecil

 

  1. Keunggulan dan Kelemahan Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras)

Keunggulan :

Tergantung dari guru yang mengasuh anak tersebut dalam artian bahwa kalau gurunya memang total atau kreatif pasti bisa membuat anak tunagrahita dan tunalaras mampu merubah kekurangan mereka menjadi keunggulan tersendiri.

Contoh (tunagrahita)  : Tunagrahita bisa dilatih kemampuan motoriknya dan kalau bisa/mampu mungkin bisa diajarkan bermain jenis bola misalnya bola  kaki menjadi bakat anak itu hingga menjadi pemain bola yang professional.

Contoh (tunalaras)  : Tunalaras, sebelumnya  mereka ini tidak mengalami masalah dalam hal IQ sehingga untuk lebih baiknya dianjurkan mengikuti kegiatan bela diri yang bertujuan untuk melatih kemampuan mereka.

KELEMAHAN YANG DI ALAMI OLEH TUNAGRAHITA

  1. Daya konsentrasi terbatas Kemampuan anak untuk memusatkan perhatian sangat terbatas. Sensitif terhadap rangsangan dari luar, karenanya mudah teralihkan perhatiannya dan tidak tahan belajar dalam waktu yang relatif lama.
  2. Kurang mampu belajar dari pengalaman Artinya sulit belajar dari pengalamannya sendiri maupun orang lain, karena itu cenderung mengulang kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya.
  3. Kurang motivasi Motivasi belajarnya rendah, karena itu cenderung cepat bosan, malas, bahkan sering meninggalkan kelas dengan berbagai alasan.
  4. Kurang disiplin Anak tunalaras cenderung tidak mau bahkan menentang otoritas sekolah melalui aturan-aturan atau tata tertib yang diberlakukan. Mereka cenderung ingin bebas dan menuruti kemauannya sendiri.
  5. Kurang memiliki motif berprestasi Anak tunalaras cenderung mau belajar karena terpaksa, sehingga motivasi untuk dapat mencapai prestasi akademik yang tinggi juga kurang atau bahkan sama sekali tidak dimiliki.
  6. Kurang memiliki sikap kerjasama dan toleransi Anak tunalaras cenderung ingin menang sendiri, kurang memikirkan kepentingan dan penghargaan terhadap orang lain.
  7. Sensitif terhadap hal-hal yang dianggap merugikan dirinya. Hal-hal yang dianggap merugikan atau mengganggu kepentingan cenderung ditanggapi secara cepat dengan cara-cara yang negatif.
  8. Kurang memiliki kesabaran Artinya apabila kondisi emosinya sudah terangsang apalagi yang sifatnya negatif, anak langsung tampak emosional dan tidak mampu mengendalikan akal sehatnya.
  9. Kurang mampu berfikir secara komperehensif dan kemampuan analisisnya rendah.
  10. Memiliki cara-cara tersendiri dalam mengolah dan memahami informasi.
  11. Cepat melakukan imitasi dan identifikasi terhadap hal-hal diluar dirinya yang dianggap menarik.
  12. Sugestible, mudah dipengaruhi dan terpengaruh oleh lingkungan. Cenderung mengabaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan.
  13. Cenderung tunduk pada guru tertentu yang memiliki kelebihan sesuai dengan interesnya.

Kelemahan tunalaras :

Anak tunagrahita mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya  dan di tunjukkan oleh kurang cakapnya mereka dalam memikirkan hal- hal yang bersifat akademik, abstrak.  Cenderung  sulit dan berbelit-belit hampir pada segala aspek kehidupan serta mereka juga kurang mampu memiliki dalam menyesuaikan diri.

  1. Masalah-masalah yang dialami Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras)

Masalah-masalah yang dialami kelompok tunagrahita dan tunalaras

  1. Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah ini berkaitan dengan kesehatan dan pemeliharaan diri sendiri.misalnya : menggosok gigi,cara makan,memakai baju dan memasanh sepatu.

  1. Masalah penyesuain diri.

Masalah ini menimbulkan kecenderungan diisolir oleh keluarga maupun masyarakat.kcenderungan  terisolasi pada mereka megakibatkan pembentukan pribadinya tidak layak,untuk itu dalam program penanganan pad mereka perlu menyarankan kepada keluarga supaya tidak mengisolir.

  1. Masalah kesulitan belajar.

Keterbatasan kemampuan fisiologis dari anak berkebutuhan khusus mengakibatkan kesulitan mencapai pretasi belajar bidang akademik. kondisi ini perlu di perhatikan bahwa program penanganan di usahakan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk mencapai prestasi belajar.dalam pembalajaran bidang akademik di usahakan materi dan metode serta equipment yang sesuai dengan kondisi mereka.

  1. Masalah ganguan kepribadian dan emosi.

Keterbatasan pada fisiologis anak berkebutuhan khusus menyababkan keseimbangan pribadinya kurang stabil.kondisi yang demikian itu dapat di lihat pada penampilan tingkah lakunya sehari-hari. Misalnya : berdiam diri berjam-jam  lamanya,mudah marah,muda tersinggung ,suka mengganggu orang lain di sekitarnya,

  1. Masalah pemanfatan waktu luang.

Anak berkebutuhan khusus dalam tingkah lakunya sering menanpilkan tingkah laku nakal dan megganggu ketenangan lingkunganya,hal ini terjadi karena anak berkebutuhan khusus tidak mampu berinisiatif yang di pandang layak oleh lingkungan.mereka tidak mampu menggunakan waktu untuk inisiatif kegiatan yg terarah jika tidak ada yang mengarahkannya.

  1. Penyebab terjadinya Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras)

FAKTOR PENYEBAB TUNAGRAHITA

  1. Heriditas

Faktor ini merupakan Kelainan yang  terjadi secara genetik  yaitu kelainan kromosom .  Pada  kelompok  faktor yang penyebab  herideter masih ada kelainan bawaan non genetik, seperti kelahiran bayi premature dan BBLR ( berat bayi  lahir rendah) .

  1. Infeksi

Suatu penyebab di karenakan adanya berbagai serangan penyakit infeksi yang dpat menyebabkan  baik langsung  maupun tidak langsung.

  1. Keracunan

Faktor ini terjadi karena  kerusakan janin di sebabkan oleh ibu mengkonsumsi  alkohol yang sangat berlebihan. Kebiasaan  kaum ibu mengkonsumsi obat bebas tanpa pengawasan dokter  merupakan potensi keracunan janin. Jenis makanan yang di konsumsi bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebabnya.. adanya polusi di berbagai sarana kehidupan terutama pencemaran udara dan air,  seperti peristiwa bhopal dan chernobil sebagai gambarannya.

 

  1. Kekuranga gizi

Masa tumbuh kembang sangat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak terutama pada tahun pertama pada dua tahun kehidupan. Kekurangan gizi dapat terjadi karena adanya kelainan metabolisme maupun penyakit parasit pada anak seperti cacingan.

  1. Trauma .

Truma terjadi karena kejadian yg tak terduga yang meninpah langsung pada anak seperti proses kelahiran yang sulit sehinnga memerlukan pertolongan yg memerlukan resiko tinggi atau kejdian saat kelahiran salura pernapasan anak tersumbat sehingga menimbulkan kekurangan oksigen pada otak.

Faktor Penyebab Tunalaras

  1. Faktor Internal
  2.  Berkercerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah.
  3.  Adanya ganguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
  4.  Memiliki ganguan kejiwaan bawaan.
  5. Faktor Eksternal
  6. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
  7. Adanya pengaruh negatif dari gang-gang atau kelompok.
  8. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan.

 

  1. Dampak Jika Masalah Kelompok (Tunagrahita dan Tunalaras)   Tidak Ditangani

Dampak jika masalah kelompok tuna grahita dan tuna laras tidak di tangani.

  1. Dampak fisiologis

Dampak ini berkaitan dengan fisik termasuk sensori motor terlihat pada keadaan fisik penyandang berkebutuhan khusus mampu mengkoordinasi geraknya,bahkan pada kebutuhan khusus tarf berat dan sangat berat baru mampu berjalan di usia lima tahun atau ada yang tidak mampi berjalan sama sekali.

  1. Dampak psikologis

Dampak ini berkaitan dengan kemampuan jiwa lainnya,karena keadaan mental yang labil akan menghambat proses kejiwaan dalam tanggapannya terhadap tuntunan lingkungan.kekurangan mampuan dalam penyesuaian diri yang di akibatkan adanya ketidak sempurnan individu ,akibat dari rendahnya “self esteem”dan di mungkinkan adanya kesalahan dalam pengarahan diri.

  1. Dampak sosiologis

Dampak ini timbul karena hubungannya dengan kelompok atau individu  disekitarnya.terutama keluarga dan saudara-saudaranya.keluarga sebagai suatu unit social di masyarakat dengan kehadiran anak berkebutuhan ksusus merupakan suatu kesedihan,musibah dan beban yg berat.kondisi ini misalnya : kecawa, marah,depresi, rasa bersalah dan bingung.

  1. Upaya Untuk Menangani Kelompok  Tunagrahita dan Tunalaras ( Upaya Preventif dan Upaya Kuratif )

 

Upaya Preventif  Anak tunagrahita :

Bekerja sama dengan pihak tertentu dalam artian disini dengan pihak medis, psikolog, psikiater dan sesame konselor lain melakukan kegiatan berbau sosialisasi kepada ibu-ibu hamil tentang bahaya trauma, mengurangi atau menghindari mengkonsumi alkohol atau makanan minuman tertentu yang mengandung zat tertentu yang membayakan kandungan sehingga anak lahir dalam keadaan yang sehat

Upaya Kuratif Tunagrahita  di Keluarga :

  • Apabila anak bersekolah, langkah pertama yang dilakukan adalah menghubungi

gurunya. Orang tua dapat mendiskusikan kemajuan atau kekurangan anak dari

guru dan bertanya tentang penyebabnya.

  • Orang tua harus memberi perhatian terhadap anaknya dan bertanya pada gurunya

Atau menghubungi dokter atau psikolog

  • Mempelajari masalah anak dengan membaca buku atau tulisan yang berhubungan

Dengan kelambanan mental

  • Mengenali anak dan jangan mengharap terlalu tinggi akan prestasi akademik terutama anak yang mengalami kelembanan mental.
  • Mendaftarkan anak tersebut disekolah khusus.sekolah tersebut mengajarkan

Program khusus yang disesuaikan pada kemampuan anak.Ruangan kelasnya

Lebih kecil dan gurunya adalah guru yang memenuhi syarat untuk mengajar pendidikan khusus

  • Memberikan pujian dan dorongan agar anak memperbaiki kepercayaan dirinya.
  • Mendorong anak untuk melakukan sikap yang baik dan tidak melakukan sikap

Yang buruk dan dan diajarkan untuk mengikuti aturan.

  • Membiarkan anak menjadi mandiri semampu anak lainnya.
  • Mengerjakan kegiatan rutin yang sederhana, seperti mandi, menggosok gigi dan kekamar kecil.

Upaya Kuratif Tunagrahita  di Sekolah

  • Strategi Kooperatif

Strategi ini relevan dengan kebutuhan anak tunagrahita di mana kecepatan belajarnya tertinggal dari anak normal. Strategi ini bertitik tolak pada semangat kerja di mana mereka yang lebih pandai dapat membantu temannya yang lemah (mengalami kesulitan) dalam suasana kekeluargaan dan keakraban.Strategi kooperatif memiliki keunggulan,  seperti meningkatkan sosialisasi antara anak tunagrahita dengan anak normal, menumbuhkan penghargaan dan sikap positif anak normal terhadap prestasi belajar anak tunagrahita sehingga memungkinkan harga diri anak tunagrahita meningkat, dan memberi kesempatan pada anak tunagrahita untuk mengembangkan potensinya seoptimal mungkin.

  • Strategi Modifikasi Tingkah Laku

Strategi ini digunakan apabila menghadapi anak tunagrahita sedang ke bawah atau anak tunagrahita dengan gangguan lain. Tujuan strategi ini adalah mengubah, menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak baik ke tingkah laku yang baik.  Dalam  pelaksanaannya  guru harus terampil memilih tingkah laku yang harus dihilangkan. Sementara itu perlu pula teknik khusus dalam melaksanakan modifikasi tingkah laku tersebut,  seperti  reinforcement.

Reinforcement  ini merupakan hadiah untuk mendorong anak agar berperilaku baik. Reinforcement dapat berupa pujian, hadiah atau elusan. Pujian diberikan apabila siswa menunjukkan perilaku yang dikehendaki oleh guru. Dan pemberian reinforcement itu makin hari makin dikurangi agar tidak terjadi ketergantungan.

Upaya Preventif menangani Tunalaras

  • Orang tua harus berperan aktif dalam mendidik anak dalam lingkungan keluarga dengan menanamkan mental-mental positif pada anak seperti mendidik anak untuk berdoa, mengajarkan tata karma,etika dan sikap menghargai sesama dan patuh terhadap aturan yang diberlakukan dalam kelurga misalnya membiasakan anak untuk disiplin dengan waktu baik waktu makan,belajar maupun bermain.
  • Dalam lingkungan sekolah guru-guru terlebih khususnya guru BK mengakbarkan pendidikan karakter pada anak-anak.

Upaya Kuratif menangani Tunalaras

  • Orang tua lebih memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak tunalaras sehingga ia tidak merasa dikuilkan perbuatannya yang menyusahkan karena jauh didalamnya hatinya mungkin itu adalah hal yang sebenarnya ia ingin disamping banyak penolakan yang datang pada dirinya.
  • Orang tua lebih tegas dalam mendidik karakter anak sepertinya memberikan sanksi mendidik bukan membuat anak semakin bertingkah. Misalnya kalau anak dia nakal kurangi jam bermainnya.

 

  1. BK Untuk Menangani Kelompok Tunagrahita dan Tunalaras
  1. Ancangan Konseling Yang Sesuai Untuk Menangani Kelompok

Ancangan yang dianggap tepat untuk membantu kelompok ini adalah Behavior Therapy (Terapi Tingkah Laku)

 

  1. Konsep Dasar

Konsep dasar atau dalil dari terapi ini menyatakan bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Nye (1975) dalam pembahasannya tentang behaviorisme radikalnya B.F Skinner, menyebutkan bahwa para behavioris radikal menekakan manusia sebagai produk lingkungan dikendalikan oleh kondisi-kondisi lingkungan, manusia adalah produk lingkungan dan semata-mata hanya dikendalikan oleh lingkungan.

 

  1. Tujuan Konseling

Tujuan untuk ABK (Tunagrahita dan Tunalaras)

Untuk merubah sejumlah perilaku salah suai dan patologis pada anak tunalaras dan tunagrahita.

  1. Membantu anak tunagrahita lewat sejumlah terapi praktis sederhana seperti self-management tujuannya agar anak belajar mengatur diri misalnya dengan mengganing baju dan rosleting sendiri,menggosok diri sendiri, dan makan sendiri serta penguatan positif guna membuat anak belajar mandiri dan membuat anak membangunkan rasa percaya diri serta meningkatkan harga diri anak lewat sejumlah penguatan positif sehingga anak tidak merasa terisolir dalam keseharian bersama siapa saja yang ada di sekitarnya.
  2. Membantu anak tunalaras lewat reinforcement dan konseling individual menumbuhkan penghargaan dan sikap positif agar mengurangi sikap salah suai anak.

 

  1. Teknik Konseling Yang Relevan

Teknik yang relevan untuk anak berkebutuhan khusus (Tunagrahita) adalah teknik self management dan reinforcement (penguatan) terlebih penguatan positif seperti yang dijelaskan pada tujuan agar membangun rasa percaya diri anak serta meningkatkan harga diri anak lewat sejumlah penguatan positif. Berikut penjelasan tentang arti self-management dan reinforcement

  1. Teknik self-management adalah suatu prosedur dimana individu mengatur perilakunya sendiri. Pada teknik ini individu terlibat pada beberapa atau keseluruhan komponen dasar yaitu; menentukan perilaku sasaran, memonitor perilaku tersebut,memilih prosedur yang akan diterapkan,melaksanakan prosedur tersebut, mengevaluasi efektivitas prosedur tersebut (Sujakdi, dalam Gantina 2011:180). Manajemen diri adalah sebuah proses merubah “totalitas diri” baik itu dari segi intelektual, emosional, spiritual, dan fisik agar apa yang kita inginkan (sasaran) tercapai. Maksud dari terapi ini adalah untuk membantu anak tunagrahita lebih mampu mengelolah diri mereka menjadi lebih mandiri dalam artian disini mungkin dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti memegang sendok sendiri untuk makan, sikat gigi sendiri, memakai baju sendiri,menggosok gigi sendiri, memakai sepatu sendiri.
  2. Positive Reinforcement, adalah suatu teknik pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Dalam hal ini memberikan sejumlah pujian atau sanjungan yang bbertujuan mengangkat rasa percaya diri dan harga diri anak tunagrahita, semakin ia disanjung mungkin saja akan menimbulkan reaksi positif dalam dirinya sehingga anak merasa punya hasrat untuk belajar tinggi jika meras perlu bukan sekedar pujian saja yang dilayangkan tapi bisa juga hadiah-hadiah seperti coklat,manisan atau permen namun jangan sampai menimbulkan efek ketergantungan jika perilaku yang diharapkan seperti memakai baju sendiri atau sudah dapat mengerti pelajaran tertentu dengan baik intensitas pemberian hadiah pun dikurangi.

 

Teknik yang relevan untuk anak berkebutuhan khusus (Tunalaras) adalah positive reinforcement (penguatan positif) penguatan positif seperti yang sudah dijelaskan pada tujuan agar membangun rasa percaya diri anak serta meningkatkan harga diri. token ekonomi atau kontrak perilaku.

  1. Positive Reinforcement, adalah suatu teknik pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Dalam hal ini memberikan sejumlah pujian atau sanjungan yang bertujuan mengangkat rasa percaya diri dan harga diri anak tunagrahita, semakin ia disanjung mungkin saja akan menimbulkan reaksi positif dalam dirinya sehingga anak merasa punya hasrat untuk belajar tinggi jika meras perlu bukan sekedar pujian saja yang dilayangkan tapi bisa juga hadiah-hadiah seperti coklat,manisan atau permen namun jangan sampai menimbulkan efek ketergantungan jika perilaku yang diharapkan seperti memakai baju sendiri atau sudah dapat mengerti pelajaran tertentu dengan baik intensitas pemberian hadiah pun dikurangi.
  2. Metode token ekonomi dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujui dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh.Dalam token ekonomi, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (kepingan logam).
  3. Deskripsi Langkah-langkah Pelaksanaan

(1)Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan ini ada empat hal yang perlu dipersiapkan yaitu (a) menetapkan tingkah laku atau kegiatan yang akan didisebut sebagai tingkah laku yang ditargetkan; (b) menentukan benda atau kegiatan apa saja yang mungkin dapat menjadi penukar reward; (c) memberi nilai atau jumlah yang akan didapat untuk setiap kegiatan atau tingkah laku yang ditargetkan dengan reward. Misalnya apabila anak datang tepat waktu atau tidak pulang sebelum waktunya (bolos) Tunalaras, atau untuk anak tunagrahita misalnya diajarkan tentang cara mengancing baju dan bisa maka ia akan menerima reward sesuai yang ditentukan sebelumnya katakanlah coklat sebanyak 2 keping atau pujian.

(2) Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan diawali dengan pembuatan kontrak antara subyek dengan terapis atau guru pembimbing. Kegiatan yang sederhana, pada umumnya kontraknya cukup secara lisan dan keduanya dapat saling memahami tetapi pada kegiatan yang kompleks sering kontrak ditulis dan ditandatangani oleh keduanya bahkan ada saksinya.Pada tahap pelaksanaan, guru pembimbing serta orang yang ditugasi untuk mencatat peristiwa yang timbul dalam melaksanakan kontrak tingkah laku melaksanakan tugas sesuai dengan pos masing-masing. Bila tingkah laku yang ditargetkan muncul maka segera subyek mendapatkan hadiah atau reward yang dijanjikan.

 

  1. Pengertian anak berkelainan akademik

Anak berkelainan akademik dalam konteks ini adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual di atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan intelektual ini Cony Semiawan (1997:24) mengemukakan, bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total penduduk Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 keatas, merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted), sedangkan mereka yang rentangannyaberkisar 120-137 yaitu yang mencakup rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu disebut moderately gifted. Mereka semua memiliki talen akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual.

 

  1. Klasifikasi kelompok khusus anak berkelainan akademik

Anak berkelainan akademik terdiri atas dua yaitu:

  1. Anak berbakat

Anak berbakat adalah mereka yang memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak berbakat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk membantu mereka mencapai prestasi sesuai dengan bakat-bakat mereka yang unggul. Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Berbeda dengan bakat, “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan (performance) dapat dilakukan sekarang. Sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan “prestasi” seseorang. Jadi prestasi itulah yang merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan.

Anak yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, seperti dikemukakan oleh Sutratinah Tirtonegoro (1984:29) yaitu: Superior, Gifted dan Genius. Ketiga kelompok anak tersebut memiliki peringkat ketinggian intellegnsi yang berbeda.

  1. Genius

Genius ialah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga dapat menciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya.Intelligence Quotien-nya (IQ) berkisar antara 140 sampai 200.Anak genius memiliki sifat-sifat positif sebagai berikut; daya abstraksinya baik sekali, mempunyai banyak ide, sangat kritis, sangat kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya. Di samping memiliki sifat-sifat positif juga memiliki sifat negatif, diantaranya; cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri (egois), temperamennya tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah bergaul, senang menyendiri karena sibuk melakukan penelitian, dan tidak mudah menerima pendapat orang lain.

  1. Gifted
    Anak ini disebut juga gifted and talented adalah anak yang tingkatkecerdasannya (IQ) antara 125 sampai dengan 140. Di samping memiliki IQ tinggi, juga bakatnya yang sangat menonjol, seperti ; bakat seni musik, drama, dan ahli dalam memimpin masyarakat. Anak gifted diantaranya memiliki karakteristik; mempunyai perhatian terhadap sains, serba ingin tahu, imajinasinya kuat, senang membaca, dan senang akan koleksi.
  2. Superior
    Anak superior tingkat kecerdasannya berkisar antara 110 sampai dengan 125sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi.Anak superior memiliki karakteristik sebagai berikut; dapat berbicara lebih dini, dapat membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah dan dapat perhatian dari teman-temannya.Secara umum hampir semua pendapat itu sama, bahwa anak berbakat memiliki kemampuan yang tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya.
    Hasil studi lain menemukan bahwa “Anak-anak berbakat memiliki karakteristik belajar yang berbeda dengan anak-anak normal. Mereka cenderung memiliki kelebihan menonjol dalam kosa kata dan menggunakannya secara luwes, memiliki informasi yang kaya, cepat dalam menguasai bahan pelajaran, tajam kemampuan analisisnya, membaca banyak bahan bacaan (gemar membaca), peka terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, kritis dan memiliki rasa ingin yang sangat besar”.
  3. Anak berkesulitan belajar

Berkesulitan belajar adalah salah satu jenis anak berkebutuhan khusus yang ditandai dengan adanya kesulitan untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan dengan mengikuti pembelajaran konvensional.

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Ganguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem syaraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang menggangu (misalnya: gangguan sensorik, tunagrahita, hambatan sosial dan emosional) atau pengaruh lingkungan (misalnya: pembelajaran yang tidak tepat, faktor-faktor psikogenik). Ada klasifikasi yang berdasarkan dari jenis gangguan atau kesulitan yang dialami anak:

 

  1. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan

(developmental learning disabilities)

  • Dispraksia merupakan gangguan pada keterampilan motorik.
  • Dysphasia merupakan kesulitan berbahasa dimana anak sering melakukan kesalahan dalam berkomunikasi baik menggunakan bahasa tulis maupun lisan.
  • Body awarness, anak tidak memiliki akan kesadaran tubuh sering salah prediksi pada aktivitas gerak mobilitas seperti sering menabrak bila berjalan.
  1. Kesulitan belajar akademik
  • Disgraphia merupakan kesulitan dalam menulis.
  • Diskalkulia merupakan kesulitan dalam menghitung matematika.
  • Disleksia merupakan kesulitan membaca baik membaca permulaan maupun pemahaman.

Disleksia diklasifikasikan menjadi:

  1. Disleksia Diseidetis atau visual: anak kesulitan membaca atau menulis huruf yang bentuknya mirip sehingga sering terbalik. Misalnya: huruf”m” dan huruf “w”.
  2. Disleksia Verbal atau linguistik: kesulitan anak untuk mengeja dan menemukan kata dalam kalimat.
  3. Disleksia Auditoris: kesulitan anak dalam membaca yang terganggu dan lambat.
  4. Ciri-ciri umum kelompok khusus anak berkelainan akademik

Adapun karakteristik Anak Berkelainan Akademik di antaranya:

  1. memiliki rentangan perhatian yang lama dikaitkan dengan bidang akademik tertentu,
  2. memiliki pemahaman konsep, metode, dan terminologi pada tingkat lanjut untuk bidang tertentu,
  3. mampu menerapkan konsep-konsep dari bidang-bidang tertentu ke kegiatan-kegiatan dalam bidang lainnya,
  4. adanya keinginan untuk mencurahkan sebagian besar waktu dan usahanya untuk mencapai standar yang tinggi dalam suatu bidang akademik tertentu,
  5. adanya kemampuan kompetitif dalam bidang akademik tertentu dan motivasi untuk berbuat yang terbaik,
  6. kemampuan belajar cepat dalam bidang studi tertentu

 

  1. Ciri-ciri kelompok khusus anak berkelainan akademik menurut klasifikasi
  2. Anak berbakat:

Beberapa karakteristik yang menonjol dari anak-anak yang berbakat sebagaimana diungkapkan Kitato dan Kirby, dalam Mulyono (1994), dalam ini adalah sebagai berikut :

  • Karakteristik Intelektual
  1. Proses belajarnya sangat cepat
  2. Tekun dan rasa ingin tahu yang besar
  3. Rajin membaca
  4. Memiliki perhatian yang lama dalam suatu bidang khusus
  5. Memiliki pemahaman yang sangat maju terhadap suatu konsep
  6. Meliki sifat kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik
  • Karakteristik Sosial-emosional
  1. Mudah diterima teman-teman sebaya dan orang dewasa
  2. Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial, dan memberikan sumbangan pemikiran yang konstruktif
  3. Kecendrungan sebagai pemisah dalam suatu pertengkaran
  4. Memiliki kepercayaan tentang persamaan derajat semua orang, dan jujur
  5. Prilakunya tidak defensif dan memiliki tenggang rasa
  6. Bebas dari tekanan emosi, dan mampu mengontrol emosinya sesuai situasi, dan merangsang perilaku produktif bagi orang lain
  7. Memiliki kapasitas yang luar biasa dalam menanggulangi masalah sosial.
  • Karakteristik Fisik-kesehatan
  1. Berpenampilan rapi dan menarik
  2. Kesehatannya berada lebih baik di atas rata-rata

 

  1. Anak berkesulitan belajar

Karakteristik anak berkesulitan belajar spesifik antara lain:

  1. Pada masa kanak-kanak:
  2. Kesulitan mengekspresikan diri.
  3. Lambat dalam mengerjakan tugas seperti mengikat sepatu
  4. Tidak perhatian, mudah terganggu
  5. Ketidakmampuan mengikuti arahan karena ketidakmampuan memahami instruksi lisan.
  6. Lemah dalam ketrampilan bermain di lapangan.
  7. Pada usia remaja dan dewasa:
  8. Kesulitan dalam memproses informasi auditori
  9. Kehilangan barang-barang miliknya, keterampilan mengatur lemah
  10. Lambat dalam membaca, pemahaman rendah
  11. Kesulitan dalam mengingat nama orang dan tempat
  12. Kesulitan mengatur ide untuk menulis

Anak-anak yang termasuk kedalam kesulitan belajar spesifik meliputi:

  1. Anak yang mengalami disgrafia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  2. Tulisan terlalu jelek atau tidak terbaca.
  3. Sering terlambat dibanding yang lain dalam menyalin tulisan.
  4. Tulisan banyak salah, banyak huruf terbalik dan hilang.
  5. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
  6. Menulis huruf tidak sesuai dengan kaidah bahasa.

 

  1. Ciri-ciri anak yang mengalami diskalkulia yaitu:
  2. Sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan,
  3. Sering sulit mengoperasikan hitungan/bilangan meskpun sederhana,
  4. Sering salah membilang dengan urut,
  5. Sulit membedakan angka yang mirip, misalnya angka 6 dan 9, 17 dengan 71,
  6. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

 

  1. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), ciri-cirinya seperti:
  2. Perkembangan kemampuan membaca terlambat
  3. Kemampuan memahami isi bacaan rendah
  4. Serta ketika membaca sering banyak kesalahan.

 

  1. Keunggulan dan kelemahan kelompok khusus anak berkelainan akademik
  2. Anak berbakat
  3. Keunggulan Anak Berbakat :
  4. Cepat memperoleh dan menangkap informasi
  5. Senang pada kegiatan intelektual, konsep dan mampu mensintesakan konsep abstrak
  6. Mencoba untuk berorganisasi
  7. Krisis terhadap diri sendiri dan krisis juga terhadap evaluasi
  8. Kelemahan Anak Berbakat :
  9. Tampak bosan dan tidak sabar terhadap kelambanan
  10. Mempertanyakan prosedur guru mengajar dan menunjukan detail
  11. Kadang-kadang tampak kasar dan berkuasa
  12. Tidak toleran terhadap orang lain dan cepat mengalami depresi

 

  1. Anak berkesulitan belajar
  2. Kelemahan anak berkesulitan belajar
  3. Kesulitan mengekspresikan diri.
  4. Lambat dalam mengerjakan tugas seperti mengikat sepatu
  5. Tidak perhatian, mudah terganggu
  6. Ketidakmampuan mengikuti arahan karena ketidakmampuan memahami instruksi lisan.
  7. Lemah dalam ketrampilan bermain di lapangan.
  8. Kesulitan dalam memproses informasi auditori
  9. Kehilangan barang-barang miliknya, keterampilan mengatur lemah
  10. Lambat dalam membaca, pemahaman rendah
  11. Kesulitan dalam mengingat nama orang dan tempat
  12. Kesulitan mengatur ide untuk menulis

 

  1. Masalah-masalah yang dialami kelompok khusus anak berkelainan akademik
  2. Masalah – masalah anak berbakat:
  3. Masalah bagi individu:
  4. Kecepatan perkembangan kognitif yang tidak sesuai dengan perkembangan dan kekuatan
  5. Perkembangan kognitif anak bebakat yang lebih cepat dari teman Akan menimbulkan kebosanan terhadap pengajaran regular, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusia, sulit berkonfornitas dalam kelompok, frustasi karena harus menunggu kelompok.
  6. Kemampuan anak berbakat untuk menyerap dan menghimpun informasi yang tidak diimbangi dengan perkembangan emosi dan
  7. Kematangan social dan kecakapan kepemimpinan yang tumbuh lebih awal pada anak

 

  1. Masalah bagi keluaraga:

Kecendrungan perilaku aneh yang muncul karena keberbakatan akan membawa dampak terhadap iklim dan perilaku keluarga, orang tua yang tidak memahami dan menyadari akan potensi yang dimiliki anaknya bisa jadi tidak peduli dan tidak merespon perilaku anak tadi. Malah mungkin orang tua berupaya mengendalikan agar anaknya patuh dan mengikuti pola interaksi sebagaimana anak pada umumnya. Kecendrungan orang tua untuk menghardik anaknya ketika anak itu melibatkan diri dalam urusan orang tua, dan memaksakannya untuk bermain dengan teman seusianya merupakan perlakuan yang lazim terjadi di kalangan orang tua.

  1. Masalah bagi masyarakat:

Masalah keberbakatan bagi kehidupan masyarakat terletak dalam isu bagaimana perlakuan terhadap anak berbakat diberikan terutama layanan pendidkan yang mungkin diperolehnya. Apakah anak berbakat ini perlu diberi pendidikan khusus yang terpisah dari anak biasa, yang mungkin akan menimbulkan sikap elit dan eksklusif, atau diintegrasikan kedalam system persekolahan biasa, yang mungkin akan menimbulkan masalah-masalah perkembangan bagi anak itu sendiri, merupakan isu sosial maupun politis.

  1. Masalah bagi penyelenggara

Pemahaman anak berbakat harus bertolak dari pandangan bahwa dia adalah seorang pribadi yang utuh dan selalu berada di dalam interaksinya dengan lingkungan.Perbedaan program pendidikan bagi anak berbakat bukan sekedar berbeda, tetapi secara kualitatif memang menghendaki perbedaan walaupun tidak berarti harus terpisah dari anak-anak biasa. Perbedaan secara kualitatif ini mutlak perlu karena anak berbakat memilki karakteristik, kebutuhan, dan permasalahan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Sekalipun pengembangan program pendidikan untuk anak berbakat akan menyangkut berbagai pertimbangan aspek (meliputi aspek filosofis, tujuan pendidikan, isi kurikulum, dan proses belajar mengajar), namun keunikan karakteristik dan kebutuhan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan program pendidikan bagi anak berbakat.

  1. Masalah-masalah anak berkesulitan belajar:
  2. Masalah bagi individu:

Masalah penyesuaian diri maupun akademik anak, hubungan sosial, dan stabilitas emosi.

  1. Masalah bagi keluarga:

Kondisi anak seperti ini dapat menimbulkan kekuatiran orang tua, apalagi jika orang tua tidak memahami masalah yang di alami anaknya.

  1. Masalah bagi penyelenggara pendidikan:

Anak berkesulitan belajar ditempatkan pada kelas khusus.

 

  1. Penyebab terjadinya kelompok khusus anak berkelainan akademik
  2. Penyebab terjadinya anak berbakat
  3. Factor genetic dan biologis

Pendapat bahwa intelegensi dan kemampuan yang berkualitas adalah diturunkan kurang dapat di terima di masyarakat yang memandang bahwa semua masyarakat itu sama. Penelitian dalam genetika prilaku menyatakan  bahwa setiap jenis dalam perkembangan prilaku di pengaruhi secara siknifikan melaui gen atau keturunan. Namun demikian factor biologis juga tidak dapat diingkari, factor biologis yang belum bersifat genetik yang berpengaruh pada intelegensi adalah factor gisi dan neurologi. Kekurangan nutrisi dan gangguan neurologic pada masa kecil dapat menyebabkan keterbelakangan mental.

  1. Faktor lingkungan

Stimulasi, kesempatan, harapan, tuntutan dan imbalan akan berpengaruh pada proses belajar seorang anak. Penelitian tentang individu-individu berbakat yang sukses menunjukkan masa kecil mereka di dalam keluarga memiliki keadaan sebagai berikut:

  1. Adanya minat pribadi dari orang tua terhadap bakat anak dan memberikan dorongan orang tua sebagai
  2. Ada dorongan dari orang tua untuk
  3. Pengajaran bersifat informal dan terjadi dalam berbagai situasi, proses belajar awal lebih bersifat eksplorasi dan
  4. Orang tua mencarikan instruktur dan guru khusus bagi

 

  1. Penyebab terjadinya anak berkesulitan belajar

Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab anak mengalami kesulitan belajar. Abdurrahman (2003) menyatakan: penyebab utama kesulitan belajar (leaning disabities) adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar (leaning problems) adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan (reinforcement) yang tidak tepat.

 

  1. Dampak jika masalah kelompok khusus anak berkelainan akademik tidak ditangani
  2. Anak berbakat
  3. Terjadi kesenjangan di antara keduanya, dapat menimbulkan perasaan tidak adekuat pada diri anak. Perasaan semacam ini dapat mendorong anak tidak peduli terhadap kegiatan fisik kelompok sehingga dapat menimbulkan frustasi, kecewa, dan tidak puas terhadap kehidupan kelompok sebaya.
  4. Kesulitan penyesuaian diri pada anak berbakat.
  5. Kondisi perkembangan seperti ini akan membuat individu rawan terhadap kritik, bersikap sinis dan menentang, menentukan nilai sendiri dan tujuan yang mungkin tidak realistik.
  6. Ketidakstabilan perkembangan emosi
  7. Menimbulkan masalah penyesuaian yang tidak memberi peluang untuk menampilkan kecakapannya itu, akan menumbuhkan perasaan tidak tertantang dn dapat mendorong individu untuk mengambil pemecahan masalah melalui jalan pintas tamapa mempertimbangkan keterkaitan masalah satu dengan yang lain dalam kompleksitas kehidupan.

 

  1. Anak berkesulitan belajar
  2. Menimbulkan frustrasi atau cemas yang berlebihan karena dia selalu mengalami kegagalan dalam memenuhi tuntutan dan tugas
  3. Menimbulkan frustrasi orang tua atau
  4. Anak tidak bisa bekomunikasi atau berinteraksi dengan teman sebayanya yang normal

 

  1. Upaya untuk menangani kelompok khusus anak berkelainan akademik (upaya preventif dan upaya kuratif)
  2. Anak berbakat
  3. Upaya preventif

Ada berbagai macam layanan pendidikan bagi anak berbakat yaitu:

  1. Layanan akselerasi, yaitu layanan tambahan untuk memepercepat penguasaan kompetensi dalam merealisasi bakat anak
  2. Layanan kelas khusus, yaitu anak yang berbakat unggul dikelompokkan dalam satu kelas dan diberikan layanan tersendiri sesuai dengan bakat mereka
  3. Layanan kelas unggulan, sama dengan layanan kelas khusus hanya berbeda dalam model pengayaannya
  4. Layanan bimbingan sosial dan kepribadian
  5. Upaya kuratif

Sangat dibutuhkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapt bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya dengan memandu dan memupuk minat anak.  Perlu diadakan pertemuan berkala antara guru-guru yang membimbing anak berbakat dengan orangtua anak berbakat untuk bersama-sama membicarakan dan mambahas masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan keberbakatan anak.Program-program kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat anak, misalnya: belajar musik, menari, drama, ilmu, dan sebagainya.

 

  1. Anak berkesulitan belajar
  2. Upaya preventif

Pendekatan layanan pendiikan bagi anak berkesulitan belajar menurut Jerome Rosner, 1993 dalam sunarya kartadinata,dkk (1998/1999) ada tiga macm yaitu:

  1. Layanan remidiasi, layanan ini terfokus pada upaya menyembuhkan, mengurangi, dan bahkan kalau mungkin mengatasi kesulitan yang dialami anak. Dalam layanan ini anak dibantu dalam keterampilan perseptual dan kecakapan dasar berbahasa, sehingga ia mampu memperoleh kemajuan belajar yang normal. Dalam layanan ini sering digunakan beberapa teknik dalam modifikasi perilaku diantaranya dengan pemberian penguatan.
  2. Layanan kompensasi, layanan ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan belajar khusus diluar lingkungan belajar yang normal, sehingga memungkinkan anak memperoleh kemajauan dalam pembentukan perseptual dan bahasa.
  3. Layanan prevensi, layanan ini adalah layanan yang diberikan sebelum anak mengalami ketunacakapan belajar di sekolah. Layanan ini diawali dengan melakukan identifikasi terhadap aspek-aspek yang dimungkinkan menimbulkan atau menyebabkan ketunacakapan belajar, langkah yang dilakukan dalam layanan ini diawali dengan memberikan tes kemampuan dasar  anak dalam membaca, menulis, berhitung dan melakukan koordinasi gerak, langkah selanjutnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap aspek-asek pribadi anak diantaranya pemeriksaan kesehatan, perkembangan, penglihatan dan pendengaran, keterampilan dan perseptual.
  4. Tempat duduk siswa. Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.
  5. Gangguan kesehatan. Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.
  6. Bantuan media dan alat peraga. Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.
  7. Menyediakan Fasilitas pendidikan untuk anak berkesulitan belajar spesifik:
  • Anak yang kesulitan membaca

Dengan menggunakan buku yang didminasi oleh gambar maka anak tersebut akan tertarik untuk sedikit demi sedikit berlatih membaca.

  • Anak yang kesulitan menulis

Dengan alat bantu buku bergaris-garis maka anak tersebut akan bisa terbantu untuk bagaimana cara menulis yang indah dan benar.

  • Anak yang kesulitan berhitung

Dengan alat bantu berhitung misalnya saja sempoa dan menggunakan jari untuk berhitung maka anak tersebut merasa akan terbantu dengan alat tersebut.

 

  1. Upaya kuratif
  2. Pengajaran Remedial (Remedial Teaching)
  3. Strategi dan teknik pendekatan pengajaran remedial yang bersifat kuratif.
  • Sasaran pokok dari tindakan ini agar :
  1. Siswa yang prestasinya jauh sekali dibawah batas kriteria keberhasilan minimal, diusahakan pada suatu saat dapat memadai kriteria keberhasilan minimal.
  2. Siswa yang sedikitmasih kurang atau bahkan telah tinggi dapat lebih disempurnakan.
  3. Teknik pendekatan pengajaran remedial kuratif :
  • Pengulangan (repetion)

Pengulangan ini dapat terjadi dari beberapa tingkat :

  1. setiap akhir jam pertemuan
  2. Pada setiap akhir pelajaran
  3. Pada akhir satuan program studi (triwulan/semester)
  4. Pelaksaan pelayanan remedial :
  5. Secara perorangan
  6. Secara kelompok
  7. Waktu dan cara pelaksanaannya :
  8. Diadakan pada jam pertemuan kelas biasa
  9. Diadakan di luar jam pertemuan biasa
  10. Diadakan kelas remedial
  11. Diadakan pengulangan secara total
  12. Pengayaan dan pengukuhan (enrichment and reinforcement)

Materi program pengayaan  adalah ekivalen, suplemener, tugas rumah dan tugas di kelas.

  1. Percepatan (acceleration)
  2. Bimbinganbelajarkelompok
  3. Bimbinganbelajar individual
  4. Pemberianbimbinganpribadi

 

  1. BK untuk menangani kelompok khusus anak berkelainan akademik
  2. Ancangan konseling yang sesuai untuk menangani kelompok anak berkelainan akademik

Pendekatan behavioral berpandangan bahwa setipa tingkah laku dapat dipelajari melalui kematangan dan belajar. Tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru. Manusia dipandang mampu melakukan refleksi atas tingkah lakunya sendiri, dapat mengatur serta mengontrol perilakunya dan dapat belajar tingkahlaku baru atau dapat mempengaruhi perilaku orang lain.

  1. Konsep dasar

Pendekatan behavioral didasarkan pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling. Konseling behavior juga dikenal sebagai modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan untuk mengubah tingkah laku. Terapi ini berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik. Dalam konseling, konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptif, memperkuat serta mampertahankan perilaku yang diinginkan dan membentuk pola tingkah laku dengan memberikan imbalan atau reinforcement muncul setelah tingkah laku dilakukan. Ciri unik dari terapi ini adalah lebih berkonsentrasi pada proses tingkah laku yang teramati dan spesifik, fokus pada tingkah laku kini dan sekarang.

  1. Tujuan konseling
  2. Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar.
  3. Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif.
  4. Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari.
  5. Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respons-respons yang baru yang lebih sehat dan sesuai.
  6. Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku maladaptif dan memperkuat perilaku yang diinginkan.
  7. Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konselin dan konselor.
  8. Teknik Konseling yang Relevan
  9. Desensitisasi sistematis

Teknik spesifik ynag digunakan untuk menghilangkan kecemasan dengan kondisi rileks saat berhadapan dengan situasi yang menimbulkan kecemasan yang bertambah secara bertahap

  1. Teknik Relaksasi

Teknik yang digunakan untuk membantu konseli mengurangi ketegangan fisik dan mental dengan latihan pelemasan otot-ototnya dan pembayangan situasi yang menyenangkan saat pelemasan otot-ototnya sehingga tercapai kondisi rilek baik fisik dan mentalnya

  1. Teknik Flooding

Teknik yang digunakan konselor untuk membantu konseli mengatasi kecemasan dan ketakutan terhadap sesuatu hal dengan cara menghadapkan konseli tersebut dengan siuasi yang menimbulkan kecemasan tersebut secara berulang-ulang sehingga berkurang kecamasannya terhadap situasi tersebut

  1. Reinforcement Technique

Teknik yang digunakan konselor untuk membantu meningkatkan perilaku yang dikehendaki dengan cara memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut

  1. Modelling

Teknik untuk memfasilitasi perubahan tingkahlaku konseli dengan menggunakan model.

  1. Cognitive restructuring

Teknik yang menekankan pengubahan pola pikiran, penalaran, sikap konseli yang tidak rasional menjadi rasional dan logis

  1. Assertive Training

Teknik membantu konseli mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ditekan terhadap orang lain secara lugas tanpa agresif

  1. Self Management

Teknik yang dirancang untuk membantu konseli mengendalikan dan mengubah perilaku sendiri melalui pantau diri, kendali diri, dan ganjar diri

  1. Behavioral Rehearsal

Teknik penggunaan pengulangan atau latihan dengan tujuan agar konseli belajar ketrampilan antarpribadi yang efektif atau perilaku yang layak

  1. Kontrak

Suatu kesepakatan tertulis atau lisan antara konselor dan konseli sebagai teknik untuk memfasilitasi pencapaian tujuan konseling. Teknik ini memberikan batasan, motivasi, insentif bagi pelaksanaan kontrak, dan tugas-tugas yang ditetapkan bagi konseli untuk dilaksanakan anatr pertemuan konseli.

  1. Pekerjaan Rumah

Teknik yang digunakan dengan cara memberikan tugas / aktivitas yang dirancang agar dilakukan konseli antara pertemuan konseling seperti mencoba perilaku baru, meniru perilaku tertentu, atau membaca bahan bacaan yang relevan dengan maslah yang dihadapinya.

  1. Role Playing

Teknik yang digunakan konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan yang diharapkan dengan permainan peran. Konseli memerankan perilaku tertentu yang ingin dikuasainya sehingga dapat tujuan yang diharapkan

  1. Extinction (Penghapusan)

Extinction (Penghapusan) adalah menghentikan reinforcement pada tingkah laku yang sebelumnya diberi reinforcement.

  1. Satiation (Penjenuhan)

Penjenuhan (satiation) adalah membuat diri jenuh terhadap suatu tingkah laku, sehingga tidak lagi bersedia untuk melakukannya.

  1. Punishment (Hukuman)

Hukuman (Punishment) merupakan intervensi operant-conditioning yang digunakan konselor untuk mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.

  1. Time-out

Time-out merupakan teknik menyisihkan peluang individu untuk mendapatkan penguatan positif.

  1. Terapi Aversi

Terapi aversi merupakan teknik yang bertujuan untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

  1. Deskripsikan Langkah-langkah Pelaksanaan (Pilih salah satu dari teknik pada poin 4)

 

  1. Desensitisasi sistematis

Teknik spesifik ynag digunakan untuk menghilangkan kecemasan dengan kondisi rileks saat berhadapan dengan situasi yang menimbulkan kecemasan yang bertambah secara bertahap.

 

  1. Langkah-langkah pelaksanaan:
  2. Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang dapat membangkitkan kecemasan. Disediakan waktu untuk menyusun suatu tindakan kecemasan konseli dalam area tertentu.
  3. Konselor dan konseli mendaftar hasil-hasil apa saja yang menyebabkan konseli diserang perasaan cemas dan kemudian menyusun secara hirarkis.
  4. Melatih konseli untuk mencapai keadaan rileks atau santai.
  5. Konselor melatih konseli untuk membentuk respon-respon yang dapat menghambat perasaan cemas
  6. Pelaksanaan teknik Desensitisasi sistematis melibatkan keadaan dimana konseli sepenuhnya santai dengan mata tertutup.

 

BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK KHUSUS ANAK REHABILITASI (NARKOBA)

  1. Pengertian
  2. Konseling

Konseling secara etimologi berasal dari kata “to counsel” yang berarti memberi nasihat atau anjuran kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan face to face.

Sedangkan secara etimologis, konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang bermasalah  (klien) yang bertujuan untuk merubah prilaku klien serta terbebas dari masalah yang dihadapinya.

  1. Rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA/NARKOBA

Rehabilitasi berarti memulihkan, mengembalikan pada keadaan sebelumnya. Rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba merupakan upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non-medis psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA itu sendiri terbagi dalam dua proses yatu rehabilitasi secara medis dan rehabilitasi sosial.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan konseling kelompok khusus rehabilitasi yaitu suatu upaya atau proses untuk membantu pemulihan total total aspek psikologis dan sosial bagi para korban penyalahgunaan  NAPZA agar tidak mengalami ketergantungan lagi yang pada akhirnya dapat hidup produktif dengan pola hidup sehat dimasyarakat setelah menjalani rehabilitasi.

  1. Klasifikasi kelompok anak rehabilitas NAPZA
    1. Pecandu putaw- sering menyendiri di tempat gelap sambil dengar musik, malas mandi karena kondisi badan selalu kedinginan, badan kurus, layu selalu apatis terhadap lawan jenis.
    2. Pecandu daun ganja- cenderung lusuh, mata merah, kelopak mata selalu mengetup terus, doyan makan karena perut merasa lapar terus dan suka tertawa jika terlibat pembicaraan lucu.
    3. Pecandu sabu-sabu- gampang gelisah dan serba salah melakukan apa saja, jarang mau menatap mata jika diajak bicara, mata sering jelalatan, karakternya dominan curiga, apalagi pada orang yang baru dikenal, badan berkeringat, meski berada didalam ruangan ber-Ac, suka marah dan sensitive.
    4. Pecandu Inex atau ekstasi, suka keluar rumah, selalu riang jika mendengar music house, wajah terlihat lelah, bibir suka pecah-pecah dan badan suka berkeringat, sering minder setelah pengaruh inex hilang.
  2. Ciri-ciri umum kelompok anak rehabilitasi NAPZA
    1. Ciri-ciri fisik yang sering timbul yaitu antara lain:
  3. Pusing / sakit kepala
  4. Berat badan menurun, malnutrisi, penurunan kekebalan, lemah
  5. Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman.
  6. Bicara cadel
  7. Mual
  8. Badan panas dingin
  9. Sakit pada tulang- tulang dan persendian
  10. Sakit hampir pada seluruh bagian badan
  11. Mengeluarkan keringat berlebihan.
  12. Pembesaran pupil mata
  13. Mata berair
  14. Hidung berlendir
  15. Batuk pilek berkepanjangan
  16. Serangan panik
  17. Ada bekas suntikan atau bekas sayatan di tangan. Pusing / sakit kepala
  18. Berat badan menurun, malnutrisi, penurunan kekebalan, lemah
  19. Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman.
  20. Bicara cadel
  21. Mual
  22. Badan panas dingin
  23. Sakit pada tulang- tulang dan persendian
  24. Sakit hampir pada seluruh bagian badan
  25. Mengeluarkan keringat berlebihan.
  26. Pembesaran pupil mata
  27. Mata berair
  28. Hidung berlendir
  29. Batuk pilek berkepanjangan
  30. Serangan panik
  31. Ada bekas suntikan atau bekas sayatan di tangan.
    1. Ciri-ciri secara psikologis
  32. Halusinasi
  33. Paranoid
  34. Ketakutan pada bentuk-bentuk tertentu
  35. histeria
  36. Ciri-ciri kelompok khusus anak rehabilitasi menurut klasifikasi
    1. Pecandu putaw ciri-cirinya adalah :
  37. Mata sayu.
  38. Kelopak mata cekung/seperti kelelahan.
  39. Muka pucat dan tampak letih.
  40. Berbicara kadang cadel.
  41. Rendah diri, introvert dan suka menyendiri.
  42. Ada bekas sayatan atau luka suntik di tubuhnya.
  43. Mudah ngantuk.
    1. Pecandu daun ganja, ciri-cirinya adalah:
  44. Pupil mata menciut.
  45. Mata berair dan merah.
  46. Sering haus dan ingin minum.
  47. Sering buang air kecil.
    1. Pecandu shabu-shabu, ciri-cirinya adalah:
  48. Merasa gembira berlebihan.
  49. Mata pucat dan insomnia.
  50. Tubuh senantiasa ingin bergerak
  51. Tulang dan gigi keropos.
  52. Jika stadium parah, terjadi kerusakan di saraf pusat dan mata.
    1. Pecandu inex atau ekstasi, ciri-cirinya yaitu:
  53. Merasa gembira berlebihan.
  54. Mata pucat dan insomnia.
  55. Tubuh senantiasa ingin bergerak.
  56. Tulang dan gigi keropos.
  57. Jika stadium parah, terjadi kerusakan di saraf pusat dan mata.
  58. Keunggulan dan kelemahan bk kelompok khusus anak rehabilitasi
    1. Keunggulan bk kelompok khusus rehabilitasi

klien bisa menentukan tujuan, membuat keputusan yang terbaik, memotifasi klien untuk dapat beradaptasi, merubah sikap dan prilaku sehingga masalah atau krisinya bisa terselesaikan

  1. Kelemahan bk kelompok khusus rehabilitasi:
  • Faktor penempatan terhadap pengguna narkotika dan pengedar yang disama kan pada Lembaga Pemasyarakatan , kurangnya tempat terapi yang membuat pelaku bukan membaik namun  semakin terpuruk sehingga pemidanaan tidak membuat efek jera.
  • Sistem pemidanaan minimum dan maksimum terhadap penyalahgunaan narkotika ( pecandu ) bila adanya kesengajaan tidak melaporkan kejahatan narkotika di pidana penjara minimal 1 tahun membuat seseorangtaku melaporkan sanak keluarganya bahwa berada dalam ketergantungan.
  • Pada dasarnya peraturan perundang-undangan ini blom sejalan dengan perakteknya.
  1. Masalah-masalah yang dialami kelompok anak rehabilitasi
    1. Gangguan fisik dan psikis, yaitu berupa emosi yang lebih mudah marah, gangguan daya ingat, rangsangan seksual yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan prilaku menyimpang;
    2. Gangguan kesehatan seperti penyakit syaraf, alergi, dan reaksi anapektis yang menunjukkan kepekaaan berlebihan;
    3. Gangguan kesehatan jiwa, sehingga menyebabkan aktivitas dan produktivitas hidup menurun sehingga dapat merugikan diri sendiri bahkan bangsa dan negara;
    4. Gangguan fungsi sosial, seperti sikap acuh tak acuh terhadap masyarakat sekitarnya dan dirinya sendiri;
  2. Penyebab terjadinya kelompok anak rehabilitasi

Faktor penyebab terjadinya kelompok anak rehabilitasi :

  1. Faktor psikis, antara lain :
  2. Mencari kesenangan dan kegembiraan
  3. Mencari inspirasi
  4. Melarikan diri dari kenyataan
  5. Rasa ingin tahu, meniru, mencoba, dan sebagainya.
  6. Faktor sosial kultural, antara lain :
  7. Rasa setia kawan
  8. Upacara-upacara kepercayaan/adat
  9. Tersedia dan mudah diperoleh dan sebagainya
  10. Faktor medik, antara lain :

Seseorang yang dalam perkembangan jiwanya mengalami gangguan, lebih cenderung untuk menyalahgunakan narkotika. Misalnya : Untuk menghilangkan rasa malu, rasa segan, rasa rendah diri dan kecemasan (Soedjono,1985:97).

  1. Dampak jika masalah tidak ditangani
    1. Halusinogen, efek dari narkoba bisa mengakibatkan bila dikonsumsi dalam sekian dosis tertentu dapat mengakibatkan seseorang menjadi ber-halusinasi dengan melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada / tidak nyata contohnya kokain & LSD.
    2. Stimulan , efek dari narkoba yang bisa mengakibatkan kerja organ tubuh seperti jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya sehingga mengakibatkan seseorang lebih bertenaga untuk sementara waktu , dan cenderung membuat seorang pengguna lebih senang dan gembira untuk sementara waktu.
    3. Depresan, efek dari narkoba yang bisa menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tidak sadarkan diri. Contohnya putaw.
    4. Adiktif , Seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan ingin lagi karena zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif , karena secara tidak langsung narkoba memutuskan syaraf – syaraf dalam otak, contoh : ganja , heroin , putaw.
    5. Jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pengguna itu akan overdosis dan akhirnya kematian (id.wikipedia.org/wiki/Narkoba).

 

  1. Upaya untuk menangani kelompok anak rehabilitasi
    1. Upaya preventif

Disebut juga program pencegahan. Program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba, agar mengetahui seluk beluk narkoba sehingga tidak tertarik untuk menyalahgunakannya.

Bentuk kegiatan:

  1. Kampanye anti penyalahgunaan narkoba
  2. Penyuluhan seluk beluk narkoba
  3. Pendidikan dan pelatihan kelompok sebaya (peer group)
  4. Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan distribusi narkoba dimasyarakat.
    1. Upaya kuratif

Disebut juga program pengobatan. Program kuratif ditujukan kepada pemakai narkoba. Tujuannya adalah mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit sebagai akibat dari pemakaian narkoba, sekaligus menghentikan pemakaian narkoba.

Bentuk kegiatan adalah pengobatan penderita atau pemakai, meliputi:

  1. Penghentian pemakaian narkoba
  2. Pengobatan gangguan kesehatan akibat penghentian dan pemakaian narkoba (detoksifikasi)
  3. Pengobatan terhadap kerusakan organ tubuh akibat narkoba
  4. Pengobatan terhadap penyakit lain yang masuk bersama narkoba (penyakit yang tidak langsung disebabkan oleh narkoba), seperti HIV/AIDS, hepatitis B/C, sifilis, pneumonia, dan lain-lain.

Pengobatan terhadap pemakai narkoba tidak sederhana, tetapi sangat kompleks dan mahal. Selain itu kesembuhannya pun merupakan tanda tanya besar. Keberhasilan penghentian penyalahgunaan narkoba tergantung pada:

  1. Jenis narkoba yang disalahgunakan
  2. Kurun waktu penyalahgunaan
  3. Besar dosis narkoba yang disalahgunakan
  4. Sikap atau kesadaran penderita
  5. Hubungan penderita dengan sindikat pengedar.

Tidak semua penyalahgunaan narkoba berhasil disembuhkan. Pemakaian narkoba tertentu dapat dihentkan. Namun, penyembuhan penyakit HIV/AIDS, hepatitis B/C tidak mungkin. Oleh karena itu, jangan sampai mencoba atau mulai menggunakannya. Pencegahan lebih penting daripada pengobatan.

  1. BK untuk menangani kelompok rehabilitasi
    1. Ancangan konseling yang sesuai untuk menangani kelompok anak rehabilitasi

Dalam rancangan program rehabilitasi narkoba oleh BK dibawah ini menggunakan beberapa pendekatan untuk pemulihan yang layak untuk diaplikasikan menggunakan model konseling Rational Emotive Therapy (RET) dan teori realitas.

  1. Konsep dasar

Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecendrungan utnuk berpikir irasional. Ketika berpikir dan bertingkah laku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional  individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emisional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interprestasi, dan filosofis yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atay emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional.yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal dan irasional.

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkahlaku induvidu, yaitu antecedent event (A) , Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

  • Antecedent event (A) segenap pristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiw apendahulu yang berupa fakta, kejadian ,tingkahlaku,atau sikap orang lain.
  • Belief (B) yaitu keyakinan,pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu pristiwa. Keyakinan sesorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational beliefe atau rB), dan keyakinan yang tidak rasional (irasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional yaitu keyakinan atay sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional dan karena itu tidak produktif.
  • Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan seang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan Antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beerapa variabel antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang (rb) maupun yang (iB).

Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute: D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects:E)psikologis positif dari keyakinan-keyakinan rasional.

  1. Tujuan konseling
  • Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan  logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkahlaku kognitif dan afektif yang positif.
  • Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
  • Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal : minat kepada diri sendiri, minat sosial, pengarahan diri, toleransi terhadap pihak lain, fleksibel,menerima ketidakpastian, komitmen terhadap sesuatu diluar dirinya, penerimaan diri, berani mengambil resiko, dan menerima kenyataan.
    1. Teknik konseling yang relevan
      1. Teknik bardasarkan Emotif-eksperiensial yaitu teknik-teknik penyuluhan yang bertujuan unutk menghilangkan gangguan –gangguan emosional yang dapat merusak diri (self defeating). Yang termasuk dalam pendekatan ini ialah :
  • Teknik asertif training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakn klien secara terus menerus menyesuaikan diri dengan pola perilaku tertentu yang diinginkan.
  • Teknik sosio drama
  • Teknik self modeling, yaitu yang menghilangka perasaan atau prilaku tertentu dengan cara klien berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor
  • Teknik imitasi, yaitu klien diminta menirukan secara terus menerus suatu model prilaku tertentu dengan maksud mencaunter prilakunya sendiri yang negatif.
    1. Teknik behavioristik

Tujuan teknik-teknik ini adalah untuk memodifikasi prilaku negatif, merubah akar keyakinan yang irasional. Teknik-teknik tersebut adalah :

  • Teknik rainforcement, digunakan untuk mendorong klien kearah prilaku yang rasional dengan lajan reward dan punishment.
  • Teknik sosial modeling, digunakan untuk membentuk prilaku baru dari klien melalui model sosial tertentu dengan cara imitasi, observasi dan penyesuaian diri dengan model sosial itu.
    1. Teknik-teknik counter conditioning yaitu teknik-teknik yang digunakan untuk membentuk klien menanggulangi prilaku cemas, takut, phobia, defensiveness,dll. Termasuk dalam kelompok ini adalah :
  • Systematis desensitisation, yaitu suatu teknik menciptakan kondisi atau situasi tertentu yang merupakan penyebab yang potensial munculnya prilaku negatif klien, namun keadaan ini memberikan relax kepada klien.
  • Teknik relaktion, digunakan jika klien berada dalam keadaan ‘’disputing’’ dalam dirinya
  • Teknik self-control, digunakan untuk memodifikasi prilaki klien dengan jalan membangkitkan kontrol dirinya.
  • Teknik diskusi, digunakan agar klien dapat mempelajari pengalaman orang lain/informasi dari orang lain untuk merubah keyakinan irasionalnya.
    1. Teknik-teknik kognitif
  • Home work assignment, merupakan teknik yang memegang peranaan sentral dalam RET. Klien diberikan tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, menginternalisasi nilai-nilai tertentu yang menentukan pola prilaku yang diharapkan. Teknik ini bertujuan untuk membina sikap bertanggungjawab, percaya diri self direction dan self management.
  • Teknik biblioterapi, memerikan bahan bacaan tertentu kepada klien dalam usaha membongkar akar-akar keyakinan irasional.
  • Teknik diskusi
  • Teknik simulasi
  • Teknik paradoxsial intention, hampir sama dengan teknik counter conditioning.
  • Teknik asertive
    1. Deskripsi langkah-langkah pelaksanaan
  1. Pendekatan Awal

Pendekatan awal adalah kegiatan yang mengawali keseluruhan proses pelayanan dan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan dengan penyampaian informasi program kepada masyarakat, instansi terkait, dan organisasi sosial (lain) guna memperoleh dukungan dan data awal calon klien / residen dengan persyaratan yang telah ditentukan.

  1. Penerimaan

Pada tahap ini dilakukan kegiatan administrasi untuk menentukan apakah diterima atau tidak dengan mempertimbangkan hal – hal sebagai berikut:

  • Pengurusan administrasi surat menyurat yang diperlukan untuk persyaratan masuk panti (seperti surat keterangan medical check up, test urine negatif, dan sebagainya).
  • Pengisian formulir dan wawancara dan penentuan persyaratan menjadi klien / residen.
  • Pencatatan klien / residen dalam buku registrasi.
  1. Asesmen

Asesmen merupakan kegiatan penelaahan dan pengungkapan masalah untuk mengetahui seluruh permasalahan klien / residen, menetapkan rencana dan pelaksanaan intervensi. Kegiatan asesmen meliputi :

  • Menelusuri dan mengungkapkan latar belakang dan keadaan klien / residen.
  • Melaksanakan diagnosa permasalahan.
  • Menentukan langkah – langkah rehabilitasi.
  • Menentukan dukungan pelatihan yang diperlukan.
  • Menempatkan klien / residen dalam proses rehabilitasi.
  1. Bimbingan Fisik

Kegiatan ini ditujukan untuk memulihkan kondisi fisik klien / residen, meliputi pelayanan kesehatan, peningkatan gizi, baris berbaris dan olah raga.

  1. Bimbingan Mental dan Sosial

Bimbingan mental dan sosial meliputi bidang keagamaan / spritual, budi pekerti individual dan sosial / kelompok dan motivasi klien / residen (psikologis).

  1. Bimbingan orang tua dan keluarga

Bimbingan bagi orang tua / keluarga dimaksudkan agar orang tua / keluarga dapat menerima keadaan klien / residen memberi support, dan menerima klien / residen kembali di rumah pada saat rehabilitasi telah selesai.

  1. Bimbingan Keterampilan

Bimbingan keterampilan berupa pelatihan vokalisasi dan keterampilan usaha (survival skill), sesuai dengan kebutuhan klien / residen.

  1. Resosialisasi / Reintegrasi

Kegiatan ini merupakan komponen pelayanan dan rehabiltasi yang diarahkan untuk menyiapkan kondisi klien / residen yang akan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini meliputi:

  • Pendekatan kepada klien / residen untuk kesiapan kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat tempat tinggalnya.
  • Menghubungi dan memotivasi keluarga klien / residen serta lingkungan masyarakat untuk menerima kembali klien / residen.
  • Menghubungi lembaga pendidikan bagi klien yang akan melanjutkan sekolah.
  1. Penyaluran dan Bimbingan Lanjut (Aftercare)

Dalam penyaluran dilakukan pemulangan klien / residen kepada orang tua / wali, disalurkan ke sekolah maupun instansi / perusahaan dalam rangka penempatan kerja. Bimbingan lanjut dilakukan secara berkala dalam rangka pencegahan kambuh / relapse bagi klien dengan kegiatan konseling, kelompok dan sebagainya.

  1. Terminasi

Kegiatan ini berupa pengakhiran / pemutusan program pelayanan dan rehabilitasi bagi klien / residen yang telah mencapai target program (clean and sober).

 

BIMIBNGAN KONSELING KELOMPOK KHUSUS AUTIS

  1. PENGERTIAN

Secara Etimologis kata AUTISME  berasal dari bahasa Yunani ‘’Autos” yang berarti diri sendiri dan Isme artinya paham atau Aliran. Autisme diartikan sebagai suatu paham yang hanya tertarik pada dunianya sendiri (Christopher, 2012) .

Adapun beberapa pandangan  para ahli tentang autis diantaranya

  1. Istilah autisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1943 oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Jhon Hopkins University yang menangani sekelompok anak-anak yang mengalami kelainan sosial yang berat, hambatan komunikasi dan masalah perilaku. Anak-anak ini menunjukan sikap menarik diri (withdrawal), membisu, dengan aktifitas repetitif(berulang-ulang) dan streotipik (klise)serta senantiasa memalingkan pandangannya dari orang lain.
  2. Leo Kanner dan Asperger berpendapat bahwa autism atau autisme yaitu nama gangguan perkembangan komunikasi, sosial dan perilaku pada anak.
  3. Sutadi menjelaskan bahwa yang dimaksud autis adalah gangguan perkembangan neurobiologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan dengan orang lain)
  4. Ika Widyawati menjelaskan bahwa autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif/ pervasive developmental (PDD) atau disebut autism spectrum disorder (ASD) yang ditandai dengan adanya abnormalitas dalam tiga bidang yaitu intereaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang terbatas (restriktif) dan berulang (repetitif).

Dengan demikian perilaku autis timbul semata -mata karena dorongan dari dalam dirinya. Penyandang autis seakan -akan tidak peduli dengan stimulus-stimulus yang datang dari orang lain. Autisme juga merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang berupa sekumpulan gejala akibat adanya kelainan syaraf-syaraf tertentu yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja secara normal sehigga mempengaruhi tumbuh kembang, kemampuan komunikasi  kemampuan interaksi seseorang.

 

  1. CIRI-CIRI UMUM AUTIS

Adapun cirri-ciri umum dari penyandang autis, sebagai berikut (Leo Kanner,dalam

Christoper,2012).

  1. Gangguan kemampuan Sosial

Autisme berkaitan dengan gangguan kemampuan sosial yang penderitanya berinteraksi berbeda dengan orang pada umumnya. Pada tingkat gejala ringan ciri-ciri autisme yang muncul adalah tampak canggung saat berhubungan dengan orang lain, mengeluarkan komentar yang menyinggung orang lain, dan tampak terasing saat berkumpul dengan orang lain, mereka cendrung menghindari kontak mata .

  1. Kesulitan Berempati

Sangat sulit bagi anak penderita anak autisme untuk memahami prasaan orang lain, sehingga mereka jarang berempati dengan orang lain. Mereka juga sulit mengenali dan memahami bahsa tubuh atau intonasi bicara dengan orang lain, komunikasi cendrung bersifat satu arah karena mereka lebih banyak membicarakan diri sendiri.

  1. Tidak suka kontak Fisik

Tak seperti anak lain pada umumnya, sebagian anak penderita autisme tidak menyukai jika mereka disentuh atau dipeluk. Namun sebagian anak dengan autisme senang memeluk mereka yang dekat dengannya.

  1. Gangguan bicara

Ciri bisa dilihat dengan mendeteksi kemampuan bicara anak. Mereka juga suka mengulang kata atau frase tertentu atau dikenal sebagai echolalia.

  1. Suka Tindakan berulang

Anak autis menyukai hal yang pasti sehingga mereka menikmati melakukan rutinitas yang sama terus menerus atau sering melakukan tindakan berulang. Tindakan yang berulang ini biasanya menjadi suatu obsesi tersendiri bagi penderita autisme.

  1. Perkembangaan tidak seimbang

Perkembangan anak pada umumnya seimbang. Artinya perkembangannya meliputi banyak faktor dan bertahap. Sebaliknya perkembangan anak autis cendrung tidak seimbang misalnya perkembangan kemampuan kognitifnya sangat cepat tetapi kemampuan bicaranya masih terhambat, atau perkembangan kemampuan bicara terjadi dengan pesat namun kemampuan motorik masih terhambat.

  1. KLASIFIKASI KELOMPOK AUTIS
  2. Wing dan Gould (Hadis 2006)  mengklasifikasikan anak autisme menjadi tiga kelompok     yaitu  gurp aloof,grup pasif dan grup aktif tetapi aneh
  3. Grup aloof

Merupakan ciri yang klasik dan secara umum diketahui oleh kebanyakan orang. Anak dengan autisme tipe ini senantiasa berusaha menarik diri dari kontak sosial dan cenderung untuk memojokkan diri pada sudut – sudut ruangan. Apabila anak autistik dalam kelompok ini berdekatan dengan orang lain, anak tersebut akan merasa tidak nyaman dan marah. Keengganan untuk berinteraksi terhadap sebayanya terlihat nyata bila dibandingkan berinteraksi dengan orangtuanya.

  1. Grup Pasif

Anak dengan autisme tipe ini tidak berusaha untuk mengadakan kontak sosial, melainkan hanya menerima saja. Autistik jenis ini merupakan grup yang paling mudah ditangani. Dilihat dari segi kemampuan, anak autistik pada kelompok passive lebih tinggi bila dibandingkan dengan anak autistik pada grup aloof. Kemampuan visual lebih baik bila dibandingkan dengan kemampuan verbal dan koordinasi.

  1. Grup aktif tetapi aneh

Anak dengan autisme tipe ini cenderung akan melakukan pendekatan, namun hanya bersifat satu sisi yang bersifat repetitif dan aneh. Kemampuan bicara pada autistik jenis ini seringkali lebih baik bila dibandingkan dengan kedua group lainnya. Mimik cenderung terbatas dan kontak mata dengan orang lain tidak sesuai, kadang terlalu lama sehingga terlihat aneh.

  1. Klasifikasi Autis Menurut DSM IV (dalam Widyawati 2001)

Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

  1. Pervasive Developmental –Not Otherwise Specified (PDD-NOS)

Kelompok ini biasa dikenal dengan autis ringan atau beberapa karakter autis. Istilah ini merujuk kepada anak–anak dengan kesulitan yang jelas pada area interaksi social, komunikasi verbal, dan bermain, namun masih terlalu bersosialisasi untuk bisa benar– benar di sebut autis

  1. Asperger’s Syndrome

Menunjukan /cacat yang parah dan tetap dalam interaksi social, perkembangan  pada pola perilaku tertentu dan berulang – ulang, minat, dan aktifitas. Berlawanan denga autisma secara klinis tidak ada keterlambatan yang berarti pada pada bahasa, kognitif, kemampuan membantu diri sendiri, atau perilaku beradaptasi, selain dari pada masalah interaksi social mereka. Anak dengan sindrom asperger’s bisa jadi tidak tanggap secara benar atau bahkan mengerti pernyataan kalimat yang  berhubungan dengan  “perasaan” dalam bercakapan. Asperger’s mungkin secara klinis tidak menyebabkan keterlambatan yang berarti dalam menerima informasi baru, tetapi tetap ada perbedaan dalam pembelajaran.

Misalnya, anak asperger’s bisa menjadi  hiperleksik, yaitu bisa mengidentifikasi kata– kata  dan membaca pada usia yang sangat muda, dengan sedikit  atau sama sekali tanpa mengerti arti kalimat yang dibaca.

  1. Autistic disorder (autisma)

Adalah suatu ketidak mampuan perkembangan anak yang sangat mempengaruhi komunikasi verbal dan nonverbal dan interaksi social. Ketidakmampuan ini sangat jelas pada usia sebelum tiga tahun. Autisma berpengaruh buruk pada area pendidikan/pembelajaran.

  1. Rett’s Syndrome

Rett’s syndrome  lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.

  1. Childhood Disintegrative Disorder (CDD)

Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

  1. CIRI – CIRI KELOMPOK AUTIS BERDASARKAN KELOMPOKNYA
  2. Wing dan Gould (dalam Hadis 2006) mengklasifikasikan anak autisme menjadi tiga kelompok yaitu gurp aloof,grup pasif dan grup aktif tetapi aneh
  3. Grup Aloof

Ciri- cirinya adalah sebagai berikut :

  1. Anak autis kelompok ini sangat menutup diri untuk berinteraksi dengan orang lain
  2. Menghindari kontak fisik dan sosial
  3. Kadang anak autis masih daapat mendekati untuk keperluan makan,atau duduk dipangkuan orang lain sejenak.
  4. Keengganan berinteraksi lebih nyata terhadap anak yang sebaya dibandingkan interaksi terhadap anak yang sebaya dibandingkan interaksi terhadap orang tuanya
  5. Jika mendengar suara yang disukainya, maka anak autis tersebut bereaksi dengan cepat
  6. Dalam kelompok ini anak autis sulit meniru suatu gerakan yang bermakna
  7. Anak senang melakukan gerakan yang berulang –ulang dan stereopik sampai berjam – jam
  8. Tidak peduli dengan aktivitas lain di sekitarnya
  9. Perilaku buruk lainya sering terlihat pada anak autis pada kelompok aloof adalah berperilaku agresif ( menyerang/memaksa), destruktif ( merusak), tidak bisa diam, menjerit, lari, dan sebagainya.
  10. Kelompok Pasif

Ciri-cirinya adalah sebagai berikut

  1. Anak dengan tipe ini dapat di ajak bermain bersama, tetapi tetap pasif.
  2. Anak ini dapat meniru bermain, tetapi tanpa imajinasi, berulang dan terbatas.
  3. Kemampuan visual spatial lebih baik di bandingkan verbal, tetapi kadang – kadang ada gangguan koordinasi

 

  1. Kelompok Aktif Tetapi Aneh

Ciri-cirinya adalah :

  1. Kemampuan bicaranya sering kali sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan kedua kelompok lainnya.
  2. Mimik anak ini terbatas dan kontak mata dengan orang lain tidak sesuai, kadang bahkan terlalu lama.
  3. Cara bermainnya berulang, stereotipik, tetapi seolah-olah ada imajinasi.
  4. Lebih sering senang dengan komputer atau menonton televisi.
  5. Ciri Autis Menurut DSM IV
  6. Pervasive Developmental –Not Otherwise Specified (PDD-NOS)

Cirri cirinyanya adalah : Mempunyai kesulitan yang jelas dalam berinteraksi dengan orang lain.

  1. Asperger’s Syndrome

Cirri – cirinya adalah :

  1. Kemampuan memori/menghapal di atas rata –rata dan mempunyai kelebihan  dalam vocabulary namun tidak bisa menggunakan dalam kalimat yang benar.
  2. Tidak tanggap secara benar atau bahkan mengerti pernyataan kalimat yang berhubungan dengan “perasaan”
  3. Autistic disorder( autisma)

Ciri – cirinya adalah

  1. Aktivitas mengulang – ulang dan pergerakan meniru , menolak perubahan pada kebiasaan sehari – hari,dan mempunyai  tanggapan yang tidak biasa pada sensori
  2. Autism kemungkinan mempengaruhi anak laki – laki 3-5 kali dibandingkan perempuan dan tidak mengenal ras, suku, kelompok social.
  3. Rett’s Syndrome

Cirri – cirinya adalah

  1. Sering terjadi pada anak perempuan
  2. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya.
  3. kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  4. Childhood Disintegrative Disorder (CDD)

Ciri – cirinya adalah

Perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

  1. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN ANAK AUTIS

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan adanya masalah pada interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal serta ketertarikan dan perilaku yang terbatas.

  1. Beberapa penelitian mengungkapkan dibalik gangguan tersebut terdapat lima kelebihan anak autis (Pujati 2010).
  2. Lebih Kreatif

Penelitian yang dilakukan di Inggris dengan melakukan survei daring terhadap 312 partisipan 75 orang di antaranya memang mengidap autisme, sedangkan 237 lainnya tidak autis. Kemudian peneliti menilai kreativitas partisipan dengan meminta mereka menginterpretasikan gambar-gambar tertentu. Gambar-gambar ini telah didesain sedemikian rupa sehingga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Masing-masing partisipan juga hanya diberi waktu satu menit untuk menyebutkan benda apa saja yang terlihat dari gambar itu. Hasilnya, partisipan yang didiagnosis dengan autisme dan mereka yang mengaku memiliki sejumlah karakteristik dari gangguan ini umumnya memberikan jawaban yang lebih.

 

  1. Kemampuan Visual Lebih Baik

Orang dengan autisme ternyata mengembangkan bagian otak yang berbeda. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan visual penyandang autis berkembang sangat baik. Hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian besar penyandang autis memiliki kemampuan luar biasa untuk mengingat dan menggambarkan benda-benda secara detail.

Hasil penelitian dari University of Montreal menunjukkan bahwa pada orang autis, area otak yang berhubungan dengan informasi visual yang sangat berkembang. Sedangkan area otak lainnya kurang aktif, yaitu bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan perencanaan. Para peneliti percaya bahwa temuan ini bisa mengarah pada cara-cara baru untuk membantu penyandang autis hidup dengan kondisi lebih baik. Kecenderungan orang berpikir bahwa autisme adalah suatu bentuk dis-organisasi. Para ahli yang menangani autisme juga menganggap temuan penelitian ini sebagai hasil yang signifikan.Kajian ini menyoroti bahwa autisme seharusnya tidak hanya dilihat sebagai suatu kondisi dengan kesulitan perilaku, tetapi juga harus dikaitkan dengan keahlian khusus.Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Pujiati Suyata ini merupakan hasil dari 15 tahun data yang mempelajari cara kerja otak autis.

 

  1. Lebih Cerdas

Walau memiliki gangguan perkembangan, jangan meremehkan anak autis karena mereka kebanyakan memiliki kecerdasan intelektual atau IQ di atas rata-rata. Hanya saja, kelebihan ini tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional dan sosial sehingga anak autis banyak dipandang sebelah mata.

Albert Einstein dan Isaac Newton, kedua ilmuwan hebat ini dikenal memiliki gangguan autis. Tapi mereka berhasil mengubah dunia dengan pemikiran dan penemuannya. Ada juga salah satu kategori autisme yang ditandai dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, yaitu sindrom Asperger. Anak autis umumnya memiliki kecerdasan yang normal dan di atas rata-rata. Tetapi anak-anak ini IQ-nya tidak sebanding dengan EQ (emotional quotient atau kecerdasan spiritual) dan SQ (spiritual quotient atau kecerdasan spiritual) sehingga bisa berakibat merugikan. anak autis cenderung memiliki dunia sendiri dan fokus dengan sesuatu yang menjadi ketertarikannya. Hal inilah yang bisa membuat anak autis memiliki kecerdasan yang relatif tinggi.

Sebuah penelitian juga menemukan bahwa ukuran otak anak autis relatif lebih besar dibandingkan volume otak orang normal pada umumnya. Dengan otak yang besar, maka jumlah sel-sel otak dan sambungan sarafnya juga akan lebih banyak. Anak autis harus berjuang agar dapat diterima masyarakat dan mengoptimalkan kemampuannya. Anak autis bisa diasah bakatnya apabila mendapat terapi dan penanganan yang tepat. Tidak hanya mengasah bakat, tetapi fokusnya adalah agar anak autis bisa tumbuh layaknya anak-anak normal pada umumnya.

 

 

 

  1. Kepala Dan Tinggi Lebih Besar

Peneliti menemukan bahwa anak laki-laki yang autis cenderung memiliki pertumbuhan yang lebih cepat terutama pada ukuran kepala, tinggi dan berat badan. Peneliti mengungkapkan anak laki-laki dengan autisme cenderung tumbuh lebih cepat dengan adanya perbedaan pada ukuran kepala, tinggi dan berat badan dibanding bayi biasanya. Temuan ini mungkin bisa menjadi petunjuk baru mengenai mekanisme yang mendasari Autisme. Ukuran kepala yang lebih besar kemungkinan memiliki otak yang lebih besar pula. Anak laki-laki yang otak dan tubuhnya ‘overgrowth’ cenderung memiliki gejala autisme yang lebih parah, khususnya yang melibatkan keterampilan sosial dibanding dengan anak-anak normal lainnya.

Pertumbuhan berlebih (overgrowth) ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab autisme, membuat gejala memburuk atau subtipe dari autisme yang ditandai dengan petumbuhan yang dipercepat dan defisit sosial yang parah. Peneliti menemukan anak-anak cenderung memiliki pola pertumbuhan tulang yang dipercepat termasuk dalam hal panjang atau tinggi, serta melihat adanya sedikit berat badan berlebih.Dalam studi ini peneliti melibatkan 65 anak dengan autisme yang terdiri dari 34 anak laki-laki dengan gangguan perkembangan pervasif, 13 anak laki-laki dengan keterlambatan perkembangan secara global, 18 anak laki-laki dengan masalah pertumbuhan lainnya.

Anak-anak ini memiliki ukuran normal ketika lahir, tapi anak dengan autisme memiliki tubuh lebih tinggi saat berusia 5 bulan, memiliki lingkar kepala lebih besar saat usia 9,5 bulan dan beratnya lebih besar saat 1 tahun pertama dibanding anak yang perkembangannya normal. Namun pertumbuhan berlebih ini tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis autisme, karena tidak semua anak-anak yang diketahui autisme memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding anak normal dan lingkar kepala yang besar bisa menunjukkan kondisi selain autisme.

 

  1. Kelemahan Penyandang Autis

Kemampuan komunikasi anak autis mengalami keterlambatan karena kemampuan bicara dan bahasanya terlambat. Bila berkomunikasi anak autis mengunakan bahasa planet , serta menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu. Dalam melakukan interaksi sosial anak autis menghindar atau tidak mau bertatap mata / tidak melakukan kontak mata. Tidak mau bermain dengan teman sebaya, kurang mampu melakukan hubungan sosial yang baik. dilihat dari ciri ini maka kekurangan anak autisme yaitu:

  1. Terisolasi dari teman –temanya
  2. Kurang percaya diri
  3. Selalu menyendiri
  4. Cendrung menarik diri
  5. Tidak memiliki rasa empati
  6. Anak Autisme memiliki minat yang terbatas dan berulang-ulang pada suatu objek. Hal ini dapat dimanisfestasikan jika ia bermain mobil-mobilan yang dia lihat mungkin hanya rodanya. Dilihat dari gejala ini maka kekuranganya adalah anak autisme tidak bisa berkembang karena hanya terfokus pada suatu objek / kegiatan yang berulang-ulang.
  7. Anak autisme memiliki daya kosentrasi rendah

Salah satu gangguan pada penyandang autisme adalah gangguan kognitif. Dengan adanya gangguan ini maka prestasinya rendah, daya ingatrendah. Meskipun tidak semua penyandang autis memiliki tingkat kognitif rendah.

  1. Para penyandang autisme sulit menerima hal-hal baru.
  2. PERMASALAHAN YANG DI HADAPI KELOMPOK ANAK AUTIS

Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang :

  1. Interaksi sosial
  2. Komunikasi (bicara dan bahasa)
  3. Perilaku emosi.
  4. Pola bermain.
  5. Gangguan sensorik motorik.

Perkembangan terlambat atau tidak normal menurut Depdiknas (dalam Bonny 2003) mendeskripsikan anak dengan autisme berdasarkan jenis masalah gangguan yang dialami anak dengan autisme. Karakteristik dari masing-masing masalah/gangguan itu di deskripsikan sebagai berikut:

  1. Masalah/gangguan di bidang komunikasi

Dengan karakteristiknya sebagai berikut:

  1. Perkembangan bahasa anak autistic lambat atau sama sekali tidak ada. Anak tampak seperti tuli, dan sulit bicara.
  2. Kadang-kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
  3. Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapatdimengerti orang lain.
  4. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi senang meniru atau membeo (echolalia)
  5. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.
  6. Masalah/gangguan di bidang interaksi sosial dengan karakteristik berupa:
  7. Anak autistic lebih suka menyendiri
  8. Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau meghindari tatapan muka atau mata orang lain.
  9. Tidak tertarik bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua.
  10. Bila diajak bermain, anak autistik itu tidak mau dan menjauh.
  11. Masalah/gangguan di bidang sensoris dengan karakteristiknya berupa:
  12. Anak autistik tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
  13. Anak autistik bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
  14. Anak autistic senang mencium-cium atau menjilat-jilat mainan atau benda-bendayang ada disekitarnya.
  15. Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut.

 

  1. Masalah/gangguan di bidang pola bermain karakteristiknya berupa:
  2. Anak autistic tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
  3. Anak autistik tidak suka bermain dengan teman sebayanya.
  4. Anak autistik tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodansya diputar.
  5. Masalah/gangguan di bidang perilaku karakteristiknya berupa:
  6. Anak autistik dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan  (hipoaktif).
  7. Anak autistik memperlihatkan stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang-goyang mengepakan tangan seperti burung.
  8. Anak autistik tidak suka kepada perubahan
  9. Anak autistik duduk bengong dengan tatapan kosong.
  10. Masalah/gangguan di bidang emosi karakteristiknya berupa:
  11. Anak autistic sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa dan menangis tanpa alasan
  12. Anak autistik kadang agresif dan merusak
  13. Anak autistik kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri
  14. Anak autistik tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada di sekitarnya.

Sugiarmin (2011) hambatan atau gangguan dalam belajar tersebut dapat dianalisis melalui tiga dimensi berikut ini:

  1. Dimensi proses :

Berkaitan dengan ketidakmampuan, kesulitan, atau kegagalan untuk menerima dan menafsirkan informasi. Hambatan dalam berinteraksi sosial dan memfokuskan perhatian kepada objek belajar mengakibatkan anak tidak dapat menyerap dan merespon secara tepat dan benar terhadap berbagai stimulus atau perintah dalam mengikuti kegiatan belajar.

  1. Dimensi produk :

Berkaitan dengan kegagalan untuk mencapai prestasi sesuai harapan atau tujuan. Proses belajar akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan menerima, menyerap dan merespon informasi yang diberikan. Anak yang tidak dapat melakukan proses tersebut akan mengalami kesulitan untuk mencapai prestasi belajar yang diharapkan. Anak autis dengan gangguan yang dialaminya sering gagal untuk mencapai prestasi belajar sebagaimana anak umumnya yang tidak mengalami hambatan dalam menerima dan memproses informasi, oleh karena itu penting diperhatikan kesesuaian antara tujuan belajar dengan kebutuhan dan hambatan yang dialami anak autis.

  1. Dimensi akademik :

Berkaitan dengan kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Hambatan dalam bidang akademik ini merupakan pengaruh dari hambatan-hambatan yang menyertai anak autis seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

  1. PENYEBAB TERJADINYA AUTIS

Saat ini kasus autis pada anak (autisme infantile) semakin banyak sehingga seolah-olah menjadi ‘wabah’. Beberapa rumah sakit di Jakarta mengklaim terjadi peningkatan angka pasien autisme pada anak hingga 400 persen pada tahun 2002 dibandingkan tahun sabelumnya. Pada autisme tidak jelas adanya kuman, parasit, protozoa maupun virus sebagai penyebab munculnya gejala-gejala. Belakangan ini semakin banyak anak yang gejala autisnya muncul saat umur 18-24 bulan. Artinya, ketika lahir anak berkembang normal tetapi kemudian perkembangannya berhenti dan mereka mengalami kemunduran (dalam Bonny; 2003).

Autisme juga merupakan sebuah gejalah yang kompleks, karena  kelainan pada anak autisme seringkali tidak hanya terjadi pada satu bagian, namun meliputi banyak faktor. Sampai saat ini, belum diketahui pasti penyebab autisme. Dibawah ini ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab terjadinya autisme (dalam Sunu; 2012):

  1. Kelainan anatomis otak

Ditemuka kelainan neuroanatomi (anatomi susunan saraf pusat) pada beberapa tempat didalam otak anak autis. Kelainan pada bagian-bagian tertentu otak yang meliputi cerebellum (otak kecil), lobus parietalis dan sistem limbik ini mencerminkan bentuk-bentuk perilaku berbeda yang muncul pada anak-anak autis.

  1. Cerebllum (otak kecil) merupakan bagian otak yang mengatur kemampuan berbahasa, perhatian, kemampuan berpikir, daya ingat dan proses sensori. Kelainan pada bagian ini menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kemampuan diatas. Itu kenapa seringkali juga kita dapati anak autis mengalami kesulitan dalam pemusatan perhatian atau dalam berbahasa.
  2. Kelainan pada lobus perietlis ini menyebabkan munculnya perilaku tidak peduli pada lingkungan sekitar.
  3. Sistem limbik yang terdiri dari hypocampus dan amygdala adalah bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengaturan emosi yang ‘naik turun’ dan kesulitan untuk mengendalikannya disebabkan adanya kelainan dibagian ini. Amygdala juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan rasa takut dan berbagai rangsangan sensori seperti penciuman, rasa, perabaan dan penglihatan. Sedangkan hypocampus membantu kita dalam proses belajar dan daya ingat dalam menyimpan informasi baru. Salah satu ciri yang menandai autisme antara lain adalah perilaku impulsif untuk mengulang-ulang gerakan tertentu, ini juga disebabkan adanya kelainan pada hypocampus.
  4. Faktor pemicu tertentu saat kehamilan

Beberapa faktor yang dapat memicumunculnya autisme pada masa kehamilan terjadi pada masa kehamilan 0-4 bulan, bisa diakibatkan karena:

  1. Polutan logam berat (pb, hg, cd, al)
  2. Infeksi (toksoplasma, rubella, candida)
  3. Zat adiktif (pengawet, pewarna, MSG)
  4. Hiperemesis (muntah-muntah berat)
  5. Pendarahan berat
  6. Alergi berat
  7. Zat-zat adiktif yang mencemari otak anak

Beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab autisme pada anak antara lain seperti:

  1. Asupan MSG (monosodiumglutamat)
  2. Protein tepung terigu (gluten), protein susu sapi (kasein)
  3. Zat pewarna
  4. Bahan engawet
  5. Bahkan beberapa para ahli juga berpendapat bahwa jens imunisasi seperti MMR dan Hepatitis B pada bayi dapat juga menjadi pemicu munculnya autisme (meskipun hal ini masih diperdebatkan).
  6. Polutan logam berat.

Dari hasil tes pada darah dan rambut beberapa anak autis ditemukan kandungan logam berat dan beracun seperti arsenik, antimoni, kadmium, air raksa, atau timbal. Diduga kemampuan tubuh anak autis tidak mampu melakukan sekresi terhadap logam berat akibat masalah yang sifatnya genetis.

  1. Gangguan sistem pencernaan

Gangguan sistem pencernaan, seperti kurangnya enzim sekretin diketahui berhubungan dengan munculnya gejala autisme. Kasus semacam ini ditemukan pada seorang penderita autis bernama Parker Back pada tahun 1997. Selain itu, dari hasil pemeriksaan usus anak-anak yang mengalami autisme ditemukan ada gangguan berupa peradangan diususnya. Dari hasil penelitian, peradangan ini diketahui disebabkan oleh virus campak, hal ini menjadi penyebab banyak orang tua yang akhirnya menolak memberikan vaksinasi MMR (measles, mups, rubella) pada anak-anaknya karena dicurigai memiliki kontribusi menjadi penyebab autisme pada anak. Beberapa bentuk pencernaan juga membuat anak tidak mampu memecah rantai protein dari makanan yang dimakannya dengan sempurna (biasanya kasein yang merupakan protein dari susu sapi dan domba atau gluten yang merupakan protein dari gandum-ganduman), sehingga akibatnya rantai protein yang tidak terpecah dengan sempurna tersisa menjadi rantai-rantai pendek yang disebut peptida. Di otak, peptida ini disergap oleh reseptor penerima opioid. Opioid yang berlebihan diotak anak bekerja seperti morfin yang mengacaukan otak anak. Ini kenapa anak autis seringkali harus berdiet susu sapi dan tepung gandum.

  1. Kekacauan interpretasi dari sensori

Kekacauan interpretasi dari sensori yang menyebabkan stimulus dipersepsi secara berlebihan oleh anak sehingga menimbulkan kebingungan juga menjadi salah satu penyebab autisme.

  1. Jamur yang muncul diusus anak

Jamur yang muncul diusus anak akibat pemakaian antibiotik yang berlebihan juga dapat memicu gangguan ada otak. Karena jamur ini dapat menyebabkan ‘kebocoran usus’ dan tidak tercernanya kesin dan gluten dengan baik sehingga protein yang ada tidak terpecah dengan sempurna dan terserap dalam aliran darah ke otak.

 

  1. Faktor genetika

Ditemukan 20 gen yang terkait dengan autisme. Namun, gejala autisme baru bisa muncul jika terjadi kombinasi banyak gen. Bisa saja autisme tidak muncul meski anak membawa gen autisme.

  1. DAMPAK JIKA AUTISME TIDAK DITANGANI.

Pada penyandang autis jika tidak ditangani maka Ia akan terus menderita autis hingga akhir hayatnya. Adapun yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya jika tidak ditangani adalah (Trevarthen dalam Pujati 2010) sebagai berikut:

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial
  • Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku non verbal seperti, kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh, bahasa tubuh lainnya yang mengatur interaksi social
  • Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
  • Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara spontan dengan orang lain (seperti; kurang tampak adanya perilaku memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
  • Ketidakampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal balik.
  1. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi
  • Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama sekali tidak (bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya melalui cara-cara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya)
  • Bagi individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau memelihara suatu percakapan dengan yang lain
  • Pemakaian bahasa yang stereotipe atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh (idiosyncantric)
  • Cara bermain kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara spontan, kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.

 

  1. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitive, dan stereotype
  • Keasikan dengan satu atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam intensitas maupun dalam fokusnya.
  • Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas atau ritual yang khusus, atau yang tidak memiliki manfaat.
  • Perilaku motorik yang stereotip dan berulang-ulang (seperti : memukul-mukulkan atau menggerakgerakkan tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya, atau menggerakkan seluruh tubuhnya).
  • Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda (object).
  1. UPAYA UNTUK MENANGANI KELOMOK AUTISME
  2. Upaya preventif dalam menangani anak autis.

Yang perlu dilakukan agar terhindar dari wabah autis dilihat dari factor penyebabnya adalah :

  1. Menjaga pola makan
  2. Mengurangi mengonsumsi zat-zat adiktif
  3. Menjaga kehamilan dengan baik.
  4. Upaya kuratif dalam menangani anak autis

Perawatan bagi autisme harus dilakukan sedini mungkin dan sangat mungkin akan berlangsung seumur hidup. Bahkan dalam kasus-kasus dengan kemungkinan terbaik, dimana perkembangan keterampilan bahasa dan sosial bisa dicapai seiring pertumbuhan sang anak mencapai masa remaja dan masa dewasa. Berbagai residu kesulitan sosial, edukasional serta kesulitan yang berhubungan dengan keahlian akan tetap ada dan akan selalu membutuhkan perhatian.

Intervensi psiko-edukasional yang beragam memberikan banyak sekali pilihan perawatan bagi anak-anak autis. Taman kanak-kanak khusus terapi (yang memungkinkan anak-anak usia pra sekolah berpartisipasi dalam beragam interaksi), serta terapi edukasional, psikologikal, fisikal, dan bahasa sebaiknya dilakukan sejak dini. Beragam medikasi juga sudah coba dipergunakan, meskipun belum ada satupun secara khusus bisa menyembuhkan atau terbukti efektif. Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah ada beberapa gejala autisme yang bisa ditangani dan diatasi dengan menggunakan Behavioral Therapy yang segera pada saat munculnya.

Saat ini, sekolah-sekolah yang menganut sistem inklusi telah banyak bermunculan di berbagai tempat di negara kita. Sekolah inklusi berarti sekolah yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus dalam sistem pendidikan mereka dengan menyediakan fasilitas yang menunjang untuk terlaksanya aktivitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Sekolah, Guru dan Konselor sekolah merupakan salah satu penunjang tumbuh kembang optimal anak autis dari segi pendidikan, namun meskipun demikian orang tua tetap harus memegang peran utama yang mengetahui seluk beluk anaknya. Orang tua juga sebaiknya secara aktif menjalin komunikasi tidak hanya dengan pihak sekolah melainkan dengan psikolog dan Dokter.

  1. BK UNTUK MENANGANI KELOMPOK AUTIS
  2. Ancangan Konseling Yang Sesuai Untuk Menangani Kelompok Penyandang Autis.

Adapun ancangan Konseling yang digunakan untuk menangani kelompok kusus Autis yaitu mengunakan Tehnik Behavior Terapy.

  1. Konsep Dasar

Behaviourisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang perilaku manusia. Setiap orang di pandang memiliki kecenderungan positif negatif yang sama. Manusia  pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Para behavioris radikal menekankan manusia dikendalikan oleh kodisi-kondisi lingkungan. Pada dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan [Corey,2013]. Konselor dalam menangani anak berkebutuhan khusus (autis), penekanannya lebih kepada perubahan tingkah laku dari yang maladaptif menjadi adptif dengan menggunakan beberapa Teknik Behaviour yang dianggap mampu.

  1. Tujuan Dari Terapi Tingkah Laku bagi anak Autis adalah;

Tujuan dari terapi tingkah laku bagi penyandang autis diantaranya; (Corey, 2013)

  1. Membantu klien untuk menjadi lebih asertif dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasratnya dalam situasi yang membangkitkan tingkah laku asertif.
  2. Membantu para penyandang autis dalam menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar.
  3. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian-pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya terdapat respon-respon yang layak, namun belum dipelajari.
  4. Membantu klien mengahapus ketakutan-ketakutan, yang tidak realistis,yang menghambat dirinya dari keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa sosial, misalnya; takut untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  5. konflik batin yang menghambat klien dari pembuatan putusan-putusan yang penting bagi kehidupannya,contoh, Perilaku buruk lainya sering terlihat pada anak autis pada kelompok aloof adalah berperilaku agresif ( menyerang/memaksa), destruktif ( merusak), tidak bisa diam, menjerit,lari,dan sebagainya.
  6. Teknik Konseling Yang Relevan Bagi Anak Autis

Adapun tehnik-tehnik utama terapi tingkah laku dalam menangani para penyandang autis antara lain; [Sukinah,2014].

  1. Terapi Wicara

Terapi wicara merupakan suatu keharusan bagi penyandang autisme, karena semua anak autistik mengalami gangguan bicara dan  berbahasa. Hal ini harus dilakukan oleh seorang ahli terapi wicara yang memang dididik khusus untuk itu.  Bagaimana mengarahkan anak untuk

berbicara? Memerlukan konsentrasi dan kontak mata, memberikan pemahaman makna kosa kata tertentu, misal : kata mata, anak paham mana mata, fungsi mata, dan baru dilatih mengucapkan. Jika anak menirukan dulu tidak dipahamkan konsep mata maka anak hanya akan membeo.Teknik yang digunakan secara berulang-ulang. Bahasa yang digunakan terapi bahasa ibu, mother language, bahasa sehari-hari.

 

  1. Terapi Okupasional

Jenis terapi ini perlu diberikan pada anak yang memiliki gangguan  perkembangan motorik halus untuk memperbaiki kekuatan, koordinasi dan ketrampilan. Hal ini berkaitan dengan gerakan-gerakan halus dan trampil, seperti menulis. Terapi okupasi ini berfokus untuk membentuk  kemampuan hidup sehari-hari. Karena kebanyakan penderita autis mengalami perkembangan motorik yang lambat, maka terapi okupasi sangatlah penting.Seorang terapis okupasi juga dapat memberikan latihan sensorik terintegrasi, yaitu suatu teknik yang dapat membantu penderita autis untuk mengatasi hipersensitifitas terhadap suara, cahaya maupun

Sentuhan.

  1. Terapi Perilaku

Terapi ini penting untuk membantu anak autistik agar kelak dapat berbaur dalam masyarakat, dan menyesuaikan diri dalam lingkungannya. Mereka akan diajarkan perilaku perilaku yang umum, dengan cara reward and punishment, dimana kita memberikan pujian bila mereka melakukan perintah dengan benar, dan kita berikan hukuman melalui perkataan yang bernada biasa jika mereka salah melaksanakan perintah. Perintah yang diberikan adalah perintah-perintah ringan, dan mudah dimengerti Anak yang menderita autis

seringkali terlihat frustasi. Mereka kesulitan untuk mengkomunikasikankebutuhan mereka dan menderita akibat hipersensitifitas terhadap suara, cahaya ataupun

sentuhan sehingga terkadang mereka berlaku kasar atau mengganggu. Seorang terapis tingkah laku dilatih untuk dapat mengetahui penyebab dibalik prilaku negatif tersebut dan merekomendasikan perubahan terhadap lingkungan ataupun keseharian anak untuk dapat memperbaiki tingkah lakunya.

Dalam terapi tingkah laku ini biasa dikenal dengan pembentukan respon, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respon ini .  jadi, misalnya jika seseorang guru ingin membentuk tingkah laku kooperatif sebagai ganti tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perhatian dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkan itu. Pada anak autistik yang tingkah laku motorik,verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, terapis bisa membentu tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer maupun sekunder.

 

 

 

  1. Terapi Bermain

Terapi bermain sebagai penggunaan secara sistematis dari model teoritis untuk memantapkan proses interpersonal. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakan kekuatan terapuitik permaianan untuk membantu klien menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikosional dan mencapai pertumbuhan, perkembangan yang optimal. Terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan eksplorasi. Untuk membantu anak dapat memaksimalkan potensi mereka memberi mereka kesempatan untuk berfungsi lebih baik dalam hidup mereka. Keberhasilan sekecil apapun harus dianggap sebagai kemenangan dan harus disyukuri sepenuh hati.

Metode ini disarankan adalah terapi yang berpusat pada klien. Menjalin komunikasi lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti boneka, catatan-catatan kecil, dan

telepon mainan

  1. Terapi Musik

Terapi musik menurut Canadian Association for Music Therapy (2002) adalah penggunaan musik untuk membantu integrasi fisik, psikologis, dan emosi individu, serta treatment penyakit atau ketidakmampuan. Atau terapi musik adalah suatu terapi yang menggunakan musik untuk membantu seseorang  dalam fungsi kognitif, psikologis, fisik, perilaku, dan sosial yang mengalami hambatan maupun kecacatan..

  1. Terapi Integrasi Sensoris

Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga lebih mampu untuk memperbaiki sruktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.Terapi sensori integrasi untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indera anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan) .

  1. Langkah-Langkah Pelaksanaan Teknik

Dari beberapa teknik teori tingkah laku yang paling cocok dalam menangani para penyandang autis adalah teknik pembentukan respon atau kontrak perilaku. Adapun langkah-langkah kontrak perilaku menurut ‘’Gantina dalam PurnamaSary, [2012],yaitu;

  1. Pilih tingkah laku yang akan diubah dengan melakukan analisis ntervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for Preschoolers and Parents) menggunakan stimulus respon (sama dengan DTT) tetapi anak langsung berada dalam lingkungan sosial (dengan teman-teman).
  2. Tentukan data awal tingkah laku yang akan diubah
  3. Tentukan jenis penguatan yang akan diterapkan
  4. Berikan reinforcement, setiap tingkah laku yang diinginkan, ditampilkan sesuai jadwal kontrak.
  5. Berikan penguatan setiap tingkah laku yang ditampilkan menetap.

Secara lebih rinci langkah-langkah dalam pelaksanaan tehnik kontrak prilaku adalah sebagai berikut ;

  1. Pilih salah satu atau dua prilaku yang dikehendaki
  2. Mendeskripsikan perilaku tersebut [yang dapat diamati dan dihitung]
  3. Identifikasi ganjaran yang akan mendorong klien untuk melakukan perilaku yang dikehendaki dengan menyediakan menu penguatan.
  4. Tetapkan orang yang memberikan reward membantu konselor menjaga berjalanya perilaku yang dikehendaki.
  5. Menulis kontrak secara sistematis dan jelas sehingga pihak yang terlibat dapat memahami isi serta tujuanya.
  6. Pengumpulan data
  7. Adanya cara mengatasi ketika perilaku yang dikehendaki tidak muncul
  8. Tulis kembali kontrak ketika tujuan tidak tercapai
  9. Memonitor perilaku secara continue dan membuat solusi
  10. Pilih perilaku lain yang memungkinkan dapat dilakukan klien mencapai tujuan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s